DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. Ketepatan Pengkodean Diagnosis Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Klinis di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama Accuracy of Dengue Hemorrhagic Fever Diagnosis Coding Based on Clinical Examination Results at Singaparna Medika Citrautama Hospital Ari Sukawan1 Andi Suhenda2 Widia Mulyani3 1,2,3Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Jl. Babakan Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kota Tasikmalaya E-mail : arisukawan86@gmail. Abstract One of the supporting units in a hospital is a medical record, namely a manual/electronic record made by a health service provider, such as a diagnosis. One of the medical record activities by codifying diseases is carried out by coders. Diagnosis coding must be correct according to the code stated in ICD-10, correct coding will affect hospital health financing. This study aims to describe coding procedures and diagnostic accuracy using a cross-sectional Population of medical records of dengue hemorrhagic fever cases in January December 2022. The total sample is 98 medical records. simple random sampling technique. The results of the diagnosis coding procedure carried out by the coder were not appropriate due to the staff being busy carrying out other activities and there were 78. 6% of medical records that were correct and in accordance with the provisions. clinical examination results, 4% of medical records were inaccurate and did not match the results of the clinical examination, resulting in pending claims at the hospital. In conclusion, coders are expected to carry out coding referring to ICD-Volume 2 and pay attention to clinical examination to obtain accurate codification so that hospital claims can be claimed on time. Keywords: Coding. Dengue Fever. ICD-10 Abstrak Salah satu unit penunjang di Rumah Sakit yaitu rekam medis merupakan catatan manual/eketronik yang dilakukan oleh tenaga pemberi asuhan pelayanan kesehatan seperti Salah satu kegiatan direkam medis yaitu melakukan kodefikasi penyakit. Koding adalah pemberian symbol alfanumeric yang dilakukan oleh coder. Koding diagnosis yang diberikan harus tepat sesuai dengan kode yang tercantum di dalam ICD-10, koding yang tepat akan mempengaruhi pembiayaan kesehatan rumah sakit. Penelitian dilakukan di RS Medika Citra Utama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pengkodean dan ketepatan diagnosis penyakit dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi kasus dalam penelitian ini yaitu rekam medis pasien dengue haemorrhagic fever Januari-Desember 2022. Jumlah sampel sebanyak 98 rekam medis. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Hasil penelitian prosedur pengodean diagnosis yang dilakukan oleh coder belum sesuai ketentuan ICD-10 volume 2 dikarenakan oleh sibuknya petugas dalam melakukan kegiatan lainnya dan terdapat 78. 6% rekam medis yang tepat serta sesuai dengan hasil pemeriksaan klinis, 21. 4% Rekam medis yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan klinis sehingga mengakibatkan pending klaim di rumah sakit. Kesimpulan penelitian ini adalah diharapkan petugas coder melakukan pengkodean mengacu ICD-Volume 2 dan memperhatikan pemeriksan klinis agar mendapatkan kodefikasi yang akurat sehingga klaim rumah sakit diklaimkan tepat waktu. Kata kunci: Demam Berdarah Dengue. ICD-10. Pengkodean Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Pendahuluan Rekam medis merupakan sebuah catatan manual atau rekaman data (Peraturan Menteri Kesehatan, 2. mulai dari data pasien masuk, identitas, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, data perkembangan pasien terintegrasi, tindakan dan diagnosis baik itu pasien rawat jalan, rawat inap dan rawat darurat yang diberikan oleh dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), perawat, bidan, ataupun tenaga kesehatan lainnya yang terlibat dalam pemeriksaan pasien tersebut (Sugiarti et al. , 2. Salah satu kegiatan pengelolaan rekam medis adalah kegiatan pengkodean diagnosis penyakit dan tindakan yang harus dilakukan oleh tenaga professional perekam medis dan informasi kesehatan sebagai salah satu kompetensi yang dimiliki (Menkes, 2. Penerapan pengkodean digunakan