Pola Komunikasi Interpersonal dalam Hubungan Orang Tua dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ABSTRACT Fajar Putra Wicaksana1 . Raesita Rakhmawati Rosadi2 INSTITUTION Universitas Terbuka PHONE EMAIL resitarosadi@ut. DOI https://w. 37010/prop. PAPER PAGE PROPAGANDA is a Journal of Communication Studies which is publish twice a year on January and July. PROPAGANDA is a scientific publication media in the form of conceptual paper and field research related to communication studies. is hoped that PROPAGANDA can become a media for academics and researchers to publish their scientific work and become a reference source for the development of science and Anak berkebutuhan seringkali dilabeli dengan anak yang istimewa karena pada umumnya merawat serta membesarkan anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pola suh dan pendidikan yang berbeda dari anak biasanya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola komunikasi antara orang tua dan anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan autisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis data deskriptif. Observasi dilakukan terhadap sebuah keluarga di Jakarta Barat yang terdiri dari seorang ibu tunggal dan tiga anak, di mana anak sulung berusia 7 tahun didiagnosis autisme. Penelitian ini juga melibatkan wawancara mendalam dengan ibu sebagai narasumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan respons anak. Orang tua mengadopsi berbagai metode, mulai dari pendekatan hati ke hati hingga pendekatan tegas namun personal, untuk membantu anak mereka mengembangkan keterampilan sosial dan perilaku yang lebih baik. Lingkungan yang mendukung dan positif berperan penting dalam perkembangan anak berkebutuhan khusus, memberikan afirmasi dan pesan positif yang meningkatkan respons dan perkembangan mental anak. Sebaliknya, lingkungan yang negatif dapat berdampak buruk pada perkembangan anak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pendidik, terapis, dan profesional lainnya dalam mengembangkan metode intervensi yang lebih efektif untuk anak-anak autis. Children with special needs are often labeled as special children because in general caring for and raising children with special needs (ABK) requires different parenting and education patterns from ordinary children. This research aims to understand communication patterns between parents and children with special needs, especially children with autism. The research method used is qualitative with descriptive data analysis. Observations were carried out on a family in West Jakarta consisting of a single mother and three children, where the eldest child, 7 years old, was diagnosed with autism. This research also involved in-depth interviews with mothers as the main source. The research results show that effective communication approaches for children with special needs vary according to the child's needs and responses. Parents adopt a variety of methods, from a heart-toheart approach to a firm but personal approach, to help their children develop better social skills and behavior. A supportive and positive environment plays an important role in the development of children with special needs, providing positive affirmations and messages that improve the child's response and mental On the other hand, a negative environment can have a negative impact on a child's development. It is hoped that this research can become a reference for educators, therapists and other professionals in developing more effective intervention methods for autistic children. KEYWORD anak berkebutuhan khusus, autisme, pola komunikasi, lingkungan positif children with special needs, autism, communication patterns, positive environment Vol. 4 No. Juli 2024 PENDAHULUAN Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memerlukan