Volume 2 Nomor 1 . ISSN (P): 3048-3212 ISSN (E): 3025-499X DOI: Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Tulus Budi Santoso1 Evarianisa Endang Trisnani 2 12STAI YPBWI Surabaya ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi pedagogik guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan mengidentifikasi tantangan serta strategi yang diperlukan untuk penguatannya. Kurikulum Merdeka mengharuskan guru untuk merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengelola kelas secara efektif, dan melakukan evaluasi berdasarkan asesmen diagnostik dan formatif. Penelitian ini mengungkap berbagai tantangan yang dihadapi oleh guru MI, seperti pemahaman yang terbatas tentang kurikulum baru, kurangnya pelatihan berkelanjutan, literasi digital yang terbatas, dan beban administratif yang tinggi. Lebih lanjut, penelitian ini mengusulkan strategi untuk memperkuat kompetensi pedagogik, termasuk pelatihan berbasis praktik reflektif, pengembangan komunitas belajar guru, dukungan pendampingan dan pembinaan, dan penyediaan sumber belajar yang memadai. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru MI, memastikan implementasi Kurikulum Merdeka yang optimal dan dampak positif pada kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Kata Kunci: Kompetensi pedagogik, guru MI. Kurikulum Merdeka, tantangan, strategi penguatan ABSTRAC This study aims to examine the pedagogical competence of Madrasah Ibtidaiyah (MI) teachers in implementing the Merdeka Curriculum and to identify the challenges and strategies needed for its strengthening. The Merdeka Curriculum requires teachers to design student-centered learning, manage classrooms effectively, and conduct evaluations based on diagnostic and formative This study reveals various challenges faced by MI teachers, such as limited understanding of the new curriculum, lack of continuous training, limited digital literacy, and high administrative burdens. Furthermore, the study proposes strategies for strengthening pedagogical competence, including reflective practicebased training, development of teacher learning communities, mentoring and coaching support, and provision of adequate learning resources. The findings indicate that support from various stakeholders is crucial to enhance MI teachersAo pedagogical competence, ensuring optimal implementation of the Merdeka Curriculum and positive impacts on the quality of primary education in Indonesia. Keywords : Pedagogical competence. MI teachers. Merdeka Curriculum, challenges, strengthening strategies Tulusbudi123@gmail. nevaendangt@gmail. Jl. Wedoro PP No. 66 Wedoro. Waru. Sidoarjo JawaTimur Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting untuk Melalui memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sangat diperlukan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Pendidikan memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa. Proses belajar tidak selalu berhasil, hasil yang dicapai antara siswa yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan. Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa. Pendidikan merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antara manusia, maka diperlukan proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar diharapkan siswa dapat memahami suatu pengetahuan untuk mengembangkan ide dan gagasan di dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Penyelenggaraan Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Masing-masing memiliki peran yang sangat besar dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan merupakan keberhasilan bersama. Tidak bisa salah satu pihak menyatakan diri nyasebagai yang paling berhasil dalam penyelenggaraan Pendidikan. Pendidikan merupakan cerita atau jalan untuk mengembangkan dan mengarahkan dirinya menjadi sosok manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan sempurna. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan kepribadian baik jasmani maupun rohani kearah yang lebih baik dalam kehidupannya, sehingga semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin penting pula adanya pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan merupakan pilar utama dalam mencetak generasi yang berkualitas, berkarakter, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pemerintah terus melakukan berbagai inovasi kurikulum guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu inovasi terbaru adalah Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada pembelajaran berbasis kompetensi, fleksibilitas dalam penyusunan kurikulum, serta penguatan karakter peserta didik melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Pendidikan dasar memiliki peranan strategis dalam membentuk fondasi keilmuan dan karakter peserta didik. Madrasah Ibtidaiyah (MI), sebagai satuan pendidikan dasar JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka yang bercirikan keislaman, tidak hanya berperan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga bertanggungjawab dalam menanamkan nilai-nilai religius, moral, dan karakter peserta didik. Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat penting karena mereka merupakan ujung tombak pelaksanaan kurikulum dan proses pembelajaran di Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Merdeka oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. , paradigma pendidikan nasional mengalami pergeseran signifikan. Kurikulum Merdeka menekankan fleksibilitas, pembelajaran yang berpusat pada pesertadidik, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai orientasi utama pembelajaran abad ke-21. 1Kurikulum ini menuntut guru untuk tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, dan innovator dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kompetensi pedagogik guru menjadi elemen kunci dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan guru dalam memahami peserta didik, merancang pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang mendidik, mengevaluasi hasil belajar, serta mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasi kanpotensinya. 2 Dalam konteks Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk dapat merancang pembelajaran berdiferensiasi, mengembangkan proyek berbasis kontekstual, serta memanfaatkan teknologi digital sebagai penunjang kegiatan belajar. Namun, di berbagai satuan pendidikan MI, masih ditemukan banyak tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan kompetensi pedagogik guru dalam menyesuaikan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kurikulum yang baru. Beberapa guru masih terbiasa dengan pendekatan konvensional yang berorientasi pada penyampaian materi, belum sepenuhnya menguasai prinsip student-centered learning, dan kesulitan dalam menyusun modul ajar mandiri yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Panduan ImplementasiKurikulum Merdeka 1 (Jakarta: Kemendikbudristek, 2. ,5. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang StandarKualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Nurhasanah, "Peran KompetensiPedagogik Guru dalamImplementasiKurikulum Merdeka di Sekolah Dasar ," 3 Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara. Vol. No. : 134. Safitri. , "Kesiapan Guru MI dalamMenerapkanPembelajaranBerdiferensiasiKurikulum Merdeka ," Al-Afkar: 4 Jurnal Keislaman dan Pendidikan. Vol. No. : 82. JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani Selain itu, kondisi lingkungan pendidikan yang beragam, keterbatasan fasilitas, dan minimnya pelatihan atau pendampingan yang berkelanjutan juga turut memengaruhi kualitas implementasi Kurikulum Merdeka di MI. Guru-guru di madrasah yang berada di daerah terpencil atau belum memiliki aksesteknologi yang memadai, misalnya, cenderung kesulitan dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif maupun merancang proyek pembelajaran yang kontekstual. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru MI menjadi factor determinan dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Tanpa penguatan kompetensi ini, pembelajaran yang merdeka, bermakna, dan membangun karakter peserta didik tidak akan tercapai secara optimalA. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara mendalam sejauh mana kompetensi pedagogik guru MI telah mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, serta apa saja kendala dan strategi pengembangannya. Melalui kajian ini, diharapkan dapat ditemukan gambaran nyata tentang kesiapan dan kemampuan guru MI dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, sekaligus memberikan rekomendasi strategis untuk penguatan kapasitas pedagogik guru demi terwujudnya pendidikan dasar yang berkualitas dan sesuai dengan tuntutan zaman. Kompetensi Pedagogik Pengertian Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik merupakan salah satu dari empat kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh guru professional sebagai mana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi ini merujuk pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik secara efektif dan efisien sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan yang mendidik dan humanistik. Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, kompetensi pedagogic adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi 6 Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogic bukan hanya Ahmad Fauzi, "TransformasiPembelajaran di MI BerbasisTeknologi Digital pada Kurikulum Merdeka ," 5 Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. : 67 Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang StandarKualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka terbatas pada teknik mengajar, tetapi juga mencakup dimensi psikologis, sosiologis, dan pedagogis yang menyeluruh. Para ahli pendidikan juga menjelaskan bahwa kompetensi pedagogic berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menyenangkan, dan merangsang kreativitassiswa. Hamid Hasan menegaskan bahwa kompetensi pedagogic melibatkan pemahaman karakteristik peserta didik, teori belajar, pengembangan kurikulum, dan penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi peserta didik. 7 Guru dituntut untuk mampu membangun komunikasi edukatif, menyusun perencanaan pembelajaran yang fleksibel, serta mengadaptasi pendekatan yang berbeda untuk setiap individu peserta didik. Dalam konteksi mplementasi Kurikulum Merdeka, kompetensi pedagogi kmemiliki peran yang semakin krusial. Guru harus mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, merancang proyek berbasis Profil Pelajar Pancasila, serta menilai hasil belajar secara holistic melalui asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. 8 Oleh karena itu, guru MI dituntut tidak hanya menguasai substansi materi pelajaran, tetapi juga memahami prinsip-prinsip pedagogi kontemporer yang responsive terhadap dinamika peserta didik. Ketersediaan pelatihan dan pengembangan professional berkelanjutan menjadi factor penting dalam peningkatan kompetensi pedagogik guru. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik . oaching dan mentorin. lebih efektif disbanding pelatihan konvensional dalam meningkatkan kemampuan pedagogik guru di lapangan. 9 Hal inimenjadi pertimbangan penting dalam merancang strategi implementasi Kurikulum Merdeka secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan administratif, melainkan kunci utama keberhasilan proses pembelajaran yang mendalam, inklusif, dan memerdekakan peserta didik. Ruang Lingkup Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik mencakup serangkaian kemampuan profesional guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ruang lingkup kompetensi ini Hamid Hasan. PengembanganProfesionalisme Guru (Bandung: RemajaRosdakarya, 2. , 55. Dwi Astuti & Rina Wulandari, "PenguatanKompetensiPedagogik Guru melaluiImplementasiKurikulum 8 Merdeka," Jurnal Pendidikan Madrasah. Vol. No. : 118 Siti Marwiyah, "Efektivitas Program PelatihanBerbasisPraktikdalamMeningkatkanKompetensi Guru MI ," 9 JurnalIlmu Pendidikan Islam. Vol. No. : 90. JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani tidak hanya terbatas pada aspek teknis pengajaran, tetapi juga meliputi pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik peserta didik, strategi pembelajaran yang kontekstual, serta pengembangan kurikulum yang relevan dengan perkembangan Secara umum, ruang lingkup kompetensi pedagogik guru dapat diuraikan dalam beberapa aspek berikut: Pemahaman terhadap peserta didik Guru harus mampu memahami karakteristik, potensi, minat, gaya belajar, kesulitan belajar, dan latar belakang sosial budaya peserta didik. Pemahaman ini menjadi dasar dalam merancang pendekatan pembelajaran yang sesuai dan Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan merancang pembelajaran yang mendidik, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar, serta menyelenggarakan kegiatan belajar yang interaktif dan adaptif terhadap kebutuhan murid. 11 Dalam Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang memberi ruang pada peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Penggunaan teknologi dan media pembelajaran Guru harus mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pembelajaran yang efektif dan menarik. Penggunaan media digital seperti video pembelajaran, platform daring, dan aplikasi edukatif menjadi bagian dari ruang lingkup pedagogik modern. Evaluasi dan asesmen hasil belajar Kompetensi pedagogik juga mencakup kemampuan dalam merancang dan melaksanakan asesmen baik formatif maupun sumatif, serta melakukan refleksi hasil belajar untuk menentukan tindak lanjut. Di era Kurikulum Merdeka. Rahmawati. , "PemahamanKarakteristikPeserta Didik dalamKonteksKurikulum Merdeka ," Jurnal 10 Pendidikan Dasar Islam. Vol. No. : 27. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku Panduan Pembelajaran dan AsesmenKurikulum Merdeka 11 (Jakarta: Kemendikbudristek, 2. ,12. Hidayati. , "ImplementasiPembelajaranBerdiferensiasidalamKurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah ," 12 JurnalIlmu Pendidikan MI. Vol. No. : 110 Fauzan. , "Penggunaan Media Digital dalamPembelajaran di MI," Tadris Digital. Vol. No. : 45. JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka asesmen bersifat diagnostik, kontekstual, dan holistik. Pengembangan peserta didik secara menyeluruh Guru tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga bertanggung jawab dalam mengembangkan aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Termasuk dalam hal ini adalah pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai Pancasila, dan pembiasaan perilaku positif di lingkungan sekolah. Komunikasi edukatif Guru harus mampu membangun komunikasi yang efektif dengan peserta didik, orang tua, dan sesama pendidik untuk menciptakan ekosistem belajar yang kolaboratif dan suportif. Dengan ruang lingkup tersebut, kompetensi pedagogik menjadi landasan utama dalam mendesain dan menjalankan proses pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan peserta didik. Tanpa kompetensi ini, esensi pendidikan tidak akan dapat tercapai secara utuh. ImplementasiKurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah Kurikulum Merdeka merupakan transformasi dari Kurikulum 2013 yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pembelajaran abad ke-21, dengan menekankan pada fleksibilitas, diferensiasi, dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pendidikan yang holistik dan kontekstual, sekaligus memperkuat karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan kepada guru dalam memilih dan menyesuaikan materi ajar, metode pembelajaran, dan asesmen berdasarkan kebutuhan belajar siswa. Dalam konteks MI, hal ini memungkinkan terjadinya pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif, terutama dalam menghadapi keragaman kemampuan dan latar belakang siswa. Secara umum, implementasi Kurikulum Merdeka di MI mencakup beberapa aspek utama: Yuliani. , "AsesmendalamKurikulum Merdeka: Dari DiagnostikMenujuRefleksi," JurnalEvaluasi Pendidikan 14 Islam. Vol. No. : 89. Zainal. , "Peran Guru dalamMembentukKaraktermelaluiPembelajaranKontekstual," Jurnal Pendidikan 15 Karakter. Vol. No. : 72 Kemendikbudristek. Panduan ImplementasiKurikulum Merdeka untukJenjang MI/SD (Jakarta: 16 Kemendikbudristek, 2. , 9 JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani Pembelajaran Berdiferensiasi Guru dituntut untuk merancang pembelajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan, minat, dan gaya belajar masing-masing siswa. Ini mendorong siswa untuk belajar sesuai ritme dan potensi mereka, sekaligus mengurangi tekanan akademik yang seragam. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Di MI, projek ini dirancang secara tematik dan kontekstual sesuai dengan usia peserta didik, seperti tema kebhinekaan, kemandirian, gotong royong, dan cinta lingkungan. P5 bertujuan untuk membentuk karakter dan kompetensi sosial emosional peserta didik secara utuh. Penggunaan Modul Ajar dan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka tidak lagi menggunakan Kompetensi Dasar (KD), melainkan Capaian Pembelajaran (CP) sebagai acuan. Guru MI harus memahami CP setiap fase dan mengembangkan modul ajar yang fleksibel, kontekstual, serta bermuatan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Asesmen Formatitf dan Diagnostik Penilaian dalam Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada asesmen formatif untuk perbaikan proses belajar dan asesmen diagnostik untuk mengidentifikasi kebutuhan awal siswa. Di MI, ini menjadi alat penting dalam membimbing siswa secara personal. Kemandirian Guru dan Kolaborasi Sekolah Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru MI untuk lebih mandiri dalam merancang pembelajaran dan berkolaborasi aktif dalam komunitas belajar. Kepala madrasah dan pengawas memiliki peran penting dalam memberikan ruang inovasi dan penguatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Wahyuni. , "Strategi PembelajaranBerdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka di MI ," Jurnal Pendidikan 17 Islam Dasar. Vol. No. : 88. Fauziah. , "PenguatanKarakterSiswa MI melaluiProjekProfilPelajar Pancasila ," Jurnal Madrasah. Vol. 5, 18 No. : 40 Munawaroh. , "Pengembangan Modul Ajar MI BerbasisCapaianPembelajaran ," JurnalKurikulum dan 19 TeknologiPembelajaran. Vol. No. : 64 Ismail. , "AsesmenFormatif dan DiagnostikdalamPembelajaran MI ," Tadris: JurnalIlmu Pendidikan Islam, 20 Vol. No. : 53 Sari. , "Peran Kepala Madrasah dalamMendukungImplementasiKurikulum Merdeka di MI," 21 JurnalKepemimpinan Pendidikan Islam. Vol. No. : 115 JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Namun demikian, implementasi Kurikulum Merdeka di MI juga menghadapi tantangan, seperti keterbatasan pemahaman guru terhadap konsep baru, sarana prasarana yang belum memadai, serta resistensi terhadap perubahan pola Oleh karena itu, diperlukan pelatihan intensif, pendampingan teknis, dan peningkatan literasi kurikulum bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Dengan pendekatan yang tepat. Kurikulum Merdeka dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar Islam yang lebih relevan, kontekstual, dan berorientasi pada masa depan peserta didik. Kurikulum Merdeka: Karakteristik dan Tantangannya KarakteristikKurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka merupakan pendekatan baru dalam pendidikan Indonesia yang menekankan fleksibilitas pembelajaran, penyederhanaan materi, dan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Tujuan utama dari kurikulum ini adalah menumbuhkan budaya belajar yang berpihak pada siswa dan sesuai dengan konteks perkembangan zaman. Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah penguatan pembelajaran berbasis proyek untuk mendukung karakter pelajar melalui implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Proyek ini mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan yang mengembangkan nilai-nilai gotong royong, kemandirian, kreativitas, dan pemikiran kritis. Selain Kurikulum Merdeka diferensiatif dan fleksibel. Guru diberi keleluasaan untuk menyesuaikan materi dan metode pengajaran dengan kebutuhan, minat, serta kemampuan siswa. Hal ini mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih personal dan bermakna. Kurikulum menitikberatkan pada penguasaan kompetensi esensial. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi benar-benar memahami dan mampu PengembanganProjekPenguatanProfilPelajar Pancasila (Jakarta: 22 Kemendikbudristek, 2. , 4 Niken Septiani dan Dwi Wahyuni. AuPenerapanKurikulum Merdeka BelajardalamPembelajaran di Sekolah 23 Dasar,Ay JurnalBasicedu 6, no. : 112Ae120. JSPED Vol. 2 No. Kemendikbudristek RI, Panduan Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani menerapkannya dalam kehidupan nyata. Tantangan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Meski memiliki banyak keunggulan. Kurikulum Merdeka menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya, khususnya di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI). Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan kompetensi pedagogik guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Penelitian Lestari. Bahrozi, dan Yuliana . menunjukkan bahwa banyak guru belum memahami secara menyeluruh karakteristik peserta didik, mengalami kesulitan dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi, serta belum optimal dalam menyusun asesmen diagnostik dan formatif sesuai kebutuhan siswa. Tantangan lainnya adalah minimnya fasilitas pendukung dan kurangnya pelatihan teknis yang merata. Banyak sekolah dasar dan madrasah di daerah belum memiliki akses yang cukup terhadap pelatihan guru dan sumber belajar digital yang menjadi penopang utama Kurikulum Merdeka. Hal ini diperparah oleh rendahnya literasi digital sebagian guru. Di sisi lain, perubahan paradigma dari teacher-centered ke student-centered learning menuntut adanya reformasi dalam cara mengajar, yang tidak semua guru siap menghadapinya. Guru perlu waktu untuk beradaptasi dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan partisipatif ini. Strategi Mengatasi Tantangan Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, berbagai strategi dapat dilakukan, antara lain: Pelatihan berkelanjutan bagi guru dalam menyusun modul ajar, pembelajaran berdiferensiasi, dan asesmen formatif. Penyediaan sumber daya digital yang mudah diakses oleh guru dan siswa. Penguatan peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Kolaborasi antarsekolah, madrasah, dan komunitas belajar untuk berbagi praktik Kemendikbudristek. CapaianPembelajarandalamKurikulum Merdeka (Jakarta: Pusat Kurikulum dan 24 Pembelajaran, 2. Putri Dwi Jayanti P. Lestari. Imam Bahrozi, dan Ivo Yuliana. Au KompetensiPedagogik Guru 25 dalamPelaksanaanKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar 9, no. : 153Ae160 Winarni. AuKendala ImplementasiKurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Nusantara 3 , no. : 45Ae54 Hartati. AuPerubahanParadigmaPembelajarandalamKurikulum Merdeka ,Ay JurnalInovasi Pendidikan 5, no. : 21Ae29 JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Peran KompetensiPedagogikdalamImplementasiKurikulum Merdeka Kompetensi profesionalisme guru yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran, khususnya dalam kerangka implementasi Kurikulum Merdeka. Kompetensi ini mencakup kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang pembelajaran, melaksanakan strategi belajar yang efektif, melakukan evaluasi, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Dalam Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada pembelajaran berdiferensiasi, penguatan karakter, serta fleksibilitas dalam kegiatan belajar, guru dituntut memiliki kemampuan pedagogik yang adaptif dan inovatif. Hal ini sejalan dengan semangat merdeka belajar, di mana guru tidak lagi menjadi pusat informasi tunggal, melainkan fasilitator dan pembimbing dalam proses belajar siswa. Pemahaman terhadap Karakteristik Peserta Didik Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik menjadi titik awal bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang relevan dan kontekstual. Guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik akan mampu mengidentifikasi gaya belajar, minat, serta kebutuhan siswa sebagai dasar dalam menyusun pendekatan 30 Dalam konteks Kurikulum Merdeka, kemampuan ini sangat penting karena prinsip utamanya adalah pembelajaran yang berpihak pada murid . tudentcentered learnin. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran Kompetensi pedagogik memungkinkan guru untuk menyusun perencanaan pembelajaran yang sistematis dan responsif terhadap konteks sekolah dan peserta Perencanaan pembelajaran tidak hanya mencakup tujuan dan materi, tetapi juga metode yang bervariasi dan media yang sesuai dengan kondisi siswa. Undang-UndangNomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal 10 Ayat 1. Kemendikbudristek. Panduan Pembelajaran dan AsesmenKurikulum Merdeka (Jakarta: Pusat Kurikulum dan 29 Pembelajaran, 2. Taufiq dan Siti Maryani. AuKompetensi Guru dalam Menghadapi TantanganKurikulum Merdeka ,Ay Jurnal 30 Pendidikan dan Pembelajaran 7, no. : 88Ae95 Miftahul Jannah. AuPeran KompetensiPedagogikdalamMewujudkan Merdeka Belajar,Ay JurnalEdukatif 5, no. : 101Ae109 Septiani dan Wahyuni. AuPenerapanKurikulum Merdeka Belajar,Ay JurnalBasicedu 6, no. : 112Ae12032 JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani Penelitian Lestari. Bahrozi, dan Yuliana . menemukan bahwa guru yang memahami prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka cenderung lebih mampu menyusun pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Pengelolaan Kelas dan Strategi Pembelajaran Aktif Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, interaktif, dan menyenangkan. Kompetensi pedagogik mendukung guru dalam memilih strategi pembelajaran aktif seperti project-based learning, problem-based learning, dan inquiry learning yang selaras dengan tujuan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Evaluasi dan Asesmen Pembelajaran Kompetensi pedagogik juga tercermin dalam kemampuan guru melakukan asesmen yang otentik dan berkelanjutan. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen tidak lagi hanya bersifat sumatif, melainkan juga formatif dan diagnostik untuk memahami proses belajar siswa secara mendalam. Guru yang memiliki kompetensi pedagogik tinggi akan mampu menyusun dan menggunakan berbagai bentuk asesmen untuk mengukur capaian pembelajaran secara menyeluruh. Refleksi dan Perbaikan Berkelanjutan Guru dengan kompetensi pedagogik yang matang akan terus melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan. Kurikulum Merdeka membuka ruang yang luas bagi guru untuk berinovasi dan belajar dari praktik yang dijalankan, sehingga kemampuan reflektif menjadi bagian penting dari praktik profesional guru. Tantangan Guru MI dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Peningkatan kompetensi pedagogik merupakan tuntutan yang tidak terelakkan bagi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam menghadapi dinamika pendidikan, terutama Putri Dwi Jayanti P. Lestari. Imam Bahrozi, dan Ivo Yuliana. Au KompetensiPedagogik Guru 33 dalamPelaksanaanKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar 9, no. : 153Ae160. Hartati. AuPerubahanParadigmaPembelajarandalamKurikulum Merdeka ,Ay JurnalInovasi Pendidikan 5, no. : 21Ae29 Winarni. AuKendala ImplementasiKurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Nusantara 3, no. : 45Ae54. Endang Susanti. AuRefleksi Guru dalamImplementasiKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Pendidikan Profesi Guru 4, 36 1 . : 34Ae41 JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka setelah diberlakukannya Kurikulum Merdeka. Meski banyak guru MI menyadari pentingnya penguasaan kompetensi ini, realitanya mereka masih dihadapkan pada sejumlah tantangan yang kompleks dan multidimensional, baik secara internal maupun Keterbatasan Akses Pelatihan dan Pengembangan Profesional Salah satu tantangan utama yang dihadapi guru MI adalah keterbatasan dalam memperoleh pelatihan berkelanjutan yang relevan dengan Kurikulum Merdeka. Tidak semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti workshop, bimbingan teknis, atau pelatihan berbasis praktik reflektif. Hal ini diperparah dengan kurang meratanya distribusi informasi dan fasilitas pengembangan kompetensi, terutama di daerah 3T . erdepan, terpencil, dan tertingga. Beban Administratif yang Tinggi Guru MI kerap kali dibebani dengan tugas administrasi yang cukup padat, seperti pengisian perangkat ajar, pelaporan kinerja, hingga tugas-tugas tambahan di luar kegiatan pembelajaran. Kondisi ini menyita waktu dan energi guru, sehingga mereka kesulitan fokus pada