Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. EPISTEMOLOGI FALSIFIKASI. IMPLIKASI PEMIKIRAN KARL RAIMUND POPPER TERHADAP KAJIAN KEILMUAN ISLAM Adhimas Alifian Yuwono Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta adhimasalifian@gmail. Info Artikel Submit : 4 Juli 2024 Revisi : 1 September 2024 Diterima : 11 September 2024 Publis : 17 September Kata kunci Abstrak Islam sebagai Ilmu adalah cara pandang yang melanggengkan diskursus keilmuan yang terus bergerak dan berkembang serta terbuka terhadap konsep lain guna mencapai kemajuan keilmuan dalam Islam. Salah satu konsep yang ada pada wilayah epistemologi adalah falsifikasi milik Karl Raimund Popper. Penelitian ini hendak mengulas konsep falsifikasi dan implikasinya terhadap keilmuan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan cara mengumupulkan buku, jurnal, dan website yang terkait dengan tema penelitian untuk melakukan telaah kritis, melalui pendekatan heuristik dan koherensi inheren. Hasil dari penelitian ini adalah Falsifikasi Popper adalah sebentuk uji terhadap teori yang sudah berlaku dan ditetapkan, dengan melihat potensi salah atau tidak relevan di satu sisi, dan mengokohkan teori tersebut bilamana masih terbukti benar dan relevan di sisi lainnya. Implikasi falsifikasi miliki Popper dalam kajian keilmuan Islam adalah menghilangkan dogmatisme kelompok keagamaan yang mengklaim suatu kebenaran akan suatu pemahaman sambil menyalahkan pemahaman yang berbeda dari kelompok lain. Selain itu, melalui konsep tiga dunia milik Popper, kajian keilmuan Islam dapat masuk pada ruang dinamis dengan nuansa iklusifitas yang baik. Islam Sebagai Ilmu. Falsifikasi. Implikasi Keilmuan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 365 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pendahuluan Terdapat dua sudut pandang dalam melihat Islam: Islam sebagai keyakinan, dan Islam sebagai ilmu. Islam sebagai keyakinan adalah bisa dikatakan produk dari Tuhan yang tidak boleh diingkari, ditolak, dan bahkan tidak mungkin salah, suatu kebebenaran yang Islam sebagai keyakinan cenderung tidak ada pergulatan intelektual di dalamnya, karena pada wilayah keyakinan. Islam dirasa mutlak hanya perlu diimani, bukan untuk Dalam prespektif Kuntowijoyo. Islam sebagai keyakinan disebut sebagai kebenaran yang non-comulativ. tidak betambah. Sementara Islam sebagai ilmu, justru melanggengkan diskursus keilmuan yang terus bergerak dan berkembang . serta secara terbuka menerima pandangan-pandangan lain . iluar isla. yang berguna untuk kemajuan ilmu pengatahuan. Dalam hal ini. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai suatu AukemajuanAy yang sifatnya terus bertambah . 1 Penelitian ini akan diberangkatkan melalui paradigma Islam sebagai ilmu. Dalam wilayah ilmu, salah satu komponen utama adalah epistemologi, yaitu teori pengetahuan yang berhubungan dengan metode atau cara memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam filsafat, epistemologi diberangkatkan melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter, dan jenis pengetahuan. Perdebatannya bahkan meluas pada wilayah karakteristik ilmu dan kaitan serta hubungannya dengan keyakinan yang telah Dalam epistemologi, terdapat cara populer yang dianut atau digunakan oleh sebagian besar ilmuan yang disebut dengan verivikasi. Verivikasi adalah metode yang memahami bahwa hal atau ungkapan yang secara nalar bermakna adalah tidak lain selain hal atau ungkapan yang dapat diverifikasi secara empiris . al yang dapat dicerap oleh indr. atau sebuah kebenaran logis. 4 Metode ini digunakan cukup lama sampai tibalah seorang tokoh bernama Karl Raimund Popper yang mencetuskan metode falsifikasi. Falsifikasi 1 Alfred. AuHubungan Sains Dan Agama Perspektif Kuntowijoyo Alfred,Ay Jurnal Al-Aqidah 10, no. : 65Ae83, 69, https://doi. org/10. 15548/ja. 2 Surajiyo. Ilmu Filsafat (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 53 3 Nyong Eka Tegug Imam Santoso. Fenomena Pemikiran Islam (Sidoarjo: UruAnna Books, 2. , 47 4 Bullock, and Trombley S. The New Fontana Dictionary of Modern Thought (London: Harper Collins, 1. , 775 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 366 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 secara sederhana dipahami sebagai salah satu konsep untuk menentukan batas-batas kebenaran ilmu pengetahuan yang dikemukakan oleh Karl Raimund Popper. Popper adalah seorang filsuf dengan pemikiran yang cukup ekstrim dari pemikir lain yang ada pada Popper terkenal dengan gagasan falsifikasinya, yang mana merupakan lawan dari verifikasi dalam hal epistemologi ilmu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Maydi Aula Riski, 2. tentang urgensi falsifikasi Popper dalam dunia akademik, mengungkapkan bahwa penerapan teori falsifikasi Karl Raimund Popeer sangat penting dalam bidang akademk. Hal ini dibuktikan dengan konsep falsifikasi yang digunakan untuk mengetahui keilmiahan suatu ilmu pengetahuan. Selain itu, kaijan yang dilakukan oleh (Komarudin, 2. menjelaskan bahwa dimungkinkan terjadinya penerapan falsifikasi Popper dalam kajian keilmuan Islam, pada wilayah pemikiran para tentang teks al-QurAoan atau al-Hadits yang berhubungan dengan sains, atau tentang pemikiran mereka tentang konsep-konsep agama. Namun, belum diketemukan sebuah penelitian yang menekankan implikasi metode falsifikasi terhadap keilmuan Islam secara lebih spesifik-konkrit serta menyeluruh. Oleh karena itu, tulisan ini hendak menyajikan suatu wacana implikasi falsifikasi dalam keilmuan Islam. Dalam tulisan ini, pembahasan akan diberangkatkan dari dua rumusan masalah, bagaimana epistemologi falsifikasi Karl Popper? dan Bagaimana implikasinya dalam keilmuan Islam? Maka, pembahasan akan difokuskan kepada pemikiran Karl Raiymund Popper yang terkenal dengan gagasan falsifikasinya, yang ternyata merupakan sebentuk kritik konstruktif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, metode falsifikasi ini pada akhirnya juga dapat diadopsi dan diadaptasi sedemikian rupa untuk diberlakukan bagi keilmuan Islam. Melalui makalah ini, pembahasan mengenai hal itu akan dikaji secara lebih luas dan komprehensif. 5 Maydi Aula Riski. AuTeori Falsifikasi Karl Raimund Popper: Urgensi Pemikirannya Dalam Dunia Akademik,Ay Jurnal Filsafat Indonesia https://doi. org/10. 23887/jfi. 261Ae72. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 367 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Metode Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, dengan cara mengumpulkan data berupa buku, dan jurnal yang terkait dengan tema penelitian untuk melakukan interpretasi dan telaah kritis. 6 pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan heuristik dan koherensi inheren. Pendekatan heuristik adalah mencari pemahaman baru setelah melakukan penyimpulan terhadap objek penelitian dan melakukan refleksi kritis terhadap konsepsi seorang filosof. Adapun pendekatan koherensi inheren adalah proses memahami pemikiran seorang tokoh dengan dilihat keselarasan pemikirannya, untuk kemudian menemukan hal-hal yang paling mendasar dan topik-topik yang paling sentral dan substansial. 7 Dalam hal ini adalah pemikiran falsifikasi Popper dan implikasinya terhadap keilmuan Islam. Pembahasan Biografi Karl Raimund Popper. Pergulatan Intelektual dan Karya Karl Raimund Popper merupakan seorang filsuf yang terlahir di Wina. Austria di Ayah dan ibunya adalah seorang Yahudi, tetapi setelah menikah mereka dibaptis di gereja Protestan. Popper menempuh pendidikannya di Universitas Wina. Selama menempuh pendidkan di universitas tersebut, ia mempelajari banyak bidang, diantaranya. kesusasteraan, sejarah, filsafat, ilmu kedokteran, dan psikologi. Tahun 1928, ia mendapat gelar doktor filsafat. Pada tahun 1937, karena totalitaranisme Hitler. Popper yang berdarah Yahudi, harus meninggalkan tempat kelahirannya sebab pada waktu itu Jerman di bawah kekuasaan Hitler telah menduduki tempat dimana Popper tinggal. Popper lalu pindah ke Selandia Baru dan mengajar di Universitas Christchurch. Namun Popper tidak menetap di sana, sebab pada tahun 1945. Popper pindah ke Inggris dan mengajar di London School of Economics. 6 Amir Hamzah. Metode Penelitian Kepustakaan Library Research (Edisi Revis. (Malang: CV Literasi Nusantara, 2. ,7-9 Syahrin Harahap. Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam (Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2. ,6263. 8 Komarudin. AuFalsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam,Ay Jurnal At-Taqaddum 6, no. : 444Ae65, https://doi. org/10. 21580/at. 720, 448 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 368 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Di London School of Economics ini ia diangkat menjadi professor pada tahun 1948, berkat karyanya dalam konteks filsafat politik berjudul The open Society and Its Enemies, yang ditulis pada tahun 1945. Popper menginggal dunia pada tanggal 17 September 1994 di London Selatan akibat penyakit jantung. Tahun 1919 merupakan tahun ketika Popper menemukan teori baru yang mempengaruhi perkembangan intelektual dalam filsafatnya. Hal tersebut terinspirasi dari peristiwa tumbangnya teori Newton oleh konsep dan pemikiran baru dari Einstein. Teori mengenai gaya berat dan kosmologi yang disebut sebagai relativisme, adalah suatu teori baru yang ditemukan oleh Einstein. Hal tersebut menjadikan Popper sangat terkesan, terlebih Einsten mengatakan bahwa teorinya tersebut tidak akan mampu dipertahankan jika gagal dalam tes tertentu. Hal ini bertentangan dengan pemahaman kaum marxis, yang sebelumnya telah banyak dianut oleh para ilmuwan secara dominan, yaitu kecenderungan untuk selalu melakukan verifikasi atas teori-teori yang mereka anggap benar . , kaum marxis merupakan aliran yang cukup dogmatis. Berangkat dari peristiwa inilah Popper menemukan pemahaman baru bahwa sikap ilmiah merupakan sikap kritis dengan tidak mencari-cari pembenaran, melainkan melakukan pengujian yang nantinya dapat menyangkal, atau memperkokoh teori yang telah diuji. Selama masa kejayaannya. Popper sering kali memberikan kritik pada konsep maupun teori-teori sebelumnya, namun yang paling popular adalah keritiknya terhadap lingkaran Wina. Pada tahun 1928 ia meraih gelar Doktor Filsafat dengan disertasi yang membahas tentang Zur Methodenfrage der Denkp Psychologei (Masalah Metode dalam Psikologi Pemikira. Pada tahun berikutnya. Popper memperoleh gelar Diploma pada bidang Matematika dan 9 Ibid 10 Karl Raimund Popper. The Logic of Scientific Discovery (New York: Routledge, 2. , 57-72 11Lingkaran Wina (Vienna Circl. adalah sekelompok filsuf awal abad ke-20 yang berusaha untuk mengkonseptualisasikan kembali empirsme melalui interpretasi mereka terhadap kemajuan terkini dalam ilmu fisika dan formal. Pada umumnya Lingkaran Wina menganut paham verifikasionisme yang cenderung hanya membernarkan sebuah teori dengan ekeperimen lapangan sehingga menutup sistem keterbukaan dan perdebatan intelektual. Lihat. Mudhofir Abdullah. Tantangan Islam Di Dunia Yang Berubah (Yogyakarta: LKiS, 2. , 35 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 369 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 ilmu pengetahuan Alam. Dalam catatan sejarah. Popper tidak pernah menjadi anggota Lingkaran Wina, tetapi ia mengenal anggota Lingkaran Wina yang bekerja di universitas dan pada beberapa di antara mereka, ia mempunyai hubungan khusus dengan beberapa anggota Lingkaran Wina, diantaranya. Viktor Kraft, dan Herert Feigl. Dalam usaha studinya. Popper belajar banyak dari Karl Buhler. Profesor Psychologi di Universitas Wina yang paling penting dalam perkembangannya di masa mendatang adalah teori Buhler tentang tiga tingkatan bahasa yaitu fungsi ekspresi, fungsi stimulasi dan fungsi deskriptif. Menurut Buhler fungsi pertama selalu hadir pada bahasa manusia maupun binatang, sementara fungsi yang ketiga khas pada bahasa manusia. Popper sendiri kelak menambahkan fungsi yang keempat yaitu fungsi argumentatif, yang dianggap penting karena merupakan basis pemikiran kritis. Pada tahun kedua di Institut Pedagogis. Popper berjumpa dengan Prof Heinrich Gomperz dan banyak dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan problem psikologi pengetahuan atau psikologi penemuan. Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Popper menyadari tentang pengaruh pemahaman Aguste Comte sejak zaman Bacon yang cukup keliru, di antaranya teori yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu alam merupakan ilmu-ilmu induktif dan bahwa induksi merupakan suatu proses yang meneguhkan atau membenarkan teori-teori dengan pengamatan atau eksperimen yang di ulang-ulang. Hal ini dikarenakan para ilmuan harus membuat pemisah . antara kegiatan ilmiah mereka, bukan hanya dari pseudoscience saja, melainkan juga dari teologi dan metafisika, dan mereka telah menerima dari Bacon metode induktif sebagai kriterium demarkasi. Sedangkan, sudah bertahun-tahun Popper mengenggam kriterium demarkasi yang lebih baik, yaitu testabilitas atau fasibilitas. Adapun beberapa karya tulisnya yang terbesar antara lain sebagai berikut: The Poverty of Historicism . The Open Society and Its EnemiesI dan II . The Logic of Scientific Discovery . Conjectures and Refutations: The Growt of Scientific Knowledge An Evolutionary Approach . The Philosiphy of Karl Popper . Unended Quest. dan The Self and Its Brain. Riski. AuTeori Falsifikasi Karl Raimund Popper: Urgensi Pemikirannya Dalam Dunia Akademik. Ay, 13 Ibid, hlm. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 370 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Teori Falsifikasi. Latar Belakang dan Peta Jalan Pemikiran Popper adalah semacam perlawanan terdahap pemikiran para konvensionalis, yaitu paham yang merumuskan suatu teori untuk kemudian diuji kebenarannya secara empiris, melalui verifikasi. Secara sederhana, verifikasi ini hanya semacam pembenaran atas hipotesis atau, bisa disebut sebagai asumsi, yang menghilangkan banyak kemungkinan tentang fakta atau data yang justru ternyata mampu membuktikan suatu teori itu tidak tepat atau bahkan salah. Padahal. Popper menyaksikan sendiri bahwa teori fisika Enstein menggugurkan teori fisika Newton yang selama ini dianut oleh seluruh ilmuan dan juga para filsuf pada masa itu. 14 Artinya, suatu teori ternyata bisa gugur akibat penemuan baru yang dilakukan secara objektif tanpa ada tendensi pemaksaan kebenaran. Oleh karena itu. Popper mencetuskan apa yang disebutnya sebagai falsifikasi. Falsifikasi adalah metode untuk menyempurnakan suatu teori dengan melakukan penelitian murni secara objektif. Menurut Popper, sejatinya ilmu pengetahuan adalah kumpulan hipotesis/dugaan sementara dengan menggunakan asumsi-asumsi dan tidak mutlak kebenarannya. Falsifikasi tidak selalu mengubah secara radikal suatu teori ilmiah, melainkan untuk mengeliminasi kekurangan atau menyempurnakan teori ilmiah tersebut. Perubahan tersebut juga bisa meneguhkan dengan berbagai tambahan argumentatif baru, atau bisa juga mengoreksi dan menambal sulam sebuah kebenaran. Kebenaran tersebut juga bersifat sementara, karena jika suatu saat teori tersebut dapat dibuktikan kelemahan/kesalahannya maka akan tereliminasi. Selanjuntya, teori baru itulah yang digunakan karena dianggap lebih mendekati kebenaran. Rangkaian falsifikasi akan terus berputar dan mencari kebenarankebenaran baru, sehingga dengan begitu ilmu pengetahuan akan terus mengalami pengembangan dan mencapai kemajuan yang pesat. Jadi, pada dasarnya aktifitas keilmuan 14 Komarudin. AuFalsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam. Ay. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 371 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 hanya bersifat mengurangi kesalahan sampai sejauh mungkin mendekati kebenaran yang Oleh karrena itu pengembangan ilmu dilakukan dengan merontokkan teori karena terbukti salahnya, untuk kemudian digantikan dengan teori baru. Gagasan tentang falsifikasi inilah yang oleh Popper dijadikan sebagai ciri utama proposisi atau teori yang ilmiah. Menurut Popper, suatu proposisi atau teori empiris harus dilihat sebagai berpotensi salah. Selama suatu teori mampu bertahan dalam upaya falsifikasi, maka selama itu pula teori tersebut tetap dipandang kokoh, meski ciri kesementaraannya tetap tidak pernah hilang. 16 Jadi, falsifikasi meniscayakan kegiatan penelitian ilmiah yang sistematis untuk menguji suatu teori secara terus-menerus. Bukan memaksakan kebenarannya melalui verifikasi. Adapun peta jalan epistemologi falsifikasi Popper tergambar pada peta kosep sebagai berikut. Gambar Peta Jalan Epistemologi Falsifikasi Selanjutnya, pemahaman tentang falsifikasi sejatinya berangkat dari logika sederhana, bahwa sifat dari ilmu pengetahuan itu sendiri yang adalah bersifat bisa berubah dan berkembang. Oleh karena itu, ia membutuhkan pengujian, penyangkalan, dan bahkan penyalahan untuk terus sebisa mungkin mendekati kebenaran sempurna. Pada prinsipnya. Popper. The Logic of Scientific Discovery, 21 16 Desi Erianti et al. AuEpistemologi Falsifikasi Karl R Popper,Ay INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research 3, no. : 6799Ae6807, 685 https://doi. org/10. 