AKTUALISASI MODERASI BERAGAMA PERSPEKTIF AL-QURAN DI LINGKUNGAN PESANTREN Siru Unaili Kholqi Mahasiswa STAI An-Nawawi Purworejo email : linailisiru63@gmail. Abstrak Ilmu atau pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang. kesalahan dalam menafsirkan sebuah ilmu pengetahuan akan berdampak besar pada pengamalannya. kemunculan isu-isu modern seperti radikalisme dan terorisme menjadi salah satu contoh dampak dari kesalahan dalam menafsirkan sebuah ilmu pengetahuan, halini pula yang menyebabkan kerukunan dan kekeluargaan di Indonesia menjadi Maka dari itu diperlukan pengetahuan lebih dalam memahami moderasi beragama. Dalam hal ini lembaga pendidikan Islam berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama agar tercipta kehidupan yang damai sebagaimana ajaran Nabi SAW, yaitu Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, dan pesantren menjadi pilihan dalam menanggulangi hal ini. Dalam tulisan ini akan terbagi menajdi tiga bagian. Bagian pertama yaitu moderasi beragama dalam perspektif Al QurAoan surah Al Baqarah ayat 143 dan surah Al Mumtahanah ayat 8. Yang kedua yaitu membahas tentang moderasi beragama di pondok pesantren dan yang ketiga yaitu aktualisasi moderasi beragama di dalam pesantren menurut perspektif Al QurAoan. penelitian ini dilakukan dengan metode library research yang mana penulis mengambil bahan tulisan dari beberapa jurnal atau artikel dan buku, yang kemudian akan dikaji guna mendapatkan hasil yang komprehensif tentang aktualisasi moderasi beragama sesuai dengan perspektif Al QurAoan. Kata kunci: Moderasi Beragama. Pesantren. Al QurAoan. Abstract Science or knowledge has a very big influence in determining a person's attitude and behavior. mistakes in interpreting a science will have a major impact on its practice. The emergence of modern issues such as radicalism and terrorism is one example of the impact of errors in interpreting a science, this also causes harmony and kinship in Indonesia to be tenuous. Therefore, more knowledge is needed in understanding religious moderation. In this case. Islamic educational institutions play an important role in instilling the values of religious moderation in order to create a peaceful life as the teachings of the Prophet Muhammad SAW, namely Islam as a religion that is rahmatan lil alamin, and pesantren is an option in overcoming this. In this paper, it will be divided into three parts. The first part is religious moderation in the perspective of Al Qur'an, surah Al Baqarah verse 143 and surah Al Mumtahanah verse 8. The second is discussing religious moderation in Islamic boarding schools and the third is the actualization of religious moderation in Islamic boarding schools according to the perspective of Al Qur'an. This research was conducted using a library research method in which the author took written material from several journals or articles and books, which would then be studied in order to obtain comprehensive results about the actualization of religious moderation in accordance with the perspective of Al Qur'an. Keywords: Religious Moderation. Islamic Boarding School. Al Qur'an. Pendahuluan Munculnya konflik berlatar belakang agama akhir-akhir ini sudah mulai menyebar di Indonesia. Hal ini dikarenakan beragamnya latar belakang yang ada sehingga mengakibatkan muncul berbagai macam pandangan yang berbeda-beda dalam memahami sebuah obyek. Seperti halnya dalam hal penafsiran ajaran agama yang berkaitan dengan praktik dan ritual Banyak kelompok-kelompok yang pastinya memiliki pemahaman berbeda terkait hal tersebut dan beranggapan bahwa beragama yang baik ialah beragama seperti yang mereka Munculnya isu-isu modern seperti radikalisme dan terorisme menyebabkan kerukunan dan kekeluargaan yang terjalin di Indonesia menjadi renggang. Radikalisme agama umumnya terjadi karena adanya kelompok-kelompok yang terlalu