pengembangan kompetensi pedagogik secara mendalam dan berkelanjutan. Variasi Latar Belakang Pendidikan Guru Tidak semua guru MI berasal dari latar pendidikan keguruan yang relevan. Beberapa guru masih memiliki kualifikasi akademik yang belum sesuai standar minimal atau belum mendapatkan pendidikan profesi guru (PPG). Hal ini berdampak pada pemahaman mereka terhadap teori-teori pembelajaran modern, pendekatan kontekstual, maupun strategi evaluasi berbasis asesmen autentik yang menjadi esensi dari Kurikulum Merdeka. Rendahnya Literasi Digital Kompetensi digital guru menjadi hal penting dalam mendukung pedagogik yang adaptif. Sayangnya, tidak sedikit guru MI yang masih mengalami kesenjangan Jayanti P. Lestari. Imam Bahrozi, dan Ivo Yuliana. Au KompetensiPedagogik Guru 37 dalamPelaksanaanKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar 9, no. : 153Ae160 Taufiq dan Siti Maryani. AuKompetensi Guru dalam Menghadapi TantanganKurikulum Merdeka ,Ay Jurnal 38 Pendidikan dan Pembelajaran 7, no. : 88Ae95 Dwi Septiani dan Wahyuni. AuPenerapanKurikulum Merdeka Belajar,Ay JurnalBasicedu 6, no. : 112Ae120. JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani dalam penggunaan teknologi pembelajaran seperti Learning Management System (LMS), aplikasi asesmen digital, maupun media pembelajaran berbasis IT. Rendahnya literasi digital ini menjadi kendala dalam memanfaatkan sumber belajar modern yang tersedia secara daring. Minimnya Budaya Kolaboratif dan Refleksi Peningkatan kompetensi pedagogik menuntut adanya budaya belajar bersama, kolaborasi antar guru, dan refleksi praktik pembelajaran. Namun, di sebagian madrasah, kultur seperti ini masih belum berkembang. Guru cenderung bekerja sendiri-sendiri dan kurang terlibat dalam komunitas belajar atau kelompok kerja guru (KKG) secara aktif. Dukungan Manajerial yang Belum Optimal Kepemimpinan kepala madrasah dan kebijakan manajerial lembaga juga turut memengaruhi penguatan kompetensi pedagogik guru. Ketika dukungan dari pimpinan dalam hal pendampingan, penghargaan, serta alokasi waktu untuk pelatihan Strategi PenguatanKompetensiPedagogik Guru MI Penguatan kompetensi pedagogik guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan langkah strategis untuk menyukseskan implementasi Kurikulum Merdeka. Dalam konteks ini, kompetensi pedagogik mencakup kemampuan merancang pembelajaran yang sesuai karakteristik peserta didik, mengelola kelas secara efektif, serta melakukan evaluasi berbasis asesmen diagnostik dan formatif. Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai strategi sistematis untuk meningkatkan mutu pedagogik guru MI secara berkelanjutan. Penguatan Melalui Pelatihan Berbasis Praktik Reflektif Pelatihan yang dirancang secara kontekstual dan berbasis praktik langsung dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pedagogik guru. Pelatihan semacam ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengasah Winarni. AuKendala ImplementasiKurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Nusantara 3, no. : 45Ae54 Hartati. AuPerubahanParadigmaPembelajarandalamKurikulum Merdeka ,Ay JurnalInovasi Pendidikan 5, no. : 21Ae29. Endang Susanti. AuRefleksi Guru dalamImplementasiKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Pendidikan Profesi Guru 4, 42 1 . : 34Ae41 JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka keterampilan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi Guru juga diajak untuk merefleksikan praktik mengajarnya secara kritis untuk peningkatan berkelanjutan. Pengembangan Komunitas Belajar Guru Pembentukan dan penguatan komunitas belajar seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) atau komunitas praktisi menjadi strategi penting dalam membangun budaya Melalui wadah ini, guru dapat saling berbagi pengalaman, menyusun perangkat ajar bersama, serta membahas kesulitan pedagogis yang dihadapi. Kolaborasi ini mendorong inovasi pembelajaran serta memperkuat profesionalisme Penguatan Literasi Teknologi Digital Dalam konteks Kurikulum Merdeka, guru MI dituntut untuk memiliki literasi digital guna mengakses berbagai sumber belajar, menyusun media pembelajaran digital, serta melaksanakan asesmen berbasis teknologi. Oleh karena itu, pelatihan literasi digital dan pendampingan dalam pemanfaatan teknologi menjadi langkah strategis yang harus diperkuat. Pendekatan Mentoring dan Coaching Strategi lain yang efektif adalah penerapan pendekatan mentoring dan coaching antar guru, khususnya antara guru senior dan guru pemula. Melalui proses ini, guru pemula akan terbantu dalam memahami pendekatan pembelajaran yang kontekstual, menerapkan diferensiasi, serta menyusun asesmen yang sesuai dengan karakteristik siswa MI. Insentif dan Apresiasi Berbasis Kinerja Penguatan kompetensi pedagogik juga membutuhkan