penanganan khusus karena mengalami gangguan perkembangan atau kelainan (Razieka, 2. Ada berbagai macam alasan mengapa seorang anak menjadi ABK. Kondisi anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi dua kategori: kekurangan fisik dan kekurangan mental atau psikologis seperti autisme dan ADHD (Razieka, 2. Berbeda dengan anak pada umumnya. ABK memerlukan pendidikan khusus. ABK juga tentu mengalami hambatan serta kesulitan dalam menerima informasi yang dialami dalam kehidupan sehari Ae hari. Oleh karena itu, anak-anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar unik mereka. Kenyataannya, para ABK masih sering kali dipandang sebelah mata bagi masyarakat luas. Tak jarang mereka mendapatkan pandangan negatif serta diskriminasi dari masyarakat umum, dikarenakan keterbatasan mereka untuk melakukan suatu aktivitas dan keterbatasan mereka terhadap kemampuan fisik maupun psikologis mereka, hingga cara mereka berinteraksi dengan masyarakat secara luas atau dengan kata lain masalah komunikasi (Fakhiratunnisa. Hal ini berdampak pada kemandirian anak, kemampuan untuk bermain, dan berbagi dengan rekan sebayanya (Fakhiratunnisa, 2. Kondisi masyarakat saat ini masih banyak yang belum terbuka dengan ABK. Hal ini terlihat pada banyaknya kasus kekerasan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus atau kasus kasus perundungan lain yang terjadi terhadap anak berkebutuhan khusus. Data KPAI menunjukkan pada bulan Januari Ae September 2023 terdapat 1800 jumlah kasus terkait Pemenuhan Hak Anak (PHA) dan Perlindungan Khusus Anak (PKA) (KPAI, 2. Data Simfoni KpA per 30 Maret 2021 mencatat terdapat 110 kasus anak disabilitas yang mengalami kekerasan dari 1. 355 kasus anak (Tempo, 2. Permasalahan ini menunjukkan budaya masyarakat Indonesia yang masih belum tumbuh menjadi budaya yang inklusif yang ramah dengan ABK. Tak hanya itu saja, hambatan terbesar bagi ABK adalah mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan kesetaraan serta status sosial yang sama dan setara dengan masyarakat umum (Arivannisa. Seperti dalam kehidupan berwarganegara dan kehidupan secara umum di masyarakat. Seringkali orang tua dari ABK yang berkategori autis atau ADHD baru menyadari anaknya memiliki kondisi khusus ketika sang anak sudah berumur beberapa bulan atau beberapa tahun. Hal ini dikarenakan saat lahir, biasanya anak tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan dengan anak anak normal lainnya. Akan tetapi pada anak berkebutuhan khusus secara fisik, ciri cirinya akan sangat jelas Misalnya anak yang lahir sebagai tuna netra . angguan penglihata. maka akan sangat nampak ciri fisiknya. Atau anak dengan kondisi lain yang mengalami kondisi fisik lainnya yang tidak sempurna akan jelas terlihat ketika pertama kali dilahirkan. Kondisi ini tentu akan membuat orang tua seringkali diliputi rasa sedih, kecewa bahkan bingung harus membesarkan dan merawat anak tersebut. Gangguan Spektrum Autisme (ASD), juga dikenal sebagai Gangguan Autisme, adalah suatu kelompok gangguan perkembangan anak yang berkisar dari autisme klasik seperti ADHD. ADD, dan Perpasive Developmental Disorder (PDD) (Ginting, 2. PDD adalah diagnosis yang diberikan kepada anak-anak yang menunjukkan gejala autisme dan tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Anak tersebut tidak memiliki kemampuan berbicara yang baik. Seorang anak yang didiagnosis dengan ADD mengalami kesulitan mempertahankan fokus. ADHD adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seorang anak yang hiperaktif yang memiliki ADD (Ginting, 2. Autism, juga dikenal sebagai autisme spectrum disorder, adalah kondisi anak yang mengalami gangguan pada sistem sarafnya sehingga mempengaruhi perilaku sehari-hari mereka. Kondisi ini juga dikenal sebagai neurobehaviour (Ulfa, 2. Tanda dari gejala gangguan autis biasanya muncul pada tahun ketiga setelah kelahiran (Ulfa, 2. Namun, tidak sedikit juga yang sudah mengidap autis sejak Hal ini tentu saja akan membuat orangtua mencari cara bagaimana memikirkan tumbuh kembang hingga cara berkomunikasi dengan sang anak sehingg nantinya orang tua akan mencari cara komunikasi terbaik hingga car acara efektif untuk menyampaikan pesan dan interaksi sehari hari kepada sang anak. Penelitian ini berfokus pada pola komunikasi diantara orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus, yaitu autisme. Peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan keluarga yang memiliki anak dengan kondisi autisme serta mengamati bagaimana pola komunikasi mereka dalam kehidupan sehari Ae hari. Penelitian ini sangat penting untuk dilakukan karena memahami pola komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak dengan autisme dapat membantu meningkatkan PROPAGANDA kualitas hidup keluarga secara keseluruhan. Dengan mengetahui strategi komunikasi yang tepat, orang tua dapat membantu anak mereka mengembangkan keterampilan sosial dan perilaku yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan dunia di Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para pendidik, terapis, dan profesional lain yang bekerja dengan anak-anak autis untuk mengembangkan metode intervensi yang lebih efektif. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi keluarga yang terlibat tetapi juga bagi masyarakat luas dalam upaya memahami dan mendukung anak-anak dengan autisme. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis data deskriptif. Peneliti melakukan observasi dengan mengikuti keseharian seorang keluarga yang memiliki anak autis berusia 7 tahun dengan orang tua tunggal . Anak ini memiliki 2 adik lain yang usianya masih kecil terpaut 2 tahun dibawahnya masing masing usia 5 dan 4 tahun. Penulis juga sekaligus melakukan wawancara secara mendalam kepada narasumber. Hasil yang diperoleh dari wawancara dan observasi kemudian akan dianalisis secara deskriprif dengan menggunakan teori komunikasi interpersonal. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi anak autis menjadi perhatian penting bagi para orang tua untuk membangun komunikasi yang efektif agar perkembangan anak tetap berjalan dengan baik dan tidak terganggu. Anak berkebutuhan khusus memiliki hak tumbuh kembang yang sama dengan anak anak yang lain sehingga disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang jauh di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan untuk mengubah perilaku mereka yang muncul seiring perkembangan mereka (Faisah, 2. Anak-anak dengan kondisi tuna grahita menghadapi tantangan akademik yang signifikan, sehingga mereka membutuhkan bantuan dan perubahan pembelajaran khusus. Anak-anak dengan kondisi ini tetap dapat bergaul dan menuntut pendidikan yang sama dengan anak-anak sebayanya. Melalui penulisan ini, penulis ingin mengkaitkan bagaimana komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak berkebutuhan khusus dijalankan. Bagaimana komunikasi orang tua tersebut dapat ditangkap dan dicerna dengan mudah oleh sang anak sehingga menjadi sebuah interaksi yang sangat dibutuhkan sehari hari. Hal ini tentunya akan sangat berhubungan dengan Teori Komunikasi Interpersonal. Menurut Mulyana . , komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara dua orang secara tatap muka, di mana setiap orang dapat melihat langsung reaksi orang lain. Contoh komunikasi interpersonal termasuk dua orang, seperti suami dan istri, ibu dan anak, dua sahabat dekat, guru dan murid, dan sebagainya. Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka komunikasi interpersonal pastinya akan terbentuk ketika terdapat kesadaran dari dua pihak untuk mengamati keadaan masing Ae masing pihak serta memberikan respon atas keadaan tersebut sesuai dengan sifat komunikasi, maka hubungan yang terjadi ditandai melalui sikap saling memperhatikan dan saling mengerti antar satu sama lain. Lantas dalam kasus anak berkebutuhan khusus apakah kedua belah pihak saling mengerti satu sama lain atau saling memperhatikan satu sama lain? Atau apakah hanya salah satu pihak saja yang memahami arah komunikasi sedangkan pihak lainnya yang menunggu respon dari komunikasi itu sendiri? Untuk mencari tau mengenai bagaimana interaksi serta komunikasi dua arah antara orang tua dan anak berkebutuhan khusus ini, maka penulis akan menggunakan metode kualitatif-deskriptif dimana penulis akan melakukan observasi secara langsung kepada dua keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Penulis akan berdialog serta mencoba mengikuti kegiatan sehari hari kedua keluarga tersebut sehingga penulis akan dapat menarik kesimpulan secara langsung mengenai bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Komunikasi interpersonal membantu meningkatkan hubungan insan . ubungan manusi. , menghindari dan mengatasi konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian, dan berbagi pengetahuan dan Vol. 4 No. Juli 2024 pengalaman dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal, orang dapat berusaha membina hubungan yang baik dengan orang lain, sehingga mereka dapat menghindari dan mengatasi konflik Lewat komunikasi antarpribadi, individu bisa berusaha membina hubungan yang baik dengan individu lainnya, sehingga menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik di antara individuindividu tersebut (Aziz, 2. Kebanyakan orang akan cemas dan panik ketika mereka mengetahui bahwa mereka memiliki anak berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan stigma serta pandangan negatif dari masyarakat yang menilai bahwa seorang anak yang berkebutuhan khusus akan sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Padahal anak berkebutuhan khusus sebenarnya hanya memiliki kekurangan pada satu atau dua subjek di dalam dirinya yang menandakan anak tersebut masih memiliki kesempatan untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang besar dan berprestasi di kemudian hari. Peran orang tua sangat vital di dalam pembentukan karakter diri anak berkebutuhan khusus. Anak yang mengidap autisme sejak lahir memiliki pola berkomunikasi yang berbeda dengan anak lainnya. Autisme atau gangguan spektrum autis merupakan sebuah kelainan fungsi otak dan saraf yang kompleks hingga dapat memengaruhi perilaku serta proses berpikir penderitanya. Autisme dapat mencakup gangguan pada segala aspek, mulai dari sosial, bahasa, serta komunikasi secara verbal maupun nonverbal. Autisme adalah kondisi yang dapat terdeteksi semasa kanak-kanak dan berlangsung selama seumur hidup. Meski demikian, autisme bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kondisi ketika otak manusia bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain. Pengidap autisme tidak berarti kehilangan harapan untuk memiliki kualitas hidup selayaknya orang normal. Kondisi ini tetap memungkinkan bagi pengidapnya untuk berteman, berhubungan dengan orang lain. Akan tetapi, stigma bahwa anak autis tidak dapat berkembang dan seringkali di cap AugilaAy oleh lingkungannya membuat banyak orang tua sudah tidak memiliki harapan atau putus asa terhadap sang anak yang memiliki syndrom autisme. Kesadaran masyarakat Indonesia tentang Autisme masih sangat rendah sehingga penanganan terhadap kasus anak autisme di Indonesia masih sangat minim. Orang tua diharapkan memiliki gerak aktif untuk membaca berbagai literatur ataupun jurnal penelitian terkait dengan pengembangan komunikasi dan pola mengasuh anak dengan kondisi autisme. Orang tua juga harus sepakat dan mampu bekerjasama dengan lingkungan sekitar misalnya keluarga besar, tetangga maupun kerabat untuk bersama sama memiliki