Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 115-123 PENDEKATAN HUMANIS DALAM FALSAFAH HUMA BETANG UNTUK MEMINIMALISIR GESEKAN KONFLIK ETNIS Yustina Wahyu Wulandari Program Studi Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya E-mail: 2020011@stipas. Paulina Maria Ekasari Wahyuningrum Program Studi Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya E-mail: bernadetha_boli@yahoo. Titi Christiana Universitas Sains dan Teknologi Komputer Abstract. This research is motivated by the incidents of ethnic conflict that occurred in Bumi Central Kalimantan in 2001. From this background, this study aims to describe the methods used to minimize the friction of ethnic conflict in Central Kalimantan by looking at the philosophy of Huma Betang and looking more far from the humanist approach that was carried out so that the results of deliberation for consensus were obtained to accept the ethnic groups involved in the conflict to live side by side again together in society. This study used a qualitative approach with a descriptive research type. Data collection techniques using interviews and documentation. The data analysis technique uses Miles and Huberman's theory which includes three stages, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study are that Huma Betang as a philosophy is a standard for all communities, both indigenous Dayak people and immigrant communities. The principle "where the earth stands, there the sky is upheld must be the principle used by all parties in living side by side with other people. The reconciliation process that occurs after the conflict is a good way to solve problems. Keywords: Conflict. Ethnicity. Philosophy Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kejadian konflik etnis yang pernah terjadi di Bumi Kalimantan Tengah pada tahun 2001. Dari latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara-cara yang digunakan untuk meminimalisir gesekan konflik etnis di Kalimantan Tengah dengan melihat pada filosofi Huma Betang dan melihat lebih jauh pendekatan humanis yang dilakukan sehingga diperoleh hasil musyawarah mufakat untuk menerima kembali etnis yang terlibat konflik untuk hidup berdampingan kembali bersama di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan Data menggunakan Received Juli 07, 2022. Revised Agustus 2, 2022. September 22, 2022 * Yustina Wahyu Wulandari PENDEKATAN HUMANIS DALAM FALSAFAH HUMA BETANG UNTUK MEMINIMALISIR GESEKAN KONFLIK ETNIS wawancara dan Dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Miles and Huberman theory yang mencakup tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan Hasil penelitian ini adalah Huma Betang sebagai filosofi menjadi patokan bagi semua masyarakat baik itu masyarakat asli dayak maupun masyarakat pendatang. Prinsip Audimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung harus menjadi prinsip yang digunakan oleh semua pihak dalam hidup berdampingan dengan orang lain. Proses rekonsiliasi yang terjadi pasca konflik menjadi salah satu cara yang baik dalam menyelsaikan permasalahan. Kata kunci: Konflik. Etnis. Filosofi PENDAHULUAN Keragaman suku, agama dan ras yang dapat hidup berdampingan dengan baik menjadi salah satu daya tarik dari Indonesia. Semangat Bhineka Tunggal Ika menjadi penyatu kedamaian diantara perbedaan untuk menjaga keutuhan NKRI. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gesekan-gesekan konflik karena perbedaan tersebut bisa terjadi di masyarakat. Konflik diartikan sebagai perseteruan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional (PP RI No. 2, 2015:. Konflik menjadi dapat berasal dari ruang lingkup kecil seperti keluarga, perorangan, antar daerah atau wilayah sampai dengan lingkungan mayarakat seperti yang terjadi di beberapa tempat. Apabila dibiarkan, konflik dapat tidak terkendali dan mengancam keutuhan NKRI. Konflik dapat terjadi di setiap interaksi antara 2 kelompok atau lebih. Lingkungan interaksi sosial menyumbangkan gesekan konflik yang cukup banyak karena interaksi yang tinggi antara dua kelompok atau lebih. Banyak hal yang dapat menimbulkan gesekan konflik yang terjadi di Indonesia seperti konflik agama tentang pelarangan mengucapkan selamat natal dan menggunakan dekorasi natal. Adapula konflik etnis yang menimpa warga tionghoa di penghujung era orde baru yang menyebabkan kerusuhan padahal penyebabnya krisis moneter yang membuat banyak sektor di Indonesia runtuh. Kerusuhan yang melebar dan menyebabkan banyak aset-aset miliki etnis Tionghoa diambil paksa dan dibakar dan juga melakukan tindak kekerasan kepada para wanita dari etnis ini. Kasus pelecehan seksual banyak dilaporkan hingga kasus pembunuhan pun tak bisa dihindari. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 115-123 Salah satu konflik yang juga terjadi adalah konflik suku di Sampit. Kalimantan Tengah pada medio Februari 2001 yang terjadi antara suku Dayak yang berkonflik dengan suku Madura. Konflik dengan kekerasan yang menimbulkan korban antara kedua belah pihak tersebut menjadi perhatian publik baik itu di dalam negeri maupun di luar Konfik tersebut berujung pada perdamaian antara kedua belah pihak yang bertikai dengan proses musyawarah mufakat yang terkandung dalam nilai budaya Huma Betang. Huma Betang dalam arti harafiah adalah sebuah rumah adat Kalimantan Tengah yang berbentuk persegi panjang dengan panjang dan lebar yang bervariasi dalam bentuk rumah panggung dan dihuni oleh beberapa rumah tangga di dalam satu Huma Betang (Pelu dan Tarantang, 2018: . Apabila didalami lebih jauh, filosofi Huma Betang bukan hanya sekedar bangunan tetapi pusat dari struktur sosial kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Dayak. Nilai filosofis dari Huma Betang adalah mengedepankan musyawarah mufakat, kesetaraan, kejujuran dan kesetiaan. Nilai-nilai tersebut mengatur perilaku dan membentuk norma-norma yang dipatuhi masyarakat dan dituangkan dalam hukum adat. Nilai filosofi empat pilar Huma Betang yang diadopsi masyarakat suku Dayak sangat menjunjung nilai perdamaian dan persatuan serta penghargaan terhadap Abubakar . , mengemukakan bahwa Huma Betang merupakan budaya yang mampu menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan, terutama yang tertuang dalam filosofi empat pilar Huma Betang yakni menjungjung nilai kebersamaan, kehidupan yang damai, nilai kejujuran dan nilai kesetaraan. Nilai filosofi empat pilar yang tertuang di Huma Betang dirumuskan sebagai berikut: Nilai kebersamaan, dalam nilai kebersamaan mengajarkan arti sepenanggungan dan saling melindungi, hidup rukun, dan saling tolong-menolong. Nilai kebersamaan ini terwujud dalam tindakan gotong royong. Seumpama dalam pembuatan Huma Betang ini, masyarakat saling bekerjasama membangunnya. Semangat gotong royong yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak ini mampu memperkokoh persatuan dan kesatuan kelompok suku. Huma Betang Menurut kebiasaanya dibangun secara gotong royong serta dihuni oleh banyak orang . anak keluarga besa. dengan latarbelakang keberagaman di dalamnya, baik dari aspek karakteristik penghuninya, hingga perbedaan keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya. Oleh sebab itu, nilai kebersamaan adalah yang penting bagi kehidupan masyarakat di Huma Betang PENDEKATAN HUMANIS DALAM FALSAFAH HUMA BETANG UNTUK MEMINIMALISIR GESEKAN KONFLIK ETNIS Nilai kejujuran, dalam nilai kejujuran ini diwujudkan dalam sikap yang baik, tidak mengucapkan kebohongan ataupun saksi dusta dari hal terkecil sampai kepada hal yang terbesar. Contoh sederhana ketika orang huma . rang yang tinggal di Huma Betan. dari rumah berpamitan untuk pergi ke ladang, maka tujuan mereka hanyalah ke ladang, mereka tidak akan pergi ataupun berkeliaran ke tempat lain. Dalam kehidupan bersama orang huma, kejujuran merupakan nilai yang sangat luhur yang juga mampu menumbuhkan ikatan saling percaya yang memperkuat persatuan dan kesatuan antar orang huma. Nilai kesetaraan,dalam nilai kesetaraan ini menunjukan orang huma yang memiliki sikap menjunjung persamaan kedudukan, dan tingkatan yang sama satu dengan yang lainnya. Kesetaraan sangat dibutuhkan bagi kehidupan di Huma Betang karena dalam kehidupan bersama di Huma Betang setiap orang huma memegang hak dan kewajiban dan hal tersebut perlu didukung serta dihormati. Nilai kesetaraan diperlukan juga untuk menghindari terjadinya diskriminasi dan pembedaan atau pembandingan di tengah masyarakat. Nilai damai, dalam nilai kedamaian ini terwujud dalam sikap menghargai perbedaan yang sejatinya ada di tengah masyarakat, juga menyelesaikan setiap perkara, perselisihan ataupun permasalahan yang ada dengan damai dan secara kekeluargaan. Masyarakat suku Dayak selalu mengadakan musyawarah dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang hadir di tengah masyarakatnya. Menurut kebiasaanya akan ada pemangku adat atau ketua adat yang akan menjadi pihak penengah dalam setiap musyawarah yang diadakan di AuHuma BetangAy (Pelu & Tarantang, 2018:. Hingga kini filosofi itu masih menjadi pedoman dan diteladani oleh masyarakat yang hidup di Kalimantan Tengah dan pada saat konflik antar suku terjadi, nilai filosofis Huma Betang kembali teruji dengan duduk bersama antar suku yang bertikai, mencari jalan perdamaian dengan cara musyawarah mufakat. Secara tersirat, proses penerimaan kembali secara bertahap yang dilakukan merupakan cerminan dari pendekatan secara humanis yang ada di filosofi huma betang. Humanisme mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikan manusia yang dapat menghidupkan rasa perikemanusiaan dan menciptakan pergaulan hidup yang lebih baik (Jamhuri, 2018: . Jika seseorang mampu berkumpul antar sesama tanpa membeda-bedakan baik berbeda dalam hal ras, suku, agama, bahasa, maka akan SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 115-123 menumbuhkan sikap perikemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dalam kehidupan didunia ini banyak sekali terjadinya peristiwa pertengkaran yang pada akhirnya akan menimbulkan permusuhan. Penyebab dari permasalahan tersebut hanya karena perbedaan pendapat yang tidak mampu untuk menghargai pendapat orang lain. Pendekatan humanis dalam penyelesaian konflik yang berpadu dengan filosofi Huma Betang digunakan sampai dapat menghasilkan keputusan penerimaan kembali secara bertahap dan diperbolehkan untuk tinggal berdampingan kembali. Pasca konflik dan penerimaan kembali suku tersebut, gesekan konflik tidak langsung berhenti. Ada kalanya konflik yang hampir sama terjadi dan menimbulkan kekuatiran dari sebagian besar masyarakat. Permasalahan tentang kesenjangan sosial antara satu dengan yang lain, perebutan hak atas tanah adat yang diambil oleh orangorang tertentupun menjadi masalah yang apabila tidak tertangani dengan cepat dan tepat, maka mungkin saja konflik yang lain dapat terulang. Tujuan penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan cara-cara yang digunakan untuk meminimalisir gesekan konflik etnis di Kalimantan Tengah dengan melihat pada filosofi Huma Betang dan melihat lebih jauh pendekatan humanis yang dilakukan etnis yang terlibat konflik dapat kembali untuk hidup berdampingan di masyarakat Kalimantan Tengah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Mukhtar . 3: . menjelaskan, wawancara merupakan teknik pengumpulan data untuk memperoleh informasi secara langsung melalui permintaan keterangan kepada pihak . yang dipandang mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Oleh sebab itu, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan yang telah ditentukan dengan menggunakan seperangkat pertanyaan yang sudah disiapkan sesuai rumusan masalah, sehingga memeroleh data-data akurat dan sesuai dengan objek penelitian Sumber data primer penelitian ini adalah narasumber yang langsung terlibat dalam musyawarah damai pasca konflik, beberapa pemuka agama yang turut membantu meminimalisir gesekan pasca konflik dan yang pada saat kejadian menjadi saksi hidup. PENDEKATAN HUMANIS DALAM FALSAFAH HUMA BETANG UNTUK MEMINIMALISIR GESEKAN KONFLIK ETNIS Sumber data sekunder didapat dari penelitian terdahulu terkait dengan tujuan penelitian. Data primer dari hasil wawancara bersama narasumber dan data sekunder berupa jurnal dan literatur dari peneliti terdahulu. Teknik analisis data menggunakan Miles and Huberman theory yang mencakup tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Waktu penelitian dilaksanakan selama 1 bulan di kota Sampit dan kota Palangka Raya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil wawancara dan literature yang mendukung penelitian ini, peneliti melihat dari beberapa aspek untuk meminimalisir gesekan konflik etnis dengan berlandaskan pendekatan humanis dalam Fiosofi Huma Betang sebagai berikut: Rekonsiliasi Dari hasil wawancara yang dilaksanakan dengan salah satu narasumber yang terlibat secara langsung pada saat musyawarah mufakat dilaksanakan di Sampit pada tahun 2002 yaitu Bapak YB, beliau menyatakan bahwa proses perdamaian dilaksanakan dengan menjunjung tinggi falsafah Huma Betang dan juga menjunjung tinggi prinsip AuDimana bumi dipijak, disitu langit dijunjungAy. Beliau menambahkan pula bahwa dengan perjanjian tersebut, maka nilai kesetaraan dalam Huma Betang yang memandang semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk hidup dimana saja dan berdampingan selagi menaati segala aturan daerah setempat. Cara meminimalisir gesekan konflik tersebut dengan langsung musyawarah mufakat apabila ada permasalahan yang terjadi yang dapat memicu konflik lebih besar apabila tidak ditangani dengan cepat. Dari Pemuka Agama Budha menyatakan bahwa bahasa kasih adalah bahasa yang paling baik untuk memberikan kesempatan dan memberi maaf kepada orang lain dan tidak mendendam. Cara tersebut bisa meminimalir gesekan