Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Belenggu Kemiskinan : Membongkar Pendidikan Dan Karakter Anak (Studi Kasus Masyarakat Urban Di Makam Rangkah. Surabay. Audea Septiana1. Naimatul Chariro2. Khuzaimah3. Farid Pribadi4 1,2,3,4 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20041@mhs. 20046@mhs. 21060@mhs. faridpribadi@unesa. Abstract The research explores poverty in shaping children's education and character in the urban community of Makam Rangkah Surabaya. Therefore, this research applies a qualitative method with Yin's case study The case study functions to explore, investigate, and identify a social phenomenon in an empirical and realistic context in Makam Rangkah Surabaya. The results show that education is the main way for the Makam Rangkah community to get out of the shackles of poverty. Furthermore, the educational process also creates the formation of positive characters, such as responsibility, progressive thinking, empathy, tolerance, and so on. Penelitian ini berupaya mengeksplorasi kemiskinan dalam membentuk pendidikan dan karakter anak di masyarakat urban Makam Rangkah Surabaya. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus Yin. Studi kasus berfungsi menggali, menyelidiki, dan mengidentifikasi suatu fenomena sosial dalam konteks empiris dan realistis di Makam Rangkah Surabaya. Hasil penelitian menujukkan bahwa pendidikan menjadi jalan utama masyarakat Makam Rangkah keluar dari belenggu kemiskinan. Lebih lanjut, proses pendidikan yang didapat juga menciptakan terbentuknya karakter positif, seperti bertanggung jawab, berpikir progresif, berempati, bertoleransi, dan lain sebagainya. Keywords: Poverty. Urban Community. Children. Education. Character Pendahuluan Masyarakat kerap kali memandang kota sebagai Ausurga duniaAy, gemerlap dan pesatnya perkembangan berbagai sektor industri tumpah ruah menjadi satu. Sehingga, perkotaan melekat dengan karakteristik kemajuan, kesempurnaan, dan kemewahan (Damsar dan Indrayani, 2. Tidak terkecuali, kota Surabaya. Kota pahlawan ini menduduki peringkat kedua di Indonesia dengan laju perkembangan yang tinggi. Maka tidak heran, bahwa banyak masyarakat daerah luar Surabaya, seperti Madura. Lamongan. Jember. Blitar, dan lain-lain begitu mengagungkan-agungkan kehidupan di perkotaan (Indahri, 2. Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Padahal realitanya, kota menjelma sebagai pemuiman heterogeny yang menciptakan praktik Gilbert dan Gulger . mengidentifikasi bahwa karakter hubungan sosial diperkotaan ditandai dengan anominitas, temporer, dan tanpa rasa. Dalam perkotaan tidak ada solidaritas atas dasar kebersamaan maupun cinta, melainkan hanya perhitungan untung-rugi nya saja, atau dalam istilah Durkheim disebut dengan solidaritas organik (Kurniawan, 2. Hubungan sosial kota yang pragmatis tersebut menciptakan persaingan antar individu di perkotaan (Jamaludin, 2. Terjadi pertarungan modal budaya yang sengit antar individu dalam memperebutkan pekerjaan di kota, tidak terkecuali antar pedagang yang menyelisihkan lahan dagangan. Dengan begitu, kota menjadi pusat area pertarungan manusia. Akan tetapi, realitas diatas tidak terjangkau hingga masyarakat desa. Karena, imajinasi perkotaan yang megah telah terinternalisasi melalui media massaAiiklan, film, dan media sosial. Dengan begitu, masyarakat desa telah terjebak dalam paradoks perkotaan yang melahirkan urbanisasi secara Berdasarkan penelitian Mardiansjah & Rahayu . Surabaya merupakan kota kedua terbesar sebagai rujukan urbanisasi dalam bentuk migrasi. Dilansir dari Jawapos. com, pada tahun 2021 penduduk di Surabaya berjumlah 2,9 juta jiwa, yang artinya meningkat sebanyak 4,4% sejak sepuluh tahun terakhir dan pemicu terbesarnya adalah urbanisasi. Dampak terprovokasinya masyarakat urban dalam paradoks perkotaan adalah terasingkan dari masyarakat dan berujung pada kemiskinan. Kondisi kehidupan dalam kemiskinan tidak cukup untuk mencapai standar kesehatan minimum dan kehidupan yang layak (Horton dan Hunt, 1989. (Damsar & Indrayani, 2. Sehingga, bagi masyarakat urban kemiskinan tidak sesederhana Autidak bisa makanAy. Lebih dari itu, kemiskinan justru menciptakan persoalan sosial lain yang lebih kompleks di perkotaan, seperti meningkatnya pengangguran, pengemis, dan pemukiman kumuh. Permasalahan lebih serius terjadi pada masyarakat urban yang telah memiliki anak. Sebab, anakanak mereka harus tumbuh dan belajar dalam kungkungan kemiskinan. Berbagai kajian tentang kemiskinan dan anak menunjukkan bahwa terjadi eksploitas anak akibat kondisi ekonomi yang tidak tercukupi (Tumengkol, 2. Kemudian, riset Indira . menemukan akibat kemiskinan terhadap rendahnya tingkat pengasuhan anak. Padahal, pola pengasuhan berimbas langsung terhadap pembentukan karakter anak. Riset NaAoimah . berupaya menyoroti karakter anak miskin di keluarga Purwoketo, hasilnya menunjukkan bahwa ada cenderung kurang percaya diri, merasa tidak memiliki harga diri, mudah tersinggung, dan agresif. Karakter tersebut dipengaruhi oleh aktifitas yang dirasakan oleh anak. Namun, berbeda dengan masyarakat miskin pada riset-riset sebelumnya, hasil data awal peneliti menunjukkan bahwa anak-anak di Makam Rangkah justru memiliki karakter positif. Padahal, anakanak tersebut hidup dalam kemiskinan, orang tua yang berpenghasilan rendah, dan berada di lingkungan kumuh. Oleh sebab itu, peneliti ingin mengeksplorasi kemiskinan dalam membentuk pendidikan dan karakter anak di masyarakat urban Makam Rangkah Surabaya. Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Berbagai kajian tentang kemiskinan sudah banyak dilakukan. Riest Novaria, dkk . dan Nuqoba, dkk . berupaya mengentas kemiskinan di lingkungan Makam Rangkah Surabaya melalui pemberdayaan masayrakat dalam bidang kewirausahaan dan teknologi informas . ual beli onlin. Riset Winoto . membongkar reproduksi kemiskinan pada masayakat Makam Rangkah dengan pisau analisis Reproduksi Sosial Bourdieu. Selanjutnya, riset Sugiharto . melihat mekanisme pertahanan hidup masyarakat urban di Makam Rangkah. Melalui studi etnografi riset (Syaida & Harianto, 2. berhasil membongkar budaya kemiskinan yang mengakar pada kelompok tukang bawak di Makam Rangkah. Kajian lemiskinan dan pendidikan sudah banyak dilakukan. Beberapa mengulas strategi pembentukan pendidikan karakter pada anak miskin maupun anak jalanan dilakukan dengan menerapkan berbagai program, konsep, maupun pendekatan yang variatif. Riset Damayanti & Adi . menerapkan pendekatan Street Based. Centre Based, dan Comunicaty Based. Riset Lestari . mengimplementasikan konsep home visit dan in house dengan menanamkan karakter religious, mandiri, tanggung jawab, disiplin, dan jujur. Sedangkan, riset Indrasari & Jubair . melalui program TK/TPA. Akan tetapi, berbagai riset yang dipaparkan secara komprehensfif belum membahas bentuk karakter anak di likungan masyarakat miskin. Oleh karena itu, untuk melengkapi kekurangan tersebut peneliti berupaya untuk membongkar bagaimana kemiskinan dalam membentuk pendidikan dan karakter anak di Makam Rangkah. 2 Kemiskinan Masyarakat Urban: Merampas Pendidikan Anak Perpindahan masyarakat dari desa ke kota tanpa keahlian yang memumpuni menyebabkan Imbasnya menjamur pemukiman kumuh dan timbulnya lingkungan tidak sehat (Damsar & Indrayani, 2. Kemiskinan pada masyarakat urban dapat dilihat sebagai penindasan. Penindasan terjadi karena belum tumbuhnya kesadaran dalam diri seseorang. Menurut Freire terdapat tiga jenis kesadaran, yakni mistis, naif, dan kritis (Freire, 2. Pertama. Kesadaran magis, dalam tingkatan ini manusia melihat kehidupan mereka sebagai sesuatu yang natural, dan tidak dapat diubah. Kehidupan yang mereka alami cenderung dikaitkan dengan takdir, mitos, dan kekuatan superior yang secara empiris muapun ilmiah tidak terbukti. Kedua. Kesadaran naif, pada tataran ini kesadaran sudah menjadi subjek yang mampu berdialog dengan yang lain. Namun, belum berada pada tahap memahami realitas dalam true act of knowing. Ketiga Kesadaran Kritis, manusia mampu berpikir dan bertindak sebagai subjek, serta memiliki kemampuan memahami realitas dalam teks dan realitasnya (Freire, 2. Kesadaran masyarakat di makam Rangkah berada pada kesadaran magis. Berhentinya kesadaran mereka pada tahap pertama juga berimbas pada pendidikan anaknya. Upaya mengentas penindasan dapat ditempuh melalui pendidikan. Sebab, pendidikan menjadi proses pemerdekaan, bukan Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. penjinakan sosial budaya . ocial and culture domesticatio. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia, maka dari itu secara metodologis bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yaitu prinsip bertindak untuk mengubah kenyataan yang menindas dan pada sisi smultan lainnya secara berkelanjutan menumbuhkan kesadaran akan realitas dan Hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas (Freire, 2. Freire menekankan konsep pendidikan dialogis, di mana tidak menjadikan seseorang sebagai objek, melainkan sebagai subjek. 3 Kemiskinan Masyarakat Urban: Merampas Pendidikan Anak Lewis memandang kemiskinan sebagai cara hidup atau kebudayaan dengan unit sasaran mikro, yakni keluarga. Sebab, keluarga sebagai satuan sosial yang paling kecil dan sebagai pranata sosial pendukung kebudayaan kemiskinan (Palikhah, 2. Kebudayaan kemiskinan mencerminkan usaha dalam menanggulangi rasa putus asa dan tidak ada harapan atas perwujudan dan daru kesadaran bahwa dalam mencapai kesuksesan kehidupan mustahil diraih sesuai dengan tujuan dan nila-nilai masyarakat yang lebih luas (Damsar & Indrayani, 2. Selain itu. Lewis juga menekankan bahwa kemiskinan budaya bawaan, yakin pola-pola perilaku dan nilai-nilai khusus yang dimiliki golongan miskin, tidak hanya membentuk budaya yang terpisah. Melainkan juga membentuk variasi budaya nasional sebagai sub budaya. Selanjutnyam Lewis juga menyatakan bahwa budaya kemiskinan tidak hanya sebagai adaptasi pada sejumlah keadaan objektif masyarakat yang lebih luas. Agaknya, sesekali budaya kemiskinan itu Oleh sebab itu, budaya kemiskinan cenderung mengalami transformasi dari satu generasi ke generasi karna itu berdampak pada anak-anak. Pada anak perkampungan kumuh usia 6 atau 7 tahun biasanya sudah mampu menyerap nilai-nilai dasar dan sikap subbudayanya, serta secara psikologi tidak ditopang dengan kesempatan-kesempatan demi kehidupan mereka (Palikhah, 2. Maka tidak heran jika kemiskinan kultural berpengaruh cukup kuat dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan metode yang berfungsi menggali, menyelidiki, dan mengidentifikasi suatu fenomena sosial dalam konteks empiris dan realistis (Yin, 1. Penelitian ini berlokasi di Makam Rangkah Surbaya. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, mulai September Ae November 2022. Pemilihan lokasi didasarkan pada dua alasan, yaitu masyarakat makam rangkah merupakan produk urbanisasi yang tidak memiliki keterampilan secara spesifik untuk bekerja. Kedua, makam rangkah menjadi tempat tinggal masyarakat migran yang bekerja di sektor informal dengan gaji rendah. Pemilihan subjek didasarkan pada teknik Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Sementara, pengumpulan data dilakukan melelui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mengadopsi model Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan Kesimpulan(Miles & Huberman, 1. Hasil dan Pembahasan 1 Mengupas Sosial Budaya Masyarakat Rangkah Area Makam Rangkah bukan sekadar tempat pemakaman umum, area itu menjelma sebagai pemukiman semi-permanen. Fenomena ini hadir akibat Pembangunan rumah-rumah yang dilakukan masyarakat urban. Hunian tersebut beridi di atas tanah pemerintah Ae Pemakaman umum Rangkah. Kendati demikian, mayoritas warganya secara administrative sudah menjadi warga Surabaya, terbukti dari dokumen KTP dan KK Surabaya. Area pemukiman makam rangkah berada di Kecamatan Tambakrejo, tepatnya RW XII dengan naungan empat RT. Menurut Maghfiro . kawasan makan rangkah bisa disebut AuIlegal tapi legalAy Potret kemiskinan kota tergambar dengan gamblang di area pemukiman Makam Rangkah. Representasinya secara fisik dan nyata memperlihatkan lingkungan kelompok miskin, seperti kumuh, berantakan, tidak sehat, sesak, dan lain sebagainya(Hidayati, 2. pemulung, tukang bawak . embersih maka. , pedagang kaki lima, tukang becang, dan pengamen. Pekerjaan tersebut menghasilkan upah sekitar 500. 000 setiap bulan. Rendahnya penghasilan membuat antar tetangga saling berhutang. Kendati demikian, masyarakat makam Rangkah memiliki solidaritas dan kesadaran untuk keluar dari jurang kemiskinan. Upaya ini ditinjau dari dua tindakan, pengorganisasian kelompok dan sikap progresif terhadap pendidikan. Pertama, dalam masyarakat RT. 03 terbentuk kelompok pemulung yang terorganisir dan diketuai oleh Pak Husin . elaku RT. Pak Husin selaku pemimpin selalu mengusahakan adanya program pemberdayaan bagi warganya, seperti posyandu gratis, klinik gratis, program mahasiswa KKN, ataupun pelatihan-pelatihan untuk UMKM. Kedua, sikap progresif orang tua kepada anaknya terkait pendidikan. Sikap progresif masyarakat terhadap pendidikan merupakan upaya yang utama untuk mengentas Sebab, hanya pendidikan modal yang bisa dijangkau oleh masyarakat miskin (Bourdieu. Meski memiliki pendapatan yang rendah orang tua di Makam Rangkah tidak menuntut anak andil mencari uang, mereka justru memberi ruang bagi anak-anak untuk fokus belajar dan sekolah. Dalam menumbuhkan keterampilan anak, di Makam Rangkah juga tersedia progam-progam pendidikan yang progresif. Misal. KBM dari komunitas sosial, baca-tulis Al QurAoan dari relawan, dan belajar bahasa asing dari mahasiswa. Lebih lanjut, pengorganisasian pemulung juga mengupayakan beasiswa bagi anak-anak, agar terus mengenyam pendidikan. Sehingga, beberapa anak mendapat bantuan beasiswa dari yayasan pondok pesantren, lembaga gereja, hingga komunitas sosial. Dengan Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. begitu, masyarakat miskin di Makam Rangkah bukan masyarakat yang tunduk terhadap kemiskinan. Melainkan, masyarakat yang progresif mengentas kemiskinan. 