pemahaman bahwa autisme bisa dan sangat layak mendapatkan perlakuan yang setara dengan anak anak lainnya. Dukungan dari lingkungan sekitar sangat berpengaruh besar dan memiliki peran yang sangat penting bagi kedua orang tua, sehingga kedua orang tua percaya diri dan mampu mengasuh anak dengan kondisi ini sebaik mungkin. Pada penelitian ini, penulis akan mengikuti keseharian seorang keluarga yang memiliki anak autis berusia 7 tahun dengan orang tua tunggal . Anak ini memiliki 2 adik lain yang usianya masih kecil terpaut 2 tahun dibawahnya masing masing usia 5 dan 4 tahun. Penulis melakukan observasi dengan mendatangi rumah keluarga ini untuk mengamati proses komunikasi, interaksi serta pemecahan masalah ketika terjadi kesalahpahaman komunikasi antara ibu dan anak. Pada tanggal 8 April 2024 peneliti melakukan sebuah observasi mengenai bagaimana komunikasi antara orang tua dan anak berkebutuhan khusus itu terjalin. Saya mendatangi sebuah keluarga dimana sang anak berkebutuhan khusus berusia 7 tahun. Ia saat ini tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal dan juga dua adiknya yang masih kecil berusia 5 dan 4 tahun. Sang ibu (Ibu D) berprofesi sebagai musisi juga ibu rumah tangga yang juga memiliki bisnis kecil kecilan di bidang kuliner. Keluarga mereka tinggal di wilayah Kembangan. Jakarta Barat di suatu perumahan yang letaknya tidak jauh dari akses tol Meruya. Jakarta Barat. Sehari hari keluarga ini melakukan aktivitas yang sama seperti layaknya keluarga lain. Hanya saja, kondisi sang anak sulung cukup berbeda dengan anak anak sebayanya. Ibu AuDAy merupakan seorang single parent yang berusia 37 tahun dan memiliki 3 orang anak yang masih kecil kecil. Anak pertamanya berusia 7 tahun, anak keduanya berusia 4 tahun dan anak terakhir berusia 3 tahun. Anak pertamanya mengidap autisme. Anak pertama Ibu AuDAy saat ini hanya mengikuti pendidikan homeschooling di rumah karena Ibu AuDAy masih belum yakin memasukkan anaknya di sekolah umum. Ibu AuDAy bercerita, ia mulai menyadari anaknya memiliki perbedaan dengan anak anak seusianya saat ia berusia 4 tahun. Di saat sang anak berusia 1-3 tahun, tidak ada tanda tanda yang signifikan dan tumbuh layaknya anak pada umumnya. PROPAGANDA Namun hal itu berubah ketika sang anak menginjak umur 4 tahun dimana ia tidak responsif dengan situasi di sekitarnya. Ia tidak merespons panggilan maupun tidak merespons suara suara yang ada di sekitarnya. Ketika Ibu AuDAy mencoba untuk memanggil namanya, ia cenderung hanya fokus terhadap dirinya sendiri dan hanya fokus terhadap satu benda atau titik tertentu. Kipas angin yang berputar merupakan salah satu benda favoritnya yang membuat konsentrasinya terfokus. Awalnya Ibu AuDAy mengira hal ini adalah suatu hal yang biasa namun lama kelamaan kebiasaan ini seringkali terjadi dalam frekuensi yang lumayan sering, sehingga akhirnya Ibu AuDAy berinisiatif untuk membawa sang anak ke dokter untuk memastikan apa yang terjadi. Dokter anak yang menjadi tempat pertama Ibu AuDAy berkonsultasi menyarankan Ibu AuDAy membawa putranya ke psikolog. Setelah dibawa ke psikolog akhirnya ditemukan fakta bahwa sang anak terdiagnosis AuAutismAy. Mengetahui hal tersebut Ibu AuDAy awalnya cukup panik karena sebagai orang tua tunggal tentu ia harus tetap membesarkan ketiga anaknya sendirian ditambah satu anak dengan kondisi khusus. Ibu AuDAy meminta petunjuk dari psikolog bagaimana langkah penanganan pertama kali terhadap anak dengan autisme. Ibu AuDAy juga meminta petunjuk terapi apa saja yang dapat ia lakukan dan cara alternatif apa yang bisa dilakukan. Tak hanya itu. Ibu AuDAy juga meminta cara bagaimana memberitahu anggota keluarga lainnya bahwa sang anak mengidap autisme. Hal itu cukup membuat Ibu AuDAy depresi untuk beberapa saat karena situasi ini merupakan situasi yang tidak diperkirakan dan