Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Multi Disiplin Ilmu e-ISSN: 2798-4605 Online: https://ejournal. Integrasi Literasi Keuangan Santri dalam Penguatan Akuntansi Manajemen Pesantren: Studi Kasus MTs Salafiyah SyafiAoiyah Tebuireng Humaidi1*. Dwi Ari Pertiwi2. Meta Ardiana3. Rachma Agustina4 1Universitas Hasyim AsyAoari Tebuireng Jombang. humaidi@unhasy. 2Universitas Hasyim AsyAoari Tebuireng Jombang. dwipertiwi@unhasy. 3Universitas Hasyim AsyAoari Tebuireng Jombang. metaardiana@unhasy. 4Universitas Hasyim AsyAoari Tebuireng Jombang. rachmaagustina@unhasy. ABSTRACT This Community Service Program (PKM) aimed to integrate students' financial literacy into strengthening the management accounting system at MTs Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng. The program was motivated by the low level of students' financial literacy and the pesantren's manual financial management. Using a reflective qualitative approach with an instrumental case study model, the activities involved training, simulation, and The results showed a significant improvement in students' financial literacy and behavior marked by the emergence of habits of recording daily expenses, practicing weekly savings, and participating in class cash recording, as well as a decrease in non-essential Institutionally, the program strengthened the pesantren's management accounting system through Islamic-based transparency and accountability values. This activity confirms that contextual financial literacy not only enhances financial knowledge but also fosters managerial character and an accountability culture among students. Keywords: Accountability. Community Service. Financial Literacy of Students. Management Accounting. Pesantren. ABSTRAK Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan mengintegrasikan literasi keuangan santri dalam penguatan sistem akuntansi manajemen di MTs Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi keuangan santri dan sistem keuangan pesantren yang masih manual. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif reflektif dengan model studi kasus instrumental melalui tahapan pelatihan, simulasi, dan refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada perilaku dan pemahaman keuangan santri yang ditandai dengan munculnya kebiasaan mencatat pengeluaran harian, melakukan tabungan mingguan, dan berpartisipasi dalam pencatatan kas kelas, serta terjadinya penurunan pengeluaran non-esensial. Secara kelembagaan, kegiatan ini memperkuat sistem akuntansi manajemen pesantren melalui penerapan nilai transparansi dan akuntabilitas berbasis Islam. Kegiatan ini menegaskan bahwa literasi keuangan kontekstual tidak hanya meningkatkan pengetahuan finansial, tetapi juga membangun karakter manajerial dan budaya akuntabilitas santri. Kata Kunci: Akuntabilitas. Akuntansi Manajemen. Literasi Keuangan Santri. Pesantren. PKM. Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. Online: https://ejournal. id | e-ISSN: 2798-4605 PENDAHULUAN Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih rendah menjadi tantangan besar dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi dan pengelolaan keuangan yang sehat. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%, dengan kelompok usia pelajar menunjukkan tingkat literasi yang relatif rendah, yaitu 51,68% (Ojk, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman konsep keuangan dengan praktik pengelolaannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, literasi keuangan syariah masih tertinggal, dengan indeks literasi hanya 39,11% dan inklusi syariah 12,88% (OJK, 2. Laporan OECD/INFE . menegaskan bahwa rendahnya kemampuan literasi keuangan berdampak langsung terhadap perilaku konsumtif dan rendahnya kemampuan perencanaan keuangan jangka panjang di kalangan muda. Fenomena tersebut juga tampak dalam konteks lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren dan madrasah, yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan etos ekonomi umat. Meskipun pesantren telah berkontribusi besar terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat, sebagian besar lembaga ini masih menghadapi keterbatasan dalam hal pengelolaan keuangan, pencatatan, dan pelaporan yang sistematis. Sistem