fanatik dalam beragama dan memiliki anggapan bahwa dalam mencapai suatu tujuan dalam hal beragama harus dengan tindakan Hal mengatasnamakan agama, seperti contoh penistaan agama, ujaran kebencian di sosial media, perusakan rumah ibadah, saling menjelekkan antara umat beragama dan masih banyak lagi. Seperti yang terjadi pada akhir-akhir ini dimana pada saat pandemi covid 19 terjadi banyak serangkaian aksi diskriminasi yang terjadi. Seperti penutupan masjid di Ciawi. Garut pada 6 Mei 2021, pembubaran acara doAoa di Mertodranan. Solo pada 8 Agustus 2021 dan tindakan intoleransi beragama lainnya. Moderasi berasal dari bahasa latin moderation yang memiliki arti sedang . idak lebih tidak kuran. , yang juga dapat berarti pengendalian diri. Kementrian agama mendefinisikan dalam bukunya yang berjudul Moderasi Beragama bahwa moderasi beragama berarti kepercayaan diri pada substansi agama yang dianutnya. Dengan kata lain, moderasi menunjukkan adanya penerimaan, keterbukaan dan sinergi dari kelompok agama yang berbeda-beda. Secara umum moderasi berarti mengutarakan keseimbangan terkait keyakinan, moral dan perilaku . Karakter moderasi islam digambarkan dengan sikap sedang dan cenderung tidak berlebih lebihan . atau meremehkan . Moderasi islam menggabungkan antara dua hak yaitu hak ruh dan hak badan dengan seimbang. Seperti halnya yang dijelaskan dalam Qs. Al Baqarah/2:143, yang menjelaskan tentang Auummatan wasatanAy atau umat moderat yang berarti umat pertengahan, yang posisinya berada di tengah, sehingga dapat dilihat oleh semua pihak dan dari segenap penjuru. Dalam hal ini pemahaman tentang moderasi beragama sangat diperlukan guna menciptakan kehidupan yang damai sebagaimana esensi ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil Aoalamin, yaitu agama yang mengajarkan tentang kasih sayang sesama makhluk. Pada dasarnya pengetahuan menjadi hal yang sangat berpengaruh terlebih dalam menyikapi suatu permasalahan. Kesalahan dalam memahami suatu ajaran sangat berdampak besar pada kesalahan dalam pengamalannya. Maka dari itu diperlukan pengetahuan dalam memahamai terkait moderasi beragama. Lembaga pendidikan Islam mengambil peran penting dalam membentuk manusia yang religius dan memiliki rasa toleransi yang tinggi. Pondok pesantren dianggap menjadi salah satu media yang paling tepat dalam menanamkan dan mengembangkan sikap moderat dalam beragama. Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam tertua asli Indonesia yang bahkan sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan dipercaya merupakan cikal bakal terbentuknya pendidikan Islam. Menurut beberapa pendapat pesantren sudah ada sejak 300- https://w. id/baca/opini/2021/09/11/viruskebencian. Diakses pada 16 Juli 2022 pukul 03 WIB. 400 tahun yang lalu, namun ada juga yang berpendapat bahwa pesantren sudah muncul sejak abad ke 15 oleh Raden Rahmat yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. 2 Pesantren terbukti mampu mengakomodasi bermacam-macam perbedaan yang mampu menimbulkan konflik-konflik sosial dengan budaya lokal yang melekat didalamnya. Terlebih lagi dalam sebuah pesantren pastinya memiliki santri-santri yang tidak hanya berasal dari satu daerah atau bahkan satu pulau. Pembacaan kitab kuning sampai saat ini menjadi satu hal yang masih dipertahankan dan menjadi kurikulum yang wajib diajarkan baik di pesantren-pesantren tradisional maupun pesantren modern dan bahkan dianggap sebagai tradisi pesantren. Metode penelitian yang digunakan peneliti yaitu library research atau kepustakaan dengan merujuk pada literatur-literatur yang ada baik dalam bentuk buku dan jurnal atau Adapun buku yang dikaji berupa buku tentang moderasi beragama di pondok pesantren, literasi moderasi beragama di Indonesia dan tafsir maqashidi. Adapun jurnal atau artikel yang dikaji yaitu tentang Moderasi Beragama di Lingkungan Pesantren: Pengalaman Pesantren di Bandung Barat. Jawa Barat. Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan. Moderasi Beragama Berbasis Pesantren Salaf, model moderasi beragama berbasis pesantren salaf, pendidikan moderasi beragama di lembaga pesantren modern dan tafsir al-misbah. Yang kemudian bahan atau hal-hal yang terkait dengan pembahasan tersebut diuraikan dan disusun yang kemudian dihimpun menjadi satu untuk menemukan dan mendapatkan hasil yang Dalam kajian ini akan dibahas mengenai aktualisasi moderasi beragama di pesantren dalam perspektif QS Al Baqarah ayat 143 dan Al Mumtahanah ayat 8. Moderasi Beragama Perspektif Al-Quran Salah satu konsepsi yang menarik di dalam Al QurAoan ialah terkait moderasi beragama yang juga sedang hangat diperbincangkan. Terdapat beberapa ayat Al-QurAoan yang membahas tentang moderasi beragama atau Islam moderat. Keseimbangan dan kemoderatan adalah jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW selama hidupnya. Dalam Al QurAoan sendiri tidak pernah dibenarkan adanya tindak kekerasan dengan berlatar belakang agama. Dalil-dalil yang ada di dalam Islam selalu merujuk pada kata iAotidal yang memiliki arti sikap tengah-tengah atau moderasi, dan Al QurAoan sendiri melarang terhadap tindakan yang berlebih-lebihan atau disebut dengan istilah ghuluw yang berarti melewati batas. Sedangkan moderasi dalam Al QurAoan disebut dengan istilah wasathiyyah yang berasal dari kata wasat yang memiliki makna Mastuhu 1994:20 tengah. Ada juga beberapa istilah yang memiliki makna yang serupa dengan kata wasat, yaitu Aoadl dan al-qist. Berikut ini penulis akan mencoba memberikan beberapa penafsiran ayat tentang moderasi beragama, diantaranya: Surah Al Baqarah ayat 143 AAnEuACoa AoACACEA EAaEACAAoEAAEAA AAEaACACUa EECACAoa CeaE AAEaCOAAEC aEAeAEaNEa AAoCOCUEaC EAaEAECUaE EaECoCCsa aEAACEa AAsAoEA eOAUCa aEAEOAEa aoEAAEAA aCa eaACAUACE aEEaoEaA CAEaA aECaE A EaAECUAAEOAAE ACeaE EuAEaoACE ACAOEaAC aECoCCsa AeaAuCa CeaE CAEaA CaCaCsEa EAsAAeAuAA AEa AECUEIeCUEaA Ca auAA aCa A Ca CeACOAA EECACAoaEaA CAEaA EAaEaoCAAOCEEaA ENEOEsEUEO EeAaCOEaAc EiAAEEACsAA dan demikian . Kami telah menjadikan kamu . mat Isla. , umat yang adil dan pilihan. agar kamu menjadi saksi atas . manusia dan agar Rasul (Muhamma. menjadi saksi atas . dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu . melainkan agar Kami mengetahui . upaya nyat. siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh . emindahan kibla. itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. dan Allah tidak akan menyia-nyiakan Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya umat Islam adalah umat pertengahan atau ummatan wasathan yang dijadikan oleh Allah sebagai umat yang adil dan pilihan yang kelak akan menjadi saksi bagi keingkaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Umat Islam bisa dikatakan sebagai umat moderat jika mampu menciptakan hubungan yang baik dengan umat lain atau yang sering disebut dengan hablum minannas. Hal ini menunjukkan bahwasanya semakin tinggi kemampuan seseorang dalam bersikap moderat semakin besar pula peluang untuk dia mampu bersikap adil, begitupun sebaliknya. 3 Nabi Muhammad SAW, juga telah Tarmizi Taher. Berislam secara moderat, (Jakarta:Grafindo khazanah Ilmu, 2. , hlm. menganjurkan kepada umatnya untuk selalu bersikap seimbang dan memilih jalan tengah karena diyakini sebagai jalan terbaik. 