2 Pendidikan dan Karakter: Meruntuhkan Budaya Kemiskinan Masyarakat Makam Rangkah Kegigihan dan gejolak semangat belajar anak di Makam Rangkah menunjukkan penolakan stereotip kebudayaan bisu pada masyarakat miskin. Orang tua memiliki kesadaran untuk memangkas kemiskinan kepada anaknya melalui akses pendidikan. Orang dalam kungkungan bisu tidak menyadari bahwa mereka sedang bisu dan dibisukan. Sedangkan, orang tua dan anak di Makam rangkah sudah menyadari dan menguasai realitas hidup mereka sebagai golongan orang miskin. Maka dari itu, mereka tersadar bahwa pendidikan sebagai jembatan pengentas kemiskinan. Pengentasan kemiskinan melalui pendidikan memerlukan nara didik yang mampu membebaskan dan memberdayakan siswa, sehingga ringkihan suara siswa yang sesungguhnya mampu terdengar (Zulyanto, 2. Kondisi pendidikan di makam Rangkah kini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Jika temuan (Winoto, 2. vmenunjukkan bahwa mayoritas pendidikan anak-anak di makam Rangkah Kini, sudah mengalami transformasi yang lebih baik. Keberadaan kota metropolitan tidak menggerus pendidikan tradisonal di daerah Makam Rangkah. Kegiatan pendidikan tradisional masih terus berjalan, hal ini tidak terlepas dari historitas masyarakat makam Rangkah yang berasal dari Madura. Durkheim . dalam Ulumuddin . menegaskan bahwa fungsi pendidikan dalam mensosialisasikan nilai dan norma sejalan dengan model pendidikan tradisional seperti sekolah madrasah, sekolah rakyat, sekolah di langar tradisional di Madura. Maka tidak heran, jika pendidikan tradisional masih melekat pada anak di Makam Rangkah. Di sisi lain, mereka juga menempuh pendidikan modern. Sekolah dan kampus adalah salah satu bentuk pendidikan modern di kota besar (Ulumuddin, 2. Setidaknya proses menempuh pendidikan tradisional dan pendidikan modern berhasil membentuk karakter anak Makam Rangkah. Secara fenomenologi peneliti berhasil mengidentifikasi beberapa karakter yang tercermin pada anak Makam Rangkah, antara lain bertanggung jawab, empati dan simpati, berpikir progresif, dan toleransi. Karakter tanggung jawab teraktualisasi pada tindakan memenuhi hak dan tanggung jawab sebagai anak dan siswa. Sebagai anak mereka menunjukan sifat yang berbakti kepada orang tua dan memiliki kesadaran sebagai keluarga yang kurang mampu. Maka dari itu, mereka memiliki intuisi dengan tidak terlalu meminta haknya dan mengurangi penekanan kepada orang tua atas kebutuhannya. Anak-anak lebih mengutamakan membantu orang tua bekerja dibandingkan Tanggung jawab sebagai siswa juga terlihat ketika mereka ditempatkan pada kondisi orang tua dalam kesulitan, namun anak masih dapat bertanggungjawab menjalankan kewajibannya untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai siswa. Dengan menyusun skala prioritas tanggung jawab sebagai anak dan siswa berhasil terlaksana. Karakter bertanggung jawab mayoritas melekat pada anak umur 9-10 tahun di Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. makam Rangkah. Karakter tanggung jawab termasuk dalam 9 pilar karakter yang digagas Suyanto . berdasarkan nilai-nilai luhur universal (Afsari. , dkk 2. 