akuntansi pesantren umumnya masih manual dan belum didukung prosedur transparansi dan akuntabilitas yang memadai (Anwar et al. , 2. Di sisi lain, santri sebagai bagian integral dari komunitas pesantren belum memperoleh pembekalan literasi keuangan praktis yang memadai, baik dalam pengelolaan uang saku, pencatatan transaksi sederhana, maupun dalam memahami prinsip dasar akuntansi Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa sebagian besar santri hanya memahami konsep normatif keuangan Islam, seperti larangan riba dan pentingnya sedekah, tetapi belum terbiasa melakukan perencanaan dan evaluasi keuangan personal secara sistematis (Fauziah et al. , 2020. Amalia, 2. Studi terkini dalam lima tahun terakhir menunjukkan upaya serupa dalam meningkatkan literasi keuangan syariah dan akuntansi di pesantren. Misalnya. Maghfiroh et al. melalui program PKM menunjukkan bahwa pelatihan manajemen uang dapat meningkatkan literasi keuangan santri di pesantren, sejalan dengan upaya integrasi akuntansi manajemen. Ummi . menemukan bahwa literasi keuangan syariah berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan keuangan santri di Pondok Pesantren Nurul Furqon Malang, meskipun pemahaman asuransi dan investasi syariah masih rendah. Rozaidin dan Adinugraha . menganalisis penerapan akuntansi di koperasi pesantren AlHasyimi Pekalongan, yang menunjukkan implementasi dasar tetapi belum optimal dalam transparansi dan pelaporan berkelanjutan. Selain itu, beberapa studi lain menyoroti peran edukasi keuangan syariah di pesantren, tetapi masih terfokus pada aspek inklusi atau literasi terpisah . isalnya, program EPIKS OJK di berbagai pesantren pada 2. Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. Meskipun penelitian-penelitian tersebut memberikan kontribusi berharga, terdapat celah penelitian . esearch ga. yang signifikan, yaitu kurangnya integrasi holistik antara peningkatan literasi keuangan santri dengan penguatan akuntansi manajemen pesantren secara kontekstual dan partisipatif. Sebagian besar studi sebelumnya bersifat deskriptif atau terfokus pada survei literasi santri saja seperti yang dilakukan oleh Ummi . atau implementasi akuntansi parsial di koperasi oleh Rozaidin dan Adinugraha . , tanpa pendekatan yang menggabungkan edukasi aplikatif santri dengan reformasi sistem manajemen lembaga secara berkelanjutan. Selain itu, minimnya studi kasus di madrasah salafiyah tradisional seperti MTs Salafiyah SyafiAoiyah Tebuireng membuat upaya pengabdian ini diperlukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan upaya konkret untuk menjembatani kesenjangan antara pemahaman konseptual dan praktik keuangan di lingkungan pesantren. Salah satu langkah strategisnya adalah melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada edukasi literasi keuangan kontekstual dan aplikatif, serta integrasinya dalam sistem akuntansi manajemen pesantren. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di MTs Salafiyah SyafiAoiyah Tebuireng sebagai mitra, dengan tujuan memperkuat kapasitas keuangan santri dan pengelola lembaga melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan reflektif. Integrasi literasi keuangan dalam praktik akuntansi manajemen pesantren diharapkan dapat mendorong munculnya budaya finansial yang disiplin, transparan, dan efisien, serta memperkuat tata kelola pesantren berbasis nilai-nilai Islam. Dengan demikian, kegiatan PKM ini tidak hanya meningkatkan literasi keuangan individu, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pembangunan sistem manajemen keuangan pesantren yang lebih akuntabel dan berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif partisipatif, dengan rancangan studi kasus instrumental yang bertujuan menggambarkan dan mengevaluasi implementasi program literasi keuangan santri sebagai strategi penguatan sistem akuntansi manajemen Pendekatan ini memungkinkan pelaksana PKM terlibat langsung dalam proses edukasi dan pendampingan, sambil memahami perubahan perilaku finansial santri serta dampaknya terhadap tata kelola keuangan lembaga secara kontekstual (Creswell dan Poth, 2. Kegiatan dilaksanakan di MTs Salafiyah SyafiAoiyah Tebuireng, salah satu lembaga pendidikan formal di bawah Pondok Pesantren Tebuireng. Jombang, yang