Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 7 No. 2 Desember 2023, hal 288-291 Hubungan Indonesia-Australia Sarkawi B. Husain1* Universitas Airlangga. sarkawihusain@gmail. Korespondensi Dikirim: 07-09-2023. Direvisi: 24-10-2023. Diterima: 28-10-2023. Diterbitkan: 30-12-2023 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Judul Buku: Indonesia di Mata Australia: Pemikiran dan Kebijakan Gough Whitlam Penulis: Akhmad Khusyairi Editor: Johny Alfian Khusyairi Penerbit: Elmatera-Departemen Ilmu Sejarah Unair Tebal: 368 Hlm Tahun Terbit: Desember 2021 ISBN: 978-623-223-195-5 "We are all gifted with the opportunity to succeed. But you get further if you extend the hand of friendship. " [Kita semua diberkahi kesempatan untuk sukses. Tapi Anda akan mendapatkan lebih banyak jika Anda mengulurkan tangan persahabata. Kutipan di atas adalah bagian dari pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengutip ungkapan musisi Jimmy Little, artis Aborigin Australia, saat berbicara di hadapan anggota parlemen Australia di House of Representatives atau gedung parlemen pada 10 Februari 2020. Hubungan Indonesia-Australia sesungguhnya sudah berlangsung sangat lama. Australia adalah salah satu negara yang memberikan dukungan politis terhadap perjuangan rakyat dan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Selain itu. Australia adalah salah satu negara pertama yang memberi pengakuan terhadap kedaulatan bangsa Indonesia setelah dilangsungkannya proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Bahkan menurut catatan sejarah Nusantara, relasi dagang antara orang-orang Bugis-Makassar dengan orang Aborigin telah terjalin lama, jauh sebelum kedatangan orang-orang Tionghoa dan Inggris ke Australia. Sayang sekali, perdagangan teripang antara orang-orang yang berasal dari Makassar dan Aborigin berakhir pada awal abad ke XX karena pajak yang tinggi dan kebijakan pemerintah Asutralia yang membatasi perdagangan orang-orang non-kulit putih. Kebijakan pemerintah Australia terhadap DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 288 of 291 Sarkawi B. Husain Hubungan Indonesia-Australia bangsa-bangsa lain mengalami pasang-surut, dari pemerintah yang satu ke pemerintah lainnya, termasuk pada periode kepemimpinan Perdana Menteri Gough Whitlam . Buku yang awalnya merupakan naskah disertasi Akhmad Khusyairi pada Program Pasca Sarjana UGM ini terdiri atas delapan bagian. Setelah memberi keterangan yang cukup panjang tentang latar belakang topik termasuk aspek konspetualisasi dan aspek metodologi, pada bagian kedua Khusyairi mengupas tentang aspek geo-strategis Australia, sejumlah faktor yang mempengaruhi politik luar negeri Australia, serta politik luar negeri tradisional Australia. Menurut Khusyairi, pada masa pemerintahan Partai Buruh 1945-1949. Perdana Menteri Ben Chifley menunjukkan kebebasannya dalam menjalankan politik luar negeri Australia dengan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kembalinya Belanda ke Indonesia. Akan tetapi, pada saat Indonesia meminta tolong agar masalah persengketaannya dengan Belanda diajukan kepada Dewan Keamanan PBB. Australia tidak berani berbuat karena takut akan menyimpang dari politik Inggris dan Amerika Serikat. Permintaan Indonesia yang kedua agar Australia membawa persoalannya ke Dewan Keamanan juga tidak dipenuhi oleh Australia. Setelah India bermaksud mengajukan persoalan tersebut ke Dewan Keamanan. Australia buruburu mengajukan persoalan tersebut ke Dewan Keamanan . Bagian ketiga hingga ketujuh merupakan persoalan inti yang dibahas dalam buku ini. Satu hal yang menarik dan penting pada bagian ini adalah uraian tentang perhatian Whitlam terhadap Indonesia yang sudah ada sejak Whitlam terjun dalam kancah politik nasional. Di parlemen nasional sejak September 1953, ia telah menunjukkan minatnya terhadap Indonesia ketika membela politik yang dijalankan oleh Ben Chifley terhadap Indonesia 1945-1949. Begitu juga ketika timbul masalah Irian Barat. Whitlam lebih memahami tuntutan Indonesia atas Irian Barat dibanding dengan para politisi yang lain. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan Ketua Partai Buruh pada waktu itu. Arthur Calwell . Buku ini dapat dikatakan sebagai karya yang langka mengingat terbatasnya kajian tentang hubungan Indonesia-Australia. Oleh karena itu, buku ini memiliki sejumlah kelebihan. Mengutip David Reeve, buku ini memberi kontribusi penting dalam menambah koleksi karya penting tentang Australia yang tertulis dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, buku ini menunjukkan manfaat mempelajari negara dan budaya lain, terutama pemahaman atas sistem politik yang berbeda dan eksplorasi terhadap masyarakat yang berbeda, kerja-kerja internal, kekhawatiran-kekhawatiran serta aspirasi-aspirasi mereka. Buku ini menunjukkan hasil penelitian tentang bagaimana kebijakan luar negeri Australia secara umum tumbuh dari kekhawatiran dan kepercayaan . tau perseps. Australia, dan bagaimana ia kemudian terbentuk dan berkembang lebih jauh. Buku ini juga menilai apakah sikap-sikap yang ditunjukkan itu adalah cukup realistis. Reeve menambahkan bahwa salah satu kenikmatan luar biasa saat membaca buku ini adalah tersedianya penjelasan cermat dan sistematis konteks sosial di mana asumsi-asumsi dasar yang mendasari kebijakan luar negeri Australia terbentuk . ix-x, dan xi. Saat ini hubungan Indonesia-Australia sangat dekat. Sejumlah program digagas di bawah platform AuKemitraan Pembangunan Dengan IndonesiaAy. Beberapa bidang tersebut antara lain Page 289 of 291 Sarkawi B. Husain Hubungan Indonesia-Australia Tata Laksana Ekonomi. Infrastruktur. Air. Sanitasi dan Kebersihan. Dengan bekerja sama dengan sejumlah isntitusi Pemerintah Republik Indonesia, pemerintah Australia membantu untuk memperomosikan pertumbuhan ekonomi yang kuat, sustain serta dapat dinikmati oleh semua pihak. Kepakaran dan pengalaman yang dimiliki oleh Australia dipergunakan untuk menyukseskan penyusunan keputusan untuk mendukung sejumlah agenda reformasi di Indonesia. Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian (Prosper. menyediakan advis bagi pemerintah Republik Indonesia dalam memperbaiki aspek belanja, meningkatkan pendapatan, menata sektor finansial, serta meningkatkan efisiensi pasar. Selain itu. Australia juga memberikan dukungan pada Indonesia untuk melakukan percepatan dalam investasi publik dan swasta untuk pembangunan infrastruktur yang urgen melalui penyediaan tenaga ahli teknis untuk bidang perencanaan, perancangan, pemeliharaan, serta evaluasi dampak terhadap lingkungan. Hal tersebut bertujuan agar memudahkan dalam penyelesaian proyek infrastruktur serta melakukan perbaikan dan keberlanjutan untuk program jangka panjang. Sementara itu, dalam bidang Air. Sanitasi serta Kebersihan. Australia memberikan bantuan pada Indonesia untuk meraih target dalam menyediakan air bersih dan sanitasi bagi masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan mendorong pemerintah daerah untuk melakukan investasi dalam bidang penyediaan infrastruktur air dan sanitasi. Hibah Air dan Sanitasi menyiapkan anggaran bagi pemerintah daerah untuk membantu investasi dalam membangun infrastruktur air dan sanitasi lewat penyambungan saluran dan pipa Program tersebut sekarang diperluas secara nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia, dengan menggunakan anggaran dari Indonesia sendiri. Sebaliknya, pemerintah Australia mendukung pelaksanaan program PAMSIMAS di Indonesia, guna melakukan perbaikan pada air dan sanitasi dan juga sejumlah praktik kebersihan di kawasan perdesaan serta pinggiran perkotaan (Lihat https://indonesia. au/jaktindonesian/cooperation. Memiliki dan membaca buku ini sangat penting secara akademis. Penulis berhasil menunjukkan kepada kita bagaimana pasang-surut hubungan antara Australia dan Indonesia. Sebuah hubungan yang memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Relasi historis ini menjadi modal yang sangat kuat dan penting untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Kurang lebih dua dawarsa lagi atau tepatnya di tahun 2050, hubungan Indonesia-Australia memasuki usia satu abad. Menurut Presiden Joko Widodo, tahun 2050 adalah sebuah momen yang sangat krusial, karena pada tahun tersebut negara Indonesia dan Australia akan melakukan transformasi menjadi aktor besar di wilayah Asia Pasifik dan dunia. Oleh karena itu, kehadiran buku ini di tengah upaya perkembangan dunia yang semakin tidak bisa hidup menyendiri patut diapresiasi. Buku ini tidak hanya penting bagi studi hubungan internasional, tetapi juga bagi pembelajar sejarah dan tentu pemerintah pusat. Buku ini menjadi inspirasi bagaimana membangun hubungan yang lebih baik dengan lainnya. Daftar Rujukan Adil. Hubungan Australia dengan Indonesia 1945-1962. Jakarta: Djambatan. Page 290 of 291 Sarkawi B. Husain Hubungan Indonesia-Australia Junaidi. Hubungan Indonesia Australia Pada Masa Presiden Megawati Soekarnoputri . Risalah, 5. https://journal. id/index. php/risalah/article/view/12432. Keduataan Besar Australia Indonesia. Kemitraan pembangunan dengan Indonesia. https://indonesia. au/jaktindonesian/cooperation. Khusyairi. Indonesia di Mata Australia: Pemikiran dan Kebijakan Gough Whitlam. Yogyakarta: Elmatera-Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga. Page 291 of 291