vailable at http://ejournal. id/index. php/sastra P-ISSN 2337-7712 E-ISSN 2598-8271 Volume 6 No. 1, 2018 page 49-60 Article History: Submitted: 21-01-2018 Accepted: 21-02-2018 Published: 22-03-2018 STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH SANDJOJO DALAM DRAMA PENGGALI INTAN KARYA KIRDJOMULJO (Kajian Psikologi Ludwig Klage. Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 STKIP PGRI JOMBANG STKIP PGRI JOMBANG Jalan Pattimura Gang i E Nomor 20 e-mail : yunitaalisya@gmail. DOI: 10. 32682/sastranesia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya struktur kepribadian tokoh utama Sandjojo yang terdapat dalam drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo dengan menggunakan kajian psikologi sastra melalui teori kepribadian yang diterapkan oleh Ludwig Klages. Fokus penelitian ini yaitu analisis struktur kepribadian menurut Ludwig Klages, yakni temperamen, perasaan, dan daya ekspresi pada tokoh utama Sandjojo dalam drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo. Temperamen adalah sifat emosi individu, kekuatan serta ketepatan bereaksi, serta perubahan suasana hati. Perasaan adalah proses batin keinginan untuk menerima atau menolak. Sedqangkan, daya ekspresi adalah dorongan-dorongan nafsu yang dimiliki oleh seseorang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini dipilih dengan alasan bahwa pendekatan kualitatif merupakan prosedur yang digunakan penelitian untuk menghasilkan deskriptif berupa kata-kata tertulis. Sumber dan data penelitian berupa teks drama yang diambil dari buku Sepasang Mata Indah (Kumpulan Drama Kirdjomulj. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tokoh Sandjojo termasuk temperamen sanguinis yang keras kepala dengan tidak ingin pulang ke kampung halaman sebelum mendapatkan intan yang sangat besar, ambisius untuk menjadi seorang yang kaya raya, egois dengan tidak memikirkan orang di sekitar dan memilih bekerja sendiri agar tidak ada yang bisa memperoleh bagian dari hartanya, dan pemarah ketika ada yang menaseihatinya bahwa yang perbuatan yang dilakukan selama ini salah. Oleh karena pada orang sanguinis kerapkali timbul kebutuhan, apabila ada sesuatu yang ingin dicapai, maka apapun akan dilakukan dan hal tersebut terlihat pada tokoh Sandjojo. Memiliki perasaan ekspansif yang berupa perasaan benci dengan kampung halaman dan juga Sunarsih sebab kesalahpahaman yang tidak diterima oleh Sandjojo, perasaan dendam kepada Sunarsih sehingga berniat membununya, cemas karena Sandjojo tak kunjung mendapat intan yang selama ini diinginkannya, mudah tersinggung apabila ada yang ikut campur perihal hidupnya dan curiga kepada orang disekitarnya ketika ia berhasil mendapatkan intan. Daya ekspresi Sandjojo cenderung mudah menerima rangsangan tanpa diimbangi dengan penguasaan Ia memiliki dorongan nafsu tentang harta agar bisa menjadi kaya dengan melakukan apapun meskipun akan membahayakan keselamatannya, dorongan nafsu dendam sehingga ia berniat membunuh Sunarsih dan membunuh siapapun yang akan Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 Kata Kunci : Penggali Intan, psikologi sastra, struktur kepribadian ABSTRACT This study aims to determine the structure of the personality of the main character Sandjojo contained in the drama Diggers Intan Kirdjomuljo work by using literature psychology studies through personality theory applied by Ludwig Klages. The focus of this study is the analysis of personality structure according to Ludwig Klages, namely temperament, and expression of power in the main character Sandjojo in drama Penggali Intan work Kirdjomuljo. Temperament is the individual's emotional nature, strength and precision of reacting, as well as mood swings. Feeling is the inner process of the desire to accept or reject. The power of expression is the impulses that one possesses. This study uses a qualitative method. This method is chosen on the grounds that qualitative approach is a procedure used by research to produce descriptive form of written words. Sources and research data in the form of drama text taken from the book Pair of Beautiful Eyes (Kirdjomuljo Drama Collectio. The results of this study concluded that Sandjojo included a stubborn sanguine temperament by not wanting to return to his hometown before getting a very large, ambitious diamond to become a rich man, selfish by not thinking about people around and choosing to work alone so that no one could get part of his property, and angry when someone sees it that the actions done so far are wrong. Because the sanguist often needs arises, if something is to be achieved, then anything will be done and this is seen in the Sandjojo figure. Having an expansive feeling in the form of feelings of hatred for his hometown and also Sunarsih because of misunderstandings that Sandjojo did not accept, feelings of resentment towards Sunarsih so that he intended to kill him, worried that Sandjojo would never get a diamond that he had wanted, easily offended if anyone interfered about his life and suspicious of those around him when he managed to get Sandjojo's expression power tends to easily accept stimuli without being balanced with self-control. He has the urge to lust about wealth in order to become rich by doing anything even though it will endanger his safety, the urge for revenge so that he intends to kill Sunarsih and kill anyone who will help him. Keywords: Diamond Diggers. Literary Psychology. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 6 No. 1, 2018 Introduction/Pendahuluan Suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni adalah merupakan wujud dari karya sastra yang bersifat imajinatif, fiktif, dan inovatif. Secara etimologis, sastra sendiri diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, ataupun buku Maka dari itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran (Teeuw, 1979: . Bertentangan dengan pernyataan di atas. Istilah sastra paling tepat diterapkan pada seni sastra, yaitu sastra sebagai karya imajinatif. Memang ada sedikit kesulitan dalam menggunakan istilah ini akan tetapi jika fiksi dan puisi dianggap sebagai pengertian sastra hal tersebut masihlah terlalu sempit. Dan apabila istilah sastra adalah imajinatif dan mengandung tulisan yang sopan mengacu pada karya tulis atau cetak itupun masih belum cukup mewakili pengertian sastra karena seharusnya kesusastraan juga meliputi sastra lisan (Wellek, 2013: . Sastra terbagi menjadi dua, yaitu sastra tulis dan sastra lisan, yang menjadi media penyampain berbagai permasalahan kehidupan untuk direnungkan agar berkehidupan lebih baik. Hal tersebut juga dikuatkan oleh pendapat bahwa cerita, fiksi, atau kesusastraan pada umumnya, sering dianggap sebagai memanusiakan manusia (Nurgiyantoro, 2010:. Untuk menyelidiki dan mempelajari makhluk hidup yang mengendalikan peristiwa mental atau tingkah laku individu dengan alam sekitar diperlukan suatu telaah ilmu dan psikologi sastra adalah telaah sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitasi kejiwaan. Dalam menelaah suatu karya psikologis hal penting yang perlu dipahami adalah sejauh mana keterlibatan psikologi pengarang dan kemampuan pengarang menampilkan para tokoh rekaan yang terlibat dengan ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 masalah kejiwaan (Minderop, 2016: . Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, karya sastra salah satunya dikenal dalam bentuk fiksi berupa drama. Hal yang berkaitan dengan pembahasan karya sastra jika dikaji dari sisi psikologi sastra salah satunya yaitu naskah drama. Naskah drama merupakan karya sastra yang berbentuk dialog antara dua tokoh atau lebih, dan tokoh yang ada dalam naskah tersebut memiliki perwatakan yang berbeda-beda, perbedaan perwatakan itu muncul dari imajinasi pengarang menjadikan karakter tokoh-tokoh dalam karya sastra menjadi lebih hidup. Drama atau sandiwara adalah seni yang mengungkapkan pikiran atau perasaan orang dengan mempergunakan laku jasmani dan ucapan kata-kata (Rendra, 2013: . Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa drama adalah seni yang mengungkap pikiran atau perasaan berupa masalah kemanusiaan yang menjadi alat komunikasi sosial dalam Seorang ahli psikologi kepribadian modern yang juga berperan sebagai tokoh filsafat yakni Ludwig Klages memakai cara pendekatan pensifatan, dan menentang cara pendekatan tipologis. Landasan inilah yang digunakan peneliti untuk mendekati kepribadian tokoh utama Sandjoyo dalam naskah Penggali Intan karya Kirdjomuljo, yang dipilih dari kumpulan drama Kirdjomuljo dalam buku Sepasang Mata Indah. Klages mengemukakan empat aspek kepribadian yaitu materi atau bahan (Stof. , struktur, kualitas atau sifat (Artun. Namun dalam penelitian ini hanya terfokus pada aspek struktur karena aspek itulah yang dirasa lebih cocok untuk mengkaji kepribadian tokoh dalam drama Resarch Methods Rancangan penelitian yang sesuai digunakan untuk mengkaji drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo ialah kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode ini dipilih dan digunakan penelitian untuk menghasilkan deskriptif berupa katakata tertulis yang dikaji melalui pendekatan psikologi sastra. Jenis data yang digunakan penelitian ini yaitu berupa kutipan teks drama. Sumber data dari penelitian adalah drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo yang STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 6 No. 1, 2018 dipilih dari buku Sepasang Mata Indah (Kumpulan Drama Kirdjomulj. dan diterbitkan oleh Penerbit Gama Media pada tahun 2006. Langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai Peneliti melakukan pembacaan teks drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo. Peneliti mengamati kutipan dialog yang terdapat pada drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo yang mengandung temperamen, perasaan dan daya ekspresi. Peneliti Tujuannya memudahkan menganalisis dan membahas temperamen, perasaan, dan daya Pengumpulan data merupakan suatu cara yang disengaja disusun sedemikian rupa yang dipergunakan untuk menghimpun sejumlah data. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian kali ini yaitu berupa mendokumentasikan data yang digunakan, yaitu drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo berupa temperamen tokoh utama, perasaan tokoh utama, daya ekspresi tokoh utama. Instrumen Penelitian Data yang sudah diperoleh dari hasil dokumentasi dan instrumen akan diolah dengan beberapa tahap sebagai berikut. Pembacaan. Langkah kerja utama, peneliti melakukan pembacaan drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo secara berulang. Identifikasi data. Setelah membaca peneliti akan mengidentifikasi data yang terdapat dalam drama tersebut berupa temperamen, perasaan dan daya ekspresi pada tokoh utama Sandjojo. Pengkodean data. Peneliti memberi pengkodean pada data-data yang dianggap relevan dengan rumusan masalah yang terkandung didalam drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo untuk mempermudah pengkajian atau ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 Pengkodean sumber data dalam drama Penggali Intan dapat dicontohkan sebagai berikut: /PI/A1/H. 1 : menunjukkan nomor urutan ke-1 pada tabel data : menunjukkan judul drama yang digunakan sebagai sumber data penelitian yaitu Penggali Intan A1. A2: menunjukkan adegan dalam drama yang digunakan sebagai H1. H2. H3: menunjukkan halaman dalam drama yang digunakan sebagai penelitian Deskripsi Data Penelitian. Deskripsi data merupakan penjelasan data yang dilakukan untuk memperoleh data yang jelas dan mudah dipahami. Penelitian ini mendeskripsikan setiap data yang diperoleh sesuai dengan batasan penelitian yang sudah ditentukan, yaitu mendeskripsikan data-data yang sudah terkumpul dengan menjelaskan kutipan dialog berupa temperamen, perasaan, daya ekspresi pada tokoh utama Sandjojo. Analisis Data Penelitian. Menganalisis data yang sudah dideskripisikan untuk menetukan hasil penelitian atu simpulan, yaitu setelah data diklasifikasikan dan dideskripsikan selanjutnya data dianalisis bentuk yang Hasil dan Pembahasan Temperamen Tokoh Sandjojo dalam Drama Penggali Intan Karya Kirdjomuljo. Pada sifat bentuknya tokoh Sandjojo lebih cenderung mempunyai sifat temperamen sanguinis yaitu sebuah sikap yang tidak kenal lelah untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Demikian halnya dengan sikap Sandjojo karena menunjukkan sifat ambisiusnya untuk memperoleh intan agar STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 6 No. 1, 2018 menjadi kaya. Berikut adalah bukti data yang menunjukan sikap temperamen sanguinis Sandjojo. Keras kepala Data . /PI/A1/H. Siswadi : Kau mau tetap tinggal disini selamanya? Sandjojo : Buat apa pulang? Siswadi : kita telah tujuh bulan tinggal di daerah ini!( sandjojo merasa jug waktu yang telah lama it. Sandjojo : kau tidak tahan lagi? Data tersebut menunjukkan sifat keras kepala Sandjojo yang tidak ingin pulang ke kampung halaman. Karena masih menginginkan untuk mendapatkan kekayaan. Sehingga ia memilih untuk merantau ke Kalimantan dan bekerja sebagai penggali intan. Namun sudah tujuh bulan menggali intan. Sandjojo belum juga mendapatkan intan yang diimpikannya. Seseorang yang memiliki suasana hati yang aktif dan ekspansif terdapat sanguinis yang tidak pernah merasa puas, tidak sabar, dan tetap pada Inilah alasan mengapa Sandjojo termasuk pada golongan sangunis yang tetap pada arahnya atau bisa disebut keras kepala karena ia tetap mencari intan meskipun hal itu sulit didapat. Kesulitan tersebut tak lekas membuatnya putus asa, ia semakin keras kepala untuk mendapatkan intan meskipun segala persediaan makanan sehari-hari telah habis dan tidak ada lagi yang bisa dijual untuk bertahan hidup. Perasaan Tokoh Sandjojo dalam Drama Penggali Intan Karya Kirdjomuljo Perasaan tiap orang terhadap sesuatu tidaklah sama, suasana perasaan lebih menonjolkan warna-warna tertentu, corak-corak tertentu. Kesedihan, kerinduan, kecemasan, ketakutan, adalah suasana perasaan. Ditinjau dari fungsinya, ada dua hal dalam suasana perasaan yaitu suasana perasaan yang ekspansif dan suasana perasaan yang depresif. Analisis bahwa Sandjojo ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 memiliki perasaan benci, dendam, cemas, tersinggung, curiga hingga pada bentuknya lebih cenderung mempunyai suasana perasaan ekspansif. Benci Data . /PI/A1/H. Siswadi : Sebaiknya kita lekas-lekas pulang. San. Telah cukup lama kita Sandjojo : Memang banyak kenangan-kenangan yang manis di kota Jogja, di antara kepahitan-kepahitan yang terkutuk. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Sandjojo membenci kampung Ia merasa banyak kenangan pahit disana, tentang kemiskinan dan pendeitaan cinta yang pernah dialaminya. Ingatan yang dimiiki tentang kampung halaman memunculkan perasaan benci. Sandjojo merasa ia tidak mungkin kembali lagi ke kampung halaman sebelum mendapat intan. Karena hanya dengan intan ia bisa memafkan segala rasa bencinya terhadap kampung halaman yang telah membuatnya mengasingkan diri ke Kalimantan. Daya Ekspresi Tokoh Sandjojo dalam Drama Penggali Intan Karya Kirdjomuljo Setiap dorongan-dorongan memuaskan apa yang diinginkannya. Inilah yang disebut proses jiwa, dorongan tersebut baru terlihat dalam proses jasmani seperti misalnya perubahan detak jantung, perubahan pernafasan, dan sebagainya. Proses kejiwaan itu disebut teknik ekspresi. Klages berpendapat bahwa hambatan dalam ekspresi adalah penguasaan diri. Setiap orang memiliki penguasaan diri yang berbeda, misalnya ada dari mereka yang mampu menahan emosi tetapi ada juga yang tidak, ini disebut sebagai perubahan ekspresi. Daya ekspresi tokoh Sandjojo lebih dikuasai oleh dorongan- dorongan nafsu tanpa diimbangi oleh penguasaan diri. Adapun dorongan-dorongan nafsu yang dialami Sandjojo yakni, ambisinya untuk mendapatkan intan agar bisa menguasai dunia dan bisa melampiaskan dendam kepada setiap perempuan STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 6 No. 1, 2018 terutama Sunarsih. Semua bentuk ekspresi tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan-kutipan sebagai berikut. Dendam Data . /PI/A1/H. Siswadi : Dia tidak menghargai cintamu? Sandjojo : Jangan kau bicarakan Sunarsih. (Memandang. Dia tidak lagi satu bagian dari ingatanku. Siswadi mulai mengerti apa yang terjadi atas diri Sandjojo. Jangan kau ucapkan sekali lagi tentang Sunarsih. Ia tidak lagi berada dalam pikiranku. Kau tau bahwa ia tidak pernah mencintai Kau bisa melihat apa yang tergenang di matanya? (Memandangi lukisan, ditikamnya lukisa. Kepalsuan! Kutipan dialog tersebut menjelaskan bentuk dendamnya terhadap sunarsih sehingga dia ingin menghancurkan tiap hati perempuan, dengan jalan mencari intan agar bisa menunjukkan kekuasaannya. Sifat ekspresif ini mempengaruhi tingkah lakunya menjadi tak terkendali dengan ditikamnya lukisan Sunarsih sebagai bentuk kekesalannya. Ketika Sunarsih datang untuk menjemput pulang tidak lagi hiraukannya, bahkan Sandjojo tidak dapat menguasai diri karena tidak mampu menahan emosinya yang memuncak ketika berhadapan dengan Sunarsih. Sandjojo berusaha balas dendam atas sakit hatinya selama ini dengan menjerumuskan Sunarsih ke penggalian intan agar terbunuh. Sifat ekspresif merupakan kelainan watak yang memberi warna atau mempengaruhi tingkah laku, apa yang dikejar orang yang memiliki sifat ini dapat memeberi warna pada tingkah lakunya. Sandjojo mempunyai dorongan nafsu balas dendam kepada Sunarsih, hal itu hanya ingin memuaskan apa yang Conclusion ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Yunita Alisya Wardani 1. Anton Wahyudi 2 Penelitian struktur kepribadian tokoh Sandjojo dalam drama Penggali Intan karya Kirdjomuljo dengan menggunakan kajian psikologi Ludwig Klages menyimpulkan bahwa: Temperamen tokoh Sandjojo cenderung ke arah temperamen sanguinis yang berupa keras kepala dengan tidak ingin pulang ke kampung halaman sebelum mendapatkan intan yang sangat besar, ambisius untuk menjadi seorang yang kaya raya, egois dengan tidak memikirkan orang disekitar dan memilih bekerja sendiri agar tidak ada yang bisa memperoleh bagian dari hartanya, dan pemarah ketika ada yang menaseihatinya bahwa yang perbuatan yang dilakukan selama ini salah. Karena pada orang sanguinis kerap kali timbul kebutuhan, apabila ada sesuatu yang ingin dicapai, maka apapun akan dilakukan dan hal tersebut terlihat pada tokoh Sandjojo. Perasaan tokoh Sandjojo cenderung memiliki perasaan yang ekspansif berupa perasaan benci dengan kampung halaman dan juga Sunarsih sebab kesalahpahaman yang tidak diterima oleh Sandjojo, perasaan dendam kepada Sunarsih sehingga berniat membununya, cemas karena Sandjojo tak kunjung mendapat intan yang selama ini diinginkannya, mudah tersinggung apabila ada yang ikut campur perihal hidupnya dan curiga kepada orang disekitarnya ketika ia berhasil mendapatkan intan. Hal ini disebabkan karena Sandjojo tertekan karena impiannya untuk menjadi kaya dan cinta yang membuat hidupnya menjadi rumit dan berantakan. Daya ekspresi tokoh Sandjojo cenderung mudah menerima rangsangan tanpa diimbangi dengan penguasaan diri. Ia memiliki dorongan nafsu tentang harta agar bisa menjadi kaya dengan melakukan apapun meskipun akan membahayakan keselamatannya, dorongan nafsu dendam sehingga ia berniat membunuh Sunarsih dan membunuh siapapun yang akan menolongnya. Dorongan nafsu tanpa diimbangi penguasaan diri tersebut mambuat akal sehat Sandjojo STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 6 No. 1, 2018 References