PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL DAN PRAKTIK KESEHATAN GIGI ANAK SD DALAM KONTEKS PENERAPAN KANTIN SEHAT SEKOLAH DI KABUPATEN LUWU TIMUR DAN KABUPATEN LUWU UTARA Robert Nufninu1. Arlin Adam2. Andi Alim3 1,2,3* Program Magister Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia, 92211 Corresponding author: robert. nufninu@yahoo. Info Artikel Sejarah artikel Diterima Disetujui Dipublikasi Abstrak : 06. : 15. : 01. Kata Kunci : Kantin Sehat. Kesehatan Gigi Anak. Perubahan Sosial Masalah kesehatan gigi dan pola konsumsi makanan tidak sehat pada anak usia sekolah dasar masih menjadi isu penting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penerapan kantin sehat di sekolah mempengaruhi perubahan perilaku sosial dan praktik kesehatan gigi anak secara kontekstual. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi fenomenologis, yang menggali makna pengalaman siswa, guru, pengelola kantin, orang tua, dan petugas kesehatan di dua kabupaten di Sulawesi Selatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam. FGD, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kantin sehat mampu mendorong transformasi perilaku konsumsi anak ke arah yang lebih sehat, ditandai dengan meningkatnya kesadaran gizi dan pemilihan jajanan bergizi. sisi lain, praktik kesehatan gigi anak juga mengalami perbaikan melalui edukasi, penyuluhan, dan pembiasaan menyikat gigi di sekolah. Perubahan ini merupakan hasil dari sinergi antara guru, pengelola kantin, orang tua, dan puskesmas yang secara kolaboratif membentuk budaya sehat di sekolah. Anak-anak memaknai kantin sehat sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan aman untuk memilih makanan sehat, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya kebersihan gigi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kantin sehat tidak hanya menjadi intervensi fisik terhadap pilihan makanan, tetapi juga instrumen kultural dalam membangun norma baru tentang pola hidup sehat di lingkungan sekolah dasar. Diperlukan kebijakan berkelanjutan dan partisipasi lintas sektor agar perubahan perilaku ini terjaga dan berkembang. Changes In Social Behavior And Dental Health Practices Of Elementary School Children In The Context Of The Implementation Of Healthy School Cafeteria In East Luwu And North Luwu Regencies Abstrak Dental health issues and unhealthy food consumption patterns among elementary school-aged children remain a significant issue in Indonesia. This study aims to understand how the implementation of healthy canteens in schools influences changes in social behavior and children's dental health practices contextually. A qualitative approach was used with a phenomenological study method, exploring the meaning of the experiences of students, teachers, canteen managers, parents, and health workers in two districts in South Sulawesi. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions (FGD. , participant observation, and documentation studies. The data were then analyzed The results showed that the implementation of a healthy canteen was able to encourage a transformation in children's consumption behavior towards a healthier direction, marked by increased nutritional awareness and the selection of nutritious snacks. Furthermore, children's dental health practices also improved through education, counseling, and the habit of brushing teeth at school. These changes were the result of synergy between teachers, canteen managers. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 parents, and the community health center, who collaboratively created a healthy culture at school. Children interpreted the healthy canteen as a fun and safe learning space for choosing healthy foods, while also strengthening awareness of the importance of dental hygiene. This study concluded that the healthy canteen is not only a physical intervention in food choices, but also a cultural instrument in establishing new norms about healthy lifestyles in elementary schools. Sustainable policies and cross-sector participation are needed to maintain and develop these behavioral changes. Keyword : Healthy Canteen. Children's Dental Health. Social Change. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Pendahuluan Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah dasar masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang krusial di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, lebih dari 90% anak usia 5 hingga 12 tahun mengalami masalah gigi, terutama karies (Rahmitasari et al. , 2. Tingginya prevalensi ini tidak terlepas dari perilaku konsumsi makanan yang tidak sehat, seperti permen, kue manis, minuman bergula, dan jajanan tinggi gula lainnya yang tersedia dengan mudah di lingkungan sekolah. Pola konsumsi ini, yang tidak diimbangi dengan kebiasaan menyikat gigi secara benar dan teratur, menyebabkan tingginya risiko kerusakan gigi sejak usia dini. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal memainkan peran strategis dalam pembentukan perilaku hidup sehat anak, termasuk dalam hal pola konsumsi dan kesehatan gigi. Salah satu intervensi yang saat ini mulai dikembangkan adalah penerapan kantin sehat (Parahita et al. , 2. Kantin sehat bukan sekadar tempat penyedia makanan, tetapi juga bagian dari lingkungan belajar yang dapat mempengaruhi pilihan makanan siswa. Melalui pengelolaan makanan yang bergizi, bersih, dan rendah gula, serta edukasi tentang kebiasaan sehat, kantin sehat dapat menjadi sarana transformasi sosial dan budaya makan anak. Perubahan perilaku sosial anak dalam konteks ini tidak hanya tercermin dari kebiasaan memilih jajanan sehat, tetapi juga dari perubahan norma, nilai, dan praktik keseharian yang dipengaruhi oleh interaksi dengan guru, teman sebaya, pengelola kantin, serta edukasi kesehatan dari pihak sekolah dan tenaga medis (Ananda, 2. Kantin sehat juga dapat berperan dalam membatasi akses anak terhadap makanan berisiko tinggi penyebab karies gigi, sekaligus memperkuat perilaku menyikat gigi secara rutin melalui integrasi program UKS, penyuluhan kesehatan, serta pembiasaan kolektif di Studi-studi lapangan di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara, menunjukkan praktik baik dalam mendukung kesehatan gigi anak melalui kombinasi program sikat gigi massal, penyuluhan oleh puskesmas, penyediaan sarana cuci tangan dan sikat gigi, hingga penguatan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pengelola kantin. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku kesehatan anak tidak terjadi secara individual, melainkan melalui dinamika sosial yang kompleks dan berlangsung dalam konteks budaya sekolah. Namun demikian, perubahan sosial tersebut belum banyak dikaji secara mendalam dari perspektif kualitatif yang menggali makna, persepsi, dan praktik keseharian anak dalam memilih makanan serta menjaga kebersihan gigi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana penerapan kantin sehat di sekolah dapat mempengaruhi perubahan perilaku sosial dan praktik kesehatan gigi anak secara kontekstual dan bermakna, terutama dalam kerangka transformasi budaya sekolah menuju pola hidup sehat yang berkelanjutan. Bahan dan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi fenomenologis. Pendekatan ini dipilih untuk menggali makna pengalaman sosial dan perubahan perilaku anakanak sekolah dasar dalam konteks penerapan kantin sehat di sekolah (Tumangkeng & Maramis, 2. Fokus utama penelitian terletak pada pemahaman yang mendalam terhadap perubahan perilaku sosial, praktik keseharian, serta persepsi anak terhadap makanan sehat dan kebersihan gigi, sebagaimana dibentuk melalui interaksi mereka di lingkungan Lokasi penelitian direncanakan di beberapa sekolah dasar di Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara, yang telah melaksanakan program kantin sehat dan memiliki kegiatan pendukung seperti UKS dan edukasi kesehatan gigi. Subjek penelitian meliputi siswa sekolah dasar kelas IVAeVI, guru dan petugas UKS, pengelola kantin, orang tua siswa, serta petugas Puskesmas yang terlibat dalam promosi kesehatan gigi dan pembinaan kantin sehat. Pemilihan informan mempertimbangkan keterlibatan langsung dan pengetahuan mereka terhadap isu yang diteliti (Wijaya et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik, yaitu wawancara pengalaman, dan peran para informan kunci. group discussion (FGD) untuk memahami dinamika sosial dan pandangan siswa secara kolektif. observasi partisipatif untuk mencatat aktivitas langsung anak-anak di kantin dan dalam kegiatan kebersihan gigi di sekolah. Selain itu, dilakukan pula studi dokumentasi terhadap dokumen pendukung seperti kebijakan sekolah, program UKS, catatan kesehatan siswa, dan pedoman kantin sehat dari instansi terkait (Fadli, 2. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan analisis tematik . hematic analysi. Proses analisis dimulai dengan transkripsi data, berdasarkan konteks sosial dan budaya yang Analisis mengidentifikasi pola-pola makna dalam praktik konsumsi makanan sehat dan kebersihan gigi anak sekolah dasar dalam konteks kantin sehat (Adelliani et al. , 2. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 triangulasi metode, serta konfirmasi data melalui member check dan diskusi sejawat . eer debriefin. (Ramdhan, 2. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan informasi dari berbagai informan dan teknik pengumpulan data, sementara member check digunakan untuk memastikan interpretasi data sesuai dengan pandangan informan. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian memiliki validitas yang kuat dan mampu memberikan kontribusi terhadap pemahaman kontekstual perubahan sosial dan perilaku kesehatan anak di Hasil dan Penelitian Transformasi Perilaku Sosial Anak dalam Memilih Makanan dan Jajanan di Sekolah Transformasi perilaku sosial anak dalam memilih makanan dan jajanan di sekolah tidak dapat dilepaskan dari konteks penerapan kebijakan kantin sehat yang secara sistemik membentuk lingkungan yang mendukung pembelajaran nilai gizi dan praktik konsumsi sehat (Widartika, 2. Perubahan ini ditandai dengan pergeseran preferensi anak terhadap jenis makanan yang dikonsumsi di sekolah, dari sekadar makanan yang enak ke makanan yang lebih bergizi dan aman dikonsumsi. Salah satu informan siswa mengungkapkan bahwa awalnya ia membeli jajanan seperti roti dan pisang nugget karena alasan rasa, namun setelah memahami dampak negatif dari makanan tidak sehat, ia mulai mengubah pilihannya ke makanan yang lebih sehat. Hal ini menunjukkan adanya proses internalisasi nilai baru melalui pendidikan kesehatan yang diterima anak di lingkungan sekolah, di mana kesadaran gizi menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial. Sebagaimana ungkapan informan SSD berikut ini : Saya biasa membeli roti dan pisang nugget di kantin sekolah karena rasanya enak. Sejak memahami dampak buruk jajanan tidak sehat terhadap kesehatan, saya mulai memilih makanan yang lebih sehat. Namun, saya juga menyampaikan bahwa tidak ada makanan atau minuman yang dilarang dijual di kantin sekolah, dan saya merasa senang dengan kondisi tersebut. (SSD. Siswa Sekolah Dasar, 01/08/2. Transformasi ini tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui interaksi dan pengaruh sosial yang lebih luas. Guru, misalnya, memainkan peran penting sebagai panutan dan agen perubahan. Guru menyampaikan bahwa sejak diterapkannya kebijakan kantin sehat, terjadi perubahan positif dalam kebiasaan jajan siswa, ditandai dengan meningkatnya kesadaran gizi dan rasa ingin tahu terhadap makanan sehat. Selain itu, guru juga berperan aktif dalam pengawasan dan memberikan edukasi secara langsung, yang memperkuat perubahan perilaku secara Sebagaimana ungkapan informan GUR berikut ini : Sejak diberlakukannya kantin sehat, terjadi perubahan positif dalam kebiasaan jajan siswa, di mana mereka lebih memilih makanan sehat dan memiliki peningkatan kesadaran gizi. Respon siswa terhadap pembatasan jajanan tidak sehat juga sangat positif, ditandai dengan kebiasaan makan sehat yang mulai terbentuk dan rasa ingin tahu terhadap makanan bergizi yang meningkat. Saya terlibat aktif dalam pengawasan konsumsi jajanan siswa dan memegang peran penting sebagai pendidik, panutan, serta penggerak perubahan perilaku sehat di lingkungan sekolah. (GUR. Guru, 25/07/2. Dari sisi pengelola kantin, adaptasi terhadap kebijakan kantin sehat juga menunjukkan adanya komitmen untuk menyediakan pilihan makanan yang tidak hanya sehat, tetapi juga menarik bagi anak-anak. Penghapusan makanan dan minuman yang mengandung pengawet serta pengurangan kadar gula, garam, dan lemak diterima baik oleh siswa, bahkan justru mendorong mereka untuk tetap antusias membeli makanan sehat karena telah memahami pentingnya konsumsi makanan bergizi. Ini menggambarkan bahwa perubahan perilaku anak tidak hanya bertumpu pada larangan, melainkan pada pembentukan pemahaman dan pengalaman langsung yang Sebagaimana ungkapan informan PKS berikut ini: Perubahan yang diterapkan mencakup penghapusan penjualan makanan dan minuman kemasan yang mengandung pengawet, pewarna, serta pemanis buatan, serta pengurangan penggunaan gula, garam, dan lemak berlebih. Perubahan menu ini disambut positif oleh siswa karena makanan yang disediakan lebih sehat dan menyenangkan, sekaligus memberi pembelajaran tentang nilai gizi dan pemilihan makanan yang Siswa tetap antusias membeli makanan sehat di kantin karena telah memahami pentingnya pola hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi. (PKS. Pengelola Kantin Sekolah, 18/07/2. Perubahan perilaku anak juga diperkuat oleh keterlibatan orang tua yang mulai memantau jenis makanan yang dikonsumsi anak dan mengamati adanya peningkatan kebiasaan menyikat gigi secara rutin. Hal ini memperlihatkan bahwa transformasi perilaku anak di sekolah turut berdampak pada pola kebiasaan di rumah. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 memperluas pengaruh sosial dari lingkungan sekolah ke dalam kehidupan keluarga. Sebagaimana ungkapan informan OTS berikut ini: Orang tua siswa menyatakan bahwa mereka mengetahui jenis makanan yang dikonsumsi anak di sekolah karena familiar dengan pilihan makanan yang dijual di kantin sehat. Selain itu, mereka juga mengamati adanya perubahan positif dalam kebiasaan anak menyikat gigi, di mana anak kini rutin menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur. (OTS. Orang Tua Siswa, 11/07/2. Transformasi perilaku sosial anak dalam memilih makanan dan jajanan merupakan hasil dari interaksi berbagai aktor di lingkungan sekolahAisiswa, guru, pengelola kantin, dan orang tuaAiyang secara bersama-sama membentuk ruang sosial baru yang mendukung praktik hidup sehat. Perubahan ini bukan hanya bersifat perilaku individual, tetapi juga merupakan hasil dari perubahan budaya sekolah yang menempatkan kesehatan sebagai nilai sosial baru yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak (Mubasyiroh et al. , 2. Pembentukan dan perubahan Praktik Kesehatan Gigi Anak dalam Konteks Kantin sehat. Pemaknaan mendalam terhadap pembentukan dan perubahan praktik kesehatan gigi anak dalam konteks penerapan kantin sehat di sekolah menunjukkan adanya transformasi perilaku yang signifikan dan terstruktur melalui kolaborasi antara siswa, guru, petugas kesehatan, dan pihak sekolah (Saleh, 2. Pertama, dari sisi siswa, terbentuknya kebiasaan menyikat gigi secara rutin sebanyak tiga kali sehari mencerminkan hasil dari proses edukasi dan peningkatan kesadaran yang efektif. Siswa tidak hanya melakukan praktik tersebut sebagai rutinitas, tetapi juga memahami alasan di baliknya, seperti dampak negatif konsumsi makanan manis terhadap kesehatan gigi. Pengetahuan yang diperoleh dari penyuluhan puskesmas terbukti memberi kontribusi nyata terhadap perilaku harian siswa dalam menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Sebagaimana ungkapan informan SSD berikut ini : Saya rutin menyikat gigi tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari, setelah makan, dan sebelum tidur malam. Saya juga pernah mendapatkan penyuluhan dari petugas puskesmas tentang cara menyikat gigi yang benar, serta memahami bahwa makanan manis seperti permen dapat merusak gigi. (SSD. Siswa Sekolah Dasar, 01/08/2. Kedua, pihak guru memainkan peran strategis dalam membentuk praktik kesehatan gigi di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya sebagai fasilitator edukasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku melalui pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan. Program seperti edukasi rutin, pemeriksaan gigi berkala, serta pengingat harian menyikat gigi setelah sarapan menjadi instrumen efektif dalam menanamkan kebiasaan tersebut. Strategi penyuluhan yang dilakukan secara bertahap dan diselingi praktik nyata menjadi penting untuk menjaga antusiasme siswa dan memaksimalkan pemahaman mereka. Sebagaimana ungkapan informan GUR berikut ini: sekolah melaksanakan berbagai program untuk meningkatkan kesadaran kesehatan gigi siswa, seperti pemeriksaan gigi berkala, edukasi dan penyuluhan, praktik menyikat gigi bersama, serta penyediaan sarana untuk cuci mulut atau gosok gigi. Kegiatan rutin lainnya mencakup pengingat harian untuk menyikat gigi setelah sarapan dan penyuluhan kesehatan setiap tiga bulan agar materi tersampaikan secara bertahap, anak tidak cepat bosan, serta efek penyuluhan dapat dipantau. (GUR. Guru, 25/07/2. Ketiga, keterlibatan petugas Puskesmas menjadi bagian dari sistem pendukung eksternal yang memperkuat praktik kesehatan gigi anak. Melalui penyuluhan, edukasi, dan pembinaan terhadap kantin sehat. Puskesmas tidak hanya menyasar aspek pengetahuan, tetapi juga mendorong peran aktif siswa, seperti melalui program dokter kecil yang diharapkan menjadi agen perubahan di antara teman-teman sebayanya. Petugas juga menekankan pentingnya sinergi antara pembinaan kesehatan gigi dan ketegasan kebijakan sekolah agar penerapan nilai-nilai kesehatan benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan sekolah. Sebagaimana ungkapan informan p berikut ini: peran Puskesmas dalam mendukung kantin sehat dan promosi kesehatan gigi di sekolah dilakukan melalui penyuluhan dan pembinaan kantin sehat serta edukasi kesehatan gigi dan mulut. Saya juga menilai bahwa kegiatan sikat gigi massal sebaiknya melibatkan siswa terpilih seperti dokter kecil agar lebih efektif, dan pembinaan kantin perlu didukung dengan ketegasan dari pihak sekolah. Petugas Puskesmas, 04/07/2. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 14 Penerapan kantin sehat tidak hanya mempengaruhi pola konsumsi anak, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya dalam praktik perawatan gigi (Mubasyiroh et al. , 2. Transformasi ini dibentuk oleh sinergi antaraktor di lingkungan sekolah dan layanan kesehatan, menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang berkelanjutan memerlukan pendekatan intersektoral dan pembelajaran Pengaruh Faktor Sosial dan Budaya terhadap Perilaku Konsumsi dan Kebersihan Gigi Anak SD Dalam konteks kantin sehat, perilaku konsumsi dan kebersihan gigi anak SD tidak terbentuk secara instan, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor sosial dan budaya di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Faktor sosial seperti interaksi dengan guru dan teman sebaya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola konsumsi anak. Siswa menyebutkan bahwa meskipun ia menyadari adanya pengaruh teman, ia menegaskan bahwa pilihan konsumsi jajanan sehat merupakan keputusan pribadi, bukan semata karena mengikuti lingkungan sekitar. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun faktor sosial hadir sebagai referensi perilaku, terdapat pula kesadaran individual yang terbentuk melalui edukasi dan pembiasaan. Sebagaimana ungkapan informan SSD berikut ini : Saya pernah mendapatkan penjelasan dari guru tentang makanan sehat dan kesehatan gigi, melihat temanteman saya juga senang memilih jajanan sehat, namun saya menegaskan bahwa pilihan saya dalam memilih jajanan bukan karena ikut-ikutan teman. (SSD. Siswa Sekolah Dasar, 01/08/2. Di sisi lain, norma-norma budaya dan persepsi orang tua mengenai makanan sehat juga memengaruhi perilaku konsumsi anak. Orang tua siswa menyampaikan bahwa mereka membekali anak dengan makanan dari rumah untuk menjaga fokus belajar dan menghindari konsumsi jajanan sembarangan. Ini menunjukkan adanya peran budaya pengasuhan dan kepedulian orang tua sebagai bagian dari praktik kesehatan gigi dan pola konsumsi sehat yang ditanamkan sejak dini. Sebagaimana ungkapan informan OTS berikut ini: "Sebagai orang tua, saya membawakan bekal makanan dari rumah agar anak tidak merasa lapar saat proses belajar, karena hal itu dapat mempengaruhi konsentrasinya. " (OTS. Orang Tua Siswa, 11/07/2. Namun, tantangan budaya dan sosial juga masih ditemukan. Pengelola kantin sekolah menyatakan bahwa rendahnya pemahaman siswa dan orang tua mengenai pentingnya gizi dan makanan sehat mengakibatkan masih tingginya preferensi terhadap makanan cepat saji, gorengan, atau jajanan manis yang menarik secara visual tetapi bergizi rendah. Hal ini memperlihatkan bahwa transformasi perilaku konsumsi anak memerlukan pendekatan edukatif yang menyentuh seluruh aktor sosial, baik di sekolah maupun di rumah. Sebagaimana ungkapan informan PKS berikut ini: "Kendala utama dalam menyediakan makanan sehat bagi siswa adalah kurangnya pemahaman siswa dan orang tua tentang nilai gizi dan pentingnya makanan sehat, sehingga siswa cenderung memilih makanan cepat saji, gorengan, atau camilan manis yang lebih menarik meskipun bergizi rendah. " (PKS. Pengelola Kantin Sekolah, 18/07/2. Dalam perspektif kelembagaan, petugas Puskesmas menegaskan bahwa intervensi berbasis data menjadi penting. Keberadaan pemetaan masalah gigi anak sebagai dasar perencanaan program menjadi bentuk konkrit dari pendekatan berbasis bukti dalam mendorong perubahan perilaku. Ini memperkuat pemahaman bahwa perubahan perilaku anak tidak hanya bergantung pada faktor individu, melainkan juga pada kebijakan kolektif yang terstruktur secara sosial dan kultural. Sebagaimana ungkapan informan p berikut ini: "Terdapat data atau pemetaan masalah gigi anak yang digunakan sebagai dasar dalam perencanaan " . Petugas Puskesmas, 04/07/2. Perubahan perilaku konsumsi dan kebersihan gigi anak SD merupakan proses sosial yang dipengaruhi oleh nilai, norma, dan kebiasaan yang terbentuk melalui interaksi sosial di sekolah dan keluarga, serta didukung oleh intervensi kelembagaan berbasis data (Ratnaningsih et al. , 2. Strategi perubahan perilaku memerlukan pendekatan lintas sektor yang tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada aktor sosial di sekitarnya. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 15 Dinamika Interaksi antara Guru. Pengelola Kantin. Orang Tua, dan Siswa dalam Membangun Budaya sehat Dinamika Dinamika interaksi antara berbagai aktor di lingkungan sekolah dasar menunjukkan adanya sinergi sosial yang kuat dalam membentuk budaya sehat, khususnya dalam konteks penerapan kantin sehat dan praktik kesehatan gigi anak. Guru berperan sebagai fasilitator utama yang tidak hanya mengedukasi siswa mengenai makanan bergizi dan pentingnya kesehatan gigi, tetapi juga menjembatani komunikasi antara sekolah dengan orang tua dan puskesmas. Guru secara aktif mengintegrasikan kebijakan makanan bergizi, penyediaan pangan lokal sehat, hingga keterlibatan warga sekolah dalam satu kesatuan strategi promotif yang berorientasi pada pembiasaan perilaku sehat. Sebagaimana ungkapan informan GUR berikut ini: SD Negeri 186 Kebun Rami mendukung penerapan kantin sehat melalui kebijakan makanan bergizi, kerja sama dengan petugas kesehatan, edukasi siswa, pelibatan orang tua dan warga sekolah, serta penyediaan makanan lokal yang sehat. Interaksi yang harmonis antara guru, siswa, dan pengelola kantin turut memperkuat kebiasaan sehat di sekolah. Selain itu, sekolah juga menjalin kerja sama dengan orang tua dan Puskesmas dalam bentuk penyuluhan, koordinasi bekal, pengawasan di rumah, serta pendampingan program UKS. (GUR. Guru, 25/07/2. Di sisi lain, pengelola kantin sekolah turut menjadi bagian integral dalam implementasi nilai-nilai kesehatan Tidak hanya menyediakan makanan sehat, pengelola kantin secara aktif mengikuti pelatihan dari puskesmas, bekerja sama dengan lembaga eksternal seperti Celosia dan Save The Children, serta menerima label resmi dari Dinas Kesehatan sebagai bentuk pengakuan dan kontrol mutu terhadap layanan kantin sehat. Hal ini menandakan adanya interaksi profesional antara pengelola dan institusi kesehatan yang memperkuat komitmen sekolah dalam membentuk lingkungan makan yang sehat. Sebagaimana ungkapan informan PKS berikut ini: "Saya selalu mendapatkan pelatihan dan arahan dari pihak puskesmas, menerima label pengawasan kantin sehat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur, bekerja sama dengan Celosia dan Save The Children, serta meraih juara sekolah sehat tingkat Kabupaten Luwu Timur. " (PKS. Pengelola Kantin Sekolah, 18/07/2. Orang tua siswa juga terlibat dalam proses ini, baik secara langsung melalui kegiatan sosialisasi maupun secara tidak langsung melalui pemberian bekal sehat dan pengawasan konsumsi anak di rumah. Dukungan orang tua terhadap kebijakan kantin sehat serta keterlibatan mereka dalam edukasi seperti cara menyikat gigi mencerminkan pentingnya kolaborasi rumah dan sekolah dalam membentuk perilaku sehat anak. Sebagaimana ungkapan informan OTS berikut ini: Dukungan saya terhadap kebijakan kantin sehat di sekolah karena kantin tidak menjual minuman berwarna dan makanan beku. Mereka juga pernah dilibatkan dalam sosialisasi oleh pihak sekolah terkait jenis makanan sehat di kantin dan cara menyikat gigi yang benar. (OTS. Orang Tua Siswa, 11/07/2. Petugas puskesmas sebagai representasi sistem layanan kesehatan di luar sekolah turut berkontribusi dalam program-program kesehatan seperti UKS. UKGS, promosi kesehatan lingkungan, serta imunisasi, yang keseluruhannya menunjang ekosistem sehat di sekolah dasar. Intervensi dan koordinasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa budaya sehat tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui hubungan sosial yang terus diperkuat oleh interaksi lintas aktor dengan tanggung jawab yang terdistribusi dan saling melengkapi. Sebagaimana ungkapan informan p berikut ini: "Program yang rutin dilakukan di sekolah dasar dalam wilayah kerja saya meliputi UKS. UKGS, kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan, kesehatan olahraga, serta program BIAS. " . Petugas Puskesmas, 04/07/2. Budaya sehat di sekolah merupakan hasil dari proses sosial yang dinamis, partisipatif, dan berkelanjutan antara guru, pengelola kantin, orang tua, siswa, dan petugas kesehatan, yang masing-masing memiliki peran strategis dalam membentuk dan memperkuat norma baru dalam praktik konsumsi dan kesehatan anak (Syamsuddin et al. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 16 Persepsi Anak terhadap Makanan Sehat. Kebersihan Gigi, dan Peran Kantin Sehat Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak Sekolah Dasar mulai memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya makanan sehat dan lingkungan konsumsi yang bersih, yang dalam hal ini direpresentasikan melalui keberadaan kantin sehat. Anak-anak tidak hanya menyadari keberadaan kantin sehat, tetapi juga dapat mengidentifikasi karakteristiknya, seperti tersedianya makanan bergizi, tidak ada lalat, dan lingkungan yang bersih serta nyaman. Ini menandakan bahwa persepsi anak terhadap makanan sehat telah terbentuk secara positif dalam konteks ruang sekolah. Sebagaimana ungkapan informan SSD berikut ini: Saya memandang kantin sehat sebagai tempat yang menyediakan makanan bergizi, higienis, dan aman Saya merasakan perubahan positif sejak kantin menjadi lebih sehat dan merasa senang dengan pilihan makanan yang tersedia karena semuanya sehat dan bebas dari lalat. (SSD. Siswa Sekolah Dasar, 01/08/2. Persepsi positif anak ini sejatinya tidak muncul secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses edukasi yang berlangsung secara sistemik dan terintegrasi dalam ekosistem sekolah. Pengelola kantin menyebutkan bahwa kantin sehat bukan hanya tentang pilihan makanan yang tersedia, tetapi juga mencakup aspek higienitas, keamanan pangan, dan kebersihan lingkungan kantin secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan standar kantin sehat yang mengedepankan makanan bergizi dan bebas dari bahan berbahaya atau risiko Sebagaimana ungkapan informan PKS berikut ini: "Konsep kantin sehat adalah penyediaan makanan dan minuman yang bergizi, aman, higienis, serta didukung oleh lingkungan sekolah yang bersih. " (PKS. Pengelola Kantin Sekolah, 18/07/2. Persepsi anak terhadap makanan sehat dan kebersihan gigi tidak dapat dipisahkan dari peran aktif sekolah melalui kebijakan kantin sehat. Kantin sehat menjadi wadah edukatif yang membentuk perilaku konsumsi sehat anak secara praktis, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan gigi melalui konsumsi makanan yang tepat (Nengsi, 2. Kombinasi antara edukasi, pengalaman langsung, dan dukungan lingkungan sekolah menjadikan kantin sehat sebagai media transformasi sosial yang efektif dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Kesimpulan Berdasarkan disimpulkan bahwa penerapan kantin sehat di sekolah dasar berkontribusi nyata dalam membentuk perubahan perilaku sosial dan praktik kesehatan gigi Anak-anak mulai menunjukkan pergeseran preferensi terhadap makanan sehat, didorong oleh pemahaman yang tumbuh melalui edukasi, interaksi dengan guru dan teman sebaya, serta pengalaman langsung di lingkungan kantin. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan gigi juga meningkat, tercermin dalam rutinitas menyikat gigi yang lebih teratur dan pemahaman terhadap dampak konsumsi makanan manis. Transformasi ini terbentuk melalui sinergi antaraktor di lingkungan sekolah, seperti guru, pengelola kantin, orang tua, dan petugas puskesmas. Guru berperan sebagai fasilitator perubahan, pengelola kantin menyediakan makanan yang sehat dan aman, orang tua mendukung dari rumah melalui pengawasan dan pemberian bekal, sementara puskesmas menyediakan edukasi dan pembinaan. Seluruh interaksi tersebut membentuk budaya sehat yang tidak hanya berdampak di sekolah, tetapi juga menjalar hingga ke rumah. Saran Sekolah diharapkan terus memperkuat kebijakan kantin sehat, mengintegrasikan edukasi gizi dan kesehatan gigi dalam kegiatan pembelajaran, serta menciptakan lingkungan yang konsisten mendukung pola hidup sehat. Guru dan pengelola kantin perlu memperoleh pelatihan berkelanjutan, sementara orang tua perlu dilibatkan aktif dalam kegiatan edukatif. Puskesmas dan instansi kesehatan juga diharapkan terus memberikan pendampingan serta pemantauan secara rutin agar program yang ada berjalan efektif dan berkesinambungan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengkaji lebih dalam dimensi budaya dan psikososial dalam perubahan perilaku anak di lingkungan sekolah. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas dukungan dan partisipasi dalam penelitian ini. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi siswa serta menjadi bahan rujukan bagi peneliti berikutnya. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 17 Referensi