Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika STUDI FENOMENOLOGI TENTANG GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA PEDAGANG DI PASAR LEGI PASCA PERISTIWA KEBAKARAN Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Fakultas Psikologi. Universitas Sebelas Maret ARTICLE INFO ABSTRACT A Article History Be accepted May 2023 Approved: Dec 2024 Published: Dec 2024 The fire that occurred at Legi Market. Surakarta caused many losses suffered by almost all merchants in the market. The impact of the losses suffered is not only on the goods or the stalls burned, but also has an impact on the psychological state of the This research is a qualitative research using the method of phenomenological The purpose of this study was to describe the psychological well-being of Legi market merchants after the fire. Respondents or participants in this study were four individuals who met the criteria of being Legi Market merchants, affected by the Legi Market fire incident and had a non-coercive will by completing an informed consent to participate in the research, as well as four other important ones. The sampling technique used was purposive sampling. The data collection methods used were blank curriculum vitae, observation and interviews. The data analysis used in this study is Keywords : the technique of Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results of the psychological wellsurvey conducted among Legi Market merchants who were affected by the fire showed that all four respondents had good psychological well-being. All respondents complete aspects of psychological well-being. All respondents were able to come to terms with their situation after the fire incident and began to rise to achieve good psychological well-being in various ways. Alamat Korespondensi: Jl. Ir Sutami No. 36 Kentingan. Jebres. Surakarta. Indonesia p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 E-mail: setyawan@gmail. aditya_npriyatama@staff. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 INFO ARTIKEL ABSTRAK Sejarah Artikel Diterima : Peristiwa kebakaran yang terjadi di Pasar Legi. Surakarta menimbulkan banyak kerugian yang dialami hampir seluruh pedagang pasar. Dampak kerugian yang dialami tidak hanya pada barang dagangan atau kios yang terbakar, namun berdampak juga pada keadaan psikologis pedagang. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi fenomenologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesejahteraan psikologis pada pedagang di Pasar Legi pasca peristiwa kebakaran. Responden atau pertisipan dari penelitian ini berjumlah empat orang dengan kriteria merupakan pedagang Pasar Legi, terkena dampak dari peristiwa kebakaran Pasar Legi, dan memiliki kesediaan tanpa paksaan dengan mengisi informed consent untuk turut berpartisipasi dalam penelitian, serta empat orang significant others. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah blanko riwayat hidup, observasi, dan Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan kepada pedagang Pasar Legi yang terkena dampak peristiwa kebakaran, menunjukkan keempat responden telah memiliki kesejahteraan psikologis yang baik. Seluruh responden memenuhi aspek dari kesejahteraan psikologis. Seluruh responden dapat menerima keadaan dirinya setelah peristiwa kebakaran terjadi dan mulai bangkit untuk mencapai kesejahteraan psikologis yang baik dengan berbagai Mei 2023 Disetujui: Desember 2024 Dipublikasikan: Desember 2024 Kata Kunci: PENDAHULUAN Pada tahun 2018. Pasar Legi mengalami peristiwa kebakaran yang terjadi pada bangunan utama pasar. Pasar Legi merupakan pasar tradisional yang sudah berdiri cukup lama serta letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan pusat kota, toko perlengkapan, dan tempat fasilitas umum . eperti stasiun dan termina. Pasar Legi terletak di jalan Letjen S. Parman Nomor 19. Setabelan. Banjarsari. Surakarta. Jawa Tengah. Menurut pengakuan warga (Regional. Kompas. com, 2. , pada tanggal 29 Oktober 2018 sekitar pukul 16. 45, warga melihat asap putih pada bagian tengah pasar yang kemudian diikuti dengan munculnya asap hitam dan kobaran api. Kemudian api tersebut semakin lama semakin membesar serta mulai membakar kios dan juga barang dagangan. Peristiwa kebakaran ini menimbulkan banyak dampak bagi pedagang, mulai dari aset pedagang yang hangus terbakar dan menyebabkan pedagang kehilangan pekerjaannya. Pekerjaan sebagai pedagang ini tentu sangat berarti karena merupakan mata pencaharian utama yang dapat digunakan untuk mencapai hal yang diinginkannya. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi manusia untuk bekerja, yaitu kebutuhan fisiologis dasar . ebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lai. , kebutuhan sosial . ebutuhan interaksi dan menjalin persahabata. , dan kebutuhan egoistik . ebutuhan prestasi, otonomi, dan pengetahua. Apabila pedagang kehilangan barang dagangannya, maka akan berdampak serius pada pekerjaan utamanya ini. Selain pada dampak aset, pedagang juga mengalami dampak psikologis. Menurut Rahmat & Alawiyah . , dampak psikologis adalah suatu pengaruh yang kuat pada jiwa individu yang dapat muncul karena suatu penyebab, salah satunya dapat disebabkan oleh bencana alam. Dapak negatif yang muncul ini tentu menyebabkan kesedihan yang mendalam atau stress, bahkan salah Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 satu dampak paling buruknya adalah muncul trauma pada individu yang terkena dampak Trauma yang muncul pada setiap individu dapat berbeda-beda bergantung pada peristiwa yang dialaminya. Trauma yang berkepanjangan dapat menimbulkan stress hingga gangguan psikologis atau biasa disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Durand & Barlow . , menjelaskan bahwa (PTSD) merupakan hambatan psikologis yang membuat penyintasnya mengalami stres, bertahan, yang terjadi setelah mengadapi ancaman, keadaan yang membuat individu merasa benar-benar tidak berdaya atau ketakutan. Individu yang mengalami PTSD biasanya akan selalu mengingat kejadian yang membuat traumatis, akan berusaha untuk menghindari peristiwa yang terkait dengan traumatis, memiliki kewaspadaan lebih, dll. Dalam hal ini, peristiwa kebakaran menjadi penyebab terjadinya berbagai dampak yang dialami oleh pedagang Pasar Legi. Dampak yang diterima oleh pedagang korban kebakaran mencakup aspek emosi . erkejut, sedih, dan tidak berday. dan aspek kognitif . ikiran kacau dan menyalahkan diri sendir. Dari dampak ini akan dapat berpengaruh pada kesejahteraan psikologis pedagang, di mana kesejahteraan psikologis yang baik adalah di mana individu dapat menerima dirinya sendiri dan mencapai tujuan hidupnya dengan baik. Menurut Ryff . , kesejahteraan psikologis diartikan sebagai sebuah konsep yang memaparkan tentang positive psychological functioning. Menurut Ryff . , terdapat enam aspek yang yang harus dipenuhi dan ada untuk menyatakan bahwa seorang individu memiliki kesejahteraan psikologis yang baik, yaitu penerimaan diri . elf-acceptanc. , hubungan positif dengan orang lain . ositive relation with other. , kemandirian . , penguasaan terhadap lingkungan . nvirontmental master. , tujuan hidup . urpose in lif. , dan pertumbuhan pribadi . ersonal growt. Kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis adalah suatu hal yang saling memiliki keterkaitan, yakni apabila seorang manusia dalam keadaan baik dan positif maka kesehatan mental akan meningkat beriringan dengan kesejahteraan psikologisnya (Johal & Pooja. Kesejahteraan psikologis ini biasanya dapat dipahami juga dengan keadaan di mana kehidupan manusia berlangsung dengan optimal yang dapat ditunjukkan oleh perpaduan perasaan yang menyenangkan, seperti kebahagiaan dan juga kemampuan mengembangkan keberfungsian diri optimal untuk diri sendiri serta orang lain (Ryan & Deci, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marsha, dkk. , mengenai kesejahteraan psikologis masyarakat yang terkena bencana banjir. Dalam penelitiannya, didapatkan bahwa masyarakat yang mengalami bencana banjir memiliki kesejahteraan psikologis yang baik karena mendapatkan dorongan dan dukungan dari orang terdekatnya, serta dapat mengambil hikmahnya untuk lebih meningkatkan ibadahnya. Berdasarkan peristiwa ini, maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang bagaimana gambaran kesejahteraan psikologis dari pedagang Pasar Legi pasca terjadinya peristiwa Penelitian mengenai kesejahteraan psikologis pedagang Pasar Legi pasca terjadinya peristiwa kebakaran ini menarik untuk dilakukan karena relevan dengan keadaan para pedagang yang mengalami atau terkena musibah kebakaran, karena pedagang kehilangan pekerjaannya, bagaimana pedagang membangun kembali usahanya, serta bagaimana pedagang mencapai keadaan sekarang yang sudah membaik. Dengan penelitian ini maka nantinya akan terlihat bagaimana gambaran kesejahteraan psikologis dari pedagang yang mengalami atau terkena musibah kebakaran empat tahun yang lalu. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 METODE Penelitian kualitatif ini mengkaji sudut pandang subjektif dengan cara yang interaktif dan fleksibel (Mappasere & Suyuti, 2. Dari hal ini maka diperlukan untuk mengadakan penelitian secara mendalam agar peneliti dapat memahami pengalaman subjektif individu dalam mencapai kesejahteraan psikologis pasca terjadinya peristiwa kebakaran di Pasar Legi Surakarta. Pengalaman subjektif mengenai hal ini, tentu ada banyak faktor yang ikut memberikan pengaruh pencapaian kesejahteraan psikologis. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan Menurut Creswell . , menyebutkan bahwa studi fenomenologi memiliki tujuan untuk berusaha menemukan pemaknaan suatu fenomena yang dirasakan beberapa Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode purposive sampling yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu penentuan subjek penelitian didasarkan pada apakah ciri atau kriteria subjek telah memenuhi ciri atau kriteria yang telah disusun untuk penelitian karena juga berkenaan dengan tujuan penelitian (Herdiansyah, 2. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 4 pedagang di Pasar Legi yang harus lolos atau memiliki kriteria merupakan pedagang Pasar Legi, terkena dampak dari peristiwa kebakaran Pasar Legi, dan memiliki kesediaan tanpa paksaan dengan mengisi informed consent untuk turut berpartisipasi dalam penelitian. Peneliti juga akan mewawancarai 1 significant others dari masing-masing responden. Pertemuan Tabel 1. Jadwal Pengambilan Data Responden Waktu Pengambilan Data Responden Responden Responden 27 Februari 1 Maret 7 Maret 28 Februari 3 Maret 8 Maret Responden 13 Maret 14 Maret Tabel 2. Jadwal Pengambilan Data Significant Others Responden Nama Status Tanggal Penelitian Significant Pengambilan Others Data Responden SP SWS Suami 27 Februari 2023 Responden H Suami 3 Maret 2023 Responden PW KCY Istri 8 Maret 2023 Responden WK Suami 13 Maret 2023 Penelitian ini akan menggunakan beberapa instrumen pengambilan data, yaitu blanko riwayat hidup, wawancara, dan observasi. Instrumen ini dipilih agar data yang akan didapatkan bisa menggambarkan fenomena yang diteliti dengan baik dan jelas. Wawancara yang dilakukan menggunakan wawancara semi terstruktur dan observasi yang dilakukan menggunakan observasi non-partisipan. Wawancara semi terstruktur menggunakan guideline yang sudah dibuat Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 berdasarkan aspek kesejahteraan psikologis dan observasi non partisipan dilakukan saat wawancara berlangsung. Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Fenomenologi Interpretatif atau Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Teknik ini merupakan teknik pemeriksaan yang rinci pada pengalaman yang ada dikehidupan seseorang. IPA memiliki tujuan untuk melihat bagaimana informan atau individu memaknai dunia personal dan social mereka, jika dalam penelitian dapat diartikan sebagai pemaknaan dari ungkapan informan atau individu tersebut (Smith & Osborn, 2. Dalam analisis penelitian ini juga akan membuat tema emergen atau pengelompokkan inti komentar responden, kemudian tema tersebut akan dikelompokkan lagi ke tema yang lebih besar. HASIL DAN PEMBAHASAN Responden Responden SP Responden H Responden PW Responden WK Tabel 3. Responden Penelitian Karakteristik Merupakan seorang wanita berusia 59 tahun yang bekerja sebagai pedagang sembako. Merupakan seorang wanita berusia 42 tahun yang bekerja sebagai pedagang perabotan dan anyaman. Merupakan seorang pria berusia 28 tahun yang bekerja sebagai pedagang sembako. Merupakan seorang wanita berusia 48 tahun yang bekerja sebagai pedagang rempah-rempah. Penerimaan Diri Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang baik, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden SP sudah dapat menerima dirinya dengan apa adanya dan tidak macam-macam: AuYa saya biasa-biasa saja mas. Ay W. 01: 147 AuYa seperti apa ya, ya ibu itu ya baik, menerima itu, orangnya cuma apa adanya nggak macem-macem. Ay W. SO. 01: 58-59 Responden H menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang selalu bersyukur dan menjadi seseorang yang terus ingin maju, serta menerima keadaanya sekarang agar hidupnya lebih enak, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden H adalah pekerja keras dan dapat menerima diri apa adanya karena terdidik dari kecil: AuYa saya bersyukur saja mas, piye ya penilaiane ya pengen tambah semangat lagi kerjanya gitu, kayanya ya pengen maju terus lah. Ay II. 01: 108-110 AuAlhamdulillah, alhamdulillah bersyukur terus alhamdulillah. Ay II. 01: 113-114 AuKalau sudah nerimo gitu aja sudah enakAAy W. II. 01: 119-120 AuYa dia itu pekerja keras mas orangnya, pekerja keras ya sudah terdidik dari kecil juga. Ay W. SO. II. 01: 69-70 AuYa mungkin bisa menerima juga, karena didikannya dari awal dari keluarganya juga nggak neko-neko juga maksudnya apa ya, ya memang Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 dididik kerja dari awal kerja di sini juga ya bisa menerima juga. Ay SO. II. 01: 93-96 Responden PW menyatakan bahwa dirinya sudah cukup dapat menerima keadaan dirinya dari segala permasalahan yang dimiliki, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden PW sangat bisa menerima diri dengan apa adanya, karena sudah dari kecil memiliki keluarga yang golongan biasa saja, sehingga dalam keadaan yang rendah juga masih bisa menerima keadaannya: AuInsyaallah sudah bisa, sudah bisa karena memang segala permasalahan kalau kita tidak bisa menerima ya kita bisanya cuma menerima dan pasrah serta usaha, yang kita miliki seperti itu. Ay W. 01: 149-153 AuIya menerima banget, dari walaupun dulu saya kaya kita ee omset ibu saya itu seperti apa ya ibaratnya golongan ke atas gitu loh mas, terus sekarang pasca kebakaran langsung menurun drastis hingga posisi sekarang itu kita lahi di bawah, maksudnya baru babat alas gitu juga Dia dari dulu juga ee maksudnya dia dari keluarga yang biasa saja, terus ketemu saya jadi beliau nggak kaget gitu, tapi kalau mungkin kalau saya kaget ya kalau saya itu kan dulu dari kecilnya kan selalu ee difasilitasi ibu dan sebagainya, tapi kalau sekarang kondisinya kaya gini mungkin saya kaget, tapi kalau suami saya sudah bisa menerima saya apa adanya dengan kondisi seperti ini juga bisa menerima, dia juga sudah biasa ibaratnya. Ay W. SO. 01: 70-81 Responden WK menyatakan bahwa dirinya sudah selalu bersyukur diberi kesehatan dan diberi kelancaran, bersyukur atas kehidupan yang sekarang karena sudah lebih baik daripada dulu saat peristiwa kebakaran, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden WK adalah tidak patah semangat, tambah semangat mengambil hikmah hidupnya, menerima dirinya sendiri dan memberikan semangat atau motivasi kepada teman-temannya: AuPenilaianku ya alhamdulillah sampai saat ini aku masih diberikan kesehatan, terus saya setiap hari itu minta ya mintane diparingi kesehatan, diparingi lancar kaya gitu-gitu saja mas. Ay W. IV. 01: 137-141 AuIya sudah saya syukuri, ya bersyukur saat ini sudah lebih baik daripada dulu-dulu waktu kebakaran gitu saja. Ay W. IV. 01: 150-152 AuKalau saya menilai istri saya itu, dia bagus mas, carane ki dia tidak ada patahnya mas mengeluh nggak ada, jadi prioritasnya itu malah tambah semangat, tambah semangat jadi diambil hikmahnya, sama istri saya diambil hikmahnya berarti memang rezeki saya itu sedemikian, nah alhamdulillahnya sampai ekarang itu malah prospeknya itu lebih bagus, sedikit-sedikit memang. Kalau dari dulu ya jauh mas, tapi sekarang ya baguslah untuk cara bakule kembali lagi ya lumayanlah, buat putarputaran ya ada. Ay W. SO. IV. 01: 64-72 AuSudah mas, itu malah bagus dia malah bisa memberikan respon sama temen-temennya suruh semangat, sing temen-temen pasar itu sing penting semangat, jangan sampai kendor. Ay W. SO. IV. 01: 75-77 AuJadi motivasinya itu bagus istriku, jadi memberikan motivasi sama temen-temen pedagang Pasar Legi, jadi bisa dicontoh. Ay W. SO. IV. 01: 8688 Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 Hubungan Positif dengan Orang Lain Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP memiliki hubungan baik dengan orang lain dan juga berempati, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden SP tidak memiliki masalah dengan orang lain: AuYa cuma ya mesakne pasar bar kebakaran kok sepi ya. Ay W. 01: 151152 AuYa itu ya biasa, baik-baik saja nggak ada masalah. Ay W. SO. 01: 65 AuIya berarti positifAy W. SO. 01: 73 Responden H memiliki hubungan baik dengan orang lain sebagaimana manusia semestinya, walaupun sudah biasa di antara manusia memiliki suatu permasalahan, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden H mengutamakan kejujuran, memiliki hubungan positif dengan orang lain, berhubungan baik-baik saja, masih tetap mengenal dan terjalin dengan baik meski sudah tidak menetap di tempat utama yang dulu: AuYa biasa saja mas, ya sesama tetangga ya nyapa, lumrah lumrahe Ay W. II. 01: 128-129 AuYa biasa-biasa saja mas. Ya sebenernya manusia lumrah ya ada masalah, tapi kalau saya sama tetangga itu ya biasa-biasa saja, nggak nggak perlu saya ambil pusing sih. Ay W. II. 01: 164-167 AuHubungannya juga bagus, karena kan dulu jualan wedang, dulu istri saya dan saya jualan wedang. Jadi relasi hubungan misalnya saya dengan pedagang lain misalnya dagang di satu pasar kan saya jualan paling nggak setengah pasar, jadi relasi hubungan pertama kali sampai sekarang masih bagus karena memang nggak ada masalah ya itu bagus. Kalau dulu kan saya jualan wedang, nah sekarang pedagang lain pada tahu oh sekarang jualan tampah dan barang kaya gini gitu mas, mungkin ada apa ya ee hal yang masa lampau kan udah tahu oh ini dihubungi di mana kan langsung Ay W. SO. II. 01: 109-118 AuIya positif karena nggak ada masalah, misalnya nggak pernah utang pokoknya intinya ya namanya kalau di pasar itu yang penting kan kejujuran Ay W. SO. II. 01: 120-122 Responden PW memiliki hubungan baik dengan orang lain di pasar baik dan erat, di samping adanya persaingan, bersosialisasi juga baik, walaupun memang konflik sosial kehidupan tidak dapat dihindari, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden PW hubungan dengan orang lain baik-baik saja, memiliki empati tinggi, dan mudah berbaur dengan pedagang yang lain: AuHubungan sesama pedagang tentu erat juga, toh kemudian kalaupun ada persaingan bisnis, persaingan pedagang itu menjadi hal yang wajar. Ay i. 01: 157-160 AuAlhamdulillah untuk kehidupan bersosialisasi sama orang lain juga insyaallah berjalan dengan baik, tentu konflik-konflik paling konflik-konflik bermasyarakat bersosial ya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari, jadinya memang itu nggak bisa dihindari. Ay W. 01: 201-206 AuHubungan suami saya dengan pedagang yang terkena musibah itu, beliau waktu ke sini itu turut prihatin juga ya, beliau menanyakan bagaimana keadaan terjadinya kebakaran, kok bisa sampai segini, di pasar juga Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 berbaur sama pedagang-pedagang lain juga, soalnya dia juga baru datang, jadi belum banyak tahu makanya cari tahu sama pedagang-pedagang yang Ay W. SO. 01: 86-92 AuHoo hubungannya positif sama pedagang lain. Ay W. SO. 01: 101 Responden WK memiliki hubungan baik dengan orang lain, tetapi tidak tahu bagaimana kalau pesaingan bakul, dan silaturahmi berjalan dengan baik, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden WK memiliki hubungan positif dengan orang lain bagus, memberikan respon pada teman-temannya agar tetap semangat, dan masih berhubungan baik walaupun melalui pesan singkat: AuYa alhamdulillah namanya pedagang ya ada naik turunnya, kalau sama pedagang lainnya itu masalah komunikasi ya baik, cuma ya kalau persaingan bakul ya saya ya nggak tahu ya mas, sana di pasar dan saya di sini ya agak lumanyan jauh, ya intine kalau silaturahminya baik. Ay IV. 01: 155-160 AuYa kalau hubungannya itu bagus mas, anu masalahnya dia malah, ibu itu carane malah memberikan gambaran memberikan respon temen-temennya itu semangat, pokoke dodol itu nek perlu dikebaki dagangane sitik-sitik sing penting komplit, bagus malah memberikan gambaran ojo sampai kendo, nek kendo wong dodol yo koyo mau mas rezekine melu kendo. Sampai sekarang hubungannya masih bagus mas, carane ada masih mempunyai grup kalau nggak punya ya WA-nan nomor pribadi-pribadi jadi keluhannya apa. Ay SO. IV. 01: 101-109 Kemandirian Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP menyatakan bahwa dirinya sudah mandiri dan tidak tergantung pada orang lain: Responden H menyatakan bahwa dirinya masih memerlukan bantuan orang lain karena pada dasarnya manusia bersosialisasi dan bergantung pada orang lain apabila benar-benar memerlukan bantuan saja, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden H sudah dapat melakukan aktivitasnya dengan mandiri: Responden PW menyatakan bahwa dirinya merasa sudah mandiri karena sudah mampu mengatasi permasalahan yang ada dalam keluarganya, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden PW sudah dapat melakukan aktivitasnya dengan mandiri, tidak mudah terpengaruh, dan bekerja keras: AuInsyaallah