Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental The Differences In The Left Lateral Position Technique And The Use Of A Birthing Ball On The Progress Of Labor: A Quasi-Experimental Study Vivin Riski Polapa1. Dwi Nur Octaviani Katili2. Nour Arriza Dwi Melani3. Jusri Adam4 Prodi Kebidanan,Fakultas Ilmu Kesehatan,Universitas Muhammadiyah Gorontalo, 96181. Indonesia, yuditapolapa@gmail. Prodi Kebidanan,Fakultas Ilmu Kesehatan,Universitas Muhammadiyah Gorontalo, 9618. Indonesia, dwioctavianikatili@umgo. AProdi Kebidanan,Fakultas Ilmu Kesehatan,Universitas Muhammadiyah Gorontalo, 96181. Indonesia, melani@umgo. Prodi Kebidanan,Fakultas Ilmu Kesehatan,Universitas Muhammadiyah Gorontalo, 96181. Indonesia, jusriadam@umgo. Korespondensi Email: dwioctavianikatili@umgo. Article Info Article History Submitted, 2026-01-20 Accepted, 2026-02-29 Published, 2026-03-13 Keywords: Labor Progress. Lateral Position. Birthing Ball Kata Kunci: Kemajuan Persalinan. Posisi Miring Kiri. Birthing Ball Abstract The labor process can be long and difficult, resulting in complications for the mother and baby. Management of prolonged labor through medical interventions, both invasive and non-invasive, is carried out to accelerate the progress of labor. One of the non-invasive therapies is the left lateral position and the use of a birthing ball. The purpose of this study was to determine the difference between the lateral position and the use of a birthing ball on the progress of labor at the Tolinggula Community Health Center (UPTD). The research method used was a quasi-experimental design with posttest only and a control group. The number of samples in this study was 30 respondents divided into two groups with 15 samples in research subjects each. The results obtained showed that the average score for the left lateral position was 1. (SD = 0. , while the average score for the birthing ball 13 (SD = 0. This indicates that most respondents were in the progress category with a significance (Asymp. Sig. 2 taile. Because the P value>0. 05, it can be concluded that there is no significant difference between the use of a birthing ball and the left lateral position in mothers giving birth. future research, it is hoped that furture research can be carried out with a larger and sample size and a longer observation time. Abstrak Proses persalinan bisa berlangsung menjadi lama dan sulit yang mengakibatkan komplikasi pada ibu dan Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Penanganan persalinan lama melalui Intervensi medis baik invasive maupun non invasive dilakukan untuk mempercepat kemajuan persalinan. Salah satu terapi non invasive adalah posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball terhadap kemajuan persalinan di UPTD Puskesmas Tolinggula. Metode penelitian yang digunakan yaitu quasi experiment dengan desain posttest only with control group. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 30 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok dengan masing-masing 15 subyek Hasil yang diperoleh yaitu menunjukkan bahwa rata-rata skor posisi miring kiri adalah 1. 47 (SD = , sedangkan rata-rata skor birthing ball adalah 1. (SD= 0. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori terjadi kemajuan dengan signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. Karena nilai p > 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan birthing ball dengan posisi miring kiri pada ibu bersalin. Pada peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan waktu pengamatan yang lebih lama. Pendahuluan Parsalinan yang lama merupakan penyumbang kematian ibu disebabkan kemajuan persalinan pada kala I fase aktif merupakan saat yang paling melelahkan, berat dan kebanyakan ibu mulai merasakan sakit atau nyeri. Lamanya waktu yang diperlukan pada kala I dan kala II akan menambah bahaya kematian ibu dan janin sehingga perlu menyelesaikan masa sulit tersebut dengan tindakan baik induksi maupun berakhir section caesarea (Oktafiani. Suciawati, and Rukmaini 2. World health organization (WHO) mencatat 69. 