VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 THE INFLUENCE OF THE PROGRESS OF TOURISM OBJECTS TOWARDS THE LEVEL OF ENGLISH PROFICIENCY OF MEDAN COMMUNITIES PENGARUH KEMAJUAN OBJEK PARIWISATA TERHADAP TINGKAT KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS MASYARAKAT MEDAN Paula Melissa¹, Maurenta Bunga², Fathiha Malika Shakira³ English Literature Department, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Sumatera Utara Jl. Dr. Mansyur No.9, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20222 Email: melissapaula65@gmail.com¹, maurentasrg@gmail.com², thihaadesu@gmail.com³ Abstract Tourism is a travel activity carried out by an individual or a group of people from the placeof origin to the destination. Tourism itself has an important influence in many aspects somewhere. Starting from the economic, social, educational, governmental or institutional aspects as well as in language. The language itself is one of the aspects that encourages local entertainment due to the large number of foreign tourists visiting the new tourist sites. The aim of the following research is to find out and observe the development of English-speaking skills of Indonesians in the tourism industry. The research method used is qualitative method by reviewing previous research (literature review). Previous research showed the results of significant English development of the Indonesian people due to the number of foreign tourists who come to travel and make the local people learn to know what they want to know from the tourist destination. This research is expected to be new information for tourists and other researchers. Keywords: tourism, languages, literature review Abstrak Pariwisata merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dari tempat asal ke tempat tujuan wisata. Pariwisata sendiri memberi pengaruh penting dalam banyak aspek disuatu tempat. Mulai dari aspek perekonomian, sosial, pendidikan, pemerintah atau lembaga serta dalam bahasa. Bahasa sendiri merupakan salah satu aspek yang menjadi penunjang untuk masyrakat lokal dikarenakan banyaknya turis asing yang berkunjung ke tempat wisata baru. Tujuan dari penelitian berikut ialah untuk mengetahui dan mengobservasi pengaruh perkembangan pariwisata Kota Medan terhadap tingkat kemampuan bahasa inggris masyarakat. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif dengan meninjau penelitian sebelumnya (literature review). Penelitian sebelumnya menunjukkan hasil perkembangan berbahasa Inggris yang signifikan dari masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota Medan, dikarenakan banyaknya turis asing yang datang untuk berwisata dan membuat masyarakat lokal belajar untuk mengetahui apa yang mereka ingin ketahui dari tempattujuan wisata. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi baru bagi para pelaku pariwisatamaupun para peneliti lainnya. Kata kunci: pariwisata, bahasa, literature revie 203 VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 Pendahuluan Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang kaya akan sumber daya berupa keindahan alamnya yang indah. Keindahan alam ini berasal dari posisi strategis Indonesia yang mana memiliki banyak pulau-pulau, daratan, dan perairan. Ini menyebabkan perbandingan wilayah perairan dan daratan Indonesia adalah 2:3, dan Indonesia resmi ditetapkan sebagai negara kepulauan berdasarkan hasil Deklarasi Djuanda (1957) dan Konvensi Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS). Dengan melihat peluang ini, pemerintah gencar mendorong agar pariwisata Indonesia kian dikembangkan dan dikenal oleh dunia. Pastinya ini adalah peluang bagi negara kita karena kita memiliki sumber daya alam yang indah, suku budaya dan adat istiadat yang beragam dan masih dilestarikan oleh masyarakat sampai saat ini. Hal-hal tersebut menjadi daya tarik yang mana jika dikembangkan dengan baik dan benar, maka bisa menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang mengunjungi negarakita. Pariwisata dapat diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan secara individu atau kelompok dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan sederhana yaitu memberikan kesenangan dan hiburan (Sinaga, 2010). Pendapat lain juga dikemukakan oleh Koen (2009), yangmenyatakan bahwa pariwisata adalah perjalanan sementara dari suatu tempat ke tempat lain tanpamenetap atau mencari nafkah, tetapi hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu, menghabiskan waktu luang dan untuk keperluan lain. Dari pengertian di atas, kita tahu bahwa kegiatanpariwisata itu sifatnya sementara dimana pelaku wisata ingin mendapatkan sesuatu berupa kepuasan dan pengalaman dari kegiatan yang dilakukannya. Oleh sebab itu, tempat-tempat wisata dikatakan berhasil diukur dari kemampuannya memenuhi ekspektasi pengunjung yang datang. Pariwisata saat ini menjadi salah satu industri prioritas pemerintah dalam hal pembangunannya. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mencatat, sejak tahun 2013, industri pariwisata menduduki peringkat keempat setelah minyak bumi, batubara, dan kelapa sawit dalam hal kontribusi terhadap devisa negara (Damayanti, 2019). Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah devisa sektor pariwisata pada tahun 2019 adalah 16,91 miliar US$, untuk tahun 2020 ada 3,31 miliar US$, dan tahun 2021 ada 0,54 miliar US$ (source: Bank Indonesia). Jumlah devisa sektor pariwisata adalah penerimaan devisa dari sektor pariwisata yang berasal dari kunjungan wisatawan mancanegara. Penerimaan devisa dari sektor pariwisata mencakup, namun tidak terbatas pada penerimaan dari jasa perjalanan (travel) dan jasa transportasi penumpang (passenger transport). Dari data tersebut, dapat kita lihat bahwa terjadi perubahan angka yang cukup signifikan dalam 3 tahun terakhir, hal ini disebabkan karena terjadinya pandemic COVID-19 yang melanda seluruh dunia pada awal 2020. Dan negara-negaradi dunia umumnya mulai membuka kembali sektor pariwisatanya setelah tahun 2021, termasuk Indonesia. Itulah mengapa pada saat pandemi, negara kehilangan sebagian besar pendapatannyadari pariwisata dan setelah WHO secara resmi mengumumkan bahwa pandemi berakhir, pemerintah Indonesia kembali gencar membuka dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Kota Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia dan termasuk sebagai kota wisata yang popular di Indonesia (Wikipedia: Visualisasi Data Kependudukan, 2022). Sebenarnya, kota Medan sama dengan kebanyakan ibukota provinsi lainnya. Adapun hal-hal yang menjadi daya tarik dari kota Medan adalah karena suku masyarakatnya beragam dan banyakjenis kuliner yang bisa kita jumpai. Selain itu, Berastagi, Kabanjahe yang hanya sekitar 3 jam 204 VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 dari Medan juga menjadi alasan mengapa Medan ramai dikunjungi. Alasannya adalah mau tidakmau, wisatawan yang hendak mengunjungi Berastagi harus melewati kota Medan terlebih dahulu. Sama halnya dengan Belawan, yang terletak di perbatasan kota Medan sekaligus sebagaidaerah pelabuhan yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Karena adanya aktivitas transportasi perairan, maka Belawan menjadi gerbang masuk wisatawan ke kota Medan.Namun terlepas dari itu, Kota Medan punya daya tariknya sendiri menjadi sebuah kota wisata. Banyak tempat-tempat yang dapat dikunjungi di Medan. Ada Istana Maimun, istana KesultananDeli yang menjadi ikon Kota Medan; Tjong A Fie Mansion sebagai wisata sejarah; pengkaran buaya Asam Kumbang; Rahmat International Wildlife Museum Galery yang menyimpan hewan- hewan buruan yang telah diawetkan; Velangkanni sebagai wisata religi; dan tempat-tempat wisata modern lainnya seperti mall dan wahana air. Tempat-tempat wisata ini tentunya sangat diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat, karena mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi Kota Medan. Selain itu, masyarakat lokal juga terbantu dengan adanya tempat-tempat wisata seperti yang disebutkan di atas, karena mendorong perekonomian masyarakat setempat melalui UMKM dan membuka lapangan kerja baru. Namun begitupun, pengelolaan sektor pariwisata tidak semudah yang kita pikirkan. Banyak yang hal harus diperhatikan jika hendak menjalankan