31004/innovative. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 372 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 seorang saintis akan dengan gembira menyambut koreksi dan krtik oleh sesama koleganya manakala teori yang diajukan terbukti salah. Sementara itu, prinsip verifkasi menurut Popper tidaklah logis lantaran bertujuan untuk membenarkan teori dengan mencari-cari secara paksa melalui penelitian yang bahkan diakumulasi. 17 Oleh karenanya, dibutuhkan falsifikasi untuk mengokohkan teori . jika terbukti masih benar, atau menggugurkan teori jika ternyata terbukti salah atau sudah tidak lagi relevan. Epistemologi yang diajukan oleh Popper ini meliputi tiga hal: pengujian teori, penyangkalan, dan penyalahan. 18 Pertama, pengujian teori. Menurut Popper, proporsisi ilmu atau pengetahuan tidak dipandang bersifat ilmiah hanya karena bisa dibuktikan kebenarannya melalui verifikasi, malainkan karena bisa diuji . dengan melalui percobaan sistematis untuk menyangkalnya. Misalnya, teori yang mengatakan jika bumi itu datar, maka mesti melalui uji falsifikasi dengan pertanyaan: mengapa jika memanjat pohon jarak pandangnya meluas? Secara logis, ini tidaklah rasional bilamana bumi diyakini datar tetapi jarak pandangnya bisa berubah-ubah. Maka teori ini mestilah disangkal. Kedua, penyangkalan. Aktifitas pengujian meniscayakan tahap penyangkalan, tentunya melalui uji falsifikasi. Artinya, jika pada tahapan uji terbukti tidak logis secara ilmiah, atau ditemukan suatu kerancuan, maka ini menjadi dalih yang absah untuk dilakukan Penyangkalan mempertahankan atau memperkokoh teori bilamana terbukti masih benar . , dan menggugurkannya bilamana terbukti salah. Popper, menyebutnya dengan istilah erorelimination, bahwa penelitian akan membawa pada proses eliminasi kesalahan untuk menuju sedekat mungkin dengan kebenaran. Ini adalah kritik terhadap metode induksi yang memunculkan prediksi lalu diverifikasi. Jika hasil prediksi atau uji falsifikasi salah, maka semua atau seluruh premis dalam teori atau ilmu juga salah. Teori tidak dapat diverifikasi, tetapi hanya dapat difalsifikasi. Haidar Bagir and Ulil Abshar Abdalla. Sains AuReligiusAy Agama AuSaintifik. Dua Jalan Mencari KebenaranAy (Bandung: Mizan, 2. , 110 18 Komarudin. AuFalsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 373 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Ketiga, penyalahan. Setelah melalui tahap penyangkalan dan kemudian dilakukanlah penelitian sistematis hingga menghasilkan teori baru, maka teori itu telah terbukti salah . dan digantikan yang baru. Akhirnya, melalui falsifikasi. Popper mencoba memberi demarkasi keilmuan dalam istilah ilmu yang bermakna . dan ilmu yang tidak bermakna . Mana yang asli ilmu . enuine scienc. dan mana yang hanya ilmu tiruan . seudo-scienc. Jadi, kriteria keilmiahan sebuah ilmu atau teori adalah ilmu atau teori itu harus bisa diuji . , bisa disangkal . , dan bisa disalahkan . Gagasannya seperti ini telah mengantarkannya dikenal sebagai seorang epistemology rasional-kritis dan empirisis modern. Dunia Ketiga Selain persoalan falsifikasi. Popper juga menawarkan konsep tiga dunia sebagai pemecahan masalah. Dunia pertama, disebut dengan realitas. yaitu suatu realitas fisik atau Dunia kedua dipahami sebagai kejadian dan kenyataan dalam dunia psikis manusia. Dan dunia ketiga yaitu segala hipotesis, hukum, dan teori hasil ciptaan manusia dari hasil penggabungan antara dunia pertama dan kedua, seperti pada bidang kebudayaan, seni, metafisika, agama, dan lain-lain. Dalam analisis William A Gordan, mengklaim bahwa, dunia satu mewakili alam materi, dan dunia dua mewakili psikis subjektif. Sementara Popper menempatkan dirinya dalam dunia ketiga yang digambarkan sebagai dunia isi objektif dari yang ada, dunia produk dari pikiran manusia, dan dunia yang dapat dipahami, atau ide-ide dalam arti Popper juga menekankan bahwa dunia ketiga terinspirasi dari alam ide milik Plato, yaitu bentuk entitas otonom dari dunia nyata yang memainkan peran sentral dalam kognisi Perbedaan alam ide milik Plato dengan Popper adalah, bahwa dalam konsep Plato, alam ide itu bersifat abadi dan tidak dapat berubah serta bersifat ketuhanan, namun Muhammad Yuslih. AuEpistemologi Pemikiran Karl R Popper Dan Relevansinya Dengan Pemikiran Islam,Ay Journal Scientific Of Mandalika (JSM) 2, no. : 438Ae444, 442-443 https://doi. org/10. 