ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Implementasi Program KARE dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dimensi Beriman Bertakwa Siswa Silvia Pramesthi SiwiA. Koko PrasetyoA Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1,2. Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo 1,2 silviapss@gmail. com1, kokoprst@gmail. Abstrak Penguatan karakter religius siswa menjadi penting dalam mendukung implementasi Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan Program KARE (Kamis Relig. serta mengidentifikasi kendala dalam penguatan karakter religius siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek kepala sekolah, guru, dan siswa, serta teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang divalidasi dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program KARE dilaksanakan secara sistematis melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta mampu menguatkan lima aspek yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama, akhlak kepada alam, dan akhlak Siswa menunjukkan peningkatan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan Namun, masih terdapat kendala berupa kedisiplinan siswa, perbedaan kemampuan, dan keterbatasan sarana. Secara keseluruhan, program ini efektif dan berpotensi sebagai strategi berkelanjutan dalam penguatan karakter di sekolah dasar. Kata Kunci: program KARE, karakter religius, profil pelajar Pancasila, sekolah dasar. Abstract The strengthening of studentsAo religious character is essential in supporting the implementation of the Pancasila Student Profile, particularly the dimension of faith and devotion to God. This study aims to describe the implementation of the KARE (Kamis Relig. program and identify its constraints in strengthening studentsAo religious character. This research uses a descriptive qualitative approach involving principals, teachers, and students, with data collected through observation, interviews, and documentation, and validated using triangulation techniques. The results show that the KARE program is implemented systematically through preparation, implementation, and evaluation stages, and effectively strengthens five aspects: religious morals, personal morals, social morals, environmental awareness, and civic attitudes. Students demonstrate improved discipline, responsibility, and religious practices. However, challenges remain, including studentsAo discipline, differences in ability, and limited facilities. Overall, the program is effective and has significant potential as a sustainable strategy for strengthening character education in elementary schools. Keywords: KARE program, religious character. Pancasila student profile, elementary school. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda agar menjadi individu yang beriman, bertakwa, serta berakhlak mulia. Dalam sistem pendidikan nasional, kurikulum menjadi komponen utama yang mengarahkan seluruh proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan (Kamiludin & Suryaman, 2. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Kurikulum merupakan seperangkat program pendidikan yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hidayani, 2. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan zaman (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Seiring dengan perkembangan globalisasi dan digitalisasi, terjadi berbagai perubahan sosial yang berdampak pada perilaku peserta didik. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam akses informasi, namun juga berdampak pada menurunnya nilai religius dan meningkatnya individualisme. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan saat Pembentukan karakter religius sejak usia dini sangat penting karena akan memengaruhi perkembangan kepribadian siswa di masa depan (Azizah et al. , 2. Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, pemerintah mengembangkan Kurikulum Merdeka sebagai inovasi dalam sistem pendidikan (Monaliza & Marta, 2. Kurikulum ini memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan dalam mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa (Sumarsih et al. , 2. Selain itu. Kurikulum Merdeka bertujuan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa serta menguatkan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila (Mahabatillah et al. , 2. Profil Pelajar Pancasila merupakan gambaran ideal karakter dan kompetensi yang harus dimiliki peserta didik (Rusnaini et al. , 2. Profil ini menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari siswa (Ristiani et al. , 2. Salah satu dimensi utama dalam Profil Pelajar Pancasila adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi dasar dalam pembentukan karakter siswa. Dimensi ini menekankan pentingnya pengamalan ajaran agama dalam kehidupan seharihari (Kahfi, 2. Implementasi dimensi beriman dan bertakwa tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui kegiatan pembiasaan yang terintegrasi dalam budaya sekolah (Lubaba & Alfiansyah, 2. Selain itu, pembentukan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila juga dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler (Yunita, 2. Dengan demikian, penguatan karakter religius memerlukan pendekatan yang berkelanjutan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan pengalaman langsung siswa. Namun, dalam praktiknya, penguatan nilai religius di sekolah dasar masih terbatas pada kegiatan intrakurikuler. Keterbatasan waktu pembelajaran serta kurangnya program pembiasaan yang terstruktur menyebabkan internalisasi nilai beriman dan bertakwa belum optimal. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa faktor penghambat dalam pembentukan Profil Pelajar Pancasila meliputi keterbatasan waktu, kurangnya variasi strategi pembelajaran, serta rendahnya partisipasi siswa (Fauzi et al. , 2. Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah siswa sekolah dasar dengan jumlah 151 siswa yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan agama yang beragam. Lingkungan sekolah yang berada di kawasan pemukiman padat dengan karakteristik ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 masyarakat heterogen menjadi tantangan sekaligus potensi dalam pelaksanaan penguatan karakter religius. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang inklusif dan adaptif dalam merancang program pembiasaan religius. Salah satu upaya yang dilakukan adalah implementasi Program KARE (Kamis Relig. sebagai kegiatan pembiasaan religius di lingkungan sekolah. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui kegiatan ibadah, pembiasaan doa, serta penyampaian nilai-nilai moral. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji implementasi Profil Pelajar Pancasila melalui kegiatan keagamaan, pembiasaan karakter, maupun budaya sekolah. Namun, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada implementasi umum Profil Pelajar Pancasila tanpa mengkaji secara mendalam program khusus yang dirancang sekolah sebagai strategi penguatan dimensi beriman dan bertakwa. Penelitian mengenai Program KARE sebagai bentuk inovasi pembiasaan karakter religius di lingkungan sekolah dasar masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai implementasi Program KARE serta kontribusinya dalam memperkuat dimensi beriman dan bertakwa pada Profil Pelajar Pancasila. Pembiasaan keagamaan terbukti mampu meningkatkan karakter beriman dan bertakwa serta membentuk akhlak mulia (Yusuf, 2. Selain itu, kegiatan religius yang dilakukan secara rutin juga dapat meningkatkan kedisiplinan dan sikap spiritual siswa (Wulandari et al. , 2. Penguatan dimensi beriman dan bertakwa melalui kegiatan pembelajaran juga terbukti efektif dalam membentuk karakter siswa sesuai nilai Pancasila (Lestari et al. , 2. Namun demikian, implementasi penguatan Profil Pelajar Pancasila masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan dimensi beriman dan bertakwa belum berjalan optimal tanpa dukungan budaya sekolah yang konsisten (Jannah, 2. Oleh karena itu, diperlukan program yang terstruktur dan berkelanjutan dalam menguatkan nilai religius siswa. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam kegiatan ini adalah bagaimana implementasi Program KARE (Kamis Relig. dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi beriman dan bertakwa serta bagaimana ketercapaian sasaran kegiatan Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan Program KARE serta mengidentifikasi ketercapaian sasaran dalam pembentukan karakter religius METODE Metode penerapan dalam kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis pelaksanaan Program KARE (Kamis Relig. dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi beriman dan bertakwa. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang mendalam terhadap proses pelaksanaan kegiatan serta perubahan perilaku yang terjadi pada sasaran kegiatan secara langsung (Sugiyono, 2. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan melibatkan sasaran utama yaitu siswa sekolah dasar yang berjumlah 151 siswa dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan agama yang beragam. Selain siswa, kegiatan ini juga melibatkan guru dan kepala sekolah sebagai pihak yang berperan dalam mendukung keberhasilan program. Karakteristik sasaran yang heterogen tersebut menjadi dasar dalam penerapan metode yang bersifat inklusif dan adaptif agar seluruh siswa dapat berpartisipasi secara optimal. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan identifikasi permasalahan terkait penguatan karakter religius siswa, analisis kebutuhan kegiatan, serta koordinasi dengan pihak sekolah. Selain itu, pada tahap ini juga dilakukan penyusunan rencana kegiatan serta penyiapan sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan Program KARE. Tahap pelaksanaan merupakan inti dari kegiatan pengabdian yang dilakukan melalui implementasi Program KARE (Kamis Relig. secara rutin. Kegiatan ini meliputi pelaksanaan ibadah sesuai dengan agama masing-masing siswa, pembiasaan doa dan hafalan, serta penyampaian nilai-nilai religius melalui tausiah atau firman Tuhan. Kegiatan tersebut dirancang sebagai bentuk pembiasaan yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan untuk menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selanjutnya, tahap evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat ketercapaian kegiatan dengan mengamati perubahan perilaku siswa, tingkat partisipasi, serta kendala yang dihadapi selama kegiatan berlangsung. Pengumpulan data dalam kegiatan ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan serta perilaku siswa selama program berlangsung. Wawancara dilakukan kepada guru, kepala sekolah, dan siswa untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai pelaksanaan kegiatan dan dampaknya. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa catatan kegiatan dan bukti visual pelaksanaan program. Keabsahan data dalam kegiatan ini diperkuat melalui teknik triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai sumber dan teknik untuk memperoleh hasil yang valid (Moleong, 2. Triangulasi juga digunakan untuk memastikan konsistensi data yang diperoleh selama kegiatan berlangsung (Sugiyono, 2. Keberhasilan kegiatan pengabdian diukur secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan beberapa indikator yang mencerminkan perubahan pada sasaran kegiatan. Indikator tersebut meliputi perubahan sikap, perubahan sosial budaya, serta tingkat partisipasi siswa. Perubahan sikap dapat dilihat dari meningkatnya kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan, meningkatnya kebiasaan beribadah dan berdoa, serta berkembangnya sikap tanggung jawab dan sopan santun. Perubahan sosial budaya ditunjukkan melalui terbentuknya budaya religius di lingkungan sekolah, meningkatnya sikap saling menghargai antar siswa, serta meningkatnya kepedulian terhadap Sementara itu, tingkat partisipasi diukur melalui keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan, keterlibatan dalam setiap rangkaian kegiatan, serta antusiasme siswa selama program berlangsung. Indikator tersebut mengacu pada dimensi beriman dan ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 bertakwa dalam Profil Pelajar Pancasila yang mencakup aspek akhlak beragama, akhlak pribadi, dan akhlak sosial (Kahfi, 2. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (A. Yusuf, 2. Proses analisis dilakukan secara berkelanjutan selama kegiatan berlangsung untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai pelaksanaan program dan dampaknya terhadap Tingkat ketercapaian keberhasilan kegiatan ditentukan berdasarkan perubahan yang terjadi pada aspek sikap, sosial budaya, dan perilaku siswa. Kegiatan dinyatakan berhasil apabila sebagian besar siswa menunjukkan perubahan positif secara konsisten dalam hal religiusitas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil kegiatan pengabdian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait pelaksanaan Program KARE (Kamis Relig. dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi beriman dan bertakwa. Berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan program KARE di sekolah dasar berjalan secara terstruktur dan rutin setiap hari Kamis sebelum pembelajaran dimulai. Seluruh siswa mengikuti kegiatan sesuai dengan agama masing-masing, baik siswa beragama Islam maupun nonmuslim, sehingga program ini bersifat inklusif. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi sholat dhuha berjamaah, hafalan surat pendek dan doa harian, serta penyampaian tausiah bagi siswa beragama Islam. Sementara itu, siswa nonmuslim melaksanakan doa bersama, membaca kitab suci, dan mendengarkan firman Tuhan. Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan sikap religius, tertib, dan antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil wawancara dengan kepala sekolah menunjukkan bahwa program ini merupakan bagian dari kebijakan sekolah dalam penguatan karakter siswa. Hal ini diperkuat dengan pernyataan kepala sekolah sebagai berikut: AuProgram Kare ini dimulai sejak tahun 2024, sesuai dengan visi sekolah tahun ajaran 2024/2025. Saya membuat beberapa program untuk mewujudkan penguatan profil pelajar Pancasila dan salah satunya yaitu Program Kare (Kamis Relig. Ay Selain itu, program ini juga dipandang sebagai bentuk pembiasaan religius yang dilakukan secara rutin. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan: AuProgram Kare merupakan kegiatan pembiasaan positif yang rutin dilaksanakan pada hari kamis pagi pukul 07. 15 WIB sebelum jam pembelajaran dimulai. Ay Dari sisi pelaksanaan kegiatan, guru agama menjelaskan bahwa kegiatan dilakukan secara bertahap mulai dari persiapan hingga evaluasi. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan berikut: ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 AuSebelum kegiatan dimulai, siswa diarahkan untuk segera berkumpul di halaman sekolah pada pukul 07. 15 WIB dengan membawa perlengkapan ibadah masingmasing. Ay Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan kegiatan, siswa mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan dengan baik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan guru: AuKegiatan pertama, sholat dhuha yang dilaksanakan pada pukul 07. Lalu dilanjutkan hafalan surat pendek dan doa harian. dan kegiatan yang terakhir, tausiah terkait adab, perilaku sopan santun, dan lain-lain. Ay Sementara itu, siswa juga merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut, sebagaimana disampaikan dalam hasil wawancara: AuKegiatannya menyenangkan dan membuat semangat. Ay Selain itu, siswa juga mulai menunjukkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti lebih rajin beribadah dan berdoa. Hal ini diperkuat dengan pernyataan AuIya, jadi lebih rajin sholat, dan berdoa kalau mau melakukan sesuatu. Ay Berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Program KARE juga menunjukkan ketercapaian dalam lima aspek dimensi beriman dan bertakwa, yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak Siswa menunjukkan peningkatan dalam kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai. Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala. Hal ini diperkuat dengan pernyataan guru: AuMasih ada kendala terkait kedisiplinan siswa yang belum optimal dan masih kurangnya antusiasme sebagian siswa dalam mengikuti kegiatan. Ay Selain itu, keterbatasan sarana juga menjadi hambatan, sebagaimana disampaikan: AuKeterbatasan jumlah buku Juz Amma yang belum mencukupi juga menjadi Ay Pembahasan Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa Program KARE (Kamis Relig. mampu menjadi strategi efektif dalam penguatan karakter religius siswa, khususnya pada dimensi beriman dan bertakwa dalam Profil Pelajar Pancasila. Hal ini sejalan dengan konsep Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa serta penguatan karakter melalui pengalaman langsung (Sumarsih et al. , 2. Pelaksanaan kegiatan pembiasaan religius melalui Program KARE terbukti mampu membentuk kebiasaan positif siswa. Siswa tidak hanya melaksanakan kegiatan ibadah, tetapi juga mulai menginternalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa pembiasaan keagamaan dapat membentuk karakter beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia (Yusuf, 2. Selain itu, kegiatan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur juga berkontribusi terhadap peningkatan kedisiplinan dan sikap sosial siswa. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa kegiatan religius yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan sikap ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 spiritual dan perilaku positif siswa (Wulandari et al. , 2. Dari sisi implementasi Profil Pelajar Pancasila. Program KARE telah mencerminkan penguatan dimensi beriman dan bertakwa melalui lima aspek utama, yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara. Hal ini sesuai dengan konsep dimensi beriman dan bertakwa yang menekankan pengamalan nilai agama dalam berbagai aspek kehidupan (Kahfi, 2. Lebih lanjut, keberhasilan program ini juga dipengaruhi oleh keterlibatan aktif seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru. Peran guru sebagai pembimbing dan teladan sangat penting dalam membentuk karakter siswa, sebagaimana dinyatakan bahwa faktor pendidik menjadi salah satu pendukung utama dalam pembentukan karakter (Fauzi et al. , 2. Meskipun Program KARE telah berjalan dengan baik, hasil penelitian menunjukkan masih terdapat beberapa siswa yang kurang disiplin dalam mengikuti Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi rendahnya kesadaran diri siswa terhadap pentingnya pembiasaan karakter religius, sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan kurangnya pengawasan orang tua serta lingkungan pergaulan yang kurang mendukung penerapan nilai-nilai religius di luar sekolah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sekolah menerapkan berbagai strategi seperti pemberian motivasi secara berkelanjutan, pendampingan oleh guru, serta penguatan kerja sama dengan orang tua melalui komunikasi rutin. Pendekatan ini dilakukan agar nilai-nilai yang ditanamkan melalui Program KARE tidak hanya diterapkan di sekolah tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Temuan penelitian ini sejalan dengan teori pembiasaan . abit formation theor. yang menyatakan bahwa perilaku positif dapat terbentuk melalui aktivitas yang dilakukan secara berulang dan konsisten. Pembiasaan kegiatan religius dalam Program KARE memungkinkan siswa menginternalisasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan sehingga menjadi bagian dari karakter mereka (Fauzi et al. , 2. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa budaya sekolah berbasis religius memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter siswa. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan penguatan karakter tidak hanya bergantung pada program sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga dan lingkungan sosial siswa. Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa Program KARE (Kamis Relig. merupakan salah satu bentuk praktik baik . est practic. dalam penguatan karakter religius siswa di sekolah dasar. Program ini tidak hanya mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam membentuk siswa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 8 No. 1 Ae Juni 2025 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi Program KARE (Kamis Relig. di SD Negeri Tegal Rejo telah berjalan secara terstruktur melalui kegiatan rutin keagamaan sebagai bentuk pembiasaan yang mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi beriman dan bertakwa. Program ini mampu meningkatkan sikap religius, kedisiplinan, dan perilaku positif siswa sesuai dengan tujuan penelitian. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan kendala, seperti kedisiplinan siswa yang belum optimal, perbedaan kemampuan siswa, serta keterbatasan sarana dan prasarana. Sejalan dengan temuan tersebut, disarankan agar sekolah terus mengoptimalkan pelaksanaan program melalui evaluasi berkelanjutan, peningkatan fasilitas, serta penguatan peran guru dalam pendampingan siswa. Program KARE juga memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut, baik melalui integrasi dengan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , pemanfaatan inovasi pembelajaran, maupun penerapan pada konteks sekolah lain sebagai model pembiasaan religius dalam pendidikan karakter. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan pendekatan yang berbeda untuk mengukur efektivitas program secara lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA