p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Indonesia Email: rodiahdwiananda@gmail. com, triwinarsih@unisayogya. INFO ARTIKEL Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal. Penyesuaian Diri. Mahasiswa Rantau ABSTRAK Komunikasi interpersonal merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial, terutama bagi mahasiswa perantau yang berada jauh dari rumah dan lingkungan familiar. Perantauan seringkali membawa tantangan, seperti kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional dan sosial mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa perantau yang berasal dari luar Yogyakarta sejumlah 100 orang. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui kuisioner menggunakan link gform. teknik yang digunakan yaitu dengan accidental sampling. Analisis yang digunakan yaitu menggunakan korelasi product moment menggunakan SPSS versi 21,0. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau dengan nilai korelasi sebesar 0,328. Berdasarkan hal tersebut maka komunikasi interpersonal memiliki hubungan dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Keywords: Interpersonal Communication. SelfAdjustment. Overseas Students ABSTRACT Interpersonal communication is one of the important aspects of social life, especially for migrant students who are far from home and familiar environments. Overseas travel often brings challenges, such as difficulties in adapting to a new environment, which can affect students' emotional and social well-being. This study aims to determine whether there is a relationship between interpersonal communication and self-adjustment in overseas students at AoAisyiyah University Yogyakarta. This study uses a correlational quantitative method with the opulation used in this study, namely 100 overseas students who come from outside Yogyakarta. Data collection is done through a questionnaire using the gform link. The technique used is accidental sampling. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih The analysis used is using product moment correlation using SPSS version 21,0. Based on the result of the study, it is known that there is a significant positive relationship between interpersonal communication and self-adjustment in overseas students with a correlation value of 0,328. Based on this, interpersonal communication has a relationship with self-adjustment in overseas students at AoAisyiyah University Yogyakarta. PENDAHULUAN Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa merupakan orang yang belajar di sebuah perguruan tinggi. Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi memiliki tujuan untuk mempersiapkan dirinya dalam meraih cita-cita dan keinginan yang akan di capai. Mahasiswa perantau merupakan seseorang yang meninggalkan kampung halamannya menuju luar kota, luar pulau, atau luar negri dengan tujuan untuk menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa perantau juga dapat diartikan sebagai mahasiswa yang memilih untuk meninggalkan kampung halaman demi melanjutkan pendidikan yang lebih baik (Saniskoro & Akmal, 2. Rantau dapat diartikan sebagai pergi atau berpindah dari tempat dimana seorang individu dilahirkan menuju tempat baru yang kemudian mereka akan tinggal atau Berdasarkan hal tersebut maka mahasiswa rantau dapat diartikan sebagai seorang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di perguruan tinggi yang berada di luar tempat mereka berasal (Prayoga & Handoyo, 2. Mahasiswa perantau tentu memiliki alasan dalam memutuskan untuk menjadi seorang mahasiswa yang akan berkuliah di sebuah perguruan tinggi. Alasan para remaja memilih untuk memasuki perguruan tinggi dan menjalani perkuliahan yang ada di luar daerah diantaranya adalah karena ingin mengasah kemandirian dan mencari pengalaman baru (Widihapsari, dalam Silawati dkk. Mahasiswa perantau ialah mahasiswa yang jauh dari orang tua maupun keluarga, jarak yang jauh akan membuat mahasiswa perantau menjadi lebih mandiri dan dapat melakukan kegiatan atau aktivitas tanpa bantuan keluarga maupun orang tua. Mahasiswa yang hidup dan tinggal di perantauan akan banyak menghadapi hal-hal baru seperti bertemu dengan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah serta dengan karakter yang berbeda-beda pada setiap orang, dapat menambah pengalaman di lingkungan baru, serta gaya hidup yang berbeda dengan masa SMA. Menjadi mahasiswa perantau tentu akan menghadapi berbagai permasalahan. Berbagai masalah dan tekanan yang dihadapi oleh mahasiswa perantau tersebut menuntut mereka untuk memiliki kemampuan yang lebih dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru (Saniskoro & Akmal, 2. Mahasiswa yang merantau akan berada di lingkungan baru dan akan bertemu dengan teman-teman serta lingkungan yang baru. Oleh karena itu tentunya terdapat masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa yaitu dapat berbentuk masalah akademik dan masalah non akademik. Masalah akademik berkaitan dengan perencanaan studi, cara belajar, dan pengenalan peraturan. Sedangkan masalah non akademik berkaitan dengan kesukaran di dalam mencari teman atau kesukaran didalam Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta pergaulan, pengembangan diri dan masalah pribadi yang antara lain menyangkut masalah pergaulan, konflik dengan teman, keluarga dan pacar (Sukami, dalam Adiwaty & Fitriyah, 2. Mahasiswa perantau perlu menjalin komunikasi yang baik dengan teman yang berasal dari berbagai daerah baik di lingkungan kos maupun lingkungan kampus. Mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam hal pengaturan reaksi emosi atau yang memiliki perilaku impulsif, secara temperamen akan mengalami reaksi yang cukup tinggi terhadap suatu permasalahan dan tidak memiliki keterampilan emosi yang baik, sehingga seringkali akan merasakan pengalaman yang menyulitkan dalam hal penyesuaian diri di kampus maupun di lingkungan sosial. Sebaliknya, mahasiswa yang mampu mengatur emosi dan memiliki keterampilan emosi yang baik akan lebih mudah dalam melakukan penyesuaian diri di lingkungan kampus dan lingkungan sosial (NiAomatuzzakiyah dalam Widihapsary & Susilawati, 2. Berdasarkan studi awal yang telah dilakukan peneliti pada ketiga mahasiswa yaitu N dan Z dari angkatan 2023 dan Y dari angkatan 2022. N dan Z menyatakan bahwa masalah-masalah yang subjek alami sebagai anak rantau yang berasal dari pulau Jawa yaitu penyesuaian diri. Hal yang membuat N dan Z belum dapat untuk menyesuaiakan diri adalah karena perbedaan bahasa serta cara penyampaian dalam berkomunikasi yang menggunakan kosakata serta intonasi tinggi membuat N dan Z yang berdomisili Jawa merasa tidak biasa akan hal tersebut. Hal ini menimbulkan tekanan psikologis berupa rasa khawatir, takut, dan sulit untuk berkomunikasi dengan teman-teman khususnya yang berasal dari luar Jawa. Selain itu dampak yang dirasakan oleh N dan Z yaitu memiliki teman yang sedikit. Namun keduanya tetap berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan teman-teman yang berasal dari luar Jawa tersebut. Selain itu permasalahan yang dialami oleh N dan Z sebagai mahasiswa perantau ialah sulit dalam pengelolaan Dalam hal ini mereka dituntut untuk dapat mengelola keuangan yang sudah diberikan untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa perantau. Selain itu hal yang sama juga dirasakan oleh Y yang merupakan mahasiswa aktif angkatan 2022 yang berasal dari luar Jawa. Y mengungkapkan bahwa teman-teman satu angkatan Y berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki bahasa sesuai asal daerahnya masing-masing yang membuat Y sulit untuk menyesuaikan diri salah satunya dengan suku Jawa asli yang dimana dalam berkomunikasi menggunakan bahasa yang lembut dan tutur bahasa halus membuat Y yang berasal dari Sumatra merasa sulit dalam Hal ini berbanding terbalik dengan Y yang menggunakan logat atau tutur bahasa yang kasar dan dengan intonasi yang tinggi dalam berbicara selain dengan bahasa Y juga harus menyesuaikan diri dengan karakter orang-orang disekitar nya baik dalam lingkungan kampus maupun lingkungan kos. Dampak psikologis yang dirasakan oleh Y adalah merasa tertekan karena Y harus melakukan penyesuaian diri ulang dari tutur bahasa yang kasar dan keras menjadi bahasa yang lembut dan sopan dalam Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih Berdasarkan hasil studi awal diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa perantau yang berasal dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa memiliki berbagai permasalahan dalam dunia perkuliahan. Masalah-masalah yang di hadapi mahasiswa perantau meliputi penyesuaian diri terhadap lingkungan maupun cara berkomunikasi dengan teman-teman Mahasiswa yang dapat menempatkan dirinya di lingkungan baru serta dapat merubah perilakunya sesuai dengan lingkungan di tempat tinggalnya saat ini merupakan mahasiswa yang dapat menggunakan komunikasi interpersonal dengan baik. Beberapa mahasiswa perantau akan merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Bagi mahasiswa, komunikasi interpersonal dapat dijadikan sarana untuk memulai hubungan pertemanan dengan mahasiswa lainnya, mengenal guru yang akan membantu mereka dalam belajar, dan lebih mengenal situasi dan kondisi dari