JURNAL PUBLIKASI PENGABDIAN MASYARAKAT Inovasi dan Pemberdayaan This is an open access article under the CC-BY license Edukasi Pentingnya Label Informasi Nilai Gizi Pada Makanan dan Minuman Kemasan Alifia Nur Rabiahni1. Devi Safitri Effendy2. Fitriyani Iqbal3. Claudia Fena Nur4. Nur Ita5 Universitas Halu Oleo *Corresponding author E-mail: alifianurrabiahni2@gmai. com (Alifia Nur Rabiahn. * Abstrak: Permasalahan gizi yang akhir-akhir ini mengemuka adalah tingginya konsumsi makanan dan minuman kemasan yang berkontribusi terhadap timbulnya penyakit seperti diabetes, obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya. Kesadaran mengenai pentingnya membaca label informasi gizi masih rendah, khususnya di kalangan mahasiswa. Program edukasi yang difokuskan pada pembacaan label informasi gizi pada makanan dan minuman kemasan bertujuan untuk mengurangi konsumsi produk tersebut sekaligus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa tentang label gizi. Program ini dilaksanakan di lingkungan Universitas Halu Oleo dengan sasaran mahasiswa dari berbagai fakultas. Pendekatan Health Belief Model (HBM) digunakan, dan data dikumpulkan melalui kuesioner online yang didistribusikan melalui Google Formulir. Media yang digunakan untuk program ini antara lain poster dan leaflet yang dibagikan melalui Instagram. Platform ini dipilih karena popularitas dan aksesibilitasnya yang luas, sehingga informasinya mudah dijangkau oleh banyak mahasiswa. Kata kunci: Program Promosi. Label Informasi Nilai Gizi. HBM. Makanan dan Minuman Kemasan. Gizi Pendahuluan Permasalahan gizi di sekolah yang sering terjadi adalah kebiasaan konsumsi jajanan kemasan. Menurut survei yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) makanan jajanan menyumbang 31,1% energi dan 27,4% protein, karena sebagian besar anak-anak menghabiskan waktu siang mereka di sekolah. Studi menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi jajanan kemasan berkorelasi positif dengan penimbunan lemak tubuh. Selain itu, konsumsi jajanan kemasan meningkatkan risiko siswa mengalami obesitas sentral dan peningkatan resiko overweight (Fauziyah et al. , 2. Penjualan minuman kemasan yang meningkat mengakibatkan perlunya masyarakat untuk memahami anjuran pembatasan konsumsi seperti gula, garam, dan lemak dengan cara mampu membaca label kemasan pada produk makanan dan minuman kemasa. Hal ini telah tercantum pada salah satu dari sepuluh pesan pedoman gizi seimbang, yaitu AuBiasakan membaca label pangan pada kemasanAy. Tujuan utama pelabelan gizi adalah membantu konsumen dalam mengetahui Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Vol. 1 No. Copyright A 2025. Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita 2 Ae Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan kelebihan asupan zat gizi yang dapat mengakibatkan masalah gizi dan menentukan pilihan bahan makanan yang akan dikonsumsi sehingga aman bagi Setiap perusahaan makanan kemasan memiliki kewajiban untuk mencantumkan label pangan pada kemasan berupa kandungan kalori, lemak, protein, gula, dan natrium (Dewi, 2. Obesitas adalah salah satu penyakit paling berbahaya yang disebabkan oleh makanan cepat saji. Obesitas juga dapat menyebabkan berbagai penyakit lain seperti diabetes, asma, stroke, dan radang pada tulang dan persendian. Menurut data dari World Health Organization (WHO) . , lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di atas 18 tahun memiliki kelebihan berat badan, 600 juta di antaranya menderita obesitas. Ini berarti sekitar 13% dari populasi dewasa . % laki-laki dan 15% perempua. mengalami obesitas (WHO,2. Disisi lain, prevalensi obesitas di Indonesia pada usia 19 hingga 24 tahun sebesar 8,9% dan 12,1%. Pada