SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. : 25-40 Copyright @ SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi pISSN: 20888236. eISSN: 27220079 DOI: 10. 46495/sdjt. Submitted: 7 May 2025 / Accepted: 27 August 2025 Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi Partisipatif bagi Umat dengan Disabilitas Eunike Itamar Pareang Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Indonesia eunikeitamar@gmail. Abstract The church is a home for everyone to be able to participate in, however the reality is that discrimination against people with disabilities still occurs in the church. This can be found from various sides in the church, one of which is the liturgy. Worship is a shared experience with the congregation, but unfortunately people with disabilities are often not facilitated to be able to participate and experience this shared experience. This research was conducted using the literature review research method. The results show that the church should be a space of shared experience for all people without exception so that the church is called to involve people with disabilities in church services, one form of which is playing a role in worship. An inclusive church is not about sufficient access for people with disabilities, but the acceptance of fragility and relationships with them opening up space for people with disabilities to be given the opportunity to participate in the liturgy. Keywords: Disability. Liturgy. Inclusive Church. Fragility Abstrak Gereja adalah rumah bagi semua orang untuk dapat berpartisipasi di dalamnya. Namun kenyataan yang ada bahwa diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas masih terjadi di dalam gereja. Hal ini dapat ditemukan dari berbagai sisi di gereja salah satunya adalah liturgi. Ibadah merupakan pengalaman bersama umat, tetapi sayangnya orang dengan disabilitas terkadang tidak difasilitasi untuk dapat berpartisipasi dan merasakan pengalaman bersama itu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja seharusnya menjadi ruang pengalaman bersama untuk seluruh umat tanpa kecuali sehingga gereja terpanggil untuk melibatkan orang dengan disabilitas dalam pelayanan di gereja, salah satu bentuknya adalah berperan dalam ibadah. Gereja inklusi bukan soal akses yang cukup untuk orang dengan disabilitas, tetapi penerimaan kerapuhan dan relasi dengan mereka membuka ruang untuk orang dengan disabilitas diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam liturgi. Kata Kunci: Disabilitas. Liturgi. Gereja Inklusi. Kerapuhan 26 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. PENDAHULUAN Gereja adalah tempat bagi semua umat untuk beribadah dan bersekutu tanpa Namun, praktiknya, kaum disabilitas sering kali sepenuhnya berpartisipasi dalam liturgi dan aktivitas gerejawi. Hambatan ini bisa bersifat fisik, sosial, maupun struktural. penyandang disabilitas, seperti akses kursi roda, teks braille untuk jemaat tunanetra, atau interpreter bahasa isyarat bagi jemaat Selain itu, stigma sosial juga menjadi tantangan besar. Penyandang disabilitas sering kali dipandang sebagai individu yang kemampuannya terbatas, sehingga peran mereka dalam pelayanan gereja sering diabaikan atau dibatasi. Orang mendapatkan perlakuan yang adil, seperti terhadap kehadiran dan keterlibatan mereka dalam gereja. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Oktavia Hartati Silaban, dkk. disabilitas belum menerima pelayanan yang layak dari gereja, termasuk dari para Tri Oktavia Hartati Silaban. Roby Marrung, and Jefry L. Masiku. AuKerapuhan Pada Kayu Salib: Sebuah Refleksi Spiritualitas Pelayanan arsitektur gereja. 1 Alkitab menuliskan dalam Kejadian 1:27 bahwa semua manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti setiap individu memiliki nilai dan potensi untuk berkontribusi dalam kehidupan bergereja. Di banyak gereja, masih terdapat anggapan bahwa liturgi hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan fisik dan kognitif yang utuh. Padahal, gereja seharusnya menjadi tempat yang paling inklusif dan penuh kasih bagi semua Konsep gereja inklusif bukan sekadar tentang menyediakan fasilitas fisik yang memadai, tetapi juga tentang menciptakan budaya yang menerima, menghargai, dan memberdayakan penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan jemaat. Dalam konteks ini, perlu adanya upaya yang lebih serius untuk memastikan bahwa kaum disabilitas dapat berpartisipasi Penyesuaian langkah-langkah yang perlu diambil untuk benar-benar ramah bagi semua orang. Lebih jauh lagi, upaya untuk menciptakan gereja yang inklusif bagi Terhadap Kaum Disabilitas Di Gereja Toraja,Ay Kurios 9, no. : 756. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 27 penyandang disabilitas sejalan dengan aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas. prinsip kasih dalam ajaran Kristen. Paulus Sucahyo dalam 1 Korintus 12:12-27 menegaskan menggunakan konsep inklusivitas yang bahwa tubuh Kristus terdiri dari banyak membangun kesadaran di antara jemaat dan anggota, dan setiap anggota memiliki peran menciptakan perjumpaan yang setara. yang sama pentingnya. Konsep dari Paulo Freire tentang rasa sakit. Kekristenan mengajarkan bahwa dialog, dan cinta juga digunakan oleh setiap individu, terlepas dari kemampuan Sucahyo fisik atau mentalnya, ia adalah ciptaan tentang gereja sebagai komunitas inklusif. Tuhan Penelitian lainnya telah dilakukan mendapatkan kesempatan yang sama untuk oleh Ade Novita Rollin dan Jeanne Ndeo berpartisipasi dalam kehidupan beragama. dengan judul AuPenyandang Disabilitas Oleh karena itu, gereja sebagai perwujudan sebagai Tubuh KristusAy. Hasil penelitian kasih Tuhan di muka bumi harus membuka menunjukkan bahwa gereja yang menolak kesempatan bagi semua orang untuk dapat penyandang disabilitas adalah gereja yang berpartisipasi dalam pelayanan gereja. menolak karunia Tuhan, sehingga teori Penelitian yang mendasari penelitian tersebut adalah dilakukan oleh Sat Herry Sucahyo berjudul konsep tubuh Kristus dari 1 Korintus 12:21- AuPenyandang Disabilitas dalam Gereja. Ay penelitian membahas tentang tiga bentuk Kedua penelitian tersebut tidak kekerasan dan orang dengan disabilitas dijadikan ruang partisipatif bagi orang dengan disabilitas di dalam gereja. Gereja Penelitian yang inklusif membuka setiap ruang, termasuk ruang liturgi agar orang dengan pemahaman konsep, dan interpretasi. Hasil disabilitas diterima dan diberdayakan untuk penelitian menunjukkan bahwa kekerasan ikut serta mengambil bagian. Kerapuhan nyata di Gereja dalam bentuk perlakukan dalam tulisan ini membuka jalan bagi kasar terhadap anak-anak dan kurangnya gereja melihat bahwa disabilitas dimiliki Sat Henrry Sucahyo. AuPenyandang Disabilitas Dalam Gereja,Ay Marturia IV, no. 76Ae95, 80-81, https://jurnal. id/umum/article/view/ 33/27. Sucahyo. AuPenyandang Disabilitas Dalam GerejaAy, 86-92. Ade Novita Rollin and Jeanne Ndeo. AuPenyandang Disabilitas Sebagai Tubuh Kristus,Ay Vox Veritas, vol. 3, no. : 23, https://jurnal. id/index. php/voxveritatis/article/view/57 /62. 28 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. oleh semua orang sehingga ibadah menjadi menggambarkan Tuhan yang disabilitas. Nancy Eiesland dan Henri Nouwen yang membahas teologi Tulisan disabilitas dan gereja inklusif. disabilitas juga dapat diberdayagunakan HASIL DAN PEMBAHASAN untuk berpartisipasi penuh dalam ibadah. Disabilitas dalam Pandangan Sosial merefleksikan bahwa setiap orang dengan World Health Organization (WHO) kerapuhan yang dimiliki dapat dipakai oleh memperkirakan ada 1,3 miliar orang atau Kristus. sekitar 16% dari populasi global saat ini mengalami disabilitas yang signifikan. METODE PENELITIAN Penelitian Jumlah ini meningkat sebagian karena pendekatan kualitatif dengan metode studi Perbincangan tentang disabilitas saat ini literatur dan analisis teologis. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami bagaimana Encyclopedia of Disability and Rehabilitation mencatat bahwa disabilitas adalah kondisi seseorang yang terbatas dan Data dikumpulkan melalui kajian membatasi ruang geraknya untuk berfungsi pustaka terhadap literatur yang relevan. secara penuh seperti yang diharapkan. Sumber data utama adalah Alkitab sebagai Deborah Beth Creamer menuliskan model dasar teologis bagi inklusivitas dalam medis melihat disabilitas, seperti berfokus gereja, sumber kedua berasal dari buku dan kepada yang dapat dilakukan dan yang artikel akademik dari penulis Amos Yong tidak dapat dilakukan oleh manusia. Dalam yang menunjukkan narasi dalam Alkitab tulisannya. Creamer menyatakan bahwa tokoh-tokoh Swinton Jhon tentang keberadaan Tuhan dalam teologi AuDisability,Ay World Health Organization. Maret, https://w. int/healthtopics/disability#tab=tab_1 sebenarnya tidak diharapkan karena tidak Disability Debora Beth Creamer. Disability and Christian Theology: Emboied Limits and Constructive Possibilities (Oxford: Oxford University Press, 2. , 22-24. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 29 Discourse for Theological Institution in Indonesia Creamer Fred Pelka disabilitas sebagai penurunan kondisi dan menuliskan bahwa ableism adalah orang- fungsi dari nilai standar yang biasa orang yang memiliki pemikiran bahwa digunakan untuk mengukur. Penurunan ini penyandang disabilitas berbeda dari orang meliputi fungsi dan fisik, sensorik, kognitif yang normal dan hidup penyandang atau intelektual. disabilitas pada dasarnya kurang berharga Creamer menjelaskan disabilitas dari orang-orang tidak disabilitas. dengan model sosial atau minoritas yang Uraian di atas menunjukkan bahwa memiliki keterkaitan dengan lingkungan orang dengan disabilitas tidak dapat Model sosial ini tidak sama membentuk cara pandang masyarakat dan gereja terhadap tubuh, kemampuan, dan Model sosial berfokus pada cara nilai manusia. Oleh karena itu, gereja hadir memperlakukan atau cara menerima orang menjadi ruang yang mencerminkan kasih yang hidup dengan disabilitas. Model sosial Kristus, ini lebih memiliki prasangka, eksklusif, dan perilaku yang menindas serta berbagai Lebih dari itu, gereja hadir di aspek yang berkaitan dengan sosial. Kelompok model sosial ini menganut paham bahwa orang disabilitas adalah merugikan dan membangun pemahaman orang yang tidak mampu. Penilaian-penilaian asumsi-asumsi penyandang disabilitas memiliki kapasitas adalah sebuah keyakinan bahwa pada dasarnya penyandang disabilitas tidak kehidupan bergereja. mampu untuk mengelola hidup mereka sendiri, mereka dianggap lebih rendah daripada orang-orang yang berbadan sehat. Pemikiran dari model kelompok minoritas Tabita Kartika Christiani. Disability Discourse for Theological Institution in Indonesia (Yogyakarta: Duta Wacana Christian University, 2. , 56. Creamer. Disability and Christian Theology: Emboied Limits and Constructive Possibilities, 25. Creamer. Disability and Christian Theology: Emboied Limits and Constructive Possibilities, 25-26. 30 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Teologi Disabilitas sebagai Kritik untuk menyatakan kuasa-Nya. terhadap Normalisasi Tubuh dalam Gereja Teologi bahwa semua manusia, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, sensorik, atau intelektual, adalah ciptaan Allah yang memiliki martabat dan nilai yang sama. Pemikiran ini berangkat dari prinsip bahwa setiap individu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. dan memiliki peran dalam tubuh Kristus . Kor. 12:1. Dalam teologi disabilitas, disabilitas ciptaan Tuhan yang harus dihargai dan diterima dalam komunitas iman. Dalam The Bible. Disability, and the Church Yong menjelaskan bahwa Alkitab menampilkan individu dengan disabilitas, seperti Musa yang memiliki kesulitan berbicara (Kel. 4:10-. 10 dan Paulus yang mungkin memiliki gangguan penglihatan 4:13-. (Gal. Kisah-kisah panggilan-Nya Allah kemampuan fisik, tetapi justru sering memakai individu dengan keterbatasan Eiesland The Disabled God menawarkan perspektif Nancy Amos Yong. The Bible. Disability, and the Church: A New Vision of the People of God (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 83 Yong. The Bible. Disability, and the Church: A New Vision of the People of God, 95. Nancy L. Eiesland. The Disable God: dengan menggambarkan Tuhan yang juga mengalami disabilitas. Dalam bukunya, ia Yesus bangkit tetap memiliki luka-luka di tangan dan lambung-Nya, yang menunjukkan disabilitas bukanlah sesuatu yang harus dihapus, tetapi bagian dari identitas ilahi. Konsep "Allah yang Disabilitas" ini menantang gereja untuk tidak hanya menerima penyandang disabilitas sebagai bagian dari komunitas, tetapi juga melihat pengalaman mereka sebagai refleksi dari pengalaman bersama Kristus sendiri. Pernyataan tentang AuAllah sebagai disabilitasAy dalam situasi khusus dengan orang-orang dengan disabilitas. Konsep ini menolong mereka untuk menemukan diri mereka dalam perjalanan iman untuk memenuhi panggilan mereka. Allah sebagai Tuhan yang dengan disabilitas dipahami bahwa Ia orang-orang 13 John Swinton memberikan Towards A Liberatory Theology of Disability (Nashville: Abingdon Press, 1. , 98. Nancy L. Eiesland. The Disable God: Towards A Liberatory Theology of Disability (Nashville: Abingdon Press, 1. , 98-99. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 31 Tuhan dalam teologi disabilitas untuk Teologi menolong kita melihat gambaran yang gereja untuk mengubah cara pandangnya, dari sekadar memberikan belas kasihan Tuhan sebagai penyandang Tuhan sebagai yang terbatas Tuhan yang rentan Tuhan sebagai pemberi dan Kelima gambaran tersebut merupakan refleksi dari penyandang disabilitas untuk melihat Tuhan. 15 Namun disisi lain. Tuhan selalu dikaitkan dengan KemahakuasaanNya terlebih dalam perspektif kebangkitanSepanjang mereka sebagai bagian integral dari tubuh Tuhan dapat diakses Nya. kepada orang dengan disabilitas menuju ketidaksempurnaan Tuhan tidak pernah Kristus. Gereja yang benar-benar inklusif bukan hanya menyediakan akses fisik, tetapi juga memastikan bahwa penyandang disabilitas memiliki suara, peran, dan kesempatan untuk melayani dalam liturgi Menerima Kerapuhan sebagai bagian Pengalaman Bersama Kerapuhan dibicarakan, sehingga kacamata untuk kondisi manusia yang tidak bisa dihindari. melihat Yesus selalu memakai kacamata Judith Butler menjelaskan bahwa setiap Kristologi manusia pada dasarnya rapuh karena kita Transposisional dituliskan oleh Jekonia semua membutuhkan orang lain untuk Tarigan bahwa Kristologi Transposional bertahan hidup. 17 Konsep vulnerability hadir untuk memperlihatkan Tuhan yang dalam teologi disabilitas berfokus pada dapat melampaui ruang dan waktu melalui kesaksian Alkitab dan iman setiap individu. Konsep ini menawarkan setiap individu penyandang disabilitas. Pengakuan akan kerapuhan universal ini mendorong gereja Konsep Yesus untuk membangun komunitas agar setiap John Swinton. AuWho Is the God We Worship? Theologies of Disability. Challenges and New Possibilities,Ay International Journal of Practical Theology 14 . : 237Ae307. , 281. Swinton. AuWho Is the God We Worship? Theologies of Disability. Challenges and New Possibilities. Ay, 286. Jekonia Tarigan. AuYesus Untuk Orang- Orang Istimewa: Sebuah Upaya Menemukan Bentuk Kristologi Bagi Orang-Orang Dengan Disabilitas,Ay in Dari Disabilitas Ke Penebusan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 31-32. Judith Butler. Precarious Life: The Powers of Mourning and Violence (London: Verso, 2. , 27-31. 32 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. anggota, dengan atau tanpa disabilitas. Dengan kerentanannya dan menemukan dukungan disability- vulnerability, gereja dapat lebih timbal balik. Ini bukan relasi satu arah dari sensitif dalam menciptakan ruang bagi yang dianggap mampu kepada yang kurang semua orang untuk berpartisipasi tanpa stigma atau diskriminasi. Ini tidak hanya bersama dalam kerentanan yang diakui mencakup perubahan struktural dalam aksesibilitas fisik, tetapi juga reformasi Nancy Eiesland menegaskan bahwa memberdayakan individu dengan berbagai dipandang sebagai sesuatu yang harus latar belakang dan kebutuhan khusus. dihindari atau disembuhkan semata, tetapi Gereja sebagai bagian dari realitas manusia yang menyertakan penyandang disabilitas dalam patut diterima dan dihormati. Perspektif ini liturgi dan kehidupan gerejawi, tetapi juga menantang gereja untuk tidak hanya menawarkan dukungan bagi penyandang memahami makna keutuhan dan kelemahan disabilitas tetapi juga untuk mengakui bahwa mereka memiliki perspektif teologis bukanlah sesuatu yang harus dihindari, yang berharga yang dapat memperkaya komunitas iman. 18 Kehadiran orang dengan mengingatkan umat Kristen akan kasih disabilitas di dalam persekutuan bukan Allah sebagai sesuatu yang bersifat negatif. Yong mencatat bahwa Tuhan melainkan hal ini semakin menguatkan gereja untuk bersatu sebagai tubuh Kristus. Hal demikian juga dituliskan oleh Sturla J. kelemahan, kerapuhan, dan kerentanan. Stlsett bahwa kerapuhan yang dimiliki Kelemahan dan kerentanan mengajak umat dalam cara gereja memperlakukan dan Kerapuhan Roh Tuhan keterhubungan, kemampuan untuk berubah melampaui itu semua. 20 Kelemahan dan dan komunikasi. Sehingga hal ini tidak dianggap sebagai hal yang negatif tetapi penghalang untuk dapat berpartisipasi kemampuan dalam berelasi dengan yang Eiesland. The Disable God: Towards A Liberatory Theology of Disability, 101. Strula J. Stlsett. AuTowards a Political Theology of Vulnerability: Anthropological and Theological Propositions,Ay Political Theology 16, 5 . : 464Ae478. Yong. The Bible. Disability, and the Church: A New Vision of the People of God, 126. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 33 menjadi pintu masuk untuk umat dapat Roh diperkuat dalam teologi hospitalitas oleh melampai segala batas yang ditetapkan. Henri Nouwen dalam Reaching Out: The Kerapuhan yang diakui dan diterima Three Movements of the Spiritual Life yang bersama bukanlah penghalang, melainkan berarti menerima semua orang sebagai persekutuan yang lebih dekat. Dalam ruang bagian dari komunitas tanpa pengecualian. bersama inilah, topeng kesempurnaan Hospitalitas dalam gereja bukan hanya dilepaskan, umat dapat saling menopang sekadar membuka pintu bagi penyandang dan menyaksikan karya kasih Allah yang disabilitas, tetapi juga menciptakan kondisi bekerja melalui keterbatasan. di mana mereka dapat merasa benar-benar Tuhan Konsep menjadi bagian dari komunitas iman. Menjadi Gereja Inklusif Praktik hospitalitas radikal ini menuntut gereja untuk secara proaktif bertanya Gereja inklusif adalah gereja yang AuSiapa yang belum ada di meja persekutuan kita dan mengapa?Ay ini berarti melampaui penyediaan fasilitas fisik semata, menuju penciptaan budaya gereja di mana setiap Gereja bukan hanya tempat individu dengan segala keunikan dan ibadah, tetapi juga komunitas yang harus diterima, dihargai, dan memiliki ruang Kristus menerima semua anggota tubuh-Nya. John Swinton dalam Disability in the Christian menambahkan bahwa gereja inklusif tidak Tradition menyatakan bahwa gereja perlu hanya berbicara tentang memberikan akses bagi penyandang disabilitas, tetapi juga benara-benar memungkinkan keterlibatan aktif semua jemaat, bukan hanya dengan memberikan kesempurnaan fisik adalah syarat untuk fasilitas yang memadai, tetapi juga dengan pelayanan gerejawi. Ia menegaskan bahwa memastikan bahwa penyandang disabilitas Yesus yang bangkit masih membawa luka- memiliki peran dalam berbagai aspek luka-Nya, yang menjadi simbol bahwa pelayanan dan ibadah. pengalaman penderitaan dan disabilitas Swinton. Disability in the Christian Tradition: A Reader, 78. Henri J. Nouwen. Reaching Out: The Eiesland Three Movements of the Spiritual Life (New York: Image, 1. , 112. 34 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. juga memiliki tempat dalam identitas disabilitas untuk aktif melayani sebagai 23 Pemahaman akan Allah yang juga pemimpin ibadah dan anggota dewan mengalami dan membawa luka ini secara 25 Gereja ini menunjukkan bahwa fundamental mengubah cara gereja melihat inklusivitas bukan hanya tentang akses Jika Allah sendiri dalam Kristus fisik, tetapi juga tentang membangun budaya penerimaan dan penghormatan ketidaksempurnaan, maka gereja dipanggil terhadap semua individu. untuk mencerminkan hal yang sama. Ini Komunitas seperti L'Arche dan berarti tidak hanya menerima kehadiran praktik inklusif di First Presbyterian orang dengan disabilitas, tetapi juga Church of Jackson adalah manifestasi nyata dari teologi hospitalitas dan pemahaman perspektif teologis mereka yang lahir dari akan gereja sebagai Tubuh Kristus yang luka justru bisa menjadi sumber kekuatan beragam namun satu. Mereka menunjukkan bagi seluruh umat. bahwa inklusivitas sejati bukan hanya Salah satu contoh gereja inklusif yang dapat menjadi model adalah LAoArche berkomunitas yang mengakui bahwa setiap Community, yang didirikan oleh Jean Vanier. LAoArche merupakan komunitas disabilitas intelektual atau fisik, adalah yang berpusat pada inklusi penyandang disabilitas intelektual dalam kehidupan Kebersamaan rohani dan sosial gereja. Jean Vanier dalam dengan disabilitas menawarkan pelajaran bukunya From Brokenness to Community berharga tentang arti sejati kehidupan Ilahi. menekankan bahwa penyandang disabilitas Dengan memahami perasaan keterasingan bukanlah beban bagi komunitas, tetapi dan penolakan yang mereka alami, orang lain dapat lebih menghargai anugerah kehadiran dan pengalaman hidup mereka. dalam hidup mereka. Atas dasar inilah Contoh lain adalah First Presbyterian komunitas L'Arche didirikan, mewujudkan Church of Jackson. Mississippi, yang telah sebuah cita-cita akan tempat di mana mengintegrasikan program ibadah dengan anggotanya, dalam komunitas yang baru, layanan bahasa isyarat, akses kursi roda, dapat secara timbal balik memberikan dan menerima dukungan, kemandirian, serta Eiesland. The Disable God: Towards A Liberatory Theology of Disability, 105. Jean Vanier. From Brokenness to Community (New York: Paulist Press, 1. , 13. Swinton. Disability in the Christian Tradition: A Reader. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 35 Mewujudkan Gereja Kristus sepenuhnya inklusif tentu bukanlah jalan memberi makna bahwa gereja selalu dalam relasi dengan Kristus. Dalam relasi ini. Diperlukan terjadi dua gerak yaitu, entasi dan ekstasi. kesediaan untuk terus belajar dan berubah. Pertama, entasi, yang berarti bergerak ke dalam, atau tinggal. Gerak ini hendak ketidaknyamanan atau bahkan resistensi mengungkapkan bahwa gereja sebagai yang mungkin muncul. Namun, panggilan tubuh Kristus yang tinggal di dalam untuk menjadi Tubuh Kristus yang utuh dan Kristus. Perikop mengenai Aupengantin bagi mencerminkan kasih-Nya yang merangkul KristusAy . Kor. 11:2. Why. dalam semua adalah mandat yang tidak bisa Perjanjian Baru Nindyo Sasongko dalam tulisannya mengutip Paul Lakeland yang mengatakan Liturgi: Partisipasi Semua Umat bahwa Kristus dan gereja sama-sama mendambakan persatuan yang erat satu keberangkatan perubahan gerakan liturgi bergantung pada suatu keadaan. Kedua, yang memberikan ruang bagi umat untuk ekstasi, yang berarti bergerak ke luar. dapat berpartisipasi penuh dalam panggilan Gereja yang menganggap Kristus sebagai dan tanggapan. Gerakan perubahan ini Firman didasarkan pada pemahaman bahwa gereja persekutuan Allah dengan ciptaan, yang adalah Tubuh Kristus yang memberi menjadikan Diri-Nya manusia, maka gereja kehidupan dan umat meresponsnya dengan harus turut berpartisipasi dalam Kristus Umat dalam pemahaman ini tidak membedakan siapa pun, tua maupun Konsili Vatikan II menjadi titik Gereja yang hidup adalah gereja yang terus majelis gereja maupun anggota jemaat. Kristus . mewartakan kasih-Nya ke dunia . sehingga misi Allah terus berjalan. Hans S. Reinders. The Paradox of Disability (Michigan: Eerdmans Publishing Company, 2. , 19. Nindyo Sasongko. AuEros. Ekklesia. Dan Resistensi: Sebuah Eksplorasi KonstruktifMisiologi Peran Gereja Di Ruang Publik,Ay in Misiologi Kontemporer: Merentangkan Horison laki-laki semuanya adalah satu. Ruth Duck mengutip Craig Douglas Panggilan Kristen, ed. Christanto Sema Rappan Paledung. Nindyo Sasongko, and Indah Sriulina (Jakarta, 2. , 260-261. Ruth C. Duck. Worship for the Whole People of God (Louisvill. Kentucky: Westminster John Knox Press, 2. ,19-20. 36 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Erickson yang menyatakan enam bentuk liturgis, musik yang variatif, atau objek ibadah partisipatif, yaitu kepemimpinan Demikian juga, keterlibatan diam- diam bukan hanya pasif, tetapi bisa menjadi terinternalisasi, keterlibatan diam-diam, ruang perenungan mendalam yang sangat aksesibel bagi mereka yang mungkin spontan, dan partisipasi verbal profetik. memiliki keterbatasan dalam komunikasi Bentuk partisipasi jemaat tidak selalu sama verbal atau kognitif, asalkan keheningan dan tidak selalu terlihat secara langsung. tersebut dibingkai dan dipandu sebagai Bahkan bentuk partisipasi yang sah dan dihargai. keterlibatan diam-diam dalam artian bahwa Tantangannya adalah bagaimana gereja jemaat tidak bergerak atau berbicara. secara kreatif dan sensitif merancang Keheningan pengalaman liturgis yang membuka pintu merenungkan dan menanggapi hal yang bagi setiap orang untuk terlibat sesuai terjadi di dalam ibadah, bahkan keheningan dengan karunia dan cara mereka masing- memberikan ruang bagi jemaat untuk mendengarkan suara Roh. 30 Ibadah terbuka partisipasi yang sempit. untuk seluruh orang tanpa membatasi Gereja Erickson Baptisan kemampuan seseorang, sehingga gereja Perjamuan Kudus memberdayakan semua memiliki tugas untuk menyiapkan semua orang dengan berbagai kemampuan untuk hal yang menjadi kebutuhan orang untuk saling peduli. Luther mengatakan bahwa dapat mengakses ibadah. Baptisan menyatukan kita ke dalam satu Menggali lebih dalam bentuk- tubuh dan Perjamuan Kudus menyatukan bentuk partisipasi yang diajukan Erickson, kita dengan komunitas umat Allah yang menjadi jelas bahwa setiap bentuk tersebut kudus dan terkasih. 32 Barbara Newman memiliki potensi untuk dirancang secara mengatakan bahwa sejak awal Yesus sudah Misalnya, partisipasi melalui indra berbicara mengenai peringatan akan diri- dapat secara sadar diperkaya dengan Nya yang bersifat sensorik. Hal ini dapat elemen-elemen kita temukan dalam pelaksanaan Perjamuan melibatkan umat dengan berbagai spektrum kudus sendiri melibatkan beberapa unsur disabilitas sensorik atau intelektual, seperti seperti menyentuh, mencicipi, mencium, penggunaan visual yang kuat, wewangian dan penggunaan narasi Alkitab yang dibaca Ibid. , 41. Ibid. , 42. Ibid. , 51-52. Michael A. Walker. AuCaring and Covenant: Notes on a Sacramental Ecclesiology of Disability,Ay Journal of Disability & Religion 23. No. , 5. Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 37 dan diucapkan. 33 Bagi banyak orang lagi sebagai perayaan bagi yang utuh, dengan disabilitas. Perjamuan kudus adalah melainkan sebagai perjumpaan Tubuh sebuah pengucilan bagi mereka. Mereka Kristus yang sama-sama terluka dan seperti dibatasi karena hambatan arsitektur, membutuhkan anugerah, di mana setiap merendahkan mereka, ucapan yang tidak disabilitas, membawa kontribusi unik bagi Perjamuan menjadi kenangan perayaan tersebut. Dalam konteks ini, yang ditakuti dan memalukan, sebab semua kesaksian Barbara Newman mengenai sifat sensorik dari peringatan akan diri Yesus dianggap sehat. 34 Menghadapi kenyataan menjadi semakin relevan, mengajak umat bahwa Perjamuan Kudus justru bisa untuk mengeksplorasi bagaimana berbagai menjadi pengalaman pengucilan, gereja pengalaman sakramental yang bermakna teologis dan praksis yang mendalam. Jika bagi semua. Duck mengatakan bahwa Perjamuan adalah undangan universal memberi ruang bagi semua jemaat untuk Kristus ke meja persekutuan-Nya, maka berpartisipasi menjadikan semua orang satu segala bentuk hambatan, baik arsitektural. Lebih dari itu, mereka yang ritual, maupun sikap yang merendahkan disabilitas dirangkul dan diperdayakan. harus dibongkar. Ini melampaui sekadar Memberikan ruang kepada orang dengan Perlu terbuka untuk seluruh umat sehingga tidak menghormati beragam cara menerima ada lagi pembedaan di dalam gereja. Di sisi elemen sakramen, penggunaan bahasa yang lain, memberikan ruang kepada orang dengan disabilitas membuat mereka merasa estetika tubuh yang merendahkan yang bahwa mereka diterima sebagai anggota mungkin secara tidak sadar masih ada. Sebagai anggota Tubuh Kristus. Lebih jauh, pemahaman akan kerapuhan semua orang terpanggil untuk datang merayakan Kristus. Sang Kepala. Hal ini mengubah wajah Perjamuan Kudus. berarti kita mengakui bahwa setiap orang Barbara J. Newman. AuInclusive Worship: Creating a Language Multisensory Options so That All Can Participate,Ay Christian Learning Centre Network 113 . : 222. Eiesland. The Disable God: Towards A Liberatory Theology of Disability, 13. Duck. Worship for the Whole People of God, 31. 38 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. penampilan fisiknya, perilakunya, status perspektif dan karunia yang mungkin sosialnya, atau cara berpikirnya. Dalam peribadahan di gereja, khususnya ibadah sungguh-sungguh rindu menjadi komunitas Minggu, jarang sekali kita melihat orang dengan disabilitas mengambil bagian. memberdayakan, sebagaimana diimpikan Dalam hal ini gereja masih dibatasi oleh pemikiran bahwa mereka tidak mampu pembebasannya, perlu mengambil langkah- untuk melakukannya. langkah konkret. Proses ini dapat diawali Ruether Gereja Liturgi yang melibatkan semua dengan melakukan evaluasi partisipatif umat adalah liturgi yang saling menerima di terhadap praktik liturgi saat ini, dengan Rosemary Radford Ruether menyebutnya sebagai komunitas feminis, yaitu persekutuan laki-laki dan Gereja membentuk tim kerja inklusif untuk sehingga dalam hal ini gereja melepaskan mengidentifikasi dan melatih individu diri dari pola, cara, dan sistem sosial yang mengambil peran dalam ibadah, serta Partisipasi yang otentik dalam secara berkelanjutan melakukan edukasi liturgi memiliki daya transformatif yang kepada seluruh jemaat mengenai teologi melampaui momen ibadah itu sendiri. Ketika orang dengan disabilitas tidak hanya merayakan seluruh kepelbagaian umat hadir tetapi secara aktif terlibat, memimpin. Allah. Dengan demikian, liturgi tidak hanya dan berkontribusi dalam liturgi, hal ini menjadi karya umat, tetapi juga karya Allah merupakan pernyataan teologis yang kuat yang memulihkan dan menyatukan semua tentang imamat am semua orang percaya dalam kasih-Nya. dan kesetaraan semua anggota dalam Tubuh Kristus. Partisipasi orang dengan disabilitas dalam ibadah bukan hanya sekadar narasi memberdayakan individu tersebut dalam bagi gereja, namun perlu tindakan nyata. Swinton menuliskan bahwa orang dengan Rosemary Radford Ruether. WomenChurch: Theology and Practice of Feminist Liturgical Communities. , 1st ed. (San Fransisco: Harper & Row, 1. , 5-6. Ini Menerima dan Memberdayakan Kerapuhan: Membangun Liturgi P a r t i s i p a t i f b a g i U m a t d e n g a n D i s a b i l i t a s | 39 disabilitas dapat mengambil peran aktif teolog lainnya menegaskan bahwa Tuhan dalam memimpin doa, membaca Alkitab, seringkali bekerja melalui kelemahan, yang atau mengiringi musik. Melibatkan orang justru menjadi ruang bagi Roh Kudus untuk dengan disabilitas bukan sekadar memberi menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Dengan kesempatan, melainkan pengakuan bahwa demikian, inklusivitas dalam liturgi bukan mereka adalah subjek penuh dalam tubuh sekadar perbaikan teknis, tetapi merupakan Kristus. Gereja dapat memfasilitasi mereka ekspresi konkret dari kasih Kristus yang dengan pendampingan atau latihan singkat menerima dan memberdayakan semua sesuai kebutuhan. orang, terutama mereka yang sering kali Gereja yang inklusif bukan KESIMPULAN DAN SARAN hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang bagi persekutuan sejati, di mana semua umat Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang inklusif, di mana setiap dapat mengalami kehadiran Allah tanpa umat termasuk orang dengan disabilitas DAFTAR PUSTAKA