lingkungan sekitar. Setiap individu harus berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini menimbulkan tantangan bagi setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tentu tidak semua mahasiswa dapat dengan mudah mengatasi proses penyesuaian ini. Selain itu, hampir semua mahasiswa yang berasal dari luar daerah harus tinggal di kost sehingga mereka juga perlu membiasakan diri dengan lingkungan kos tersebut. Dalam menghadapi hal-hal tersebut, mahasiswa memerlukan kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri di lingkungan kampusnya yang baru yaitu dalam menjalin relasi sosial. Sebagai contoh orang sumatera jika berkomunikasi terkenal keras dan tegas, berbeda dengan orang jawa atau sunda yang lembut ketika berbicara. Para mahasiswa ini umumnya memiliki unsur budaya yang berbeda terlebih pada bahasa mereka masing-masing. Bercampurnya mahasiswa dengan identitas budaya yang berbeda-beda dalam suatu daerah bukanlah hal baru yang terjadi di Indonesia (Sary, 2. Memahami dan menerima nilai-nilai budaya lain bukanlah hal yang instan serta menjadi suatu hal yang sepenuhnya berjalan dengan mudah. Ketika pertama kali di pulau jawa, tentunya mereka akan dihadapi oleh gegar budaya . ulture shoc. Baik itu dari segi bahasa, sosial, kognitif dan lainnya. Banyak permasalahan yang muncul namun mereka tidak menyadari apa yang salah dalam tindak laku mereka, bahkan ada yang merasa diri mereka telah berubah menjadi introvert. Penyesuaian diri merupakan proses atau metode dalam penyesuaian yang dilakukan oleh segala makhluk hidup yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan. Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan menyatakan bahwa dampak psikologis yang dialami oleh mahasiswa semester satu dan mahasiswa semester tiga adalah sedikitnya relasi yang didapatkan serta tekanan terhadap penyesuaian hal baru. Beberapa mahasiswa perantau akan merasa kesulitan menyesuaiakan diri dengan lingkungan baru. Setiap individu harus berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini menimbulkan tantangan bagi setiap orang untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tentu saja tidak semua siswa dapat dengan mudah mengatasi proses penyesuaian ini. Dengan komunikasi interpersonal yang dimiliki, diharapkan mahasiswa perantau dapat menyesuaikan diri dengan mudah. Komunikasi juga dapat mematangkan pola perilaku dalam menyesuaikan diri agar mahasiswa tidak memiliki rasa rendah diri, tidak percaya diri dan akhirnya Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta mengakibatkan turunnya keinginan menuntut ilmu dan berkurangnya semangat dan keinginan belajar. Mahasiswa yang merantau memerlukan kemampuan penyesuaian diri yang baik agar dapat menjalani perkuliahan dan mengatasi tantangan yang dihadapi pada masa awal perkuliahan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang dapat menempatkan dirinya di lingkungan baru serta dapat merubah perilakunya sesuai dengan lingkungan di tempat tinggalnya saat ini merupakan mahasiswa yang dapat menggunakan komunikasi interpersonalnya dengan baik. Individu yang memiliki komunikasi yang tinggi mampu menyesuaikan diri terhadap tekanan, mampu mengelola emosi yang terjadi, menyadari tujuan yang ingin dicapai, mampu membuat keputusan yang baik, mampu untuk memotivasi diri, dan optimis dalam kehidupan. Individu yang mampu berkomunikasi dengan baik akan memiliki kemampuan membina hubungan yang baik pula dengan orang lain karena terdapat kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan kepada orang lain dan kemampuan untuk mengontrol emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini peneliti mengunakan metode penelitian kuantitatif, dimana data yang di peroleh dari hasil penelitian adalah berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional. Penelitian korelasional melibatkan pengumpulan data yang bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan diantara dua variabel yang digunakan dalam suatu penelitian yaitu variabel komunikasi interpersonal dan variabel penyesuaian diri. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan menggunakan kuisioner berupa pertanyaan yang telah disusun. Populasi menurut Sugiono . merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Populasi ialah daerah meliputi obyek ataupun subjek dengan memiliki karakteristik spesifik tertentu dipilih peneliti agar dipelajari juga kemudian diangkat kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas AoAisyiyah Yogyakarta yang berasal dari luar Yogyakarta yaitu sebanyak 130 responden yang telah mengisi melalui link gform, 100 digunakan untuk mengolah data dan sisanya yaitu 30 digunakan untuk try out. Teknik sampling yang digunkan dalam penelitian ini yaitu dengan accidental sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Amin, dkk, 2. Instrumen pengumpulan data yaitu dengan menggunakan skala komunikasi interpersonal berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh (DeVito, 2. dan skala penyesuaian diri berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh (Scheneiders, 1. Teknik analisis yang digunakan untuk mengolah data dalam penelitian ini yaitu dengan Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih menggunakan teknik perhitungan korelasi product moment dengan bantuan Statistikal Packages for Social Science (SPSS) for Wimdows Relase 21,0. Data Hipotetik Dan Empirik Var Jumlah Aitem Tabel 1. Data Hipotetik dan Empirik Skor Hipotetik Skor Empirik Min Maks Mean Min Maks Mean 5,024 8,247 Keterangan: X : Komunikasi Interpersonal Y : Penyesuaian Diri Berdasarkan pada table diatas diketahui bahwa variabel komunikasi interpersonal dengan aitem berjumlah 27 dengan skor minimal 1 dan skor maksimal 4. Skor hipotetik dengan nilai minimum 27, nilai maksimum 108, mean 67,5 dan standar deviasi 13,5. Variabel penyesuaian diri dengan aitem 17 dengan skor minimal 1 dan skor maksimal 4. Skor hipotetik dengan nilai minimum 17, nilai maksimum 68, mean 42,5 dan standar deviasi 8,5. Skor empirik pada variabel komunikasi interpersonal yaitu memiliki nilai minimum 29, nilai maksimum 68, mean 90 dan standar deviasi 5,024. Selanjutnya skor empirik pada variabel penyesuaian diri yaitu memiliki nilai minimum 58, nilai maksimum 89, mean 97 dan standar deviasi 8,247. Kategorisasi Penelitian Kategorisasi dalam penelitian ini dibuat berdasarkan pada skor hipotetik. Alasan peneliti menggunakan pengkategorisasian dengan menggunakan skor hipotetik adalah untuk memberikan kerangka acuan yang jelas dalam analisis data serta sebagai alat penting dalam penelitian untuk memastikan bahwa analisis data dilakukan secara Pada kategori dibagi menjadi tiga kategori sebagai berikut: Tabel 2. Kategorisasi Komunikasi Interpersonal Kategori Rentang Skor Jumlah Persentase Tinggi X > 80,5 Sedang 54 O X O 80,5 Rendah X < 54 Total Berdasarkan tabel diatas, kategorisasi komunikasi interpersonal di atas diketahui bahwa tidak ada subjek yang memiliki komunikasi interpersonal yang tinggi, 83 subjek . %) dengan kategori sedang pada komunikasi interpersonal, dan 17 subjek . %) dengan kategori rendah pada komunikasi interpersonal. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta Kategori Tinggi Sedang Rendah Tabel 3. Kategorisasi Penyesuaian Diri Rentang Skor Jumlah X > 51 34 O X O 51 X < 34 Total Persentase Berdasarkan tabel kategorisasi penyesuaian diri di atas diketahui bahwa 100 subjek . %) dengan kategori tinggi pada penyesuaian diri, tidak ada subjek pada penyesuaian diri dengan kategori sedang, dan tidak ada subjek pada penyesuaian diri dengan kategori HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu kuesioner dari masing-masing veriabel tersebut. Variabel yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Skala dapat digunakan dalam penelitian apabila dinyatakan valid dan reliabel menurut statistic melalui uji coba try out terlebih Sah atau tidaknya suatu kuesioner dapat menjadi alasan digunakannya uji Valid ialah instrument tersebut bisa digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2. Peneliti melakukan try out untuk memastikan validitas dan reliabilitas skala variabel yang digunakan. Hasil menunjukkan skala komunikasi interpersonal memiliki reliabilitas sebesar 0,740 dan skala penyesuaian diri memiliki reliabilitas sebesar 0,762. Keduanya data dikatakan reliebel karena nilai CrombachAos Alpha > 0,60 (Ghozali, 2. Pada uji validitas variabel komunikasi interpersonal, diperoleh 3 butir pernyataan yang tidak valid dari 20 pernyataan. Sedangkan untuk variabel penyesuaian diri, terdapat 13 butir pernyataan yang tidak valid dari 41 butir pernyataan. Pernyataan-pernyataan yang tidak valid dibuang dan sisa pernyataan yang valid akan digunakan untuk penelitian. Uji Asumsi Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam variabel terikat dan variabel bebas mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian menggunakan uji Kolmogrov-Smirnov Test, yang memiliki kriteria apabila p > 0,05 maka sebarannya dikatakan berdistribusi normal, sebaliknya apabila p < 0,05 maka sebarannya dikatakan tidak berdistribusi normal. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardi zed Residual Normal Parametersa,b Mean Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih Most Extreme Differences Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Berdasarkan table diatas, menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan pada asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200 yang dapat dikatakan bahwa nilai asymp. Sig. -taile. lebih besar daripada 0,05. Maka dapat dikatakan nilai residual berdistribusi normal. Uji Linearitas Uji linearitas yaitu untuk mengetahui hubungan kedua variabel linear atau tidak. Variabel dapat dikatakan linier jika nilai signifikansi . < 0,05 begitu pula sebaliknya (Sugiyono, 2. Tabel 5. Hasil Uji Linearitas Anova ANOVA Table Sum of Squares KOMUNIKASI Between (Combine. Groups Linearity PENYESUAIAN Deviation from Linearity Within Groups Total Mean Square Sig. Berdasarkan hasil uji linearitas di atas dapat diketahui nilai linearitas sebesar 0,00 hal ini berarti nilai linearitas kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian Uji Korelasi Uji korelasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat signifikansi hubungan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri. Penelitian ini menggunakan uji korelasi product moment untuk mengetahui adanya hubungan diantara dua variabel. Menurut Periantalo . koefensien korelasi dikatakan signifikasi apabila . O 0,. Analisis penelitian data yang digunakan dalam penelitian ini melalui bantuan computer program Statistical Product and Service Solution (SPSS) 0 for windows. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Perantau di UniversitasAoAisyiyah Yogyakarta Tabel 6. Correlations Komunikasi Penyesuaian Pearson Correlation Sig. -taile. Penyesuaian Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Komunikasi Berdasarkan hasil pada tabel diatas, nilai signifikansi pada korelasi antara variabel komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri yaitu 0,000 < 0,05. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau. Dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri yang artinya apabila komunikasi interpersonal mahasiswa berjalan dengan baik maka penyesuaian diri juga baik. Nilai korelasi . yaitu sebesar 0,430 yang artinya hubungan kedua variabel cukup kuat, hubungan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri adalah satu arah. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat komunikasi interpersonal maka akan semakin tinggi pula tingkat penyesuaian diri pada mahasiswa perantau. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa rantau yang berjumlah 130 responden. Berdasarkan hasil uji korelasi product moment terdapat hubungan antar kedua variabel yaitu komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri yang artinya apabila komunikasi interpersonal mahasiswa berjalan dengan baik maka penyesuaian diri juga baik. Nilai korelasi . yaitu sebesar 0,430 yang artinya hubungan kedua variabel cukup kuat. Hasil penelitian ini pada dasarnya memperkuat teori yang di kemukakan oleh Setiono dkk . bahwa Aukesulitan dalam penyesuaian sosial bisa saja terjadi tanpa adanya kemampuan untuk berkomunikasi yang baik dan memadaiAy. Selain itu, menurut Sary . para mahasiswa umumnya memiliki unsur budaya yang berbeda terlebih pada bahasa mereka masing-masing. Bercampurnya mahasiswa dengan identitas budaya yang berbeda-beda dalam suatu daerah bukanlah hal baru yang terjadi di Indonesia. Selanjutnya menurut Lazarus dalam Rozaq . Aukomunikasi merupakan salah satu hal yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Rodiah Dwi Ananda. Tri Winarsih Komunikasi interpersonal sangat dibutuhkan dalam proses penyesuaian diri pada mahasiswa perantau, karena dalam menyesuaikan diri manusia perlu berinteraksi. Mahasiswa memerlukan komunikasi untuk dapat menciptakan hubungan sosial yang ramah dengan orang lain. Pembahasan yang telah di paparkan menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal memang dibutuhkan oleh setiap individu ketika berada pada lingkungan yang baru atau pertama kali untuk mereka datangi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Hasil analisis korelasi product moment antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri diperoleh nilai r sebesar 0,430 dengan signifikansi 0,000. Korelasi dianggap signifikan jika p < 0,05, sehingga hasil uji korelasi menunjukkan hipotesis yang diajukan peneliti diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri pada mahasiswa Artinya, semakin tinggi komunikasi interpersonal mahasiswa maka penyesuaian diri akan semakin tinggi, sebaliknya semakin rendah komunikasi interpersonal mahasiswa maka semakin rendah pula penyesuaian diri. DAFTAR PUSTAKA