ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 UJI KOMPARASI LIKUIDITAS. PROFITABILITAS DAN SOLVABILITAS SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI: STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2012-2013 Maleakhi Fernandes Universitas Multimedia Nusantara fernandes@gmail. Patricia Diana Universitas Multimedia Nusantara patricia@umn. Diterima 2 Mei 2019 Disetujui 30 Juni 2019 Abstract-This research aims to examine the difference of liquidity, profitability and solvability of company in Indonesia Stock Exchange at timeline 2012-2013 except financial sector before and after acquisition. Liquidity is measured using Current Ratio, profitability is measured using Return on Asset Ratio. Return on Equity Ratio and Net Profit Margin Ratio, and solvability is measured using Debt to Total Asset Ratio and Debt to Total Equity Ratio. This research uses various companiesAo data which listed in Indonesia Stock Exchange except financial sector and done acquisition in period 2012-2013. Samples of the research are taken by purposive sampling method. Samples that comply with the research criteria are five Test for normality using Kolmogorov Smirnov method and test for hypothesis use Paired Sample t-test method if data normally distributed and Wilcoxon Signed Rank test if data not normally distributed. Result from test indicated thereAos no significant difference for liquidity that measured by Current Ratio, profitability that measured by Return on Asset Ratio. Return on Equity Ratio and Net Profit Margin Ratio, solvability that measured by Debt to Total Asset Ratio and Debt to Total Equity Ratio. Keywords: Acquisition, current ratio, debt to total asset ratio, debt to total equity ratio, liquidity, net profit margin ratio, profitability, return on asset ratio, return on equity ratio, solvability Pendahuluan 1 Latar Belakang Definisi perusahaan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan tiap jenis usaha yang memiliki sifat tetap dan terus menerus serta berkedudukan, didirikan dan bekerja dalam wilayah Negara Republik Indonesia dengan tujuan memperoleh keuntungan. Jumlah perusahaan di Indonesia mengalami pertumbuhan. Berdasarkan skala usahanya, terdapat 26,26 juta usaha . ,33%) berskala Usaha Mikro Kecil (UMK) dan 450. 000 perusahaan . ,67%) berskala Usaha Menengah Besar (UMB) . Meskipun jumlah perusahaan UMB lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah perusahaan UMK, namun perusahaan berskala UMB berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia. Menurut pengamat pajak yang berasal dari Danny Darussalam Tax Center. Darussalam, menyatakan bahwa struktur penerimaan pajak Indonesia didominasi | 32 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 penerimaan pajak dari PPh badan dan PPN, bukan PPh pribadi . Kontribusi wajib pajak pribadi yang kecil dapat terlihat dari Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pajak tahun 2016, yang mencatat penerimaan pajak PPh Pasal 25/29 WP Orang Pribadi hanya sebesar Rp5. 275,17 miliar, namun penerimaan pajak PPh Pasal 25/29 WP Badan mencapai Rp 172. 011,62 miliar . Jumlah perusahaan berskala menengah dan besar mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari hasil Sensus Ekonomi 2016. Berikut grafik jumlah perusahaan berskala menengah dan besar pada Sensus Ekonomi 2006 dan Sensus Ekonomi 2016. Jumlah perusahaan berskala menengah dan besar pada Sensus Ekonomi 2006 adalah 166. 400 perusahan dan pada Sensus Ekonomi 2016, jumlah ini mengalami peningkatan menjadi 450. 000 perusahaan. Maka, jumlah perusahaan berskala menengah dan besar mengalami peningkatan sebesar 170% sepanjang tahun 2006 hingga 2016. Peningkatan jumlah perusahaan dapat membuat persaingan bisnis semakin kompetitif. Agar dapat bertahan dalam menghadapi persaingan yang kompetitif, perusahaan perlu membuat strategi bisnis secara internal dan eksternal. Strategi internal dapat dilakukan dengan pengembangan jenis produk, menambah jumlah produksi, penambahan variasi produk, iklan dan promosi produk serta penambahan bidang usaha. Strategi eksternal dapat dilakukan melalui perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga atau penggabungan usaha (Lim dan Wiyoto, 2. Kegiatan penggabungan usaha di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dapat terlihat dari laporan pemberitahuan penggabungan usaha yang terdapat pada situs web resmi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tahun 2010-2017 yang tergambar dari grafik berikut: Gambar 1 Gambar 1. Jumlah Perusahaan yang Melakukan Penggabungan Usaha Periode 2010-2017 Strategi eksternal perusahaan berupa penggabungan usaha dapat terbagi menjadi tiga, yaitu merger, konsolidasi dan akuisisi. Jenis penggabungan usaha yang lebih banyak dilakukan perusahaan di Indonesia adalah akuisisi. Hal ini juga dapat terlihat dari laporan pemberitahuan penggabungan usaha KPPU. Selama 2017, akuisisi menjadi mayoritas penggabungan usaha yang dilakukan oleh perusahaan selain merger dan konsolidasi. Definisi akuisisi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 1 butir 11 adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan hukum untuk mengambil alih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut. Menurut Moin . dalam Irawanto dan Yuniati . , dalam riwayat penggabungan usaha, akuisisi merupakan jalur cepat untuk mengakses pasar baru atau produk baru tanpa harus membangun dari nol. | 33 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Menurut Hariyani et al. , dengan melakukan akuisisi, perusahaan akan memperoleh berbagai keuntungan antara lain memperoleh sistem operasional dan administratif yang mapan, karyawan dan infrastruktur yang lengkap, serta meningkatkan peluang terjadinya penambahan konsumen. Kegiatan perusahaan yang didukung oleh sistem operasional yang memadai serta memiliki kecukupan jumlah pelanggan dapat mendorong peningkatan laba. Suatu perusahaan yang mengakuisisi perusahaan lain memiliki peluang untuk mengalami peningkatan laba sebanding dengan persentase kepemilikannya. Untuk menilai dan mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan sebelum dan setelah melakukan akuisisi dapat dilakukan dengan membandingkan laporan keuangannya. Rasio keuangan dapat membantu untuk memprediksi tren dalam industri yang mampu membantu manajemen dalam membuat keputusan bisnis yang tepat, sehingga meningkatkan kegiatan sebuah bisnis. Kinerja keuangan yang diukur menggunakan rasio keuangan dapat mencerminkan penilaian atas keberhasilan akuisisi yang telah dilakukan. Menurut Kieso, et al. , rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang telah jatuh tempo. Rasio likuiditas yang digunakan adalah Current Ratio. Current Ratio berguna untuk mengevaluasi kemampuan aset lancar suatu perusahaan untuk memenuhi liabilitas lancar. Semakin tinggi Current