Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 1 (December 2. 34 - 59 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Pemikiran Filsafat John Calvin Tentang Manusia dan Relevansinya Hingga di Era Pandemi. John Christianto Simon Sekolah Tinggi INTIM Makassar, tajaksebakal@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. John Christianto Simon. AuPemikiran Filsafat John Calvin Tentang Manusia dan Relevansinya Hingga di Era Pandemi,Ay Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 2, no. 1 (December 03, 2. : 1, accessed December 08, 2021, https://ejurnal. id/index. php/juteolog/article/view/37. American Psychological Association 7th edition (Simon, 2021, p. Received: 08 August 2021 Accepted: 07 October 2021 Published: 03 December 2021 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact juniorichson1995@gmail. John Christianto Simon Abstract This paper departs from the problems encountered in the context of human suffering due to the Covid-19 pandemic regarding the ideal social human figure that is relevant at this time. This paper intends to explain the philosophical thoughts of a church reformer. John Calvin. The research method used in this paper is descriptive-interpretative in order to construct the thoughts of a character by looking at the relationships in the context of his life. The main question is how did Calvin's philosophical ideas emerge and are contextualized today? The method of discussion is first to explain Calvin and the context of his life, secondly Calvin's philosophy about humans, thirdly Calvin's philosophy and its actualization in church and state . ublic educatio. , fourth. Calvin's philosophy and its actualization in the context of the covid-19 pandemic and lastly some conclusions. The result of this research is that Calvin builds his philosophical thinking from the philosophical thoughts of the Stoics and Augustines. His philosophy of man carries the idea of liberation for a life that is free from oppression and works only for the glory of God. This philosophy about humans was then passed down in thoughts related to church and state, as well as social human construction during this pandemic. Keywords: Philosophy. John Calvin. Church. Human. Pandemic. Abstrak Tulisan ini berangkat dari masalah yang dijumpai dalam konteks penderitaan manusia karena pandemi Covid-19 terkait sosok manusia sosial yang ideal yang relevan di masa ini. Tulisan ini bermaksud menjelaskan pemikiran filsafat seorang reformator gereja. John Calvin. Metode penelitian yang dipakai dalam tulisan ini adalah deskriptif-interpretatif dalam rangka mengonstruksi pemikiran seorang tokoh dengan melihat relasi-relasi di dalam konteks hidupnya. Pertanyaan utama adalah bagaimana gagasan filsafat Calvin muncul dan dikontekstualisasi di hari ini? Metode pembahasan adalah pertama menjelaskan Calvin dan konteks hidupnya, kedua filsafat Calvin tentang manusia, ketiga filsafat Calvin dan aktualisasinya dalam gereja dan negara . endidikan masyaraka. , keempat filsafat Calvin dan aktualisasinya dalam konteks pandemi covid-19 dan terakhir beberapa kesimpulan. Hasil penelitiannya bahwa Calvin membangun pemikiran filsafatnya dari sumber pemikiran filsafat Stoa dan Augustinus. Filsafatnya tentang manusia mengusung gagasan pembebasan bagi hidup yang merdeka dari penindasan dan bekerja hanya untuk kemuliaan Tuhan. Filsafat tentang manusia ini kemudian diturunkannya dalam pemikiran terkait gereja dan negara, serta konstruksi manusia sosial di masa pandemi ini. Kata kunci: Filsafat. John Calvin. Gereja. Manusia. Pandemi. PENDAHULUAN Usaha menggali pemikiran filsafat John Calvin bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini mengingat bahwa Calvin sendiri sering dianggap bukan seorang filsuf, ia lebih dikenal sebagai seorang yang mendalami bidang hukum dan kemudian teologi, atau keduanya di studi secara bersama-sama. Namun, barangkali konteks hidup Calvin di tengah alam berpikir humanisme abad pertengahan dapat menjadi titik masuk kita untuk menemukan pengaruhpengaruh yang melahirkan pikiran-pikiran Calvin tentang filsafat, sehubungan dengan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon humanisme itu sendiri merupakan sebuah corak pemikiran filsafat (McGrath 1997: 42-. Secara filosofis, humanisme mengusung slogan ad fontes, yaitu kembali kepada sumbersumber asli melalui program intelektual menuju lahirnya kembali peradaban yang makin Di negerinya Prancis. Calvin adalah termasuk tokoh yang pertama sekali terpengaruh dengan gerakan humanisme. Humanisme Calvin yang paling jelas terlihat adalah dalam usahanya mempelajari teks-teks Alkitab dengan mengaitkannya dengan konteks Filsafat sendiri adalah ilmu tentang kebijaksanaan dalam laku mencintai hikmat atau kebijaksanaan dan kebenaran (Magnis-Suseno 1992: 17-. Dengan menyandang istilah philosophos, dari philosophia, seorang filsuf adalah seorang yang mencintai hikmat atau kebenaran, sekaligus menghindar dari menyebut diri sophos artinya seorang yang berhikmat atau seorang yang benar pada dirinya. Seorang filsuf sejati tidak pernah menyebut dirinya orang bijak atau orang benar, tetapi seorang yang mencari hikmat atau kebenaran. Berfilsafat berarti mempertanyakan dasar dan asal-usul dari segala-galanya, berarti mencari orientasi dasar bagi kehidupan manusia berhadapan dengan alam di satu sisi dan masyarakatnya di sisi Secara sederhana filsafat membantu manusia, juga orang yang beragama, dalam menghadapi masalah-masalah baru. Di sini filsafat, dalam hal ini etika, dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa sehingga manusia, orang beragama, dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitas. Dalam konteks percakapan ini, tokoh Calvin misalnya berfilsafat dengan mengajukan pertanyaan tentang dasar keselamatan manusia. Ia menemukan jawabannya bukan seperti jawaban umum dari gereja di abad pertengahan, yakni karena perbuatan, tetapi dengan kembali kepada sumber iman, yaitu Injil, sehingga Calvin meyakini bahwa manusia selamat karena anugerah Allah. Bagi Calvin, anugerah mendahului tindakan manusia. Anugerah juga mendahului ritual kudus dalam praktik gereja melayankan baptisan dan perjamuan kudus. sini kedudukan perbuatan manusia adalah sebagai respon atas keselamatan yang sudah dianugerahkan kepadanya. Respon manusia adalah dengan menjadi manusia sosial dalam perilaku keadilan bagi sesama dan ciptaan lainnya. Jika reformator lain seperti Martin Luther menegaskan penting pembenaran . dalam rangka keselamatan manusia, maka Calvin menyertakan tambahan bahwa setelah dibenarkan manusia dipanggil ke dalam pengudusan . hidup dalam tindakan adil, solider dan penuh belarasa di tengahtengah dunia ini yang merupakan panggung kemuliaan Allah . heatrium gloriae De. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Apakah teologi Calvin dan praktek bergerejanya pada abad 16 masih relevan dengan konteks masa kini? Dapatkah Calvin memberikan pegangan kepada situasi masa kini yang sedang mengalami goncangan karena pandemi covid-19? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar dikemukakan karena konteks kita di masa kini sangat jauh berbeda dengan masa Calvin. Jawaban atas pertanyaan ini tak jarang demikian ekstrim hingga penolakan. Ebenhaizer Nuban Timo misalnya menyebut ajaran Calvin tentang predestinasi rangkap bukan saja tidak relevan, tetapi juga menyesatkan (Nuban Timo 2005: 151-. Menurut Calvin pemilihan Allah . ecrutum absolutu. berlangsung mendahului anugerah . ratiam praecedit electio. Maksudnya bahwa keputusan Allah yang final itu mendahului Yesus Kristus dan ditetapkan di luar kasih Allah di dalam Yesus Kristus. Hal ini jelas bertentangan dengan anugerah yang mendahului semuanya. Pandangan Nuban Timo ini sebetulnya berangkat dari kesalahpahaman yang akarnya berada pada Calvinisme Ortodoks yang memberi tafsiran sangat ekstrim pada ajaran-ajaran yang disangkakan berasal dari Calvin. Seperti dijelaskan pada alinea sebelumnya. Calvin sendiri sangat menekankan anugerah sebagai Aupenemuan kembaliAy . jantung Injil. Ajaran predestinasi absolut bukan berasal dari Calvin. Sama seperti kesalahan banyak orang yang menyangka Aukerusakan total manusiaAy . uman depravit. berasal dari Calvin, padahal ajaran itu berasal dari Calvinisme Ortodoks yang telah mengekstrimkan ajaran Calvin (Pattipeilohy 2017: . Calvin sendiri mengatakan bahwa rasio adalah anugerah Allah yang tidak rusak total ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Rasio yang tidak rusak total ini memberi titik sambung bagi pengembangan ajaran spiritualitas kerahiman yang khas ajaran Calvin. Tokoh lain yang mengambil posisi menolak relevansi Calvin adalah John A. Titaley. Titaley menilai bahwa karena konteks Calvin berbeda dengan konteks Indonesia, maka ajarannya tidak relevan dengan konteks Indonesia (Batlajery 2018: 60-. Oleh karena itu menurutnya, tidak penting apakah seseorang atau sebuah gereja menjadi Calvinis. Yang penting adalah perbuatannya. Perbuatan-perbuatan kemanusiaan itulah yang menentukan gereja sebagai gereja. Pembicaraan tentang Calvin dan Calvinisme tidak relevan dengan situasi Indonesia karena seandainya Calvin hidup dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, di mana penganut Islam adalah mayoritas, maka pasti ia akan menulis lain. tidak mungkin menerapkan AuGenevan magistrateAy yang khas masyarakat monokultural di konteks Indonesia yang multikultural. Mengambil jalan berbeda dengan Calvin, tugas gereja hari ini adalah menemukan sarana berteologi khas Indonesia yang multikultural seperti Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Pancasila, kata Titaley (Titaley 2. , sehingga lahir teologi Kristen kontekstual tentang masyarakat Pancasila. Teolog lain seperti Agustinus Batlajery, menolong melihat sisi lain dari Calvin, yang sejalan dengan tulisan ini berupa semangat humanisme yang diusung oleh Calvin (Batlajery Batlajery 2. Dengan mengangkat sisi humanisme Calvin. Batlajery hendak mencari jalan keluar dari polemik yang klasik dalam sejarah Calvinisme bahwa tokoh ini adalah seorang intoleran yang dalam rangka kedisiplinan hidup bersikap keras pada setiap pelanggaran aturan bahkan tak jarang membenarkan sikap kekerasan sebagai sarana menyelesaikan masalah. Sisi humanisme Calvin hendak ditonjolkan untuk mencari perspektif sosial bagi karya-karya di bidang kemanusiaan berdasar pada pemikiran Calvin. Sisi humanisme ini pula yang membawa pemikiran Calvin relevan bagi situasi kontemporer di Indonesia saat ini yang berhadapan dengan isu ketidakadilan, pelanggaran HAM, dan isu-isu sosial lainnya. Konteks hari ini yang tidak disinggung oleh Batlajery adalah konteks pandemi akibat covid-19 yang menjadi bagian dari apa yang baru dalam tulisan penulis. Terakhir dapat disebut di sini pendapat Jeane Tulung dan Yornan Masinamboue dalam tulisan mereka berjudul Pemikiran Teologis Edukatif Yohanes Calvin dan Relevansinya (Tulung & Masinamboue 2. Mereka berargumen bahwa pemikiran Calvin mempunyai dimensi edukatif tentang bagaimana warga gereja dibina dalam kedisiplinan iman dan moralitas yang baik. Antara iman dan panggilan hidup sehari-hari saling mengandaikan dan Tulisan ini jelas mempunyai relevansi pada konsepsi tentang manusia sebagai makhluk pembelajar. Salah satu wahana belajar adalah melalui pengalaman konkret, berupa tantangan dan pergumulan hidup yang harus dihadapi dengan iman yang teguh. Seorang warga gereja yang tekun belajar tentang iman, akan dapat mengatasi tantangan hidup yang Hal yang belum disentuh oleh tulisan ini adalah konteks pergumulan manusia hari ini yang menghadapi tantangan pandemi covid-19 dan membutuhkan konsepsi manusia sosial berdasar pada pemikiran Calvin. Calvin dan pemikirannya mempunyai relevansinya di masa kini antara lain dengan menggunakan cara membaca filsafat hermeneutik (Simon 2019: 159-. Cara baca filsafat hermeneutik di sini mengusung pendekatan kritis namun apresiatif. Di satu sisi. Calvin hidup dengan zamannya sendiri yang khas atau unik dan memberi jawaban kontekstual terhadap problematika zamannya. Di sisi lain. Calvin dan pemikirannya tidak relevan jika kita menerimanya dan memindahkan begitu saja secara tidak kritis. sekaligus memanggil pada Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon usaha-usaha menemukan jawaban baru dengan mentransformasi pemikiran Calvin untuk konteks Indonesia yang majemuk. Dengan perspektif hermeneutik sebagai upaya menemukan makna dari sisi pembaca . alam hal ini penuli. (Simon 2020: 64-. Calvin dan pemikirannya tentang manusia pun relevan hingga ke situasi kita di masa pandemi ini. METODE PENELITIAN Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah deskriptif-interpretatif dalam rangka mengonstruksi pemikiran seorang tokoh dengan melihat relasi-relasi di dalam konteks hidupnya (Riyanto 2020: 35. Creswell 2003. Banawiratma dan Muller 1. Metode ini juga dapat disebut metode hermeneutik yang tujuannya mencari pengertian atas apa yang diajukan sebagai pertanyaan utama dalam penelitian (Riyanto 2020: 118-. Pertanyaan utama adalah bagaimana gagasan filsafat John Calvin muncul, nilai keutamaannya dan kontekstualisasinya tentang manusia sosial di masa pandemi ini? Secara metodik (Riyanto 2020: 118-. , urutan pembahasan adalah pertama eksplanasi, yakni menjelaskan Calvin dan konteks hidupnya, serta konstruksi filsafat Calvin tentang manusia, kemudian menginterpretasi untuk mendapat pengertian tentang filsafat Calvin dan aktualisasinya dalam gereja dan negara . endidikan masyaraka. , selanjutnya apropriasi, yakni memasukkan filsafat Calvin tentang manusia ke dalam aktualisasi dalam konteks pandemi, dan terakhir beberapa kesimpulan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Calvin membangun pemikiran filsafatnya dari sumber pemikiran filsafat Stoa dan Augustinus. Filsafatnya tentang manusia mengusung gagasan pembebasan bagi hidup yang merdeka dari penindasan, bekerja hanya untuk kemuliaan Tuhan dan berlaku sosial ke atas penderitaan Filsafat tentang manusia ini kemudian diturunkannya dalam pemikiran terkait gereja dan negara, dan konsep manusia sosial di masa pandemi covid-19. HASIL DAN PEMBAHASAN John Calvin. Konteks Hidup dan Interpretasinya Sebagaimana disebut oleh beberapa penulis seperti W. Balke (Balke1 2014: 10-. Th. Van den End (End 2014: . dan Stella Pattipeilohy (Pattipeilohy2 2017: 147-165. Pattipeilohy1 2017: 127-. , latar belakang pemikiran John Calvin adalah humanisme abad Humanisme sendiri sangat erat irisannya dengan pemikiran filsafati tentang manusia dengan upaya kembali menggali hikmat dari sejarah masa lalu berupa artefak kebudayaan kuno, filsafat Yunani-Romawi, termasuk buku-buku yang dianggap sakral oleh Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon komunitas agama seperti Taurat dan Alkitab, serta merayakan pencapaian berupa nilai-nilai luhurnya sebagai kerinduan untuk kehidupan yang lebih baik (Vandermay 2009: 1-. Keutamaan humanisme adalah menumbuhkan sikap respek dan hormat pada potensi manusia untuk berpikir dinamis dan bertindak yang baik bagi konstruksi peradaban manusia. John Calvin (Jean Cauvi. lahir di Noyon. Perancis Utara, 10 Juli 1509. Latar belakang keluarganya tergolong ke dalam kalangan keluarga borjuis . yang mapan serta berpendidikan tinggi. Semula oleh orang tuanya ia diarahkan menjadi seorang imam Katolik dengan mendapat beneficies . cclesiastical benefice atau the Chaplaincy of La Gesin. , semacam beasiswa gereja, untuk pendidikan calon pejabat gereja atau calon imam (Cottret 2000: 9. Soleiman 2017: 218. Rachmadi 2017: . Ia mengalami pendidikan imam selama lima tahun . , pendidikan hukum selama tiga tahun . , dan pendidikan bahasa dan budaya dalam semangat renaisan dan humanisme selama tiga tahun . Di masa studi sebagai calon imam ini ia berkenalan dengan dunia teologi. Pendidikan imam adalah masa-masa ia mengenyam pendidikan humaniora . rts, dengan gelar Master of Art. , yaitu studi mendalam yang sarat dengan detail dan analisis terhadap gagasan-gagasan filsafat. Rencana menjadi imam ini kemudian batal karena perselisihan antara orang tua Calvin dengan pihak keuskupan Noyon akibat simpatik keluarga Calvin pada gerakan Reformasi Dari maksud studi teologi, ia kemudian bergeser mengambil keahlian di bidang Selain hilangnya kesempatan mendapat beasiswa gereja, pergeseran fokus studi tersebut lagi-lagi bersifat humanis, karena bidang hukum lebih menjanjikan keuntungan finansial ketimbang teologi. Latar belakangnya sebagai seorang sarjana yang kompleks di bidang teologi, sastra dan hukum ini kelak sangat berperan menghantarnya menelusuri rimba raya pandangan-pandangan humanisme dengan kembali ke sumber-sumber kebijaksanaan Yunani dan Romawi yang tersimpan di dalam pemikiran filsafatnya (Aritonang 2009: . Sebagai tugas akhir studi humaniora dengan gelar M. , ia menulis karya De Clementia, yaitu sebuah penafsiran atas pemikiran filsuf Romawi bernama Seneca. Terkait dengan latar belakang humanisme ini. Balke mencatat munculnya enam . interpretasi terhadap tokoh John Calvin ini hingga terbangunnya pemikiran-pemikiran teologisnya (Balke1 2014: 8-. Pertama, interpretasi klasik. Menurut interpretasi ini, pemikiran Calvin merupakan pengungkapan firman Allah. Sebagai teolog sejati. Calvin melakukan pembacaan ulang secara kritis pandangan yang sudah baku di masanya, yang juga dianutnya sebagai seorang reformator, dan menemukan gagasan-gagasan baru antara lain anugerah mendahului tindakan. Kedua, interpretasi konvensional. Aliran ini memandang 40 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Calvin dengan kacamata Pengakuan Iman Westminster dan Katekismus Heidelberg, dua risalah teologis yang sering dikaitkan dengannya. Dalam interpretasi ini. Alkitab dan predestinasi menjadi pusat perhatian. Calvin dianggap bertanggung jawab atas munculnya ajaran Auring-fence theologyAy . eologi cincin-berpembata. yang menempatkan Alkitab sebagai ukuran tertutup menilai yang lain, dan predestinasi absolut sebagai cara menghakimi yang lain sebagai tidak selamat. Ketiga, interpretasi neo-ortodoks. Titik tolak interpretasi ini adalah ajaran neo-ortodoks mengenai predestinasi dan mengenai perjanjian anugerah. Aliran ini, yang dihubungkan dengan nama Karl Barth, banyak mempelajari Calvin. Interpretasi ini, selain mengembangkan teologi umat terpilih yang tertutup, juga menemukan bahwa Calvin adalah seorang yang berjiwa ekumenis sejati. Teologi tentang manusia sosial yang dipanggil keluar kepada dunia milik Allah menjadi dasar bagi pengembangan teologi ekumenis berjiwa Calvinis. Keempat, interpretasi neo-Calvinis. Neo-Calvinisme, yang dihubungkan dengan nama Abraham Kuyper dan Herman Bavinck, menggarisbawahi kedaulatan Allah atas semua bidang kehidupan. Kata kunci dalam teologi ini adalah Auanugerah umumAy . emene gratie, common grac. , yaitu anugerah Allah yang bukan menyelamatkan, melainkan yang melindungi umat manusia dari akibat-akibat dosa yang terparah dan memungkinkan kehidupan berjalan dengan baik dan diliputi sejahtera, serta perkembangan kesenian dan ilmu pengetahuan menolong manusia menemukan terobosan-terobosan baru. Anugerah umum, menurut Kuyper, adalah tindakan persiapan yang menyangkut umat manusia dalam keseluruhannya, dan yang harus memungkinkan pertobatan dan kelahiran kembali manusia perseorangan agar diselamatkan. Interpretasi model ini dikritik oleh A. van Ruler yang mengatakan bahwa anaugerah umum itu bertujuan untuk pengudusan ciptaan, dan bukan sekadar perluasan ajaran tentang Autitik sambungAy seperti di tangan Kuyper. Kelima, interpretasi dari pihak musuh ortodoksi. Interpretasi ini berada di pihak yang memusuhi Calvin. Nama Calvin dijelekkan, baik oleh penganut liberalisme teologis abad ke-19 maupun oleh para apologet Katolik pada masa pra-Vatikanum II. Interpretasi ini bertolak dari beberapa unsur dalam kehidupan Calvin, baik yang historis maupun yang bersifat mitos. Calvin dijuluki musuh kebudayaan, membenci penelitian dan ilmu pengetahuan. ia disebut pembunuh Servetus dan pemimpin lalim yang di kota Jenewa menjalankan represi ketat dengan bantuan polisi yang mengawasi tingkah laku setiap warga. Keenam, interpretasi Aliran ini memahami pribadi dan pemikiran Calvin dengan bertolak dari masanya sendiri, yaitu masa akhir abad pertengahan, dan renaisan. Buktinya, dalam bagian pertama hidupnya. Calvin menganut aliran humanisme dan menulis tafsiran mengenai karangan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Seneca . ilsuf dan negarawan humanis Romaw. De Clementia. Studi atas Seneca ini menampilkan wajah humanisme Calvin yang kelak memengaruhi dalam perhatiannya terhadap pendidikan, usaha-usahanya untuk menemukan bentuk pemerintahan yang terbaik, dan pandangannya yang luas di bidang ekumene sebagai dunia yang didiami. Mendudukan Ulang Kontroversi Calvin Sebelum kita membahas pemikiran filsafat Calvin perlu dijelaskan di sini kontroversi yang menyulitkan penerimaan atas Calvin dan pemikirannya. Pembunuhan Servetus dianggap skandal yang kontroversial dalam sejarah Reformasi yang hal itu disematkan pada Calvin. Calvin dianggap turut bertanggung jawab atas perintah eksekusi mati terhadap Servetus. Tuduhan ini kemudian memberi dampak pada terbangunnya stigma negatif bahwa Calvin dituduh tokoh intoleran dan penganjur kekerasan karena statusnya sebagai ahli hukum yang legalistik tanpa sisi humanis atau spiritualis. Gerrit Singgih misalnya menyebut secara jelas bahwa Calvin adalah seorang tokoh Secara jelas. Singgih menyebut intoleransi Calvin terutama skandal Michael Servetus yang dibakar hidup-hidup atas persetujuan Calvin tahun 1553 (Singgih 2000: 52-56. Hartono 1997: . Singgih memperlihatkan intoleransi doktrin-doktrin Calvin yang berwarna despotisme dan intoleransi dalam praktinya saat memimpin jemaat di Jenewa. Doktrinnya tentang kekudusan . seyogianya diwujudkan di dalam hidup yang konkret sehari-hari dan semangat teokrasi . emerintahan Alla. yang dilaksanakan oleh Calvin menambahkan gagasan besar Luther bahwa manusia memang dibenarkan . , tetapi tidak cukup. Calvin menambahkan bahwa manusia harus menjaga . an dijag. agar pembenaran ini tidak disia-siakannya melalui hidup kudus. Di Jenewa. Calvin mendapat kesempatan untuk menerapkan disiplin keras dan sanksi atas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh warga masyarakat yang sekaligus warga gereja. Mabuk-mabukan mendapat sanksi yang lebih berat. Perzinahan lebih dari sekali diganjar hukuman mati. Pelacur-pelacur yang berani masuk kota langsung ditangkap dan ditenggelamkan di sungai Rhone. Main kartu dilarang. Begitu pula permainan sulap dilarang. Seseorang yang masuk ibadah sesudah kotbah dimulai mendapat denda. Apabila seseorang ketika mendengar lenguhan seekor keledai, bergurau dan berkata: AuIl chante un beau psaumeAy . e sings a beautiful psalm, ia sedang menyanyi sebuah mazmur yang inda. , maka ia harus dikucilkan untuk sementara waktu dari kota Jenewa. Daya keras Calvin ini dilakukannya dengan melibatkan negara (Dewan Kot. sebagai otoritas yang menegakkan disiplin dan memberi Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon sanksi tegas. Dan puncaknya adalah eksekusi mati atas Servetus pada tahun 1553 karena didorong oleh peraturan disiplin yang ketat buatan Calvin ini, yang dilaksanakan secara keras pula oleh Dewan Kota. Sekalipun kemudian terdapat perkembangan positif pada doktrindoktrin Calvin yang berkembang dari despotisme dan intoleransi menghasilkan kebebasan (Singgih 2000: 54-. , tetapi stigma yang disematkan pada Calvin sebagai seorang legalis ketat dan turut membuka peluang pada pembunuhan, terlanjur sulit dihindari. Sementara itu Th. van den End menyebut Calvin seorang legalis yang berpatokan pada hukum dengan ketat dan membuatnya tidak dapat disebut seorang spiritualis. Van den End "Akan tetapi, di samping pemikiran Calvin mengenai hubungan antarmanusia, penting juga memperhatikan wawasannya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah. Calvin bukan seorang spiritualis, atau seorang mistikus, yang mencari Allah dalam batin sendiri sehingga pada hakikatnya dalam hal agama ia tidak memerlukan persekutuan dengan sesamanya manusia" (End 2014: . Ucapan Van den End ini lebih terlihat tidak simpatik terhadap Calvin, baik terhadap pandangan teologisnya, maupun dampaknya dalam membangun relasi-relasi praktis dengan sesama manusia. Mungkin, alasannya harus dicari pada keengganan kaum Protestan memakai kata AuspiritualitasAy, atas dasar bahwa Calvin lebih suka memakai kata AupietasAy (Rachmadi 2017: . Van den End nampaknya berpendirian bahwa corak sarjana hukum yang lebih kuat melatarbelakangi Calvin tidak dapat digolongkan kaum teolog, yang pada segala zaman cenderung bersifat individualis dan dekat dengan laku mistik atau jalan spiritualis dalam kesendirian (End 2014: . Sebagai sarjana hukum ia sadar bahwa profesinya membuatnya harus berpikir tentang aturan-aturan untuk menata kehidupan masyarakat. Tata gereja yang disusunnya pun berakar dalam pandangannya mengenai masyarakat manusia pada umumnya. Tetapi, pandangan Van den End ini lebih terlihat sebagai prasangka ketimbang berbasis pada upaya mendalam menjelaskan tentang sisi spiritualis Calvin seperti yang telah dibuktikan oleh Pattipeilohy dan Howard Rice (Rice 1991: 24-. Apakah benar tuduhan tersebut? Inilah pertanyaan kunci yang penting dijawab dalam rangka menemukan cara membaca berbeda atas Calvin dan konteks hidupnya. Agustinus Batlajery dan Stella Pattipeilohy adalah contoh teolog yang berusaha mengonstruksi sejarah hidup Calvin dan menemukan cara membaca alternatif serta menyimpulkan bahwa Calvin tidak dapat dihakimi begitu saja tanpa mengerti latar belakang sejarah hidupnya. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Teolog dari Ambon. Agustinus Batlajery, berusaha mendudukkan ulang tuduhan terhadap Calvin sebagai yang berada di belakang pembunuhan Servetus. Katanya: "So it is clear that there were efforts by Calvin to save Servetus. He had worked for the redemption of Servetus [. ] He was not involved in the process of making the decision, and his position in Geneva at the time was weak. On the contrary, when decision has been made for 'cruelly burning' he tried to ask for communication of the sentence as shown in a letter he wrote to Farel [. ] And of course, we also agree that this case is a case of violence. But we cannot say that the idea of cruelly burning was Calvin's idea" (Batlajery 2014: . [Jadi jelas bahwa ada usaha-usaha Calvin untuk menyelamatkan Servetus. bekerja demi pengampunan Servetus [. ] Ia tidak terlibat di dalam proses membuat keputusan, dan posisinya di Jenewa pada waktu itu sangat lemah. Sangat berbeda, ketika keputusan untuk 'pembakaran keji' itu dibuat ia mencoba bertanya dengan mengkomunikasikan kalimat sebagaimana ia tunjukkan dalam sebuah surat yang ia tulis kepada Farel [. ] Dan tentulah kita juga setuju bahwa kasus ini adalah sebuah kasus kekerasan. Tetapi kita tidak mengatakan bahwa ide tentang pembakaran yang keji ini datangnya dari Calvi. Dalam pandangan Batlajery. Calvin berusaha sungguh-sungguh mengakhiri pedang . ipenggal kepal. dan api . sebagai mekanisme membunuh musuh-musuh gereja di Namun, usaha itu berakhir gagal hanya karena kalah jumlah suara. Apresiasi positif Batlajery dapat terlihat pula dalam tulisan lain. Ia mengambil jalan berbeda dengan Nuban Timo dan John Titaley yang terang-terangan mempertanyakana relevansi Calvin. Aumenurut hemat saya, sikap kita terhadap Calvin adalah demikian: Calvin adalah reformator besar yang sangat berpengaruh pada masanya. Ialah yang AmensetleA Protestantisme. Ialah pula yang meletakkan dasar-dasar Protestantisme berdasarkan Alkitab. Namun, ia harus dimengerti dalam konteksnya. [A] maka teologinya tidak serta-merta cocok dengan dan menjawab konteks kita. Kita juga harus kritis terhadapnya. Dalam kekritisan itu akan mencatat bahwa ada teologinya yang dapat kita pegang sebagai sumber inspirasi, tetapi ada juga ajaran dan praktek bergereja yang tidak relevan dengan situasi masa kini. Bahkan ada persoalan kontekstual kita yang tidak terpikirkan Calvin pada masanyaAy (Batlajery 2018: . Sementara itu Stella Pattipeilohy, dalam upaya mendudukan ulang kontroversi Calvin, ia pertama-tama menyatakan pandangan berbeda terhadap cara membaca Gerrit Singgih dan Van den End atas hidup Calvin. Ia menawarkan cara membaca alternatif atas sejarah hidup Calvin melalui dua tulisannya The CalvinAos Spirituality of Mercy and the Tasks of Reformation Today dan Calvin dan Spiritualitas Kerahiman (Pattipeilohy1 2017: 127-150. Pattipeilohy2 2017: 147-. Dengan mengandalkan pada pemikiran Howard L. Rice dalam Reformed Spirituality (Rice 1991: 24-. Pattipeilohy menjelaskan adanya dua wajah Calvin Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon yang penting disadari, sekalipun ambivalen, keduanya bertumpangtindih yang menampilkan sosok Calvin sebagai seorang yang kompleks. Pertama. Calvin adalah seseorang yang mempunyai prinsip-prinsip tetap yang berdiri dalam tradisi skolastik abad pertengahan yang Kedua. Calvin merayakan paradoks kehidupan, menolak merasionalisasi ambiguitas, dan menyambut misteri di jantung iman. Calvin juga menegaskan keunggulan pengalaman dan praktik daripada teori, dan dia memiliki toleransi yang cukup besar terhadap kebebasan Wajah pertama disebut juga wajah legalis, kaku dan tidak toleran. Wajah kedua adalah wajah spiritualis yang toleran dan menghormati kebebasan individu dalam menghayati pengalaman akan Tuhan. Yang menarik bahwa Pattipeilohy dapat memperlihatkan secara baik bahwa wajah spiritualis lebih dominan ketimbang wajah legalistik Calvin (Pattipeilohy1 2017: 138-143. Pattipeilohy2 2017: 155-. Wajah dominan Calvin ini menghayati spiritualitas melalui pengalaman Aupertobatan tiba-tibaAy . ubita conversio, sudden convertio. yang berdaya besar dan memberi dampak pada konstruksi teologi Calvin di berbagai bidang Pengalaman mula-mula spiritualitas ini diterjemahkan secara praktis dalam kepekaan akan tindakan Allah di dalam dunia, tindakan keadilan dan hidup baik bersama yang lain. Dua klarifikasi dari Batlajery dan Pattipeilohy ini teramat penting bagi upaya membaca ulang sejarah hidup Calvin dalam rangka mengonstruksi relevansi pemikiran Calvin tentang Jauh sebelum Batlajery dan Pattipeilohy sebetulnya sudah ada nama W. Dankbaar yang memberi klarifikasi bahwa Calvin tidak dapat dianggap bersalah atas pembunuhan Servetus (Dankbaar 1967: 105-. , sebab usahanya menyelamatkan Servetus sia-sia karena kalah suara dengan mayoritas Dewan Kota Jenewa yang lebih setuju pada hukuman mati. Upaya-upaya humanis Calvin menyelamatkan kehidupan dan menolak cara-cara kekerasan ini telah membentangkan kepada kita sampai di hari ini ketika kita hendak membincang tentang manusia di masa pandemi. Filsafat Calvin tentang Manusia Seperti jelas dalam pembahasan di atas tentang enam interpretasi menurut Balke ke atas Calvin dan pemikirannya, perlu ditambahkan di sini interpretasi ketujuh, yaitu interpretasi Balke secara jelas menyebut bahwa pertama-tama Calvin adalah seorang humanis sejati, ketimbang seorang teolog. Atau tepatnya Calvin adalah seorang humanis yang suka berteologi . umanistae theologizante. (Balke1 2014: . Ongirwalu pun meneguhkan bahwa Calvin pertama-tama adalah seorang humanis, baru kemudian disebut Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon teolog, pendeta, ahli hukum dan bahasa (Ongirwalu 2018: 73-. Ketika ia menulis tafsiran filsafati De Clementia, ia baru berusia 23 tahun. Saat itu ia seorang ilmuwan muda, seorang humanis yang berorientasi pada Alkitab, seorang humanis yang suka berteologi. Dalam rangka itu, pada tahun 1532 Calvin memilih kembali ke sumber-sumber. Semboyannya adalah resourcement, yakni pembaruan rohani roh manusia dengan kembali ke sumbersumber klasik yang tersimpan dalam hikmat dari pemikiran filsafat Yunani-Romawi. Terdapat dua sumber utama humanisme Calvin, yaitu filsafat Stoa dan Augustinus (Helm Kyrkkyinen 2017. Bouwsma 1975: 3-. Stoa berperan dalam menghibur manusia di tengah kehidupan yang serba rumit dan menggelisahkan. Seorang sofis, yaitu pencinta hikmat. Protagoras namanya, berkata Autidak ada sesuatu pun yang benar, yang baik, yang bagus Apada dirinyaA. semuanya dianggap benar, baik atau bagus dalam hubungannya dengan manusia lainAy (Bertens 2014: . Kalimat ini sejatinya mengusung semangat emansipatoris melalui kemandirian berpikir tanpa dikendalikan oleh pihak di luar. Kalimat ini juga menegaskan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Lebih jauh. Stoa adalah mazhab filsafat yang didirikan oleh Zeno dari Kition sekitar tahun 300 SZB. Menurut stoisisme, jagat raya digerakkan oleh suatu kuasa yang disebut AuLogosAy . Manusia sendiri mengambil bagian ke dalam logos itu (Bertens 2014: 16-. Berdasarkan rasionya manusia sanggup mengenal tatanan universal dalam jagat raya melalui serangkaian penelitian yang dilakukannya. Ia akan hidup bijaksana dan bahagia, asal saja ia bertindak menurut rasionya. Melalui usaha menguasai nafsu-nafsunya dan mengendalikan diri secara sempurna, serta menyelaraskan hidup dengan hukum-hukum alam, manusia akan menemukan kebahagiaan sejati. Dua orang Romawi yang terkenal sebagai pengikut mazhab Stoa ialah Seneca . -65 ZB) dan kaisar Marcus Aurelius . -180 ZB). Tokoh Seneca kemudian memikat hati Calvin dan lalu menstudinya secara serius hingga menghasilkan karya De Clementia (Rachmadi 2014: . yang berisi komentar atas penalaran filsuf Romawi tentang pentingnya belas-kasih dalam diri manusia dalam relasinya dengan Sementara itu. Augustinus, sekalipun lebih dikenal sebagai seorang teolog, ketimbang seorang filsuf, pemikirannya memanggil manusia untuk melibatkan diri dalam masalahmasalah sosial dan bergiat dalam lingkungan politik sebagai usaha menghadirkan kesejahteraan masyarakat kota . olitik, dari kata Latin polis artinya kot. Augustinus hidup antara tahun 354-430 ZB. Puncak karirnya adalah ketika ia diangkat sebagai uskup Hippo (Afrika Utar. Ia menulis banyak karangan, antara lain yang terkenal Confessiones 46 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon (Pengakuan-pengakua. dan De Civitate Dei (Perihal Negara Alla. Banyak karya-karya filsafatnya tidak dapat dipisahkan dari teologi. Dalam bidang filsafat. Augustinus mencari inspirasi dari platonisme . jaran Plat. dan neo-platonisme . jaran Plotino. (Bertens 2014: Di antara aliran filsafat lain yang mempengaruhi Augustinus adalah stoisisme. Beberapa pokok pikiran Stoa tentang manusia yang mempengaruhinya, antara lain (Bertens 2014: 23-24. Kyrkkyinen 2. : . ajaran tentang iluminasi. Iluminasi atau penerangan adalah ajaran bahwa rasio insani . dapat mencapai kebenaran yang tetap atau tak berubah . , karena manusia mengambil bagian dalam Rasio Ilahi. Dalam Rasio Ilahi terdapat semua kebenaran yang mutlak. Allah adalah Guru yang tinggal di dalam batin manusia, yang menerangi roh manusia dengan kebenaran-Nya. ajaran tentang manusia. Sekalipun Augustinus dipengaruhi oleh platonisme tentang dualisme jiwa dan tubuh, tetapi ia tidak menerima dualisme ekstrim Plato yang memisahkan tegas antara jiwa dan tubuh, di mana tubuh . an mater. adalah jahat, dan jiwa selama ini terkurung dalam tubuh. Dari sini Augustinus mengatakan bahwa jiwa berasal dari dan diciptakan Tuhan, dan dosa terjadi ketika tubuh manusia terpikat pada kehendak bebas yang menimbulkan hukuman. Usaha manusia adalah membebaskan dirinya . iwa dan tubu. dari kehendak bebas yang membangkitkan dosa. Dalam bidang teologi, paham tentang anugerah yang sangat kuat dalam pemikiran Augustinus, memberi daya dorong bagi manusia untuk hidup hanya untuk kemuliaan Tuhan. Bagaimana manusia memuliakan Tuhan? Dengan terlibat dalam keresahan dunia dan ikut dalam upaya-upaya mengatasi tantangan-tantangan hidup yang penuh penderitaan ini. Dari dua sumber pemahaman filsafat humanisme inilah lahir gagasan tentang Kelak, baik Luther dan Calvin, sama-sama menerjemahkannya dengan menekankan tema pembebasan manusia dalam rangka keluar dari segala bentuk penindasan yang datang dari pandangan keagamaan di masanya yang membelenggu dan hanya menakutnakuti. Hingga diterjemahkan dalam gerakan Reformasi, di mana pembebasan itu mengusung semboyan Audemi agama dan kebebasanAy . ro religione et libert. (Balke2: . Agama harus menjadi agama untuk manusia, yang tugasnya membuat manusia menemukan panggilannya yang sejati ketika ia diciptakan. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebasmerdeka. Dalam kemuliaannya, maka tidak ada satu kuasa pun yang dapat bertindak sebagai tuan yang menindas dan merampas kebebasannya. Manusia adalah makhluk terhormat . he royal perso. Manusia juga makhluk sosial yang menjalin relasi baik dengan sesamanya dalam sikap respek dan hormat. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Filsafat Calvin dan Aktualisasi Pemikirannya Bagian ini berisi pemikiran Calvin tentang manusia, yang dapat disebut sebagai filsafat teologi tentang manusia . heo-antropolog. (Helm 2020. Kyrkkyinen 2017. Simon 2019: 159. Manusia yang dimaksud Calvin pertama-tama bukan manusia individu melainkan manusia dalam persekutuan atau manusia yang bermakna sosial. Manusia ideal yang dimaksud Calvin adalah manusia sebagai makhluk sosial, bukan makhluk individual. Hal ini jelas dari kata-kata Calvin dalam karyanya Institutio, "Since man is by nature a social animal, he tends through natural instinct to foster and preserve societyAy . anusia menurut kodratnya adalah makhluk sosial. naluri alamiah mendorongnya untuk mengasuh dan memelihara persekutua. (Pattipeilohy1 2017: 136. Pattipeilohy2 2017: . Dari kutipan ini jelas bahwa bagi Calvin, dimensi sosial dari manusia ini seharusnya membawanya menjadi pengasuh dan pemelihara dari kehidupan. Salah satu nilai kebajikan dari hidup adalah bahwa, manusia di dalam persekutuannya adalah manusia yang diterima dalam keberadaan dan perbedaannya. Karena tidak ada seorang pun yang ditolak, maka Calvin sangat giat dalam mempertahankan kesatuan di dalam masyarakat termasuk ketika hal itu diterjemahkan di dalam negara dan Calvin kemudian menerjemahkan gagasannya itu dalam konteks pendidikan masyarakat melalui sisi sosial manusia yang mengasuh dan memelihara. Dalam pandangan Calvin, masyarakat yang sehat hanya dapat dibangun oleh kesadaran pada sikap saling menerima perbedaan sebagai sama-sama makhluk terhormat . oyal perso. dan merawatnya dalam tugas-tugas di bidang sosial kemasyarakatan. Dari Luther. Calvin menerima gagasan tentang kebebasan Kristen, yang ia sebut secara sadar pengaruh Luther itu di dalam empat bab pertama dari edisi pertama Institutio (Balke2 2014: . Namun, berbeda dari Luther yang menegaskan AuKebebasan AllahAy atau kehendak bebas Allah terhadap manusia yang tidak bebas, maka Calvin menegaskan tentang AuKebebasan KristenAy atau kebebasan manusia. Menurut Calvin, manusia yang bebas adalah manusia ideal sebagai makhluk sosial, bukan karena ia makhluk individual. Sekalipun bebas. Calvin mengusung gagasan tentang manusia yang bertanggung jawab sebagai upayanya menentang aliran libertinisme, yang kuat pengaruhnya di Jenewa, yang salah memahami dan menggunakan kebebasan Kristen seolah-olah tanpa batas dengan berakibat kekacauan terjadi di mana-mana. Ia juga menentang pola berpikir deistis, yang menempatkan Allah sebagai Pencipta dunia, yang seakan-akan menyetel dunia ini seperti menyetel arloji . , lalu membiarkan dunia itu berjalan sendiri (Balke2 2014: 84-. Kedua bentuk kebebasan itu tidak menjelaskan manusia ideal menurut Calvin sebagai makhluk yang menggunakan 48 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon kebebasannya secara bertanggung jawab di tengah situasi sosial dan politik --seperti yang ia pelajari dari pemikiran Seneca . okoh filsafat Sto. dan Augustinus. Dari pandangannya tentang kebebasan Kristen yang bertanggung jawab dalam situasi sosial dan politik. Calvin beralih kepada topik tentang Allah. Menurut Calvin, manusia akan beroleh kebebasannya yang sejati ketika ia menjalin relasi dengan Allah. Di sini. Allah, menurut keyakinan Calvin, bukan hanya primus agens . enggerak pertam. , tetapi Ia terusmenerus berkarya terhadap ciptaan-Nya sebagai creator . , conservator . , dan gubernator . (Balke2 2014: 84-. Hanya dalam hubungan-Nya dengan ciptaan itulah Dia tetap bebas mutlak. Sebaliknya, keberadaan ciptaan tetap tergantung pada Allah dan perlu terus dipelihara oleh Allah. Maka, tindakan Allah berhubungan dengan dunia ciptaan-Nya berdasarkan kebebasannya semata. Allah yang bebas inilah yang diperkenalkan oleh tradisi Reformasi sebagai Aubiarkan Allah menjadi AllahAy . et God be Go. Tindakan Allah yang bebas . itu sesungguhnya adalah karya Roh Kudus. Unsur kebebasan . inilah yang merupakan ciri khas ajaran Calvin mengenai Roh Kudus. Dalam ajarannya tentang Roh Kudus yang bebas itu dunia ini menjadi panggung kemuliaan Allah . heatrum gloriae De. (Jonge 2011: . Sebagai panggung, maka dunia ini adalah tempat di mana cinta kasih Allah dipertemukan atau diteruskan dalam cinta kepada sesama dan ciptaan lainnya. Dalam merespon pekerjaan Allah itu, tugas manusia adalah melakukan karya-karya di bidang sosial dan politik di dalam dunia milik Allah ini Audemi kemuliaan Allah yang lebih besarAy . d maiorem Dei gloria. (Faber 2009: 662-672. Rachmadi 2017: Tindakan kasih, keadilan dan belarasa kepada sesama ciptaan adalah wujud dari apa yang Calvin sebut pengudusan hidup . anctificatio, sanctificatio. (Aritonang 2009: . Kudusnya hidup, menurut Calvin, tidak diperoleh dengan berorientasi ke dalam diri, atau di dalam liturgi atau di dalam perayaan ekaristi sekalipun, melainkan melalui tindakan nyata terhadap mereka yang menderita dan sesama ciptaan yang dieksploitasi. Filsafat Calvin tentang manusia sebagai makhluk sosial dengan tugas-tugasnya di atas lalu menurun dalam ajarannya tentang gereja dan negara. Tentang gereja. Calvin menggarisbawahi spiritualitas ibu dalam konsep Gereja sebagai Ibu. Menurut Calvin: "But because it is now our intention to discuss the visible church, let us learn even from the simple title 'mother' how useful, indeed how necessary, it is that we should know her. For there is no other way to enter into life unless this mothes conceive us in her womb, give us birth, nourish us at her breast, and lastly, unless she keep us under her care and guidance until, putting off mortal flesh, we become like the angels [Mattew 22:. Our weakness does not allow Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon us to be dismissed from her school until we have been pupils all our lives" (Pattipeilohy1 2017: 136. Pattipeilohy2 2017: . [Akan tetapi, karena maksud kami sekarang ialah membicarakan Gereja yang kelihatan, maka marilah kita belajar dari nama Ibu, betapa besar manfaatnya, bahkan betapa perlunya pengetahuan tentang Gereja itu bagi kita. Tidak ada jalan masuk ke dalam kehidupan kalau kita tidak dikandung di dalam rahimnya, dilahirkan olehnya, disusuinya, dan akhirnya dilindungi dan dibimbingnya, sampai kita menanggalkan daging yang mesti mati ini dan menjadi sama dengan Kelemahan kita tidak mengijinkan kita untuk meninggalkan sekolah sampai kita menyelesaikan seluruh hidup kita sebagai murid-muri. Konsep Calvin tentang gereja sebagai ibu pertama-tama ditempatkannya dalam konteks keesaan gereja. Calvin sangat menekankan keesaan gereja dalam eklesiologinya. Bicara gereja berarti bicara keesaannya. Hanya ada satu gereja di muka bumi ini, satu tubuh Kristus di mana Kristus adalah kepalanya. Di dalam Dia semua orang pilihan dipersatukan dan bertumbuh bersama-sama ke arah satu tubuh. Di dalam Dia sebagai kepala, semua orang pilihan bersatu-padu, merasakan cinta Allah yang hangat, persekutuan antar sesama yang saling menerima dan tidak ada satu anggota pun yang tertolak di dalamnya. Hangatnya kasih Allah bagaikan kasih ibu yang rahim-Nya hangat bagi semua orang untuk hidup di dalam persekutuan gereja yang saling menerima dan mengasihi. Pandangan Calvin tentang masyarakat berpengaruh terhadap filsafatnya tentang negara. Calvin mempunyai keyakinan bahwa negara . emerintahan sipi. sebagai suatu karunia besar yang diberikan Allah kepada manusia . rang Kriste. , untuk memelihara keadilan, damai dan kesejahteraan masyarakat (Jonge 2011: 270-271. Balke3 2014: 160-. Karena itu semua orang harus taat dan menghormati negara sebagai hamba Allah (Rm. 13:1. 1 Ptr. Namun. Calvin tidak menuntut ketaatan yang buta. Menurut Calvin: Kalau penguasa memerintah sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah, maka orang Auharus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusiaAy (Kis. Di sini Calvin menginspirasi apa yang namanya civil disobediance . embangkangan sipi. sebagai suara profetis gereja untuk menyampaikan kritik kenabian kepada negara yang lalai pada tugasnya. Jika negara disebut Calvin sebagai pemerintahan duniawi . us circa sacra, di sekitar hal-hal suc. , maka gereja adalah pemerintahan rohani . us in sacris, hal-hal suc. Keduanya dibedakan tetapi saling Calvin mengangkat kembali wawasan tradisional mutua obligatio . ewajiban satu terhadap yang lai. (Aritonang 2009: 70-71. Balke3 2014: . Kalau gereja bertugas mendidik rakyat agar taat kepada Firman Allah, maka negara bertugas memastikan seluruh rakyat mematuhi gereja. Negara dapat mengambil tindakan tegas atas rakyat yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon membangkang gereja . enghukum, memenjarakan dll. Ketika pemerintah kolonial, mulai dari VOC hingga pemerintah Belanda, datang ke Indonesia, prinsip mutual obligatio diterjemahkan menjadi negara bertugas mengamankan iman Protestan yang disebarkan ke Indonesia. Pandangan Calvin tentang gereja dan negara disatukan dalam tugas-tugas bersama di antara keduanya. Tugas tersebut di satu sisi menyasar apa yang harus gereja lakukan, tetapi di sisi lain juga memperlihatkan apa yang gereja dan negara dapat sama-sama lakukan di tengah tantangan dan penderitaan dunia. Gereja dalam arti jemaat lokal dan negara melaksanakan empat tugas utama, yaitu (Tim Penyusun 2018: 6-. : Pertama, memberitakan firman dan melayankan sakramen serta menggembalakan umat. Kedua, mengajar dan mendidik umat. Ketiga, menjaga disiplin dan mengurus organisasi gereja. Keempat, merawat orang sakit dan yang menderita. Tugas keempat ini menjadi penting karena dibangun di atas dasar pemahaman filsafat bahwa manusia adalah makhluk terhormat. Kondisi sakit dan penderitaan manusia tidak menghilangkan keluhuran manusia sebagai ciptaan Allah. Dalam sakit dan menderita yang dibutuhkan adalah rasa empati dan belarasa, yang mengangkat sisi lain dari pemikiran Calvin tentang manusia sebagai makhluk sosial. Manusia menjadi manusia ketika ia menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada hidup sesama. Dalam sakit dan penderitaan, setiap individu dipanggil menjadi sahabat yang menunjukkan tanggung jawabnya untuk meringankan penderitaan itu. Secara umum, pandangan Calvin tentang masyarakat ideal tidak lepas dari pandangannya tentang pengudusan . hidup: bahwa setelah orang dibenarkan Allah . ustificatio, beroleh keselamata. , maka orang dipanggil membuktikan pembenarannya itu dalam tindakan kudus berupa kebajikan dan keadilan. Dalam masyarakat di mana kebajikan dan keadilan dilakukan, maka di situlah Aukota AllahAy . stilah yang diterima Calvin dari Augustinus: Aude Civitate DeiA. (Jonge 2011: . yang penuh damai sejahtera dapat Pengudusan hidup adalah bagian dari jatidiri manusia sebagai makhluk sosial yang peka dan cepat tergerak ketika melihat sesama menderita. Pengudusan di sini bermakna etis sebagai tindakan keluar menyambut datangnya orang lain utamanya mereka yang sakit dan menderita. AuManusia SosialAy Menurut Calvin dan Covid-19 AuManusia SosialAy adalah konstruksi utama yang dapat kita temukan dari pemikiran filsafat humanisme Calvin. Dimensi sosial manusia ini sangat kuat dalam filsafat teologi 51 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Calvin. Dalam karya utamanya Institutio Calvin mengatakan, "Since man is by nature a social animal, he tends through natural instinct to foster and preserve societyAy . anusia menurut kodratnya adalah makhluk sosial. naluri alamiah mendorongnya untuk mengasuh dan memelihara persekutua. (Calvin 2006: II. Pattipeilohy1 2017: . Lewat kutipan ini menjadi jelas bahwa konteks sosial adalah pembentuk dan basis dari pemikiran Calvin. Sementara itu, konstruksi lain yang bersifat teologis berupa konsep-konsep seperti semen religionis . esadaran tentang agam. dan sensus devinitatis . wareness of divinity, kesadaran tentang Tuha. dan semen religionis . eed of religion, benih agam. disusun kemudian berdasarkan pemahaman Calvin tentang hal-hal sosial tersebut (Jones 1995: 1995. Hendra 2012: 131-. Tentang "kesadaran ketuhanan" . ensus divinitati. yang bersifat given pada setiap manusia itu. Calvin berkata: "There is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of This we take to be beyond controversy. To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance. God himself has implanted in all men a certain understanding of his divine majesty. Ever renewing its memory, he repeatedly sheds fresh drops" (Calvin 2006: I. [Kita anggap sebagai suatu hal yang sudah tak dapat disanggah lagi bahwa manusia menyimpan dalam hatinya suatu kesadaran akan adanya suatu Allah. Hal ini malahan merupakan gerak hati yang wajar. Sebab, supaya tidak ada yang berdalih tidak tahu. Allah telah menempatkan dalam hati kita semua suatu pengetahuan akan diri-Nya, dan pengetahuan itu sewaktu-waktu dihidupkan-Nya kembali dalam ingatan kit. Dengan cara yang unik, teologi Calvin merupakan sebuah belokan pemikiran yang dulu di abad pertengahan biasa berbicara tentang transendensi Allah, menjadi imanensi Allah. Bagi Calvin. Allah dapat ditemukan dengan melihat kepada sesama manusia, utamanya manusia yang menderita. Manusia yang menderita adalah mediasi melihat wajah Allah. Dalam kerangka pikir ini, filsafat manusia Calvin dapat disebut teo-antropologi . (Simon 2019: 159-. , yaitu sebuah wawasan mendalam tentang hakikat manusia dan relasinya dengan sesamanya. Melalui mediasi sesama yang menderita itu, manusia mencapai pengenalan diri yang lebih berbeda dan lebih baik. Calvin adalah seorang filsuf humanis yang suka berteologi . umanistae theologizante. Filsafatnya adalah filsafat yang menyentuh borok kehidupan yang dialami manusia hingga di masa kita sekarang. Banyak literatur yang muncul dalam membaca fenomena kemanusiaan hari ini, yakni manusia di era pandemi. John Piper menyebut kenyataan yang dihadapi manusia hari ini sebagai providensia yang pahit . itter providenc. , yaitu refleksi tentang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon pemeliharaan Allah di kala pandemi datang sebagai malapetaka yang pahit. Dalam refleksinya. Piper mengatakan bahwa. AuThe coronavirus was sent, therefore, by God. This is not a season for sentimental views of God. It is a bitter season. And God ordained it. God governs He will end it. No part of it is outside his sway. Life and death are in his handAy (Piper 2020: 42. Piper 2020: . [Karena itu, virus corona dikirim oleh Allah. Ini bukan saatnya mengadopsi pandangan yang sentimental terhadap Allah. Ini adalah musim yang pahit. Dan. Allah menetapkannya. Allah mengaturnya demikian. Ia akan mengakhirinya. Tidak ada sebagian pun darinya berada di luar kendali-Nya. Hidup dan mati ada di tangan-Ny. Piper hendak mengatakan bahwa masa yang pahit bagi manusia ini harus dilihat dengan cara berbeda, yaitu dengan tetap beriman kepada Allah, beriman bahwa Allah tetap memelihara, yang mengawali bencana ini sekaligus yang akan mengakhirinya. Di masa yang pahit ini manusia berikhtiar mengupayakan karya kebaikan dengan saling menjaga dan merawat kehidupan antara lain dengan menerapkan pola hidup 3M: mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker. Slovoj iek, dengan menafsir kisah kebangkitan Yesus menyebut kondisi sekarang ini sebagai waktunya mengubah relasi, bukan relasi yang saling menyentuh secara fisik tetapi relasi yang dialihkan dengan AumenyentuhAy dalam kasih, doa, solidaritas dan dukungan menghadapi saat-saat yang sulit ini. Kata iek. AuTouch me notAy according to John 20:17, is what Jesus said to Mary