dorongan motivasional dari pihak manajemen madrasah atau pemerintah. Guru yang menunjukkan peningkatan mutu pengajaran dan inovasi layak diberikan penghargaan, baik berupa insentif, pengakuan publik, maupun promosi. Apresiasi ini berdampak positif pada Jayanti P. Lestari. Imam Bahrozi, dan Ivo Yuliana. Au KompetensiPedagogik Guru 43 dalamPelaksanaanKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar 9, no. : 153Ae160 Rahayu Nur Fitria dan Dinda R. Pratiwi. AuPeran KomunitasPraktisidalamMeningkatkanKompetensi Guru di 44 Era Merdeka Belajar,Ay JurnalIlmu Pendidikan 5, no. : 88Ae95 Septiani dan Wahyuni. AuPenerapanKurikulum Merdeka Belajar,Ay JurnalBasicedu 6, no. : 112Ae12045 Dwi Wahyudi dan Astuti. AuEfektivitas Coaching dalamMeningkatkanKompetensiProfesional Guru ,Ay Jurnal 46 Pendidikan Dasar Nusantara 4, no. : 67Ae75 JSPED Vol. 2 No. Tulus Budi Santoso. Evarianisa Endang Trisnani semangat guru dalam mengembangkan diri. Integrasi Kompetensi Pedagogik dalam Supervisi Akademik Supervisi akademik tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai proses pembinaan pedagogik. Kepala madrasah dan pengawas dapat memberikan masukan konstruktif, membantu perencanaan pembelajaran berbasis kurikulum baru, serta mendorong guru untuk menerapkan pendekatan pembelajaran aktif dan merdeka belajar. Peningkatan Ketersediaan Sumber Belajar Guru Strategi lain yang tidak kalah penting adalah penyediaan modul ajar, perangkat pembelajaran, serta referensi pedagogik berbasis Kurikulum Merdeka yang mudah diakses oleh guru MI. Dukungan bahan ajar dan buku pegangan guru akan memudahkan guru dalam merancang pembelajaran yang bermakna. Penutup Kesimpulan Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah (MI) menuntut guru untuk memiliki kompetensi pedagogik yang kuat dan adaptif. Kurikulum ini menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, berdiferensiasi, serta berbasis asesmen formatif dan diagnostik. Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaannya sangat bergantung pada sejauh mana guru mampu memahami, mengelola, dan mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan Kompetensi pedagogic menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka. Tantangan yang dihadapi guru MI meliputi keterbatasan pemahaman terhadap kurikulum baru, kurangnya pelatihan berkelanjutan, literasi teknologi, serta beban administratif yang tinggi. Namun demikian, berbagai strategi telah diidentifikasi untuk menguatkan kompetensi pedagogik guru, antara lain melalui pelatihan berbasis praktik reflektif, penguatan Siti Maryani. AuPenguatanKompetensi Guru melaluiApresiasi dan Insentif,Ay JurnalInovasi Pendidikan 5, no. : 44Ae52 Endang Susanti. AuRefleksi Guru dalamImplementasiKurikulum Merdeka,Ay Jurnal Pendidikan Profesi Guru 4, 48 1 . : 34Ae41. Winarni. AuKendala ImplementasiKurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Nusantara 3, no. : 45Ae54 JSPED Vol. 2 No. Kompetensi Pedagogik Guru MI Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka komunitas belajar, coaching dan mentoring, serta penyediaan sumber belajar yang Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, kepala madrasah, maupun komunitas profesional, maka peningkatan kompetensi pedagogik guru MI menjadi hal yang memungkinkan dan harus diupayakan secara sistematis dan Saran Bagi Guru MI: Disarankan untuk terus meningkatkan kapasitas pedagogic melalui pelatihan, diskusi kolaboratif dalam komunitas belajar, serta refleksi terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan. Guru juga perlu mengembangkan literasi digital sebagai pendukung dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Bagi Kepala Madrasah dan Pengawas: Perlu menyediakan ruang dan waktu bagi guru untuk mengikuti pelatihan, melakukan supervise akademik yang bersifat membina, serta memberikan motivasi dan apresiasi atas kinerja guru dalam mengimplementasikan pembelajaran yang bermakna. Bagi Pemerintah dan Pemangku Kebijakan: Perlu memastikan tersedianya program pengembangan professional berkelanjutan . ontinuous professional development/CPD), penyediaan perangkat ajar yang komprehensif, serta perumusan kebijakan insentif bagi guru yang aktif berinovasi dan meningkatkan Bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK): Perlu mengintegrasi kankurikulum dan metode pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka kedalam program pendidikan calon guru, sehingga lulusan LPTK siap terjun dengan kompetensi pedagogik yang sesuai tuntutan zaman. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kompetensi pedagogik guru MI akan semakin kuat, dan implementasi Kurikulum Merdeka dapat berjalan optimal serta memberikan dampak positif terhadap mutu pendidikan dasar di Indonesia. REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA