592 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Mencegah Perundungan melalui Program Edukasi dan Sosialisasi di Pondok Pesantren Al Kahf Vivi Sylvia Purborini1. Tikka Dessy Harsanti2 . Sinda Eria Ayuni3 Fakultas Hukum. Universitas Wisnuwardhana. Indonesia E-mail: velioraps1@gmail. com1, bintangaurel6@gmail. com2 ,eriasinda@wisnuwardhana. 1,2,3 Article History: Received: 01 Februari 2025 Revised: 04 April 2025 Accepted: 07 April 2025 Keywords: Preventing Bullying. Education. Outreach programs. Students and Teachers Abstract: Al Kahf Islamic Boarding School has a strong commitment to eradicating bullying in the Islamic boarding school environment. With these efforts. Al Kahf Islamic boarding school continues to strive to create a safe and comfortable environment for its students. Socialization methods are an important key in preventing bullying in Islamic boarding schools. The education and training approach is an effective method for increasing awareness of the negative impacts of bullying and establishing good ethics among students. Through this approach, teachers and educational staff can provide a deep understanding of the importance of good interpersonal relationships, foster empathy, and provide knowledge and skills to resolve conflict Through an education and training approach. Islamic boarding schools can create a safe and supportive environment for students. The importance of socialization in preventing bullying has also been proven effective in forming awareness and ethics for students. However, the active role of caregivers, teachers and Islamic boarding school staff in implementing this socialization method is very important. PENDAHULUAN Perundungan dalam konteks pesantren merupakan isu yang perlu mendapat perhatian serius, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan pendidikan yang diajarkan di pesantren. Pesantren Al Kahf memiliki komitmen kuat untuk memberantas perundungan di lingkungan Dengan adanya upaya-upaya tersebut, pesantren Al Kahf terus berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para santri. Hal ini sejalan dengan tujuan pesantren sebagai tempat pembentukan akhlak para santri. Metode sosialisasi merupakan kunci penting dalam mencegah perundungan di pondok pesantren. Dengan adanya metode sosialisasi yang efektif, diharapkan para santri dapat memahami pentingnya menjaga sikap dan perilaku yang sopan terhadap sesama. Pentingnya penelitian ini tidak dapat diabaikan karena perundungan dapat menyebabkan dampak psikologis yang serius bagi korban perundungan. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan perundungan perlu dilakukan sejak dini melalui metode sosialisasi yang Latar belakang penelitian ini bermula dari tingginya kasus perundungan di pondok pesantren yang menyulitkan para pengasuh dan pengurus pondok pesantren dalam mengatasi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 masalah tersebut. Dengan adanya latar belakang penelitian yang kuat, peneliti berharap untuk memberikan kontribusi nyata dalam mencegah perundungan di lingkungan pondok pesantren melalui metode sosialisasi yang dijelaskan dalam penelitian ini. Dengan pemahaman akan latar belakang penelitian yang kuat, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang perundungan di pondok pesantren dan upaya pencegahannya dengan metode Pentingnya edukasi tentang perundungan sangatlah besar, terutama di lingkungan Dengan adanya edukasi yang tepat, para santri akan teredukasi tentang bahaya perundungan, serta cara untuk mencegah dan mengatasi perundungan. Edukasi tentang perundungan juga dapat membantu meningkatkan kesadaran diri para santri, serta membangun sikap empati dan toleransi. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua santri, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan Perundungan dapat memiliki dampak negatif yang serius bagi para korban. Dampak negatif tersebut antara lain meliputi gangguan psikologis, seperti stres, depresi, dan bahkan Selain itu, perundungan juga dapat berdampak pada prestasi akademik korban, karena korban mungkin mengalami kesulitan dalam belajar akibat perundungan yang dialaminya. Tidak hanya itu, perundungan juga dapat memengaruhi hubungan sosial korban, membuat korban sulit untuk percaya pada orang lain dan sulit untuk bergaul. Oleh karena itu, penting sekali bagi pesantren untuk memberikan edukasi tentang dampak negatif perundungan dan bagaimana cara mencegah serta mengatasi perundungan. Pentingnya sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren tidak bisa dipandang remeh, mengingat kasus-kasus bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan semakin meningkat. Oleh karena itu, penulisan ini mencoba untuk mendalami mengenai bagaimana pentingnya sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren sebagai wadah pendidikan alternatif. Melalui pemahaman yang mendalam, diharapkan beberapa langkah pencegahan dan penanggulangan bisa dilakukan dengan lebih efektif. (Akbar et al. (Maelani et al. penulisan ini bertujuan untuk membahas secara komprehensif mengenai pentingnya sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren. (Fadli et al. METODE Terdapat beberapa metode sosialisasi yang efektif dalam mencegah perundungan di pondok pesantren. Pendekatan pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan kesadaran akan dampak negatif dari perundungan serta membentuk etika yang baik di kalangan santri. Melalui pendekatan ini, pengajar dan tenaga pendidik dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya hubungan antar individu yang baik, menumbuhkan empati, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi konflik secara positif. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan bagi para santri untuk berpartisipasi dalam peran aktif dalam menyuarakan isu-isu terkait perundungan dan menyumbangkan solusi yang efektif. (Arosy et al. Pendekatan pendidikan dan pelatihan merupakan strategi yang efektif dalam menyosialisasikan nilai-nilai anti-perundungan di pondok pesantren. Melalui pendekatan ini, kegiatan seperti lokakarya, seminar, serta pelatihan interaktif dapat diselenggarakan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak negatif perundungan dan bagaimana mengatasinya. Selain itu, pendekatan ini juga memberikan kesempatan bagi para pendidik untuk memberikan contoh nyata dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara positif, sehingga para santri dapat meniru pola perilaku yang diharapkan. Dengan demikian, pendekatan pendidikan dan pelatihan mampu merangsang perkembangan mindset dan keterampilan sosial yang dapat membuat lingkungan pondok pesantren menjadi lebih aman dan nyaman bagi semua santri. (Widyaningtyas and Mustofa2. Langkah-langkah a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 metode sosialisasi tentang bullying dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui edukasi dan penyuluhan. Edukasi dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada siswa, guru, dan orangtua tentang apa itu bullying, bagaimana cara mengidentifikasi tindakan bullying, serta dampak negatif yang ditimbulkannya. Sedangkan penyuluhan dilakukan dengan memberikan pengetahuan tentang cara mencegah dan menangani kasus bullying, serta bagaimana melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Melalui pendekatan edukasi dan penyuluhan, diharapkan masyarakat sekolah maupun orangtua dapat lebih peka dan proaktif dalam mencegah serta menangani kasus bullying di lingkungan sekolah. (Junalia and Malkis2. angkahlangkah dalam melakukan sosialisasi tentang bullying meliputi penyusunan materi sosialisasi yang mencakup informasi tentang jenis-jenis bullying, dampaknya, serta cara mencegahnya. Selain itu, langkah-langkah ini juga mencakup pemilihan metode yang tepat untuk menyampaikan informasi kepada target audiens, seperti penggunaan media sosial, seminar, lokakarya, atau diskusi kelompok. Penting pula untuk membuat jadwal pelaksanaan sosialisasi agar dapat mencakup berbagai kalangan dan tempat yang representatif. Tahapan evaluasi juga diperlukan untuk menilai efektivitas sosialisasi yang telah dilakukan. (Munajah et al. Evaluasi efektivitas metode sosialisasi merupakan langkah penting dalam memastikan keberhasilan program pencegahan perundungan di pondok pesantren. Evaluasi ini dilakukan untuk menilai sejauh mana metode sosialisasi dapat mengubah perilaku peserta didik dan meminimalisir kasus perundungan. Dalam evaluasi ini, akan dilakukan pengumpulan data terkait tingkat partisipasi peserta, perubahan sikap dan perilaku, serta efektivitas berbagai kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan. Dengan demikian, dapat diidentifikasi kelemahan dan kekuatan dari metode sosialisasi yang telah diterapkan serta memberikan masukan untuk perbaikan di masa (Vatin et al. Untuk mengevaluasi efektivitas metode sosialisasi, digunakan beberapa indikator yang relevan seperti tingkat kepatuhan peserta terhadap norma-norma anti-perundungan, perubahan sikap menjadi lebih inklusif dan empatik, serta penurunan jumlah kasus perundungan. Metode evaluasi yang dapat diterapkan antara lain adalah kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap, observasi terhadap interaksi sosial di lingkungan pondok pesantren, serta analisis data kasus perundungan yang terjadi sebelum dan sesudah penerapan metode sosialisasi. Dengan demikian, akan didapatkan informasi yang akurat mengenai dampak sosialisasi dalam mencegah perundungan di pondok pesantren. (Hamdi et al. HASIL DAN PEMBAHASAN (Times New Roman, size . Pondok pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter santri. Melalui pendekatan agama dan pendidikan formal, pondok pesantren bertanggung jawab dalam membentuk pribadi santri agar memiliki kepribadian yang kuat, penuh rasa empati, serta dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan (Romadhoni et al. Peran pondok pesantren dalam pembentukan karakter sangat penting, karena di sana santri dilatih untuk memiliki kesabaran, disiplin, kerja keras, dan semangat kebersamaan. Dengan lingkungan yang terkendali dan didukung oleh para kyai dan ustadz yang bijaksana, pondok pesantren memberikan contoh dan pembinaan kepada santri dalam menghadapi permasalahan, termasuk dalam hal penanggulangan bullying. (Najmi et al. Metode edukasi yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Kahf melibatkan pendekatan yang holistik dan komprehensif dalam membentuk karakter para santri. Pendekatan ini mencakup aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Selain itu, edukasi di pesantren juga mengintegrasikan pembelajaran akademis dengan pengembangan karakter yang kuat. Metode ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan mempromosikan nilaia. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 nilai positif serta menghindari perilaku perundungan. Pendekatan pendidikan karakter di Pesantren Al Kahf didasari oleh prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, kesabaran, dan empati. Para santri diajarkan untuk memahami nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran teori maupun praktek dalam kehidupan sehari-hari. Aspek-adapun pendidikan karakter juga mengacu pada peningkatan keimanan dan ketaqwaan, serta penerapan nilai-nilai dalam interaksi sosial guna mencegah tindakan perundungan di lingkungan pesantren dan Definisi bullying mencakup berbagai bentuk perilaku seperti pengeroyokan, pelecehan verbal, perundungan, dan ancaman yang dilakukan secara terus-menerus. Hal ini dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk sekolah, tempat kerja, dan di lingkungan masyarakat. Dengan memahami definisi bullying secara jelas, akan membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan ini dengan lebih efektif melalui sosialisasi yang tepat. (Putri et al. Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara terus-menerus oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap korban yang lebih lemah. Faktor-faktor seperti lingkungan, kebiasaan keluarga, dan faktor personal dari pelaku bullying akan dijelaskan dalam konsep dasar ini untuk memberikan pemahaman yang komprehensif. (Emilda, 2. Tingkat kejadian bullying di pondok pesantren cukup signifikan, meskipun tidak selalu terdeteksi dengan mudah. Para santri seringkali tidak melaporkan kasus bullying yang terjadi karena merasa takut akan dampaknya terhadap hubungan sosial di lingkungan pesantren. Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari verbal, fisik, hingga psikologis. Dengan kurangnya pemahaman tentang kejahatan bullying, seringkali kasus tersebut hanya dipandang sebagai tindakan biasa tanpa menyadari dampak negatif yang dapat ditimbulkannya bagi korban. (Marlina et al. Perundungan di pondok pesantren merupakan perilaku agresif yang berulang kali dilakukan oleh satu individu atau sekelompok individu terhadap korban, baik secara fisik maupun mental. Perundungan ini sering terjadi di lingkungan pesantren akibat adanya tekanan sosial dan hierarki yang kuat di dalam pesantren. Fenomena ini dapat berdampak buruk bagi kesejahteraan mental dan emosional korban, serta mengganggu proses pendidikan dan kehidupan sosial di pesantren. Perundungan, dalam konteks pondok pesantren, dapat didefinisikan sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang kali melakukan pembatasan kebebasan individu, baik secara fisik maupun psikologis. Hal ini termasuk pengucilan, ancaman, dan kekerasan yang dapat merugikan korban dalam lingkungan pesantren. (Sidik et al. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perundungan di pondok pesantren, seperti hierarki kuat di lingkungan pesantren yang memberikan kekuasaan lebih kepada senior, kurangnya pengawasan dari pihak kepengurusan pesantren, serta budaya yang memuliakan kekerasan atau perilaku agresif. Faktor lain meliputi tekanan sosial, perbedaan status, dan kurangnya kesadaran akan hak asasi manusia di lingkungan (Diana et al. , 2. Sosialisasi memiliki peran yang penting dalam mencegah perundungan di pondok pesantren karena melalui sosialisasi, para santri dapat memahami pentingnya memiliki sikap empati, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk perilaku Dengan adanya sosialisasi yang efektif, para santri dapat teredukasi mengenai hak dan kewajiban sebagai individu dalam komunitas pondok pesantren. Selain itu, sosialisasi juga membantu para santri untuk meningkatkan kesadaran akan dampak negatif perundungan dan mendorong mereka untuk berperilaku etis serta bertanggung jawab dalam bertindak terhadap (Ifrani et al. Peran sosialisasi sangatlah penting dalam membentuk kesadaran dan etika para santri terkait dengan perundungan. Melalui sosialisasi yang tepat, para santri dapat memahami dampak negatif dari perundungan dan menginternalisasi nilai-nilai positif seperti kerjasama, kepedulian, serta rasa hormat terhadap orang lain. Sosialisasi juga membantu para santri untuk mengenali a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 tanda-tanda perundungan serta memberikan mereka pengetahuan dan keterampilan untuk menangani situasi tersebut dengan bijak. Dengan demikian, sosialisasi dapat membentuk karakter yang kuat dan mengubah budaya di pondok pesantren menjadi lingkungan yang aman, adil, dan mendukung pertumbuhan pribadi yang positif bagi setiap individu. (Aprida et al. Edukasi dan penyuluhan tentang bullying merupakan metode yang efektif dalam menyosialisasikan pentingnya mencegah dan menangani tindakan bullying di lingkungan sekolah. Edukasi dilakukan dengan memberikan informasi yang jelas dan akurat tentang perilaku bullying, serta dampak negatifnya terhadap kesejahteraan korban. Sementara itu, penyuluhan dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana cara mencegah bullying, peran serta tanggung jawab guru, orangtua, dan siswa dalam mendukung lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari Melalui pendekatan edukasi dan penyuluhan, diharapkan masyarakat sekolah dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mencegah dan menangani kasus bullying dengan efektif. (Kurniawan et al. Sosialisasi tentang bullying sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah ini. Dengan sosialisasi yang tepat, dapat membantu mencegah terjadinya tindak bullying di lingkungan sekitar. Selain itu, sosialisasi juga dapat memperkuat ikatan antarindividu dalam sebuah komunitas, sehingga mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua orang. Bullying dapat memiliki dampak yang cukup serius terhadap korban, baik secara fisik maupun psikologis. Dampak fisik dari bullying dapat berupa luka atau cedera, bahkan dalam kasus yang lebih parah dapat menyebabkan gangguan kesehatan jangka panjang. Selain itu, dampak psikologisnya juga tidak bisa diabaikan, seperti stres, depresi, kecemasan, dan bahkan mungkin mengarah pada gangguan mental yang lebih serius. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa korban bullying bukan hanya mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi juga bisa mengalami konsekuensi yang merugikan bagi kesehatan mereka secara keseluruhan. (Febritanti, 2. Bullying dapat menyebabkan dampak fisik yang nyata bagi korban. Hal ini bisa termasuk luka-luka, memar, atau cedera lainnya akibat perundungan fisik yang dilakukan oleh pelaku. Penganiayaan yang terus-menerus juga dapat menyebabkan sakit kepala, sakit perut, atau gangguan tidur. Dalam beberapa kasus yang ekstrem, korban bullying juga dapat mengalami gangguan kesehatan jangka panjang yang memerlukan perawatan medis serius. Oleh karena itu, penting bagi pondok pesantren untuk menyadari bahwa bullying bukan hanya masalah sosial, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kesehatan fisik korban. (Diannita et al. Dampak psikologis dari bullying tidak kalah serius dari dampak fisiknya. Korban bullying dapat mengalami stres, depresi, kecemasan, dan merasa tak berdaya. Mereka mungkin kehilangan percaya diri dan harga diri, serta mengalami perubahan pola makan dan Dalam beberapa kasus yang parah, korban bullying juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental seperti gangguan stres pasca trauma (PTSD) atau depresi berat. Oleh karena itu, sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren sangat penting untuk meningkatkan pemahaman akan