pertama kalinya dihadapi oleh Ibu AuDAy. Ibu AuDAy tidak patah arang, ia langsung mencari tahu melalui beberapa referensi bagaimana membesarkan dan berkomunikasi dengan anak yang mengidap autisme. Tak lupa. Ibu AuDAy juga meminta pendampingan serta wejangan dari orang tua hingga keluarga terdekat karena Ibu AuDAy membutuhkan semangat serta dukungan untuk melakukan hal ini. Ia memberitahu keluarga terdeket bagaimana nantinya mereka bersikap dan menghadapi anaknya yang ternyata mengidap autisme. Satu hal yang sangat disyukuri oleh Ibu AuDAy adalah bagaimana keluarga terdekatnya sangat menerima bahkan memberikan dukungan kepada Ibu AuDAy. Mereka berkata bahwa ini adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi bukan dihindari. Menghadapi kenyataan demikian akhirnya Ibu AuDAy harus memutuskan pola pendidikan serta pola komunikasi yang pas untuk anaknya. Ibu AuDAy menerapkan pendidikan yang mungkin dibilang hampir sama dengan anak anak normal seusianya namun dengan menggunakan pola pendekatan yang Anak dengan kebutuhan khusus seperti anak Ibu AuDAy tidak bisa mendengar suara keras, tidak bisa diberikan peringatan secara mendadak atau tidak bisa ditekan secara personal. Semuanya serba hati hati dan serba pelan. Ibu AuDAy lebih banyak bicara dengannya dari hati ke hati menjaga perasaannya agar tidak tersinggung dan marah. Karena jujur sang anak sangat mudah marah terhadap semua hal. Ibu AuDAy mengaku pernah beberapa kali kesulitan berkomunikasi dengan sang anak mengingat kondisi emosi serta perasaan anaknya yang bisa berubah rubah setiap waktu. Anak Ibu AuDAy gampang sekali marah dan mengamuk. Apalagi jika ia sudah bosan dengan suatu hal dan apabila lingkungan sekitarnya mengusik konsentrasinya. Dalam satu hari ada waktu waktu tertentu ketika ia marah, menangis atau dalam fase bahagia. Itu semua tidak bisa diprediksi dan terjadi begitu saja. Ketika ia bahagia, ia akan banyak tertawa dan mengajak saudara saudaranya bermain. Jika ia sedang marah, ini yang membuat saya sedih dan kadang juga tersulut emosi. Ia akan menyakiti dirinya sendiri, menyakiti sekitarnya dan tidak jarang merusak barang apapun yang ada di sekitarnya. Menurut Ibu AuDAy kunci untuk berkomunikasi dengannya hanya satu, sebagai orang tua harus bersabar ketika anaknya mulai masuk ke fase ini. Fase ini adalah fase yang berat, namun justru apabila orang tua mampu menangani anak di fase ini dengan baik, anak akan sangat mudah berkomunikasi serta berinteraksi dengan kita, karena anak akan belajar untuk berinteraksi dengan orang tuanya. Ketika anak Ibu AuDAy mulai masuk ke fase tantrum atau emosinya sedang tidak terkendali ada beberapa hal yang dilakukan oleh Ibu AuDAy. Ibu AuDAy mulai akan membiarkan anaknya meluapkan apa yang ia mau lakukan. Ia membiarkan anaknya marah, menangis, hingga ia akhirnya terdiam sendiri. Ibu AuDAy tidak mau mengganggunya ketika sang anak mulai masuk ke fase tersebut karena sang anak sendiri akan sangat kesulitan mengontrol emosinya. Setelah emosinya mereda Ibu AuDAy akan memeluknya rapat rapat lalu mulai berbicara dengannya secara hati ke hati. Ibu AuDAy akan mulai bertanya kenapa ia marah, kenapa ia sedih dan kecewa. Pelan pelan sang anak akan bercerita semuanya kepada saya. Anak autisme adalah anak yang tidak mengontrol perasaannya sendiri, ia bahkan tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Maka dari itu peran Ibu AuDAy sebagai orang tua sangat dibutuhkan. Ibu AuDAy mengatakan fase ini bisa terjadi seminggu 3 hingga 4 kali, dengan penyebab yang berbeda beda dan waktu yang tidak bisa diprediksi. Semua terjadi begitu saja, begitu cepat dan tanpa alasan yang jelas. Vol. 4 No. Juli 2024 Ibu AuDAy menuturkan anaknya sangat suka benda yang berputar. Kipas angin contohnya. Anaknya bahkan takjub dan bisa memandangi kipas angin dalam waktu yang lama. Anaknya