36312/10. 36312/vol2iss9pp438-444. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 374 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Popper berpendapat bahwa dunia ketiga lebih kepada hasil konstruksi dari pemikiran Dunia ketiga merupakan pembeda antara dunia manusia dan binatang, dunia ketiga menentukan kepribadian manusia, cara bagaimana manusia menghayati dan merenungi Manusia dengan dunia kedua-nya dan ditambah lagi dengan dunia kesatu, dapat mengoreksi, menilai, mengolah dan bahkan mengembangkan dunia ketiga. Melalui konsep ini, maka peluang dunia ketiga untuk berkembang dan berubah seiring ditemukannya gagasan-gagasan baru yang dapat mengarah kepada kemajuan tidak bisa terhindarkan. Akar Falsifikasi dalam Islam Konsep falsifikasi yang di populerkan oleh Karl Popper ini sebenarnya telah ada dalam Islam jauh sebelum teori tersebut lahir sebagai buah pemikiran dari seorang filsuf asal Vienna dan Inggris ini. Dalam sejarah Islam, konsep falsifikasi sudah diterapkan dalam keilmuan Islam sejak lama, yaitu Sejak zaman Nabi Muhammad SAW dimana Al-QurAoan diwahyukan dan membawa sebuah pesan berupa tantangan untuk menguji kebenaran AlQurAoan sebagai kitab suci yang datang dari Tuhan. Secara eksplisit tantangan tersebut ditujukan kepada kaum kafir agar menguji Al-QurAoan dengan membuat surat atau ayat yang serupa dengan Al-QuAoran, hal ini tertuang dalam QS. Huud: 13 Setelah adanya tantangan untuk menguji . dengan membuat surat atau ayat yang serupa atau yang bisa menandingi Al-QurAoan, terbukti bahwa tidak ada seorang pun dari kaum kafir yang mampu untuk melakukannya. Dari peristiwa ini, terbukti bahwa kaum kafir sama sekali tidak bisa menemukan kesalahan ataupun kekurangan dalam AlQurAoan, malah sebaliknya, semakin mereka berusaha untuk menjatuhkan Al-QurAoan maka semakin kuat pula kebenaran Al-QurAoan tersebut yang mereka dapatkan. Fakta sejarah ini dapat disandingkan dengan konsep falsifikasi Popper yang mengatakan bahwa Ausemakin kuat suatu teori diuji, maka semakin kokohlah kebenarannyaAy. Dengan upaya-upaya penyangkalan terhadap Al-QurAoan, ternyata tidak ada sama sekali yang dapat melemahkan 20 William Gordan A. Karl R Popper and the Sosial Sciences (New York: State University of New York Press, 2. , 32-33 21 Muhammad Yuslih. AuEpistemologi Pemikiran Karl R Popper Dan Relevansinya Dengan Pemikiran Islam", 443 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 375 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kebenarannya sedikit pun, maka dengan hal itu. Al-QurAoan adalah suatu teori yang memiliki kebenaran yang semakin kokoh. Selain itu, metode falsifikasi ini juga pernah dilakukan oleh Imam Al-Ghazali dengan menyangkal . pemikiran para filosof muslim yang berbicara pada wilayah worldvieuw . etafisika ketuhana. Model penyangkalan . yang dilakukan oleh AlGhazali adalah dengan melakukan penolakan terhadap berbagai tokoh Neo-Platonik yang didasarkan pada dialektika untuk membangun akidah, yaitu menyatakan beberapa tesis terlebih dahulu, dan kemudian menyangkal argumen, bukan dengan memverifikasi tesis terlebih dahulu. Sebetulnya. Al-Ghazali hanyalah hendak menegaskan bahwa pada wilayah teologis, metafisika ketuhanan, umat Islam cukup hanya dengan mengimaninya saja, tidak boleh diragukan apalagi difalsifikasi. Selanjutnya, terdapat pula dalam tradisi studi Al-QurAoan dengan apa yang disebut sebagai naskh dan mansukh. Naskh adalah mengangkat . hukum syaraAo dengan dalil hukum . syaraAo yang lain. Dengan perkataan AuhukumAy, maka tidak termasuk dalam pengertian naskh menghapuskan AukebolehanAy yang bersifat asal . l-baraAoah al-asliya. Mansukh adalah hukum yang diangkat atau dihapuskan. Syarat-syarat: hukum yang mansukh adalah hukum syaraAo. Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab syarAoi yang datang setelahnya dari khitab yang hukumnya mansukh. 23 Tradisi ini berjalan dengan melihat konteks dan relevansi suatu ayat atau hadist yang memiliki kekhususan untuk menjawab problem yang ada saat dimana ayat atau hadist itu diturunkan. Karena suatu wahyu bisa hanya bersifat temporal yang berlaku hanya pada waktu tertentu, dan bisa bersifat universal karena memiliki relevansi yang melampaui zaman dari saat wayhu itu Artinya, bisa dipahami bahwa ayat atau teori hukum dalam Islam bisa difalsifikasi dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Implikasi Falsifikasi terhadap Keilmuan Islam Albadri. AuEpistemologi Pencapaian Ilmu Al-Ghazali,Ay Edupedia 5, no. : 25Ae34, 29 https://doi. org/10. 35316/edupedia. Manna Khalil Al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu QurAoan. Terj Mudzakir AS (Bogor: Litera Antarnusa, 2. , 327 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 376 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Sebagaimana tertulis pada latar belakang di awal tulisan ini, bahwa penelitian ini berangkat dari paradigma yang memandang Islam sebagai suatu ilmu, maka dengan demikian konsep epistemologi falsifikasi Popper tentu dapat diimplikasikan dalam kajian keilmuan atau pemikiran Islam mengingat sifat dari ilmu itu sendiri yang terbuka terhadap apapun sejauh itu dapat menjadikan suatu ilmu berkembang. Menurut Prof. Ugi Suharto, seorang ahli dalam pemikiran Islam, menyebut bahwa dalam wilayah keilmuan Islam, terdapat empat hierarki pemikiran, yaitu. Worldvieuw, kalam, fikih, dan siyasah dan Islamic worldview menempati urutan tertinggi dalam struktur pemikiran Islam yang berupa pemikiran mengenai kewujudan serta realitas dan kebenaran. Kewujudan baik secara fisik maupun metafisik yang sejak awal memiliki karakteristik yang telah matang, tetap, dan tidak berubah. Oleh sebab itu, struktur yang pertama inilah yang menjadi intipati dari agama Islam . ubb ad-dii. Selanjutnya, adalah kalam, kalam adalah wilayah pemikiran tentang akidah Islam . yang dibicarakan . Wilayah ini membicarakan tentang kebenaran esensi dan eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia. Berikutnya adalah fikih atau ushul fiqh, adalah wilayah pemikiran mengenai metode berpikir dan berhujjah untuk beramal dan beribadah. Secara khusus, ushul fiqh merupakan proses dan metodologi yang sistematik dalam membuat hukum-hukum amali. Terakhir, adalah siyasah dan kemasyarakatan, yang berupa wilayah persentuhan nilai-nilai Islam dengan wilayah politik, ekonomi, dan sosial, yang merupakan cabang dari fikih. Ini merupakan pemikiran yang paling bawah dari struktur pemikiran Islam dan sifatnya sangat pragmatis. Pada tataran Islamic Worldvieuw, umat Islam mengalami kesepakatan tunggal dengan menyakini suatu kebenaran yang sama, misalnya yang tertuang dalam rukun Islam: pengakuan akan ketuhanan beserta Utusan-Nya melalui kalimat Syahadat, perintah salat, puasa, zakat, serta haji, adalah suatu hal yang diyakini sepenuhnya tanpa ada berdebatan dan perbedaan pendapat. Namun, pada tataran di bawah worldvieuw, yaitu ketiga struktur pemikiran Islam pada wilayah kalam, fikih, dan siyasah kemasyarakatan, sejauh ini, selalu saja menimbulkan resistensi antar kelompok. Sehingga tidak mengherankan bilamana di Fathiannisa Cesaria. AuDr. Ugi Suharto: Umat Islam Harus Bersikap Inshof,Ay NuuN. id, 2017, https://w. id/dr-ugi-suharto-umat-islam-harus-bersikap-inshof, 1 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 377 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dalam tradisi keilmuan dan pemikiran Islam terbagi menjadi banyak aliran, diantaranya Pertama, fundamentalis, adalah model pemikiran yang sepenuhnya mempercayai doktrin Islam sebagai satu-satunya alternatif bagi kebangkitan Islam dan manusia. Kedua, tradisionalis . , adalah model pemikiran yang berusaha berpegang pada tradisi yang telah mapan di masa lalu. Ketiga, reformis, yaitu model pemikiran yang berusaha merekonstruksi ulang warisan budaya Islam dengan cara memberi tafsiran baru. Keempat, postradisionalis yaitu model pemikiran yang berusaha mendekonstruksi warisan Islam berdasarkan