memiliki struktur manajemen keuangan pesantren tradisional dan menjadi tempat implementasi program edukasi literasi keuangan santri. Partisipan kegiatan meliputi guru ekonomi dan kewirausahaan, pengelola keuangan pesantren, serta santri MTs yang dipilih secara purposive karena keterlibatan langsung mereka dalam praktik manajemen keuangan dan pembelajaran literasi keuangan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu . perencanaan dan koordinasi kegiatan, . implementasi edukasi literasi keuangan kontekstual, dan . refleksi serta evaluasi hasil implementasi. Tahap pertama Online: https://ejournal. id | e-ISSN: 2798-4605 meliputi koordinasi dengan pihak madrasah dan pesantren untuk memetakan kebutuhan, menyusun modul pembelajaran, serta menentukan jadwal kegiatan. Tahap kedua berfokus pada pelaksanaan pelatihan yang terdiri atas ceramah interaktif, simulasi pencatatan keuangan sederhana, pendampingan pembuatan laporan kas kelas, serta diskusi bersama pengelola keuangan pesantren. Tahap ketiga dilakukan melalui sesi refleksi bersama guru dan santri untuk menilai pemahaman, perubahan perilaku, serta identifikasi aspek akuntansi manajemen yang mengalami penguatan. Data kegiatan dikumpulkan melalui observasi partisipatif selama proses pelatihan dan pendampingan, serta dokumentasi kegiatan seperti foto, catatan laporan sederhana, dan modul yang digunakan. Observasi dilakukan untuk menangkap dinamika interaksi dan respon peserta secara langsung selama kegiatan berlangsung. Dokumentasi difokuskan pada bukti pelaksanaan, seperti hasil simulasi pencatatan keuangan santri dan laporan kas kelas yang dibuat Instrumen utama adalah pelaksana PKM sebagai human instrument, dibantu oleh catatan lapangan yang disusun secara sistematis untuk mencatat observasi dan refleksi awal. Data hasil pelaksanaan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif (Miles dan Huberman, 2. , melalui tahap reduksi data . eleksi informasi releva. , penyajian data . ingkasan narati. , dan penarikan kesimpulan reflektif. Analisis dilakukan secara terus-menerus selama proses kegiatan berlangsung untuk menelusuri pola perubahan pemahaman dan perilaku santri, serta keterkaitannya dengan penguatan praktik akuntansi manajemen pesantren. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan hasil observasi dengan dokumentasi kegiatan, serta mengonfirmasi temuan sementara melalui sesi refleksi bersama guru dan pengelola keuangan pesantren. Selain itu, refleksi pelaksana digunakan untuk menjaga kesadaran terhadap bias interpretatif (Lincoln dan Guba, 1. Kegiatan ini juga memperhatikan etika pelaksanaan PKM di lingkungan pesantren, meliputi informed consent kepada semua partisipan, anonimitas dan kerahasiaan data, serta penghormatan terhadap nilai-nilai dan tata krama Pelaksana kegiatan menjaga kesesuaian waktu dengan jadwal ibadah dan kegiatan keagamaan, serta memastikan seluruh proses berlangsung dalam suasana edukatif dan menghormati kultur pesantren. Dengan pendekatan ini, kegiatan PKM tidak hanya menghasilkan peningkatan literasi keuangan santri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penguatan sistem akuntansi manajemen pesantren melalui pembiasaan pencatatan keuangan, perencanaan anggaran, dan pelaporan yang lebih transparan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan PKM Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada integrasi literasi keuangan santri dalam penguatan sistem akuntansi manajemen pesantren telah dilaksanakan di MTs Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng, melibatkan guru ekonomi, pengelola keuangan pesantren, dan santri tingkat madrasah Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. Temuan Awal dari Asesmen Kebutuhan Berdasarkan hasil wawancara dengan guru ekonomi dan observasi awal terhadap perilaku keuangan santri, ditemukan bahwa sebagian besar santri belum memiliki kebiasaan mencatat pengeluaran, tidak memahami konsep dasar perencanaan keuangan, serta menganggap uang saku hanya sebagai alat konsumsi tanpa nilai perencanaan jangka panjang. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa 78% santri tidak memiliki catatan keuangan pribadi, 65% belum mengenal konsep "anggaran", dan 72% cenderung menggunakan uang jajan tanpa perencanaan. Salah seorang guru ekonomi menyatakan dalam wawancara: "Santri-santri kami sebagian besar belum terbiasa mencatat uang jajan Mereka lebih fokus pada kegiatan ibadah dan pembelajaran kitab, sehingga aspek pengelolaan keuangan personal masih terabaikan. Di sisi lain, hasil observasi terhadap sistem keuangan pesantren menunjukkan bahwa pencatatan keuangan masih bersifat manual dan belum melibatkan santri dalam proses pembelajaran berbasis akuntabilitas. Pengelola keuangan pesantren mengungkapkan bahwa sistem pencatatan keuangan dilakukan secara sederhana menggunakan buku kas manual tanpa prosedur pelaporan yang terstruktur. Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan tahap sosialisasi dan penyusunan modul literasi keuangan kontekstual. Berdasarkan hasil asesmen kebutuhan, tim PKM bersama guru ekonomi menyusun modul yang berisi empat topik utama: konsep dasar pengelolaan uang dalam perspektif Islam, . perencanaan keuangan sederhana, . praktik pencatatan transaksi harian, dan . pengenalan prinsip akuntansi manajemen untuk kehidupan santri. Modul ini kemudian diimplementasikan melalui pelatihan interaktif dan simulasi praktik keuangan selama enam pertemuan tatap muka. Setiap sesi melibatkan kegiatan ceramah singkat, diskusi kelompok, dan simulasi budgeting menggunakan lembar kas pribadi. Suasana kegiatan yang interaktif dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Literasi Keuangan Bagi Santri MTs Online: https://ejournal. id | e-ISSN: 2798-4605 Berdasarkan dokumentasi foto pada gambar 1, tampak bahwa santri terlibat aktif dalam kegiatan pelatihan dengan menggunakan lembar kerja pencatatan keuangan yang telah disiapkan. Kegiatan ini menjadi sarana efektif bagi santri untuk mempraktikkan konsep literasi keuangan secara kontekstual serta memahami nilai akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan pesantren. Hasil Observasi Perubahan Perilaku Keuangan Santri Dari hasil observasi partisipatif yang dilakukan selama dan setelah kegiatan, terjadi perubahan perilaku finansial yang signifikan pada sebagian besar santri. Tim pelaksana PKM mencatat bahwa santri mulai membawa buku catatan keuangan pribadi dan menunjukkan antusiasme dalam mendiskusikan pengeluaran mereka. Hasil wawancara dengan beberapa santri menunjukkan adanya perubahan kesadaran keuangan. Salah seorang santri kelas Vi menyatakan: "Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu pentingnya mencatat uang Sekarang saya bisa mengontrol pengeluaran dan sisanya bisa ditabung untuk keperluan penting. Selain peningkatan kesadaran pencatatan, observasi lapangan menunjukkan bahwa santri mulai membedakan antara kebutuhan primer dan sekunder dalam pengeluaran sehari-hari. Lebih menarik lagi, beberapa kelompok santri menginisiasi pembentukan "kas kelas syariah" yang dikelola bersama dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas sederhana menggunakan buku kas dan laporan mingguan. Dokumentasi kas kelas yang dikumpulkan menunjukkan pencatatan transaksi yang terstruktur dengan kolom tanggal, keterangan, pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan literasi keuangan personal, tetapi juga menumbuhkan pemahaman dasar tentang praktik akuntansi manajemen mikro, seperti perencanaan kas, pencatatan transaksi, dan pelaporan tanggung jawab keuangan. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim pelaksana melakukan evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test sederhana yang mengukur pengetahuan literasi keuangan santri. Hasil analisis menunjukkan peningkatan tingkat literasi keuangan santri dari kategori "rendah" dengan rata-rata skor 55 menjadi kategori "tinggi" dengan rata-rata skor 80. Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa kegiatan PKM tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga mengubah perilaku finansial santri dan memperkuat sistem keuangan lembaga. Terlihat peningkatan yang paling signifikan terjadi pada indikator pertama, yaitu kepemilikan catatan keuangan pribadi yang meningkat sebesar 63%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan berhasil menumbuhkan kesadaran dasar tentang pentingnya dokumentasi keuangan Indikator kedua yang mengalami peningkatan tinggi adalah keterlibatan santri dalam pencatatan kas kelas, yang meningkat 60% dari kondisi Temuan ini mengindikasikan bahwa santri tidak hanya mampu mengelola keuangan pribadi, tetapi juga mulai menerapkan prinsip akuntabilitas dalam konteks kolektif. Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. Tabel 1. Data Peningkatan Literasi dan Perilaku Keuangan Santri Indikator Pengukuran Sebelum Sesudah Perubahan PKM PKM (%) Interpretasi Utama Santri memiliki catatan keuangan pribadi 63% Meningkatnya kesadaran pencatatan Santri mengenal konsep anggaran . 45% Meningkatnya perencanaan keuangan Santri rutin menabung 30% Meningkatnya kebiasaan keuangan Pengeluaran non-esensial Ae35% Menurunnya perilaku Santri memahami prinsip transparansi keuangan 42% Meningkatnya nilai akuntabilitas finansial Santri terlibat dalam pencatatan kas kelas 60% Terbangunnya praktik akuntansi partisipatif Guru dan staf keuangan mengintegrasikan laporan 50% Penguatan sistem akuntansi manajemen Lembaga (Sumber: Data Primer Hasil Kegiatan PKM, 2. Hasil Wawancara dengan Pengelola Keuangan Pesantren Dampak kegiatan PKM juga terlihat pada level kelembagaan. Hasil wawancara dengan pengelola keuangan pesantren menunjukkan adanya perubahan perspektif terhadap pentingnya melibatkan santri dalam sistem Pengelola keuangan menyatakan: "Awalnya kami ragu melibatkan santri dalam pencatatan keuangan karena takut mengganggu fokus mereka pada pembelajaran Namun, setelah melihat hasilnya, kami justru merasa ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang sangat penting. " Pengelola keuangan pesantren yang turut mendampingi program ini mulai mengintegrasikan hasil kegiatan santri ke dalam sistem administrasi pesantren. Laporan keuangan mingguan santri kini dijadikan bahan monitoring dan refleksi dalam pertemuan staf keuangan Hal ini memperkuat transparansi internal serta memperkenalkan mekanisme kontrol sederhana yang berbasis partisipasi. Hasil dokumentasi rapat koordinasi menunjukkan bahwa staf keuangan mulai mengadopsi format pelaporan yang dikembangkan dalam kegiatan PKM untuk diterapkan dalam sistem keuangan madrasah. Guru ekonomi dan staf keuangan juga melaporkan bahwa keterlibatan santri dalam simulasi pencatatan dan pelaporan mendorong munculnya rasa tanggung jawab dan kedisiplinan dalam pengelolaan dana kelas maupun kegiatan social Hasil Observasi Perubahan Pola Pengeluaran Hasil observasi partisipatif menunjukkan pula adanya perubahan pada aspek perilaku kolektif. Sebelum kegiatan, berdasarkan hasil wawancara dengan santri, pengeluaran santri cenderung tidak terencana dan bersifat konsumtif. Online: https://ejournal. id | e-ISSN: 2798-4605 dengan dominasi pembelian jajanan dan kebutuhan sekunder. Namun setelah program berlangsung, pola pengeluaran menjadi lebih terkendali. Berdasarkan tabel 1, rata-rata pengeluaran non-esensial menurun 35%, sedangkan jumlah santri yang rutin menabung meningkat 30%. Data ini menunjukkan adanya efisiensi keuangan personal yang berimplikasi pada pembentukan budaya keuangan rasional di lingkungan pesantren. Dokumentasi buku tabungan santri yang dikumpulkan menunjukkan konsistensi pencatatan dan peningkatan jumlah saldo dari minggu ke minggu. PEMBAHASAN Internalisasi Nilai-nilai Literasi Keuangan Islam dalam Praktik Santri Literasi keuangan yang semula bersifat edukatif berkembang menjadi praktik akuntansi manajemen berbasis nilai-nilai pesantren, di mana kejujuran . , tanggung jawab . , dan keterbukaan . menjadi pilar utama dalam pengelolaan keuangan. Temuan ini selaras dengan penelitian Humaidi et al. yang menegaskan bahwa akuntabilitas di lembaga pesantren tidak hanya dipahami sebagai mekanisme pelaporan formal, tetapi juga sebagai amanah spiritual dan sosial yang berakar pada nilai-nilai profetik dan budaya pesantren. Temuan ini juga didukung oleh Miko et al. yang menekankan peran literasi keuangan syariah dalam membangun kesadaran ekonomi masyarakat, termasuk di kalangan santri pesantren Analisis tematik terhadap hasil wawancara dengan guru dan pengelola keuangan mengungkap tiga tema utama dari proses implementasi, yaitu: . internalisasi nilai-nilai literasi keuangan Islam, . perubahan perilaku manajerial santri, dan . penguatan sistem akuntansi