tahun 2013, prevalensi gizi lebih dan obesitas sebesar 13,3% dan 15,4%, dan pada tahun 2018, naik menjadi 13,6% dan 21,8% (Kemenkes RI, 2013. Studi yang dilakukan di berbagai universitas menunjukkan tingkat prevalensi obesitas yang Sebuah kegiatan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia menemukan bahwa jumlah siswa yang obesitas sekitar 30%. Selanjutnya, kegiatan di Universitas Sam Ratulangi menemukan bahwa tingkat prevalensi obesitas pada tingkat 1 adalah 0,3%, dan tingkat 2 adalah 3,9% (Shane, 2. Label informasi nilai gizi adalah label kemasan yang menunjukkan kandungan gizi makanan dan informasi tambahan seperti takaran saji, jumlah takaran saji, dan angka persen kecukupan gizi. Konsumen mungkin mempertimbangkan label produk sebelum membeli. Jika seseorang memiliki kondisi medis tertentu atau sedang membatasi konsumsi kalori, keterangan pada label akan sangat membantu. Tidak mengherankan bahwa banyak orang kesulitan membacanya mengingat banyaknya informasi yang tertera pada label ini (Novianti Tysmala Dewi, 2. Sayangnya Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)menyebutkan bahwa hanya 7,9% konsumen yang memperhatikan dan membaca label ING (Informasi Nilai Giz. Tidak adanya pemahaman mengenai label informasi nilai gizi dapat berdampak pada pola konsumsi, yang dapat menyebabkan kegemukan dan obesitas (BKKN,2. Edukasi merupakan salah satu metode efektif yang dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran serta perubahan perilaku untuk mencapai kesehatan dan gizi optimal. (Rizkiyanti, 2. Edukasi membaca label informasi nilai gizi pada makanan dan minuman kemasan khususnya dikalangan mahasiswa adalah program promotif untuk meningkatkan perilaku membaca label nilai gizi pada makanan dan minuman kemasan, dilakukan dengan penyuluhan dan demonstrasi public yang difokuskan di wilayah Universitas Halu Oleo. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan gizi dan kemampuan membaca label informasi gizi Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Vol. 1 No. Copyright A 2025. Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita intervensi berupa edukasi label informasi nilai Metode Pelaksanaan program edukasi membaca label infoermasi gizi pada makanan dan minuman kemasan ini dipusatkan di wilayah Universitas Halu Oleo. Metode yang digunakan pada program kali ini yaitu dengan pendekatan HBM (Health Belief Mode. Teori HBM menyatakan bahwa proses kognitif dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. Menurut teori HBM ini, kemungkinan seorang individu melakukan tindakan pencegahan bergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan, yaitu ancaman sakit atau luka . erceived threat of injury or illnes. dan pertimbangan keuntungan dan kerugian . enefits and cos. Target program ini adalah sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di wilayah Universitas Halu Oleo. Responden berjumlah 22 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Teknik. Data analisis situasi diperoleh dari kuisioner yang disebarkan secara online melalui googleform Didalam kuisioner tersebut berisi beberapa pertanyaan terkait dengan intensitas mahasiswa terhadap konsumsi makanan dan minuman kemasan serta tingkat pengetahuan mahasiswa dalam memahami label ING . nformasi nilai Media yang digunakan pada program ini berupa selebaran leaflet yang didalamnya berisi informasi mengenai label nilai gizi, informasi apa saja yang tercantum dalam label gizi, cara membaca label informasi nilai gizi, dan disajikan pula informasi mengenai bahaya konsumsi makanan dan minuman kemasan berlebih beserta prevelensi kasus kesehatan akibat komsumsi makanan dan minuman kemasan yang berlebih. Program ini dimulai dengan menganalisis situasi dilapangan dengan pengumpulan data dan perancangan kuisioner menggunakan teori HBM (Health Belief Mode. mengenai persepsi mahasiswa terhadap label informasi nilai gizi (ING) pada makanan dan minuman kemasan, kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kuisioner dihasilkan program edukasi pentingnya label nilai gizi dikalangan mahasiswa dengan penggunaan media sosial instagram sebagai alat penyebaran pesan. Pada tahap kedua, program disebarkan kepada mahasiswa Universitas Halu Oleo. Tahap ketiga adalah adopsi, di mana tujuan dari program ditetapkan dan sasaran program berkomitmen untuk mengikutinya. Tahap ke empat adalah tahap implementasi program dimana dilaksanakan edukasi berupa diskusi ringan dan demonstrasi membaca label informasi nilai gizi, dan terakhir adalah tahap dimana peserta program bersedia dalam menerapkan perilaku baca label gizi Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Vol. 1 No. Copyright A 2025. Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita 4 Ae Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan dan menyebarkan informasi kepada teman-teman dan khalayak umum. Kerangka konsep program dapat dilihat pada bagan berikut ini. Tahap 1: Pengembangan Inovasi Program Edukasi Membaca Label Informasi Nilai Gizi (Pengumpulan data, perancangan kuisioner, dan penyebaran kuisioner. Media social untuk diseminasi pesa. Tahap 2. Diseminasi Program. Target: Mahasiswa Universitas Halu Oleo Tahap 3. Adopsi (Target utama adalah mahasiswa yang menerima program dan bersedia berkomitmen untuk mengikuti progra. Tahap 4. Tahap 4. Implementasi Pelaksanaan Program Edukasi Membaca Label ING (Penyebaran poster dan leaflet, edukasi berupa diskusi ringan dan demonstrasi membaca label informasi nilai gizi Tahap 5. Tahap dimana peserta program bersedia dalam menerapkan perilaku baca label gizi dan menyebarkan informasi kepada teman-teman dan khalayak umum. Gambar 1. Kerangka konsep Program Edukasi Pentingnya Label Informasi Nilai Gizi Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Vol. 1 No. Copyright A 2025. Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita Hasil Jumlah responden dalam kegiatan ini adalah 22 responden yaitu mahasiswa Universitas Halu Oleo. Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan dengan penyebaran kuisioner dari para didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel. 1 Prevelensi Konsumsi Makanan dan Minuman Kemasan pada Mahasiswa Selama Seminggu Variabel Frekuensi (%) Setiap hari 2-3 kali seminggu Seminggu Sekali Tidak pernah Berdasarkan hasil yang diperoleh dari 22 responden, sebanyak 69,6% mahasiswa/i mengonsumsi makanan dan minuman kemasan 2-3 kali dalam seminggu dan 26,1% lainnya mengonsumsinya setiap hari. Berdasarkan hasil ini menandakan bahwa tingkat konsumsi makanan dan minuman kemasan pada mahasiswa Universitas Halu Oleo cukup tinggi. Tabel. 2 Prevelensi Kebiasan Membaca Label (ING) Informasi Nilai Gizi pada Makanan dan Minuman Kemasan terhadap Mahasiswa Variabel Frekuensi (%) Sangat sering Sering Jarang Tidak pernah Hasil lainnya menunjukkan sebanyak 56,5% mahasiswa jarang untuk membaca label informasi nilai gizi terlebih dahulu, sebanyak 8,7% menyatakan tidak pernah dan 34,8% menyatakan sering membaca. Hal ini menunjukkan bahwa literasi mahasiswa terhadap label informasi gizi masih sangat minim, penyebabnya bisa saja dari faktor rasa malas ataupun kurangnya pengetahuan dan pemahaman akan hal tersebut. Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Vol. 1 No. Copyright A 2025. Alifia Nur Rabiahni. Devi Safitri Effendy. Fitriyani Iqbal. Claudia Fena Nur. Nur Ita 6 Ae Jurnal Publikasi Pengabdian Masyarakat: Inovasi dan Pemberdayaan Diskusi