Resensi Buku Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 1 Nomor 1 (Oktober 2. PENDAMPING SPIRITUAL Chaplaincy Kekristenan Menyuarakan Sehat-Aman-Sejahtera di Luar Tembok Gereja Judul Buku : Pendamping Spiritual: Chaplaincy Kekristenan Menyuarakan Sehat-AmanSejahtera di Luar Tembok Gereja Penulis : Rasid Rachman Bahasa : Indonesia ISBN : 978-623-415-240-1 Terbit : 2024 Ukuran : 15 x 23 cm Tebal : xii 94 halaman Penerbit : BPK Gunung Mulia dan STFT Jakarta PAULUS EKO KRISTIANTO Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta paulusekokristianto12@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Kajian irisan pendamping spiritual dan chaplaincy dapat dikatakan langka di Indonesia. Apalagi, ini diuraikan dengan mempertimbangkan praksis. Kalaupun ada, bisa keduanya di bahas terpisah. Menariknya. Rasid Rachman menggunakan istilah Aupendamping spiritualAy guna menggambarkan praksis chaplaincy (Rachman 2024:vi. Hal ini dibahas dalam buku Pendamping Spiritual: Chaplaincy Kekristenan Menyuarakan Sehat-Aman-Sejahtera di Luar Tembok Gereja. Buku ini lahir dari orasi ilmiahnya di Dies Natalis ke-90 STFT Jakarta. Rachman memberikan titik pijak menarik di buku ini. Chaplain bisa memiliki perbedaan dengan pendeta khusus. Chaplain tidak terikat dengan gereja dan inisiator kehadirannya itu dari institusi, sedangkan pendeta khusus jelas terikat dengan gereja (Rachman 2024:. Kemudian, di luar gereja perlu dimaknai menunjukkan keberadaan pendamping spiritual itu bukan pengutusan dari dalam gereja ke luar. Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Namun, gereja masih berperan sebagai pintu masuk chaplain di Indonesia (Rachman 2024:. Rupanya, sebutan pendamping spiritual mengarah pada praktik masa kini, contohnya pendeta rumah sakit, pendeta tentara, pembimbing rohani, pendeta mahasiswa, pendeta tugas khusus. Sebutan tersebut disesuaikan dengan konteks pelayanan (Rachman 2024:. Rachman menguraikan buku ini melalui enam bab. Bab pertama . ehadiran chaplain dan perkembanganny. menawarkan perjalanan chaplain yang dipotret dari Belanda di HindiaBelanda abad ke-17-19 (Rachman 2024:5Ae. Bila ditelaah lebih jauh. Rachman menuliskan hal menarik berkenaan gagasan awal chaplain berkenaan dengan perayaan-perayaan ibadah di kapel dan beberapa aktivitas anggota keluarga pemilik kapel tersebut (Rachman 2024:. Baru kemudian. Rachman menerangkan dinamika istilah chaplain, chaplaincy, dan pendamping spiritual (Rachman 2024:. Guna menerangkan dinamika ketiganya yang di luar gereja. Rachman menerangkan tradisi ziekentrooster atau kanbezoeker sebagai rohaniawan di luar gereja di Hindia Belanda (Rachman 2024:9Ae. Rachman menilai ziekentrooster . enghibur orang saki. dekat dengan chaplain yang menjalankan chaplaincy di luar gereja yang berlandaskan belaskasihan dan kepedulian dengan mengalirkan hospitalitas dan keterbukaan (Rachman 2024:. Bab kedua . elaskasihan dan kepedulia. menawarkan keduanya sebagai hal mendasar yang perlu dimiliki chaplain dengan belajar dari Yunus. Santo Martin Tours, dan Bunda Teresa (Rachman 2024:17Ae. Pada titik ini. Yunus digambarkan mengerjakan chaplaincy meskipun tidak semulus yang dibayangkan layaknya seorang nabi (Rachman 2024:17Ae. Chaplaincy yang dilakukan Yunus menggambarkan peran pendamping spiritual yang mana menyebarkan dan memberlakukan irasionalitas belaskasihan Allah yang melampaui segala akal (Rachman 2024:. Kemudian. Tours digambarkan melakukan Tindakan belas kasihan dengan membelah mantel tentaranya lalu sebelahnya diberikan kepada pengemis yang telanjang (Rachman 2024:. Tindakannya diyakini selaras dengan apa yang dilakukan orang Samaria (Lukas 10:25-. (Rachman 2024:21Ae. Kemudian. Teresa digambarkan melayani orang miskin, termarginalkan, tidak diinginkan (Rachman 2024:27Ae. Tindakan Teresa dilanjutkan Ordo Missionaries of Charity (Tarekat Misionaris Cintakasi. Bila ditelusuri, sikap Teresa dan ordo tersebut memungkinkan hadirnya keheningan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam berkarya (Rachman 2024:29Ae. Bab ketiga . ospitalitas dan keterbukaan mengikuti belaskasihan dan kepedulia. menawarkan hospitalitas dan keterbukaan yang mengikuti belaskasihan dan kepedulian. Ini digambarkan melalui wujud hospitalitas Abraham. Lot, dan Santo Benediktus Nursia (Rachman 2024:31Ae. Hospitalitas Abraham dan Lot dinyatakan atas sikapnya kepada tamu yang datang ke mereka (Rachman 2024:33Ae. Abraham menjamu mereka dengan dadih, susu, daging anak Lot menjamu mereka dengan menyajikan roti tak beragi dan mengajak