Indonesian Journal of Educational Development Volume 1 Nomor 3, November 2020 DOI: 10.5281/zenodo.4284185 _________________________________________________________________________ PENGGUNAAN MEDIA DAUN KELOR PADA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM TERHADAP HASIL BELAJAR DI MTs NEGERI 2 LEMBATA Hatman Pa’Mudin MTs Negeri 2 Lembata, Lewoleba, Indonesia; hatmannapaulung@gmail.com Abstrak. Guru wajib memiliki kecakapan dalam menggunakan metode dan media pembelajaran, yang dijadikan sebagai alat untuk menyalurkan materi kepada peserta didik. Kenyataannya bahwa pola pembelajaran yang digunakan oleh guru saat ini masih menggunakan media seadanya, sehingga siswa kurang berminat dan bosan dengan pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Karena harus mengetahui nama-nama tokoh, tahun, dan tempat-tempat bersejarah yang sulit untuk diingat oleh peserta didik. Dibutuhkan kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Daun Kelor selain di konsumsi, juga digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran di kelas, dengan cara memanfaatkan bagian-bagian atau sirip-sirip tulang Daun Kelor tersebut untuk memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran menggunakan media Daun Kelor terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak dua siklus, setiap siklus dilaksanakan melalui proses kegiatan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-C sebanyak 25 orang. Data hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan lembar observasi dan angket. Selanjutnya data ini dianalisis dengan menggunakan rumus persentase. Hasil yang diperoleh adalah a). Guru telah siap menggunakan media Daun Kelor pada siklus I dengan persentase 62,07% dan siklus II dengan persentase 84,08%. b). Hasil pembelajaran siswa pada materi strategi dakwah Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassallam di Mekah di MTs Negeri 2 Lembata juga meningkat, dengan persentase 72,86% pada siklus I, dan 80,84% pada siklus II. Hasil ketuntasan belajaran siswa juga meningkat dengan persentase 67,47% pada siklus I dan 82,46% siklus II. Penggunaan media Daun Kelor pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat meningkatkan hasil belajar siswa di MTs Negeri 2 Lembata. Kata Kunci: Daun Kelor, Hasil Belajar, Sejarah Kebudayaan Islam Abstract. Teachers are required to have skills in using learning methods and media, which are used as a tool to distribute material to students. The fact is that the learning patterns used by teachers today still use makeshift media, so students are less interested and bored with Islamic Cultural History lessons. Because they have to know the names of figures, years, and historical places that are difficult for students to remember. It takes teacher creativity in using learning media to arouse student learning motivation. Besides the consumption of Moringa Leaves, it is also used as a medium in the learning process in class, by utilizing the parts or fins of the bone Moringa Leaves to understand the learning material provided by the teacher. This study aims to determine the learning process using the Moringa Leaf media on student learning outcomes in Islamic Cultural History (SKI) lessons. This research is a classroom action research conducted in two cycles, each cycle carried out through ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 377 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 the process of planning, action, observation and reflection. The subjects in this study were 25 VII-C grade students. The research data were obtained using observation sheets and questionnaires. Furthermore this data is analyzed using the percentage formula. The results obtained are a). The teacher was ready to use the Moringa Leaf media in the first cycle with a percentage of 62.07% and the second cycle with a percentage of 84.08%. b). Student learning outcomes on the material of the preaching strategy of the Prophet Muhammad Shallahu a Alaihi Wassallam in Mecca in MTs Negeri 2 Lembata also increased, with a percentage of 72.86% in the first cycle, and 80.84% in the second cycle. The results of students' mastery learning also increased with a percentage of 67.47% in the first cycle and 82.46% in the second cycle. The use of Moringa Leaf media in the subjects of Islamic Cultural History can improve student learning outcomes in MTs Negeri 2 Lembata. Keywords: Moringa Leaves, Learning Outcomes, History of Islamic Culture PENDAHULUAN Seorang guru harus memiliki kompetensi, tanggung jawab, dedikasi dan profesional karena guru bukanlah semata-mata ladang pencaharian atau tempat bergantung hidup. Tetapi guru profesional adalah seseorang yang mempunyai kewenangan serta tanggung jawab dalam melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap pendidikan peserta didik, baik secara invidual maupun kelompok pada saat jam sekolah atau di luar jam sekolah. (Kurniasih & Sani, 2016). Dalam merencanakan dan mengembangkan proses pembelajaran di kelas, seorang guru merupakan pengembang kurikulum yang terdepan untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran seperti pelatihan model pembelajaran dan pelatihan pembuatan materi pembelajaran yang standard. Selain itu, perlunya pembinaan dan pengembangan lain yang bertujuan untuk mendukung pembelajaran yang efektif sehingga dapat meningkatkan kualitas guru. (Mulyasa, 2011). Karena itu, seorang guru yang wajib memiliki kompetensi guru yang memadai untuk melatih dan menyiapkan kader bangsa dimasa depan serta dapat mensukseskan tujuan pendidikan nasional di indonesia. (Kurniasih & Sani, 2014). Mencapai cita-cita mulia itu, seorang guru harus menguasai kompetensi dalam pembelajaran diperlukan kecakapan dalam menggunakan metode mengajar dan media pembelajaran. Metode mengajar yang dipilih oleh tenaga pendidik akan berpengaruh terhadap jenis media pembelajaran yang akan digunakan. Media pembelajaran dijadikan sebagai sebuah alat untuk menyalurkan materi yang disampikan oleh tenaga pendidik kepada peserta didik. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, bentuk berbagai media pembelajaran semakin berkembangan dan sangat bervariasi. Mulai dari media pajang seperti papan tulis, papan pameran hingga bentuk perkembangan media yang lebih moderen seperti proyektor, rekaman audio visual, film, video, televisi, maupun komputer. (Arsyad, 2013). Beragamnya jenis media pembelajaran tersebut mengharuskan seorang guru untuk mampu mengenali dan memanfaatkan dengan baik media-media apa saja yang bisa dipilih dan digunakan dalam menunjang proses transfer pengetahuan yang dilakukan kepada peserta didik. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 378 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Diantara banyak media yang tersebut di atas, salah satu media yang digunakan oleh peneliti adalah dengan menggunakan media Daun Kelor. Kelor merupakan tanaman yang potensial untuk mengatasi gizi buruk, meningkatkan ketahanan pangan, mendorong pembangunan perdesaan, dan mendukung pengelola tanah yang berkelanjutan. Banyak manfaat dari tanaman kelor ini, baik dari biji kelor, akar kelor, bunga kelor, maupun daun kelor. (Putri, 2011). Peneliti beranggapan bahwa manfaat daun kelor selain digunakan untuk konsumsi, juga digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Peneliti menggunakan media Daun Kelor ini dengan harapan bahwa siswa akan dengan mudah memanfaatkan bagian-bagian atau sirip-sirip dari tulang Daun Kelor tersebut untuk memahami materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah. Hal ini dilakukan karena peneliti menemui banyak anggapan bahwa sejarah Islam terdahulu sangat banyak, siswa harus mengenai nama-nama tokoh, tahun, dan tempat-tempat bersejarah yang sulit untuk diingat oleh peserta serta pola belajar konvensional yang digunakan oleh guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di kelas. Pola pembelajaran yang digunakan oleh guru saat ini belum maksimal, masih kurangnya buku pegangan siswa di sekolah, pemanfaatan media yang seadanya, sehingga membuat rendahnya minat siswa dalam mengikuti pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, ditambah lagi adanya suatu paradigma tentang mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Untuk itu, guna meningkatkan minat belajar siswa di sekolah, maka perlu adanya interkasi yang intens antara guru dan siswa sehingga dapat memberikan motivasi belajar terhadap siswa tersebut. (Sardiman, 2016). Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka peneliti menggunakan media Daun Kelor dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya pada materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah. (Dirjen Pendis, 2019). Atas dasar latar belakang masalah di atas, maka peneliti memandang penting dan perlu melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Media Daun Kelor Pada Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Terhadap Hasil Belajar di MTs Negeri 2 Lembata”. METODE Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kualitatif deskriptif. Prosedur yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk siklus yang akan berlangsung melalui tiga siklus, dimana setiap siklus bisa terdiri dari satu pertemuan atau lebih. Pada akhir pertemuan diharapkan dapat tercapai yaitu meningkatnya hasil belajar siswa pada materi strategi dakwah Nabi Muhammad Saw di Mekah semester ganjil MTs