4 Seperti halnya sabda Nabi yang berbunyi: a AA A aNA a AO aOA a AaO ae E a aIA Sebaik-baik urusan adalah jalan tengah Dengan mengacu pada kalimat A I OAditemukan beberapa hadits yang membahas tentang keharusan menerapkan moderasi beragama, diantaranya: di dalam hadis riwayat Shahih Bukhari ditemukan tiga hadis, yaitu Shahih Bukhari 3091. Shahih Bukhari 4127. Shahih Bukhari 6803. Pada hadis riwayat Sunan Tirmidzi ditemukan dua hadis, yaitu Sunan Tirmidzi 2886. Sunan Tirmidzi 2887, hadis riwayat Sunan Ibn Majah terdapat satu hadis, yaitu Sunan Ibn Majah 4274 dan pada hadis riwayat Musnad Ahmad ditemukan empat hadis, yaitu Musnad Ahmad 10646. Musnad Ahmad 10841. Musnad Ahmad 10853 dan Musnad Ahmad 11132. Umat Islam adalah ummatan wasathan yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT, yang kelak akan menjadi saksi bagi keingkaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Seperti yang tercantum didalam sebuah hadits Shahih Bukhari 3091: Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il telah bercerita kepada kami 'Abdul Wahid bin Ziyad telah bercerita kepada kami Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Sa'id berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "(Pada hari qiyana. Nabi Nuh dan ummatnya datang lalu Allah Ta'ala berfirman: "Apakah kamu telah menyampaikan . ?" Nuh menjawab: "Sudah, wahai Rabbku". Kemudian Allah bertanya kepada ummatnya: "Apakah benar dia telah menyampaikan kepada kalian?" Mereka menjawab: "Tidak. Tidak ada seorang Nabi pun yang datang kepada kami". Lalu Allah berfirman kepada Nuh: "Siapa yang menjadi saksi atasmu?" Nabi Nuh berkata: "Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan " Maka kami pun bersaksi bahwa Nabi Nuh telah menyampaikan risalah yang diembannya kepada ummatnya. Surah Al Mumtahanah ayat 8 AeaAuCa a ENAAE EOeaACOa EAaEAEUCsCACEEaCO EAEaEAoACE CeEaE EAaEAAEAEaANCAAECE AEaC AEAAEAEUCsECEECI Afifudin Muhajir. Membangun Nalar Islam Moderat: kajian metodologis. , 14. Ibnu Al-Atsir,jamiAo al-Ushul fi Ahadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , jus II. CAEaA A EAaEsAECaEaA AAEAEEuEICEAEa EAaEAACiCa ENEcEO AeaEuEICEAEAOEa CaAEaAECI Ca Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak . mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Di dalam ayat ini djelaskan dengan tegas bahwasanya Allah tidak melarang umat Islam untuk bergaul dan berbuat baik terhadap golongan ataupun pemeluk agama lain seperti Yahudi. Nasrani maupun orang-orang musyrik selama mereka tidak memerangi atau memusuhi dan mengusir kita dari tempat tinggal kita. Nabi SAW, juga telah mengajarkan kepada kita agar selalu berbuat baik kepada orang lain. Jika kita mampu berbuat baik kepada sesama umat muslim maka kita juga harus bisa berbuat baik kepada pemeluk agama lain juga. 6 Sebagai umat Islam kita juga harus bisa berlaku adil terhadap orang lain. aOIA a A acaI EEN O ac E aICA Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Imam Ahmad meriwayatkan. AoArim memberitahu kami. AoAbdullah bin almubarak memberitahu kami. MushAoab bin Tsabit memberitahu kami. AuAmir bin Abdullah bin Az-Zubair memberitahu kami, dari ayahnya, ia bercerita: AuQutailah pernah dating menemui puterinya AsmaAo binti Abi Bakar dengan membawa dhabb . adal arab pemakan tumbuha. dan minyak samin sebagai hadiah, sedang ia seorang wanita musyrikah. Maka AsmaAo pun menolak pemberiannya itu dan memasukkan ibunya ke rumahnya. Kemudian Aisyah bertanya kepada Rasulullah dan turunlah ayat berikut EAaEAEUCsCACEEaCO AEaC EEOAEAAEAEUCsECEECI Ea a eaACOa CeEaE AaEAAEAEaANCAAECE Ea AeaAuCa EAAE EaEaEAoACE A Kemudian beliau menyuruh AsmaAo menerima pemberian ibunya itu dan mempersilakannya masuk . e dalam ruma. Moderasi beragama dalam pesantren Ibid,hlm. Yusuf Harun, dkk,. , jilid 8, hlm. Ilmu atau pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi manusia dalam berperilaku atau bersikap. Kesalahan dalam menafsirkan sebuah ilmu dapat berdampak besar dalam pengamalannya. Maka dari itu diperlukan sebuah lembaga yang mampu mengarahkan dan memberikan pemahaman terkait dengan moderasi beragama yang sesuai dengan ajaran Al QurAoan. Pesantren dianggap menjadi media pendidikan yang tepat dalam hal ini, mengingat bahwa pesantren mampu menyatu dengan budaya lokal dan mampu menerima berbagai macam Pesantren juga memiliki ciri khas dalam hal paham keagamaan yang