sudah, insyaallah sudah karena memang segala permasalahan yang ada di keluarga besar kami kemudian yang menanggung itu saya dan istri saya. Ay i. 01: 282-285 AuAlhamdulillah sudah, dia itu tanggung jawab dengan pekerjaan dia dan ee apa ya nggak ada terpengaruh ini ya kamu harus gini arahan dari saya, dia itu tugasnya gini ini-ini langsung dikerjakan gitu, ya kadang kalau pas lelah mungkin ya kadang pas ya namanya keluarga kan ya, ayo cepet kaya ngejar waktu apalagi kan ekonomi sekarang turun banget ini. Ay W. SO. 01: 104-109 Responden WK menyatakan bahwa dirinya merasa sudah mandiri namun tetap membutuhkan bantuan orang lain untuk membantu mengurus dagangannya, yaitu pegawainya, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden WK sudah dapat melakukan Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 aktivitasnya dengan mandiri dan memiliki inisiatif mengelola usahanya: AuYa orang yang mandiri itu menurut saya ya intinya nggak ngerepotin orang lain, gini loh mas pertama selagi saya masih susah ini saya nggak ngerepotin sedulursedulur gitu nggak, ya kalau ngerepotin bos kan masalah dagangan. Ay W. IV. AuYa kalau keseharian itu tetep tergantung sama orang lain, soale kan saya punya tenaga ada pegawai, kalau saya tandangi sendiri ya saya nggak kuatAAy IV. 01: 343-346 AuMandiri mas melakukan aktvitas, misalnya dagangan apa yang habis dia sudah memberikan gambaran oh ini minta dagangan dari sana, yang mana yang relatif bisa terjangkau di Pasar Legi, jadi nggak seumpamanya saya nggak tahu dagangan yang habis yang mana tapi istri saya sudah tahu mas, sudah cari sendiri nanti ngebel atau WA nanti disuruh ngasih dagangan apa gitu, responnya bagus. Ay SO. IV. 01: 122-128 Penguasaan terhadap Lingkungan Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP menyatakan bahwa untuk menyesuaikan diri dengan peristiwa kebakaran, dirinya berusaha mencari dagangan-dagangan baru dari orang lain untuk dijual kembali, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden SP melakukan dengan cara bangkit kembali agar pulih seperti dulu, dengan cara mencari pemasok barang dagangannya lagi: AuYa itu kan dagangannya ngambil-ngambil dari orang-orang itu, terus dijual lagi Ay W. 01: 282-283 AuIya nanti ambil terus dijual, ambil lagi dijual lagi. Ay W. 01: 285-286 AuMenyesuaikan diri ya gimana ya, pokoknya sebisa mungkin bisa pulih seperti Cari-cari bakul baru lagi kalau ada, kalau lama ya ada, kalau lama ada yang kembali ada yang tidak gitu. Ay W. SO. 01: 101-103 Responden H menyatakan bahwa untuk menyesuaikan diri dengan peristiwa kebakaran, dirinya berusaha melihat situasi dan menyesuaikan diri berjualan apa, tergantung pada peluangnya, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden H melakukan dengan cara interaksi dengan banyak orang, terus berusaha mencari peluang usaha yang bagus: AuAnu ya kita lihat situasinya dulu kan, saya mau jualan apa menyesuaikan dulu, yang prospek itu apa gitu dicari peluangnya dulu. Ay W. II. 02: 37-39 AuIya jadi diperhitungkan bener-bener dulu, kita nanti bakalnya mau bagaimana, peluang usahanya yang bisa jadi uang itu gimana. Ay W. II. 02: 41-43 AuYa interaksinya, tadi kan sudah saya jelaskan tetep ada ya hikmah dari kebakaran ini, ya hikmahnya kita, saya sama istri saya itu ayo berusaha, ayo cari data-data dulu, misal barang ini nyarinya di mana, pisau nyarinya di mana, akhirnya ya semakin apa ya perkembangan untuk ee langkah-langkah untuk misalnya tindakan yang diambil dari keterpurukan itu di jalani. Ay W. SO. II. Responden PW menyatakan bahwa untuk menyesuaikan diri dengan peristiwa kebakaran, dirinya berusaha melakukan kegiatan positif agar tidak merasak terperosok terus dalam pikiran agar dapat bangkit dari musibah, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 responden PW melakukan dengan cara mengenal kondisi lingkungan, menjual barang dagangan dengan untung sedikit tetapi laku, dan membuat promo-promo dagangan: AuUntuk menyesuaikan ya apa ya mas, melalui apa ya mas kegiatan-kegiatan yang positif kalau kemudian kita apa ya terperosok terus dalam pemikiran, bagaimana kerugian yang ditakar yang kami apa yang terbebani buat kami, kemudian apa ya barang-barang yang dijarah, kemudian kehilangan orang yang tersayang apalagi ibu juga seperti itu kemudian menjadi apa ya suatu beban mental yang mana ketika kita nggak segera bangkit ya mosok kita mau bersedih larut-larut seperti itu. Ay W. AuUsaha untuk menyesuaikan diri itu ee beliau itu mengenal kondisi lingkungan ya yang pertama, terus yang kedua dia itu belajar bagaimana caranya produk laku sama konsumen, maksudnya bisa kebeli dengan cara apa. Misalnya kaya kita ambil untung sedikit dengan laba sedikit kita nggak masalah yang penting dagangan kita laku, terus usaha yang lain beliau uga ikut itu kaya waktu lebaran itu mencari momen-momen seperti itu untuk dijual ke konsumen. Jadi lebih ke menyesuaikan diri dengan belajar cara menjual, cara bagaimana biar orang atau pembeli itu tertarik sama barang dagangan kita, dia itu bikin kaya ee apa ya buat adaptasi gitu. Ay W. SO. 01: 146-156 Responden WK menyatakan bahwa untuk menyesuaikan diri dengan peristiwa kebakaran, dirinya berusaha mengikuti arus kehidupan, memikirkan cara untuk maju ke depan walaupun harus dengan cara pelan-pelan, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa responden WK melakukan dengan cara berkomunkasi dengan orang lain, dengan pemasok dagangan agar barang dagangan selalu terpenuhi: AuAperlu perjalananan jadine nggak harus langsung segini gitu