Negeri 2 Lembata Kabupaten Lembata. Layaknya sebuah penelitian, PTK juga memiliki prosedur atau aturan yang perlu diperhatikan. Prosedur tersebut berguna bagi para guru yang akan melaksanakan PTK dijelaskan bahwa satu siklus PTK terdiri dari empat langkah yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksaan, (3) pengamatan dan (4) refleksi. (Arikunto, 2013). Adapun ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 379 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 deskripsi alur PTK yang dapat dilakukan oleh guru pada setiap siklusnya sebagai berikut: Gambar 1. Siklus rencana PTK Pelaksanaan penelitian dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila telah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, penelitian menentukan rancangan untuk siklus kedua. Kegiatan siklus kedua dapat dilakukan kegiatan yang sama dengan siklus pertama ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau menguatkan hasil yang diperoleh pada siklus pertama. Pada umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan yang ditemukan dalam siklus pertama. Apabila siklus kedua selesai dilaksanakan dan merasa belum puas, peneliti dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, cara dan tahapnya sama dengan siklus terdahulu, tidak ada ketentuan tentang berapa kali siklus dilakukan. Lokasi penelitian bertempat di MTs Negeri 2 Lembata Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian mulai dilakukan pada Tahun Pelajaran 2019/2020 yaitu tepatnya pada bulan Juli 2019 sampai Desember 2020. Penelitian ini dilaksanakan di semester ganjil pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan materi strategi dakwah Nabi Muhammad ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 380 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 SAW di Mekah, sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) pada amanah kurikulum yang diterapkan di sekolah adalah kurikulum 2013. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-C MTs Negeri 2 Lembata Tahun Pelajaran 2019/2020, yang berjumlah peserta didik dengan rincian 11 orang siswa laki-laki dan 14 orang siswa perempuan. Alasan pemilihan subjek penelitian adalah berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah di kelas VII. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Tes Dalam penelitian ini akan menggunakan tes hasil belajar yang mengukur hasil belajar yang dicapai siswa. 2. Daftar angket Angket ini digunakan untuk memperoleh data tentang penggunaan media Daun Kelor terhadap peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan di MTs Negeri 2 Lembata. 3. Dokumentasi Dokumentasi yang dimaksud berupa foto dan hasil tes siswa yang berfungsi untuk memberikan gambaran aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. 4. Lembar observasi Lembar observasi digunakan peneliti untuk mengamati proses pembelajaran dan ikut serta dalam kegiatan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang berlangsung di kelas. 5. Wawancara Dalam penelitian ini wawancara dilakukan untuk mengetahui karakter dan proses berpikir siswa. Wawancara dilakukan setelah tindakan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media Daun Kelor terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Untuk menghitung persentase suatu jawaban dengan menggunakan rumus sebagai berikut: P = ( F /N ) X 100% Keterangan: P = Persentase F = Frekwensi dari setiap jawaban yang telah menjadi pilihan responden N = Jumlah responden Tujuan analisis data adalah untuk menjawab permasalahan peneliti yang telah dirumuskan, adapun data yang di analisis adalah: a. Analisis data observasi Data aktivitas guru diperoleh dari lembar data hasil pengamatan, yang diisi selama proses pembelajaran berlangsung. Data ini dianalisis dengan menggunakan rumus persentase dengan tujuan untuk mengetahui apakah proses pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan. b. Analisis data respons siswa ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 381 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Data untuk mengetahui respons siswa terhadap penggunaan media Daun Kelor dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut: P = ( F /N ) X 100% Keterangan: P = angka persentase F = frekuensi jawaban siswa N = Jumlah siswa Hasil belajar siswa dianggap tuntas apabila adanya peningkatan rata-rata nilai siswa setiap siklusnya dan secara klasikal dianggap tuntas apabila mencapai ≥75% (kategori tinggi) dari jumlah siswa seluruhnya mencapai KKM ≥60. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti bertemu dengan Kepala Madrasah untuk meminta izin melakukan penelitian pada kelas peneliti sendiri yaitu kelas VII-C. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri 2 Lembata dan kelas yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah kelas VII-C yang berjumlah 25 orang yang terdiri dari 14 orang perempuan dan 11 orang laki- laki. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan uraian sebagai berikut: Pada tahap perencanaan siklus I ini, peneliti telah membuat sejumlah perangkat pembelajaran dan hal-hal yang dapat mendukung pembelajaran tersebut, yaitu dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlebih dahulu. RPP ini berguna untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan pembelajaran di lapangan, mulai dari rencana kompetensi inti, kompetensi dasar, serta tujuan pembelajaran selain RPP. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media Daun Kelor dilakukan pada pukul 07.00 sampai 09.10 WITA (2 jam pelajaran) berdasarkan jadwal kegiatan pembelajaran yang telah disiapkan oleh madrasah. Sebelum memulai pembelajaran, peneliti memberikan apersepsi dan motivasi kepada seluruh siswa. Setelah itu, peneliti yang bertindak sebagai guru memberikan tes awal yang tujuannya untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diterapkan proses belajar mengajar menggunakan media Daun Kelor. Adapun jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas pada kegiatan pre test dapat dilihat pada diagram di bawah ini. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 382 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Persentase Aktivitas Belajar Siswa Siklus I 10000% 9000% 8000% 7000% 6000% 5000% 4000% 3000% 2000% 1000% 0% Pre test siswa yang tuntas Pre test siswa yang tidak tuntas Pos test siswa yang tuntas Pos test siswa yang tidak tuntas Diagram di atas menunjukkan bahwa persentase aktivitas belajar siswa pada indikator pre tes siswa yang tuntas skor yang dicapai siswa secara klasikal mencapai persentase sebesar 64,00%, pre tes siswa yang tidak tuntas skor yang dicapai siswa secara klasikal mencapai persentase sebesar 36,00%, post tes siswa yang tuntas skor yang dicapai siswa secara klasikal mencapai persentase sebesar 80,00%, post tes siswa yang tidak tuntas skor yang dicapai siswa secara klasikal mencapai persentase sebesar 20,00%. Dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata siswa pada saat pre tes terlihat masih rendah dan masih banyak siswa yang belum mencapai nilai tuntas yang telah ditentukan. Setelah selesai proses pembelajaran, selanjutnya peneliti memberikan soal post tes kepada siswa dengan soal yang sama dengan pre tes. Soal post tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi siswa setelah proses belajar mengajar pada siklus I. Hasil post test menunjukkan bahwa jumlah rata-rata kemampuan siswa sudah mencapai ketuntasan belajar sebagaimana dijelaskan pada diagram di atas. Tahap pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan pada hari selasa 20 Juli 2019 pada jam 07.00 sampai jam 10.10 WITA. Pada tahap ini peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Di awal kegiatan pembelajaran, guru menyampaikan apersepsi dan memberikan motivasi kepada siswa. Setelah menjelaskan pengantar materi, selanjutnya guru menggunakan media Daun Kelor untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu guru menyuruh masing-masing siswa untuk satu batang Daun Kelor yang sudah dihilangkan/dilepaskan sirip-sirip pada daun tersebut di atas meja guru. Siswa diminta untuk memasang kembali sirip-sirip Daun Kelor tersebut, lalu akan membentuk sebuah cerita dakwah sebagaimana materi pembelajaran tentang strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah. Pada tahap observasi ini yang dilakukan adalah mengamati proses pelaksanaan pembelajaran. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini berbentuk lembar pengamatan aktivitas guru yang telah diisi oleh pengamat ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 383 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 selama proses pembelajaran berlangsung, pengamatan ini dilakukan untuk dijadikan bahan masukan sebagai penyempurnaan pada siklus-siklus selanjutnya. Tabel 1. Pengamatan aktivitas guru siklus I No 1 Aspek yang diamati Skor penilaian Kategori 2 Kurang 2 Kurang 2 Kurang 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 2 Kurang 2 Kurang 2 Kurang 2 Kurang Pendahuluan  Kemampuan guru melakukan apersepsi (sejauh mana peserta didik memahami hubungan pelajaran yang lalu dan atau konsep yang dimiliki dengan materi yang akan diajarkan),  Guru melaksanakan tes awal (pretest) untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi yang akan diajarkan.  Guru memberi motivasi peserta didik 2 Kegiatan Inti  Kemampuan guru dalam memasang dan melepaskan sirip-sirip Daun Kelor dengan baik dan tepat  Kemampuan guru menjelaskan cara memasang dan melepaskan sirip-sirip Daun Kelor  Kemampuan guru dalam bercerita dan memperagakan sirip-sirip Daun Kelor sesuai materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah  Kemampuan guru menguasai media Daun sesuai materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah dengan baik 3 Penutup  Guru membuat kesimpulan dan melaksanakan refleksi terhadap penggunaan media Daun Kelor serta penguatan hasil diskusi, sebagai bahan masukan untuk perbaikan langkah selanjutnya.  Merencanakan kegiatan tindak lanjut denganmemberikan tugas secara individumaupun kelompok bagi peserta didik yang menguasai materi.  Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya Total nilai seluruhnya Prosentase 23 72,86% Cukup Baik Berdasarkan hasil observasi guru pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1, aktivitas guru pada siklus I pada proses pembelajaran dikatakan cukup baik, hal ini dapat dilihat dari persentase yang di peroleh selama proses pembelajaran yaitu dengan persentasenya 72,86%. Pada tahap perencanaan siklus II ini, sebelum menerapkan pembelajaran pada RPP II, peneliti terlebih telah menyiapkan sejumlah perangkat pembelajaran sebagaimana yang telah dilaksanakan pada siklus I. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 384 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan siklus II, peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan pada pelaksanaan tanggal 25 Juli 2019. Kegiatan pembelajaran dilakukan dari pukul 07.00 sampai 10.10 WITA. Sebelum memulai pembelajaran, peneliti terlebih dahulu memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa dengan menyampaikan hasil belajar yang diperoleh sebelumnya pada penerapan siklus I. Pada tahap observasi siklus II ini yang dilakukan adalah mengamati proses. Hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2. Pengamatan aktivitas guru pada siklus II No 1 Aspek yang diamati Skor penilaian Kategori 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 2 Kurang 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 3 Cukup Baik 2 Kurang 2 Kurang 2 Kurang Pendahuluan  Kemampuan guru melakukan apersepsi (sejauh mana peserta didik memahami hubungan pelajaran yang lalu dan atau konsep yang dimiliki dengan materi yang akan diajarkan),  Guru melaksanakan tes awal (pretest) untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi yang akan diajarkan.  Guru memberi motivasi peserta didik 2 Kegiatan Inti  Kemampuan guru dalam memasang dan melepaskan sirip-sirip Daun Kelor dengan baik dan tepat  Kemampuan guru menjelaskan cara memasang dan melepaskan sirip-sirip Daun Kelor  Kemampuan guru dalam bercerita dan memperagakan sirip-sirip Daun Kelor sesuai materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah  Kemampuan guru menguasai media Daun sesuai materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah dengan baik 3 Penutup  Guru membuat kesimpulan dan melaksanakan refleksi terhadap penggunaan media Daun Kelor serta penguatan hasil diskusi, sebagai bahan masukan untuk perbaikan langkah selanjutnya.  Merencanakan kegiatan tindak lanjut dengan memberikan tugas secara individu maupun kelompok bagi peserta didik yang menguasai materi.  Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya Total nilai seluruhnya Prosentase 26 80,84% Baik Tabel pengamatan di atas menjelaskan bahwa hasil observasi aktivitas guru pada siklus II pada saat belajar dikategorikan baik, hal ini dapat dilihat dari persentase yang diperoleh selama proses belajar mengajar, di mana ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 385 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 persentasenya adalah 80,84%. Dari analisis di atas, jelas bahwa aktivitas guru pada siklus II sudah terjadi peningkatan dan guru memiliki kemampuan yang baik sekali dalam menerapkan media Daun Kelor pada materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah. Adapun hasil angket yang diberikan kepada siswa akan dianalisis untuk memperoleh respons siswa terhadap penggunaan media Daun Kelor akan diolah dengan menggunakan rumus persentase. Persentase respons siswa didefinisikan sebagai frekuensi siswa yang memberikan komentar, setiap komponen di kali dengan seratus persen. Untuk mengetahui pembelajaran menggunakan media Daun Kelor pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Berikut ini adalah hasil analisis data angket yang diperoleh dari siswa MTs Negeri 2 Lembata pada diagram di bawah ini: Persentase Hasil Analisis Angket Siswa 10000% 9000% 8000% 7000% 6000% 5000% 4000% 3000% 2000% 1000% 0% Diagram di atas menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa menyatakan senang terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menggunakan media Daun Kelor. Hal ini membuktikan bahwa siswa sangat senang terhadap pembelajaran dengan menggunakan media Daun Kelor dengan mencapai presentase sebesar 88,00%. Para siswa tidak mendapatkan kesulitan memahami materi saat menggunakan media Daun Kelor dengan mencapai presentase sebesar 80,00%. Hampir seluruh siswa menyatakan sangat semangat belajar dengan menggunakan media daun Kelor dengan mencapai presentase sebesar 88,00% dan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media Daun Kelor dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan mencapai presentase sebesar 92,00%. Hal ini terbukti bahwa seluruh siswa menyatakan sangat setuju dengan media Daun Kelor yang merupakan media alamiah atau klasik yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 386 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Pembelajaran merupakan salah suatu proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung maupun tidak langsung. (Nurdiansyah, 2016). Peneliti melakukan pembelajaran secara langsung dan membagikan kegiatan pembelajaran tersebut menjadi tiga yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal ini, seorang guru harus melakukan tahap persiapan untuk menggunakan media atau alat pembelajaran. (Anwar, 2011). Selain tahap persiapan dilakukan, dalam mengawali kegiatan pembelajaran di kelas, seorang guru juga dituntut harus mampu membuka kegiatan pembelajaran denagn baik untuk menyiapkan mental dan memusatkan perhatian siswa pada saat pembelajaran berlangsung. (Saud, 2012). Adapun persiapan awal yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah berupa membuat RPP, merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan materi, memilih media, dan berlatih untuk menggunakan media tersebut dengan baik dan tepat. Pada kegiatan inti, seorang guru mulai merancang dan menerapkan media dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan semangat belajar dan memberikan stimulus dalam pembelajaran, serta dapat mempengaruhi psikologis siswa dalam belajar. (Musfiqon, 2012). Penulis memilih media Daun Kelor untuk membangkitkan motivasi dan rangsangan belajar serta menyampaikan pesan belajar kepada siswa. Karena media Daun Kelor mudah diperoleh di lingkungan sekitar terutama di daerah NTT dan sangat ramah lingkungan maupun peserta didik. Untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dengan menggunakan media Daun Kelor, maka setiap kelompok mempersilahkan salah seorang siswa untuk mempresentasikan atau bercerita sesuai petunjuk guru dan materi hasil diskusi dengan cara memegang setangkai Daun Kelor beserta sirip-sirip daunnya yang telah disediakan. Materi yang akan diceritakan oleh peserta didik tersebut meliputi pola dakwah Nabi, tujuan Nabi berdakwah, dan tantangan Nabi selama berdakwah. Selanjutnya, siswa tersebut menjelaskan secara runut dengan bantuan media Daun Kelor tentang substansi materi di atas. Setiap peserta didik dapat secara bergilir memperagakan dan menjelaskan sehelai demi sehelai sirip-sirip Daun Kelor tersebut mulai dari sirip daun terbawah hingga sirip daun yang paling atas sehingga akan menjadi sebuah cerita yang sempurna dari materi yang dipelajari. Alur ceritanya yang runut dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran dan menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang belum dimengerti atau dipahami oleh siswa pada kelompoknya masing-masing. (Mukrima, 2014). Akhir dari cerita materi pembelajaran sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah tersebut akan ditemukan siswa pada sirip Daun Kelor yang paling atas atau pucuk daun. Karena pada pucuk daun tersebut merupakan bagian klimaks dari semua langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dan mengandung nilai moral dan pesan historis religius kepada peserta didik. (Rusydiana, 2020). Pada akhir kegiatan pembelajaran, guru menyimpulkan materi pembelajaran, memberikan penguatan dan mengadakan evaluasi terhadap penggunaan media pembelajaran tersebut. (Hamdani, 2011). Hasil evaluasi terhadap siswa tersebut dapat ditemui pada kegiatan pembelajaran siklus I dan siklus ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 387 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 II bahwa cenderung menunjukkan prosentase memuaskan dan sudah mencapai target atau capaian penelitian sehingga peneliti mengakhiri penelitian tindakan kelas ini. Proses pembelajaran dan hasil belajar yang dicapai tersebut menjadi tolak ukur dalam mencapai keberhasilan belajar. Karena itu hasil belajar yang dicapai merupakan kemampuan minimal harus dimiliki dan dikuasi siswa setelah proses berinterkasi dalam kegiatan pembelajaran. (Nana Sudjana, 2012). Pada akhir pembelajaran, peneliti menutup seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran yang merupakan bagian dari kegiatan dan pernyataan guru untuk menyimpulkan atau mengakhiri kegiatan inti selama proses pembelajaran. (Darmadi, 2012). Hasil prosentase belajar siswa di bawah ini peneliti menganggapnya tuntas karena adanya peningkatan rata-rata nilai siswa pada setiap siklusnya dan secara klasikal pun dianggap tuntas karena telah mencapai ≥75% (kategori tinggi) dari jumlah siswa seluruhnya mencapai KKM ≥60. Berikut rincian data prosentase pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Persentase Ketuntasan Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I dan II Siklus I Siklus II Keterangan 62,07% 84,08% Meningkat Penilaian kegiatan pembelajaran dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung. Berdasarkan tabel 4.3, persentase pelaksanaan pembelajaran mengalami kenaikan setiap siklusnya dan dapat mencapai 88%. Selain observasi pelaksanaan pembelajaran, juga dilaksanakan observasi khusus terhadap keaktifan siswa dalam pembelajaran. Berikut tabel 4.4 persentase partisipasi siswa dalam proses pembelajaran siklus I dan II: Tabel 4. Persentase Keaktifan Siswa Siklus I dan II Persentase Partisipasi dalam pembelajaran Siklus I Siklus II Keterangan 72,86% 80,84% Meningkat Berdasarkan tabel 4.4 di atas, persentase keterlibatan siswa dalam pembelajaran selalu mengalami kenaikan setiap siklusnya dan dapat mencapai indikator capaian kerja yaitu 80%. Dengan meningkatnya partisipasi siswa berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Adapun tabel 4.5 berisi tentang hasil evaluasi siswa dari siklus I dan II sebagai berikut: ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 388 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Tabel 5. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I dan II Siklus I Siklus II Keterangan 67,47% 82,46% Meningkat Berdasarkan tabel 4.5 di atas, maka persentase hasil belajar siswa selalu mengalami kenaikan setiap siklusnya dan dapat mencapai indikator pengetahuan, yaitu 80%. Dengan demikian, maka pencapaian kognitif ini sangat sesuai dengan keinginan peneliti. SIMPULAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian tentang penggunaan media Daun Kelor untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada MTs Negeri 2 Lembata, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media Daun Kelor pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menerima materi pembelajaran. Partisipasi siswa cenderung meningkat pada setiap tahapan belajar dengan persentase 67,47% pada siklus I, dan 82,46% pada siklus II. Dengan menggunakan media Daun Kelor juga menunjukkan kemampuan belajar siswa dengan sangat baik, sehingga kemampuan siswa dalam memahami materi strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah mengalami peningkatan setiap siklusnya. Hasil angket siswa pun menunjukkan bahwa siswa sangat senang dan semangat terhadap penggunaan media Daun Kelor untuk meningkatkan hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 2 Lembata. DAFTAR PUSTAKA Anwar, A. (2011). Modul pengembangan dan pengemasan media pembelajaran. Zanafa Publishing Arsyad, A. (2013). Media pembelajaran. Rajawali Pers. Arikunto, S. & Supardi, S. (2015). Penelitian tindakan kelas (edisi revisi). Bumi Aksara. Darmadi, H. (2012). Kemampuan dasar mengajar (Landasan dan Konsep Implementasi). Alfabeta. Dirjen Pendis. (2019). Sejarah kebudayaan Islam. Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Pustaka Setia Kurniasih, I & Sani, B. (2016). Ragam pengembangan model pembelajaran. Kata Pena. Kurniasih, I & Sani, B. (2014). Sukses mengimplementasikan kurikulum 2013. Kata Pena. Mulyasa, E. (2011). Menjadi guru profesional. Rosda. Musfiqon. (2012). Pengembangan Media Belajar Dan Sumber Belajar. Prestasi Pustakakarya. Nurdyansyah, E. F. F. (2016). Inovasi model pembelajaran. Nizamia Learning Center Putri, O. D. (2011). Sejuta kasiat daun kelor. Berlian Media. Sardiman, A.M. (2016). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. CV. Rajawali. Jakarta ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 389 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 377-390, November 2020 Rusydiana, U. (2020). Gurusiana. Piramida Literasi. https://uzlifahrusydiana.gurusiana.id/article/2020/4/piramida-literasi4496163?bima_access_status=not-logged Saud, S. U. (2012). Pengembangan profesi guru. Alfabeta. Sudjana, N. (2012). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Remaja Rosdakarya. Syifa, S. M. (2014). 53 Metode belajar dan pembelajaran. Bumi Siliwangi. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 390