000 kasus persalinan lama diseluruh dunia pada tahun 2020. Persalinan lama menyebabkan 2,8% kematian ibu secara global dan menjadi penyebab utama komplikasi persalinan. Sedangkan di Indonesia insiden persalinan yang memanjang rata-rata menyebabkan kematian ibu sebesar 9%. Persalinan yang memanjang juga menjadi penyebab perdarahan postpartum. Pada 80-90% kasus perdarahan posrtpartum segera diakibatkan oleh kejadian atonia uteri yang merupakan implikasi dari waktu persalinan yang memanjang. Data kemeterian Kesehatan RI tahun 2022 menunjukkan angka persalinan lama tertinggi di Asia Tenggara (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2. Persalinan yang lama dapat berdampak terhadap kelelahan dan penurunan fisik ibu Kelelahan juga dapat mengakibatkan beberapa penyulit pada kala I yaitu kontraksi uterus tidak adekuat yang dapat berakibat fase persalinan kala I memanjang, peningkatan distres maternal, dan peningkatan resiko perdarahan postpartum (Suhendi et al. Dampak dari persalinan lama juga dapat dirasakan oleh bayi baru lahir, termasuk risiko fetal distress dan asfiksia. Kelelahan pada ibu bersalin dapat dicegah dengan mempercepat proses persalinan (Ning et al. Pemerintah Indonesia telah merancang program Making Pregnancy Safer (MPS) dan Gerakan sayang ibu (GSI) yang merupakan strategi sektor Kesehatan secara terfokus pada prencanaan dan pendekatan sistematis dan terpadu. Isi dari MPS adalah menetapkan keterlibatan suami dan keluarga dalam kehamilan dan persalinan. Sedangkan Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental salah satu asuhan GSI adalah mencoba beberapa posisi selama persalinan dan kelahiran bayi (Andarwulan and Hakiki 2. Penanganan persalinan lama melalui Intervensi medis baik invasive maupun non invasive dilakukan untuk mempercepat kemajuan persalinan. Namun terapi non invasive lebih diminati karena risiko efek samping lebih rendah. Salah satu terapi non invasive adalah posisi miring kiri yang dapat mempengaruhi posisi janin dan jalan lahir. Selain pemilihan posisi persalinan, ada beberapa metode lainnya seperti teknik relaksasi, teknik bernafas, efflurage, counterpressure, acupressure, akupuntur, kompres panas, dan juga Birthing ball. Menurut Astuti . penggunaan birthing ball sebagai Pereda nyeri nonfarmakologi dan juga dapat mempercepat proses persalinan kala II (Astuti. Aryani, and Susilawati 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Hindriati et al. menjelaskan 75% responden inpartu kala I posisi miring dengan lama persalinan < 6 jam yaitu 211,70 menit . ,52 ja. dibandingkan dengan posisi lainnya. posisi miring kiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia sehingga suplay oksigen tidak terganggu, dapat memberikan suasana rileks pada ibu yang mengalami kelelahan dan mencegah terjadinya laserasi/ robekan jalan lahir. Miki & Pertasari, . dalam penelitiannya menjelaskan tentang penatalaksanaan menggunakan birthing ball mampu mempercepat kemajuan persalian sehingga proses persalinan lebih cepat 2 jam 15 menit pada primigravida. Proses persalinan lebih cepat 2 jam 15 menit pada primigravida. posisi birthing ball yang memiliki manfaat meningkatkan aliran darah ke Rahim, plasenta dan bayi, meredakan tekanan dan meningkatkan ouilet panggul sebanyak 30%, serta dapat memberikan rasa nyaman pada lutut dan pergelangan kaki, memberikan kontra tekanan pada perineum dan paha, kemudian bekerja dengan gravitasi yang mendorong tuunnya bayi sehingga mempercepat proses persalinan, (Pertasari and Miki 2. Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball terhadap kemajuan persalinan di UPTD Puskesmas Tolinggula. Sehingga dapat menjadi landasan pengetahuan dan referensi dibidang ilmu kebidanan khususnya tentang penanganan percepatan kemajuan persalinan dengan aman dan nyaman. Metode Desain penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu . uasi eksperimen. yaitu desain penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan sebab dan akibat, namun tanpa pengacakan . subjek secara penuh ke dalam kelompok perlakuan dan kontrol. Desain ini sering digunakan dalam situasi dunia nyata dimana randomisasi tidak memungkinkan. Desain penelitian yang digunakan adalah two group only post test design. Variabel independent dalam penelitian ini yaitu posisi miring kiri dan birthing ball. Sedangkan variabel dependen adalah variabel terikat yang terpengaruh dalam hubungan antara dua variabel atau dapat disebut dengan variabel yang diperkirakan terjadi kemudian setelah terjadinya variabel bebas. Variabel dependent dalam penelitian ini yaitu Kemajuan Pada intervensi posisi miring kiri, ibu dianjurkan untuk berbaring miring ke kiri . ecumbert posis. selama proses kala I fase aktif berlangsung. Sedangkan pada intervensi penggunaan birthing ball dilakukan dengan cara ibu bersalin duduk di atas bola gym dan melakukan goyangan memutar seperti menggunakan hula hoop. Gerakan ini terdiri dari: . memutar panggul searah jarum jam selama 2-3 menit, . mengarahkan panggul kedepan dan kebelakang selama 2-3 menit, . gerakan mengarahkan panggul ke kiri dan ke kanan selama 2-3 menit, gerakan ini dilakukan setiap 30 menit. Pada variabel kemajuan persalinan dibagi menjadi 2 kategori yakni kategori maju jika pada primigravida kala I berlangsung Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental 12 jam dan kala I fase aktif normalnya berjalan selama 6 jam atau pembukaan serviks terjadi 1 cm setiap jam pada primigravida dan 2 cm setiap jam pada multigravida. Kategori tidak maju jika tidak terdapat pembukaan serviks yang sesuai (Manuaba 2. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin normal dengan umur kehamilan 37- 40 minggu di wilayah kerja puskesmas Tolinggula. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang telah dibuat oleh peneliti, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Jasmin 2. Kriteria inkluasi yaitu . ibu bersalin normal di wilayah kerja puskesmas Tolinggula, . Inpartu dengan usia kehamilan 37-40 minggu, inpartu kala I fase aktif dengan pembukaan dimulai dari 4 cm, . Ibu primigravida maupun multigravida, . Cairan amnion masih utuh, . Kontraksi lebih dari 2x dalam 10 menit dengan durasi >30 detik, . Bersedia menjadi responden Kriteria Eksklusi . Terdapat Riwayat penyakit / komplikasi kehamilan, . Terjadi penyulit persalinan, . Mendapat terapi analgesik dan induksi selama proses Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel penelitian, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji statistik T-Test. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian yang disajikan adalah data kuantitatif, yang terbagi menjadi dua bentuk analisis data yaitu univariat dan bivariat. Karakteristik Responden Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Posisi Miring Kiri Birthing Ball Umur Responden Resiko Tinggi Resiko Rendah Total Paritas Primigravida Multigravida Total Karakteristik Sumber: Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 1 di atas diketahui bahwa distribusi umur responden menunjukkan dari total sampel yang berjumlah 30 orang, diperoleh karakteristik umur responen pada kelompok perlakuan posisi miring kiri mayoritas pada kategori resiko rendah . -35 tahu. berjumlah 12 orang . %), pada kelompok kontrol birthing ball pun sama-sama memiliki jumlah 13 orang . 3%). Selanjutnya pada karakteristik paritas, kelompok perlakuan menunjukkan jumlah terbanyak pada kategori multigravida yakni 10 orang . 3%) dan pada kelompok kontrol birthing ball berjumlah 9 orang . %). Analisis Univariat Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Tabel 2 Distribusi frekuensi kemajuan persalinan pada kelompok posisi miring dan kelompok birthing ball Variabel Kemajuan Persalinan Maju Tidak Maju Total Miring kiri Birthing Ball Sumber: Data Primer 2025 Pada tabel di atas menunjukkan pada posisi miring kiri terjadi kemajuan persalinan 8 orang . ,3%) dan tidak ada kemajuan 7 orang . ,7%). Sedangkan pada pemberian birthing ball, terjadi kemajuan persalinan 13 orang . ,7%) dan yang tidak ada kemajuan 2 orang . 3%). Secara fisiologis Posisi miring kiri memberikan manfaat dalam hal meningkatkan aliran darah uteroplasenta dan mengurangi tekanan vena cava inferior, yang penting dalam menjaga oksigenasi janin (World Health Organization 2. Namun, posisi ini tergolong pasif dan tidak memberikan efek gravitasi sebesar posisi duduk atau jongkok, sehingga tidak seefektif birthing ball dalam mempercepat dilatasi serviks. Menurut teori obstetri modern, posisi tubuh ibu selama persalinan dapat mempengaruhi efektivitas kontraksi uterus, posisi janin, serta gravitasi, yang secara keseluruhan berdampak pada lamanya proses persalinan. Posisi aktif seperti duduk di atas birthing ball membantu memaksimalkan kerja otot-otot panggul, meningkatkan fleksibilitas panggul, serta memfasilitasi penurunan janin ke jalan lahir (Collins et al. Posisi aktif, termasuk penggunaan birthing ball, berperan dalam memfasilitasi penurunan kepala janin, memperkuat kontraksi uterus, serta mempercepat dilatasi serviks (Shen et al. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan birthing ball dapat mempercepat durasi persalinan kala I fase aktif secara signifikan. Studi oleh (Rambe and Ningsih 2. juga mendukung hasil ini, di mana birthing ball terbukti mempercepat proses persalinan dan mengurangi waktu kala I secara bermakna. Rata-rata lama kala I pada kelompok birthing ball dalam studi tersebut adalah 3-4 jam, lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol dengan posisi istirahat pasif seperti miring atau telentang. Penelitian oleh (Sahara. Dahlan, and Suralaga 2. menunjukkan bahwa penggunaan birthing ball secara signifikan menurunkan lama persalinan kala I dibandingkan dengan intervensi non-farmakologis lainnya. Ibu yang menggunakan birthing ball mengalami peningkatan kenyamanan dan mobilitas, sehingga kontraksi uterus menjadi lebih efektif dalam membuka serviks. Kemajuan persalinan jika dikaitkan dengan usia dan lama kala I, maka diperoleh hasil rata-rata lama kala I pada kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun dibandingkan dengan kelompok usia 20Ae35 tahun menunjukkan perbedaan sebesar 31,97 menit. Namun tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia ibu terhadap kemajuan persalinan kala I di Puskesmas Tolinggula. Dalam konteks ini, meskipun kelompok usia 20Ae35 tahun secara fisiologis dianggap sebagai usia reproduktif ideal, perbedaan durasi kala I tidak cukup besar untuk dianggap bermakna, terutama jika dibandingkan dengan pengaruh intervensi posisi Hasil sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan birthing ball lebih berpengaruh signifikan dalam mempercepat kala I dibandingkan faktor usia. Temuan ini selaras dengan sebagian penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa meskipun usia ibu merupakan salah satu faktor risiko dalam kehamilan dan persalinan, usia tidak selalu menjadi determinan utama dalam lamanya persalinan, terutama ketika intervensi seperti posisi bersalin dan Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Penggunaan birthing ball diterapkan secara tepat. Penelitian oleh (Jha et al. menyebutkan bahwa usia ibu memang dapat memengaruhi elastisitas jaringan dan kontraktilitas uterus, namun hal tersebut cenderung tidak signifikan secara statistik terhadap lamanya kala I jika ibu mendapatkan manajemen persalinan aktif dan dukungan non-farmakologis yang baik, seperti mobilisasi dan penggunaan alat bantu seperti birthing Selanjutnya pada karakteristik paritas dan lama kala I ibu bersalin diketahui bahwa rata-rata lama kala I pada kelompok primipara dan multipara memiliki perbedaan sebesar 232,73 menit . ekitar 4 jam 27 meni. dan hasil uji disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan antara paritas dan kemajuan persalinan kala I di Puskesmas Tolinggula. Hal ini sejalan dengan teori obstetri yang menyatakan bahwa ibu multipara cenderung memiliki waktu persalinan yang lebih singkat dibandingkan ibu primipara, karena pada ibu yang pernah melahirkan sebelumnya, serviks dan jalan lahir sudah mengalami proses dilatasi dan ekspulsi sebelumnya. Hal ini memudahkan proses pembukaan serviks dan penurunan janin saat persalinan berikutnya (Manuaba 2. Penelitian oleh (SabAongatun and Wuryandari 2. menunjukkan bahwa ibu primipara memiliki rata-rata lama kala I yang lebih lama dibandingkan dengan multipara, dan perbedaan tersebut signifikan secara statistik. Proses fisiologis pada ibu primipara membutuhkan waktu adaptasi lebih lama, termasuk respon terhadap kontraksi dan kerja otot uterus dalam membuka serviks. Penulis berasumsi Lingkungan dan fasilitas pelayanan persalinan di Puskesmas Tolinggula mendukung kelancaran intervensi, seperti adanya ruang bersalin yang cukup, alat birthing ball yang tersedia, serta pengawasan yang optimal selama proses persalinan. Faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi lamanya kala I . eperti status gizi, kecemasan, kekuatan kontraksi uterus, atau motivasi ib. Analisis Bivariat Tabel 3 Perbedaan tehnik posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball terhadap kemajuan persalinan Kelompok Mean Mean Sig. Difference Tile. Miring kiri 238,20 148,39 43,96 0,398 Birthing 194,28 131,19 Ball Sumber: Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 3. Menunjukkan bahwa rata-rata kemajuan persalinan pada posisi miring kiri adalah 238,20 menit (SD = 148,. sedangkan pada penggunaan birthing ball adalah 194,28 menit (SD= 131,. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori terjadi kemajuan. dengan signifikansi (Asymp. Sig. Karena nilai p > 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan birthing ball dengan posisi miring kiri. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan misalnya posisi miring kiri atau penggunaan birthing ball, meskipun memberikan perbedaan waktu secara numerik, tidak cukup kuat secara statistik untuk memengaruhi kemajuan persalinan secara signifikan di antara kelompok ibu bersalin di Puskesmas Tolinggula. Efektivitas posisi bersalin atau birthing ball sangat tergantung pada durasi penggunaan, kenyamanan ibu, dan kesiapan tenaga kesehatan. Menurut (Shen et al. efektivitas posisi bersalin atau birthing ball sangat tergantung pada durasi penggunaan, kenyamanan ibu, dan kesiapan tenaga kesehatan dalam mendukung posisi tersebut secara aktif selama persalinan. Apabila intervensi tidak dilakukan secara konsisten atau hanya dilakukan sesekali, efeknya mungkin tidak cukup kuat untuk menghasilkan perbedaan yang Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Sementara itu, (World Health Organization 2. juga menegaskan bahwa pendekatan manajemen persalinan yang efektif tidak hanya bertumpu pada posisi bersalin, tetapi juga mencakup dukungan emosional, lingkungan bersalin yang nyaman, dan keterlibatan aktif ibu selama proses. Meskipun demikian, secara klinis perbedaan ini masih menunjukkan bahwa penggunaan birthing ball cenderung mempercepat proses persalinan. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Oktafiani et al. yang menyatakan bahwa birthing ball efektif dalam mempercepat fase aktif kala I pada ibu primigravida secara bermakna . < 0,. Intervensi ini membantu melonggarkan otot panggul, memfasilitasi posisi optimal janin, serta meningkatkan kenyamanan ibu selama persalinan. Namun, hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua intervensi non-farmakologis secara otomatis memberikan dampak signifikan, sebagaimana ditunjukkan dalam studi oleh (Andarwulan and Hakiki 2. , yang menemukan bahwa kombinasi posisi miring kiri dan birthing ball hanya memberikan efek klinis, namun tidak signifikan secara statistik terhadap lama kala I . > 0,. Namun, hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua intervensi non-farmakologis secara otomatis memberikan dampak signifikan, sebagaimana ditunjukkan dalam studi oleh (Suhendi et al. , yang menemukan bahwa kombinasi posisi miring kiri dan birthing ball hanya memberikan efek klinis, namun tidak signifikan secara statistik terhadap lama kala I . > 0,. Dari aspek karakteristik ibu, didapatkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara usia dengan lama kala I (A = 0,. Ini sesuai dengan penelitian oleh (SabAongatun and Wuryandari 2. yang menemukan bahwa usia bukanlah faktor penentu utama lamanya proses persalinan, selama ibu dalam kondisi fisik dan psikologis yang baik serta mendapatkan intervensi yang sesuai. Berbeda halnya dengan variabel paritas, di mana ditemukan perbedaan signifikan antara primipara dan multipara terhadap lama kala I, dengan nilai A = 0,001. Rata-rata perbedaan waktu sebesar 232,73 menit . ekitar 4 jam 27 meni. menunjukkan bahwa paritas merupakan faktor yang sangat memengaruhi kemajuan persalinan. Hasil ini diperkuat oleh penelitian (Raidanti and Mujianti 2. yang menyatakan bahwa ibu multipara mengalami kala I lebih cepat dibandingkan dengan primipara akibat proses adaptasi fisiologis tubuh yang lebih baik. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun intervensi seperti birthing ball dan posisi miring kiri memberikan manfaat klinis, faktor lain seperti paritas memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap kemajuan persalinan kala I. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dalam pelayanan kebidanan, di mana intervensi nonfarmakologis perlu disesuaikan dengan kondisi individual ibu, termasuk riwayat obstetri dan kesiapan fisik. Peneliti berasumsi teknik yang digunakan selama fase aktif kala I mungkin dapat disebabkan beberapa faktor yakni variasi individu dalam merespon intervensi nonfarmakologis, durasi penggunaan intervensi yang mungkin belum optimal atau tidak seragam antar ibu, serta faktor lingkungan meliputi dukungan keluarga, kelelahan dan tingkat kecemasan yang tidak dikendalikan dalam penelitian ini namun mempengaruhi hasil penelitian. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara teknik posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball pada ibu bersalin di UPTD Puskesmas Tolinggula dilihat pada nilai uji statistika A = 0. 059 karena nilai p > 0. Pada peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan waktu pengamatan yang lebih lama, agar hasilnya lebih representatif dan dapat digeneralisasikan. Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental Ucapan Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UPTD Puskesmas Tolinggula atas segala fasilitas dan dukungan yang diberikan. Penghargaan setinggitingginya juga kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyelesaian penelitian. Daftar Pustaka