Magdalene when she recognized him after his resurrection [. ] Christ says he will be there whenever there is love between his believers. He will be there not as a person to touch, but as the bond of love and solidarity between people Ai so. Audo not touch me, touch and deal with other people in the spirit of loveAy . ek 2020: . [AuJangan sentuh akuAy menurut Yohanes 20:17, adalah apa yang Yesus katakan kepada Maria Magdalena ketika dia mengenali-Nya setelah kebangkitan-Nya [. ] Kristus mengatakan Dia akan ada di sana kapan pun ada cinta di antara orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dia akan berada di sana bukan sebagai pribadi untuk disentuh, tetapi sebagai ikatan cinta dan solidaritas antar manusia Ai jadi. Aujangan sentuh Aku, sentuh dan berurusanlah dengan orang lain dalam semangat cintaA. Bagi iek, semangat cinta dan solidaritas antar orang adalah obat paling mujarab di tengah borok akibat pandemi covid-19 ini. Baginya, hidup Kristiani tidak lain dan tidak bukan adalah keluar dari kepentingan diri, mendatangi dan menyentuh luka dan borok-borok kehidupan, mengunjungi tempat-tempat di mana sesama kita menderita, yang hampir mati bahkan telah mati fisik serta pengharapan. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon Manusia sosial yang dipanggil mengasuh kehidupan, menghadapi paradoks iman (Cahyadi 2020: 26-. Di satu sisi, kita diajak berdoa sungguh kepada Tuhan, dan mengupayakan agar wabah corona ini segera berakhir. Di sisi lain, kita diajak melihat bahwa situasi krisis ini memberi kita kesempatan untuk belajar dan bertobat, maka ada momen rahmat di dalamnya. Itulah paradoks yang kita hadapi saat ini. Kita tidak berjalan sendiri dalam menghadapi semua ini. Kita semua berada di dalam perahu yang sama, bukan seperti yang disangka banyak orang --dengan mengutip kata-kata Martin Luther King-- bahwa kita tidak berada di kapal yang sama. Ini seperti pengalaman perahu para murid yang diterpa Perahu itu diombang-ambingkan ombak, hingga air pun masuk ke perahu. Sama seperti pengalaman kita, virus ini menerpa kita, tak seorang pun bisa merasa sehat dan aman, semua terterpa air yang masuk ke dalam perahu. Kita semua menyadari bahwa kita semua ini rapuh dan kehilangan arah. Pengalaman ini menguakkan mata kita, bahwa kita tidak mungkin selamat sendiri. Kita harus berusaha dan mengupayakan keselamatan bersama, keselamatan Virus corona mengena pada siapa saja, tidak ada pembedaan, tidak pandang bulu. Kita semua harus saling menjaga satu sama lain, agar kita sendiri pun selamat. Di sinilah sikap peduli, mau saling memelihara kebersamaan dan menumbuhkan persaudaraan menjadi habitus baru. Kita dipanggil saling memeluk derita sesama karena kita pun bagian dari Memeluk derita ini juga mengajak kita untuk memeluk ibu bumi, sebab wabah ini menyadarkan kita bahwa kita bagian dari bumi. Menjaga keselarasan dan keseimbangan dunia dan bumi ini menjadi penting dalam hidup beriman kita. Memeluk sesama dalam cinta, doa dan belarasa, serta memeluk ibu bumi mengusung sebuah dimensi terdalam dari hidup manusia yang Calvin sebut dianugerahi benih iman . emen fide. yang mengantarnya mendatangi kemalangan manusia yang terpapar corona. Benih iman menumbuhkan solidaritas yang bersifat kosmis meliputi manusia dan alam yang sama-sama menderita karena pandemi ini. Social distancing dalam terang refleksi iek menyuburkan kebajikan Kristiani dalam rupa-rupa manusia sosial yang menyuguhkan harapan di tengah kepahitan pandemi. Kepahitan hari ini menyalakan asa dan harapan tentang citra manusia sejati yang mencapai aktualisasi diri justru dengan keluar menjumpai sesama yang menderita. Tidak cukup tahu bahwa hari ini banyak manusia yang menjadi korban covid-19. Banyak orang dipanggil aktif menjumpai mereka yang menderita dan berbuat nyata meringankan beban mereka. Perilaku sosial orang-orang yang menopang anak-anak yang menjadi yatim-piatu karena orang tuanya 54 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon meninggal akibat terpapar corona menjadi contoh sinar harapan yang terus menyala di tengah Kisah Ghifari dari Sukoharjo (Isnanto 2. , kisah Angga dari Sukoharjo (Putra 2. , kisah Vino dari Kutai Barat (Shandra 2. , dan deretan panjang yang bisa ditambahkan, dari anak-anak yang menjadi yatim-piatu karena pahitnya corona, telah membangkitkan semangat belarasa dan kesetiakawanan yang luar biasa hebatnya. Manusia sosial itu nyata, bukan khayalan belaka. Manusia sosial yang menghidupi benih iman di dalam dirinya . enurut Calvi. adalah manusia pasca-pandemi yang menerima kondisi sulit saat ini dan siap hidup dalam kenormalan baru yang mengusung nilai-nilai kepeduliaan, solidaritas, gotong royong, karena melihat sesama sebagai dirinya sendiri. Manusia pasca-pandemi adalah manusia penuh persahabatan dan hidup dalam keramahan terhadap liyan. Manusia pasca-pandemi adalah manusia yang belajar bersama melewati situasi pahit ini dengan saling menjaga dan merawat kehidupan. KESIMPULAN Filsafat Calvin dibentuk oleh humanisme abad pertengahan dengan dua sumber utamanya, yaitu filsafat Stoa dengan tokohnya Seneca, dan Augustinus yang mewakili seorang filsuf sekaligus teolog. Masing-masing memberi sumbangan berharga ke dalam pemikiran Calvin tentang manusia ideal sebagai makhluk sosial yang bebas dan bertanggung jawab pada hidup orang lain. Manusia bebas untuk melakukan berbagai karya sosial dan politik demi kemuliaan Allah. Dunia sebagai panggung kemuliaan Allah, memberi mandat kepada manusia untuk mengusahakan pengudusan hidup melalui hidup dalam keadilan dan Dari filsafatnya tentang manusia ini. Calvin bergerak ke pemikirannya tentang gereja dan negara atau masyarakat. Tentang gereja. Calvin antara lain memperkenalkan model gereja sebagai ibu, yang peran utamanya adalah menghidupi kerahiman Allah yang menerima semua orang dalam kasih yang tanpa batas. Dalam perspektif pendidikan masyarakat, maka respon atau tanggapan manusia terhadap sesamanya adalah menunjukkan cinta tanpa batas dalam laku menerima satu sama lain tanpa menolaknya, karena Allah sendiri tidak pernah menolak manusia. Hidup di dalam gereja adalah hidup dalam kasih Allah. Filsafat Calvin tentang negara atau masyarakat sejatinya dibangun oleh pandangannya tentang hakikat keberadaan dan tugas negara dan gereja, yaitu untuk menghadirkan damai Melalui filsuf Seneca. Calvin menemukan pijakan bagi usahanya menjelaskan keutamaan seorang pemimpin atau penguasa yang harus mempunyai sifat belas-kasih kepada rakyat yang dipimpin. Ketika negara tidak imun dari kesalahan, maka Calvin Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. December 2021 John Christianto Simon merekomendasikan pentingnya ketaatan kepada Allah, dalam rangka terus memastikan negara atau masyarakat hidup di dalam Aukota AllahAy yang damai dan sejahtera. Terakhir, manusia sosial adalah manusia pasca-pandemi yang kiprahnya dibutuhkan untuk melampaui saat-saat penuh kepahitan ini. Nilai-nilai kepedulian, persahabatan dan keramahan adalah kekuatan bagi hidup di masa sulit ini yang hanya dapat dilewati secara bersama-sama. BIODATA John C Simon berasal dari keluarga besar Sekolah Tinggi Theologia Indonesia Timur Makassar. Dia banyak menulis jurnal dan buku yang sangat relevan pada masanya. Melalui tulisannya kiranya banyak orang yang terbantu dalam memahami dan belajar tentang teologi yang relevan di dunia pendidikan dan kenyataan pada masa kini. Dr. John C Simon. Surel: tajaksebakal@gmail. DAFTAR PUSTAKA