sebuah usaha pariwisata. Mulai dari ketersediaan dan kelayakan tempat, dana pengembangan tempat, sampai kesiapan stakeholder dengan peranan dan tanggung jawab masing-masing. Stakeholder meliputi pemerintah serta masyarakat setempat. Peran masyarakat setempat ialah sebagai tuan rumah yangmenyambut kedatangan wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke daerah mereka. Masyarakat Medan harus mampu menyediakan unsur sapta pesona, yaitu tujuh unsur yang terkandung di dalam setiap produk wisata serta dipergunakan sebagai tolok ukur peningkatan kualitas produk pariwisata. Sapta Pesona terdiri dari unsur-unsur Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan. Salah satu unsur sapta pesona adalah keramahan yang erat kaitannya dengan komunikasi. Komunikasi penting untuk membangun kesan yang baik antara masyarakat Medan dengan wisatawan yang datang. Jika berkomunikasi dengan sesama wisatawan lokal, mungkin masyarakat setempat tidak akan kesulitan karena kita mempunyai bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Namun, lain halnya berkomunikasi dengan wisatawan asing. Kenyataannya, masyarakat tidak siap dengan kemampuan berbahasa Inggris sebagai standar bahasa asing. Akibatnya, masih sering terjadi kesalahpahaman bahasa antara masyarakat lokal dengan wisatawan asing yang mengakibatkan wisatawan asing kebingungan untuk mendapatkan suatu informasi. Hal ini tentunya berpengaruh pada tingkat kepuasan wisatawan yang berkurang terhadap daerah tersebut. Oleh karena itu, perkembangan sektor pariwisata berdampak besar pada kemampuan masyarakat lokal untuk berbicara dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Namun, banyak komunitas lokal masih kekurangan kemampuan berbahasa Inggris, terutama dalam hal kosakata dan ekspresi, yang dapat menghambat mereka untuk berpartisipasi dalam industri pariwisata dan memanfaatkan keuntungan ekonominya. Oleh karena itu, berbagai program dan inisiatif penting untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat lokal, terutama mereka yang bergerak dalam industri pariwisata. Program-program ini dapat berupa kelasbahasa, sesi pelatihan, dan lokakarya, serta penyediaan fasilitas dan sumber daya yang memadaiuntuk mendukung pembelajaran bahasa. Dengan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat lokal, mereka akan dapat berpartisipasi lebih baik dalam industri pariwisata. Dari uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Medan dapat mendorong kemajuan pariwisata di kota Medan. 205 VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 Selain itu, penelitian ini akan melengkapi sumber acuan dan literatur dari penelitian-penelitian terdahulu. Secara praktis, penelitian ini bertujuan sebagai sumber evaluasi bagi pemerintah, terutama, dan menyediakan saran serta masukan untuk membenahi pariwisata kota Medan kearahyang lebih baik lagi. Metode Sumatera Utara dikenal dengan banyaknya atraksi pariwisata yang cukup dikenal hinggake taraf internasional. Seperti Danau Toba, Pulau Samosir, Istana Maimun, Masjid Raya Medan dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Sumatera Utara, termasuk destinasi pariwisata yang akan menjadi pilihan bagi beberapa pelaku pariwisata baik dari dalam maupun luar negeri. Dikarenakan banyaknya turis asing yang datang ke tempat tujuan pariwisata,mengharuskan masyarakat lokal untuk menguasai atau memahami bahasa internasional yang digunakan di seluruh dunia yaitu bahasa Inggris. Dalam penelitian ilmiah ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data dalam bentuk data sekunder (literature review). Penggunaan penelitian sebelumnya dalam jurnal ini akan menjadi poin penting dalam pelaksanaan penelitian. Pengumpulan data akan dilakukan dengan mengamati hasil observasi lapangan dalam penelitian sebelumnya mengenai penggunaan atau kemajuan berbahasa Inggris dalam industri pariwisata di Indonesia sendiri. Hasil penelitian akan dibuat dalam bentuk bacaanatau tinjauan (review) dari jurnaljurnal sebelumnya. Atas dasar keinginan untuk mengetahui lebih lanjut, apakah masyarakat Indonesia mampu menggunakan, memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris secara dasar. Peneliti melakukan tinjauan dari beberapa jurnal sebelumnya yang sudah melakukan observasi secara langsung ke tempat-tempat tujuan pariwisata di Sumatera Utara ataupun di Indonesia secara keseluruhan. Hasil dan Pembahasan Sama seperti kajian-kajian observasi pada umumnya, penelitian-penelitian analitik tentang perkembangan objek wisata di Indonesia sudah pernah diselenggarakan sebelumnya. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut menarik satu kessimpulan bahwa perkembangan objek wisata di Indonesia telah mengalami kemajuan dari waktu ke waktu seiring dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang. Di kota Medan sendiri, berdasarkan hasil penelitian dari jurnal “Analisis Pengembangan Pariwisata Di Kota Medan” (Puspita Sari, 2015), menujukkan bahwa pengembangan pariwisata di Kota Medan ditandai dengan telah tersedianya unsur-unsur pariwisata meliputi politik, pemerintahan, atraksi, aksesibilitas, sarana dan prasarana, pemasaran, ramah tamah, dan SDM Kota Medan sebagai pelaku utama kegiatan wisata di Kota Medan. Dengan adanya hal-hal yang menandai kemjuan pengembangan pariwisata di Kota Medan tersebut, maka kemungkinan masuknya jumlah wisatawan asisng maupun lokal juga kian menunjukkan tingkatnya. Adanya kemajuan pada objek wisata, maka ketertarikan minat wisatawan (khusunya wisatawan asing) terhadap objek wisata tersebut akan semakin terbuka peluangnya. Hal ini lah yang disebut dapat meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan aing ke objek-objek wisata yang ada di Kota Medan. Kedatangan wisatawan asing ke suatu objek pariwisata di suatu daerah memberikan pengaruhpengaruh terhadap daerah tersebut, khususnya kepada masyarakat lokal. Pengaruh- pengaruh wisatawan aing tersebut berdampak kepada setiap segi kehidupan masyarakat lokal, baik dari segi ekonomi maupun sosial budaya, baik dampak posistiif maupun negatifnya 206 VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 Menurut junal penelitian “Dampak Wisatawan Asing terhadap Perubahan Sosial Budaya Masyarakat”, berkembangnya pariwisata di tengah masyarakat membawa pengaruh terhadap kehidupan sosial budaya. Pariwisata selalumempertemukan dua atau lebih kebudayaan yang akan menghasilkan berbagai proses perubahan seperti akulturasi, dominasi,asimilasi, adopsi, adaptasi dan sebagainya. Dampak pariwisata terhadap perubahan sosial budaya masyarakat dapat dipilah menjadi dua yaitu dampak positif dan dampak negative, dimana dampak positifnya yaitu dengan adanya pariwisata telah membuka lapangan kerja barubagi masyarakat lokal yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi, mampu menguasai bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Bahasa Inggris sendiri dapat dikatakan memiliki peran yang penting dalam keberlangsungan di bidang pariwisata. Bahasa adalah kunci dari komunikasi, dan di dalam kegiatan wisata (khususnya wisata mancanegara) ada berbagai bahasa yang terlibat tergantung bahasa apa yang dibawa oleh wisatawan tersebut dari daerah asalnya. Walapun demikian, wisatawan bergantung kepada bahasa Inggris sebagai bahasa untuk berkomunikasi utamanya ketika berwisata ke sebuah negara yang bukan bagian dari dareah asalnya. Hal ini tentu juga menunjukkan peranan besar bahasa Inggris sebgai bahasa internasional resmi dan disepakati olehpenjuru dunia. Hardjono Rayner (2001) mengemukakan bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional sehingga menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Kita dapat melihat posisi bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dengan adanya penutur anglofon (penutur bahasa Inggris) yang tersebar di lima Benua. Bahasa Inggris tidak hanya digunakan oleh penutur anglofon, tetapi digunakan oleh masyarakat dunia khususnya masyarakat yang cenderung modern. Hal ini juga disebabkan adanya berbagai keunggulan dalam bahasa Inggris, antara lain yakni dalam kekayaan idiomnya (ungkapan khusus), yang lebih bervariasi dan selaluberkembang daripada bahasa eropa lainnya. Penguasaan bahasa Inggris bagi masyarakat di kawasan wisata memiliki beberapa peranan. Peranan-peranan