untuk mengindeks pencatatan penyakit dan tindakan di sarana pelayanan kesehatan, masukan bagi sistem pelaporan diagnosis medis, memudahkan proses penyimpanan dan pengambilan data terkait diagnosis karakteristik pasien dan penyedia layanan, indonesian Case Base Groups (INA-CBg. untuk sistem penagihan pembayaran internasional morbiditas dan mortalitas, tabulasi data pelayanan kesehatan bagi proses evaluasi perencanaan pelayanan medis, analisis pembiayaan pelayanan kesehatan dan penelitian epidemologi dan klinis (Hatta, 2. Hal terpenting yang harus diperhatikan oleh tenaga perekam medis adalah ketepatan dalam pemberian kode diagnosis. Untuk mendapatkan hasil kodefikasi penyakit yang tepat diperlukan rekam medis yang lengkap (Hatta, 2. Selain rekam medis yang lengkap dituntut juga pengetahuan yang baik bagi tenaga perekam medis khususnya koder. Kode diagnosis yang diberikan harus tepat sesuai dengan kode yang tercantum dalam buku Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem 10 th Revision (ICD-. yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO). ICD-10 mencakup kode diagnosis dari semua sistem organ tubuh manusia yang telah diklasifikasikan berdasarkan kelompok penyakit tertentu termasuk untuk golongan penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Dengue merupakan penyakit tropis yang masih menjadi masalah internasional dalam kesehatan masyarakat di beberapa dekade terakhir (Wang et al. , 2. Beberapa tahun terakhir, sekitar 50 juta infeksi virus dengue (DBD) terjadi dan sekitar setengah juta orang terjangkit dengue parah, menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan di seluruh dunia (Mentari & Hartono, 2. Tahun 2020. DBD terus menyerang beberapa negara, dengan laporan peningkatan jumlah kasus di beberapa negara termasuk Indonesia (Sutriyawan et al. , 2. Tercatat kasus DBD di Indonesia pada tahun 2015 sekitar 650 kasus. Jumlah kasus ini meningkat 499 kasus pada tahun 2014, sedangkan hingga Juli 2020 mencapai 71. 10 Provinsi yang melaporkan jumlah kasus terbanyak ada di Jawa Barat 10. kasus (Kemenkes RI, 2. Dalam ICD- 10 diagnosis DBD diberi kode A91 (WHO. Pada proses penentuan kodefikasi diagnosis Dengue Haemorrhage Fever harus memperhatikan rekam medis pasien terhadap kesesuaian antara diagnosis yang ditegakkan oleh dokter penanggung jawab pasien dan hasil pemeriksaan klinis laboratorium dengan kode diagnosis berdasarkan aturan pengodean yang dijelaskan pada ICD-10 Volume 2. Berdasarkan hasil pendahuluan awal di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama ditemukan terdapat 10 rekam medis dengan kasus Dengue Haemorrhage Fever yang diberi kode diagnosis A91 tapi hasil pemeriksaan klinis laboratorium Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. menunjukkan hasil normal. Padahal untuk dapat mendukung kode diagnosis DBD maka setidaknya ditemukan dua hasil pemeriksaan laboratorium yang tidak normal, misalnya pada hasil pemeriksaan trombosit dan leukosit. Artinya terjadi ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan DBD. Hal mempengaruhi data dan informasi laporan rumah sakit, serta ketetapan tarif pelayanan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prosedur pengkodean diagnosis penyakit dan ketepatan kode diagnosis demam berdarah dengue berdasarkan hasil pemeriksaan klinis Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama. Metode Metode Penelitian desain cross sectional. Jenis kuantitatif deskriptif dengan gambaran prosedur dan ketepatan diagnosis dengue haemorrhagic fever dengan pemeriksan klinis di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama. Penelitian ini menggunakan data Primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari telaah kesesuaian ketepatan pengodean diagnosis yang dilakukan oleh coder dan prosedur pengodean diagnosis. Data sekunder diperoleh dari data pelaporan rekam medis pada kasus diagnosis dengue haemorrhagic fever. Populasi penelitian ini adalah rekam medis rawat inap kasus dengue haemmoragic fever pasien Januari-Desember 2022. Jumlah sampel sebanyak 98 rekam medis rawat Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Instrumen yang digunakan daftar tilik kesesuai diagnosis dengan kriteria objektif untuk prosedur diagnosis sesuai apabila