Multitek Indonesia: Jurnal Ilmiah Volume: 19 No. 2 Desember 2025. Hal. 133 - 143 ISSN: 1907-6223 . ISSN: 2579-3497 (Onlin. http://journal. id/index. php/multitek https://doi. org/10. 24269/mtkind. ANALISIS PERBANDINGAN KONFIGURASI PREDIKSI INTRA DAN INTER PADA PENGKODEAN H. Maulida Yasmin1*. Arief Suryadi Satyawan2. Ichwan Nul Ichsan1 Sistem Telekomunikasi. Universitas Pendidikan Indonesia Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan Universitas Nurtanio Jl. Sangkuriang Komplek LIPI. Kota Bandung Email : maulidayasmin@upi. edu, maulidayasmin36@gmail. *Alamat Korespondensi: maulidayasmin@upi. Dikimkan: 8 Maret 2024. Direvisi: 16 Desember 2025. Diterima: 29 Desember 2025. Abstrak Peningkatan permintaan akan pengiriman dan penyimpanan video berkualitas tinggi telah mendorong pengembangan pengkodean video yang lebih efisien. Salah satu pengkodean yang terbaru saat ini adalah H. 265 yang memberikan kompresi yang lebih baik daripada pendahulunya yaitu H. Pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh konfigurasi prediksi intra dan inter terhadap kualitas dan efisiensi kompresi video dalam konteks pengodean menggunakan pengkodean H. Analisis dilakukan melalui kurva Rate-Distortion (R-D) pada beberapa konfigurasi prediksi untuk setiap sequence video. Pengujian dilakukan dengan membandingkan konfigurasi intra, lowdelay, lowdelay-P, dan randomaccess pada beberapa sequence video. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi intra menghasilkan PSNR yang lebih tinggi dan bitrate yang tinggi. Sedangkan keseimbangan bitrate dan PSNR dapat dicapai dengan konfigurasi randomaccess yang mencapai bitrate yang rendah dengan PSNR lebih baik dibandingkan dengan lowdelay dan lowdelay-P untuk semua sequence. Kata kunci: Encoding. HEVC. Kompresi. Pengkodean Video Abstract The increasing demand for high-quality video delivery and storage has driven the development of more efficient video coding. 265 is one of the latest video coding standards that provides better compression than its predecessor. This study analyzes the impact of intra and inter prediction configurations on video compression quality and efficiency in the context of H. 265 encoding. The analysis is performed using Rate-Distortion (R-D) curves for several prediction configurations on each video sequence. The experiment compares intra, lowdelay, lowdelay-P, and randomaccess configurations on several video sequences. The results show that the intra configuration achieves the highest PSNR but also the highest bitrate. On the other hand, the randomaccess configuration achieves a good balance between bitrate and PSNR, obtaining a lower bitrate with better PSNR compared to lowdelay and lowdelay-P for all sequences. Keywords: Compression. Encoding. 265/HEVC. Video Coding Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 PENDAHULUAN Era transformasi digital di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat, terutama setelah pandemi COVID-19 sekitar tahun 2019-2021. Dampak pandemi tersebut mengubah budaya masyarakat konservatif menuju budaya digital. Perubahan budaya ini dapat dilihat dari meningkatnya pengguna internet dan media sosial di berbagai aspek kehidupan. Salah satu sarana yang memanfaatkan perubahan budaya digital ini misalnya pada multimedia communication, terutama komunikasi video. Video digunakan di berbagai aplikasi mulai dari media sosial, pendidikan, hingga bisnis. Namun, komunikasi video memerlukan bandwidth yang besar untuk transmisi sehingga diperlukan teknik pengkodean video agar video terkompresi dan dapat ditransmisikan atau disimpan tanpa mengurangi kualitas video secara signifikan. Oleh karena itu. High Efficiency Video Coding (HEVC) atau H. hadir