Penerapan Model Example-Nonexample Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran Menulis Teks Persuasif Siswa Kelas Vi D SMP Negeri 5 Kota Jambi Muhammad Fiqhi Fahrezy1. Herman Budiyono2. Eddy Pahar Harahap3 Universitas Jambi *Corresponding author Email: mhmdfiqhifhrzy17@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendesripsikan peningkatan kualitas proses pembelajaran kelas Vi D sesi ganjil dalam materi menulis teks persuasif ketika diterapkannya model examplenonexample. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahapan penelitian dalam PTK terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan Adapun teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data kualitatif untuk menganalisis data berupa proses Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran pada siklus-1 berada pada kategori cukup baik (CB), skor kualitas proses pembelajaran: 3,49. dan kualitas proses pembelajaran pada siklus-2 berkategori baik (B), dengan skor kualitas proses pembelajaran: 4,49. Simpulannya, penerapan model examplenonexample dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis teks persuasif. Kata kunci: kualitas, model example-non example, persuasif Abstract The purpose of this study is to discover and describe how the examplenonexample model improves the quality of the odd-session Vi D learning process in creating persuasive language. The research method employed in this study was Classroom Action Research (CAR). Planning, activity, observation, and reflection are the steps of research in CAR. In this study, observation and documentation strategies were used to obtain data. The data analysis approach used to examine data in the form of a learning process is qualitative data analysis techniques. The results revealed that the learning process quality in cycle-1 was in the reasonably good category, with a learning process quality score of while the learning process quality in cycle-2 was classed as good, with a learning process quality score of 4. Finally, using the example-nonexample approach in the composition of persuasive writings can increase the quality of the learning process. Keywords: quality, example-non example model, persuasive Pendahuluan Bahasa Indonesia selain menjadi bahasa persatuan juga menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang harus ditempuh oleh peserta didik di seluruh Indonesia. Pada pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menekankan pada keterampilan berbahasa yang terdiri atas empat keterampilan yaitu menyimak, menulis, membaca, dan berbicara. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang selalu menjadi perhatian dan harus dikuasai oleh siswa yaitu keterampilan menulis. Menulis merupakan keterampilan seseorang dalam menuangkan pikiran, ide, ataupun tanggapan ke dalam sebuah tulisan. Keterampilan menulis menjadi suatu keterampilan yang yang dianggap sulit karena kompleksitasnya yang tinggi, jika dibanding dengan keterampilan berbahasa yang lainnya. Dalman . mengatakan bahwa keterampilan menulis adalah kegiatan yang kompleks, karena dalam prosesnya penulis dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisan dan menuliskannya ke dalam ragam bahasa tulis. Menulis juga menjadi wadah atau media dalam melakukan komunikasi secara tidak langsung, karena dengan isi tulisan tersebut dapat membentuk sebuah komunikasi antara penulis dan pembaca. Keterampilan menulis yang termaktub ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia menjadi salah satu bentuk unjuk kerja siswa dalam melaksanakan kegiatan menulis yang berbasis teks. Salah satu jenis teks yang dipelajari yaitu menulis teks persuasif yang diharapkan dapat diproduksi oleh siswa adalah Teks mempengaruhi, atau mengajak pembaca agar melakukan apa yang diinginkan oleh penulis terhadap suatu topik yang dibahas. Pembelajaran menulis teks persuasi merupakan kompetensi berbahasa yang terdapat dalam kurikulum 2013 (K. SMP di kelas Vi pada semester genap. Pembelajaran menulis teks persuasif termasuk pada kompetensi dasar 4. 12 menyajikan teks persuasif . aran, ajakan, arahan, dan pertimbanga. secara tertulis dan lisan dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, dan aspek lisan. Berdasarkan hasil wawancara bersama guru bahasa Indonesia yaitu bapak Lagister Simbolon. Pd. , pembelajaran menulis teks persuasif yang dilakukan kepada peserta didik pada umumnya masih menggunakan metode konvensional seperti ceramah. Metode tersebut menekankan kepada peserta didik untuk memusatkan fokus kepada guru yang sedang menjelaskan materi. Lalu, siswa dalam proses belajar mengajar masih tidak kondusif, berbicara dengan teman lainnya, tidak memperhatikan guru, tertawa-tawa dengan suara yang keras, dan tidak memunculkan minat belajar sehingga berpengaruh pada pemahaman materi yang didapat siswa sehingga siswa sulit mengembangkan idenya ke dalam sebuah tulisan dan biasanya hanya sekedar melihat di internet dan bukan murni hasil tulisannya. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat direalisasikan dengan strategi pembelajaran yang tepat. Penerapan model pembelajaran dapat menjadi suatu strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pada proses Model example-nonexample adalah salah satu dari berbagai Example-nonexample pembelajaran yang menggunakan contoh-contoh seperti gambar untuk menjelaskan sebuah konsep. Huda . menjelaskan bahwa model example non-example merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran. Model tersebut menjadikan gambar sebagai media pembelajarannya. Media gambar dapat menjadi salah satu cara untuk menimbulkan dan meningkatkan kemampuan critical thinking atau berpikir kritis. Selain itu, dengan digunakannya gambar dapat membuat siswa menjadi lebih sistematis dan logis dalam berpikir. Berkembangnya imajinasi siswa dalam belajar juga menjadi kelebihan dari media gambar dalam proses pembelajaran. Pemahaman konsep menulis teks persuasif yang didapat siswa secara maksimal melalui model example-nonexample akan berdampak baik pada kemampuan siswa dalam menulis teks persuasif. Berdasarkan latar belakang di atas, agar proses belajar mengajar mencapai tujuan yang telah ditetapkan, serta mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran, maka dalam pembelajaran perlu menggunakan model pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian mengenai peningkatan kuaitas proses pembelajaran melalui model examplenonexample dalam pembelajaran menulis teks persuasif. Metode Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 5 Kota Jambi, alamat Jl. Prof. DR. Moh. Yamin. Payo Lebar. Kec. Jambi Luar Kota. Kota Jambi. Jambi 36135. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 17 Januari sampai dengan 11 Februari Subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu siswa kelas Vi D sesi ganjil SMP Negeri 5 Kota Jambi yang berjumlah 18 siswa. Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan penelitian yang mengkaji tentang suatu permasalahan yang ditemukan didalam kelas dan menerapkan suatu tindakan sebagai pemecahan masalah tersebut. Menurut Sanjaya . PTK merupakan suatu penelitian pengkajian pemecahan masalah dalam proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas melalui refleksi dengan berbagai tindakan yang direncanakan serta melihat pengaruh dari tindakan tersebut Jadi. Penelitian Tindakan Kelas adalah jenis penelitian yang berbentuk tindakan sebagai refleksi pendidik di dalam kelas yang bertujuan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam PTK terdapat empat tahap dalam pelaksanaannya yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hal ini senada dengan mode PTK yang dikenalkan oleh Lewin, 1946 (Tanujaya dan Mumu 2016:. yang menjelaskan bahwa penelitian tindakan merupakan sebuah spiral yang mencakup penemuan fakta, perencanaan, penerapan tindakan, pengamatan, evaluasi, dan perbaikan rencana dalam melaksanakan siklus selanjutnya. Data dalam penelitian ini didapat menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang Sedangkan dokumentasi yaitu gambaran atau visualisasi kegiatan ataupun peristiwa yang terjadi dalam bentuk gambar, video. RPP, dan lain-lainnya. Dalam penelitian ini, dilakukan pengamatan untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran dari tahapan proses pembelajaran dan aktivitas Hasil dan Pembahasan Siklus-1 Kualitas proses pembelajaran pada siklus satu diperoleh dari hasil pengamatan terhadap tahapan proses pembelajaran . ktivitas mengaja. dan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model examplenonexample. Pada aktivitas mengajar, kegiatan pendahuluan mendapatkan total skor: 4. pada kegiatan inti mendapatkan total skor: 4. dan pada kegiatan penutup mendapatkan total skor: 3,5. Masing-masing