nggak, memang harus pelan-pelan. Setiap harinya harus piye mas mengikuti arus, jadine aku ya kudu alon-alon piye carane supaya bisa cukup, soale waktu itu ndelalah ya korona, jadi penjualannya ya harus pelan-pelan, harus hati-hati banget, setelah ada kebakaran itu memang untuk melaju ke depannya itu rada dipikir dua kali tiga kali ibaratnya gitu. Ay W. IV. 02: 48-58 AuMenyesuaikan diri itu ya kita berkomunikasi terus carane awak dewe ki komunikasi sama orang-orang yang di luar to mas, biasane kalau dapat dagangan bagaimana, ngebel bakul yang memberikan dagangan dari luar atau lokal semua memberikan respon mas memberikan support, jadi tanggap distributornya juga memberi semangat, tapi sebelum dia ngebel sini, istriku sudah telepon semuanya. Ay SO. IV. 01: 173-179 Tujuan Hidup Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP memiliki tujuan hidup, yaitu ingin jualannya laris terjual, memiliki kesehatan dan kesenangan diri: AuTujuane yang penting jualan laris, badan sehat, hati senang, udah cuma itu aja. 01: 299-300 Responden H memiliki tujuan hidup, yaitu ingin sehat, lebih baik, dan lebih maju lagi, bisa mensejahterakan keluarga terutama anak: AuYa supaya lebih baik lagi, mensejahterakan keluarga, ya yang anak terutama yang penting sehat, bisa lebih baik, lebih maju. Ay W. II. 02: 70-72 Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 Responden WK memiliki tujuan hidup, yaitu ingin membahagiakan keluarga dan bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa: AuKalau tujuan hidup yang pertama tentu membahagiakan sanak saudara, kemudian keluarga inti istri anak, kemudian bapak ibu ya kemudian mertua yang pada saat itu memang harus kami bahagiakan, kemudian yang lain adalah bentuk pengabdian kami kepada Tuhan Yang Maha Esa juga. Ay W. 02: 97-103 Responden PW memiliki tujuan hidup, yaitu ingin seluruh keluarganya diberi kesehatan dan kelancaran, selalu mensyukuri hidup: AuTujuan hidup saya ya tak syukuri tak nikmati tok wae mas, wes nggak mikir liyane, sing penting keluargaku semua dikasih sehat, lancar, wes nggak njaluk neko-neko. Ay IV. 02: 102-105 Pertumbuhan Pribadi Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 responden, responden SP mengalami perubahan baik setelah peristiwa kebakaran terjadi, yaitu dulu sering mengalami dagangannya tidak laku, sekarang sudah lebih baik, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa perubahan baik yang terjadi pada diri responden SP setelah kebakaran adalah lebih mampu menerima keadaan apapun: AuYa ini sudah berubah, sudah berubah. Dulu jualan nggak payu, satu hari cuma payunya lima ratus dapate uang, sekarang ya jauh lebih mudah. Ay W. 01: 334337 AuPerubahannya ya kan mulai pertama kan ya biasa saja, jadi lebih menerima Ay W. SO. 01: 125-126 Responden H mengalami perubahan baik setelah peristiwa kebakaran terjadi, yaitu keadaan ekonomi menjadi lebih baik daripada sebelumnya, nyaman, sekeluarga sehat, kompak, dan bahagia, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa perubahan baik yang terjadi pada diri responden H setelah kebakaran adalah lebih semangat, lebih mandiri, dan tidak terpuruk lagi: AuYa mungkin lebih ke ekonomi saya lebih apa ya, ya lebih mendinglah daripada sebelumnya gitu, dari ekonomi lebih baik. Ay W. II. 02: 153-155 AuKalau kita nyaman-nyaman saja, yang penting intinya satu keluarga sehat terus bahagia nggak ada masalah gitu, intine ya satu keluarga itu kompak dan Ay W. II. 02: 158-161 AuAsemangat bertambah, karena ya sudah mandiri jadi kan harus siap menghadapi ee tindakan- indakan supaya tidak terpuruk lagi. Ay W. SO. II. Responden PW mengalami perubahan baik setelah peristiwa kebakaran terjadi, yaitu lebih mampu menata emosi, menerima kehendak Allah, dan komunikasi baik dengan keluarga, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa perubahan baik yang terjadi pada diri responden PW setelah kebakaran adalah semakin mengerti nilai kehidupan, mengerti keadaan kadang di atas kadang di bawah, pasrah dengan kehendak Allah, lebih bersyukur, menerima apa Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 AuSatu itu tadi yang barusan saya sampaikan, mampu menahan emosi, yang kedua lebih menerima apa yang menjadi kehendak-Nya, kemudian yang ketiga adalah lebih banyak komunikasi dengan keluarga. Ay W. 02: 149-153 AuYa menurut saya perubahan diri yang baik untuk suami saya apa ya, dia itu semakin ee gimana ya mas dia itu semakin mengerti nilai kehidupan, kadang roda itu berputar, nggak selalu di atas nggak selalu di bawah, kita posisi di atas tapi kalau Allah menghendaki kita di bawah nggak satu hari, satu detikpun kita bisa di Kemudian dia lebih bersyukur, bisa menerima apa adanya dengan apa yang kita miliki dia bisa bersyukur dengan keadaannya. Ay W. SO. 01: 190-197 Responden WK mengalami perubahan baik setelah peristiwa kebakaran terjadi, yaitu dapat membayar utang dengan nyicil sedikit-sedikit, sudah tidak mau utang lagi karena pendapatan yang tidak pasti, dan dapat menyisihkan uang untuk menabung dan membayar utang, dan ditambah dengan pernyataan significant other bahwa perubahan baik yang terjadi pada diri responden WK setelah kebakaran adalah semangat lebih bagus dan bekerja keras, karena jam kerja lebih bertambah, dan lebih sering saling memberikan support dengan teman-temannya: AuPerubahan baiknya pertama saya bisa bayar utang dulu ya to mas, soale dulu utangnya juga banyak meskipun ini bisa nyicil sitik-siik ya setidaknya kan penak awake, pikirannya rada enteng. Yang kedua saya udah nggak berani