Ratio, mengindikasikan perusahaan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki perusahaan. Penelitian Irawanto dan Yuniati . menyatakan bahwa terdapat perbedaan Current Ratio pada perusahaan sebelum dan sesudah aktivitas akuisisi. Namun hasil yang bertentangan terdapat dalam penelitian Kurniawati dan Wahyuati . , yang menyatakan likuiditas yang diukur dengan Current Ratio tidak mengalami perbedaan apabila dibandingkan dengan sebelum dilakukannya akuisisi. Selain peningkatan likuiditas, perusahaan berharap agar profitabilitas juga meningkat. Profitabilitas perusahaan dapat diukur menggunakan rasio-rasio profitabilitas seperti Return on Asset Ratio. Return on Equity Ratio dan Net Profit Margin Ratio. Menurut Kieso, et al. , rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur pendapatan perusahaan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Return on Asset Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Semakin tinggi Return on Asset Ratio perusahaan, maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan aset perusahaan juga semakin tinggi. Selain Return on Asset Ratio, profitabilitas perusahaan juga dapat diukur dengan menggunakan Return on Equity Ratio. Return on Equity Ratio digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian yang dihasilkan dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan (Gitman dan Zutter, 2. Semakin tinggi Return on Equity Ratio, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba menggunakan ekuitas yang dimiliki perusahaan Selain Return on Asset Ratio dan Return on Equity Ratio, profitabilitas perusahaan juga dapat diukur menggunakan Net Profit Margin Ratio. Net Profit Margin Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba bersih. Rasio ini mengukur | 34 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 seberapa besar laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan dari penjualan. Semakin tinggi Net Profit Margin Ratio, maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setelah pajak dari penjualan semakin tinggi. Dengan adanya perbedaan Return on Asset ratio. Return on Equity Ratio dan Net Profit Margin Ratio setelah melakukan akuisisi, maka profitabilitas perusahaan sebelum dan sesudah akuisisi dapat mengalami perbedaan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Okalesa et al. yang menunjukkan kinerja profitabilitas perusahaan yang diukur menggunakan Return on Asset Ratio mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah Namun dalam penelitian Lim dan Wiyoto . , terdapat perbedaan pada Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, tetapi tidak terdapat perbedaan pada Return on Asset Ratio. Penelitian Novaliza dan Djajanti . juga menunjukkan kinerja profitabilitas yang diukur menggunakan Return on Equity Ratio serta Net Profit Margin Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Selain penilaian profitabilitas, aspek penting lain yang diperhatikan adalah solvabilitas. Oleh karena itu, rasio-rasio solvabilitas seperti Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Total Equity Ratio diperbandingkan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Menurut Kieso, et al. , rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dapat beroperasi dalam jangka waktu yang panjang. Debt to Total Asset Ratio digunakan untuk mengukur persentase total aset perusahaan yang diperoleh dari pendanaan berupa utang. Semakin rendah nilai Debt to Total Asset Ratio, maka semakin kecil proporsi aset perusahaan yang pendanaannya berasal dari utang kreditur. Selain Debt to Total Asset Ratio, solvabilitas perusahaan juga dapat diukur dengan menggunakan Debt to Total Equity Ratio. Debt to Total Equity Ratio digunakan untuk mengukur proporsi tingkat kewajiban terhadap total ekuitas yang dimiliki perusahaan (Gitman dan Zutter, 2. Semakin rendah nilai Debt to Total Equity Ratio mengartikan proporsi kewajiban perusahaan semakin kecil apabila dibandingkan dengan ekuitas perusahaan Dengan adanya perbedaan Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Total Equity Ratio setelah melakukan akuisisi, maka solvabilitas perusahaan sebelum dan sesudah akuisisi dapat mengalami perbedaan. Hal ini didukung oleh penelitian Naziah et al. yang menunjukkan bahwa Debt to Total Asset Ratio mengalami perbedaan setelah perusahaan melakukan aktivitas akuisisi. Namun hasil yang bertentangan terdapat dalam penelitian Novaliza dan Djajanti . yang menyatakan bahwa Debt to Total Asset Ratio serta Debt to Total Equity Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan setelah akuisisi. 2 Batasan Masalah Variabel pengukuran dalam penelitian menggunakan rasio likuiditas yang diukur menggunakan Current Ratio, profitabilitas yang diukur dengan Return on Asset Ratio. Return on Equity Ratio dan Net Profit Margin Ratio dan solvabilitas yang diukur dengan Debt to Total Asset Ratio serta Debt to Total Equity Ratio. Objek penelitian adalah semua perusahaan selain sektor keuangan yang melakukan akuisisi pada periode tahun 2012-2013 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode pengamatan selama tiga tahun berturut-turut sebelum dan sesudah peristiwa akuisisi. | 35 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, perumusan masalah dalam penelitian ini Apakah terdapat perbedaan pada rasio likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? Apakah terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? Apakah terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? Apakah terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? Apakah terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? Apakah terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi? 4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai perbedaan pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi: Likuiditas perusahaan yang diproksikan dengan Current Ratio. Profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio. Profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio. Profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio. Solvabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio. Solvabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio. II. Tinjauan Literatur dan Hipotesis Akuisisi Menurut Hariyani et al. , akuisisi dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah acquisition atau take over yang memaksudkan sebuah perusahaan mengambil alih kontrol modal atas perusahaan lain. Proses pengambilalihan kontrol dilakukan dengan membeli mayoritas saham perusahaan sehingga menjadi pemegang saham pengendali. Perusahaan yang mengambil alih maupun perusahaan yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah. Akuisisi dapat dibedakan dalam tiga kelompok besar yaitu akuisisi horizontal, akuisisi vertical, dan akuisisi konglomerat. Sedangkan berdasarkan objek yang diambil alih, akuisisi terbagi