skor tersebut menjadi informasi mengenai kualitas tahapan pembelajaran menulis teks persuasif pada Total dari skor masing-masing tahapan pembelajaran yaitu sebesar: 11,5. dan jumlah komponen penilaian yaitu: 3. Maka dengan itu, diperolehlah rata-rata tahapan proses pembelajaran siklus satu yaitu 3,83. Sedangkan hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran pada siklus satu diketahui bahwa total skor pada semua siswa kelas Vi D sesi ganjil sebesar 56,8 dari 18 Sehingga didapatilah rata-rata dari aktivitas siswa pada tahapan proses pembelajaran siklus satu yaitu 3,15. Dengan demikian, didapatlah hasil berupa skor pada kualitas proses pembelajaran siklus 1 yang terdiri dari tahapan proses pembelajaran . ktivitas mengaja. dan aktivitas siswa. Dapat diketahui bahwa rata-rata tahapan proses pembelajaran yaitu 3,83 dan rata-rata aktivitas siswa pada tahapan proses pembelajaran yaitu 3,15. Sehingga dengan rata-rata tersebut diketahuilah nilai rata-rata kualitas proses pembelajaran yaitu 3,49. Maka itu, kualitas proses pembelajaran menulis teks persuasif pada siklus 1 jika ditinjau dari tingkatan kualitas proses dan aktivitas pembelajaran berada pada kategori Cukup Baik (CB). Kualitas proses pembelajaran siklus satu jika dilihat dari kondisi awal mengalami peningkatan yang signifikan tetapi belum mencapai indikator keberhasilan penelitian. Maka itu, perlu dilakukannya siklus dua berupa perbaikan tindakan dalam menerapkan model example-nonexample dari siklus satu untuk dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada materi menulis teks persuasif di kelas Vi D. Siklus-2 Setelah mengetahui permasalahan-permasalahan yang ditemukan dalam siklus satu, maka dilakukanlah perubahan dan perbaikan tindakan dalam menerapkan model example non example pada siklus dua. Berdasarkan hasil pengamatan observer terhadap tahapan proses pembelajaran diketahui bahwa tiga tahapan dalam proses pembelajaran mendapat skor yang berbeda dan mengalami penigkatan dibanding siklus satu. Pada kegiatan pendahuluan mendapatkan total skor: 5. pada kegiatan inti mendapatkan total skor: 5. pada kegiatan penutup mendapatkan total skor: 4,5. Total dari skor masingmasing tahapan pembelajaran yaitu sebesar: 14,5. dan jumlah komponen penilaian yaitu: 3. Maka dengan itu, diperolehlah rata-rata tahapan proses pembelajaran siklus dua yaitu 4,83. Setelah mengetahui hasil pengamatan tahapan proses pembelajaran siklus dua, selanjutnya informasi mengenai aktivitas siswa dalam tahapan proses pembelajaran siklus dua diketahui bahwa total skor pengamatan aktivitas pada semua siswa kelas Vi D sesi ganjil sebesar 75 dari jumah siswa sebanyak 18 siswa. Sehingga didapatilah rata-rata dari aktivitas siswa pada tahapan proses pembelajaran siklus dua yaitu 4,16. Dengan demikian, diketahuilah hasil berupa nilai rata-rata pada kualitas proses pembelajaran siklus dua yang terdiri dari tahapan proses pembelajaran dan aktivitas siswa. Diketahui bahwa rata-rata kualitas tahapan proses pembelajaran yaitu 4,83 dan rata-rata kualitas aktivitas siswa pada tahapan proses pembelajaran yaitu 4,16. Sehingga dengan rata-rata tersebut diketahuilah kualitas proses pembelajaran yaitu berada pada angka 4,49. Dengan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas proses pembelajaran siklus dua berada pada angka 4,49. Sehingga, kualitas proses pembelajaran menulis teks persuasif pada siklus dua jika ditinjau dari tingkatan kualitas proses dan aktivitas pembelajaran berada pada kategori Baik (B). Kualitas Proses Pembelajaran jika dilihat dari pratindakan dan siklus satu mengalami peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian. Kualitas proses pembelajaran jika dilihat dari siklus satu mengalami peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian karena berada pada kategori Baik. Sehingga dengan peningkatan tersebut dan tercapainya indikator keberhasilan penelitian maka penelitian dapat dihentikan. PEMBAHASAN Siklus-1 Pada penerapan model example-nonexample dalam pembelajaran menulis teks persuasid pada siklus satu dapat membuat siswa antusias dalam melaksanakan pembelajaran ditambah dengan penggunaan gambar yang membuat siswa fokus dalam pembelajaran. Tetapi, kualitas proses pembelajaran berdasarkan pengamatan yang dilakukan berada pada kategori Cukup Baik. Artinya, masih ada permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan model example non example. Permasalahan yang ditemukan yaitu gambar yang diberikan oleh guru membuat siswa kesulitan untuk menganalisis dan siswa masih belum menunjukkan interaksi ketika berdiskusi antar kelompok. Kemudian, masih ada siswa yang tidak mengamati gambar dan tidak berdiskusi dengan teman Selain itu, siswa masih malu untuk maju kedepan membacakan hasil diskusinya sehingga perlu banyak waktu agar siswa mau maju ke depan untuk membacakan hasil diskusinya dan beberapa siswa masih gaduh ketika temannya membacakan hasil diskusi. Setelah itu, ketika guru menyampaikan materi masih ada siswa yang tidak fokus memperhatikan. Siklus-2 Perubahan dan perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus dua memberikan pengaruh pada peningkatan kualitas proses pembelaajaran berada pada kategori Baik. Dengan hal tersebut, diketahuilah peningkatan berupa temuan-temuan yang mengalami perubahan dari permasalahanAepermasalahan yang didapat pada siklus satu. Diperolehlah perubahan seperti pada tahapan proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan semangat sehingga berpengaruh pada antusiasme siswa dalam mengikuti Guru juga memberikan poster ajakan untuk masing-masing siswa sehingga semua siswa mengamati gambar berupa poster ajakan. Poster ajakan yang disiapkan guru berisikan animasi dan penjelasan singkat sehingga membantu siswa dalam menganalisis poster ajakan yang mereka dapat. Digunakannya poster ajakan sebagai perbaikan terhadap aktivitias siswa dan pemahaman siswa dalam memahami materi menulis teks persuasif. Perubahan tersebut berpengaruh pada aktivitas siswa yang semua siswa sudah mengamati gambar berupa poster ajakan. Ketika berdiskusi siswa sudah berani membacakan hasil diskusinya dan mengeluarkan pendapatnya. Siswa juga sudah mulai terbiasa dengan belajar secara berklompok karena sudah memunculkan interkasi satu sama lain. Sehingga, kualitas proses pembelajaran siklus dua berada pada kategori baik. Dengan hal tersebut diketahuilah bahwa model example-nonexample efektif sebagai strategi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dari segi tahapan proses dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks Model example-nonexample dapat menggantikan kegiatan siswa yang sebelumnya hanya mendengar materi dari guru menjadi kegiatan yang melibati siswa dalam secara berkelompok, melaksanakan tugas, dan memahami Sedangkan guru hanya menjadi motivator dan fasilitator dalam proses Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa model example-nonexample dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran kelas Vi D sesi ganjil pada materi teks persuasif. Hal tersebut dibuktikan dengan temuan kualitas proses pembelajaran setelah diterapkannya model example-nonexample pada pembelajaran menulis teks persuasif terjadi peningkatan pada siklus satu yang mendapat nilai 3,49 . ukup bai. dan mengalami peningkatan yang lebih baik pada siklus dua yaitu sebesar 4,49 . Daftar Referensi Akidah. Peningkatan Pembelajaran Menulis Karangan Persuasi Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Contoh. Tamadun: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Budaya. Dalman. Keterampilan menulis. Depok: PT Rajagrafindo Persada. Harefa. Peningkatan Kemampuan Menyimpulkan Teks Persuasi Melalui Model Pembelajaran Example Non Example Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Gunungsitoli Selatan. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Huda. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Muliawan. 45 Model Pembelajaran Spektakuler: Buku Pegangan Teknik Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Raihana. Penggunaan Model Example Non Example pada Materi Memahami Dampak Globalisasi dalam Kehidupan Bermasyarakat. Berbangsa dan Bernegara Di Kelas IX B SMP Nahdlatul Ulama Banjarmasin. Julak: Jurnal Pembelajaran dan Pendidik, 45-58. Sanjaya. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri. Sulaeman. , & A. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Examples Non-Examples Terhadap Hasil Belajar Menulis Teks Berita Pada Siswa Kelas Vi SMPN 14 Kota Tangerang. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia. Daerah, dan Asing, 205-215. Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Tanujaya. , & Mumu. Penelitian Tindakan Kelas. Panduan Belajar. Mengajar, dan Meneliti. Yogyakarta: Media Akademi.