Urecol Journal. Part B: Economics and Business Vol. 5 No. eISSN: 2797-1902 Improving Financial Planning Literacy and Investment Education for Teenagers in Dukuh Gamblok. Galangpengampon Village. Wonopringgo Subdistrict. Pekalongan Regency Rifqi Maulid1 . Khomsatul Isna2. Kholishotur Risqiyana3. Fatin Nabila4. Leila Nisya Ayuanda5. Dewi Risqi Aisyah6 1,2 Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Indonesia 3,4 Program Studi Manajemen. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Indonesia 5, 6 Program Profesi Kebidanan. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Indonesia rifkimaulid413@gmail. https://doi. org/10. 53017/ujeb. Received: 07/08/2025 Abstract Revised: 03/09/2025 Accepted: 02/11/2025 Low levels of education and limited access to information in Gamblok Hamlet. Galangpengampon Village. Wonopringgo District. Pekalongan Regency, are the main factors contributing to poor financial literacy among adolescents. The majority of adolescents in this area have only completed elementary or junior high school, so they lack an adequate understanding of the importance of financial planning and personal fund As a result, they are prone to consumer behavior, lack savings habits, and lack an understanding of the risks and benefits of investing. This community service activity aims to improve adolescent financial literacy through education tailored to the participants' level of understanding. The implementation method includes interactive outreach involving discussions, simple budgeting simulations, educational games, and an introduction to basic, easy-to-understand investment instruments, such as savings and The results of the activity showed a significant increase in participants' understanding of money management, the importance of distinguishing between needs and wants, and awareness of saving and understanding safe investments. This education not only provides knowledge but also encourages changes in behavior toward wiser personal financial management. This activity is expected to be the first step in forming healthy financial habits, increasing economic independence, and paving the way for socioeconomic development of the younger generation in rural areas with limited levels of Keywords: Financial literacy, financial planning, investment education Peningkatan Literasi Perencanaan Keuangan dan Edukasi Investasi bagi Remaja di Dukuh Gamblok. Desa Galangpengampon. Kecamatan Wonopringgo. Kabupaten Pekalongan Abstrak Rendahnya tingkat pendidikan dan minimnya akses informasi di Dukuh Gamblok. Desa Galangpengampon. Kecamatan Wonopringgo. Kabupaten Pekalongan, menjadi Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. faktor utama yang menyebabkan lemahnya literasi keuangan di kalangan remaja. Mayoritas remaja di wilayah ini hanya menempuh pendidikan hingga jenjang SD atau SMP, sehingga belum memiliki pemahaman yang memadai tentang pentingnya perencanaan keuangan dan pengelolaan dana pribadi. Akibatnya, mereka rentan terhadap perilaku konsumtif, tidak memiliki kebiasaan menabung, serta tidak memahami risiko dan manfaat dari aktivitas investasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan remaja melalui edukasi yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta. Metode pelaksanaan berupa sosialisasi interaktif yang melibatkan diskusi, simulasi penyusunan anggaran sederhana, permainan edukatif, serta pengenalan instrumen investasi dasar yang mudah dipahami, seperti tabungan dan emas. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta terhadap pengelolaan uang, pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta kesadaran untuk mulai menabung dan memahami investasi yang aman. Edukasi ini tidak hanya memberi bekal pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk kebiasaan finansial yang sehat, meningkatkan kemandirian ekonomi, serta membuka jalan bagi pembangunan sosial-ekonomi generasi muda di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan yang masih terbatas. Kata kunci: Literasi keuangan, perencanaan keuangan, edukasi investasi Pendahuluan Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat di Dukuh Gamblok. Desa Galangpengampon. Kecamatan Wonopringgo. Kabupaten Pekalongan adalah rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan remaja. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya jenjang pendidikan yang ditempuh oleh sebagian besar remaja di wilayah tersebut, di mana banyak di antaranya hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SD atau SMP. Minimnya akses informasi dan kurangnya pengetahuan dasar mengenai pengelolaan keuangan menyebabkan mereka cenderung bersikap konsumtif, tidak memiliki kebiasaan menabung, serta tidak memahami pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang maupun manfaat investasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, seperti melalui program Gerakan Nasional Literasi Keuangan yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun kegiatan sosialisasi dari lembaga keuangan dan perguruan tinggi. Namun, sebagian besar kegiatan tersebut berfokus pada masyarakat perkotaan atau kelompok usia dewasa yang telah memiliki akses pendidikan dan teknologi. Metode yang digunakan pun sering kali bersifat formal, teoretis, atau berbasis digital, yang belum tentu relevan atau efektif diterapkan di daerah pedesaan seperti Dukuh Gamblok yang memiliki keterbatasan sumber daya dan infrastruktur informasi. Kondisi ini menciptakan celah atau kekosongan yang belum banyak disentuh oleh program-program literasi keuangan yang ada, terutama dalam menjangkau kelompok remaja pedesaan dengan pendekatan yang sederhana, praktis, dan kontekstual. Padahal, remaja merupakan kelompok usia yang strategis untuk diberikan pemahaman keuangan Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. sejak dini agar dapat membentuk kebiasaan finansial yang sehat dan bertanggung jawab. Potensi mereka sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi di masa depan belum tergarap secara optimal, khususnya dalam konteks pemberdayaan ekonomi lokal berbasis pemahaman keuangan. Untuk mengisi kekosongan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menawarkan pendekatan edukasi keuangan yang berbasis kontekstual dan partisipatif. Konsep ini dirancang dengan menyesuaikan materi dan metode dengan kondisi sosial, ekonomi, dan pendidikan peserta. Edukasi dilakukan melalui metode interaktif seperti diskusi terbuka, simulasi penyusunan anggaran pribadi sederhana, permainan edukatif, serta pengenalan instrumen investasi dasar seperti tabungan, emas, dan reksa dana mikro. Tujuannya adalah untuk menjembatani kesenjangan pemahaman dengan praktik keuangan yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman remaja terhadap pentingnya mengelola keuangan pribadi, kesadaran untuk menabung, serta pengetahuan awal tentang investasi yang aman dan sesuai dengan kondisi mereka. Lebih jauh, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi di kalangan generasi muda, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa melalui literasi keuangan yang berkelanjutan. Literatur Review Literatur review ini bertujuan untuk membahas pengetahuan dan temuan sebelumnya yang relevan dengan peningkatan literasi keuangan dan edukasi nvestasi bagi remaja. Kajian ini menjadi dasar dalam merancang pendekatan edukatif yang tepat bagi remaja di Dukuh Gmblok. Desa Galangpengampon yang tingkat pendidikannya relatif rendah. Literasi Keuangan Remaja Literasi keuangan merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki individu untuk dapat mengambil keputusan finansial yang rasional dan bertanggung jawab. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan literasi keuangan sebagai pemahaman dan keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan agar tercapai kesejahteraan hidup. Namun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan kenaikan indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 Hasil SNLIK 2025 ini meningkat dibanding SNLIK 2024 yang menunjukkan indeks literasi keuangan 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 (Riyadi. Dukuh Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Gamblok Desa Maulid et al. Galangpengampon, khususnya kalangan remaja, angka ini kemungkinan lebih rendah akibat keterbatasan akses pendidikan dan informasi. Remaja di Dukuh Gamblok, sering kali hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD atau SMP. Hal ini berdampak pada rendahnya kemampuan mereka dalam memahami konsep dasar keuangan seperti penganggaran, menabung, dan investasi. Penelitian oleh Nugroho dan Mahesti . menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan berkorelasi positif dengan perilaku keuangan remaja. Semakin tinggi literasinya, semakin baik pula praktik menabung dan perencanaan keuangannya. (Ansyah et al. , 2. Perencanaan Keuangan Pribadi untuk Remaja Perencanaan keuangan merupakan proses mengelola pendapatan dan pengeluaran secara sistematis untuk mencapai tujuan finansial tertentu, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Perencanaan keuangan mencakup aspek penganggaran, tabungan, investasi, dan perlindungan aset. Bahwa literasi dan kesadaran keuangan secara signifikan memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam merencanakan keuangan pribadi. (Laili, 2. Remaja yang dibekali keterampilan membuat anggaran sederhana agar lebih disiplin dan punya kebiasaan nabung rutin. Namun tanpa pemahaman yang tepat, uang tersebut cenderung langsung dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif, seperti makanan cepat saji, hiburan, atau barang-barang gaya hidup. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kemampuan membuat anggaran sederhana cenderung lebih bijak dalam membelanjakan uangnya dan memiliki kecenderungan untuk menabung secara rutin. Pendidikan formal di sekolah belum banyak mengajarkan keterampilan perencanaan keuangan secara aplikatif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pendidikan nonformal melalui kegiatan seperti pelatihan atau sosialisasi yang membekali remaja dengan kemampuan menyusun anggaran pribadi, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta merancang tujuan keuangan jangka pendek. Pendekatan ini sangat relevan diterapkan di wilayah seperti Dukuh Gamblok, di mana pendidikan dan akses literasi masih terbatas. Penerapan metode praktik seperti simulasi keuangan atau pembuatan Aurencana keuangan mingguanAy terbukti efektif dalam membantu remaja memahami pengelolaan uang secara konkret. Dengan menanamkan kebiasaan Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. membuat rencana keuangan sejak dini, remaja tidak hanya belajar mengatur keuangannya, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan pengambilan keputusan yang cerdas dalam hal keuangan. Edukasi Investasi Dasar Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal investasi. Kecanggihan teknologi memudahkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengakses beragam pilihan instrumen investasi. Investasi merupakan aspek penting dalam mempersiapkan masa depan, yaitu dengan mengalokasikan sejumlah dana atau sumber daya lainnya pada masa sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan atau nilai tambah di masa mendatang (Jamaludin et al. Sayangnya, metode edukasi investasi yang diterapkan selama ini bersifat teoritis dan kurang sesuai konteks lokal. Materi sering disampaikan dengan istilah teknis atau berbasis digital, sehingga tidak diterima dengan baik oleh remaja pedesaan yang memiliki literasi teknologi rendah. Sehingga penting dalam menekankan perlunya pendekatan yang kontekstual dan berbasis lokal agar materi lebih relevan dan mudah dipahami oleh peserta dengan latar pendidikan terbatas (Ansyah et al. , 2. Metode Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan partisipatif dan aplikatif , pendekatan partisipatif merupakan pendekatan yang menekankan pada keterlibatan aktif masyarakat sasaran, dalam hal ini para remaja di Dukuh Gamblok, dalam seluruh tahapan kegiatanAimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program. Pendekatan ini menghindari metode satu arah yang hanya mentransfer ilmu dari pengabdi kepada masyarakat. Sebaliknya, partisipasi aktif diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dari peserta terhadap hasil kegiatan. Melalui metode ini remaja dilibatkan dalam diskusi kelompok, simulasi pengelolaan keuangan, serta refleksi bersama untuk memahami pentingnya menabung, membuat anggaran pribadi, dan mengenali bentuk investasi yang sesuai usia. Pendekatan ini memperkuat daya dorong internal peserta aga mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Partisipatif ini dalam menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan sosial, bukan sekadar objek kegiatan. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi sosial yang berkelanjutan (Yuttama & Widadi, 2. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. Partisipatif pembangunan sosial, bukan sekadar objek kegiatan. Pendekatan aplikatif mengedepankan praktik langsung dan kebermanfaatan nyata dari materi yang Artinya, edukasi yang diberikan kepada peserta tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat langsung diterapkan oleh peserta dalam kehidupan mereka. Dalam konteks ini, remaja tidak hanya memahami konsep literasi keuangan dan investasi, tetapi juga dilatih secara langsung menyusun rencana keuangan, menggunakan alat bantu perencanaan, hingga mengidentifikasi aplikasi keuangan yang ramah pemula. Pendekatan aplikatif efektif digunakan dalam pengabdian bertema edukasi keuangan, karena peserta dapat merasakan secara langsung manfaat dari ilmu yang dipelajari melalui kegiatan simulatif dan studi kasus sederhana (Sri Maria Ulfha et al. , 2. Pendekatan aplikatif efektif digunakan dalam pengabdian bertema edukasi keuangan, karena peserta dapat merasakan secara langsung manfaat dari ilmu yang dipelajari melalui kegiatan simulatif dan studi kasus sederhana (Fatia Rizki Nuraini. Nina Difla Muflikhah, 2. Penelitian dalam bentuk pengabdian kepada masyarakan ini menggunakan pendekatan partisipatif yang disesuaikan dengan konteks sosial dan kultural remaja di daerah pedesaan. Pendekatan ini berfokus pada peningkatan literasi keuangan melalui metode pembelajaran yang bersifat aplikatif, sederhana, dan berbasis pengalaman langsung peserta. Mengingat rendahnya tingkat pendidikan dan literasi digital di Dukuh Gamblok. maka metode pembelajaran disusun agar mudah dipahami oleh remaja dengan latar belakang pendidikan dasar (SDAeSMA) tanpa mengesampingkan esensi substansi keilmuan. Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari bertempat di balai desa setempat, dengan populasi dengan jumlah peserta sebanyak 30 remaja yang berusia antara 12 hingga 20 tahun. Sebagian besar dari mereka masih menempuh pendidikan di tingkat SMP atau telah berhenti sekolah setelah menyelesaikan pendidikan dasar. Analisis data dalam kegiatan ini dilakukan menggunakan pendekatan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, catatan lapangan, dan wawancara singkat . yang dilakukan secara langsung selama kegiatan berlangsung. Metode ini dipilih agar dapat menangkap dimensi-dimensi partisipatif, seperti keterlibatan peserta, antusiasme dalam mengikuti simulasi, pemahaman terhadap materi, serta respons spontan terhadap kegiatan yang dilakukan. Seluruh kegiatan juga didokumentasikan dalam bentuk foto, video, serta lembar kerja peserta. Dokumentasi ini bisa menjadi bukti kegiatan. Foto-foto saat peserta terlibat dalam diskusi atau menyusun rencana keuangan pribadi, misalnya, menjadi indikasi keberhasilan metode pembelajaran aplikatif. Tahapan metode pelaksanaan ini dilakukan melalui pendekatan parsitipatif dan aplikatif dengan tahapan sebagai berikut: Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. Survei dan pemetaan kebutuhan Sosialisasi edukasi literasi keuangan Pendampingan dan monitoring Evaluasi program . Hasil dan Pembahasan Hasil Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Dukuh Gamblok. Desa Galangpengampon. Kecamatan Wonopringgo. Kabupaten Pekalongan menjangkau 30 remaja berusia sekitar 15-25 tahun. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan edukasi literasi keuangan dan pengenalan investasi dasar malalui pendekatan partisipatif dan alplikatif. Kegiatan dilaksanakan dalam satu hari di TPQ Nurul Hidayah KKN kelompok 1 Dukuh Gamblok, dengan materi yang disampaikan dalam bentuk diskusi interaktif, simulasi anggaran sederhana, permainan edukatif, serta pengenalan investasi seperti emas, tabungan, dan reksa dana. Gambar 1 Kegiatan edukasi literasi keuangan dan investasi kepada remaja di Dukuh Gamblok Galangpengampon Gambar 2 Kegiatan edukasi literasi keuangan dan investasi kepada remaja di Dukuh Gamblok Galangpengampon Pengumpulan data melalui observasi partisipatif, catatan lapangan, dan wawancara singkat . yang dilakukan secara langsung selama kegiatan Metode ini dipilih agar dapat menangkap dimensi-dimensi kualitatif. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. seperti keterlibatan peserta, antusiasme dalam mengikuti simulasi, pemahaman terhadap materi, serta respons spontan terhadap kegiatan yang dilakukan. Adapun hasil dari pelaksanaan program ini dirangkum dalam beberapa poin utama sebagai berikut : Sosialisasi & Seminar : Penyampaian materi dasar keuangan dilakukan secara interaktif dengan menggunakan media visual dan contoh konkret yang dekat dengan Peserta perencanaan keuangan sejak dini. Simulasi & Game Edukasi : Peserta dilibatkan dalam simulasi pembuatan anggaran bulanan berdasarkan skenario pendapatan dan pengeluaran. Melalui metode ini, peserta belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Diskusi Kelompok : Dalam kelompok kecil, peserta membahas studi kasus terkait keputusan keuangan sehari-hari, seperti memilih menabung atau membeli barang Diskusi ini mendorong mereka untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan bijak. Pre Test dan Post Test : Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan untuk Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor yang signifikan. Aspek yang mengalami peningkatan paling signifikan sebagai berikut : Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Pemahaman pentingnya menabung. Kesadaran akan resiko dan manfaat dari investasi. Pengenalan instrument keuangan yang sesuai bagi pemula. Gambar 3 Foto bersama remaja Dukuh Gamblok Pembahasan Pendekatan edukasi berbasis partisipatif dan aplikatif terbukti efektif dalam meningkatkan literasi keuangan remaja di Dukuh Gamblok. Peningkatan signifikan pada empat aspek utamaAikemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. pemahaman pentingnya menabung, kesadaran akan risiko dan manfaat investasi, dan pengenalan instrumen keuangan pemulaAimencerminkan keberhasilan metode pembelajaran yang sederhana namun kontekstual. Gambar 4 Materi edukasi tentang dasar dan perencanaan keuangan pribadi Gambar 5 Materi tentang Investasi Dasar Pendekatan partisipatif memungkinkan peserta terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Diskusi interaktif dan refleksi kelompok memberi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan pemahaman, kebingungan, maupun pengalaman Hal ini sejalan dengan temuan dari (Affandi, 2. , yang menyatakan bahwa Aupartisipasi aktif masyarakat dalam diskusi dan sesi tanya jawab mencerminkan antusiasme mereka untuk belajar dan mengimplementasikan ilmu yang diperolehAy dalam pengabdian literasi keuangan di Desa Lidung Kemenci. Selain itu, pelatihan Financial Life Skills untuk pengajar dan peserta dewasa di Bandung pemahaman dan keterlibatan secara signifikan (Hadita et al. , 2. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil menunjukkan bahwa pendekatan edukasi keuangan yang bersifat partisipatif dan aplikatif dapat secara signifikan Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Maulid et al. meningkatkan literasi keuangan di kalangan remaja pedesaan. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi selama kegiatan berlangsung, ditemukan bahwa peserta mengalami peningkatan yang nyata dalam empat aspek utama, yaitu: kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, pemahaman pentingnya menabung, kesadaran terhadap risiko dan manfaat investasi, serta pengenalan terhadap instrumen keuangan dasar. Korelasi antara tujuan kegiatan dan hasil yang dicapai mengindikasikan bahwa metode interaktif seperti diskusi, simulasi anggaran, dan permainan edukatif efektif diterapkan pada remaja dengan latar belakang pendidikan rendah. Selain memberikan pemahaman konseptual, pendekatan aplikatif ini berhasil menanamkan praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang berpotensi membentuk kebiasaan finansial yang sehat dan berkelanjutan. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat ditingkatkan secara efektif di wilayah dengan keterbatasan akses informasi dan pendidikan, asalkan pendekatan yang digunakan kontekstual, komunikatif, dan memberdayakan. Kontribusi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan model edukasi keuangan yang tidak hanya berbasis teori, namun mampu menjangkau komunitas marginal secara inklusif. Sebagai saran, kegiatan serupa dapat diperluas cakupannya dan dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan lokal. BUMDes, dan lembaga keuangan mikro. Penelitian lanjutan juga disarankan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari edukasi ini terhadap perilaku keuangan peserta. Referensi