kegiatan berdasarkan sembilan langkah dasar menentukan kode diagnosis penyakit dan tidak sesuai apabila kegiatan kodefikasi penyakit dan tindakan tidak berdasarkan sembilan langkah dasar menetukan kode diagnosis penyakit. Ketepatan diagnosis jika Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. tepat apabila kode diagnosis tepat dan sesuai berdasarkan ICD-10 dan hasil pemeriksaan klinis dan tidak tepat apabila kode diagnosis tidak tepat dan tidak sesuai berdasarkan ICD 10 dan hasil pemeriksaan Hasil dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama Pada bagian rekam medis rawat inap khususnya bagian klaim pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kasus Dengue Haemorrahage Fever adapun hasil yang ditemukan sebagai Tabel 1. Kesesuaian Prosedur Pengodean Diagnosis DHF Frequency Percent Valid Cumulative Percent Percent Tidak 98 100,0 Sesuai Sumber data : Data Primer Tabel 1 menjelaskan bahwa hasil langkah-langkah pegodean diagnosis pada Dengue Haemorrahage Fever dikategorikan menjadi dua kategori sesuai dan tidak sesuai dari 98 Rekam Medis langkah-langkah pengodean diagnosis yang sesuai dengan tahapan yang terdapat di ICD-10 Volume Adapun langkah-langkah pengodean dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama dengan berpedoman ICD-10 yang sudah disiapkan menggunakan sistem informasi kesehatan diantaranya dengan menginput diagnosis Dengue Haemorrahage Fever secara otomatis untuk pengodean diagnosis akan muncul melalui sistem informasi rumah sakit tanpa melihat pemeriksaan penunjang dari rekam medis pasien tersebut. Tabel 2. Ketepatan Pengodean Diagnosis DHF Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Valid Cumulative Valid Tepat 77 78,6 78,6 Tidak Tepat 21 21,4 21,4 Total 98 100,0 100,0 Sumber : Data Primer Tabel 2. Menjelaskan bahwa hasil langkah-langkah dikategorikan menjadi dua tepat dan tidak tepat, dari 98 rekam medis pasien rawat inap yang dari ruang perawatan dilakukan pengodean diagnosis untuk kasus tersebut. Diperoleh hasil bahwa 78. 6% rekam medis pasien rawat inap kasus dengue haemmoragic fever tepat dan sesuai dengan pemeriksaan klinis untuk penentuan kode diagnosis. Sedangkan terdapat 21. 4% rekam medis rawat inap kasus dengue haemorrhagic tidak tepat dan tidak sesuai dengan pemeriksaan klinis untuk penentuan kode diagnosis. Adapun pemeriksaan klinis sebagai berikut : Dengue Haemorrahage Fever Grade I-IV Prosedur langkah-langkah diagnosis menggunakan ICD-10 Volume 1 dan Volume 3. Dari tabel 1 kesesuaian prosedur pengodean diagnosis dengue haemorrage fever ditemukan ketidaksesuai dalam menentukan kodefikasi penyakit disebabkan oleh petugas sudah mengetahui kode diagnosis, merasa terlalu lama karena kode diagnosis sudah sering dikoding dan terbantu oleh sistem informasi rumah sakit. dengan mengunakan 9 tahap pengodean yang sesuai dengan ICD-10 Volume 2 diantaranya : Tentukan tipe pernyataan yang akan dikode dan lihat pada indeks alfabet yang sesuai. ika pernyataan adalah penyakit atau cedera atau kondisi lain diklasifikasikan pada chapter I-XIX atau XXI, rujuk pada seksi I indeks alfabet. Jika pernyataan adalah sebab diklasifikasikan pada chapter XX, rujuk seksi II). Cari lead terms. Untuk penyakit dan cedera biasanya merupakan kata benda dari kondisi patologi. Walaupun, beberapa kondisi menunjukan suatu kata sifat atau eponym yang termasuk pada indeks. Baca dan ikuti catatan yang ada dibawah lead terms. Baca kata yang terdapat dalam parentheses setelah lead terms . ni tidak dapat berpengaruh pada code numbe. seperti juga untuk terminologi di bawah lead terms . ni dapat berpengaruh pada code numbe. , hingga kata yang menunjukkan diagnosis yang dimaksud ditemukan. Ikuti secara hati-hati cross-reference . ee dan see als. yang terdapat pada indeks. Rujuk pada daftar tabulasi untuk kesesuaian nomer kode yang Catatan kategori 3 karakter dalam indeks dengan dash pada posis ke-4 berarti bahwa kategori 3 karakter dapat dilihat pada volume 1. Selanjutnya, perincian dapat dilihat dari posisi karakter tambahan yang tidak diindeks, jika digunakan dapat dilihat pada volume I. Ikuti inclusion dan exclusion dibawah kode atau dibawah chapter, block atau diawal kategori. Tetapkan kode diagnosis (WHO, 2. Berdasarkan hasil analisis di atas untuk mendapatkan kode diagnosis yang akurat menerapkan langkah-langkah pengodean diagnosis sesuai ICD-10 volume 2 dan perlu adanya pelatihan tentang koding agar menunjang pengetahuan mereka dalam menggunakan ICD-10 dan mengetahui ketentuan-ketentuan yang ada di dalam ICD-10 yang digunakan sebagai dasar melakukan pengkodean diagnosis pasien. Ketepatan pengodean diagnosis di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama terdapat penentuan kode diagnosis yang tepat sebanyak 78,6% Sebanyak 77 rekam medis pasien rawat inap dan tidak tepat sebanyak 21. 4% atau 21 rekam medis pasien rawat inap disebabkan karena ketidaksesuai antara diagnosis dan pemeriksaan klinis pada kasus Dengue Haemorragic Fever. Ketepatan pengkodean diagnosis yang benar, lengkap, dan sesuai Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dengan ketentuan yang berlaku. Kode yang dihasilkan harus tepat (R et al. , 2. karena ketepatan data diagnosis sangat krusial di bidang manajemen data klinis, penagihan kembali biaya, serta hal-hal yang berkaitan dengan asuhan dan pelayanan Kesehatan (Hatta, 2. Dalam pengkodean diagnosis Dengue Haemorragic Fever harus memeperhatikan kesesuaian antara kode diagnosis dengan diagnosis utama yang dituliskan oleh dokter pada rekam medis pasien dan hasil pemeriksaan klinis. Penentuan diagnosis Dengue Haemorragic Fever apabila memenuhi dua krteria klinis dan dua kriteria Sehingga sangat penting bagi petugas koding untuk melihat dengan cermat hasil pemeriksaan yang dituliskan oleh dokter dan hasil pemeriksaan laboratorium dalam penetuan kode Dengue Haemorragic Fever. Kode diagnosis Dengue Haemorragic Fever dalam buku ICD-10 adalah A91 yang terdapat pada rentang blok A90-A99 (Arthropod-borne viral fevers and viral haemorrhagic fever. dalam bab I (Certain infectious and parasitic disesase. pada ICD-10 Volume 19. Berikut adalah salah satu kasus rekam medis rawat inap yang tidak tepat di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama : Anamnesis Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu, mimisan dengan hasil labortorium Hemoglobin 11,8 g/dl. Leukosit 2. 900/mm 3. Eritrosit 4. 000/mm. Hematokrit 32,4%. Trombosit 000/mm3. Dokter mendiagnosis Dengue Haemorragic Fever. Coder rumah sakit melakukan pengodean dengan A91 Seharusnya A90 berdasarkan . emeriksaan menunjukkan penurunan jumlah leukosit tapi nilai trombosit tetap normal dan kadar hematokrit tidak meningkat. Meskipun pasien mengalami demam tanpa disertai dengan mimisan, diagnosis ini tetap tidak bisa diberi kode diagnosis Dengue Haemorragic Fever menunjukkan satu gejala laboratoris. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. Sehingga kode yang digunakan di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama tidak tepat karena tidak sesuai dengan hasil Seharusnya diagnosis tersebut dikode dengan A90, yaitu demam dengue karena tidak memenuhi syarat penentuan diagnosis Dengue Haemorragic Fever. Selanjutnya anamnesis Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam sejak 6 hari yang lalu Hasil laboratorium Hemoglobin = 12,0 g/dl. Leukosit 120/mm3. Eritrosit 000/mm3. Hematokrit 32,1%, Trombosit 000/mm Dokter mendiagnosis Dengue Haemorragic Fever. Koder rumah sakit melakukan pengodean dengan A91 Seharusnya A90 Namun, laboratorium . emeriksaan darah lengka. tidak menunjukkan pasien mengalami Dengue Haemorragic Fever dilihat dari nilai trombosit dan leukosit yang masih normal dan kadar hematokrit yang tidak meningkat. Selain itu, pasien hanya mengalami demam tanpa disertai tanda-tanda perdarahan seperti ptekie atau mimisan. Sehingga kode yang digunakan di di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama tidak tepat Seharusnya diagnosis tersebut dikode dengan A90, yaitu demam dengue karena tidak memenuhi syarat penentuan diagnosis Dengue Haemorragic Fever. Menurut Ariani . Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu Aesatunya manifestasi perdarahan ialah uji bendung. Derajat II Seperti pada derajat satu, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarah lain. Derajat i Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun . mmHg atau kuran. atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah. Derajat IV Syok berat . rofound shoc. , nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. Tingkat ketepatan kode diagnosa dikategorikan menjadi dua kategori yaitu tepat dan tidak tepat (WHO,2. Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dikatakan tepat apabila kode diagnosa yang ditetapkan oleh tenaga koder sesuai dengan kaidah dan ketentuan pemberian kode diagnosa berdasarkan ICD 10. Sedangkan dikatakan tidak tepat apabila kode yang ditetapkan oleh tenaga koder tidak sesuai dengan kaidah dan ketentuan pemberian kode diagnosa ICD 10 berdasarkan dokumen medis yang terdapat pada rekam medis (WHO, 2. Keakuratan kode diagnosis untuk Jamkesmas merupakan ketepatan pemberian kode ICD Kecepatan dan ketepatan pengkodean kepada pelaksana . dalam menetapkan diagnosis, tenaga rekam medis . sebagai pemberi kode diagnosis, dan tenaga kesehatan lainnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Meilany, et al . bahwa tingkat ketepatan pemberian kode diagnosa DBD 6% atau 5 rekam medis sedangkan kode yang tidak tepat mencapai 4% atau sebanyak 4 rekam medis dari 9 rekam medis pasien DBD. ketepatan hasil pemeriksaan klinis diagnosa DBD terdapat 5 6% yang tepat sedangkan terdapat 4 4% dokumen rekam medis DBD yang tidak tepat. untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan kesesuaian pemeriksaan klinis dengan ketepatan kode diagnosis demam berdarah diperoleh hasil non-parametrik menggunakan uji korelasi KendallAos tau_b. yaitu p=0. 025<0. 05 artinya Ho ditolak dan H1 atau Auada hubungan pemeriksaan klinis dengan ketepatan kode diagnosis demam berdarahAy. Ketidaktepatan kode diagnosis Dengue Haemorragic Fever Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama berdampak pada pelaporan data morbiditas dan mortalitas kepada pemerintah. Informasi Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 1 (Maret 2. kepentingan manajemen pelayanan pasien, pengalokasian sumber daya, atau evaluasi dan pengkajian untuk program kesehatan masyarakat yang baru. Namun, apabila informasi morbiditas yang disajikan tidak sesuai, maka akan pengalokasian sumber daya. Misalnya, karena di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama terjadi banyak kasus Dengue Haemorragic Fever maka sebagian besar dikhususkan untuk penanganan penyakit Dengue Haemorragic Fever. Oleh karena itu, sangat penting bagi petugas koding untuk mengikuti prosedur pengkodean berupa sembilan langkah dasar dalam pentuan kode diagnosis penyakit yang berpedoman pada buku ICD-10 dan menambah pengetahuan dalam menganalisis hasil pemeriksaan laboartorium sehingga dapat menghasilkan kode diagnosis Dengue Haemorragic Fever menghasilkan informasi data morbiditas yang relevan. Simpulan dan Saran Prosedur pengodean diagnosis yang dilakukan oleh coder Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama sesuai dengan 8 . tahapan pengodean diagnosis menurut ICD-10 Volume 2 disebabkan karena banyaknya rekam medis dan sudah adanya sistem informasi di rumah sakit perlu adanya pelatihan tentang koding agar menunjang pengetahuan mereka dalam melakukan pengodean diagnosis menggunakan ICD-10 dan mengetahui ketentuan-ketentuan yang ada di dalam ICD-10 yang digunakan sebagai dasar melakukan pengkodean diagnosis pasien. Ketepatan pengodean diagnosis yang dilakukan oleh coder tepat sebanyak 78,6% Sebanyak 77 rekam medis pasien rawat inap dan tidak tepat sebanyak 4% atau 21 rekam medis pasien rawat inap disebabkan karena ketidaksesuai antara diagnosis dan pemeriksaan klinis Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. pada kasus Dengue Haemorragic Fever. Ketepatan pengodean diagnosis sangat berpengaruh terhadap laporan morbiditas dan Pembiayaan Klaim Jaminan kesehatan nasional (JKN). Koding yang tepat dapat berdampak bagi kesajahteraan rumah sakit Singaparna Medika Citrautama. Ucapan Terima Kasih Pada Kesempatan ini kami peneliti ingin mengucapkan terimakasih kami sampaikan kepada segenap perangkat Rumah Sakit Umum Singaparna Medika Citrautama kesempatan untuk melakukan penelitian dan taklupa pula kami sampaikan terima kasih kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yang sudah menfasilitasi kami untuk melakukan penelitian menggunakan DIPA Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Tahun 2023. Daftar Pustaka