menggunakan paham ahlussunnah wal jamaAoah yang dipercaya sebagai paham yang moderat, cinta damai, tidak memaksa dan memiliki corak Islam yang santun. Dalam memutuskan sebuah masalah paham ahlussunnah wal jamaAoah dan Nahdatul Ulama selalu mengambil sumber dari penafsiran Al QurAoan dan hadits Nabi. Dalam mengukur tingkat moderasi beragama terdapat empat indikator yang digunakan, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan mampu menerima budaya lokal yang 9 Di pesantren sendiri terdapat beberapa komponen yang menyimpan ajaran moderasi beragama seperti halnya kitab kuning, kyai atau pendidik, metode pembelajaran dan kegiatankegiatan yang ada di pesantren. Pendidikan moderasi beragama di pesantren dilakukan dengan upaya menanamkan nilai-nilai Islam moderat kepada santri-santrinya. Pada umumnya santrisantri yang ada di pesantren tidak hanya berasal dari satu daerah saja. Hal itu membuktikan bahwasannya para santri di dalam pesantren sudah diajarkan tentang moderasi beragama yang juga dapat digambarkan dalam bentuk keanekaragaman sosial budaya yang ada di Indonesia. Para santri tidak hanya dituntut untuk memahami hal-hal yang ada di pesantren namun juga diajarkan untuk saling menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Kiai yang memiliki kedudukan tertinggi dalam pesantren tentunya memiliki peran yang paling penting dalam penanaman moderasi beragama. Beberapa kyai seperti yang kita ketahui juga memiliki kedudukan di masyarakat yang juga dijadikan panutan dalam kehidupan, utamanya sosial dan politik. Tak sedikit para kyai yang turut terjun ke dunia politik dan aktif Mohamad Farid dan Ahmad SyafiAoi. AuModeratisme Islam Pesantren dalam kehidupan Multikultural BangsaAy. IqraAo: jurnal kajian Ilmu pendidikan, volume 3, nomor 1 . , hlm. Kementerian Agama RI. Moderasi Beragama. Jakarta Pusat: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. di beberapa organisasi-organisasi masyarakat. Hal ini membutkikan bahwa kyai juga memiliki cita-cita untuk menciptakan kedamaian dalam beragama di masyarakat. Metode pembelajaran yang digunakan seperti metode diskusi, ceramah dan metode yang digunakan dalam penyampaian pembelajaran di pesantren juga berpengaruh dalam dan pembentukan sikap moderat terhadap para santri. Umumnya metode pembelajaran yang bersifat terbuka akan menciptakan kesadaran bagi para santri untuk menerima dan mendengarkan pendapat atau argumentasi dari orang lain yang berbeda dengan argumentasi kita. Sistem pembelajaran yang inklusif atau terbuka akan membentuk dan mengembangkan sikap moderat bagi para santri. Dengan metode ini diharapkan santri dapat terbiasa menghadapai dan menerima perbedaan yang ada dan akan diterimanya ketika terjun ke dalam masyarakat langsung. Beberapa kegiatan pesantren yang ada juga mampu memupuk sikap moderat para santri yang juga diharapkan mampu mengembangkan sikap nasionalisme mereka. Seperti halnya kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan, upacara peringatan hari santri nasional, upacara memperingati hari kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut di harapkan mampu memupuk dan memperkuat rasa nasionalisme dan cinta tanah air bagi para santri. Di beberapa pesantren setiap tahunnya selalu diadakan kegiatan dai bagi santri yang akan lulus. Kegiatan ini diakukan dengan mengirimkan beberapa santri ke daerah-daerah atau desa-desa tertentu yang dianggap masih kurang agamanya. Hal ini bertujuan agar para santri belajar bagaimana cara menghadapi masalah-masalah sosial di masyarakat dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapatkan selama mondok. Dengan adanya kegiatan ini juga para santri diharapkan mampu memahamai perbedaan-perbedaan yang ada di daerah-daerah tersebut dan mampu menerimanya. Kegiatan ini juga di anggap mampu memupuk sikap moderat dan cinta damai para santri. Ada satu tradisi pesantren