JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 p-ISSN 2088-0421. e-ISSN 2654-461X DOI: 10. 35968/m-pu Jurnal Ilmiah M Progress. Vol. No. 2 Juni 2025 https://journal. id/index. php/ilmiahm-progress/index IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI KINERJA OPERASIONAL Rina Masithoh Haryadi1*. Aprilia Zaelanti 2. Astrid Napita S3. Heriyanto4 1,2,3,4 Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia. Masithoh. haryadi@gmail. *Korespondensi Penulis Abstrak Kinerja pegawai yang optimal sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis dampak pelaksanan Total Quality Management (TQM) terhadap kinerja operasional karyawan di Sekolah Menengah Pertama di Kota Samarinda. Fokus penelitian terletak pada empat variabel TQM yaitu komitmen jangka panjang, perbaikan berkesinambungan, kerjasama tim, dan pendidikan dan Penelitian ini mendukung kepentingan peningkatan kualitas pendidikan melalui pengoptimalan kinerja karyawan, dan keharusan menerapkan manajemen mutu yang holistik di sektor kependidikan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 32 responden, dan analisis data dengan model Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen jangka panjang dan kerjasama tim mempunyai dampak positif dan bermakna terhadap kinerja operasional karyawan sekolah Keywords: Total Quality Management. kinerja operasional. komitmen jangka panjang. pendidikan dan pelatihan Abstract Optimal employee performance is very important to improve the quality of learning and achieve national education goals. This study aims to analyze the impact of implementing Total Quality Management (TQM) on the operational performance of employees at junior high schools in Samarinda City. The main emphasis is placed on four TQM variables: long-term commitment, continuous improvement, teamwork, and education and training. The study is motivated by the importance of improving the quality of education through optimizing employee performance, as well as the necessity of applying a comprehensive quality management approach in the education sector. The research method used is quantitative with purposive sampling of 32 respondents, and data analysis is conducted using the Partial Least Square (PLS) model. The findings show that long-term commitment and teamwork have a positive and significant impact on the operational performance of school employees. Keywords: Total Quality Management. operational performance. long-term commitment. training and education 424 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 PENDAHULUAN pengembangan teori yang lebih mendalam Pendidikan adalah salah satu sektor yang memiliki peran sangat vital dalam pembentukan karakter dan kualitas generasi penerus bangsa. Di Indonesia, permasalahan terkait kualitas pendidikan, terutama yang berkaitan dengan kinerja pegawai di lembaga pendidikan, masih menjadi isu yang perlu Kinerja pegawai yang optimal sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan (Kurniawan 2. Salah pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pegawai di sekolah adalah penerapan Total Quality Management (TQM). TQM dapat memberikan kontribusi pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kinerja pegawai dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada siswa dan masyarakat . Penelitian ini penting dilakukan karena beberapa alasan yang mendasari perlunya studi lebih lanjut mengenai penerapan TQM di sektor pendidikan. Pertama, terdapat kesenjangan riset terkait penerapan TQM dalam sektor pendidikan, khususnya di Meskipun penelitian yang mengkaji penerapan TQM di sektor industri, studi mengenai penerapannya dalam pendidikan masih terbatas . Kedua, terdapat gap teori mengenai bagaimana prinsip-prinsip TQM diadaptasi secara efektif dalam konteks Hal untuk dapat menjelaskan penerapan TQM di Ketiga, fenomena yang ada menunjukkan bahwa kualitas kinerja pegawai di sekolah masih dipengaruhi oleh berbagai faktor internal yang dapat diperbaiki melalui penerapan manajemen mutu yang lebih TQM menawarkan kerangka yang dapat membantu meningkatkan kinerja pegawai, seperti melalui kompetensi, serta kerja sama tim yang lebih (Kurniawan (Fatchurochman & Yamit, 2. Research