Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Volume 14 No 3 Oktober 2018 Available online at: http://ejournal. id/index. php/JIKK/index HUBUNGAN ANTARA STATUS PEKERJAAN DENGAN KEMAMPUAN IBU DALAM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL OTONOMI PADA TODDLER Esti Widiani Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang Kota Malang. Indonesia email: diani. esti@gmail. Abstract Key mother's ability to Toddlers are the second stage of psychosocial development after the baby is in the age range of 18 months to 36 months. Failure to skip psychosocial autonomy versus hesitation or shame can be prevented by providing good The purpose of this study was to determine the relationship of work with the ability of the mother to stimulate psychosocial development of autonomy in infants. This study used an observational design using cross The research was conducted in Kemantren Village. Jabung District. Malang Regency. The technique used to take samples in this study was accidental sampling with a total sample of 168 respondents. The instrument used to measure the ability of the mother is a modification of the Care of Babies. HOME Inventory. The data analysis used was chi-square with no statistical results that correlated the employment status with the ability of the mother to stimulate psychosocial development of autonomy in infants with a value of p = 0. > 0. The recommended BKB (Toddler Family Developmen. group needs to be held in each Posyandu as a service center and learning center for mothers about early detection and stimulation of development masalah psikososial hanya 13 % saja yang mendapatkan penanganan. Anak yang tidak mampu mencapai perkembangan psikososial otonomi akan mengalami doubt and shame atau ragu-ragu dan malu (Sacco, 2013. Osborne, 2. Malu merupakan barometer emosional yang menjadi kuncidari orang merasalayakatau tidak di hadapan orang lain(Dickerson et al. Dickerson&Kemeny, 2004. Lewis. Lewis,1992. Tangney&Fischer, 1995 dalam Mills et al. , 2. Malumerupakan hal yang penting pada membantuuntuk memotivasiperilaku yang dapat diterimasecara sosial (Mills et al. dominan, hal tersebut bisa menjadikan perilaku individu yang maladaptif (Barrett. Lewis, 1992. Schore, 1996 dalam Mills et al. , 2. Malu pada akhirnya bisa menjadi faktor resiko terjadinya kecemasan PENDAHULUAN Toddler perkembangan psikososial kedua setelah infant dimana berada pada rentang usia 18 bulan sampai 36 bulan (Sacco,2013. Keliat. Perkembangan psikososial pada tahap ini disebut otonomi versus ragu-ragu dan malu . utonomy versus doubt and sham. (Sacco, 2. Usia toddler tidak semua mampu mencapai perkembangan psikososial otonomi ini dengan baik. Prevalensi masalah psikososial seperti gangguan emosional sebesar 10% dan gangguan tingkah laku pada anak sebesar 19 % (Jellinek et al. , 1999 dalam Polaha et al. , 2. Studi lain mengatakan bahwa prevalensi masalah psikososial pada anak usia 2-6 tahun sebesar 39,8% (Tarshis et al. , 2. Di Netherlands prevalensi anak yang mengalami masalah psikososial sebesar 8-9% (Kruizinga et al. Verhulst & Ende . dalam Vogels 2008 menemukan bahwa anak dengan Vol 14 No 3 dalam interaksi sosial pada anak termasuk didalamnya kecemasan berpisah . eparation anxiet. dengan orang tua (Mills, 2005 dalam Michail & Birchwood, 2. Prevalensi gangguan kecemasan pada anak-anak menurut Costello et al. , . Velting et , . dalam Drake & Ginsburg . sebesar 10%. Prevalensi separation anxiety anak pada studi yang lain ditemukan sebesar 4 % dan 50-75 % anak dengan separation anxiety disoders berasal dari status sosial ekonomi yang rendah (Masi et al. , 2. Menurut Shear et al. , . bahwa prevalensi anak- anak dengan separation anxiety disoders sebesar 4,1%. Faktor yang mempengaruhi gangguan perkembangan psikososial anak adalah pola asuh orang tua yang terlalu melindungi anak dan kurangnya stimulasi perkembangan psikososial otonomi yang tepat. Sebuah penelitian menemukan bahwa ibu yang terlalu melindungi anak usia 2-3 tahun akan berdampak negatif pada perkembangan sosial emosional anak (Cooklin et al. , 2. Penelitian lain menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan orang tua yang terlalu melindungi dan kurang mendapatkan kehangatan secara emosional, anak akan mengembangkan rasa takut dan cemas dalam aktivitas bersosialisasi (Bogels et al. , 2. Gere et al. , . dalam penelitiannya menemukan bahwa anak yang orang tuanya terlalu melindungi akan tumbuh menjadi anak yang memilki kecemasan. Anakyang dibesarkan dalam kondisi terlalu dilindungi oleh orang tua akan mengembangkan kecemasan berpisah dengan orang tuanya . eparation anxiet. (Ollendick & Benoit. Anak yang mengalami kecemasan mengalami gangguan mental di tahap perkembangan berikutnya (Biederman et al. Lewinsohn et al. , 2008 dalam Santucci & Ehrenreich-May, 2. Dalam penelitian lain dikatakan bahwa efek yang diakibatkan pada anak yang mengalami kecemasan berpisah adalah gangguan tidur (Oxford et al. Efek lain anak juga bisa mengalami penolakan sekolah . chool refusa. pada saat anak masuk usia sekolah. Penolakan sekolah dilaporkan pada sekitar 75 % dari anak-anak dengan kecemasan berpisah, dan kecemasan Hubungan antara status pekerjaan A 114 berpisah dilaporkan terjadi sampai dengan 80 % dari anak-anak dengan penolakan sekolah (Masi et al. , 2. Stimulasi memegang peranan penting Stimulasi merupakan rangsangan yang diberikan kepada anak oleh lingkungan, khususnya ibunya agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pemberian stimulasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor yang terpenting adalah faktor ibu karena ibu merupakan orang (Depkes. Stimulasi adalah cara terbaik untuk Stimulasi dapat diberikan setiap ada kesempatan bersama anak melalui kegiatan rumah tangga ataupun di luar rumah tangga. Stimulasi ini juga dapat dilakukan secara langsung oleh orang tua atau membuat lingkungan yang baik sehingga anak merasa nyaman mengeksplorasi diri terhadap lingkungannya . l Moussaoui & Braster. Ota & Austin, 2. Lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh pada kemampuan ibu untuk memberikan stimulasi pada anak, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar, cinta dan kasih sayang serta mempengaruhi kualitas interaksi anakorang tua ( Kartner et al. , 2. Lingkungan keluarga yang mempengaruhi salah satunya adalah status pekerjaan orang tua (Brown et , 2. Ibu yang bekerja akan memiliki waktu yang sedikit untuk berinteraksi dengan anak dan memberikan stimulasi dan ibu yang tidak bekerja memliki waktu berinteraksi dengan anak lebih banyak untuk memberikan Berdasarkan uraian di atas diperlukan penelitian mengenai AuHubungan antara status pekerjaan dengan Kemampuan Ibu Menstimulasi Perkembangan Psikososial Otonomi pada Anak ToddlerAy. METODE Penelitian ini menggunakan desain Variabel independent . dalam penelitian ini adalah status pekerjaan Variabel dependent . pada penelitian ini adalah kemampuan ibu psikososial otonomi. Tempat penilitian di Widiani Vol 14 No 3 Desa Kemantren. Kecamatan Jabung. Kabupaten Malang. Populasi penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak usia toddler. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling dengan didapatkan 168 responden. Instrumen menstimulasi perkembangan psikososial otonomi dengan menggunakan kuesioner yang merupakan modifikasi dari InfantToddler Child Care HOME Inventory yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas menggunakan Korelasi Product Moment dengan nilai r lebih besar dari r tabel . > 0, . dan uji reliabilitas dengannilai Alpha Cronbach sebesar 0,957. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji chisquare. HASIL DAN PEMBAHASAN Responden penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan Karakteristik responden berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 diketahui tahapan usia ibu sebagian besar berada di usia dewasa yakni sebanyak120 . ,4%) dimana tahapan usia dewasa merupakan tahap perkembangan yang ciri utamanya adalah melanjutkan keturunan sehingga pada usia ini ibu sudah siap untuk mengasuh anak. Pendidikan ibu diketahui sebagian besar SMA sebanyak 57 orang . ,9%). Pendidikan menstimulasi anak. Pendapatan keluarga sebagian besar rendah sebanyak 98 orang . ,3%) dimana pendapatan keluarga yang rendah dikhawatirkan dapat berdampak pada pada pemenuhan nutrisi yang bergizi yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Status pernikahan menikah sebanyak 167 orang . ,4%) dimana ibu yang mendapat dukungan suami secara umum lebih baik dalam memberikan stimulasi pada Jumlah anak yang dimilki sebagian besar 1 . sebanyak 82 orang . ,8%). Jumlah anak yang dimiliki cukup tidak terlalu banyak sehingga memungkinkan ibu memberikan stimulasi perkembangan pada Jurnal Hubungan Ilmiah Kesehatan status Keperawatan pekerjaan A 115 anak secara baik. Urutan anak pada kelompok perlakuan sebagian besar 1 . sebanyak 82 orang . ,8%). Status anak sebagaian besar anak kandung sebanyak 167 . ,4%). Tabel 1. Karakteristik Responden Ibu Hubungan antara status pekerjaan dengan kemampuan ibu dalam menstimulasi perkembangan psikososial otonomi dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 diketahui nilai p value > 0,05 sehingga secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan kemampuan ibu menstimulasi perkembangan psikososial otonomi pada toddler. Tabel 2. Hubungan Antara Kemampuan Ibu Dalam Menstimulasi Perkembangan Psikososial Otonomi Dengan Separation Anxiety Pada Toddler Kemampuan Ibu Status pekerjaan p=0,106 n=168 Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan kemampuan ibu menstimulasi perkembangan psikososial otonomi pada toddler. Waktu Vol 14 No 3 yang dimiliki ibu yang tidak bekerja untuk berinteraksi dengan anak lebih banyak dari ibu yang bekerja. Waktu yang lebih banyak memberikan stimulasi yang baik pada anak, tetapi hasil penelitian menunjukkan secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dan kemampuan ibu. Kemampuan ibu memberikan stimulasi perkembangan psikososial tidak hanya dipengaruhi oleh waktu interaksi ibu dan anak yang banyak, tetapi juga lebih kepada pengetahuan ibu bagaimana memberikan stimulasi yang benar. Ibu harus tahu apa definisi stimulasi dan cara memberikan stimulasi yang benar pada setiap tahapan usia. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Saleh et al, 2014 bahwa pendidikan pengetahuan, kemampuan praktek, dan percaya diri ibu dalam menstimulasi tumbuh kembang bayi. Penelitian lain menyebutkan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu terbukti perilaku ibu dalam memberikan stimulasi tumbuh kembang (Anandika, 2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan ibu memberikan stimulasi psikososial otonomi adalahjumlah anak yang dimilki sebagian besar 1 . sebanyak 82 orang . ,8%) dimana jumlah anak yang dimiliki cukup tidak terlalu banyak sehingga memungkinkan ibu memberikan stimulasi perkembangan psikososial otonomi pada anak secara baik. Status pernikahan menikah sebanyak 167 orang . ,4%) dimana ibu yang mendapat dukungan suami secara umum lebih baik dalam memberikan stimulasi pada anak. Urutan anak yang dimilki sebanyak 86 . ,6%) anak merupakan anak ke dua dan seterusnya sehingga ibu sudah mempunyai pengalaman dari anak yang sebelum dalam memberikan stimulasi perkembangan, sehingga pada anak yang kedua ibu lebih baik dalam memberikan stimulasi perkembangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui tahapan usia ibu sebagian besar usia dewasa sebanyak 120 . ,4%) dimana tahapan usia dewasa merupakan tahap perkembangan yang ciri utamanya adalah melanjutkan keturunan sehingga pada usia pini ibu sudah Hubungan antara status pekerjaan A 116 siap untuk mengasuh anak. Perkembangan tahap dewasa (Generativity Versus SelfAbsorption And Stagnatio. adalah tahap perkembangan manusia dimana pada tahap ini merupakan tahap dimana individu mampu membimbing anaknya (Stuart, 2. Hal tersebut diatas sesuai dengan lingkungan keluarga meliputi. jumlah saudara yang juga termasuk anak urutan ke berapa dalam kepribadian dan tingkat stress atau depresi ayah ibu (Brown et al. , 2. , dan perceraian keluarga . a Figueiredo, 2. Lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh pada