menjadi menjadi empat kelompok sebagai berikut akuisisi terhadap saham perusahaan, akuisisi aset perusahaan, akuisisi kombinasi dan akuisisi secara bertahap (Hariyani et al. , 2. Kinerja Keuangan Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat terlihat dari perbandingan berbagai rasio keuangan dengan menggunakan data akuntansi (Gunawan dan Sukartha, 2. Menurut Subramanyam . , analisis rasio mampu mengungkapkan hubungan penting serta menjadi dasar perbandingan dalam menemukan tren dan kondisi keuangan perusahaan. Terdapat beberapa rasio yang digunakan untuk menilai laporan keuangan. Dalam penelitian ini, rasio keuangan yang digunakan yaitu: | 36 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Rasio likuiditas Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan dana yang mudah untuk dicairkan . dalam waktu yang singkat serta dapat memenuhi kewajiban jangka pendek (Heykal dan Wijayanti, 2. Semakin tinggi Current Ratio, mengindikasikan perusahaan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki perusahaan. Pada penelitian Irawanto dan Yuniati . , terdapat perbedaan Current Ratio pada perusahaan sebelum dan sesudah aktivitas akuisisi. Berdasarkan penjelasan tentang likuiditas perusahaan yang diproksikan dengan Current Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, maka dirumuskan hipotesis berikut: Ha1: Terdapat perbedaan pada rasio likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Rasio profitabilitas Rasio profitabilitas bertujuan untuk mengukur tingkat kesuksesan perusahaan dalam menjalankan operasional bisnisnya dalam suatu periode (Kieso et al. , 2. Kemampuan tersebut diukur melalui beberapa perhitungan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: Return on Asset Ratio (ROA) Return on Asset Ratio adalah rasio yang mengukur efektifitas manajemen perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki (Gitman dan Zutter, 2. Semakin tinggi Return on Asset Ratio perusahaan, maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan aset perusahaan juga semakin tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Okalesa et al. menunjukkan kinerja profitabilitas perusahaan yang diukur menggunakan Return on Asset Ratio mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Berdasarkan penjelasan tentang profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, maka dirumuskan hipotesis Ha2 : Terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Return on Equity Ratio (ROE) Return on Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian yang dihasilkan dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan (Gitman dan Zutter, 2. Semakin tinggi Return on Equity Ratio, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba menggunakan ekuitas yang dimiliki perusahaan tersebut. Dalam penelitian Lim dan Wiyoto . , terdapat perbedaan pada Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Berdasarkan penjelasan tentang profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio | 37 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 pada periode sebelum hipotesis berikut: Ha3 : Terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Net Profit Margin Ratio (NPM) Net Profit Margin Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih yang berasal dari penjualan (Kieso et al. , 2. Menurut Berk et al. Net Profit Margin Ratio mengukur hubungan laba bersih dengan penjualan perusahaan. Semakin tinggi Net Profit Margin Ratio, maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setelah pajak dari penjualan semakin tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati dan Wahyuati . menunjukkan kinerja profitabilitas perusahaan yang diukur menggunakan Net Profit Margin Ratio mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Berdasarkan penjelasan tentang profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, maka dirumuskan hipotesis berikut: Ha4 : Terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Rasio solvabilitas Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya sehingga perusahaan dapat beroperasional untuk periode yang lama (Kieso et al. , 2. Kemampuan tersebut diukur melalui beberapa perhitungan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: Debt to Total Asset Ratio (DTA) Debt to Total Asset Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur proporsi total aktiva perusahaan yang dibiayai oleh utang dari kreditur (Gitman dan Zutter, 2. Menurut Kieso et al. Debt to Total Asset Ratio bertujuan untuk mengukur persentase aset perusahaan yang didanai dari utang yang diberikan kreditur. Semakin rendah nilai Debt to Total Asset Ratio, maka semakin kecil proporsi aset perusahaan yang pendanaannya berasal dari utang Penelitian Naziah et al. menunjukkan bahwa Debt to Total Asset Ratio mengalami perubahan setelah perusahaan melakukan aktivitas Berdasarkan penjelasan tentang solvabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, maka dirumuskan hipotesis berikut: Ha5 : Terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. | 38 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Debt to Total Equity Ratio (DTE) Debt to Total Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk menilai proporsi utang dengan ekuitas yang digunakan untuk mendanai aset perusahaan (Gitman dan Zutter, 2. Semakin rendah nilai Debt to Total Equity Ratio mengartikan proporsi kewajiban perusahaan semakin kecil apabila dibandingkan dengan ekuitas perusahaan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati dan Wahyuati . menunjukkan kinerja solvabilitas perbankan yang diukur menggunakan Debt to Total Equity Ratio mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Berdasarkan penjelasan tentang solvabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi, maka dirumuskan hipotesis Ha6 : Terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Model Penelitian Likuiditas: Current Ratio (CR) Sebelum Akuisisi Profitabilitas: Return on Assets (ROA) Return on Equity (ROE) Solvabilitas: NetDebt Profit to Margin Total (NPM) Assets (DTA) Debt to Total Equity (DTE) i. Metode Penelitian Sesudah Akuisisi i. Metode Penelitian 1 Gambaran Umum Objek Penelitian Penelitian ini akan meneliti tentang perbedaan likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio (CR), profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio (ROA). Return on Equity Ratio (ROE) dan Net Profit Margin Ratio (NPM) serta solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio (DTA) dan Debt to Total Equity Ratio (DTE) sebelum dan sesudah peristiwa akuisisi saham yang merubah kepemilikan sebuah perusahaan. Objek penelitian yang digunakan adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selain sektor keuangan serta melakukan akuisisi pada periode 2012-2013. 