ini khusus ingin memberikan analisis bagaimana implementasi TQM ini memberikan dampak pada penigkatan kinerja operasional karyawan di SMPN 31 Samarinda. Dengan demikian, penelitian ini tampaknya perkembangan teori TQM dalam konteks kependidikan dan dapat memberikan saran terhadap sekolah-sekolah untuk meningkatkan kinerja karyawan. KERANGKA TEORI Total Quality Management Total Quality Management (TQM) adalah pendekatan manajerial yang bertujuan berkelanjutan dalam semua aspek organisasi. TQM menekankan peran aktif dari semua anggota organisasi dalam proses perbaikan kualitas, termasuk dalam produk, jasa, proses, serta sumber daya manusia. Sebagai sebuah 425 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 strategi dan filosofi manajemen. TQM (Rosidin et al. , 2. melibatkan setiap anggota organisasi untuk Komitmen Jangka Panjang bekerja sama dalam menciptakan kualitas Komitmen jangka panjang dalam TQM yang unggul dan meningkatkan daya saing mengacu pada kesediaan seluruh pihak dalam organisasi secara keseluruhan . keterlibatan proses peningkatan kualitas secara Total Quality Management (TQM) terus menerus. Komitmen ini terdiri daari adalah sistem manajeman yang sangat mementingkan kualitas secara holistik oleh kerjasama oleh semua member organisasi, berorientasi ke arah kepuasan klien dan (Saparina et al. , 2. , . erbasis Mengikuti Keberhasilan TQM juga tergantung pada (Venalia et al. , 2. TQM adalah terdiri dari komitmen pimpinan dan seluruh anggota beberapa prinsip utama yaitu komitmen organisasi pendidikan. jangka panjang, perbaikan berkelanjutan. Komitmen pelatihan yang semuanya relevan dalam prinsip-prinsip kualitas secara terus menerus kontek manajemen sekolah. tanpa tergantung pada kondisi jangka pendek Menurut Goetsch Davis atau hasil instan. Ini mencakup kesediaan untuk . (Goetsch & Davis, 2. , terdapat melakukan perubahan budaya organisasi dan sepuluh ciri utama dalam penerapan TQM, yaitu: perhatian terhadap pelanggan internal Pendidikan Tinggi, n. (KOMITMEN Pada Indikator komitmen jangka panjang berkelanjutan(TQM penyelesaian masalah, komitmen jangka Robbins Judge ORGANISASI Definisi, berkelanjutan, pelatihan dan pendidikan Dipengaruhi & Mempengaruhi, n. ) adalah sebagai berikut: Kepatuhan Afektif . ffective commitmen. Karakteristik-karakteristik menunjukkan bahwa TQM bukan hanya sekadar sebuah sistem manajemen kualitas. Kepatuhan . ormative Kepatuhan tetapi juga sebuah filosofi yang memerlukan Komitmen dalam jangka panjang dalam TQM perubahan budaya dalam organisasi, dengan sangat terkait dengan nilai nilai seperti tujuan untuk mencapai perbaikan yang 426 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 pengendalian diri yang mendukung perbaikan berkelanjutan dan keunggulan organisasi. Perbaikan berkesinambungan (Continous Improvemen. Perbaikan berkesinambungan adalah pendekatan yang menekankan pentingnya melakukan perubahan kecil namun terus menerus dalam semua aspek organisasi yang bertujuan untuk mencampai peningkatan Perbaikan berkesinambungan dalam pendidikan adalah suatu proses partisipatif yang berfokus pada evaluasi dan pengembangan mutu secara terus menerus dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk kepuasan peserta didik. (Berbasis Mutu Virgi Syafiq Ghiyats Brillianov, n. sistematis untuk meningkatkan mutu secara Indikator efektif, perbaikan masalah, dokumentasi masalah dan kemajuan, pemantauan terhadap perubahan layanan. Prinsip ini untuk menjaga relevansi dan efektifitas program pendidikan di sekolah. (Ismara & Djatmiko, 2. Indikator Kinerja Operasional Menurut Tortorella et al. , dalam Alam dan Santosa . kinerja operasional dievaluasi melalui penilaian diri berdasarkan berbagai dimensi performa. Kinerja ini mencerminkan tingkat pencapaian perusahaan dalam aspek produktivitas, efisiensi siklus, serta kepatuhan terhadap regulasi. Secara lebih mendalam, aspek ini berkaitan dengan beberapa indikator utama, salah satunya Safety . ork accident. Kinerja keselamatan di tempat kerja, ini mencakup upaya untuk mencegah kecelakaan kerja dan Perbaikan berkelanjutan merupakan proses Pemantauan menurut (Putu et al. , n. ) adalah sebagai Tingkat kecelakaan kerja yang rendah menunjukkan keselamatan yang baik dan efektif dalam berdampak pada kelangsungan operasional. Service Level Service level mengukur sejauh mana perusahaan memenuhi komitmen pelayanan kepada pelanggan, ini dapat mencakup kecepatan pengiriman produk atau layanan, ketersediaan produk atau layanan, serta Komunikasi yang terstruktur kemampuan untuk memenuhi permintaan Penyelesaian masalah. pelanggan sesuai dengan ekspektasi mereka. Pendekatan preventif dengan melihat akar permasalahan sejak awal. Kinerja operasional yang baik tercermin dari tingginya tingkat pelayanan, yang pada Pendokumentasian isu dan progress. 