standar modern. Kelima, modernis yaitu model pemikiran yang hanya mengakui sifat rasional-ilmiah dan menolak kecenderungan mistik. Sebenarnya, seluruh model aliran pemikiran dalam Islam tersebut menandakan bahwa Islam memiliki khazanah keilmuan yang luar biasa, yang tergolong pada struktur pemikiran kalam, fikih, dan siyasah kemasyarakatan. Namun, kesadaran tersebut sepertinya tidak muncul, justru yang terjadi adalah klaim kebenaran sambil menyalahkan pihak lain yang tidak sepemikiran dan sejalan. Justru yang timbul adalah sakralisasi pemikiran, pengkultusan tokoh, dan polarisasi kelompok, sehingga hubungan antar pemikiran keilmuan sangat tidak harmonis. Pada konteks inilah, falsifikasi Popper dapat diimplikasikan. Sebagaimana prinsip falsifikasi itu sendiri adalah sebentuk uji terhadap suatu teori, konsep, produk pemikiran, dan pemahaman, untuk dipertahankan bilamana masih relevan dan akan digugurkan bilamana sudah tidak lagi relevan, adalah suatu hal penting untuk diterapkan dalam keilmuan Islam. Bahwa struktur pemikiran Islam di wilayah kalam, fikih, dan siyasah kemasyarakatan adalah wujud dari hasil pemikiran manusia dalam menginterpretasi kebenaran yang ada di dalam teks wahyu: Al-QurAoan dan Sunnah. Maka, sudah seyogyanya antar kelompok itu tidak saling menegasi dengan penuh emosional, tetapi justru harus saling AumemfalsifikasiAy diri untuk terus mendekat kepada kebenaran. Di wilayah struktur pemikiran Islam selain Islamic Worldvieuw, sejatinya memang mengizinkan terjadinya perdebatan ilmiah untuk memperkaya khazanah keilmuan yang Hasri Hasri. AuStudi Kritis Pemikiran Pemikir Islam Kontemporer,Ay Kelola: Journal of Islamic Education Management 1, no. : 33Ae47, https://doi. org/10. 24256/kelola. 427, 33 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 378 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 diimbangi dengan sikap saling terbuka dan menghargai. Bahwa perbedaan . adalah hal wajar dan dibolehkan sepanjang tidak menyelisihi nash yang ada dalam Al-QurAoan dan Sunnah. Falsifikasi miliki Popper tentu sangat relevan untuk diletakkan pada kerangka berpikir yang demikian, hanya saja perbedaanya dengan falsifikasi pada kaum positivistik adalah, bahwa bentuk uji pada kaum positivistik adalah dengan melakukan uji berupa eksperimen dan uji relevansi, sementara dalam Islam, bentuk falsifikasi . ji teor. yang terjadi adalah dengan menakar kalkulasi maslahat. Maka, falsifikasi pada akhirnya akan mampu meruntuhkan dogmatisme pemikiran agama yang disakralisasikan. Sikap ekstrim dan eksklusif akan mampu dihilangkan dengan landasan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, konsep tiga dunia Popper sebenarnya meupakan pandangan teoritisfilosofis yang sangat penting dan memiliki relevansinya jika dimplikasikan ke dalam keilmuan Islam. Bahwa setiap manusia memiliki konstruksi pemikiran yang khas dan satu sama lainnya berbeda. Dunia ketiga milik Popper menghendaki perkembangan dan perubahan secara terus-menerus, mengingat sebuah ide selalu muncul dan baru. Dalam keilmuan Islam, hal ini penting untuk disadari bahwa suatu konstruksi pemikiran manusia merupakan hasil dari perenungan dan penghayatannya masing-masing yang mesti dihargai. Maka, dengan dunia ketiga ini, diharapkan keilmuan Islam akan terus berada pada ruang dinamis yang inklusif. Kesimpulan Falsifikasi Popper adalah sebentuk uji terhadap teori yang sudah berlaku dan ditetapkan, dengan melihat potensi salah atau tidak relevan di satu sisi, dan mengokohkan teori tersebut bilamana masih terbukti benar dan relevan di sisi lainnya. Implikasi falsifikasi miliki Popper dalam kajian keilmuan Islam adalah menghilangkan dogmatisme kelompok keagamaan yang mengklaim suatu kebenaran akan suatu pemahaman sambil menyalahkan pemahaman yang berbeda dari kelompok lain. Selain itu, melalui konsep tiga dunia milik Popper, kajian keilmuan Islam dapat masuk pada ruang dinamis dengan nuansa iklusifitas yang baik. Dengan demikian, kajian keilmuan Islam akan terus mengalami pembaharuan serta kemajuan seiring dengan berkembangnya zaman. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 379 Volume 10,No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 DAFTAR PUSTAKA