manajemen berbasis partisipasi. Tema pertama menegaskan bahwa kegiatan literasi keuangan tidak sekadar meningkatkan pengetahuan finansial, tetapi juga menanamkan kesadaran moral dan religius tentang tanggung jawab mengelola harta sebagai amanah. Tema kedua menunjukkan munculnya perilaku manajerial baru di kalangan santri, seperti kemampuan merencanakan, mengontrol, dan mengevaluasi pengeluaran Sedangkan tema ketiga menggambarkan transformasi kecil namun bermakna dalam sistem keuangan pesantren, di mana keterlibatan santri dalam praktik pencatatan dan pelaporan menciptakan ruang kolaborasi yang memperkuat transparansi dan efisiensi lembaga. Perubahan Perilaku Manajerial sebagai Fondasi Akuntansi Manajemen Sejalan dengan teori managerial behavior dalam akuntansi manajemen (Hansen dan Mowen, 2. , perubahan perilaku keuangan individu menjadi dasar pembentukan sistem kontrol dan perencanaan keuangan yang lebih efektif di tingkat organisasi. Dalam konteks pesantren, perubahan ini memperkuat praktik budgeting dan accountability behavior, karena santri dan guru secara bersamaan mulai menerapkan prinsip "rencanaAelaksanaAelaporAeevaluasi" dalam aktivitas ekonomi harian. Temuan ini konsisten dengan beberapa penelitian Misalnya. Amalia . dan Fauziah et al. menegaskan bahwa literasi keuangan yang berbasis praktik kontekstual efektif membentuk perilaku finansial rasional pada peserta didik di lembaga Islam. Demikian pula. Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. Humaidi et al. dalam kajiannya tentang Management Accounting Practices in Decision Making in Islamic Boarding Schools menemukan bahwa integrasi nilai religius dan literasi keuangan personal dapat memperkuat sistem pengambilan keputusan keuangan di pesantren. Hasil kegiatan PKM ini memperluas temuan tersebut dengan menampilkan bagaimana proses literasi keuangan santri dapat menjadi jembatan untuk membangun budaya akuntansi manajemen yang partisipatif dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga menghasilkan efek sistemik pada tata kelola Lembaga. Penguatan Sistem Akuntansi Manajemen Berbasis Partisipasi Dari perspektif teoritis, keberhasilan integrasi literasi keuangan santri ke dalam praktik akuntansi manajemen pesantren mendukung model konseptual Financial Literacy Managerial Behavior Institutional Accountability yang diajukan dalam penelitian sebelumnya. Literasi keuangan berperan sebagai fondasi perilaku manajerial individu, yang kemudian memengaruhi efisiensi dan akuntabilitas institusional. Dalam konteks pesantren, model ini terbukti relevan karena sistem pengelolaan keuangan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga moral-spiritual. Ketika santri mulai menerapkan pencatatan keuangan yang disiplin dan transparan, pesantren pun memperoleh manfaat berupa meningkatnya kesadaran kolektif akan pentingnya akuntabilitas dan kejelasan dalam setiap aktivitas keuangan. Hal ini sejalan dengan gagasan Braun dan Clarke . tentang pentingnya membangun pemahaman tematik yang lahir dari pengalaman langsung dan refleksi kolektif. Pendekatan ini mirip dengan Santoso et al. yang melalui PKM meningkatkan keterampilan laporan keuangan sederhana bagi UMKM syariah, yang dapat diadaptasi untuk penguatan akuntabilitas di pesantren. Implikasi Praktis bagi Pengembangan Pesantren Secara praktis, hasil kegiatan ini memperlihatkan bahwa literasi keuangan yang diajarkan melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif mampu memperkuat kapasitas kelembagaan pesantren tanpa mengubah nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya. Keterlibatan aktif santri dalam simulasi akuntansi sederhana dapat menjadi model replikasi di pesantren lain sebagai strategi pembelajaran ekonomi berbasis pengalaman . xperiential learnin. Dengan demikian, kegiatan PKM ini berhasil menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar keterampilan finansial, tetapi juga instrumen transformasi manajerial dan kultural di lingkungan pesantren. Integrasi ini memperkuat sinergi antara pendidikan karakter, kompetensi ekonomi, dan tata kelola kelembagaan, sekaligus mendukung visi besar pesantren sebagai pusat pembentukan generasi Islam yang cerdas, mandiri, dan berintegritas dalam pengelolaan keuangan. Online: https://ejournal. id | e-ISSN: 2798-4605 SIMPULAN Kegiatan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada integrasi literasi keuangan santri dalam penguatan akuntansi manajemen pesantren di MTs Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng telah berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan pemahaman dan perilaku literasi keuangan santri sekaligus memperkuat sistem akuntansi manajemen lembaga pesantren melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam beberapa aspek. Pertama, meningkatnya kesadaran santri terhadap pentingnya pencatatan keuangan dan perencanaan anggaran Kedua, terbentuknya kebiasaan finansial positif seperti menabung dan mengurangi pengeluaran non-esensial. Ketiga, munculnya keterlibatan aktif santri dalam praktik pencatatan kas kelas dan pelaporan sederhana. Keempat, meningkatnya transparansi internal lembaga melalui kolaborasi antara santri, guru, dan pengelola keuangan pesantren. Peningkatan ini sekaligus memperkuat nilai-nilai utama akuntansi manajemen pesantren, yaitu efisiensi, akuntabilitas, dan partisipasi, yang berakar pada nilai-nilai keislaman seperti amanah, shiddiq, dan transparansi. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan literasi keuangan yang dikembangkan secara kontekstual dan berbasis praktik dapat menjadi instrumen efektif dalam membangun budaya keuangan yang disiplin, transparan, dan akuntabel di lingkungan pendidikan Islam. Melalui simulasi, pencatatan kas, dan refleksi bersama, santri mulai menerapkan prinsip-prinsip manajemen sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menandakan bahwa literasi keuangan bukan hanya ranah kognitif, tetapi juga aspek pembentukan karakter dan perilaku manajerial yang dapat memperkuat tata kelola lembaga secara Integrasi antara literasi keuangan dan sistem akuntansi manajemen pesantren menjadi model yang potensial untuk diterapkan di lembaga pendidikan Islam lainnya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan tata kelola yang transparan. Secara teoretis, kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan konsep Financial LiteracyAeManagerial BehaviorAeInstitutional Accountability yang menegaskan hubungan antara literasi keuangan individu, perilaku manajerial, dan akuntabilitas kelembagaan dalam konteks pendidikan Islam. Sementara secara praktis, kegiatan PKM ini memberikan model implementatif edukasi literasi keuangan yang dapat direplikasi di lembaga pesantren lain, dengan adaptasi sederhana sesuai karakteristik lokal dan kapasitas kelembagaan masing-masing. Keterlibatan langsung guru ekonomi dan pengelola keuangan pesantren juga menjadi faktor kunci keberhasilan kegiatan, karena menjamin kesinambungan pembiasaan nilai-nilai keuangan di luar program PKM. Berdasarkan temuan tersebut, kegiatan ini memberikan beberapa rekomendasi strategis. Pertama, diperlukan keberlanjutan program literasi keuangan berbasis praktik dalam kurikulum pesantren dan madrasah agar pembiasaan pengelolaan keuangan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Kedua, pesantren perlu mengembangkan sistem akuntansi manajemen sederhana yang melibatkan santri sebagai bagian dari proses pembelajaran, agar Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Juli-Desember 2025. Halaman 269 Ae 280 Doi: 10. 33752/dinamis. nilai partisipasi dan akuntabilitas dapat terus tumbuh. Ketiga, dukungan kelembagaan dan kolaborasi lintas pihak, seperti guru, pengelola, lembaga keuangan syariah, dan perguruan tinggi perlu diperkuat untuk mengembangkan model literasi keuangan yang adaptif dan berkelanjutan. Keempat, kegiatan serupa di masa depan dapat diperluas dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti aplikasi pencatatan keuangan sederhana berbasis smartphone, agar efisiensi dan transparansi keuangan pesantren semakin meningkat. Dengan demikian, kegiatan PKM ini bukan hanya berhasil meningkatkan kemampuan finansial santri, tetapi juga memperkuat sistem tata kelola pesantren yang profesional dan berbasis nilai-nilai Islam. Program ini menegaskan bahwa pemberdayaan literasi keuangan dapat menjadi pintu masuk strategis menuju kemandirian ekonomi umat dan peningkatan akuntabilitas lembaga pendidikan Islam di era modern. DAFTAR PUSTAKA