sebagai standar pengkodean video terbaru yang menawarkan efisiensi kompresi yang lebih tinggi dibanding standar sebelumnya yaitu H. 264 atau Advanced Video Coding (AVC). , . , . Standar 265 dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pengkodean video dengan tujuan memberikan kualitas video yang lebih baik pada bitrate yang rendah. Pemahaman mendalam tentang kinerja H. menjadi krusial mengingat peran teknologi pengkodean video dalam berbagai aplikasi, seperti streaming video, video konferensi, dan penyediaan konten multimedia. Video terdiri dari serangkaian frame yang disusun secara berurutan sehingga menciptakan ilusi Setiap frame terdiri dari piksel dengan nilai warna, dan komponen-komponen lain seperti resolusi, frame rate, bit rate, dan kompresi video menentukan detail dan kelancaran dalam penayangan Model warna pada video umumnya menggunakan YCbCr, menggabungkan luminance (Y/keceraha. dan chrominance . nformasi warn. Resolusi video ditentukan oleh jumlah pixel dalam setiap dimensi, semakin banyak pixel meningkatkan ketajaman tampilan. Frame rate adalah jumlah frame yang ditampilkan per detik, sedangkan bit rate adalah jumlah bit yang dibutuhkan setiap Bit rate dipengaruhi oleh resolusi, bit depth, dan frame rate. Kompresi video diperlukan untuk mengurangi bit rate tanpa mengurangi kualitas video secara signifikan sehingga memungkinkan penyimpanan atau transmisi yang lebih efisien. Menelusuri dan mengevaluasi penelitian terdahulu yang relevan dengan bidang pengkodean video, khususnya pengodean H. 265 penting untuk memahami konteks dalam penelitian ini. Fathul dan Purnamasari dalam penelitiannya. melakukan analisis performansi HEVC menggunakan software Pengkodean HEVC dan AVC memiliki performa yang berbeda dalam hal kompresi video. HEVC memberikan hasil yang lebih baik dalam hal kualitas video, efisiensi kompresi, dan tingkat error, namun lebih lambat dalam melakukan kompresi. Selanjutnya pengujian yang dilakukan pada penelitian oleh Idris. menunjukkan bahwa VP9 memiliki performa yang lebih baik daripada H. 265 dalam hal durasi streaming, delay, jitter, packet loss, dan throughput. Hal ini menunjukkan bahwa VP9 lebih efisien dalam menggunakan bandwidth dan menghasilkan kualitas video yang lebih baik. Selain itu. Penelitian . melakukan komparasi performansi H. 264 dan H. 265 dari segi parameter quality of service. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengkodean H. 265 memiliki nilai throughput, delay, dan packet loss yang lebih baik daripada pengkodean H. Pengujian oleh Tubagus dkk. menunjukkan pengkodean AV1 menunjukkan hasil yang sangat baik dalam hal kualitas dan ukuran file. AV1 menghasilkan nilai PSNR yang lebih tinggi dan ukuran file yang lebih kecil daripada pengkodean 264 dan H. Namun dari segi waktu dan rasio kompresi. 265 paling unggul. Terakhir, penelitian oleh Benjak dkk. membandingkan efisiensi kompresi H. 264 dan H. 265 untuk video drone FPV 4K dengan mempertimbangkan kualitas video, kecepatan pengkodean, dan konsumsi energi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengkodean video yang lebih optimal untuk aplikasi drone FPV adalah 265 jika kualitas video adalah prioritas utama, sedangkan pengkodean video H. 264 lebih optimal jika kecepatan pengkodean dan konsumsi energi adalah prioritas utama. Pada penelitian ini dilakukan analisis kinerja pengkodean video H. 265 terhadap beberapa video masukan dengan karakteristik berbeda melalui uji coba menggunakan HM (HEVC Test Mode. Software Reference H. Analisis ini diperlukan untuk mengidentifikasi keunggulan H. 265, serta potensi peningkatan kinerja melalui pengoptimalan parameter-parameter pengkodean. Melalui eksplorasi yang komprehensif terhadap parameter-parameter kunci dalam pengkodean video H. Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 penelitian ini diharapkan membantu perkembangan bidang telekomunikasi khususnya komunikasi Standar Pengkodean H. 265/HEVC Standar pengkodean video H. 265 menggunakan skema hibrida atau hybrid video coding scheme. Skema tersebut menggabungkan prediksi temporal . nter/intr. antar gambar urutan video dengan teknik pengkodean transformasi untuk prediksi error. Skema pengkodean hibrida dapat mengompres sinyal video menjadi bitstream ukuran sekecil mungkin. Redudansi informasi data dapat dihilangkan dengan prediksi dan transformasi prediksi error signal. Setelah langkah transformasi, informasi yang tidak relevan dihapus dengan menerapkan kuantisasi. Pada pengkodean H. 265 tidak seperti standar sebelumnya yang menggunakan struktur makroblok yang tetap, tetapi menggunakan hierarki quad-tree. Gambar 1. Blok partisi pada pengkodean H. Gambar 2. Hierarki quad-tree H. Berbagai blok yang digunakan dalam hierarki quad-tree diantaranya Coding Tree Block (CTB) merupakan blok terbesar dengan ukuran luma CTB yaitu NyN dimana nilai N berukuran 16, 32, atau Coding Tree Unit (CTU) terdiri dari 1 luma CTB dan 2 chroma CTB. CTB terbagi menjadi Coding Block (CB) yaitu blok persegi yang dapat dibagi hingga 8x8 dalam luma dan 4x4 dalam chroma, dan Coding Unit (CU) yang terdiri dari 1 luma CB dan 2 chroma CB. Selanjutnya untuk prediksi, setiap CB dapat dipartisi lagi menjadi sebuah Prediction Block (PB) dan untuk transformasi menjadi Transformation Block (TB). Intra Prediction Intra prediction merupakan teknik dalam pengkodean video yang melakukan proses prediksi nilai piksel suatu frame berdasarkan piksel-piksel di sekitarnya dalam satu frame. Proses ini dilakukan pada blok prediksi (PB), dimana sampel-sampel yang direkonstruksi digunakan untuk membentuk sinyal Frame yang melakukan prediksi intra disebut intra frame atau I-frame. Gambar 3. Arah prediksi pada intra prediction. Gambar 3 merupakan 4 mode umum prediksi intra di pengkodean H. Mode Horizontal . memprediksi nilai piksel baru sama dengan piksel paling kanan pada baris yang sama di blok sebelah Mode Diagonal ke Kanan Bawah . menggunakan kombinasi tertimbang dari beberapa piksel di Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 diagonal kanan bawah dari blok di atas dan blok di sebelah kiri. Mode Vertikal . memprediksi nilai piksel baru sama dengan piksel paling bawah pada kolom yang sama di blok di atas. Mode Diagonal ke Kiri Bawah . menggunakan kombinasi tertimbang dari beberapa piksel di diagonal kiri bawah dari blok di atas dan blok di sebelah kiri. Inter Prediction Inter prediction melakukan prediksi piksel untuk mengurangi redudansi antar frame pada suatu video dengan memprediksi piksel pada frame saat ini berdasarkan piksel-piksel pada frame yang terkait. Frame yang digunakan dalam prediksi dapat berupa I-frame. P-frame atau B-frame. P-frame (Predictive fram. melakukan prediksi dengan memanfaatkan informasi dari frame sebelumnya (I-frame atau Pfram. , sedangkan B-frame (Bi-directional fram. melakukan prediksi dengan mengambil referensi dari frame sebelumnya dan sesudahnya. Motion Estimation Tahap motion estimation atau estimasi gerakan beroperasi pada level blok prediksi dan hanya bagian dari encoder. Motion estimation bertujuan untuk mengidentifikasi pergerakan objek antar gambar dalam urutan video. Teknik ini memberikan vektor pergerakan sebagai representasi perubahan dengan menganalisis perubahan posisi objek dari satu frame ke frame berikutnya. Residual Coding 265 menggunakan proses decorrelated residual signal untuk mencapai kompresi video yang Proses ini dimulai dengan prediksi intra atau inter untuk menghilangkan korelasi dalam frame dan antar frame, dan menghasilkan sinyal residual yang mewakili perbedaan antara sinyal asli dan Sinyal residual kemudian diubah ke domain frekuensi melalui transformasi DCT (Discrete Cosine Transfor. yang memusatkan energi sinyal pada koefisien frekuensi rendah. Transformasi ini memungkinkan kuantisasi yang lebih efektif, di mana nilai koefisien dibulatkan untuk mengurangi redundansi dan bitrate. In-loop Filtering In-loop filtering pada H. 265 bertujuan untuk meningkatkan kualitas rekonstruksi video. Filter ini bekerja di dalam loop coding, sehingga memengaruhi frame keluaran dan frame referensi yang digunakan untuk prediksi frame selanjutnya. Hal ini memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keseluruhan skema pengkodean video. Terdapat dua jenis filter utama yang digunakan dalam in-loop filtering yaitu filter linier dan filter Filter linier dapat diterapkan pada seluruh area gambar atau area tertentu untuk meningkatkan kualitas visual secara keseluruhan. Filter lokal, seperti deblocking filter dan sample-adaptive offset (SAO) filter, bekerja pada area lokal di domain spasial untuk mengatasi artefak spesifik yang muncul selama proses pengkodean. Decoded Picture Buffer Decoded picture buffer merupakan komponen penting yang menyimpan gambar rekonstruksi setelah dekode dan sebelum ditampilkan. Buffer ini memungkinkan fleksibilitas dalam urutan dekode dan output, serta menyediakan referensi gambar untuk prediksi inter-picture yang efisien. Pada proses ini mampu menyimpan gambar referensi jangka panjang sehingga dapat meningkatkan kinerja H. untuk menangani konten video yang kompleks. Entropy Coding Entropy coding merupakan tahap penting dalam H. 265 untuk mengoptimalkan bitstream video. Tahap ini mengubah elemen sintaks yang terkuantisasi menjadi kode biner dan bit-string dengan mempertimbangkan probabilitas kemunculan simbol. Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 Pada H. 265 digunakan dua metode utama yaitu VLC (Variable Length Code. dan CABAC (Context-adaptive Binary Arithmetic Codin. VLC digunakan untuk informasi tingkat tinggi dan frame/slice, sedangkan CABAC yang lebih efisien digunakan untuk informasi tingkat slice/block. Isi dari metode penelitian adalah memformulasikan permasalahan yang diteliti dengan lebih rinci . edapat mungkin ditulis secara matemati. dan menjelaskan metode yang diusulkan. Apabila menggunakan sebuah algoritma, dapat dijelaskan di bagian ini, beserta dengan state of the art. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental untuk menganalisis kinerja skema pengkodean video H. 265 terhadap variasi karakteristik video masukan dan pengaruh bit rate terhadap kualitas video. Pengujian dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak HM (HEVC Test Mode. software reference H. 265 versi 18. Perangkat lunak tersebut merupakan proyek kolaborasi ITUT Video Coding Experts Group (ITU-T Q. 6/SG . dan ISO/IEC Moving Picture Experts Group (ISO/IEC JTC 1/SC 29/WG . dalam proyek standarisasi pengkodean video. Masukan Video Sequence Video yang digunakan untuk pengujian menggunakan video dengan resolusi CIF . dan format warna 420YUV yang terdiri dari beberapa sequence seperti ditunjukan gambar. Gambar 4. Tangkapan layar video sequence. Gambar 4 merupakan tangkapan layar frame pertama pada masing-masing sequence, adapun jumlah frame dan frame rate dijelaskan pada tabel 1. Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 No. Gambar Tabel 1. Test Sequence Nama Sequence Jumlah Frame ISSN : 1907-6223 Frame Rate (FPS) Evaluasi Kinerja Pengkodean H. 265/HEVC Metode evaluasi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pemanfaatan grafik RateDistortion (R-D Curv. Grafik ini merepresentasikan hubungan antara hasil bit rate dengan kualitas video yang diukur menggunakan metrik Peak Signal-to-Noise Ratio (PSNR). PSNR merupakan salah satu metrik objektif yang digunakan untuk mengukur kualitas gambar. Metrik ini memberikan nilai yang menunjukkan seberapa baik suatu video mereproduksi detail visual dengan memperhitungkan perbandingan antara sinyal maksimum dengan tingkat noise yang ada. Semakin tinggi nilai PSNR, semakin mirip sinyal yang telah dikompresi dengan sinyal asli. ycEycIycAycI = 10ycoycuyci10 . ycaycnycyccyceycyycEaOe. OycOOya Ocycn. cCycn Oeyaycn }2 . Persamaan . merupakan perhitungan PSNR, dimana bitdepth menunjukkan kedalaman bit. W dan H mewakili lebar dan tinggi frame. O dan D adalah jumlah kuadrat perbedaan piksel antara frame asli dan hasil decoding dengan i adalah indeks piksel. Selain itu, analisis kurva R-D untuk setiap sequence dilakukan dengan konfigurasi prediksi intra dan inter yang berbeda. Penelitian ini menggunakan 4 mode prediksi berdasarkan common test condition (CTC) diantaranya: A All Intra, setiap frame diprediksi dari piksel-piksel dalam frame yang sama (I-fram. A Low Delay (LD), frame diprediksi dari frame sebelumnya dan sesudahnya (B-fram. Pada konfigurasi ini Iframe hanya disisipkan di frame pertama. A Low Delay P (LDP), frame diprediksi dari frame sebelumnya (P-fram. Pada konfigurasi ini I-frame hanya disisipkan di frame pertama. A Random Access (RA), setiap frame didekode secara independen tanpa prediksi dari frame lain. Konfigurasi yang digunakan yaitu struktur B hierarkis dengan I-frame yang disisipkan secara berkala. HASIL DAN PEMBAHASAN Agar mendapatkan grafik R-D, dilakukan pengkodean pada sequence dengan nilai Quantization Parameter (QP) yang berbeda. Rentang nilai QP yaitu 0-51 dimana semakin tinggi nilai QP maka tingkat kompresi semakin tinggi. Kondisi pengujian lengkapnya disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Kondisi Pengujian Kondisi Pengujian Encoder HM 18. 0 (HEVC) Test-sequence Semua di tabel 1 Bit-depth 8-bit Struktur Prediksi Intra. LD. LDP. 42, 37, 32, 27, 22 Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 Gambar 5. Grafik R-D konfigurasi intra Gambar 5 menunjukkan grafik R-D untuk konfigurasi intra, dimana sequence akiyo memiliki bitrate dan PSNR yang paling rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sequence akiyo memiliki kompleksitas yang rendah sehingga dapat dikompresi dengan baik. Hasil bitrate tertinggi yaitu pada sequence people tetapi rata-rata PSNR terendah dibanding sequence lain. Hal tersebut dikarenakan sequence people memiliki kompleksitas tinggi dan membutuhkan bitrate yang lebih tinggi untuk mencapai kualitas yang baik. Gambar 6. Grafik R-D konfigurasi lowdelay Gambar 6 merupakan grafik R-D untuk konfigurasi LD yang menunjukkan sequence akiyo memiliki hasil bitrate dan PSNR yang paling rendah. Tetapi untuk bitrate tertinggi, pada konfigurasi LD ini dicapai oleh sequence drive. Hal ini menunjukkan sequence drive sulit diprediksi sehingga membutuhkan bitrate yang lebih tinggi untuk mencapai kualitas yang baik. Gambar 7. Grafik R-D konfigurasi lowdelay-P Gambar 7 menunjukkan grafik R-D untuk konfigurasi prediksi LDP dimana hasilnya tidak jauh berbeda dengan prediksi LD. Meskipun tidak signifikan, sequence akiyo dan drive mendapatkan bitrate Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 dan PSNR yang sedikit lebih tinggi. Hal ini disebabkan menunjukkan bahwa penggunaan P-frame dapat meningkatkan kualitas gambar, tetapi dengan bitrate yang lebih tinggi jika dibandikan dengan lowdelay. Gambar 8. Grafik R-D konfigurasi random access Terakhir untuk konfigurasi prediksi RA yang ditunjukkan pada gambar 8, sequence akiyo tetap memiliki bitrate dan PSNR tertinggi. Artinya sequence akiyo juga dapat diakses secara acak untuk mendapatkan kualitas yang baik. Hasil bitrate untuk setiap sequence pada prediksi RA merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan konfigurasi lain. Hal ini menunjukkan bahwa prediksi RA melakukan kompresi yang optimal yaitu mencapai bitrate yang rendah dengan PSNR yang cukup. Rasio Kompresi Rasio kompresi adalah perbandingan ukuran file sebelum kompresi dan setelah kompresi melalui pengkodean H. Adapun perhitungan untuk mendapat rasio kompresi yaitu pada persamaan . ycOycoycycycaycu yceycnycoyce ycaycycayco ycIycaycycnycu yaycuycoycyycyceycycn = ycOycoycycycaycu yceycnycoyce Eaycaycycnyco yceycuycaycuyccycnycuyci . Pada penelitian ini semua video yang digunakan memiliki ukuran file yang sama yaitu 44550KB. Hal ini membantu untuk mendapatkan rasio kompresi dan membandingkannya untuk setiap konfigurasi. Hasil rasio kompresi untuk setiap konfigurasi pada masing-masing video ditunjukkan pada tabel 3. Konfigurasi Intra LDP Tabel 3. Rasio Kompresi Sequence Rasio Kompresi (KB) Multitek Indonesia : Jurnal Ilmiah. Vol. No. Desember 2025 ISSN : 1907-6223 Hasil pengujian untuk berbagai konfigurasi pengkodean H. 265 telah disajikan pada masing-masing grafik R-D. Konfigurasi Intra pada gambar 5, menunjukkan sequence akiyo memperoleh bitrate dan PSNR terendah yang berarti kompresi cukup efisien. Sementara itu, sequence people memiliki bitrate tertinggi dengan rata-rata PSNR terendah menandakan kompleksitas tinggi memerlukan bitrate lebih tinggi untuk kualitas yang baik. Grafik R-D untuk konfigurasi LD pada gambar 6 menunjukkan hasil serupa, tetapi bitrate tertinggi diperoleh sequence drive. Penggunaan P-frame pada konfigurasi LDP yang ditunjukkan gambar 7, sedikit meningkatkan kualitas gambar dengan bitrate yang lebih tinggi. Terakhir konfigurasi RA pada gambar 8, menunjukkan bitrate terendah dengan PSNR yang cukup. Hal tersebut menandakan kompresi yang optimal. Selanjutnya rasio kompresi yang menunjukkan seberapa efisien suatu konfigurasi pengkodean dalam mengurangi ukuran file dari data asli. Semakin tinggi rasio kompresi, semakin besar pengurangan ukuran file sehingga penggunaan bandwidth atau ruang penyimpanan lebih efisien. Pada tabel 3, sequence akiyo mendapatkan nilai rasio kompresi tertinggi pada konfigurasi LD, artinya sequence akiyo mencapai kompresi terbaik menggunakan konfigurasi LD. Sequence cars, coastguard, people, dan soccer juga memperoleh rasio kompresi tertinggi pada konfigurasi LD. Sedangkan sequence drive memperoleh rasio tertinggi pada konfigurasi LDP. KESIMPULAN Data bitrate dan PSNR pada konfigurasi intra, lowdelay, lowdelay-P, dan randomaccess menunjukkan bahwa konfigurasi intra menghasilkan kualitas gambar yang terbaik, namun dengan bitrate yang tinggi. Konfigurasi lowdelay menghasilkan bitrate yang paling rendah, tetapi dengan kualitas gambar yang lebih rendah. Selanjutnya konfigurasi randomaccess menghasilkan keseimbangan antara bitrate dan kualitas gambar. Selain itu, rasio kompresi juga penting diperhatikan untuk menyesuaikan kebutuhan bandwidth atau penyimpanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konfigurasi encoder yang optimal tergantung pada kebutuhan aplikasi. Jika diterapkan pada aplikasi dimana kualitas gambar sangat penting, konfigurasi intra dapat digunakan. Sedangkan konfigurasi lowdelay dapat digunakan pada aplikasi yang memiliki bandwidth terbatas. Selain itu, jika aplikasi memerlukan akses acak ke frame video dan memiliki bandwidth kecil tetapi ingin kualitas yang baik, maka dapat menggunakan konfigurasi randomaccess. UCAPAN TERIMA KASIH