3 Transformasi Kemiskinan : Pergeseran Budaya Miskin Ke Progresif Masyarakat Makam Rangkah tidak lagi memproduksi budaya kemiskinan, melainkan telah bertindak untuk keluar dari kungkungan kemiskinan. Kondisi ini menunjukkan progestivitas, sebab temuan Syaida dan Harianto . menunjukkan telah terjadi transformasi nilai-nilai kebudayaan kemiskinan terhadap anak-anak tukang bawak di Makam Rangkah. Kini, orang tua di Makam Rangkah mayoritas mengusahakan agar anaknya bisa menempuh pendidikan. Sehingga, anak-anak memiliki karakter positif, seperti tanggung jawab, toleransi, berpikir progresif, empati, dan lain sebagainya. Lewis . alam Supralan, 1. kebudayaan kemiskinan dalam masyarakat mengarah pada rendahnya pendapatan, besarnya buta huruf, dan tingkat pengangguran tinggi. Bukan hanya itu. Lewis juga menyatakan bahwa budaya kemiskinan bukan hanya suatu proses adaptasi, melainkan budaya yang cenderung berlangsung dari generasi ke generasi (Palikhah, 2. Budaya kemiskinan berpotensi membawa anak-anak menyerap nilai-nilai dasar budaya disekitarnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan fenomena di Makam Rangkah. Sebab, fenomena yang ada justru menunjukkan bahwa orang tua berusaha untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Sehingga, anak-anak dapat bersaing untuk mencari pekerjaan yang layak dan keluar dari kelompok yang termarginalkan. Bukan hanya itu, proses anak-anak menempuh pendidikan dengan tetap membantu orang tuanya menjadi bukti bahwa mereka tidak menyerap budaya kemiskinan. Melihat kemiskinan masyarakat Makam Rangkah sebagai budaya kemiskinan Lewis sama saja dengan menutup mata atas usaha mereka mempertahankan hidup. Seperti kritik Baker terhadap Lewis yang menyatakan bahwa konsep tentang kemiskinan kultural terlalu membesar-besarkan mapannya kemiskinan, sebab bukti yang ada justru menunjukkan bahwa kaum miskin yang hidup di perkotaan selalu bekerja keras, memiliki aspirasi kehidupan yang baik serta adanya motivasi untuk memperbaiki Dengan begitu, kemiskinan masyarakat Makam Rangkah bukan terjadi karena budaya kemiskinan, melainkan integrasi mereka sebagai masyarakat urban yang terhambat di perkotaan. Hal ini menunjukan bahwa kondisi kemiskinan pada masyarakat diperkotaan tidak semata hanya karena kebudayaan kemiskinan yang ada dalam masyarakat, akan tetapi karena adanya hambatan dalam menerobos sistem ekonomi perkotaan (Effendi, 1. Kesimpulan Pandangan terkait golongan miskin sebagai kelompok yang berpendidikan rendah dan berkarakter buruk, mampu terpatahkan dengan fenomena yang ada di Makam Rangkah. Kemiskinan yang terjadi pada masyarakat Makam Rangkah justru menciptakan solidaritas yang kuat dalam memperjuangkan kehidupan ke arah progresif. Budaya yang progresif tercermin dalam pengorganisasian masyarakat, seperti alokasi pemberdayaan masyarakat, kepedulian terhadap kesehatan. Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. serta pendidikan. Budaya progresif dalam masyarakat Makam Rangkah ini sebagai bentuk proses untuk keluar dari kungkungan kemiskinan. Pendidikan menjadi jalan utama masyarakat Makam Rangkah keluar dari belenggu kemiskinan. Kesadaran tersebut menciptakan sikap orang tua yang peduli pada pendidikan anaknya. Oleh karena itu, semua anak-anak di Makam Rangkah mengenyam pendidikan formal maupun tradisional. Proses pendidikan yang didapat anak-anak Makam Rangkah menciptakan terbentuknya karakter positif, seperti bertanggung jawab, berpikir progresif, berempati, bertoleransi, dan lain sebagainya. Daftar Pustaka