tidak suka apabila ada yang merusak konsentrasinya dan merusak imajinasinya terhadap sesuatu. Anaknya juga tidak suka orang lain menyentuh tubuhnya secara tiba tiba, kecuali ibunya. Ibu AuDAy menjelaskan anaknya sangat sulit berkomunikasi dengan teman sebayanya. Anaknya tidak bisa bicara lama bahkan tidak bisa bermain dengan banyak orang. Ibu AuDAy pernah memasukkan anaknya ke sekolah dasar umum yang bergabung dengan anak anak normal seusianya. Namun hal itu hanya bertahan sekitar 4 bulan karena kedua belah pihak tidak bisa saling menerima dan berkomunikasi dengan baik. Anaknya tidak bisa menerima kehadiran teman temannya yang dianggap mengganggu dunianya. Teman temannya pun tidak bisa menerima kehadiran anaknya yang dianggap berbeda. Akhirnya menempatkan sang anak untuk homeschooling di rumah adalah pilihan terakhirnya. Ibu AuDAy memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan sang anak. Biasanya setiap hari sebelum ia bekerja, ia selalu memeluk anaknya sambil memberikan afirmasi positif kepadanya. Ibu AuDAy tidak pernah lupa untuk meluangkan waktu setiap hari mendengar sang anak bercerita walaupun terkadang ia sendiri kesulitan bercerita yang ia mau karena kesulitan mengungkapkan kata kata. Kadangkala Ibu AuDAy bertanya kepada sang anak film apa yang akan ia tonton hari ini, kenapa ia suka film tersebut dan kenapa ia tertarik dengan tokoh Ibu AuDAy akan mendengarkan dengan seksama cerita dari sang anak. Ibu AuDAy mengungkapkan bahwa sangatlah penting memberikan pemahaman kepada lingkungannya mengenai cara berkomunikasi dengan sang anak. Lingkungan bagaimanapun merupakan tempat anak bertumbuh dan berkembang pertama kalinya sebelum memasuki usia sekolah. Ibu AuDAy percaya lingkungan yang baik dan komunikatif akan sangat berpengaruh baik terhadap perkembangan komunikasi anaknya. Di akhir sesi wawancara Ibu AuDAy memiliki harapan khusus. Ibu AuDAy mengungkapkan di Indonesia pemahaman orang awam mengenai anak berkebutuhan khsuus terutama autisme masih sangat Banyak yang menganggap anak dengan kondisi autisme itu gila atau sakit jiwa. Padahal anak berkebutuhan khusus bisa tumbuh normal dan berprestasi layaknya orang dewasa atau anak kecil Selain itu ia juga ingin sekali pengobatan dan terapi anak dengan berkebutuhan khusus dengan bawaan autisme ini masuk ke dalam biaya subsidi pemerintah seperti BPJS. Karena menurutnya ia cukup kesulitan terhadap pengobatan anak autisme karena tidak ditanggung oleh BPJS dan harganya sangat mahal. Orang tua diluar sana yang kekurangan dalam finansial akan sangat terbebani tentunya dengan kondisi ini. PENUTUP Setelah melakukan observasi langsung terhadap keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus, penulis menyimpulkan bahwa setiap anak dengan kebutuhan khusus memerlukan pendekatan dan solusi yang berbeda-beda. Kemampuan mereka dalam menerima dan merespons pesan juga bervariasi, sehingga setiap orang tua mengembangkan metode komunikasi yang unik sesuai dengan kebutuhan anak mereka. Beberapa orang tua menggunakan pendekatan hati ke hati, sementara yang lain menggunakan pendekatan yang lebih tegas namun personal untuk membantu anak mengembangkan tanggung jawab dan kemampuan yang sejalan dengan anak-anak seusianya. Pola asuh dan komunikasi yang efektif untuk satu anak berkebutuhan khusus bisa sangat berbeda dengan anak lainnya. Ada anak yang mudah diajak berkomunikasi, sementara yang lain lebih sulit. Lingkungan juga memainkan peran penting dalam perkembangan anak-anak ini. Lingkungan yang mendukung dan positif dapat memberikan banyak afirmasi dan pesan positif yang memperkuat respons dan perkembangan mental anak. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan kebencian dan pengaruh negatif dapat berdampak buruk pada kepribadian dan perkembangan anak berkebutuhan khusus. DAFTAR PUSTAKA