427 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Quality Pendidikan dan pelatihan mencakup pelatihan Kualitas adalah kemapuan produk pelanggan, termasuk konsistensi dalam yang menunjang efektivitas kinerja personel sekolah (Umasugi & Djibat, 2. Penerapan prinsip-prinsip TQM secara efisiensi dan efektivitas kinerja operasional meningkatkan kualitas produk. Kualitas sekolah (Hazra, n. ) \. Pernyataan ini juga di hanya meningkatkan dukung oleh (Geresom & Hazarika, 2. dan reputasi perusahaan tetapi juga mengurangi (Jariah et al. , 2. yang menyatakan bahwa biaya akibat produk atau layanan yang gagal implementasi TQM di sekolah terbukti atau klaim pelanggan. meningkatkan kualitas pendidikan, staf dan Productivity efisiensi administrasi. Kurangnya pelatihan, teknis, manajerial dan peningkatan soft skill Produktivitas komunikasi yang buruk dan komitmen yang perusahaan dalam menggunakan sumber lemah menghambat penerapan TQM di daya untuk menghasilkan output, ini bisa institusi pendidikan. Prinsip prinsip TQM berupa rasio antara input . eperti tenaga seperti partisipsi penuh, kepemimpinan yang kerja, bahan baku, wakt. dan output kuat dan evaluasi berkelanjutan menjadi . roduk jadi atau layana. Produktivitas faktor keberhasilan utama dalam penerapan yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan TQM. Penelitian diatas sejalan dengan berhasil berkontribusi pada peningkatan hipotesa dari penelitian ini yaitu perbaikan profitabilitas dan daya saing perusahaan Kerjasama Tim TQM pegawai pada sekolah menengah. mencapai tujuan Bersama. Kerjasama tim memperkuat budaya saling percaya dan tanggung jawab Bersama terhadap mutu Menurut METODE PENELITIAN Penelitian (Farida. Sekolah Menengah Pertama Kota Samarinda 2. Kerjasama tim berperan penting dalam Kalimantan Timur. Data dikumpulkan dengan meningkatkan kinerja pegawai di instansi metode penyebaran kuisioner serta penelitian Ada 32 responden yang diperoleh Pendidikan dan Pelatihan. Peningkatan fondasi utama dalam implementasi TQM. Model penelitian ada di gambar dibawah ini. 428 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS X1. X1. X1. Vol. Nomor 2 Juni 2025 Tabel 2. Uji Validitas Komitmen Jangka Panjang (X. Variabel X2. X2. X2. X2. X2. Perbaikan Berkesinambu ngan (X. Kinerja Operasional (Y) X3. X3. X3. X3. Kerja Sama Tim (X. X3. X4. X4. X4. X4. Pendidikan dan Pelatihan (X. Average Variance Extraced (AVE) Berdasarkan Ket Valid Valid Valid Valid Gambar 1. Model Penelitian. variabel mempunyao nilai AVE lebih dari 0. Tabel dibawah ini memperlihatkan definisi sehingga memenuhi syarat validitas. Hasil uji operasional dari setiap variabel penelitian. validitas menunjukan bahwa nilai average Tabel 1. Definisi Operasional variance extracted (AVE) lebih dari 0. Variabel Komitmen Jangka Panjang (X. Kinerja operasional (Y) Indikator Komitmen komitmen berkelanjutan, komitmen normatif Komunikasi, masalah dan kemajuan, perubahan dan pelayanan. Adanya tanggung jawab pekerjaan dan terjaadinya kerjasama dengan karyawan Program dikelola sesuai prinsip kualitas, pelatihan dan pengembangan merata untuk semua karyawan, pelatihan diberikan secara berkala sesuai kebutuhan terhadap pelatihan Safety. Service Level. Quality dan Productivity Teknik Perbaikan (X. Kerjasama (X. Pendidikan Pelatihan (X. Tim Kerja sehingga disimpulkan semua variabel nilainya Tabel 3 Uji Reabilitas Var Cronbach's Ket > 0. > 0. > 0. > 0. > 0. Hasil uji reabilitas menunjukan bahwa nilai composite realibility dan cronbachAos alpha lebih dari 0. 