2 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah comparative study, yaitu suatu penelitian yang bersifat membandingkan suatu variabel dalam dua kondisi yang berbeda dari sebuah peristiwa (Sekaran dan Bougie, 2. | 39 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 3 Variabel Penelitian 1 Likuiditas Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan dana yang liquid sehingga dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang akan jatuh tempo (Hery, 2. Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian yakni Current Ratio (CR). Current Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki perusahaan (Kieso et al. , 2. Kieso et al. menyatakan bahwa Current Ratio dihitung dengan rumus: 2 Profitabilitas Rasio profitabilitas mengukur tingkat kesuksesan atau kegagalan dari sebuah perusahaan atau divisi selama periode waktu tertentu (Kieso et al. , 2. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yakni: Return on Asset Ratio (ROA) Return on Asset Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi aset dalam menghasilkan laba bagi perusahaan (Hery, 2. Kieso et al. menyatakan bahwa Return on Asset Ratio dihitung dengan rumus: Return on Equity Ratio (ROE Menurut Hery . Return on Equity Ratio merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar jumlah laba yang dihasilkan dari ekuitas perusahaan. Subramanyam . menyatakan bahwa Return on Equity Ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Net Profit Margin Ratio (NPM) Net Profit Margin Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih yang berasal dari penjualan (Kieso et al. , 2. Subramanyam . menyatakan bahwa Net Profit Margin Ratio dihitung dengan rumus: Solvabilitas Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan beroperasi dalam jangka waktu yang lama (Kieso et al. , 2. Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Debt to Total Assets Ratio (DTA) Debt to Total Asset Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur proporsi total aktiva perusahaan yang dibiayai oleh utang dari kreditur (Gitman dan Zutter, 2. Kieso et al. menyatakan bahwa Debt to Total Asset Ratio dihitung dengan rumus: | 40 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Debt to Total Equity Ratio (DTE) Menurut Hery . Debt to Total Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total ekuitas. Subramanyam . menyatakan bahwa Debt to Total Equity Ratio dapat dihitung dengan rumus: 4 Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Data sekunder berupa data perusahaan yang melakukan akuisisi dapat diperoleh dari w. id serta laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selain sektor keuangan yang melakukan akuisisi pada periode 2012-2013 dapat diperoleh dari 5 Teknik Pengambilan Sampel Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut: Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut selama periode 2012-2013 selain sektor keuangan. Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia selain sektor keuangan yang melakukan akuisisi sebanyak satu kali pada periode 2012-2013, serta tidak melakukan akuisisi pada tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudahnya. Perusahaan yang menggunakan mata uang Rupiah dalam pelaporan keuangannya. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan dengan periode 1 Januari-31 Desember. Perusahaan yang memiliki laporan keuangan lengkap selama tiga tahun berturut-turut sebelum dan tiga tahun berturut-turut sesudah melakukan akuisisi. 6 Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis statistik dengan program SPSS 23. 1 Uji Statistik Deskriptif Uji statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi variabel yang dilihat dari nilai rata-rata . , standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, dan range (Ghozali, 2. 2 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu atau residual dalam model penelitian memiliki distribusi normal (Ghozali, 2. Salah satu cara untuk mendeteksi normalitas data yaitu dengan uji stastistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov. Dengan menggunakan uji stastistik Kolmogorov-Smirnov, normalitas data dapat dideteksi berdasarkan besarnya probabilitas signifikansi. Apabila nilai probabilitas signifikansi berada di atas = 0,05, hal ini mengartikan model penelitian terdistribusi normal. Apabila nilai probabilitas signifikansi berada di bawah = 0,05, hal ini mengartikan model penelitian tidak terdistribusi normal. | 41 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 3 Uji Hipotesis Paired Samples T-Test Pengujian hipotesis dengan menggunakan paired samples t-test bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan dalam suatu kelompok yang sama pada periode sebelum dan sesudah sebuah perlakuan . tertentu (Sekaran dan Bougie, 2. Dalam penelitian ini, paired samples t-test digunakan untuk menganalisa kinerja keuangan perusahaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Pengambilan keputusan dalam uji hipotesis yaitu apabila probabilitas < 0,05, maka Ha diterima, namun apabila probabilitas > 0,05, maka Ha ditolak. Wilcoxon Signed Rank Test Apabila data tidak terdistribusi dengan normal, pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan uji non parametrik wilcoxon signed rank, yang merupakan alternatif pengganti untuk uji t data berpasangan . aired samples t-tes. (Santoso, 2. Dalam penelitian ini, wilcoxon signed rank test digunakan untuk menganalisa kinerja keuangan perusahaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi pada data yang tidak terdistribusi secara normal. Pengambilan keputusan dalam wilcoxon signed rank test yaitu apabila probabilitas < 0,05, maka Ha diterima, namun apabila probabilitas > 0,05, maka Ha ditolak. IV. Hasil dan Pembahasan 1 Objek Penelitian Berikut merupakan tabel rincian proses pengambilan sampel yang digunakan dalam Tabel 1. Rincian Pengambilan Sampel Penelitian Jumlah Keterangan Perusahaan Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia secara berturutturut selama periode 2012-2013 selain sektor keuangan Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indoensia selain sektor keuangan yang melakukan akuisisi sebanyak satu kali pada periode 2012-2013, serta tidak melakukan akuisisi pada 3 tahun sebelum dan Perusahaan yang menggunakan mata uang Rupiah dalam pelaporan Perusahaan menerbitkan laporan keuangan dengan periode 1 Januari Ae 31 Desember Perusahaan yang memiliki laporan keuangan lengkap selama tiga tahun berturut-turut sebelum dan sesudah melakukan akuisisi Perusahaan yang dapat digunakan sebagai sample | 42 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 2 Analisis Data 1 Statistik Deskriptif Tabel 2. Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics CR_SBLM CR_SSDH ROA_SBLM ROA_SSDH ROE_SBLM ROE_SSDH NPM_SBLM NPM_SSDH DTA_SBLM DTA_SSDH DTE_SBLM DTE_SSDH Valid N . Minimum ,9288 ,8699 ,0712 ,0259 ,1440 ,0325 ,0486 ,0266 ,3243 ,2051 ,4879 ,2604 Maximum 2,0527 2,7254 ,1864 ,1592 ,2834 ,2715 ,3429 ,2705 ,5031 ,6337 1,2228 1,7321 Mean 1,373758 1,524008 ,131475 ,072990 ,244190 ,132468 ,173343 ,123312 ,431805 ,397655 ,837778 ,782967 Std. Deviation ,4478184 ,7071705 ,0449932 ,0518209 ,0566217 ,0943929 ,1175376 ,1205195 ,0711929 ,1637542 ,2868230 ,5748198 Nilai rata-rata dari CR sebelum melakukan akuisisi sebesar 1,373758 atau 137,38% dan sesudah melakukan akuisisi sebesar 1,524008 atau 152,40%. Nilai rata-rata ROA sebelum akuisisi sebesar 0,131475 atau 13,15% dan sesudah melakukan akuisisi sebesar 0,072990 atau 7,30% dengan standar deviasi sebesar 0,0518209 atau 5,18%. Nilai rata-rata ROE sebelum akuisisi sebesar 0,244190 atau 24,42% dan sesudah melakukan akuisisi sebesar 0,132468 atau 13,25%. Nilai rata-rata NPM sebelum akuisisi sebesar 0,173343 atau 17,33% dan sesudah melakukan akuisisi, sebesar 0,123312 atau 12,33% dengan standar deviasi sebesar 0,1205195 atau 12,05%. Nilai rata-rata DTA sebelum melakukan akuisisi sebesar 0,431805 atau 43,18% dan sesudah melakukan akuisisi 0,397655 atau 39,77%. Nilai rata-rata DTE sebelum akuisisi memiliki nilai rata-rata sebesar 0,837778 atau 83,78% dan sesudah melakukan akuisisi sebesar 0,782967 atau 78,30%. 2 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Masing-Masing Variabel Penelitian 1 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Current Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Current Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test CR_SBLM Normal Parameters Most Extreme Differences Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative 1,373758 ,4478184 ,207 ,207 -,160 ,207 ,200 CR_SSDH 1,524008 ,7071705 ,351 ,351 -,177 ,351 ,043 Tabel 3 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Current Ratio sesudah akuisisi (CR_SSDH) tidak terdistribusi normal. Nilai probabilitas signifikansi untuk Current Ratio sesudah akuisisi adalah sebesar 0,043. Kelompok data penelitian ini tidak terdistribusi dengan normal yang ditandai dengan nilai probabilitas siginifikansi yang lebih rendah dari 0,05. | 43 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Variabel Current Ratio sesudah akuisisi tidak terdistribusi secara normal dengan histogram mendekati bentuk moderate positive skewness. Oleh karena itu, bentuk transformasi yang dilakukan untuk kelompok data Current Ratio sesudah akuisisi adalah SQRT. Setelah melakukan transformasi data, maka dilakukan kembali pengujian normalitas. Berikut hasil uji normalitas atas kelompok data Current Ratio sesudah akuisisi yang telah ditransformasi yang telah terdistribusi normal (SQRTCR_SSDH): Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Current Ratio Setelah Transformasi Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test SQRTCR_SSDH 1,211189 ,2669961 ,321 ,321 -,150 ,321 ,102 Normal Parameters Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Tabel 5. Hasil Uji Statistik Current Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Correlations Pair 1 CR_SBLM & SQRTCR_SSDH Correlation ,965 Sig. ,008 Tabel 5 menunjukkan nilai korelasi dari Current Ratio sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi adalah sebesar 0,965 dengan tingkat signifikansi 0,008 atau berada di bawah 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan korelasi antara Current Ratio sebelum dan sesudah akuisisi adalah kuat. Sedangkan hasil dari paired sample t-test adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Paired Sample Current Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 CR_SBLM SQRTCR_SSDH 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,1625696 ,2027611 ,0906775 -,0891915 ,4143308 1,793 Sig. ,147 Pada Tabel 6 ditunjukkan bahwa nilai t sebesar 1,793 dengan tingkat signifikansi 0,147 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Hasil penelitian selaras dengan penelitian Kurniawati dan Wahyuati . , yang menyatakan likuiditas perusahaan yang diukur dengan Current Ratio tidak mengalami perbedaan apabila dibandingkan dengan sebelum dilakukannya akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan setelah perusahaan melakukan akuisisi, aset lancar perusahaan mengalami peningkatan yang | 44 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 didominasi oleh peningkatan jumlah piutang usaha serta persediaan. Hal ini dibuktikan dengan proporsi peningkatan piutang usaha dan persediaan terhadap selisih peningkatan ratarata aset lancar dari keseluruhan sampel adalah sebesar 52%. Aset lancar berupa piutang usaha dan persediaan membutuhkan waktu agar dapat diubah menjadi kas sehingga tidak secara langsung dapat digunakan untuk pelunasan kewajiban jangka pendek. Sebagai contoh, setelah melakukan akuisisi, peningkatan piutang usaha dan persediaan PT Astra Otoparts Tbk merupakan 74% dari total keseluruhan peningkatan aset lancar perusahaan pasca akuisisi. Hal yang sama juga dialami PT Indosprings Tbk. Setelah perusahaan melakukan akuisisi, peningkatan piutang usaha dan persediaan PT Indospring Tbk merupakan 53% dari total keseluruhan peningkatan aset lancar perusahaan pasca akuisisi. Selain itu, hanya 40% perusahaan yang digunakan sebagai sampel penelitian yang melakukan akuisisi vertikal dengan tujuan efisiensi. Hal ini menyebabkan hasil penelitian belum dapat mencerminkan efek dari efisiensi terhadap peningkatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya. Oleh karena itu. Current Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. 2 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Return on Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Return on Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 7 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Return on Asset Ratio sebelum (ROA_SBLM) dan sesudah akuisisi (ROA_SSDH) telah terdistribusi normal karena memiliki nilai probabilitas signifikansi yang lebih tinggi dari 0,05. Nilai probabilitas signifikansi untuk Return on Asset Ratio sebelum dan sesudah akuisisi masing-masing memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,200. Berikut hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan paired sample t-test: Tabel 8. Hasil Uji Statistik Return on Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Correlations Pair 1 ROA_SBLM & ROA_SSDH Correlation ,290 Sig. ,636 Tabel 8 menunjukkan nilai korelasi dari Return on Asset Ratio sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi adalah sebesar 0,290 dengan tingkat signifikansi 0,636 atau berada di atas 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan korelasi antara Return on Asset Ratio sebelum dan sesudah akuisisi adalah tidak kuat. | 45 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 9. Hasil Uji Paired Sample Return on Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Pair ROA_SBLM ROA_SSDH Mean Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Deviation Mean Lower Upper ,0584845 ,0579382 ,0259108 -,0134553 ,1304243 2,257 Sig. ,087 Pada Tabel 9 ditunjukkan bahwa nilai t sebesar 2,257 dengan tingkat signifikansi 0,087 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha2 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan Hasil penelitian selaras dengan penelitian Lim dan Wiyoto . , yang menyatakan bahwa tidak terdapat perubahan pada Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan 60% perusahaan dalam sampel penelitian mengalami penurunan laba pasca Setelah perusahaan melakukan akuisisi, aset perusahaan dapat mengalami Peningkatan aset mampu mendorong peningkatan penjualan perusahaan yang dapat menghasilkan laba. Namun dalam sampel penelitian, laba perusahaan mengalami penurunan yang disebabkan beberapa faktor, seperti kenaikan beban usaha pasca akuisisi. Oleh karena itu, meskipun akuisisi mampu menambah aset dan penjualan perusahaan, namun peningkatan beban usaha atau beban keuangan pada semua sampel perusahaan dapat membuat laba yang dihasilkan setelah akuisisi mengalami penurunan. Peningkatan beban umum pasca akuisisi sebagian besar berasal dari peningkatan beban gaji staf penjualan dan administrasi yaitu sebesar 13% dari total peningkatan rata-rata beban umum dan penjualan seluruh sampel yang digunakan dalam penelitian. Sebagai contoh, rata-rata selisih laba bruto PT Astra Otoparts Tbk setelah melakukan akuisisi adalah sebesar Rp 66. Namun, rata-rata peningkatan beban umum dan penjualan perusahaan pasca akuisisi adalah sebesar Rp 122. Rata-rata peningkatan beban umum ini berasal dari peningkatan jumlah beban gaji karyawan penjualan PT Astra Otoparts Tbk merupakan 43% dari rata-rata selisih laba bruto. Hal yang sama juga terjadi pada PT Indospring Tbk. Rata-rata selisih laba bruto PT Indospring Tbk setelah melakukan akuisisi mengalami kerugian sebesar Rp 23. Kerugian rata-rata selisih laba bruto PT Indospring Tbk juga diikuti dengan rata-rata peningkatan beban gaji direksi dan staf perusahaan pasca akuisisi sebesar Rp 6. Oleh karena itu. Return on Asset Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. | 46 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 3 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Return on Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Return on Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences ROE_SBLM ROE_SSDH ,244190 ,0566217 ,431 ,244 -,431 ,431 ,003 ,132468 ,0943929 ,183 ,183 -,145 ,183 ,200 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Tabel 10 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Return on Equity Ratio sebelum akuisisi (ROE_SBLM) tidak terdistribusi normal. Nilai probabilitas signifikansi untuk Return on Equity Ratio sebelum akuisisi adalah sebesar 0,003. Kelompok data penelitian ini tidak terdistribusi dengan normal dikarenakan nilai probabilitas siginifikansi yang lebih rendah dari 0,05. Return on Equity Ratio sebelum akuisisi tidak berdistribusi normal dengan grafik histogram mendekati bentuk moderate negative skewness. Sehingga dilakukan transformasi data menggunakan SQRT. Berikut hasil uji normalitas sesudah transformasi data: Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Return on Equity Ratio Setelah Transformasi Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences SQRTROE_SBLM ,329512 ,0753738 ,418 ,418 -,222 ,418 ,005 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Tabel 11 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi dari Return on Equity Ratio sebelum akuisisi yang telah dilakukan transformasi belum mempunyai distribusi normal karena memiliki nilai probabilitas signifikansi yang lebih rendah dari 0,05. Nilai probabilitas signifikansi untuk Return on Equity Ratio sebelum akuisisi yang telah ditransformasi adalah sebesar 0,005. Oleh karena itu, dilakukan pengujian hipotesis Return on Equity Ratio menggunakan wilcoxon signed rank test. Berikut hasil uji peringkat wilcoxon: Tabel 12. Hasil Uji Peringkat Wilcoxon Signed Rank Return on Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Ranks ROE_SSDH - ROE_SBLM Negative Ranks Positive Ranks Ties Total ROE_SSDH < ROE_SBLM ROE_SSDH > ROE_SBLM ROE_SSDH = ROE_SBLM | 47 | Vol. No. 1 | Juni 2019 Mean Rank 3,25 2,00 Sum of Ranks 13,00 2,00 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan Tabel 12, terdapat 4 pasang data yang memiliki peringkat negatif, dikarenakan data Return on Equity Ratio sesudah akuisisi lebih kecil apabila dibandingkan dengan data Return on Equity Ratio sebelum akuisisi, dengan nilai rata-rata peringkat sebesar 3,25 dan nilai total peringkat sebesar 13,00. Selain itu, terdapat sepasang data yang memiliki peringkat positif, dikarenakan data Return on Equity Ratio sesudah akuisisi lebih besar apabila dibandingkan dengan data Return on Equity Ratio sebelum akuisisi, dengan nilai rata-rata peringkat sebesar 2,00 dan nilai total peringkat sebesar 2,00. Tidak terdapat data Return on Equity Ratio sesudah akuisisi yang memiliki nilai yang sama apabila dibandingkan dengan data Return on Equity Ratio sebelum akuisisi. Sedangkan hasil dari Wilcoxon Signed Rank Test adalah sebagai berikut: Tabel 13. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Return on Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Test Statistics Asymp. Sig. -taile. ROE_SSDH ROE_SBLM -1,483 ,138 Pada Tabel 13 ditunjukkan bahwa nilai z sebesar -1,483 dengan tingkat signifikansi 0,138 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha3 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan Hasil penelitian selaras dengan penelitian Kurniawati dan Wahyuati . yang menunjukkan kinerja profitabilitas yang diukur menggunakan Return on Equity Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah akuisisi dikarenakan 60% perusahaan dalam sampel penelitian mengalami penurunan laba setelah melakukan akuisisi sehingga jumlah laba yang dapat menambah saldo laba sebagai modal perusahaan menurun. Setelah perusahaan melakukan akuisisi, aset perusahaan mengalami peningkatan. Peningkatan aset mampu mendorong peningkatan penjualan perusahaan yang dapat menghasilkan laba. Namun dalam sampel penelitian, laba perusahaan mengalami penurunan yang disebabkan beberapa faktor, seperti kenaikan beban usaha pasca akuisisi. Oleh karena itu, meskipun akuisisi mampu menambah ekuitas dan penjualan perusahaan, namun peningkatan beban usaha pada semua sampel perusahaan dapat membuat laba yang dihasilkan setelah akuisisi mengalami penurunan. Peningkatan beban umum pasca akuisisi sebagian besar berasal dari peningkatan beban gaji staf penjualan dan administrasi yaitu sebesar 13% dari total peningkatan rata-rata beban umum dan penjualan seluruh sampel yang digunakan dalam penelitian. Sebagai contoh, rata-rata selisih laba bruto PT Tunas Ridean Tbk setelah akuisisi mengalami kerugian sebesar Rp 31. Namun, rata-rata peningkatan beban umum dan penjualan pasca akuisisi sebesar Rp 44. Selain itu, rata-rata peningkatan beban gaji perusahaan adalah sebesar Rp 39. Hal yang sama juga terjadi pada PT Indospring Tbk. Rata-rata selisih laba bruto PT Indospring Tbk setelah melakukan akuisisi mengalami kerugian sebesar Rp 23. Kerugian rata-rata selisih laba bruto PT Indospring Tbk juga diikuti dengan rata-rata peningkatan beban gaji direksi dan staf | 48 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 perusahaan pasca akuisisi sebesar Rp 6. Oleh karena itu. Return on Equity Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. 