yang sampai saat ini masih dipertahankan dan menjadi kurikulum yang wajib ada di seluruh pesantren, yaitu tradisi pembacaan kitab-kitab Islam tradisional atau yang akrab disebut dengan istilah kitab kuning. Meskipun antara pesantren yang satu dengan pesantren lainnya memiliki perbedaan dalam memilih kitab yang akan diajarkan, namun kitab kuning ini pasti tetap ada dipesantren. Kitab kuning memiliki banyak cabang ilmu yang berbeda-beda baik dalam disiplin ilmu hadits, tajwid, fiqih, akhlak shorof maupun balaghah. Terkadang dalam penentuan kitab yang akan dikaji juga melihat dari tingkatan para santri. Seperti contoh dalam pengkajian ilmu nahwu bagi santri yang dalam tingkat ula mengkaji pada kitab Jurumiyah, bagi santri tingkat wustho mengkaji kitab Imrithi dan bagi santri dengan tingkat yang lebih tinggi menggunakn kitab Alfiyah. Dengan adanya model pembelajaran dan narasi yang berbeda-beda dianggap akan menghasilkan sikap moderatisme dan nasionalisme bagi para santri. Hal ini juga menjadi tanda bahwa pembiasaan dalam menghadapi perbedaan juga diajarkan melalui kitab kuning. Kitab kuning yang dikaji di dalam pondok pesantren pada dasarnya bisa dijadikan pegangan utama. Tradisi pembacaan kitab kuning ini dapat dijadian acuan untuk menjaga nilainilai pemahaman Islam yang moderat dan toleran. Hal ini terbukti mampu menampilkan wajah Islam yang ramah tamah tanpa adanya tindak kekerasan, dan toleran tanpa adanya unsur Terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan guna menanamkan moderasi beragama di pesantren yang berpatok pada ciri-ciri moderasi beragama, sebagaimana berikut: Ciri-ciri moderasi yang pertama yaitu tawassuth atau seimbang. Dalam hal ini tentunya di pesantren sering terdapat perbedaan baik dari diri santri itu sendiri ataupun dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukannya. Maka dari itu santri selalu diajarkan untuk senantiasa bersikap moderat atau mengambil jalan tengah dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Yang kedua yaitu iAotidal atau sikap tegak lurus. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya orang-orang yang tinggal di dalam pesantren tidak hanya berasal dari satu daerah saja, tentunya banyak perbedaan-perbedaan yang harus diterima para santri. Maka dari itu perlu ditanamkannya sikap iAotidal agar santri mampu menerima dengan jiwa yang besar segala perbedaan yang ada baik dari keberagaman budayamaupun dari perbedaan pendapat. Ciri-ciri moderasi yang ketiga yaitu sikap toleransi dan tasamuh atau ramah terhadap Keramahan merupakan kunci yang diharapkan bisa mengakar dan tumbuh dikalangan para santri. Hal ini bertujuan agar tidak adanya konflik yang terjadi diantara para santri yang akan berujung pada tindak kekerasan di dalam pesantren. Di pesantren, setiap harinya para santri selalu diberi kesempatan untuk bermusyawarah dalam menetapkan beberapa hal baik dari hal-hal kecil yang dihadapi setiap harinya ataupun Hisny Fajrussalam. Core Moderation Values dalam Tradisi Kitab Kuning di Pondok Pesantren. Islamic Religion Teaching & Learning Journal. Volume 5. Nomor 2 . hal-hal besar yang terjadi. Seperti halnya dalam menentukan struktur kamar, struktur kelas maupun kegiatan-kegiatan lain yang membutuhkan musyawarah. hal ini diharapkan agar santri mampu bertanggung jawab dengan apa yang telah di tanggungkan kepadanya. Kegiatan musyawarah ini di pesantren lebih dikenal dengan istilah bahtsul masail. Ciri yang kelima yaitu ishlah atau menjaga perdamaian dan kebaikan di dalam Menghadapi ratusan bahkan hingga ribuan santri bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu diperlukan sebuah pemahaman agar para santri mampu menciptakan kebersamaan dan kerukunan diantara mereka. maka dariitu dalam memutuskan sesuatu para santri diajarkan untuk selalu berunding atau bermusyawarah agar tidak terjadi kesenjangan antara satu sama Misalnya dengan hal-hal yang berkaitan dengan tata krama dan peraturan yang berlaku agar senantiasa tercipta kehidupan yang rukun antar santri yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Ajaran ishlah sendiri pun menjadi ciri khas para tokoh-tokoh pemimpin nasional. Yang keenam yaitu qudwah atau kepeloporan. Dalam tatanan kehidupan sesorang tak selamanya hanya menjadi makmum. Semua orang juga harus bisa menjadi pemimpin baik dalam kelompok yang kecil maupun kelompok besar. Menjadi seorang pemimpin berarti juga harus memiliki sifat adil dan tidak membeda-bedakan anggotanya. Hal ini juga yang selalu diajarkan didalam pesantren baik kepada santri putra ataupun santri putri. Hal kecil yang bisa dijadikan contoh yaitu menjadi ketua kamar, menjadi koordinator komplek, pengurus bidangbidang dan lain-lain. Ketujuh yaitu rasa cinta tanah air. Pada dasarnya semua orang pasti memiliki rasa cinta kepada tanah air, mengingat bagaimana perjuangan para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini selalu dilakukan di dalam pesantren terlebih jika terdapat event tertentu seperti memperingati hari kemerdekaan Indonesia biasanya para santri akan mengikuti upacara bendera yang diadakan dan ada juga lomba-lomba yang diadakan. Lagu cinta tanah air juga telah berkembang di pesantren sejak tahun 1920 an yaitu lagu Yalal Wathon yang sudah dikenalkan kepada para santri bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Ciri yang kedelapan yaitu anti kekerasan. Islam sendiri juga merupakan agama yang sangat melarang adanya tindak kekerasan antar umatnya. Maka dari itu para santri sangat dilarang melakukan tindak kekerasan terhadap sesama. Jika kedapatan ada santriyang melakukan tindak kekerasan maka pesantren akan memberikan hukuman kepada santri tersebut dengan melihat seberapa parah kekerasan yang telah ia lakukan. Yang terakhir yaitu ramah terhadap budaya atau iAotiroful urfi. Sikap ini merupakan ciri khas yang ada dipesantren. Seperti yang kita ketahui bahwasanya pesantren-pesantren di Jawa dikenal dengan keramahanya dengan budaya dan kearifan lokal yang ada pada masyarakat Jawa. Maka dari itu mereka juga bisa ramah terhadap budaya-budaya yang ada di luar jawa mengingat bahwasanya di pesantren santrinya tidak hanya berasal dari jawa. Aktualisasi Moderasi Beragama di Pesantren Penerapan moderasi beragama di pesantren dapat dilihat melalui kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya. Seperti halnya kegiatan Santri Kerja Nyata atau yang ada di Pondok Pesantren API Tegalrejo. Magelang. Pada kegiatan ini pondok pesantren akan mengirimkan beberapa santri yang telah mencapai kelas terakhir dan akan menyelesaikan pendidikannya untuk dikirimkan ke berbagai daerah atau masjid-masjid guna mengabdikan diri disana khususnya pada saat bulan Ramadhan. Disana nantinya para santri akan dituntut untuk menyebarkan ilmu agama yang diterimanya selama belajar di pondok pesantren kepada para jamaah khususnya pada anak-anak. Mereka akan difokuskan untuk mengajar tentang akidahakhlak, baca tulis al- QurAoan, adab dan fiqih. Di pesantren Al-Amanah, kecamatan Cililin, kabupaten Bandung Barat dalam proses penanaman moderasi beragama, para santri dapat melihat kepada Kyai mereka yaitu KH. Manshur MaAomun. MA. Beliau merupakan kyai yang aktif mengikuti sebuah Forum Kerukunan Umat Beragama atau yang disingkat FKUB di Bandung Barat. Keterlibatan beliau dalam organisasi ini lahir dikarenakan kekhawatiran beliau atas konflik-konflik agama yang terjadi di masyarakat. Dengan begitu muncul keinginan dalam diri beliau untuk menciptakan perdamaian yang bernuansa agama di masyarakat dengan memperkuat peran di dalam Forum Kerukunan Umat Beragama tersebut. Dilihat dari faktor lingkungan, pesantren Al-Huda menerapkan penanaman moderasi beragama dengan cara menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air kepada santrinya melalui penguatan identitas kebangsaan di lingkungan pesantren. Hal itu dilakukan dengan cara mengibarkan bendera merah putih di lingkungan pesantren, menempelkan foto presiden RI dan https://kemenag. id/read/moderasi-beragama-ala-pesantren-m7jxd, diakses pada tanggal 16 Juli 2022, pukul 13. 16 WIB. https://jateng. com/jateng-terkini/1901/puluhan-mahasiswa-ikuti-program-santri-kerja-nyata-42- masjid-di-solo-jadi-lokasinya, diakses pada tanggal 16 Juli 2022, pukul 13. 13 WIB. wakil presiden RI di seetiap ruang kelas. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mampu memupuk semangat nasionalisme dan toleransi para santri di dalam proses pembelajaran. Tidak hanya itu para santri juga selalu mengikuti upacara untuk memperingati ahri kemerdekaan Indonesia, upacara hari santri nasional dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tidak hanya itu pesantren Al-Huda juga cukup terbuka terhadap teknologi kontemporer dengan memperbolehkan santrinya menggunakan laptop dan juga smartphone. Tidak hanya itu, bahkan pesantren juga menyediakan wifi khusus bagi para santrinya. Di beberapa pesantren lainnya kegiatan yang mampu mencerminkan moderasi beragama yaitu kegiatan musyawarah atau yang biasa disebut dengan bathsul masail. Kegiatan ini dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Dalamkegiatan ini para santri diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Tidak hanya itu kegiatan musyawarah juga kerap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari para santri mulai dari masalah-masalah yang kecil hingga besar. Seperti halnya dalam menyusun struktur kamar atau kelas, perlu juga diadakan musyawarah agar tidak ada yang merasa dirugikan sehingga mampu menimbulkan tindakan yang tidak di inginkan. Kesimpulan Munculnya isu-isu modern seperti radikalisme dan terorisme menyebabkan kerukunan dan kekeluargaan di Indonesia menjadi renggang. Kesalahan dalam menafsirkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama inilah yang menjadi penyebab munculnya kelompok-kelompok yang terlalu fanatik terhadap ritual keagamaannya. Hal inilah yang menyebabkan muncul tindakan radikal dan kekerasan antar umat beragama karena perbedaan-perbedaa tersebut. Maka dari itu diperlukan penanaman terkait nilai-nilai moderasi beragama. Lembaga pendidikan saat ini menjadi pilihan terbaik dalam menanamkan hal tersebut dan pesantren menjadi media yang paling tepat dalam menanamkan dan mengembangkan sikap moderat dalam beragama. Didalam Al QurAoan terdapat beberapa ayat yang merujuk pada kata wasathiyyah yang berasal dari kata wasat yang memiliki makna tengah. Umat Islam sendiri mendapat julukan sebagai ummatan wasathan yang memiliki artiumat pertengahan. Sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 143 yang menyatakan bahwa kelak umat Islam akan dimintai Luthfiansyah Hadi Ismail. Moderasi Beragama di Lingkungan Pesantren: Pengalaman di Pesantren Bandung Barat. Jawa Barat. Definisi: Jurnal Agama dan sosial-Humaniora, volume 3, nomor2, 2022. persaksian atas perbuatan orang-orang kafir. Di dalam QS. Al Mumtahanah sendiri juga dipertegas bahwa kita sebagai umat Islam diperbolehkan untuk berbuat baik dan bergaul dengan pemeluk agama lain. Di pesantren sendiri nilai-nilai moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat bahwasannya para santri tidak hanya berasal dari satu daerah saja yang pastinya terdapat banyak perbedaan didalamnya baik dalam bahasa, kebudayaa, cara bicara dan lain sebagainya. Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan guna menanamkan dan mengembangkan sikap moderat bagi para santri. Di beberapa pesantren sendiri terdapat beberapa kegiatan yang bisa memunculkan sikap moderat para santri, seperti musyawarah dalam memutuskan sebuah permasalahan, mengikuti kegiatan yang menunjukkan rasa cinta tanah air dan kegiatan lainnya. DAFTAR PUSTAKA