konflik yang kemungkinan terjadi. Menurut Bapak YWW. AuMemaafkan bukan berarti melupakan tetapi tidak mengulangi lagi kesalahan. Maka ada tiang pancang sebagai bukti perdamaian yang dipasang di Bundaran Burung kota Sampit untuk mengenang konflik tersebut sebagai pengingat bahwa ada proses rekonsiliasi yang terjadiAy Pencegahan Dalam nilai budaya masyarakat Dayak yang berlandaskan filosofi huma betang, keadaan damai diciptakan dalam nilai sikap menghargai perbedaan yang sejatinya ada di SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 115-123 permasalahan yang ada dengan damai dan secara kekeluargaan. Fungsi pencegahan menjadi sangat penting agar masyarakat lebih bisa melihat dan berssikap tanggap terhadap apa saja yang dapat memicu perselisihan. Pencegahan dilakukan agar permasalahan yang hendak terjadi dapat segera tertangani dengan cepat. Masyarakat Dayak selalu menyelesaikan setiap permasalahan yang hadir di tengah masyarakatnya. Menurut kebiasaanya akan ada pemangku adat atau ketua adat yang akan menjadi pihak penengah dalam setiap musyawarah yang diadakan di AuHuma BetangAy. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bapak YB yang menyatakan bahwa setiap permasalah yang ada akan diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat. Diharapkan dengan menjunjung tinggi kedamaian tersebut, masyarakat bisa saling menghargai satu dengan yang lain dan dapat hidup berdampingan. Pemuka Agama Budha pun menyatakan bahwa Aumenahan diri dari amarah lebih baik ketimbang menuruti sikap egois dan mau menang sendiri. Sikap tersebut dapat memicu hal-hal yang tidak baik dan apabia tidak ditangani dengan benar dan cepat dapat membuat permasalahan baruAy Keterlibatan Damang Adat dan pemuka Agama Tidak dapat dipungkiri bahwa adat dan budaya masih sangat kental di Kalimantan Tengah. Untuk itu, keterlibatan Damang Adat mengatur segala hal tentang perilaku, sikap dan hal-hal secara adat sangat penting. Bapak YB menjelaskan bahwa AuDamang Adat memiliki peran untuk mengatur norma-norma yang ada di masyarakatAy Pasca konflik etnis, peran damang adat menjadi lebih penting sebagai garda terdepan untuk menjaga keharmonisan masyarakat. Menurut Bapak YWW, pada saat konflik terjadi, beliau bersama pihak gereja menempuh berbagai cara agar yang tidak terlibat berkonflik bisa Banyak anak-anak yang bersekolah di komplek gereja diamankan dan dipulangkan segera, mengingat konflik cukup berbahaya. Pihak gereja bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mengupayakan supaya konflik bisa berhenti dan saling duduk bersama . Tidak hanya konflik etnis saja, tetapi perilaku yang menyimpang dari ajaran adatpun bisa mendapatkan denda adat. Contohnya seperti perilaku yang tidak menghargai satu dengan yang lain. Damang adat pada konflik etnis di tahun 2001 berperan untuk mendamaikan dan mencari solusi yang dapat diterima oleh berbagai Pendekatan humanis menjadi salah satu aspek penting karena memberikan PENDEKATAN HUMANIS DALAM FALSAFAH HUMA BETANG UNTUK MEMINIMALISIR GESEKAN KONFLIK ETNIS kesempatan dan kesetaraan bagi yang berkonflik untuk dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain. SIMPULAN DAN SARAN Falsafah Huma Betang yang mengedepankan musyawaran mufakat menjadi salah satu cara agar konflik-konflik sejenis ataupun yang berbeda tidak menjadi konflik yang Huma Betang sebagai filosofi menjadi patokan bagi semua masyarakat baik itu masyarakat asli dayak maupun masyarakat pendatang. Prinsip Audimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung harus menjadi prinsip yang digunakan oleh semua pihak dalam hidup berdampingan dengan orang lain. Proses rekonsiliasi yang terjadi pasca konflik menjadi salah satu cara yang baik dalam menyelsaikan permasalahan. Pemancangan monument perdamaian di kota sampit untuk mengenang tragedy konflik di tahun 2001 memberikan kesempatan dan pembelajaran bagi generasi muda dan anak cucu bahwa musyawarah mufakat untuk meminimalisir gesekan konflik adalah penting dilakukan. Gambar 1. Monumen Perdamaian Konflik Sampit Pemangku adatpun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan dari berbagai elemen masyarakat. Meminimalisir konflik dengan melakukan pencegahan agar tidak menjadi besar menjadi salah satu cara juga sehingga konflik bisa tertangani dengan baik. pemangku adat adalah garda terdepan di masyarakat konflik-konflik SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 115-123 mengesampingkan hukum pemerintah. Tetapi tingkah laku yang kurang berkenan untuk menyulut konflik dapat bekerja sama dengan Damang adat untuk penyelesaiannya. REFERENSI