4 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Net Profit Margin Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 14. Hasil Uji Normalitas Net Profit Margin Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences NPM_SBLM NPM_SSDH ,173343 ,1175376 ,173 ,173 -,144 ,173 ,200 ,123312 ,1205195 ,335 ,335 -,230 ,335 ,069 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Tabel 14 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Net Profit Margin Ratio sebelum (NPM_SBLM) dan sesudah akuisisi (NPM_SSDH) telah terdistribusi normal karena memiliki nilai probabilitas signifikansi yang lebih tinggi dari 0,05. Nilai probabilitas signifikansi untuk Net Profit Margin Ratio sebelum akuisisi memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,200 dan untuk Net Profit Margin Ratio sesudah akuisisi memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,069. Berikut hasil pengujian hipotesis dengan paired sample t-test: Tabel 15. Hasil Uji Statistik Net Profit Margin Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Correlations Pair 1 NPM_SBLM & NPM_SSDH Correlation ,922 Sig. ,026 Tabel 15 menunjukkan nilai korelasi dari Net Profit Margin Ratio sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi adalah sebesar 0,922 dengan tingkat signifikansi 0,026 atau berada di bawah 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan korelasi antara Net Profit Margin Ratio sebelum dan sesudah akuisisi adalah kuat. Tabel 16. Hasil Uji Paired Sample Net Profit Margin Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 NPM_SBLM NPM_SSDH 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,0500311 ,0470343 ,0210344 -,0083697 ,1084319 2,379 Sig. ,076 Pada Tabel 16 ditunjukkan bahwa nilai t sebesar 2,379 dengan tingkat signifikansi 0,076 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha4 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan Hasil penelitian selaras dengan penelitian Novaliza dan Djajanti . yang | 49 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 menunjukkan kinerja profitabilitas yang diukur menggunakan Net Profit Margin Ratio tidak mengalami perubahan pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Net Profit Margin Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan 60% perusahaan dalam sampel penelitian mengalami penurunan laba sesudah periode akuisisi. Setelah perusahaan melakukan akuisisi, aset perusahaan dapat mengalami Peningkatan aset mampu mendorong peningkatan penjualan perusahaan yang dapat menghasilkan laba. Namun dalam sampel penelitian, laba perusahaan mengalami penurunan yang disebabkan beberapa faktor, seperti kenaikan beban usaha pasca akuisisi yang didominasi oleh peningkatan beban gaji. Peningkatan beban gaji sebesar 13% dari total peningkatan rata-rata beban usaha seluruh sampel dalam penelitian. Oleh karena itu, meskipun akuisisi mampu meningkatkan penjualan perusahaan, namun laba yang dihasilkan setelah akuisisi mengalami penurunan. Sebagai contoh, rata-rata selisih laba bruto PT Tunas Ridean Tbk setelah akuisisi mengalami kerugian sebesar Rp 31. Namun, rata-rata peningkatan beban umum dan penjualan pasca akuisisi sebesar Rp Selain itu, rata-rata peningkatan beban gaji perusahaan adalah sebesar Rp Hal yang sama juga terjadi pada PT Astra Otoparts Tbk. Rata-rata selisih laba bruto PT Astra Otoparts Tbk setelah melakukan akuisisi adalah sebesar Rp Namun, rata-rata peningkatan beban umum dan penjualan perusahaan pasca akuisisi adalah sebesar Rp 122. Rata-rata peningkatan beban gaji karyawan penjualan PT Astra Otoparts Tbk merupakan 43% dari rata-rata selisih laba bruto. Oleh karena itu. Net Profit Margin Ratio tidak mengalami perbedaan setelah perusahaan melakukan akuisisi. 5 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Debt to Total Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 17. Hasil Uji Normalitas Debt to Total Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences DTA_SBLM DTA_SSDH ,431805 ,0711929 ,208 ,158 -,208 ,208 ,200 ,397655 ,1637542 ,184 ,184 -,141 ,184 ,200 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Tabel 17 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Debt to Total Asset Ratio sebelum (DTA_SBLM) dan sesudah akuisisi (DTA_SSDH) telah terdistribusi normal karena memiliki nilai probabilitas signifikansi yang lebih tinggi dari 0,05. Nilai probabilitas signifikansi untuk Debt to Total Asset Ratio sebelum dan sesudah akuisisi masing-masing memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,200. Berikut hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan paired sample t-test: | 50 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 18. Hasil Uji Statistik Debt to Total Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Correlations Pair 1 DTA_SBLM & DTA_SSDH Correlation ,363 Sig. ,549 Tabel 18 menunjukkan nilai korelasi dari Debt to Total Asset Ratio sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi adalah sebesar 0,363 dengan tingkat signifikansi 0,549 atau berada di atas 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan korelasi antara Debt to Total Asset Ratio sebelum dan sesudah akuisisi adalah tidak kuat. Tabel 19. Hasil Uji Paired Sample Debt to Total Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Test Pair 1 DTA_SBLM DTA_SSDH Mean Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Deviation Mean Lower Upper ,0341496 ,1530721 ,499 ,0684559 -,1559146 ,2242137 Sig. ,644 Pada Tabel 19 ditunjukkan bahwa nilai t sebesar 0,499 dengan tingkat signifikansi 0,644 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha5 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Hasil penelitian selaras dengan penelitian Novaliza dan Djajanti . yang menunjukkan bahwa Debt to Total Asset Ratio tidak mengalami perubahan setelah perusahaan melakukan aktivitas akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan 60% perusahaan dalam sampel penelitian melakukan pelunasan liabilitas jangka pendek dengan menggunakan dana yang diperoleh dari liabilitas jangka panjang, sehingga terjadi restrukturisasi utang. Dari 60% perusahaan yang menjadi sampel penelitian, rata-rata pinjaman bank jangka pendek dan utang usaha mengalami penurunan sebesar 6%, sedangkan rata-rata pinjaman bank jangka panjang mengalami peningkatan sebesar 1. Oleh karena itu, meskipun aset perusahaan bertambah setelah akuisisi, namun dalam sampel yang digunakan, peningkatan aset juga diikuti oleh peningkatan liabilitas perusahaan. Sebagai contoh, pada liabilitas PT Astra Otoparts Tbk tahun 2015, pinjaman jangka pendek mengalami penurunan sebesar Rp 123. 000 dari tahun 2014. Namun penurunan pinjaman jangka pendek diikuti dengan peningkatan pinjaman jangka panjang sebesar Rp 000 dan peningkatan uang muka pelanggan dari pihak ketiga sebesar Rp 000 jika dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada PT Alam Sutera Realty Tbk. Pada tahun 2015, utang usaha dari pihak berelasi mengalami penurunan sebesar Rp 14. 000 apabila dibandingkan dengan tahun 2014. Namun penurunan utang obligasi diikuti dengan peningkatan utang bank jangka panjang sebesar Rp 842. 000 dari satu tahun sebelumnya. | 51 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Sebagai hasilnya. Debt to Total Asset Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Asset Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan perusahaan melakukan pelunasan liabilitas menggunakan dana yang diperoleh dari liabilitas lainnya sehingga jumlah penurunan liabilitas diikuti oleh peningkatan jumlah liabilitas lainnya. Sebagai contoh, pada liabilitas PT Astra Otoparts Tbk tahun 2015, pinjaman jangka pendek mengalami penurunan sebesar Rp 123. Namun penurunan pinjaman jangka pendek diikuti dengan peningkatan pinjaman jangka panjang sebesar Rp 60. Sebagai hasilnya. Debt to Total Asset Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. 5 Uji Normalitas dan Uji Hipotesis Debt to Total Asset Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Tabel 20. Hasil Uji Normalitas Debt to Total Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. DTE_SBLM DTE_SSDH ,837778 ,2868230 ,227 ,227 -,139 ,227 ,200 ,782967 ,5748198 ,284 ,284 -,182 ,284 ,200 Tabel 20 menunjukkan nilai probabilitas signifikansi untuk Debt to Total Equity Ratio sebelum (DTE_SBLM) dan sesudah akuisisi (DTE_SSDH) telah terdistribusi normal karena memiliki nilai probabilitas signifikansi yang lebih tinggi dari 0,05. Nilai probabilitas signifikansi untuk Debt to Total Equity Ratio sebelum dan sesudah akuisisi masing-masing memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,200. Berikut hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan paired sample t-test: Tabel 21. Hasil Uji Statistik Debt to Total Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Correlations Pair 1 DTE_SBLM & DTE_SSDH Correlation ,170 Sig. ,784 Tabel 21 menunjukkan nilai korelasi dari Debt to Total Equity Ratio sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi adalah sebesar 0,170 dengan tingkat signifikansi 0,784 atau berada di atas 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan korelasi antara Debt to Total Equity Ratio sebelum dan sesudah akuisisi adalah tidak kuat. | 52 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 22. Hasil Uji Paired Sample Debt to Total Equity Ratio Sebelum dan Sesudah Akuisisi Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 DTE_SBLM DTE_SSDH 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,0548115 ,5971106 ,2670360 -,6865992 ,7962222 ,205 Sig. ,847 Pada Tabel 22 ditunjukkan bahwa nilai t sebesar 0,205 dengan tingkat signifikansi 0,847 atau lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha6 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Hasil penelitian selaras dengan penelitian Novaliza dan Djajanti . yang menunjukkan kinerja solvabilitas perusahaan yang diukur menggunakan Debt to Total Equity Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi. Perusahaan tidak mengalami perbedaan pada rasio solvabilitas yang diproksikan dengan Debt to Total Equity Ratio pada periode sebelum dan sesudah perusahaan melakukan akuisisi dikarenakan 60% perusahaan dalam sampel penelitian melakukan pelunasan liabilitas jangka pendek dengan menggunakan dana yang diperoleh dari liabilitas jangka panjang, sehingga terjadi restrukturisasi utang. Dari 60% perusahaan yang menjadi sampel penelitian, rata-rata pinjaman bank jangka pendek dan utang usaha mengalami penurunan sebesar 6%, sedangkan rata-rata pinjaman bank jangka panjang mengalami peningkatan sebesar 1. Setelah perusahaan melakukan akuisisi, aset perusahaan dapat mengalami peningkatan. Peningkatan aset mampu mendorong peningkatan penjualan perusahaan yang dapat menghasilkan laba. Laba yang dihasilkan perusahaan ditambahkan pada saldo laba . etained earning. yang merupakan bagian dari ekuitas perusahaan. Namun dalam sampel penelitian, peningkatan ekuitas juga diikuti oleh peningkatan liabilitas perusahaan. Sebagai contoh, utang bank jangka pendek PT Telekomunikasi Indonesia (Perser. Tbk tahun 2015 mengalami penurunan sebesar Rp 1. 000 dari tahun 2014. Namun penurunan liabilitas ini diikuti peningkatan utang obligasi sebesar Rp 7. 000 dari satu tahun sebelumnya. Utang obligasi juga dapat digunakan untuk membiayai belanja modal perusahaan. Hal yang sama juga terjadi pada PT Tunas Ridean Tbk. Pada tahun 2015, uang muka konsumen perusahaan mengalami penurunan sebesar Rp 22. 000 dari tahun 2014. Namun penurunan uang muka konsumen diikuti dengan peningkatan pinjaman jangka panjang perusahaan yang telah dikurangi bagian jangka pendek sebesar Rp 48. dari satu tahun sebelumnya. Sebagai hasilnya. Debt to Total Equity Ratio tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Simpulan. Keterbatasan, dan Saran 1 Simpulan Simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Ha1 ditolak, yang berarti Current Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. | 53 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Ha2 ditolak, yang berarti Return on Asset Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Ha3 ditolak, yang berarti Return on Equity Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Ha4 ditolak, yang berarti Net Profit Margin Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Ha5 ditolak, yang berarti Debt to Total Asset Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. Ha6 ditolak, yang berarti Debt to Total Equity Ratio perusahaan tidak mengalami perbedaan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi. 2 Keterbatasan Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu minimnya jumlah sampel perusahaan yang digunakan dalam periode penelitian, sehingga kurang mampu menggeneralisasi dampak dari keseluruhan aktivitas akuisisi yang telah dilakukan. 3 Saran Berdasarkan simpulan yang telah diperoleh dan berbagai keterbatasan yang ada, maka saran yang ditujukan untuk peneliti selanjutnya terkait dengan penelitian perbedaan likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas pada periode sebelum dan sesudah akuisisi yaitu memperpanjang periode penelitian. VI. Referensi