kemampuan keluarga untuk memberikan stimulasi pada anak, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar, cinta dan kasih sayang serta mempengaruhi kualitas interaksi anak-orang tua (Kartner et al. Pendidikan ibu diketahui sebagian besar SMA sebanyak 57 orang . ,9%) dan perguruan tinggi sebanyak 35 . ,8%). Pendidikan yang baik akan mendukung ibu untuk mencari tahu bagaiamana memberikan stimulasi perkembangan psikososial otonomi dengan baik. Ibu yang memperoleh pendidikan hingga perguruan mempunyai kesempatan yang besar untuk mencari ilmu tentang pengasuhan anak lewat internet. Bertambahnya pengetahuan ibu tentang perkembangan anak ini akan membuat ibu secara emosional menjadi lebih baik. Meningkatnya harga diri ibu apabila ada masalah dengan perkembangan anaknya, karena ibu tahu apa penyebabnya dan bagaimana cara untuk menstimulasinya agar perkembangan anak kembali normal. Selain itu juga mengurangi rasa bersalah ibu pada anak ketika anak mengalami penyimpangan perkembangan (Hall et al. , 2. Perbaikan pada emosional ibu ini akan membuat kondisi ibu secara fisik menjadi lebih baik. Gejala psikosomatis yang diakibatkan stress dan kecemasan ibu pada perkembangan anak dapat berkurang. Sehingga pada akhirnya perilaku ibu dalam merawat anak menjadi Vol 14 No 3 Widiani lebih baik. Ibu dapat memberikan stimulasi perkembangan yang tepat pada anak usia toddler (Hall et al. , 2. Desa Kemantren sudah memliki 4 kelompok BKB (Bina Keluarga Balit. , satu BKB sebagai upaya promosi kesehatan masyarakat merupakan salah satu kelompok yang menyelenggarakan deteksi dini perkembangan dan pemberian stimulasi BKB adalah wadah kegiatan keluarga yang mempunyai balita-anak, bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan orangtua . yah dan ib. dan anggota keluarga lain untuk mengasuh dan membina tumbuh kembang anak melalui kegiatan stimulasi fisik, mental, intelektual, emosional, spiritual, sosial, dan moral untuk mewujudkan sumber daya manusia yang Peserta BKB adalah keluarga yang memilki anak usia 0-5 tahun. Kelompok BKB ini membantu ibu dalam menambah Kelompok BKB ini dapat digunakan ibu meningkatkan pemahaman mengenai stimulasi sehingga ibu yang tidak bekerja dapat memberikan stimulasi yang optimal karena waktu yang dimilki untuk berinteraksi dengan anak lebih banyak. Stimulasi memegang peranan penting dalam menentukan perkembangan anak. Stimulasi merupakan rangsangan yang diberikan kepada anak oleh lingkungan, khususnya ibunya agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi adalah cara terbaik untuk mengembangkan kemampuan anak. Stimulasi dapat diberikan setiap ada kesempatan bersama anak melalui kegiatan rumah tangga ataupun di luar rumah Stimulasi ini juga dapat dilakukan secara langsung oleh orang tua atau membuat lingkungan yang baik sehingga anak merasa nyaman mengeksplorasi diri terhadap lingkungannya . l Moussaoui & Braster. Ota & Austin, 2. Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mengidentifikasi jumlah jam bekerja ibu dan jenis pekerjaan secara detail. Hubungan status Keperawatan pekerjaan A 117 Jurnal Ilmiah Kesehatan SIMPULAN berdasarkan hasil penelitian secara statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan kemampuan ibu menstimulasi perkembangan psikososial otonomi pada Institusi keperawatan hendaknya mengembangkan penyuluham atau pelatihan sebagai bentuk pengabdian masyarakat dalam upaya meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan stimulasi perkembangan sesuai dengan tahapan usia. Hasil peneltian ini dapat digunakan dalam mengembangkan kelompok sehat pada semua tatanan pelayanan kesehatan bagi ibu yang mempunyai anak 18 bulan -36 bulan. Pemerintah hendaknya meningkatkan upaya promosi kesehatan pada kelompok sehat termasuk upaya promosi kesehatan mental melalui pengadaan BKB (Bina Keluarga Balit. bagi yang belum terfasilitasi dan peningkatan fungsi BKB bagi yang sudah tersedia sebagai pusat pelayanan dan pusat belajar bagi ibu-ibu mengenai deteksi dini dan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 Tahun. DAFTAR PUSTAKA