https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Volume 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Page 172-184 Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka Oleh: I Gde Agus Darma Putra Program Studi Ilmu Filsafat Hindu. Fakultas Ilmu Agama. Seni dan Budaya. Universitas Hindu Indonesia, 80238. Indonesia dharmaputra432@gmail. Proses Review 2-27 September, dinyatakan lolos 28 Spetember Abstract The studies that have been carried out on the BhomAntaka kakawin have not yet shown who is the author of this kakawin. To get an answer of this question, this research uses philological methods to examine the maIgala of BhomAntaka kakawin. Meanwhile, regarding the issue of the name of the author and the king who ruled at the time while kakawin was written, this research uses a library Based on the analysis that has been carried out, it is found that Dhairya Sahaja was a wiku and author of the BhomAntaka who placed Jayabhaya as his lord. Jayabhaya himself was a king from the Kasiri period who in the BhomAntaka is referred to Chief Judge in Poetical Affairs. Meanwhile, the iadewata worshiped in the BhomAntaka is the god KAma called Manobh. Keywords: Dhairya Sahaja. BhomAntaka. Author. MaIgala Abstrak Penelitian-penelitian yang telah dilakukan kepada kakawin BhomAntaka, belum menunjukkan siapa pengarang kakawin ini. Untuk mendapatkan jawaban atas persoalan itu, maka penelitian ini menggunakan metode filologi untuk mencermati bagian maIgala kakawin BhomAntaka. Sedangkan untuk persoalan nama pengarang dan raja yang memerintah pada saat kakawin ini ditulis, penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, didapatlah bahwa Dhairya Sahaja adalah seorang wiku dan pengarang BhomAntaka yang mendudukkan Jayabhaya sebagai junjungannya. Jayabhaya sendiri merupakan raja dari periode Kasiri yang dalam BhomAntaka disebut sebagai hakim yang memimpin jalannya peradilan karya sastra. Sedangkan iadewata yang dipuja di dalam BhomAntaka adalah dewa KAma yang disebut Manobh. Kata kunci: Dhairya Sahaja. BhomAntaka. Author. MaIgala Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X PENDAHULUAN Friederich. Teeuw dan Robson adalah beberapa nama yang pernah melakukan studi terhadap kakawin BhomAntaka. Friederich pada tahun 1852 telah menerbitkan kakawin BhomAntaka, yang sayangnya hanya berupa teks BhomAntaka dalam aksara Jawa modern . odern Javanese characte. dan tanpa terjemahan. Selain itu. Friederich juga tidak menjelaskan perihal apapun mengenai siapa nama pengarang, angka tahun, serta raja yang memerintah pada saat kakawin ini ditulis. Sementara itu. Teeuw dan Robson . menyediakan teks serta terjemahan kakawin BhomAntaka ke dalam bahasa Inggris. Kedua sarjana ini menerbitkan hasil studi kakawin BhomAntaka ke dalam bahasa Inggris berdasarkan terjemahan kakawin BhomAntaka ke dalam bahasa Belanda yang dikerjakan oleh Teeuw pada tahun 1946. Melalui studi itu, mereka menyatakan bahwa kakawin BhomAntaka ditulis pada periode Jawa Timur, kisaran abad XII oleh pengarang yang tidak diketahui namanya . nknown autho. Ilmuan lain yang sempat mengulas kakawin BhomAntaka adalah Zoetmulder di dalam karya besarnya yang berjudul Kalangwan. Zoetmulder . 4: . dalam karya itu menyatakan bahwa KAma yang dipuji oleh penyair BhomAntaka sebagai Manobh, tidak dimaksudkan untuk menyebut seorang raja manapun yang menjadi patron bagi penyair. Meskipun demikian, dengan berpijak kepada pendapat yang dianggapnya sebagai Aukonsensus umumAy. Zoetmulder dengan sedikit ragu-ragu menyetujui pendapat bahwa kakawin ini dimasukkan ke dalam karya dari periode Kasiri, atau dengan kata lain dari Jawa Timur. Pendapat itu ternyata didasarkan kepada pertimbangan mengenai bahasa, gaya dan cara tema kakawin ini digarap. Singkatnya. Zoetmulder juga belum menemukan siapa pengarang kakawin BhomAntaka berdasarkan apa yang tertulis di dalam teks. Meskipun periode Jawa Timur telah disebutkan oleh Teeuw. Robson dan juga Zoetmulder sebagai periode penulisan kakawin BhomAntaka, petunjuk-petunjuk yang diajukan oleh ketiganya masih sangat minim. Namun usaha yang telah mereka lakukan dapat dijadikan petunjuk awal untuk mencari jejak-jejak yang Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 lebih jelas. Jejak yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah perihal pengarang. Raja yang memerintah dan perkiraan tahun kakawin ini Bila seluruh petunjuk tersebut dapat dipetakan, dengan sendirinya kita dapat mengerti situasi politik dan posisi penyair pada saat kakawin BhomAntaka digubah. Persoalan penyair kakawin BhomAntaka mendapat petunjuk penting di dalam tradisi Bali. Menurut tradisi ini, pengarangnya adalah seorang pendeta Buddhis, yakni Mpu Bharasa yang dikenal lewat beberapa sumber seperti: inskripsi berbahasa Sanskuta-Jawa Kuno pada arca Buddhis Joko Uolog, kakawin NAgarakutAgama . dan cerita Calon Arang. Mpu Bharasa dikenal sebagai seseorang yang turut campur tangan atas urusan politik Janggala dan Payjalu di akhir pemerintahan raja Airlangga pada tahun 1052. Pendeta Buddhis ini tinggal di sebuah aurama bernama Limah Tulis. Aurama ini terbukti didirikan di atas kuburan sebagaimana dibuktikan oleh Maclaine Pont . lewat ekskavasi Menurut NAgarakutAgama, aurama ini bernama Awurare. Wurare. Murare yang berarti Aoabu anak-anakAo. Nama Wurare juga dimuat di dalam prasasti Joko Uolog (Gomperts. Haag dan Carey, 2012. Berg, 1953:. Menariknya, meskipun dianggap sebagai karya seorang yang besar seperti Mpu Bharasa, apresisasi yang diberikan terhadap kakawin ini tidak begitu tinggi. Kakawin BhomAntaka dianggap sebagai kakawin yang sulit dinikmati karena pilihan katanya yang tidak indah. Pendapat ini disampaikan oleh I Gede Sura dan Ida Bagus Gede Agastia kepada saya, saat ditemui pada waktu yang berbeda sekitar tahun 2021. Keduanya berpendapat rasa bahasa yang digunakan di dalam kakawin BhomAntaka kurang unggul dibandingkan dengan kakawin-kakawin lain seperti RAmAyaNa. Arjuna WiwAha, maupun Sutasoma. Argumentasi ini jelaslah memerlukan pembuktian lebih lanjut. Meskipun demikian, studi ke arah itu ditangguhkan untuk sementara Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, studi ini akan memfokuskan kajiannya untuk menjawab dua hal yakni: Pertama, siapa Raja yang memerintah saat BhomAntaka ditulis? Jawaban atas persoalan pertama ini, sekaligus Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 menunjukkan pada periode mana pengarang menulis kakawin-nya. Selain itu, bagian tersebut juga mengelaborasi siapa patron yang dihadirkan oleh pengarang sebagai junjungannya sebagaimana umumnya maIgala-maIgala kakawin. Pertanyaan kedua ialah siapa pengarang kakawin BhomAntaka? Penelusuran terhadap pengarang kakawin BhomAntaka penting dilakukan untuk melengkapi barisan nama-nama pengarang pada masa kuno yang selama ini masih METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode filologi untuk mencermati bagian maIgala kakawin BhomAntaka. Bagian yang dimaksud sebagai maIgala dalam kakawin BhomAntaka ialah canto . 1 stanza . ait, pad. Sehingga hanya tiga bait itu saja yang akan dicermati dalam penelitian ini. Tiap-tiap kata yang dimuat di dalam ketiga bait tersebut, dicermati dengan seksama untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk yang AodisembunyikanAo oleh pengarang. Terutama untuk menemukan jawaban atas dua permasalahan yang telah diajukan di depan. Oleh sebab itu pula, usaha-usaha pengadaan teks kembali melalui metode stema dalam filologi ditiadakan. Edisi tekstual dalam penelitian ini dipercayakan sepenuhnya kepada edisi kritis yang disajikan oleh Teeuw dan Robson . sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sementara itu, edisi lainnya yang juga tersedia, seperti penyajian yang dilakukan oleh Friederich . dalam aksara Jawa, ditempatkan sebagai data pembanding saja. Begitu pula edisi aksara Bali yang dikerjakan oleh sebuah Tim dari Bali . Singkatnya, perbandingan naskah demi mendapatkan teks yang utuh secara filologis tidak dilakukan. Filologi dalam penelitian ini berperan sebagai metode dalam menyajikan tiga bait kakawin BhomAntaka sesuai dengan ketentuan transliterasi yang telah digunakan oleh Teeuw dan Robson. Ketentuan yang diajukan oleh Arlo Griffith dan Andrea Acri . diabaikan sementara mengingat penelitian ini menggunakan edisi kakawin BhomAntaka dari Teeuw dan Robson. Keputusan itu diambil, juga karena penelitian Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X ini tidak lagi memeriksa sumber-sumber utama yang digunakan oleh Teeuw dan Robson untuk edisi yang mereka terbitkan, sehingga transliterasi ulang tidak dapat dilakukan. Konsekuensi atas hal ini, maka usulan Griffith dan Acri untuk transkripsi nasal anusvAra . ntuk cica. dalam ISO 15919 yang ditranskripsi sebagai A, tidak Sehingga tetap sebagai ng. Hal serupa juga berlaku untuk fonem /U/ yang dialihkan menjadi ng, alih-alih menggantinya dengan I sebagaimana yang dilakukan oleh Zoetmulder . Ketentuan yang digunakan oleh Teeuw dan Robson tersebut hanya berlaku pada bagian transliterasi teks BhomAntaka saja, sementara untuk teks-teks lainnya, penelitian ini mengikuti metode yang dilakukan oleh Zoetmulder. Sedangkan untuk persoalan nama pengarang dan raja yang memerintah pada saat kakawin ini ditulis, penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Pustaka yang dimaksud ialah dua katagori sumber yakni: Pertama, adalah sumber-sumber pustaka berupa hasil studi kakawin. Kedua, ialah hasil studi-studi Kedua sumber pustaka tadi disaring dengan menggunakan triangulasi data, yakni reduksi, display dan verifikasi. Sehubungan dengan hal itu, dengan merujuk pada dugaan sementara bahwa Mpu Bharasa adalah pengarang kakawin BhomAntaka maka dua katagori sumber pustaka yang dipilih hanya studi terhadap kakawin dan prasasti yang berasal dari abad XII. Jelaslah dengan demikian, ada jarak seratus tahun yang menjadi batasan dalam pencarian jejak ini. Setidak-tidaknya dari tahun 1100-1200 Masehi. Beberapa sumber kakawin yang berasal dari abad XII di antaranya adalah kakawin BhAratayuddha . 7 M). HariwaIua . 5Ai 1157 M), dan GhaotkacAuraya . 4Ai1205 M) (Zoetmulder, 1994: 317Ai. Ada dua nama pujangga besar yang bertanggungjawab atas karya-karya tersebut yakni Mpu Sdah dan Panuluh. SumanasAntaka1 juga tidak boleh dikesa- Menurut Catra dalam satu pembicaraan pada tanggal 6 Februari 2021. Mpu Mona GuNa dan Mpu KaNwa terlibat dalam satu sayembara sastra. Sayembara itu bertujuan untuk melihat keunggulan dari masing-masing Mpu KaNwa dengan Arjuna WiwAha-nya berhasil memenangkan sayembara itu. Sedangkan SumanasAntaka karya Mpu Mona GuNa dikalahkan. Tentu saja informasi ini tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Selain karena berasal dari tradisi lisan yang sumbernya tidak diketahui. Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X mpingkan keberadaannya dalam hal ini, sebab menurut penjelasan Zoetmulder, kakawin ini dikerjakan oleh Mpu Mona GuNa di bawah bimbingan seorang guru bernama Jayawara atau Warajaya. Mengenai Warajaya, mesti diajukan pula satu prasasti yakni prasasti Sirah Kiting . 4 M = 1126 oak. Persoalan ini tidak lagi dipermasalahkan oleh Worsley dkk. ketika membahas mengenai penyair dan maIgalanya. Mengingat dalam tradisi Bali yang disebut sebagai pengarang kakawin BhomAntaka adalah Mpu Bharasa, itu artinya jangkauan penelusuran harus diperluas sampai pada titik kepemerintahan Airlangga karena Bharasa dalam cerita Calon AraI diceritakan sebagai guru Airlangga. Karya sastra yang telah terbukti tercipta pada masa tersebut yakni Arjuna WiwAha juga penting untuk diperiksa kembali. Begitu juga beberapa kakawin yang diciptakan setelahnya, seperti KuNAyana dan Smaradahana. Dari semua kakawin itu, nama-nama raja serta nama pengarang yang mungkin saja menjadi penanggungjawab kakawin BhomAntaka bisa didapatkan. Data prasasti yang berangka tahun pada kisaran abad XII, setidak-tidaknya sekitar dua puluh tiga sumber prasasti. Mulai dari prasasti Pojok . 0/1101 M] sampai dengan prasasti GalaIuI [Panjir Rij. 0 M] (Kszs, 1. Prasasti Sirah Kiting sebagaimana disinggung di atas tidak dapat diabaikan pula dalam hal ini, meski terlewat sekitar 4 tahun. Prasasti ini juga penting dikemukakan karena hanya terdapat jarak empat tahun, sehingga hubungannya dengan periode sebelumnya masih sangat mungkin Karena perluasan batasan periode, maka prasasti-prasati dari masa Airlangga dan setelahnya juga harus diperiksa. Selain beberapa data kakawin dan prasasti berbahasa Jawa Kuno tersebut. Sumber penting lain yang bisa menjadi dasar penelusuran adalah Giguritan Calon Arang yang ditulis oleh Anak Agung Gde Pamrgan (Suastika, 1. Karya-karya Pamrgan ini sekaligus mewakili kedua kakawin berasal dari abad yang berbeda. Sangat sulit membayangkan bagaimana dua kakawin dari masa yang berbeda disajikan dalam satu persidangan sayembara untuk memutuskan mana yang terbaik di antara keduanya. Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 tradisi Bali dalam penamaan kakawin BhomAntaka. Selain karya-karya tersebut, beberapa informasi penting lainnya juga dapat dicari pada teks-teks lain yang bersumber dari kakawin BhomAntaka seperti Bomakawia Parikan. Giguritan Samba. Giguritan Sang Samba Malaibang Dyah Yajyawati dan Parikan Bhoma. Kakawin BhomAntaka juga memiliki variasi berupa teks maarti yang jarang diminati dalam studi filologi. Dari daftar koleksi Gedong Kirtya, kita juga mendapatkan satu naskah yang sangat penting berjudul Candra Singkalan Pangriptan Kakawin [IVb 5. Di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk tahun oaka penulisan beberapa kakawin, salah satunya adalah BhomAntaka. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA MaIgala: Raja. Pengarang dan Tahun Penulisan MaIgala sebuah kakawin setidaknya mengisyaratkan nama Raja. Iadewata, serta ajaran yang diamini oleh pengarang sebagai jalan menuju kalpasan. Di dalam maIgalaAikhususnya epilog Ae juga bisa kita dapati bait-bait khusus sebagai tempat penyair kakawin itu memperkenalkan diri dan berbicara sedikit mengenai dirinya sendiri . Soepomo, 1991: 390Ai Sayangnya isyarat yang umumnya dapat ditemukan dengan sedikit usaha itu, tidak dapat ditentukan dengan pasti oleh Zoetmulder . dalam kakawin BhomAntaka. Hanya iadewata-nya yang dapat ditentukan secara pasti, karena penyair menyebut nama Manobh yakni nama lain Dewa KAma. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah salah satu bait maIgala dari kakawin BhomAntaka yang memuat hal itu. singgih dhyakeng3 kalangwan sang anga- Seluruh kutipan kakawin BhomAntaka dalam tulisan ini bersumber dari hasil kerja Teeuw dan Robson . , berjudul BhomAntaka The death of Bhoma. Leiden: KITLV Press. Oleh sebab itu, sistem transliterasi mengikuti pola yang digunakan dalam buku tersebut. Teeuw dan Robson menerjemahkannya sebagai AoChief Judge in Poetical AffairAo. Sedangkan Tim . menerjemahkannya ke dalam bahasa Bali sebagai AoSang Putusing KalngnganAo (Ia yang telah Melampaui Keindaha. Kata dhyaka (Sk. yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi kata jaksa, memang berarti hakim, pengadil. Konstruksi dhyakeng kalangwan Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 waki langy mrti sang hyang Manobh, pjAn ring pupa munggwing sarasija glarn mui ning KAmatantra, mangke caNsyA nireng bhAa saphalakna4 yan dewa ning kng winimba. Apan ring nikalAnangga kawuwusan ira n sang mangy wri ng palambang [I. emang pemimpin sidang kalangwan yang menubuhkan keindahan berwujud Sang Hyang Manobh. memuja dengan bunga, berstana pada teratai, . menggelar rahasia KAmatantra. kini hendak dicandikan dalam puisi, ketika Dewa Cinta dibayangkan. sebab dalam alam niskala, para perindu menyebutnya sebagai AoYang Tanpa TubuhAo yang menyatu dalam Ada beberapa informasi penting yang dapat ditemukan dari maIgala kakawin BhomAntaka. Pertama, adalah informasi mengenai Dhyakeng Kalangwan. Dhyakeng Kalangwan adalah sebutan bagi seseorang yang dianggap telah mahir dalam hal penciptaan karya sastra yang indah. Karena kemahirannya itu, ia dianggap layak menduduki jabatan sebagai hakim dalam memutuskan apakah suatu karya sastra telah memenuhi syarat-syarat sebagai karya yang unggul. Syarat-syarat tersebut dapat ditemukan di dalam karya-karya yang memuat perihal peraturan prosodi kakawin seperti Wutasaycaya (Kern, 1875. Agastia, 1. dan CandrakiraNa (Aminullah, 2. Wutasaycaya karya Mpu Tan AkuI berisi kumpulan metrum yang umumnya digunakan di dalam kakawin. Hunter Wutasaycaya sendiri secara umum memiliki kemiripan dengan Meghadta oleh KAlidAsa. Namun Zoetmulder . memberikan keterangan bahwa Tan AkuI mendasarkan karyanya pa- menandakan adanya suatu jabatan yang khusus dalam bidang keindahan. Namun jabatan ini tidak pernah sekalipun muncul dalam prasasti-prasasti dari abad XII. Mungkin sebutan ini hanya diketahui di kalangan penyair untuk menyebutkan seseorang yang sangat dihormati dalam bidang keindahan, khususnya puisi. kata ini memang sedikit menyulitkan, kata dasarnya mungkin phala atau saphala kemudian mendapat imbuhan berupa infix -in- dan arealis. Perubahan yang terjadi membentuk kata kerja pasif, namun dalam bentuk yang aneh yakni saphalakna dan bukan saphalakna. Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X da sebuah karya dari India yang kini dikenal dengan sebutan PinggalauAstra. Sedangkan bagian pertama dari teks CandrakiraNa menerangkan perihal alaAkAra yang terdiri dari dua dimensi yakni raa . dan doa . acat estetik sebuah kary. (Aminullah, 2019: . Dimensi raa menekankan pada nuansa suatu naratif yang ingin disampaikan pengarang, sedangkan dimensi doa menekankan pada diksi, tata bahasa, ekspresi dan ide dalam suatu naratif. Berkat salah satu bagian ini, kita dapat mengetahui bagaimana sebuah karya dinilai. Bukti ini menunjukkan sebuah kriteria bahwa penguasaan terhadap kaidah-kaidah perpuisian Jawa Kuno sebagaimana disebutkan dalam sumber tadi merupakan alasan-alasan seseorang dapat disebut sebagai orang yang mahir dalam kakawin. Berdasarkan informasi itu pula, dapat diketahui bahwa ia yang disebut sebagai Dhyakeng Kalangwan adalah seorang kawi atau penyair. Namun sehubungan dengan gelarnya sebagai dhyaka . , idealnya ia merupakan seseorang yang telah teruji syair-syairnya sehingga pantas menyandang gelar sebagai pengadil puisi. Dengan kata lain. Dhyakeng Kalangwan merupakan seorang penyair yang telah melahirkan Magnum Opus. Berdasarkan keterangan itu, kita dapat menduga bahwa Dhyakeng Kalangwan merupakan tingkatan tertinggi untuk sebutan seorang kawi . yang sejajar maknanya dengan kawuwara . emimpin penyai. Berhubung saya berasumsi bahwa terdapat jabatan khusus sebagai hakim karya sastra, seharusnya hakim tersebut menunaikan kewajibannya untuk mengadili karya sastra pada satu ruang peradilan sastra. Informasi mengenai adanya suatu Auperadilan karya sastraAy pada periode Jawa Kuna telah diketahui sejak masa Dharma Wangua Tiguh. Peradilan ini tampaknya terdiri dari para kawi yang memang mumpuni. Mengenai peradilan ini, saya mengajukan beberapa sumber kakawin yang menunjukkan bukti adanya kritik sastra yang hidup di masa lampau. Kritik sastra tersebut hadir untuk mendiskusikan kekurangan-kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki oleh suatu hasil karya tertentu. Itulah sebabnya, sehingga dalam banyak kakawin, terutama pada bagian epilog, seorang penyair seringkali Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X diharuskan untuk mengikuti sebuah tradisi untuk mengakui berbagai kekurangannya. Karena itulah pada bagian epilog, seringkali pembaca menemui ungkapan-ungkapan seperti yang disebutkan dalam Arjunawijaya . bahwa kekurangannya akan selalu menjadi sasaran kritik dan cemooh dari pihak para kawiuwara . istanya titir winAda cinacad ginuyu-guyu tikap kawiuwar. (Supomo, 1977: 165. Zoetmulder, 1994: . Menariknya, dalam Arjunawijaya tidak dijelaskan dalam situasi apa kritik dan cemooh itu akan disampaikan oleh para kawiuwara. Namun mengingat tradisi kawi merupakan tradisi yang terhormat, sejauh dibuktikan oleh keterangan-keterangan bagaimana posisi kawi dalam sebuah kerajaan, entah ia sebagai seorang guru, pembimbing, pengiring raja, maupun sebagai orang spiritual. Maka, hemat saya, tidak mungkin kritik dan cemooh itu diberikan pada situasi maupun kondisi yang tidak diperuntukkan untuk itu. Jadi, pada situasi yang bagaimanakah sebuah karya sastra AodiadiliAo oleh hakim keindahan? Sebuah bagian dari kakawin yang lebih muda seperti Dharma ounya memberikan petunjuk mengenai adanya suatu pertemuan bernama sAbha dimana penyair menyajikan hasil karyanya kepada sidang pembaca. Palguna . 9: 230Ai. menerjemahkan kata sabhA dalam kalimat winaI mijilakina kawitwa iI sabhA sebagai masyarakat. Terjemahan ini kurang tepat, karena kata sabhA sesungguhnya mengacu kepada tempat atau situasi pertemuan yang diperuntukkan demi menyepakati suatu Jadi kalimat AowinaI mijilakina kawitwa iI sabhAAo dapat diterjemahkan secara lebih tepat menjadi Aoberhak menghadirkan kakawin di dalam pertemuanAo alih-alih menjadi Aoberhak menghadirkan kakawin di dalam masyarakatAo. Karenanya, menjadi jelas bahwa di dalam pertemuan itulah, sebuah karya didiskusikan dengan seksama oleh para kawi. Pertemuan sejenis itu, juga disebutkan dalam teks WirAaparwa yang menyebutkan mengenai pertemuan yang dilakukan selama sebulan kurang sehari oleh para kawi dan turut dihadiri oleh Raja yang dalam hal ini adalah Dharma Wangsa Tiguh (Zoetmulder, 1994: . Bukti-bukti ini telah cukup memberikan secercah terang pada gambaran kehidupan, aktifitas. Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 serta posisi para kawi dalam kehidupan keraton Jawa Kuno. Rupa-rupanya para kawi itu dalam jangka waktu tertentu mengadakan sebuah pertemuan untuk melakukan diskusi sastra dan seyogyanya diskusi itu dipimpin oleh seorang pemimpin peradilan karya sastra. Pemimpin itulah yang dalam kakawin BhomAntaka disebut sebagai Dhyakeng Kalangwan . akim keindaha. Dhyakeng Kalangwan dan Jayabhaya Setelah bagaimana kehidupan para kawi di masa lalu, kini kita sampai pada sebuah pertanyaan menarik, siapakah Dhyakeng Kalangwan yang dihimbau oleh penyair kakawin BhomAntaka? Perlu diingat bahwa di dalam tradisi kepenyairan Jawa Kuno, gelar yang begitu tinggi untuk seorang kawi sering disematkan bagi seseorang yang telah dianggap sebagai guru para penyair atau raja yang melindungi kawi. Karena itu. Dhyakeng Kalangwan yang dimaksudkan dalam kakawin BhomAntaka kemungkinan adalah seorang guru kawi atau seorang raja yang melindunginya. Setelah memeriksa keterangan demi keterangan yang diberikan oleh para peneliti terdahulu mengenai guru dan raja yang melindungi penyair di masa itu, seseorang bisa saja memiliki posisi yang ideal sebagai guru kawi dan sekaligus sebagai raja. Pada periode Jawa Kuna, terutama Kasiri, ada dua orang raja yang dapat kita tempatkan pada posisi yang sangat penting ini. Dua raja itu ialah Jayabhaya dan Jayawara. Keduanya sering dihimbau sebagai guru bagi penyair dan sekaligus sebagai raja pelindung. Selain sebagai raja. Jayabhaya . 5-1157 M) juga merupakan seorang ahli puisi yang telah mengajarkan dua Mpu kenamaan yakni Mpu Sisah dan Mpu Panuluu perihal penulisan kakawin. Berkenaan dengan itu, dengan mengambil bagian akhir dari kakawin BhAratayuddha Zoetmulder . 4: . memberikan keterangan sebagai berikut: [A] Pokoknya, tiada seorang pun yang tidak tunduk kepada Sri Baginda . haAra haj. Jayabhaya, yang memerintah di Kasiri. Dengan tidak diganggu oleh rasa prihatin ia bersenang-senang, berkelana Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 di gunung-gunung dan di sepanjang pantai. Keindahan lagu-lagu gubahannya mempesona mereka yang menikmatinya. Gubahan-gubahan itu menyebarkan keharuman namanya di antara rakyatnya, kemanisan menawan hati dan didendangkan oleh para penyanyi dari surga . psara dan apsa. [A. Kebiasaan yang digambarkan lewat kakawin BhAratayuddha di atas cukup menjelaskan bagaimana Raja Jayabhaya bertindak sebagaimana umumnya seorang kawi. Selain karena Jayabhaya telah berhasil menyajikan gubahan-gubahan yang memesona. BhAratayuddha juga menggambarkan bahwa Jayabhaya memiliki ciri khas sebagai seorang kawi. Ciri yang sangat khas tentu saja adalah pengembaraannya di gunung dan pantai demi mendapatkan ilham untuk karyanya. Kebiasaan bagi seorang penyair ini juga tampak dalam beberapa kakawin pada periode-periode Wutasaycaya. Smaradahana, dan kakawin lain yang ditulis belakangan di Bali. Oleh sebab itu, bukti tersebut telah memberikan suatu gambaran kepada kita bahwa Jayabhaya memang seorang penyair dan berpeluang besar sebagai seseorang yang dihimbau oleh penyair BhomAntaka meskipun sampai saat ini kita belum mendapati karya apa saja yang telah dilahirkan oleh Jayabhaya sehingga ia pantas dipuji sedemikian rupa. Sesungguhnya, dugaan bahwa Jayabhayalah orang yang dihimbau dalam BhomAntaka, didasarkan pada beberapa alasan, yakni: . BhomAntaka selesai ditulis pada kisaran abad XII. Dalam kakawin dari periode abad XII. Jayabhaya ditegaskan sebagai guru penyair. Jayabhaya disebut ur lng langy (Penguasa Tunas Keindaha. dalam HariwaIua yang bernuansa sama dengan dhyakeng kalangwan dalam BhomAntaka. BhomAntaka memuat pujaan kepada KAma dan narasinya berkisah tentang keberhasilan WiNu. Dugaan yang keempat ini sesuai dengan kenyataan bahwa Jayabhaya dalam prolog kakawin sering kali disejajarkan dengan oiwa dan pada bagian akhir kakawin dinyatakan sebagai inkarnasi WiNu. Kenyataan itu tidak aneh, sebab Zoetmulder menerangkan bahwa semenjak Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X kepemerintahan raja Jayabhaya, para raja Kasiri dalam prasasti-prasasti bergelar nama-nama inkarnasi WiNu. Menurut catatan prasasti, gelar ke-WiNu-an untuk raja-raja periode Kasiri adalah sebagai berikut5: . Jayabhaya . ergelar or MahArAja oan Mapayji Jayabhaya Sri Warmmeuwara MadhusudanAwatAra Nandita Sukutasimha Parakrama Digjayottugadew. termuat dalam prasasti Hantang . 5 M) dan Talan . 6 M). Sarwweuwara . ergelar or MahArAja Rakai oirikan or Sarwweuwara JanardhanAwatAra Wijayagrajasana SiIhanadaniwaryyawiryya Parakarama Digjayottugadew. termuat dalam prasasti Padlegan II . 9 M) dan Kahyunan . 1 M). Aryyeuwara . ergelar or MahArAja Rakai Hino or Aryyeswara MadhusudhanAwatArarijaya Sakalabhwana . Nirwayya ParakramottuIgadewanam. termuat dalam prasasti dari desa Weleri . 9 M) dan prasasti Angin . 1 M). Koycaryyadipa . ergelar or MahArAja Sri Koycaryyadipa Handabhwanamalaka ParakramAnindita DigjayottuIgadewanama or Gandr. termuat dalam prasasti Jaring . 1 M). KAmeuwara . ergelar or Kameuwara TriwikramAwatAra Anirwaryyaparakrama DigjayottuIadewanam. termuat dalam prasasti Semanding . 2 M) dan Ceker . 5 M). Kutajaya . ergelar Sri Maharaja or Sarwweswara TriwikramAnindita ouIgalaychana DigjayottuIgadewanam. termuat dalam prasasti Kemulan . 4 M) dan Lawadan . 5 M). Selain nama-nama raja yang disebutkan oleh Damais, ada lagi raja bernama Jayawarsa . ergelar or Jayawarsa Digjaya Sastraprab. termuat dalam prasasti Sirahketing . 4 M). Jayabhaya dianggap inkarnasi WiNu bergelar MadhusdanAwatAra atau Aryeuwara dan sejalan dengan cerita kakawin BhomAntaka. Lihat Fauzi . 0, 109Ai. Fauzi tidak hanya menjelaskan mengenai gelar raja, tetapi juga isi prasasti secara singkat. Di dalam tulisan ini, prasasti AoJepunAo berangka tahun 1144 M tidak berhasil saya temukan Jadi ada loncatan runutan prasasti yang tidak dapat dikonfirmasi penjelasannya. Menurut keterangan Nakada Kszs, prasasti tersebut termuat dalam Notulen van de Algemeene en Bestuursvergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen dan Oudheidkundig Verslag. Sayangnya kedua sumber ini tidak dapat saya akses sampai dengan tulisan ini dipublikasikan. Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X KAma sebagai Iadewata. Pja KAma dan KAmatantra Informasi lainnya yang didapat dari maIgala kakawin BhomAntaka ialah informasi tentang pemujaan kepada Dewa Smara atau Dewa Cinta. Ada empat nama yang berbeda untuk menyebut Dewa Smara yang dimuat dalam maIgala kakawin BhomAntaka, yakni: Sang Hyang Manobh (I. Hyang Hyang Ning KArtika (I. Dewa Ning Kng (I. , dan Anangga (I. Berdasarkan kepada bukti-bukti itu, maka jelaslah BhomAntaka adalah kakawin yang mendudukkan KAma sebagai iadewata. Iadewata di dalam kakawin ialah Dewa atau Dewi yang dipuja oleh penyair di dalam karya Dengan melakukan pemujaan melalui maIgala kakawin, penyair menunjukkan harapan untuk dapat menyatu dengan DewaDewi pujaannya. Untuk mencapai tujuan itu, maka syair-syair yang diciptakan oleh penyair difungsikan sebagai yantra. Karena fungsinya yang demikian itulah. Soepomo menyetujui pandangan bahwa penyair Jawa Kuno merupakan seorang yogi uAstra alih-alih sebagai Aopendeta magi sastraAo. Berdasarkan pandangan itu, kita mendapati suatu kenyataan yang samar-samar bahwa penyair di masa Jawa Kuno juga sekaligus seorang tantrika. Ciri-ciri khas yang menunjukkan hal ini tentu saja narasi yang dibangun oleh para penyair Jawa Kuno yang menyatakan sangat ingin melakukan penyatuan dengan iadewata-nya melalui syair-syair yang mereka tulis sebagaimana telah kita bicarakan. Perihal KAma sebagai iadewata. Soepomo . mengutip pernyataan Siegel bahwa KAma memang lebih sering dipuja oleh penyair dari pada pendeta. Pernyataan inilah yang menyebabkan adanya pandangan yang membedakan posisi seorang penyair dengan seorang pendeta. Saya sendiri ragu-ragu, benarkah ada pembatas yang tegas dalam tradisi sastra Jawa Kuno untuk membedakan posisi seseorang sebagai penyair dan pendeta? Untuk mengentaskan rasa ragu-ragu atas pernyataan tadi, saya ingin mengambil contoh dari tradisi kawi yang masih hidup di Bali kemudian membandingkannya dengan beberapa bukti dan asumsi dari para ahli di bidang Jawa Kuno. Pertama-tama, saya ingin mengambil contoh dari seorang pendeta dari wilayah Tabanan. Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Bali, bernama Ida Pedanda Ngurah. Palguna . menempatkan Ida Pedanda Ngurah sebagai pengarang besar Bali abad ke-19 yang telah dipastikan mengarang Giguritan YajyeI Ukir, kakawin GunuI Kawi, kidung Bhuwana Winasa, dan kakawin SurAntaka. Selain keempat karya tersebut, ada beberapa teks lain yang keberadaannya sendiri masih samar-samar seperti WutmareI Ukir. SiIgala. Rundau PuliNa. JayeI Ukir, dan GunuI Guwa. Berdasarkan karya-karya itu, tidak diragukan lagi bahwa Ida Pidanda Ngurah adalah seorang penyair. Artinya. Ida Pidanda Ngurah adalah seorang pendeta dan sekaligus seorang pengarang. Contoh kedua adalah seorang pendeta dari Sanur. Bali, bernama Ida Pidanda Made Sidimin. Selain sebagai pendeta. Ida Pidanda Made juga seorang penyair yang telah mengarang sejumlah karya sastra antara lain: Salampau Laku. Kalpa SaIhara, kakawin SiIhalaIgyala, kakawin Candra Bherawa, kakawin Patitip/ PaIlipas, kakawin Manuk Dadali. PurwaniI GunuI AguI. Gayadijaya. Malawi. Tantri Pisacaharana, dan oiwagama. Teks lain yang disebutsebut oleh Palguna dan Agastia adalah Ugra Tattwa tetapi teksnya belum dapat diakses. Dua pendeta penyair tadi berasal dari abad IX dan XX. Bila kita melompat jauh ke abad sebelumnya, kita dapat menemukan seorang penyair lain bernama Dang Hyang Nirartha. Dang Hyang Nirartha menurut teks-teks babad, adalah seorang pendeta oiwa yang berasal dari Pasuruan. Menurut teks Dwijendratattwa. Dang Hyang Nirartha tercatat sebagai pengarang sejumlah karya sastra. Di antaranya ialah kakawin Dharma ounya dan kakawin Dharma Putus. Sedangkan menurut interpretasi yang dihadirkan oleh Palguna . 9: . , kakawin Dharma ounya dikarang oleh KamalanAtha yang merupakan nama pena dari SmaranAtha. SmaranAtha adalah seorang pendeta yang memeluk Buddhisme dan merupakan ayah dari Dang Hyang Nirartha yang memeluk oiwaisme. Acri . 2: . menyetujui pendapat Palguna ini dan berhipotesis bahwa SmaranAtha atau AsmaranAtha adalah nama lain dari Mpu Tan AkuI yang memang berarti AuTanpa CintaAy (Tan AkuI = A Smar. Dengan pola yang sama. Acri juga memberi kesimpulan bahwa Tan AkuI merupakan penyair yang menggubah Bhuwanakoua berkat sebuah bagian Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Sanskuta dari Bhuwanakoua yang menyebut munir amanmatha yang juga berarti AuPendeta Tanpa CintaAy (A Manmath. Berdasarkan keterangan-keterangan itu, sekali lagi kita mendapati bukti bahwa seorang penyair sekaligus sebagai seorang pendeta . awi wik. Karena itulah pembedaan posisi seseorang sebagai penyair dan atau pendeta tidak dapat dinyatakan dengan jelas dalam konteks karya sastra Jawa Kuno. Berkenaan dengan pemujaan KAma oleh para penyair, saya berpandangan pemujaan ini berkaitan dengan penciptaan. KAma di dalam mitologi India memang termasuk ke dalam dewa minor. Tetapi penting diingat bahwa KAma muncul sebagai dewa yang berkedudukan tinggi di dalam kitab-kitab PurANa (Manu, 1985: . Selain itu, saya juga mendapat kesan pemujaan yang sama juga dilakukan oleh pendeta oiwa seperti yang ditunjukkan oleh Goudriaan dan Hooykaas . 4:292Ai. Sehingga pernyataan Siegel yang dipetik oleh Soepomo, pada titik ini tidak dapat kita pertahankan lagi. Demikian pula pembedaan antara pendeta dan penyair dalam karya sastra, memang tidak perlu dilakukan lagi. Di dalam BhomAntaka, pemujaan kepada Dewa Smara dilakukan dengan metode yang disebut rahasia KAmatantra . ui ning KAmatantr. dan dilengkapi dengan sarana berupa bunga . Metode dan sarana itu ditujukan kepada AoIaAo yang berstana di dalam teratai . Setelah pemujaan itu dilakukan, penyair kakawin bermaksud mencandikannya dalam sebuah puisi yang indah. Selain di dalam BhomAntaka. KAmatantra juga muncul dalam kakawin Bharatayuddha . AurasaniI saIgama kAma wikasiI rasAIusipakinAy(Gunning, 1903: 84Ai. Kesamaan di antara kedua kakawin ini memberi ruang untuk menduga bahwa memang keduanya dikarang pada masa yang sama. Dhairya Sahaja Pengarang Kakawin BhomAntaka Setelah mendiskusikan perihal raja yang memerintah serta pemujaan kepada dewa KAma, kini sampailah kita pada inti persoalan tulisan ini yakni perihal pengarang. Sebagaimana telah disebutkan di awal, beberapa penelitian Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X yang telah dilakukan terhadap kakawin BhomAntaka belum dapat menunjukkan sebuah bukti yang memuaskan untuk menentukan pengarangnya. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajukan satu hipotesis mengenai hal tersebut dengan memperhatikan bagian maIgala pada bait ketiga kakawin BhomAntaka. Tetapi sebelum itu, kita mesti melihat terlebih dahulu apa yang dikatakan oleh Andrea Acri . yang sempat menyinggung persoalan ini secara sekilas seperti berikut ini. I tentatively advance the hypothesis that the Sanskrit word dhairya occurring in the opening hymn of kakavin BhomaEntaka . could represent one such AusignaturesAy, alluding to the name Tantular. Dhairya in Sanskrit means AufirmnessAy (OJ: Aufortitude, courageAy, or as an adjective. Aufirm, constant, steady, self-controlledAy. The first line of verse 1. 3 runs: manNgalyaEni nNhulun dhairya sahaja makodoE mraEkotaEnN bhomakaEvya. AuMay he . KaEma, and the poetAos sponsor, whom he embodie. be a sure source of blessing for me too, as of my own accord I do my best to render the kaEvya of Bhoma in JavaneseAy . Teeuw 2005, . It seems that Teeuw translates dhairya makodoE (Zoetmulder 1982, 837: Aufeeling the urge to, feeling impelled to, set on. anting, seeking to obtain, etc. ] at all costs . y any keeping on, cannot but unremittingly, insistently, obstinately, unavoidablyA. as AuI do my bestAy. however, dhairya here is more likely to represent a (Sanskrit or Sanskriti. epithet of the poet . ho is writing in the first person, nNhulu. , which is the positive equivalent of the negative Old Javanese expression tan tular Auimmovable, unchanging, unperturbedAy. Some elements in the manNgala evoke the East Javanese cultural milieu of Majapahit, in which Tantular was active. For instance, the expression dhyaksenN kalanNvan, which Teeuw translates AuChief Judge in Poetical AffairsAy, recalls the title dharmaEdhyaksa. AuSuperintendent of ReligionAy, a figure that is often mentioned in inscriptions of the Majapahit period . and also the emphasis on KaEma, a divine figure whose signifiDhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X cance becomes rather central in the religious and literary culture of the time. Teeuw . 5, . characterized the BhomakaEvya as Aua well-thought out and well-composed literary creation by an intelligent, creative, and well-informed authorAy, which Tantular undoubtedly was. Darma Putra . , in a short study on the manNgala of the BhomaEntaka, has advanced a different hypothesis, connecting the text to an earlier historical period, namely the reign of Jayabhaya (AD 1135Ae 1. , and interpreting dhairya sahaja as referring to the unwavering quality of the poet-viku who authored the text. This remains an open issue that needs to be explored further. On the hypothesis that PrapanEca, the author of the DesAavarnana/ NaEgarakru taEgama, is to be identified with . he youn. Tantular . rapanEca being an antonym of tan tula. , or perhaps with an opponent, see Supomo 1977, 2Ae3. Sebelum mengajukan pandangan terhadap tinjauan Acri di atas, saya ingin menunjukkan bagian maIgala yang dimaksud oleh Acri sehingga memudahkan pembicaraan kita selanjutnya: manggalyA ni nghulun dhairya sahaja makdy mrAkrtA ng BhomakAwya, de ning singgih matangnya n panulada kakawin ndAn adoh yan panirwa, himpr wintang lawan srya kta gati niki n taNsingn kAwidagdhan. Apan taNsing langy dra n amalika karas yan kadohan tanahnya [I. emang junjungan hamba Dhairya Sahaja yang merasa tergugah demi menceritakan kembali Cerita Bhoma. hendak meniru kakawin, meski berhasrat menyerupai, tak mungkin berhasil. bintang melawan mentari, yang ingin membandingkan kemahiran. mustahil beradu keindahan, kemudian membalikkan karas serta menjauhkan tanah-ny. Pertama-tama, saya berpandangan serupa dengan Acri, bahwa bait ketiga tersebut mencerDhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 minkan pengarang BhomAntaka meski Acri belum menunjukkan ciri-ciri yang dapat kita andalkan untuk membuktikan hal tersebut. Saya mengajukan kata makidy/ makydoE sebagai tanda yang memperjelas maksud penyair dalam menyatakan keberadaanya dengan membandingkan kalimat tersebut dengan kalimat dalam kakawin Smaradahana . yang berbunyi seperti berikut: csAmaNya nira mpu dharmaja kidy marNAIga saI hyaI smara . dalah penghormatan mpu Dharmaja yang terdorong untuk menceritakan penjelmaan dewa KAm. Kata kidy dan makidy pada dua kakawin tersebut menunjukkan keinginan dan juga alasan pengarang menggubah karya sastra. Dalam kasus Smaradahana kita mendapati sebabnya adalah keinginan pengarang untuk melihat wujud dewa KAma yang AuTanpa TubuhAy itu. Sedangkan dalam kasus BhomAntaka, tujuannya adalah untuk menceritakan kembali Cerita Bhoma. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan bahwa pengarang memiliki suatu babon dalam menulis karyanya. Kemudian dengan membandingkan cara pengungkapan diri Mpu Dharmaja dengan pengarang BhomAntaka, saya mengajukan nama Dhairya Sahaja sebagai pengarang BhomAntaka. Alasannya adalah sebagai berikut. Di dalam BhomAntaka, kita mendapati kalimat manggalyA ni nghulun dhairya sahaja (I. yang serupa dengan Smaradahana yang menunjukkan kalimat csAmaNya nira mpu dharmaja (I. Dalam kasus BhomAntaka, klitik Aeni dalam manggalyA ni nghulun memang berfungsi untuk menentukan relasi kepemilikan. Klitik ini sangat biasa bergabung dengan artikel Aeng dan sekaligus menunjukkan bahwa yang dirujuk sebagai pemilik sudah tertentu (Molen, 2019: . Sudah AotertentuAo maksudnya bahwa pemiliknya adalah seseorang. Dalam konteks ini, yang dimaksud sebagai pemilik ialah AoakuAo (Ihulu. yang dalam hemat saya adalah Dhairya Sahaja. Jadi siapakah Dhairya Sahaja Dhairya6 sama artinya dengan Dhra yang berarti kokoh, tetap, mantap, kuat, teguh, bera6 Terimakasih saya ucapkan kepada Andrea Acri dari Ecole Pratique des Hautes Etudes dalam sebuah kesempatan pada bulan Oktober 2020 telah memberikan interpretasi lain terhadap kata ini. Menurut Acri, kata Dhairya mengacu pada Tan Tular. Seorang kawi yang mengarang Arjunawijaya dan Sutasoma. Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ni, tenang, tabah, sabar (Zoetmulder dan Robson, 1997: . Kata dhra muncul dalam kakawin KuyjarakarNa Dharmmakathana, karya Mpu Dusun yang menyebutkan AosaI dhrAmriha yuddha riI raNa tapa brata maka laga wra adripu (I. (Teeuw dan Robson, 1981:. Aoia yang telah tetap batinnya ingin berperang dalam peperangan, tapa brata sebagai wahana untuk melawan enam musuhAo. Berdasarkan keterangan itu, kita mendapat informasi bahwa kata dhra mempunyai pengertian yang sama dengan kata dhairyya. Itu berarti seorang Dhairyya adalah ia yang teguh Ae batinnya Ae dan selalu memerangi ad ripu . nam musu. dengan melakukan tapa brata. Karena pengertian dhra yang demikian itulah. Acri menduga bahwa yang dimaksud adalah Tan Tular yang memang berarti teguh, tidak berubah. Namun saya berpendapat lain, dengan melihat kakawin-kakawin lain seperti Arjuna WiwAha dan SumanasAntaka. Dalam kakawin Arjuna WiwAha, tokoh utamanya adalah Arjuna yang melakukan tapa brata untuk mendapatkan perlindungan dari oiwa. Hasilnya. Arjuna mendapatkan anugerah berupa cadu uakti, yakni empat kekuatan yang di antaranya ialah wibhu uakti, jyAna uakti, kriya uakti, dan prabhu uakti. Selain sebagai tokoh yang uakti. Arjuna juga disebut wiku witarAga . , berarti wiku yang telah bebas dari hawa nafsu. Itu berarti Arjuna yang telah meneguhkan hati merupakan sosok wiku. Demikian pula sosok TuNawindu dalam SumanasAntaka diceritakan melakukan tapa brata sehingga membuat dewadewa di surga khawatir ia akan menggulingkan kekuasaan Indra . akwehning hyang ananguaye hyuna nirAngadiha ri pangadig SurAdhip. Karena itulah seorang bidadari bernama Dyah HariNi diutus untuk menggodanya. Tetapi ia gagal karena TuNawindu telah menguasai aaguNa atau juga disebut aaiswarya. TuNawindu dalam SumanasAntaka disebut Dwija TaruNa yakni seseorang pendeta yang tidak menikah. Kedua kakawin tersebut menunjukkan bukti-bukti bahwa seseorang yang mempunyai batin yang teguh . adalah orang yang terbebas dari hawa nafsu . ita rAg. dan menguasai delapan sifat pikiran . a guN. Sehingga keduanya pantas menyandang status sebagai seorang Wiku (Arjun. atau Dwija (TuNawind. Oleh sebab itu, hemat saya kata dhra menun182 Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X jukkan status Wiku atau Dwija. Karena itu pula, kini kita mendapat suatu gelar Dhra yang mesti disandingkan dengan kata Sahaja sehingga pengarang kakawin BhomAntaka adalah Dhairya Sahaja (Dhra Sahaja. Wiku Sahaja. Dwija Sahaj. Jadi siapakah yang dimaksud sebagai Dhairya Sahaja. Wiku Sahaja atau Dwija Sahaja? Sahaja berarti Aoyang lahir bersamaAo. AobawaanAo. Aopembawaan lahirAo. AoketurunanAo (Zoetmulder dan Robson, 1997: . Sahaja sama artinya dengan Basaja yang berarti tidak dibuatbuat, natural, sederhana, tulus, jujur, suci, murni [Zoetmulder dan Robson, 1997: . Kata basaja sendiri dalam teks Nawaruci, dipasangkan dengan kata wiku yakni wiku basaja . ak siIguh si wiku basaj. Ucapan itu disampaikan oleh Drona kepada Driyodhana [Prijohoetomo,1934: Oleh sebab itu, maka hipotesa yang diajukan dapat diterima sementara bahwa memang ada seorang wiku yang bernama Sahaja. SIMPULAN Setelah melakukan analisis terhadap maIgala kakawin BhomAntaka, selain simpulan atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di awal, didapat juga beberapa informasi menarik Pertama. Raja yang memerintah saat BhomAntaka dibuat adalah raja Jayabhaya. Raja ini dielu-elukan sebagai guru dan juga pengadil karya sastra karena terbukti bahwa Jayabhaya adalah seorang raja dan juga seorang penyair. Nama yang digunakan untuk menyebut Jayabhaya adalah DhyakeI KalaIwan . akim keindaha. Ia bertugas untuk AomengadiliAo karya sastra di dalam ruang diskusi bernama sabhA. Tradisi diskusi sastra ini sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Dharma Wangua Tiguu. Pengarang BhomAntaka bernama Dhairya Sahaja yang merupakan seorang wiku . yang murni, natural, suci, sederhana. Ungkapan ini segera mengingatkan kita pada nama Bharasa yang berarti lapisan kasar atau tanah yang kasar. Namun demikian, belum dapat dipastikan apakah Bharasa adalah orang yang sama dengan Dhairya Sahaja. Di dalam kakawin BhomAntaka. Dhairya Sahaja menempatkan Dewa KAma sebagai iadewata-nya. Pemujaan kepada KAma dilakukan dengan sarana berupa Dhairya Sahaja sebagai Wiku dan Pengarang: Kajian Awal MaIgala Kakawin BhomAntaka I Gde Agus Darma Putra ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 bunga dan rahasia dari kAmatantra. Kuat dugaan bahwa yang dimaksud dengan kAmatantra adalah kitab petunjuk praktik saIgama seb- agaimana disebutkan di dalam kakawin Bharatayuddha. DAFTAR PUSTAKA