7 sehingga di simpulkan bahwa semua variabel memenuhi syarat Tahap berikutnya dilakukan uji evaluation of Structural Model yang bertujuan untuk melihat seberapa kuat hubungan antara variabel laten dalam penelitian. mengunakan SMART PLS. Composite Realibility Tabel 4. Hasil R-Square Variabel R-square R-Square Adjusted HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum dilakukan uji evaluation of Structural Model dilakukan Uji validitas dan Tabel 4 menunjukan bahwa variabel Uji reabilitas. Berikut hasil validitas dan kinerja operasional (Y) dipengaruhi oleh reabilitas dari penelitian ini. variabel semua variabel x dan hanya sebesar 429 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 15,% dipengaruhi oleh variabel lain. negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja Pengaruh Komitmen Jangka Panjang operasional di mana berdasarkan hasil analisis Terhadap Kinerja Operasional diperlihatkan di atas menolak hipotesis kedua. Hasil dalam gambar 2. penelitian ini mendukung penelitian (Wijayanti et al. , 2. yang menyatakan bahwa pelatihan, peningkatan kualitas kerja dan kerjasama tim tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai Gambar 2. Outer Loading Komitmen Jangka Panjang. Berdasarkan Berdasarakan hasil analisis penelitian yang telah diuji dapat diketahuinya bahwa nilai memecahkan masalah dan komunikasi tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Pengaruh kerja sama tim terhadap kinerja operasional dapat dilihat pada gambar dibawah ini. original sampel 0,200 yang menunjukkan dampak positif dan nilai T statistics 1,987 > T Tabel 1,96 dan nilai p-value 0,047 < 0,05 menunjukkan variabel komitmen jangka panjang (X. mempunyai dampak positif dan Gambar 4. Outer Loading Kerjasama Tim. siginifikan terhadap kinerja. Pengaruh Perbaikan Berkesinambungan Operasional Terhadap Kinerja dapat dilihat darigambar Gambar signifikan terhadap kinerja operasional dibawah ini. maka hipotesis 3 diterima. Berdasarkan analisis penelitian yang telah dilaksanakan diketahui nilai original sampel 0,774 menunjukkan pengaruh positif dan nilai T statistics sebesar 6,181 > T Tabel 1,96 dan nilai p- value sebesar Gambar 3. Outer Loading Perbaikan Berkesinambungan. 0,000 < 0,05. Penelitian pusat medis Iran menyatakan hal yang sama dalam penelitian Gambar 3 memperlihatkan bahwa ini, bahwa kerjasama tim . eam wor. memiliki nilai original sample -0,009 yang memberikan korelasi langsung dan signifikan terhadap dampak negatif dan nilai T statistics 0,141 < kinerja pegawai. (Mirzaei et al. , 2. T Tabel 1,96 dan nilai p-value 0,888 > 0,05 berkesinambungan (X. memberikan dampak Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap kinerja operasional dapat dilihat pada gambar 5 dibawah ini 430 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 KESIMPULAN Variabel komitmen jangka panjang dan kerja sama tim berpengaruh positip dan Hal Gambar 5. Outer loading Pendidikan dan dedikasi berkelanjutan dalam meningkatkan Berdasarkan hasil analisis yang telah berkontribusi pada optimalisasi kerja pegawai. dilakukan, diperoleh bahwa nilai original Koordinasi yang baik antar pegawai serta sampel sebesar 0,188 menunjukkan adanya kesadaran akan tanggung jawab bersama sangat pengaruh positif antara variabel pendidikan berperan dalam menciptakan lingkungan kerja dan pelatihan terhadap kinerja operasional. yang produktif dan optimal Namun demikian, nilai T statistics sebesar 1,157 lebih kecil dari T tabel sebesar 1,96, dan nilai p-value sebesar 0,247 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel pendidikan dan pelatihan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operasional. Oleh karena itu, hipotesis keempat dalam penelitian ini ditolak. Hasil meskipun terdapat kecenderungan positif, pendidikan dan pelatihan yang diberikan belum mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja operasional Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidaksesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan pekerjaan, rendahnya kualitas pelaksanaan pelatihan, atau kurangnya tindak lanjut setelah pelatihan Temuan ini memberikan masukan efektivitas program pendidikan dan pelatihan yang ada agar dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pencapaian DAFTAR PUSTAKA