Angela Iche Kristiani. Stevany Gracella Kambu. Fittriya Kristanti Gambaran Self-Management Pada Pasien DM di Ruang Poliklinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta GAMBARAN SELF-MANAGEMENT PADA PASIEN DM DI RUANG POLIKLINIK SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI YOGYAKARTA Angela Iche Kristiani . Stevany Gracella Kambu . Fittriya Kristanti. * STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: fittriyakristanti@stikespantirapih. ABSTRAK Latar Belakang : Diabetes Melitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah . dengan gangguan metabolisme, karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kerusakan dalam produk insulin dan kerja insulin yang tidak optimal. Tujuan : untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pasien DM di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Metode : Desaian dalam penelitian ini yaitu accidental sampling. Jumlah responden dalam penelitian sebanyak 30 pasien DM dengan kriteri inklusi pasien usia dewasa awal sampai lansia, bisa membaca dan menulis, pasien yang setuju menjadi responden serta kriteria eksklusi antara lain pasien sehat jiwa . idak ada gangguan menta. , pasien diberi waktu sebanyak 5-10 menit untuk mengisi kuesioner Self-management Diabetes Mellitus (SMDM). Hasil penelitian : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki selfmanagement dengan kategori sedang sebanyak 28 responden . ,3%). Kesimpulan : Berdasarkan hal tersebut sebaiknya sebagai pelayanan kesehatan memberikan edukasi kepada pasien tentang pentingnya self management yang baik, dan di harapkan sebagai pasien DM dapat meningkatkan self manangement nya mengenai 7 pilar perawatan mandiri DM yang meliputi pola makan, aktivitas fisik, minum obat, pemantauan kadar gula darah, pemecahan masalah, mekanisme koping yang sehat, dan pengurangan resiko. Kata kunci: Diabetes Melitus. Self Management ABSTRACT Background : Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by high blood sugar levels . with impaired carbohydrate, fat, and protein metabolism caused by damage to insulin production and suboptimal insulin action. Objective : To determine the sleep quality of DM patients at Private Hospital. Yogyakarta. This study used a quantitative descriptive design with a survey approach. Method : This study used accidental sampling. Thirty DM patients participated in the study. Inclusion criteria included patients aged from early adulthood to the elderly, able to read and write, and patients who agreed to participate. Exclusion criteria included mentally healthy patients . o mental disorder. Patients were given 5-10 minutes to complete the Diabetes Mellitus SelfManagement (SMDM) questionnaire. Results : The study showed that the majority of respondents . 3%) had moderate levels of self-management. Conclusion : Based on this, it is best for health services to provide education to patients about the importance of good self-management, and it is hoped that DM patients can improve their self112 ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 management regarding the 7 pillars of DM self-care which include diet, physical activity, taking medication, monitoring blood sugar levels, problem solving, healthy coping mechanisms, and risk Keywords: Diabetes Mellitus. Self Management PENDAHULUAN Diabetes Mellitus merupakan kondisi sel khusus pancreas menghasilkan hormon insulin yang bertugas mengatur metabolisme. Bila dalam tubuh tidak ada hormon insulin maka glukosa tidak dapat masul sel tubuh dan kadar glukosa darah meningkat sehingga individu akan mengalami gejala hiperglikemia. Secara sederhana kondisi ini dinyatakan sebagai pembentukan diabetes mellitus (Rosdahl 2. Data International Diabetes Federation . , menunjukan bahwa di seluruh dunia terdapat sekitar sejumlah 537 juta pasien diabetes yang dimana akan terus meningkat menjadi 643 juta jiwa pada tahun 2030 dan 783 pada tahun 2045. Tercatat didalam atlas IDF Indonesia terdapat populasi diabetes dewasa dengan rentan usia 20-79 tahun dan ada 100 orang dengan jumlah populasi 179. 500 maka dengan ini dapat kita ketahui bahwa prefalensi diabetes di usia 20-79 tahun di Indonesia ialah 10,6% (Federation. Tingginya angka penderita diabetes melitus di masyarakat ini secara tidak langsung akan menurunkan kuliatas hidup bagi penderitanya dengan timbulnya berbagai komplikasi akut maupun komplikasi kronis. Salah satu kunci dari pengendalian diabetes melitus ini adalah dengan adanya kesadaran pasien diabetes untuk meminimalisir kadar gula darah, satu diantara cara yang bisa dilakukan yakni dengan menerapkan self-management (Dewi R. Hasil studi pendahulan yang dilaksanakan pada Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta diperoleh data kunjungan pasien diabetes mellitus di poli klinik endokrin pada bulan September 2023 sampai dengan September 2024 sebanyak 1. 726 juta jiwa. Adanya kepatuhan terhadap self-management memberi dampak positif bagi penderita penyakit diabetes mellitus, seperti kontrol gula darah yang lebih baik diman pasien menjadi lebih paham mengatur pola makan, aktivitas fisik dan penggunaan obat-obatan yang wajib diminum secara rutin. Peningkatan pengetahuan pasien supaya pasien dalam selfmanagement dapat memahami kondisi tubuhnya termasuk dalam mengetahui gejala hiperglikemia atau hipoglikemia. Pengurangan risiko komplikasi dengan pengelolaan yang jauh lebih baik, risiko komplikasi jangka panjang, seperti neuropati, dan penyakit jantung yang dapat diminimalkan. Kualitas hidup yang lebih baik dimana ketika pasien dapat mengelola kesehatannya secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada tenaga medis Angela Iche Kristiani. Stevany Gracella Kambu. Fittriya Kristanti Gambaran Self-Management Pada Pasien DM di Ruang Poliklinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta (L. Noviyanti, 2. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran self-management pada pasien DM di Poli Klinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta METODE PENELITIAN Populasi pada penelitian ini ialah pasien DM di ruang poli klinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta dengan jumlah populasi 1. 726 pasien DM. Dalam penelitian ini, peneliti menentukan sampel menurut Harianto . yang menyatakan jumlah sampel yang valid dalam mewakili populasi yakni diantara 30-500. Berdasarkan hal tersebu peneliti menetukan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Teknik sampling penelitian ini adalah accidental sampling. Kriteri inklusi pasien usia dewasa awal sampai lansia, bisa membaca dan menulis, pasien yang setuju menjadi responden serta kriteria eksklusi antara lain pasien sehat jiwa . idak ada gangguan menta. , yang mana peneliti mengambil sampel dari orang yang tidak secara kebetulan ditemui di Poli Endokrin Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta. Penelitian dilakukan September 2024 sampai Februari 2025. Ethical Clearance pada tanggal 23 Januari 2025 dengan nomor surat L. 165/RSPR/E/I/2025. Peneliti menjelaskan tentang pengertian, tujuan, dan manfaat yang akan diterima pasien jika bersedia menjadi responden melalui lembar informed consent yang disediakan langsung oleh pihak RSPR. Peneliti memberikan kuisioner Self-management Diabetes Mellitus (SMDM) merupakan kusioner hasil modifikasi dari 2 kusioner lainnya. SDSCA (The summary of diabetes self care activit. dengan 29 pertanyaan kepada responden dan memberikan waktu kurang lebih 5-10 menit untuk mengisinya. HASIL PENELITIAN Tabel 1 Karakteristik Responden Penderita DM di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta Bulan Januari 2025 . = . Karakteristik Usia . Masa dewasa awal . -35 tahu. Masa Deawasa akhir . -45 tahu. Masa Lansia awal. -55 tahu. Masa Lansia akhir . -65 tahu. Masa Manula . -ata. ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Karakteristik Total Laki-laki Perempuan Total SMA Total 1-4 tahun >5- 9 tahun >10 tahun Total Jenis Kelamin Pendidikan Lama Dm Sumber : Data Primer . Berdasarkan tabel 1 distribusi karakterikstik demografi responden di Poli Klinik salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta menunjukan sebagian besar responden berada dalam kategori usia masa lansia . tahun keata. sebanyak 11 responden . ,3 %). Responden sebagian besar laki-laki sebanyak 10 respoden . 3%), sebagian besar responden pendidikan SMA sebanyak 16 responden . ,3%), lama DM sebagaian besar > 10 tahun sebanyak 17 responden . ,7%). Tabel 2 Gambaran Self-Management Pasien DM di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta Bulan Januari 2025 . = . Self-management Baik . Sedang . Buruk . Total Sumber : Data Primer . Berdasarkan tabel 2, sebagian besar responden memiliki self-management yang sedang sebesar 6,7%, dan buruk sebesar 93,3% dari 30 responden yang telah diteliti. Angela Iche Kristiani. Stevany Gracella Kambu. Fittriya Kristanti Gambaran Self-Management Pada Pasien DM di Ruang Poliklinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta PEMBAHASAN Hubungan obesitas dengan DM tipe 2 lansia di Indonesia memiliki hubungan yang signifikan . =0,. Hal ini tidak bertentangan dengan penelitian Maharani dkk . yaitu ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan terjadinya DM tipe 2 . ilai p= 0,. Banyaknya jaringan lemak, tubuh dan otot akan menjadikan insulin semakin resisten . nsulin resistanc. , terutama lemak tubuh tertimbun di perut . entral obesit. Glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel karena kerja insulin dihalangi oleh lemak dan terakumulasi dalam sistem sirkulasi darah (Milita. Handayani, and Setiaji 2. Usia memengaruhi pengobatan diabetes karena faktor fisik seperti penurunan metabolisme dan mobilitas, serta peningkatan masalah kesehatan lain yang memengaruhi pengobatan diabetes. Seiring bertambahnya usia, kemampuan kognitif seseorang dapat menurun sehingga menyulitkan mereka memahami instruksi medis. Lebih jauh lagi, orang lanjut usia mungkin mengalami kesulitan mengakses informasi dan dukungan sosial dan mungkin kurang termotivasi untuk membuat perubahan gaya hidup. Semua faktor ini membuat pengobatan diabetes pada orang lanjut usia menjadi lebih sulit (Chaerunnisa Eka Sania et al. , 2. Seiring bertambahnya usia, banyak orang mengalami penurunan dalam kemampuan fisik, seperti penurunan kekuatan otot, fleksibilitas, dan mobilitas. Ini bisa membuat lebih sulit untuk melakukan aktivitas fisik yang sangat penting dalam manajemen diabetes, seperti olahraga. Proses penuaan juga dapat memengaruhi fungsi kognitif, seperti memori dan kemampuan pengambilan keputusan. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mengingat waktu pengobatan, kontrol gula darah, atau memilih makanan yang tepat. Orang yang lebih tua cenderung memiliki kondisi medis lain . eperti hipertensi, penyakit jantung, atau gangguan ginja. yang dapat memperburuk pengelolaan diabetes dan menambah beban dalam mengelola pengobatan dan perawatan (Etlidawati et al. , 2. Beberapa lansia dengan diabetes mungkin juga mengalami disabilitas atau masalah fisik lainnya, seperti gangguan penglihatan atau kesulitan berjalan, yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk merawat diri mereka sendiri atau mengikuti program manajemen diabetes yang direkomendasikan oleh dokter (Al Fatih et al. , 2. Dari segi pendidikan, sebagian responden mempunyai latar belakang pendidikan SMA sebanyak 16 responden . ,3%, tingkat pendidikan mempengaruhi pengobatan diabetes. Orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih memahami diabetes, mampu mengikuti petunjuk dokter, dan memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi dan sumber daya kesehatan. Hal ini sesuai dengan penelitian Pramudyatama et al. ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 yang menyatakan bahwa pasien DM berhubungan dengan pendidikan tinggi sebanyak 42 . ,9%) . Dngelola stres dengan lebih baik serta membuat keputusan yang lebih baik tentang diet, pengobatan, dan aktivitas fisik. Secara keseluruhan, pendidikan tinggi dapat membantu orang mengelola diabetes mereka secara lebih efektif dan konsisten (Putri, 2. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi biasanya lebih terampil dalam mencari informasi kesehatan yang akurat, memahami sumber daya medis, dan menerapkan strategi yang efektif untuk mengelola diabetes mereka. Sebaliknya, mereka dengan pendidikan rendah mungkin kesulitan menemukan informasi yang relevan atau kurang mampu mengevaluasi keakuratan informasi kesehatan yang diterima (Fitriani et al. , 2. Orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih sadar akan pentingnya pola makan yang sehat, aktivitas fisik, serta manajemen stres dalam pengelolaan diabetes, dan lebih mungkin untuk menerapkan perubahan gaya hidup yang mendukung pengelolaan diabetes secara efektif (Nadya Nova et al. , 2. Faktor lama menderita DM dan tingkat pengetahuan termasuk ke dalam faktor yang berperan terhadap terjadinya distress diabetes. Seseorang yang baru terdiagnosis menderita diabetes lebih berisiko untuk mengalami distress (Laili 2. Hal ini dapat meningkatkan komplikasi kesehatan, mengurangi kemampuan tubuh untuk mengatur kadar gula darah, serta mengganggu pengelolaan diri dengan membentuk kebiasaan yang berujung pada kurangnya disiplin dalam menangani penyakit. Selain itu, kelelahan mental akibat tantangan jangka panjang . elelahan diabete. dan kesulitan setelah perawatan jangka panjang juga dapat mengurangi motivasi untuk menjalani perawatan yang efektif. Semua faktor ini membuat diabetes semakin sulit diobati seiring perkembangan penyakit (Novi Haris Susilowati et al. , 2. Setelah bertahun-tahun mengelola diabetes, banyak penderita yang merasa lelah atau kewalahan dengan tuntutan yang terus-menerus untuk mengatur pola makan, memantau gula darah, dan mematuhi pengobatan. Rasa kelelahan ini bisa mengakibatkan penurunan motivasi dan berkurangnya kepatuhan terhadap rencana pengelolaan diabetes (Etlidawati et , 2024. Hijriana & Mardhiah, 2024. Novi Haris Susilowati et al. , 2024. Pamungkas et al. Seiring berjalannya waktu, beberapa penderita diabetes mungkin merasa bahwa penyakit mereka "terkendali" atau "biasa saja," sehingga mereka mengabaikan pentingnya pengelolaan yang konsisten. Misalnya, mereka mungkin menjadi kurang disiplin dalam mengukur kadar gula darah atau mengikuti diet yang tepat, karena tidak melihat perubahan signifikan dalam kondisi mereka. Diabetes yang tidak dikelola dengan baik dalam jangka Angela Iche Kristiani. Stevany Gracella Kambu. Fittriya Kristanti Gambaran Self-Management Pada Pasien DM di Ruang Poliklinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta panjang dapat menyebabkan komplikasi, seperti masalah jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, atau gangguan penglihatan. Komplikasi ini bisa membuat pengelolaan diabetes menjadi lebih rumit dan dapat mengurangi kualitas hidup, yang pada gilirannya mengurangi kemampuan penderita untuk mengelola diabetes secara efektif. Penderita diabetes yang telah lama mengidap penyakit ini dapat menghadapi tantangan psikologis dan fisik yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan self-management dengan Oleh karena itu, penting untuk mendukung mereka dalam meningkatkan motivasi dan disiplin dalam mengelola penyakit ini, serta memberikan perhatian lebih pada pencegahan komplikasi jangka panjang. (Hasyim et al. , 2. Penyakit diabetes mellitus dapat dilakukan pencegahan ke komplikasi yang sampai mengancam jiwa, namun banyak hal yang menjadi faktor penghambatnya seperti kurangnya pemahaman tentang penyakit ini, terbatasnya akses ke sumber daya dan perawatan, masalah keuangan, dan hilangnya motivasi . elelahan akibat diabete. Lebih jauh lagi, kebiasaan gaya hidup yang sulit diubah, berkurangnya kemampuan fisik dan kognitif, serta kurangnya dukungan sosial juga menghambat pengobatan diabetes yang efektif (Maulani et al. , 2. Perubahan gaya hidup yang dibutuhkan untuk mengelola diabetes, seperti diet sehat dan rutin berolahraga, bisa sangat sulit untuk diterapkan, terutama jika seseorang sudah terbiasa dengan kebiasaan yang tidak sehat. Keterbatasan waktu, kebiasaan makan yang buruk, atau kurangnya dukungan sosial bisa menghambat perubahan tersebut. Pada beberapa orang, terutama yang lebih tua atau dengan komplikasi diabetes, penurunan kemampuan fisik atau kognitif . eperti gangguan ingata. dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengikuti pengobatan dan menjaga kebiasaan hidup sehat (Chaerunnisa Eka Sania et al. , 2. Dukungan dari keluarga, teman, atau komunitas sangat penting dalam manajemen Tanpa dukungan ini, seseorang bisa merasa terisolasi dan kurang termotivasi untuk mengikuti perawatan atau menjalani gaya hidup sehat. Banyak penderita diabetes yang tidak sepenuhnya memahami kondisi mereka, cara pengelolaannya, atau pentingnya perubahan gaya hidup. Tanpa pemahaman yang cukup, mereka kesulitan dalam memonitor gula darah, mengatur diet, dan mengikuti pengobatan yang tepat (Zulfitri et al. , 2. Dari 29 pertanyaan pada kuisoner SMDM terdapat pertanyaan dengan kategori yang cukup tinggi berada pada pertanyaan nomer satu yakni Ausaya memeriksa gula darah saya dnengan cermatAy, no. 4 Ausaya minum obat diabetes mellitus saya seperti tablet atau insulin ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 sesuai anjuran, no. 8 Au untuk menjaga kadar gula darah saya dalam batas normal saya berolahraga secara teraturAy, no. 9 Au saya mematuhi nasihat dokter tentang apa yang boleh dan tidak boleh saya makanAy (Dwi Siwi, 2. Hal diatas sangat berhubungan erat dalam faktor-faktor yang mempengaruhi self-management antara lain efikasi diri dimana individu mampu melihat secara pribadi terkait tentanng kemampuan untuk mencapai tujuan tertentu (Sabil et al. , 2. Pengetahun juga sangat mempengaruhi kualitas perilaku selfmanagement. Terutama dalam aspek diet, pengetahuan yang mencukupi menjadi kunci penting agar pasien dapat menghindari komplikasi yang mungkin timbul (Mustarim et ,2. Dalam penelitian ini diperoleh gambaran self-management pada pasien DM diruang poli Klinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta berada pada tingkat sedang sebanyak 28 responden . ,3%). Hal ini dipengaruhi dari tingkat pendidikan responden yang sebagian besar SMA sebanyak 16 . ,5%), dimana tingkat pendidikan semakin tinggi sangat mempengaruhi setiap individu didalam mengambil keputusan dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan penelitian Mustarim . dalam Sabil et al. , . yang menggaris bawahi pentingnya pengetahuan pasien tentang diabetes melitus tipe 2 sebagai sarana yang krusial untuk mengatasi penyakit tersebut. Semakin banyak dan baik pengetahuan yang dimiliki pasien tentang diabetes, semakin efektif mereka dalam mengelola diet diabetes (Sabil et al. , 2. SIMPULAN Karakteristik responden mayoritasnya berusia Manula . tahun Ae ata. ,7%), dengan jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan . ,7%), tingkat pendidikan mayoritas SMA sebanyak 53,5%, sebagian besar responden menderita lama DM >10 tahun sebanyak 56. Data penelitian menyatakan bahwa gambaran selfmanagement pada pasien DM diruang poli Klinik Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta berada pada tingkat sedang sebanyak 28 responden . ,3%). Mayoritas pasien yang sudah baik dengan pengelolaan self-management memiliki pemahaman yang cukup baik, sedangkan pasien dengan self-management rendah memiliki pengelolaan diri yang DAFTAR PUSTAKA