JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. December 2025. Page: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Terhadap Kemampuan Membaca Puisi Siswa Kelas Vi MTs Safrihady1. Wahyuni Oktavia2. Sofia Nur Havizah3. Eva Novianti4. Gunta Wirawan5 ISBI Singkawang. Singkawang. Indonesia1,2,3,4,5 safrihady@gmail. com1, oktaviawahyuni9@gmail. com2, havizahsofianur@gmail. evan_viantie123@yahoo. com4, gwirawan91@gmail. Keywords : Membaca Puisi. Kooperatif. Group Investigation ABSTRACT Tujuan penelitian ini Adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation terhadap kemampuan membaca puisi siswa pada kelas Vi MTs. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Designs menggunakan bentuk Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas Vi MTs. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan terpilih kelas Vi C sebagai kelas eksperimen dan siswa Vi B sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian dengan menggunakan uji-t diperoleh nilai thitung > t-tabel yaitu 6,97>2,00 dengan taraf signifikasi 0,05%. Hasil perhitungan kemampuan membaca puisi siswa di kelas eksperimen yaitu nilai rata-rata hasil pretest yaitu 33 dan mengalami peningkatan pada nilai ratarata hasil post-test yaitu 66. Sedangkan nilai rata-rata hasil tes kemampuan membaca puisi siswa di kelas kontrol nilai rata-rata hasil pre-test yaitu 32 dan mengalami peningkatan pada nilai rata-rata hasil post-test yaitu 44. Perhitungan persentase aktivitas siswa diperoleh persentase 68,1% dengan kategori aktif. Uji Effect Size diperoleh nilai Effect Size sebesar 2,1 dengan kategori PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, baik dalam aspek spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, maupun keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan Dalam penyelenggaraan pendidikan, guru menempati posisi strategis sebagai tenaga profesional yang bertanggung jawab merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran guna mengoptimalkan perkembangan potensi peserta didik. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, tujuan pendidikan tersebut diwujudkan melalui pengembangan keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 sama lain, karena bahasa berfungsi sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. Bahasa seseorang mencerminkan kualitas berpikirnya, semakin terampil seseorang menggunakan bahasa, semakin terstruktur pula cara berpikirnya. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan membaca menjadi fondasi penting bagi pengembangan keterampilan berbahasa lainnya. Membaca tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas melafalkan lambang-lambang tertulis, melainkan sebagai proses aktif dan konstruktif dalam membangun makna. Saddhono . menyatakan bahwa membaca merupakan kegiatan memahami pesan penulis melalui interaksi antara teks, pengetahuan awal pembaca, dan konteks sosial-budaya. Sejalan dengan pendapat tersebut. Snow . menegaskan bahwa membaca pemahaman menuntut keterlibatan kognitif pembaca secara aktif untuk menafsirkan, mengevaluasi, dan merefleksikan isi teks. Salah satu materi membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang memiliki peran penting dalam pengembangan kepekaan berbahasa dan apresiasi sastra adalah membaca puisi. Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan gagasan dan perasaan penyair secara estetis melalui bahasa yang padat, imajinatif, dan bermakna ganda. Waluyo . menjelaskan bahwa puisi memiliki struktur fisik dan struktur batin yang saling berkaitan, sehingga pemahamannya tidak hanya menuntut kemampuan linguistik, tetapi juga kemampuan interpretatif dan emosional. Oleh karena itu, pembelajaran membaca puisi memerlukan pendekatan yang mampu mendorong keterlibatan aktif siswa dalam memahami makna, nilai, dan keindahan bahasa puisi. Namun, realitas pembelajaran menunjukkan bahwa keterampilan membaca, khususnya membaca puisi, masih menghadapi berbagai kendala. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia kelas Vi MTs Ushuluddin Singkawang, ditemukan bahwa pembelajaran membaca cenderung bersifat konvensional dan berpusat pada guru. Akibatnya, siswa kurang terlibat secara aktif, mengalami kesulitan dalam memahami makna puisi, menarik simpulan, serta mengemukakan hasil pemahamannya. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar dan minimnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran membaca puisi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa, mendorong kerja sama, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan Salah satu model pembelajaran yang relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 adalah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Pembelajaran kooperatif menekankan kerja sama antarpeserta didik dalam kelompok kecil yang heterogen untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Slavin . menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif efektif meningkatkan hasil belajar karena menumbuhkan tanggung jawab individual, interaksi promotif, dan keterampilan sosial siswa. Model pembelajaran Group Investigation merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi pembelajaran. Menurut Huda . Group Investigation menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang secara kolaboratif memilih topik, merancang langkah penyelidikan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, serta menyajikan hasil temuannya kepada kelas. Dalam model ini, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan proses pembelajaran agar tetap berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Langkah-langkah pembelajaran Group Investigation meliputi pemilihan topik, perencanaan kooperatif, pelaksanaan investigasi, analisis dan sintesis, presentasi hasil, serta evaluasi. Model ini sejalan dengan pembelajaran berbasis literasi dan inkuiri karena mendorong siswa untuk membaca berbagai sumber, berdiskusi, mengemukakan pendapat, serta menyimpulkan hasil pembelajaran secara kolaboratif. Selain itu. Group Investigation juga memiliki kelebihan dalam meningkatkan motivasi belajar, kemampuan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 komunikasi, dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran (Kurniasih & Sani, 2. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation terhadap kemampuan membaca puisi dan aktivitas belajar siswa kelas Vi MTs Ushuluddin Singkawang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan bentuk Nonequivalent Control Group Design. Desain penelitian ini melibatkan dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang masing-masing diberikan pre-test dan post-test. Skema desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 1 Skema desain penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Pre-test OCA OCA Perlakuan Ae Post-test OCC OCC Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi MTs Ushuluddin Singkawang yang berjumlah 172 siswa, terdiri atas kelas Vi A. Vi B. Vi C. Vi D. Vi D. Vi E. Vi CC. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan tekniki purposive sampling dengan mempertimbangkan kesetaraan kemampuan akademik, jumlah siswa yang relatif seimbang, serta rekomendasi guru mata pelajaran. Berdasarkan kriteria tersebut, kelas Vi C dipilih sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 30 siswa dan kelas Vi B sebagai kelas kontrol dengan jumlah 33 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: . observasi langsung untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran, . teknik pengukuran berupa tes pre-test dan post-test untuk mengukur kemampuan membaca puisi, dan . studi dokumentasi berupa data hasil belajar dan dokumentasi kegiatan penelitian. Instrumen penelitian terdiri atas lembar observasi aktivitas siswa, tes kemampuan membaca puisi berbentuk esai sebanyak dua butir soal, dan dokumentasi. Tes membaca puisi disusun berdasarkan indikator kemampuan membaca puisi yang meliputi: . pemahaman makna puisi, . pengenalan unsur fisik puisi, . pengenalan unsur batin puisi, dan . kemampuan menyimpulkan isi puisi. Uji validitas instrumen dilakukan melalui validitas isi . ontent validit. dengan melibatkan ahli materi dan guru mata pelajaran. Selain itu, validitas empiris instrumen tes dianalisis menggunakan korelasi Product Moment. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach dan diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,73, yang menunjukkan kategori Observasi aktivitas siswa dilakukan oleh tiga observasi. Untuk menjaga keseragaman persepsi antar observer . nter-rater reliabilit. , dilakukan penyamaan pemahaman terhadap indikator observasi melalui diskusi dan pedoman penilaian yang sama sebelum pelaksanaan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Adapun hasil penelitian yang akan dipaparkan adalah kemampuan membaca puisi, aktivitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation. Untuk mengetahui hasil tes kemampuan membaca puisi siswa dilakukan dengan menghitung rata-rata hasil pre-test dan post-test. Adapun data hasil perhitungan nilai Pre-test dan Post-test Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Pre-test dan Post-test Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Keterangan Pre-test Post-test Pre-test Post-test Rata-rata Dari Tabel 2 diketahui bahwa nilai rata-rata hasil tes kemampuan membaca puisi siswa yaitu pre-test dan post-test yang diperoleh di kelas eksperimen mengalami peningkatan yaitu ratarata hasil tes kemampuan membaca puisi siswa 33 meningkat menjadi 66. Sedangkan nilai rata-rata hasil tes kemampuan membaca puisi siswa yaitu pre-test dan post-test yang diperoleh di kelas kontrol juga mengalami peningkatan yaitu rata-rata hasil tes kemampuan membaca puisi siswa 32 meningkat menjadi 44. Perbedaan peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe Group Investigation memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kemampuan membaca puisi dibandingkan pembelajaran konvensional. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Huda . yang menyatakan bahwa model Group Investigation mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks sastra karena melibatkan siswa secara aktif dalam proses pencarian, analisis, dan penyajian informasi. Penelitian lain oleh Kurniasih dan Sani . juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif berbasis investigasi kelompok efektif dalam meningkatkan hasil belajar karena mendorong siswa untuk berpikir kritis dan bekerja sama dalam memahami materi. Selanjutnya untuk aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan oleh tiga orang observer dan lembar pengamatan aktivitas ini diisi oleh observer. Hasil perhitungan aktivitas siswa saat pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut. Tabel 3 Rekapitulasi Perhitungan Aktivitas Siswa Kategori Visual activities Oral activities Listening activities Writing activities Rata-rata Rata-rata 70,5% Aktif 56,6% Cukup Aktif 73,0% Aktif 72,4% Aktif 68,1% Aktif Berdasarkan pengamatan aktivitas siswa yang telah dilakukan bahwa model pembelajaran group investigation berpengaruh terhadap aktivitas siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan data aktivitas siswa pada kelas eksperimen memperoleh rata-rata persentase keseluruhan sebesar 68,1%. Aktivitas visual, mendengarkan, dan menulis berada pada Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 kategori aktif, sedangkan aktivitas lisan berada pada kategori cukup aktif. Hal ini menunjukkan bahwa siswa terlibat secara nyata dalam proses pembelajaran. Peningkatan aktivitas belajar tersebut mendukung pendapat Slavin . yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan partisipasi siswa melalui interaksi promotif dan tanggung jawab bersama dalam kelompok. Dengan keterlibatan aktif siswa selama proses investigasi, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak pada peningkatan hasil belajar. Setelah menghitung aktivitas belajar siswa dan akan dilakukan uji untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran group investigation (GI) terhadap kemampuan membaca siswa. Untuk menghitung pengaruh model pembelajaran group investigation (GI) terhadap kemampuan membaca siswa diperoleh dari data posttest dengan menggunakan uji Effect Size. Hasil perhitungan Effect Size kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4 Sebagai berikut. Tabel 4 Rekapitulasi Perhitungan Effect Size Post-test Keterangan Effect Size Kelas Kelas Eksperimen Kontrol Rata-rata Standar Deviasi Keterangan Tinggi Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai Effect Size adalah 2,1, berdasarkan kriteria Effect Size 2,1 terletak pada ES > 0,8 maka nilai Effect Size kategori tinggi. Karena nilai Effect Size kategori tinggi maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran group investigation (GI) berpengaruh terhadap kemampuan membaca puisi siswa pada materi antologi puisi. Kemudian dilakukan uji homogenitas dan uji normalitas sebagai prasyarat melakukan uji-t. Uji normalitas dilakukan untuk memenuhi satu diantara uji prasyarat uji-t dan untuk mengetahui sampel yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Hasil perhitungan uji normalitas untuk data pretest dan posttest siswa pada kelas eksperimen serta pre-test dan post-test siswa pada kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut. Tabel 5 Rekapitulasi Uji Normalitas Data Kelas Tes X2hitung X2tabel Pretest 6,8980 7,815 Eksperimen Posttest 7,4152 7,815 Kontrol Pre-test 3,1266 7,815 Post-test 6,0671 7,815 Keterangan Normal Normal Normal Normal Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai X2 data pre-test pada kelas eksperimen adalah 6,8980, karena pada taraf signifikan = 5% diketahui X2tabel 7,815 maka 6,8980< 7,815 sehingga data pre-test berdistribusi normal. Nilai X2 data posttest pada kelas eksperimen adalah 7,4152, karena pada taraf signifikan = 5% diketahui X2tabel 7,815 maka 7,4152< 7,815 sehingga data post-test berdistribusi normal. Nilai X2 data pre-test pada kelas kontrol adalah 3,1266, karena pada taraf signifikan = 5% diketahui X2tabel 7,815 maka 3,1266< 7,815 sehingga data pre-test berdistribusi normal. Nilai X2 data posttest pada kelas kontrol Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 adalah 6,0671, karena pada taraf signifikan = 5% diketahui X2tabel 7,815 maka 6,0671< 7,815 sehingga data post-test berdistribusi normal. Pada perhitungan sebelumnya diketahui data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. Selanjutnya melakukan uji homogenitas untuk mengetahui apakah kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen atau tidak. Kriteria pengambilan keputusan uji homogenitas adalah jika Fhitung Ftabel maka data homogen. Sedangkan jika sebaliknya Fhitung > Ftabel maka data tidak homogen. Hasil analisis uji homogentitas yang dilakukan dengan data Post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut. Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Fhitung Ftabel 1,83 1,84 Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui hasil uji homogenitas Fhitung =1,83 dan berdasarkan taraf signifika = 0,05, db1 = 29, db2 = 32 diperoleh Ftabel = 1,84 sehingga Fhitung < Ftabel atau 1,83 > 1,84, maka dapat disimpulkan bahwa nilai Post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol Setelah uji normalitas dan uji homogenitas data sebagai uji prasyarat uji-t terpenuhi maka selanjutnya melakukan perhitungan uji-t. Uji-t yang digunakan adalah uji-t independen. Kriteria pengujian thitung > ttabel maka tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan membaca puisi siswa menggunakan model pembelajaran group investigation (GI). Sebaliknya jika thitung < ttabel maka terdapat perbedaan peningkatan kemampuan membaca puisi siswa menggunakan model pembelajaran group investigation (GI). Hasil perhitungan uji-t independen dapat dilihat pada Tabel 7 sebagai berikut. Tabel 7 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji-t 6,97 2,00 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa nilai thitung kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 6,97 dan berdasarkan = 5% diperoleh ttabel = 2,00, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca puisi siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan siswa yang diajar dengan pembelajaran Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat temuan-temaun penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan membaca puisi dan aktivitas belajar siswa. Model ini efektif digunakan dalam pembelajaran membaca puisi karena mampu mengaktifkan siswa, meningkatkan pemahaman makna puisi, serta menumbuhkan kerja sama dan keterampilan berpikir kritis. Pembahasan Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dalam pembelajaran membaca puisi menunjukkan efektivitas yang kuat dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Keunggulan model ini terletak pada keterlibatan aktif siswa sejak tahap perencanaan, investigasi, hingga penyajian hasil, sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 pada guru, melainkan pada aktivitas berpikir dan kolaborasi siswa. Dalam konteks pembelajaran sastra, khususnya membaca puisi, keterlibatan tersebut sangat penting karena pemahaman puisi menuntut kemampuan interpretatif, apresiatif, dan reflektif. Model Group Investigation memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi makna puisi secara mendalam melalui diskusi kelompok dan pencarian informasi yang relevan. Proses ini memungkinkan siswa membangun pemahaman secara konstruktif, bukan sekadar menerima penjelasan dari guru. Hal ini sejalan dengan pandangan konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif melalui interaksi sosial dan pengalaman belajar yang bermakna (Vygotsky, 1. Dengan demikian, pembelajaran membaca puisi menjadi lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa. Temuan penelitian ini menguatkan pendapat Huda . yang menegaskan bahwa model Group Investigation efektif dalam pembelajaran teks sastra karena mendorong siswa untuk menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan kembali pemahamannya secara kolaboratif. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat saling bertukar pandangan mengenai unsur-unsur puisi, seperti tema, imaji, dan amanat, sehingga pemahaman terhadap teks puisi menjadi lebih Selain itu. Kurniasih dan Sani . menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif berbasis investigasi kelompok mampu meningkatkan hasil belajar karena siswa dilatih berpikir kritis, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap proses serta hasil belajar kelompoknya. Dari sisi aktivitas belajar, penerapan model Group Investigation terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Aktivitas visual, mendengarkan, dan menulis yang tergolong aktif menunjukkan bahwa siswa tidak hanya terlibat secara fisik, tetapi juga secara kognitif dalam memahami materi pembelajaran. Aktivitas lisan yang berada pada kategori cukup aktif mengindikasikan bahwa meskipun siswa telah terlibat dalam diskusi, masih terdapat ruang untuk mendorong keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat secara verbal. Namun demikian, secara keseluruhan, keterlibatan siswa yang tinggi mencerminkan pembelajaran yang interaktif dan partisipatif. Peningkatan aktivitas belajar ini mendukung teori pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Slavin . , yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar siswa melalui interaksi promotif, ketergantungan positif, serta tanggung jawab individu dan kelompok. Dalam model Group Investigation, setiap anggota kelompok memiliki peran dan tanggung jawab tertentu, sehingga siswa terdorong untuk berkontribusi aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menjadikan pembelajaran lebih dinamis dan mendorong terjadinya pembelajaran bermakna . eaningful learnin. Besarnya pengaruh model Group Investigation terhadap kemampuan membaca puisi juga tercermin dari hasil analisis statistik lanjutan. Nilai Effect Size yang berada pada kategori tinggi menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar yang terjadi bukan hanya signifikan secara statistik, tetapi juga bermakna secara praktis. Menurut Cohen . , nilai Effect Size yang tinggi menandakan bahwa perlakuan yang diberikan memiliki dampak yang kuat terhadap variabel yang diteliti. Dengan demikian, model Group Investigation dapat dikatakan memiliki efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 193 Ae 201 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Hasil uji prasyarat dan uji hipotesis yang telah dilakukan semakin memperkuat kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan membaca puisi siswa. Perbedaan yang signifikan antara kelas yang diajar menggunakan model Group Investigation dan kelas yang diajar secara konvensional menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang menekankan kolaborasi dan investigasi lebih efektif dibandingkan pendekatan pembelajaran yang bersifat satu arah. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini memperkuat hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi dan aktivitas belajar siswa. Model ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan kemampuan berkomunikasi siswa. Oleh karena itu, model Group Investigation layak direkomendasikan sebagai alternatif strategi pembelajaran inovatif dalam pembelajaran sastra, khususnya pada materi membaca puisi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi Model ini mampu menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui keterlibatan aktif dalam proses perencanaan, investigasi, diskusi, dan penyajian hasil, sehingga pemahaman siswa terhadap puisi berkembang secara lebih mendalam dan bermakna. Penerapan model Group Investigation juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun afektif, yang tercermin dari meningkatnya partisipasi siswa dalam aktivitas visual, mendengarkan, menulis, dan kerja kelompok. Hasil analisis statistik yang menunjukkan pengaruh signifikan serta nilai Effect Size yang tinggi menegaskan bahwa model Group Investigation tidak hanya efektif secara statistik, tetapi juga memiliki dampak praktis yang kuat. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation terbukti lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran membaca puisi. DAFTAR PUSTAKA