tamu bermalam (Rachman 2024:34Ae. Benediktus Nursia menyediakan ruang perlindungan kepada orang Paulus Eko Kristianto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies asing (Rachman 2024:32Ae. Dari semua refleksi terhadap mereka. Rachman menyatakan bahwa bagi pendamping spiritual, chaplaincy merupakan tindakan menyampaikan budaya hospitalitas dan keterbukaan kepada orang asing dan tamu. Ini dilakukan melalui berurusan dengan orang asing, baik kebutuhan maupun hak asasinya, di setiap sudut keseharian (Rachman 2024:. Bab keempat . endamping spiritual di Indonesi. menawarkan potret chaplaincy di Indonesia dengan berbagai dinamikanya berawal dari rohaniawan tentara hingga memasuki paruh kedua abad ke-20 terselenggara di rumah sakit dan universitas (Rachman 2024:45Ae. Chaplaincy kurang begitu dikenal di Belanda. Amerika. Inggris. Australia, dan Irlandia sebelum abad ke-16 (Rachman 2024:45Ae. Dalam konteks Indonesia, chaplaincy mulai dikerjakan di paruh pertama abad ke-20. Ini setara dengan pelayan pendeta bantu, misionaris, zendeling, pendita atau toewan pendhita (Rachman 2024:. Memasuki paruh kedua abad ke-20, pelayanan pendamping spiritual mulai berkembang yang tidak hanya memelihara kerohanian, tetapi juga menyiarkan spiritualitas, nilai, atau filosofi kehidupan di lapangan pelayanan (Rachman 2024:. Rachman menguraikan pengalaman Dharma Angkuw selaku pendeta rumah sakit yang dapat menjadi teladan (Rachman 2024:51Ae. Tidak hanya itu, dinamika chaplaincy di Indonesia turut ditampilkannya (Rachman 2024:53Ae. Bab kelima . enyiarkan sehat-aman-sejahter. menawarkan sehat-aman-sejahtera perlu dihadirkan di dunia chaplaincy. Kehadiran ini ditopang dengan meneladan dari Yesus, integrasi pendamping spiritual dengan ibadah dan ritus, dan berbagai dinamikanya (Rachman 2024:62Ae. Meneladan Yesus berarti pendamping spiritual hanya orang asing yang berperan menyambut tamu-tamu dengan hospitalitas dan keterbukaan berdasarkan belaskasihan dan cinta kasih (Yohanes 17:9-. (Rachman 2024:63Ae. Adapun, sehat-aman-sejahtera bagi Rachman sejajar dengan wellbeing (Rachman 2024:65Ae. Kemudian dalam praktiknya, pendamping spiritual dekat dengan ibadah dan ritus. Pada pokok ini. Rachman memberikan pemahaman bahwa peran pendamping spiritual ialah mengimplementasikan nilai belas kasih, kepedulian, hospitalitas, dan keterbukaan yang mana dapat berbentuk ritus atau nonritus di lapangan pelayanan (Rachman 2024:69Ae. Adapun, hulu, alir, dan hilir pendamping spiritual yaitu panggilannya itu sebagai hulu. shepherding, kurikulum seminari, dan kolega sebagai alir. dan liturgi penetapan sebagai hilirnya (Rachman 2024:72Ae. Bab keenam . menawarkan empat dinamika chaplaincy yang perlu digumulkan yaitu pengalaman chaplain, metafora gembala, pendamping spiritual dan chaplain, dan urgensi pendamping spiritual (Rachman 2024:79Ae. Bagi peresensi, buku ini memiliki dua hal menarik dan komprehensif yang dapat digumulkan lebih lanjut. Pertama, chaplaincy digambarkan sebagai pendamping spiritual. Peresensi setuju bila keduanya digabungkan berkenaan peran chaplain di berbagai konteks. Ini selaras dengan Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. peta yang ditawarkan dalam buku A Handbook of Chaplaincy Studies: Understanding Spiritual Care in Public Places yang mana menunjukkannya dalam konteks pelayanan kesehatan (Swift Swinton and Kelly 2. , militer (Coulter and Legood 2016. Totten 2. , penjara (Dearnley Kavanagh 2. , dan pendidikan (Clines 2016. Neave 2. Kedua. Rachman menunjukkan chaplaincy didorong masuk ke dalam persoalan orang dengan gangguan jiwa, orang dengan berkebutuhan khusus. LGBTIQ , rumah perlindungan bagi umat terluka dan terancam, dan shelter bagi anak jalanan (Rachman 2024:. Meskipun, sedihnya, isu-isu tidak dibedah penulis mendalam. Peresensi menimbang memang sudah sepantasnya chaplaincy hadir di ruang publik sebagaimana gagasan Alan Billings yang menyuarakan nilai Kristiani di sana (Billings 2. Tidak hanya itu, chaplaincy turut perlu dikembangkan dalam perspektif kontemporer dan global yang mana memungkinkan hadirnya dimensi keberagaman iman . dan sekular (Ngambi 2024. Susan 2. , misi (Hatton 2. , dan penelitian dan praktik reflektif. Pada akhirnya dengan melihat kontribusi yang dikerjakan Rachman, peresensi mempertimbangkan buku ini layak dibaca, digumulkan, dan dikembangkan bagi setiap dosen, mahasiswa, dan pegiat pendamping spiritual atau chaplain di berbagai konteks yang ada. Kontribusi ini dapat mempertajam pengalaman Anda semua. Daftar Pustaka