dampak psikologis yang mungkin dialami korban, serta untuk mempersiapkan sumber daya yang tepat untuk memberikan dukungan kepada mereka. (Kurniasih et al. Sosialisasi memiliki peran penting dalam pencegahan bullying di pondok pesantren. Melalui sosialisasi, para santri dapat memahami dampak negatif dari perilaku bullying dan belajar untuk menghormati satu sama lain. Sosialisasi juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan di pesantren, di mana setiap individu merasa dilindungi dan didukung oleh temantemannya. (Emilda, 2. Tujuan sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren adalah untuk meningkatkan kesadaran para santri akan berbagai bentuk bullying, seperti fisik, verbal, dan Selain itu, sosialisasi juga bertujuan untuk mengajarkan cara-cara untuk a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 menyikapi dan mencegah perilaku bullying, sehingga para santri dapat menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan pesantren. (Sanjaya et al. Pentingnya sosialisasi tentang bullying di pondok pesantren adalah untuk mempengaruhi sikap dan perilaku para santri. Melalui sosialisasi, para santri dapat memahami dampak negatif dari perilaku bullying dan belajar untuk Sosialisasi juga dapat membantu mengubah sikap para santri terhadap tindakan bullying, sehingga mereka menjadi lebih peka dan proaktif dalam mencegah tindakan tersebut. Dengan sosialisasi yang tepat, santri dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk menangani situasi bullying dengan cara yang lebih positif dan efektif, serta membentuk sikap empati dan kepedulian terhadap sesama sesuai dengan nilai-nilai agama dan moral yang diajarkan di pondok pesantren. (Aini, 2. Edukasi tentang perundungan di Pondok Pesantren Al Kahf telah berjalan dengan baik, namun memerlukan evaluasi untuk memastikan efektivitasnya. Evaluasi program pendidikan ini harus melibatkan seluruh stakeholder, termasuk siswa, guru, orang tua, dan staf pesantren. Data mengenai perubahan sikap, pengetahuan, dan perilaku perlu dikumpulkan dan dianalisis secara Dari hasil evaluasi ini, kita dapat mengetahui keberhasilan program edukasi saat ini dan menyarankan rekomendasi perbaikan yang diperlukan. upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap konsep perundungan dan dampak negatifnya telah memberikan hasil yang positif. Selain itu, metode edukasi yang menggunakan pendekatan pendidikan karakter juga terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan responsibilitas siswa terhadap perundungan. Implikasinya, pesantren lain dapat mengadopsi metode edukasi yang sama untuk meningkatkan kesadaran terhadap perundungan di kalangan siswa dan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan mendukung. KESIMPULAN Metode sosialisasi efektif dapat mencegah perundungan di pondok pesantren. Melalui pendekatan pendidikan dan pelatihan, pondok pesantren dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi para santri. Selain itu, pentingnya sosialisasi dalam pencegahan perundungan juga telah terbukti efektif dalam membentuk kesadaran dan etika bagi para santri. Namun, peran aktif dari para pengasuh, guru, dan staff pondok pesantren dalam implementasi metode sosialisasi ini sangatlah penting. Oleh karena itu, rekomendasi untuk pengelola pondok pesantren adalah untuk terus meningkatkan pendekatan sosialisasi dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait dan memperkuat evaluasi efektivitas metode sosialisasi. pondok pesantren yang telah menerapkan metode sosialisasi efektif berhasil menciptakan lingkungan yang lebih aman dan terbebas dari perundungan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa pentingnya peran sosialisasi dalam pencegahan perundungan tidak boleh diabaikan. Selain itu, metode evaluasi juga menjadi kunci dalam menentukan efektivitas metode sosialisasi. Oleh karena itu, para pengelola pondok pesantren perlu memperkuat metode evaluasi serta terus memantau dan mengevaluasi implementasi metode sosialisasi agar dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mencegah perundungan di pondok pesantren. DAFTAR REFERENSI Aini. Pendekatan Behavioral Pada Santri Untuk Menangani Dampak Bullying Di Pondok Pesantren Thoriqul Huda Ponorogo. Akbar. Khairunnisa. Pepayosa. Sari. , & Wahyuni. Kajian literature: pengaruh bullying terhadap motivasi belajar siswa. Jurnal Ilmiah Profesi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Pendidikan, 9. , 76-81. Al Rasyid. & Gautama. Efektivitas Program Roots di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Tanah Datar dalam Mengatasi Bullying. Jurnal Perspektif. Aprida. Warsah. Nurjannah. Fajariah. Rahayu. Herawati. , . & Saputri. Peran Etika Profesional dalam Membentuk Kualitas Manajemen Pendidikan Pondok Pesantren Darul MaAoarif Kabupaten Rejang Lebong. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan, 5. , 349-363. Arosy. Roqim. , & Purnomo. Menjadi Asik Tanpa Mengusik: Mencegah Bullying Melalui Moderasi Beragama. NAJWA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 2. , 115-132. Diana. Hufron. , & Wahid. Strategi Pondok Pesantren Annuqayah Latee Dalam Mengatasi Bullying Santri. GAHWA. Diannita. Salsabela. Wijiati. , & Putri. Pengaruh Bullying terhadap Pelajar pada Tingkat Sekolah Menengah Pertama. Journal of Education Research, 4. Emilda. Bullying di pesantren: Jenis, bentuk, faktor, dan upaya pencegahannya. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan. Emilda. Bullying di pesantren: Jenis, bentuk, faktor, dan upaya pencegahannya. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan. Fadli. Zalianti. Wati. Liew. , & Muallimin. Strategi Pengurus Keamanan dalam Menyelesaikan Konflik Antar Santri yang Berlatar Belakang Budaya Berbeda di Pondok Pesantren. Jurnal Riset Manajemen, 2. , 413-423. Febritanti. Perilaku Bullying Pada Remaja. Jurnal Pengabdian Dinamika. Hamdi. Yuliansyah. , & Madihah. Implementasi Manajemen Sekolah Ramah Anak (Studi Kasus: Sd Negeri 8 Kampung Baru Dan Sdit Ar-Rasyid Kabupaten Tanah Bumb. Jurnal Manajemen Pendidikan Al Hadi, 3. , 66-83. uniska-bjm. Ifrani. Utami. , & Hanifah. Sosialisasi Pencegahan Perundungan Dan Kekerasan Seksual Bawah Sadar Di Pondok Pesantren Putra Darul Istiqamah Barabai. Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggu. , 3. , 533-544. Junalia. , & Malkis. Edukasi upaya pencegahan bullying pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Tirtayasa Jakarta. Journal Community Service of Health Science, 1. , e-journalstikes-pertamedika. Kurniasih. Yendi. Kurnia. , & Widia. Terapi Kognitif Dalam Penurunan Kecemasan Pada Remaja Korban Bullying. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-Ilmu Keperawatan. Analis Kesehatan Dan Farmasi, 23. universitas-bth. Kurniawan. Ayuningtyas. Aurelia. , & Handoko. Octobe. Penyuluhan Pencegahan Bullying Terhadap Kalangan Pelajar SMP. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat LPPM UMJ (Vol. No. Maelani. Aldiansyah. , & Wahyudi. Peran Pendidikan Islam dalam Menanamkan Etika dan Moral sebagai Solusi Mengatasi Bullying Dilingkungan Pendidikan. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 7. , 8445-8450. Marlina. Syahri. Effendi. Sitepu. , & Hayati. Peningkatan Kesadaran Remaja Tentang Dampak Bullying Terhadap Kesehatan Mental. Jurnal Pengabdian Masyarakat Putri Hijau, 5. , 80-86. Munajah. Nurhayati. Nahdhah. , & Septarina. Sosialisasi Stop Bullying a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 (Perundunga. Di MAN 2 Banjarmasin. Jurnal Pengabdian Al-Ikhlas Universitas islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary, 10. uniska-bjm. Najmi. Casmini. , & Sa'adah. Konseling Pengasuh Terhadap Santri Dalam Mengatasi Bullying Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Jurnal Al-Taujih: Bingkai Bimbingan Dan Konseling Islami, 8. , 55-65. Putri. Nisviani. Hafisya. , & Suryadi. Perlindungan hukum terhadap anak yang menjadi korban bullying. KONSENSUS: Jurnal Ilmu Pertahanan. Hukum dan Ilmu Komunikasi, 1. , 96-106. Romadhoni. MaAoarif. , & Muttaqin. Peran Ajaran Tasawuf Dalam Membentuk Kesadaran Moral Peserta Didik Pondok Pesantren Sabilurrosyad. Gasek. Malang. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 22. , 233-241. Sanjaya. Nasution. Ramadhan. Safira. , & Satiadharmanto. Sosialisasi Perlindungan Hukum Anak dan Penggunaan Media Sosial Yang Bijak: Studi Pada Pondok Pesantren Tahfizh Qur'an Bina Masyarakat Mandiri Mega Mendung Bogor. Maximal Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial. Ekonomi. Budaya dan Pendidikan, 2. Sidik. Zuhdi. , & Arief. Model Pesantren Tanpa Perundungan dalam Pembentukan Santri Milenial. EDU SOCIETY: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4. , 1863-1874. permapendis-sumut. Vatin. Yanti. Syamsurizal. , & Sitorus. Psikoedukasi Anti Bullying pada Remaja di Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Journal of Humanity Dedication, 2. , 142-151. Widyaningtyas. , & Mustofa. Implementasi Kebijakan Anti-Bullying Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Surakarta. G-COUNS: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 8. , a. ISSN : 2828-5700 .