tersebut diantaranya untuk promosi wisata ke luar negeri, untuk memberikan pelayanan reservasi dan akomodasi pemandu saat memandu wisatawan luar negeri(Setyanto, 2012). Kemudian, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional bisa menjembatani komunikasi yang interaktif antara masyarakat lokal dan pengunjung yang berasal dari luar negeri(Aulia et al, 2017). Oleh karena itu, penguasaan bahasa Inggris dapat mendukung komunikasi niaga, dan juga memberikan informasi positif tentang objek wisata itu sendiri. Dari pembahasan ini lah, kaitan antara pengaruh kemajuan objek pariwisata dan tingkat kemampuan bahasa Inggrismasyarakat lokal dapat ditarik kesimpulannya. Simpulan Dengan adanya kemajuan pada objek pariwisata, khususnya objek wisata di Kota Medan, ketertarikan wisatawan baik itu wisatawan asing maupun lokal juga terbuka peluang meningkatnya. Hal ini menunjukkan jika tingkat kedatangan wisatawan asing semakin meningkat, maka akan berpengaruh terhadap tingkatan berbahasa Inggris dari masyarakat lokalnya juga. Masyarakat lokal sebagai tuan rumah yang berperan menyambut tamu asing akansecara sadar meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka untuk meningkatkan kualitas bidang kepariwisaaan yang daerah mereka miliki. Dengan demikian, program peningkatan kemampuan berbahasa Inggris sering diterapkan, khususnya di bidang pendidikan bahasa. Walaupun dibeberapa kasus pengaruh dari kemajuan objek wisata yang mendatangkan banyak 207 VERNACULAR, Vol.3, No.2, Tahun 2024, 203-208 wisatawan asing ini membuat masyarakat lokal yang terbiasa berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka melalui jalur niaga menjadi teradaptasi dengan sendirinya. Komunikasi dapat dilakukan meskipun tanpa latar belakang pendidikan bahasa Inggris resmi yang dimiliki masyarakat lokal tersebut. Rujukan Angriani, S. and Sulistyani, A. (2019) ‘Segmentasi Pengunjung Objek WisataPulau Cinta Teluk Jering Kabupaten Kampar’, 6. Damayanti, Luh Sri.(2019). ‘Peranan Keterampilan Berbahasa Inggris Dalam Industri Pariwisata’ . Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management, 2(1), pp.71–82. Available at: https://doi.org/10.46837/journey.v2i1.42. Febriani, R. B., Rustandi, A., & Sugiarto, B. R. (2019). Meningkatkan KemampuanBahasa Inggris Anak Dan Remaja Pra-Sejahtera Untuk Mendukung Kegiatan Pariwisata Situ Lengkong Panjalu. Abdimas Galuh, 1(1), 94.https://doi.org/10.25157/ag.v1i1.2919 I. Rahadi, B. R. Nursaly, B. S. Handini, and H. Murcahyanto, “Penguasaan Bahasa Inggris Masyarakat dan Partisipasinya dalam Pengembangan Desa Wisata,” J. Educ. Instr. JOEAI, vol.4, no. 2, pp. 486–494, Dec. 2021, doi: 10.31539/joeai.v4i2.2827. Iskandar, R.A. (no date) ‘Peranan Pendidikan Bahasa Inggris DalamPengembangan Pariwisata Di Desa Mekarbuana Kecamatan Tegalwaru’, 2(1). Mody, M.A., Hanks, L. and Cheng, M. (2021) ‘Sharing economy research in hospitality and tourism: a critical review using bibliometric analysis, content analysis and a quantitative systematic literature review’, International Journal of Contemporary Hospitality Management. Mudea, S., Kaawoan, J. and Undap, G. (2017) ‘Strategi Dinas Pariwisata DalamMempromosikan Pariwisata Di Kota Bitung’, (2). Sari, P. P. (n.d.). Analisis Pengembangan Pariwisata Di Kota Medan. Yenni, E., Tenerman, T. and Sinaga, C.N.A. (2021) ‘Peningkatan Kemampuan Berbahasa Inggris Masyarakat Lokal terhadap Pariwisata Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan’, Bima Abdi:Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), pp. 83–87. Available at: https://doi.org/10.53299/bajpm.v1i2.78. ______‘Indonesia Kaya Potensi Kelautan dan Perikanan’. (2019). indonesiabaik.id. https://www.google.com/url?q=https://indonesiabaik.id/infografis/infografis-indonesiakaya-potensi-kelautan-dan-perikanan&usg=AOvVaw2IXTmz_qH4FEm8-RYLIwtb&hl=en_US _____‘Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 2 Februari 2022. 2022(Visual)’. ______Dampak Wisatawan Asing Terhadap Perubahan Sosial Budaya Masyarakat (Studi Padamasyarakat Di Kec. Lhoknga Kab. Aceh Besar. Available at: https://core.ac.uk/reader/141856120 208