utang-utang bank soale pendapatan belum pasti ya itu, soale di sini jualan kadang dapat kadang nggak takutnya nanti kalau nggak bisa ngangsur, yang ketiga saya ra ketang sedikit itu bisa nabung, ra ketang satu hari sepuluh ribu lah soale buat bayar kontrakan saya harus melunasi kontrakan satu bulannya ya segitu banyaknya jadi saya setiap harinya juga harus bisa menyisihkan uang buat bayar Ay W. IV. 02: 156-169 AuLebih meningkat, kan dikatakan dulu duduk manis aja sudah ada yang ngambilin mas, kalau sekarang dari jam tiga pagi itu harus siap-siap kita buka lapak kan ada peningkatan semangatnya ada to lebih bagus. Ya memang kalau dari dulu dilihat pantai besar sekarang ya biasa gitu to, tapi kalau dilihat dari teman-teman itu ya lebih bagus, lumayan hasilnya soalnya sini kan sering berhubungan sama temen-temen sering kontak terus, yang lain ya saya kasih support supaya nggak kendo, kita saling mensupport mas kalau ada apa-apa ya saling kontak biar enak masalah penjualan pembelian kan rahasia, tapi ya itu harus semangat. Ay SO. IV. 01: 220-230 Pada aspek pertama, penerimaan diri membutuhkan kesadaran yang realistis dan subjektif dari kekuatan dan kelemahan . diri sendiri (Bingyl & Batik, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penerimaan diri yang baik pada empat responden untuk menerima dirinya dengan apa adanya. Tabel 4. Penerimaan Diri Responden Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Responden SP Menerima dirinya dengan apa adanya dan tidak macam-macam. Responden H Menerima dirinya sendiri dengan cara bersyukur atas apa yang ada dalam kehidupannya. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Responden PW Responden WK Hal 183-199 Menerima diri dari segala permasalahan yang ada pada dirinya. Sudah bersyukur atas apa yang ada pada dirinya. Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki penerimaan diri yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu dengan sikap penerimaan diri yang baik kemungkinan cenderung mengalami kesejahteraan, kebahagiaan, dan kepuasan. Pada aspek kedua, hubungan positif dengan orang lain ini mengacu pada memiliki hubungan yang tulus, akrab, dan memuaskan bersama dengan orang lain, serta peduli dengan kesejahteraan diri (Matud et al. , 2. Responden Responden SP Responden H Responden PW Responden WK Tabel 5. Hubungan Positif dengan Orang Lain Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Menunjukkan ketulusannya dengan cara turut merasa kasihan terhadap para pedagang yang terdampak Memiliki hubungan dengan orang lain baik-baik saja. Memiliki hubungan baik dengan orang lain dan bersosialisasi baik, walaupun memang konflik bermasyarakat sosial tentu akan tetap ada. Menjalin silaturahmi yang baik dengan orang lain, komunikasi yang baik, dan memiliki hubungan kepuasan bersama karena saling memberikan support satu sama lain. Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki hubungan dengan orang lain yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu yang memiliki interaksi atau hubungan interpersonal yang baik biasanya cenderung akan memiliki kehangatan dan kepuasan, memiliki perhatian, menerima dan memberikan afeksi, saling menerima dalam hubungan, dan memiliki kesehatan serta kesejahteraan psikologis yang baik. Pada aspek ketiga, kemandirian menentukan sejauh mana seorang individu memiliki kendali atas pilihannya dan memenuhi keinginannya (Fotiadis, dkk. , 2. Responden Responden SP Tabel 6. Kemandirian Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Sudah mandiri, bahkan untuk pekerjaan yang sedikit berat juga dilakukan sendiri tanpa meminta bantuan kepada orang lain. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 Responden H Sudah mandiri, tidak membebankan orang lain, menghadapi permasalahan sendiri, dan mengerjakan pekerjaannya sendiri selama masih bisa dikerjakan sendiri. Responden PW Sudah mandiri karena mampu mengatasi semua permasalahan dalam dirinya sendiri maupun keluarganya dan mampu berkomunikasi dengan baik. Sudah mandiri, karena tidak merepotkan orang lain, walaupun untuk mengurus bagian dari pekerjaannya masih membutuhkan bantuan orang lain, yaitu Responden WK Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki kemandirian yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu dengan kemandirian yang baik akan dapat bertahan dari berbagai tekanan, mampu mengandalkan diri sendiri, dan mampu menilai dirinya sendiri dengan kriteria minimal yang sudah dibentuk untuk sendiri. Pada aspek keempat, penguasaan lingkungan ini mengacu pada kapasitas seorang individu untuk menangani dan mengendalikan lingkungan, mengambil keuntungan dari peluang yang ditawarkan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dan nilai (Matud et , 2. Tabel 7. Penguasaan Lingkungan Responden Responden SP. PW, dan WK Responden H Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Mampu bangkit dari peristiwa kebakaran dengan cara mulai bangkit menjual barang sisa kebakaran yang masih terselamatkan dan mencari barang dagangan yang baru. Membuka peluang usaha yang baru, di mana sebelumnya merupakan pedagang arang dan usaha wedangan, setelahnya menjadi pedagang perabotan dan barang Responden H melakukan hal ini atas dasar bagaimana dirinya bisa menganalisis keadaan setelah kebakaran yang di mana banyak pedagang kehilangan alat jualannya karena terbakar, sehingga muncul suatu peluang baru yang dapat dijadikan pekerjaan selanjutnya oleh responden H. Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki penguasaan terhadap lingkungan yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu yang memiliki penguasaan lingkungan positif akan cenderung berkompeten mengorganisir keadaan lingkungannya, menciptakan hubungan baik dengan lingkungan, dan mampu mengendalikan keadaan aktivitas di luar Pada aspek kelima, tujuan hidup ini mengacu pada seorang individu harus telah menentukan makna, tujuan, dan sasaran hidup yang akan diraihnya, serta mempunyai pengertian bahwa hidup memiliki sebuah arti (Matud et al. , 2. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Responden Responden SP Responden H Responden PW Responden WK Hal 183-199 Tabel 8. Tujuan Hidup Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Memiliki tujuan hidup agar dagangannya selalu laris terjual, sehat, dan memiliki kesenangan yang dapat dirasakan, serta selalu merasa bersyukur. Memiliki tujuan hidup agar diberi kesehatan, keadaannya aman, dan dagangan laris, serta sangat bersyukur karena kehidupannya saat ini sudah tercukupi. Memiliki tujuan hidup agar dapat melangsungkan kehidupannya kembali dengan berjualan, dapat membahagiakan keluarga, dan mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga ingin memiliki anak yang dapat mengangkat derajat orang tuanya. Memiliki tujuan hidup agar seluruh keluarganya diberi kesehatan dan kelancaran dalam kehidupan, serta responden selalu bersyukur. Dari hal ini, seluruh responden SP. PW, dan WK memiliki tujuan hidup yang sama dalam hal keadaan anaknya. Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki tujuan hidup masing-masing yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu dengan tujuan kehidupan yang baik maka cenderung mempunyai perasaan lebih terstruktur dan terarah, cenderung akan menemukan makna kehidupannya yang optimal, dan memiliki pendirian yang kuat. Pada aspek keenam, pertumbuhan pribadi mengacu pada seperangkat keterampilan untuk melakukan perbaikan diri dan termasuk kesiapan untuk perubahan dan perencanaan sebagai keterampilan kognitif, dan menggunakan sumber daya dan perilaku yang disengaja sebagai keterampilan perilaku (Robitschek et al. , 2. Responden Responden SP Responden H Responden PW Tabel 9. Pertumbuhan Pribadi Gambaran Aspek Kesejahteraan Psikologis Mengalami banyak perubahan baik setelah terjadinya peristiwa kebakaran, di mana dirinya menjadi lebih dapat menerima keadaan apapun yang ada pada hidupnya. Mengalami banyak perubahan baik setelah terjadinya peristiwa kebakaran, di mana dirinya lebih semangat, mandiri, dan mengalami keadaan ekonomi yang lebih baik, terlebih lagi menemukan peluang baru usaha yang dijalankannya sekarang. Mengalami banyak perubahan baik setelah terjadinya peristiwa kebakaran, di mana dirinya lebih bersyukur, lebih mampu menata emosi, dan berpasrah kepada Allah. Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Responden WK Hal 183-199 Mengalami banyak perubahan baik setelah terjadinya peristiwa kebakaran, di mana dirinya menjadi lebih semangat, bekerja keras, selalu berdoa kepada Allah, dan memberikan perhatian kepada teman-temannya. Seluruh responden SP. PW, dan WK mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman masing-masing responden untuk bangkit dari kejadian yang menimpanya. Secara keseluruhan semua responden SP. PW, dan WK memiliki pertumbuhan diri yang baik, hal ini sesuai dengan penyataan Ryff . , bahwa individu yang memiliki pertumbuhan diri baik akan dapat mencapai aktualisasi diri, dapat merealisasikan potensi diri, cenderung akan merasakan dirinya semakin berkembang secara terusmenerus, lebih terbuka, menyadari realisasi potensi, memiliki pengalaman baru yang banyak, dan memahami pengembangan diri. SIMPULAN Secara keseluruhan, gambaran kesejahteraan psikologis responden pedagang Pasar Legi pasca peristiwa kebakaran adalah sama, yaitu dalam keadaan psikologis yang Seluruh responden memenuhi enam aspek yang ada pada kesejahteraan psikologis dengan baik, yaitu penerimaan diri, hubungan dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan mandiri. Selain dari aspek, kesejahteraan psikologis responden penelitian juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama pada faktor pengalaman hidup dan dukungan sosial. Dinamika kesejahteraan psikologis pada responden penelitian juga dapat tergambarkan, di mana sebelum adanya peristiwa kebakaran responden penelitian memiliki kondisi psikologis yang baik. Kemudian saat terjadi peristiwa kebakaran, responden penelitian mengalami tekanan psikologis yang membuat responden penelitian merasa bingung, kaget, pasrah, dan sebagainya, namun seluruh responden penelitian memiliki cara untuk kembali mencapai keadaan psikologis yang baik dengan berbagai macam usaha sehingga tercapailah kesejahteraan psikologis yang baik. Dari pengalaman peristiwa kebakaran ini, responden penelitian dapat mengambil hikmah atau pembelajaran di mana seluruh responden penelitian menjadi lebih dapat mengelola emosinya ketika dihadapkan oleh suatu permasalahan. Selain itu, responden penelitian juga menjadi lebih mampu untuk menemukan solusi atau cara untuk bangkit dari keterpurukan agar usaha dagangnya tetap berlanjut dan memulai kehidupannya kembali dengan lebih baik. Seluruh responden penelitian juga dapat lebih bersyukur atas segala kejadian yang ada dalam kehidupannya karena sudah merupakan kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga hanya bisa berusaha, berdoa, dan Endika Rachel Setyawan 1*. Aditya Nanda Priyatama 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 2 Desember 2024 Hal 183-199 DAFTAR PUSTAKA