JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 EFEKTIFITAS MUSIK RELIGI TERHADAP PENURUNAN NYERI PASCA BEDAH PADA PASIEN TURP Muhammad Mudzakkir Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains Universitas Nusantara PGRI Kediri mudzakkir@unpkediri. Abstract The post TURP surgery wound is found causing pain and bladder spasm. This research is designed to identity the effectiveness of religious music in reducing post TURP surgery pain, by using quasi experiment design with pre and post test control group design. Thirty four samples were recruited using consecutive sampling method, and then divided into 2 groups: the intervention group . nalgesic and religious music therapy combinatio. , and control group . nalgesic therap. The data analysis result discovered that religious music therapy was significant in reducing the pain level with p value=0,000. According to this finding, it is recommended for hospitals to integrate religious music therapy in managing post surgery pain. Keywords: post TURP, pain, religious music therapy PENDAHULUAN Transurethral Prostate (TURP) Resection pascaoperasi (Chou et al. , 2. pembedahan minimal invasif yang paling BPH sendiri merupakan salah satu umum dilakukan untuk mengatasi benign gangguan urologi paling umum secara prostatic hyperplasia (BPH) pada pria lanjut Berdasarkan studi Global Burden of Meskipun tergolong prosedur yang Disease tahun 2021, terdapat lebih dari 112 aman dan efektif. TURP tetap menimbulkan juta pria di dunia yang hidup dengan BPH, nyeri pascaoperasi yang signifikan akibat dengan lebih dari 11 juta kasus baru tercatat manipulasi jaringan prostat, iritasi saluran setiap tahun. Kenaikan prevalensi ini tercatat kemih, dan pemasangan kateter. Nyeri ini meningkat sebesar 122% sejak tahun 1990, dapat menyebabkan spasme kandung kemih, terutama pada kelompok usia lanjut di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan (Zi et al. , 2. Di Indonesia, data dari memperlambat proses penyembuhan dan beberapa rumah sakit rujukan menunjukkan JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 bahwa lebih dari 80% pasien BPH menjalani terapi musik dibandingkan kelompok ontrol tindakan TURP, terutama akibat gejala berat (Mishra. MD et al. , 2. atau retensi urin kronis. Studi di RS Saiful Meski demikian, sebagian besar Anwar Malang terhadap 162 pasien TURP studi terapi musik berfokus pada musik instrumental atau klasik. Penggunaan musik berusia 61Ae70 tahun dan 54,9% menjalani religi seperti murottal Al-QurAoan atau alunan TURP karena retensi urin. Temuan ini musik bernuansa spiritual diteliti secara sistematis dalam konteks nyeri TURP masih jarang post-TURP. memerlukan manajemen pascaoperatif yang Elemen spiritual dalam musik religi dapat optimal, termasuk untuk nyeri (Prasetyo et , 2. mengalihkan perhatian dari nyeri, serta Manajemen pasca-TURP memperkuat koping religius pasien terhadap stres pascaoperatif. penggunaan musik religi farmakologis seperti NSAID dan opioid. telah banyak diterapkan dan terbukti efektif Namun, pendekatan ini tidak terlepas dari dalam berbagai situasi klinis lainnya. Dalam risiko efek samping, antara lain mual, praktik kebidanan, musik religi menurunkan konstipasi, sedasi berlebih, dan potensi intensitas nyeri kala I pada ibu bersalin Oleh karena itu, pendekatan secara signifikan (Simanullang et al. , 2. non-farmakologis semakin dilirik sebagai Pada kelompok lansia, pemutaran murottal alternatif atau pelengkap dalam pengelolaan Al-QurAoan secara rutin dilaporkan dapat Terapi musik merupakan salah satu memperbaiki kualitas tidur dan menurunkan intervensi non-farmakologis yang banyak Temuan ini menunjukkan bahwa musik modern karena sifatnya yang aman, murah, religi tidak hanya bersifat terapeutik dari dan mudah diterapkan (Potter & Perry, aspek fisiologis, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual yang sangat relevan dalam Khusus pada konteks bedah urologi, musik juga terbukti dapat menurunkan Indonesia (Priambodo Kresno Aji, 2. Dari aspek neurofisiologis, efek dalam studi eksperimental pada analgesik dari musik termasuk juga musik religi dapat dipahami melalui aktivasi sistem pasca-prostatektomi sebesar 26% pada kelompok yang mendapat penghambatan transmisi sinyal nyeri melalui JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 mekanisme gate control. Musik religi. Perbedaan efektifitas kombinasi terapi khususnya bagi individu yang memiliki analgesik dan musik religi dengan terapi analgesik dilakukan dengan melihat uji t test memberikan efek relaksasi yang lebih dalam dari kedua kelompok. Sebelumnya dilakukan dan memfasilitasi keadaan mental yang uji normalitas data dengan Kolmogorof- lebih tenang, sehingga menurunkan persepsi Smirnof terhadap nyeri. Aspek ini sejalan dengan Sehingga dilakukan uji parametrik dengan mengunakan uji t baik uji t paired mengintegrasikan aspek bio-psiko-sosio- maupun t pooled. spiritual pasien dalam pemberian asuhan keperawatan (Potter & Perry, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN METODE PENELITIAN Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Penelitian ini menggunakan quasi- Tabel 1 Rata-rata Nyeri Sebelum dan Sesudah Diberikan Terapi pada Kedua Kelompok . 1=17. experimental design dengan pendekatan rancangan pretestAeposttest control group Populasi dalam penelitian ini adalah adalah semua pasien pasca TURP di RSUD Kabupaten Kediri dan RSU Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri. Besar sampel Variabel Terapi Kelompok Intervensi Sebelu 4,59 Sesudah 2,94 Sebelu 4,82 Sesudah 3,88 Kelompok Kontrol 34 responden yang terbagi 17 responden untuk kelompok kombinasi terapi analgesik Mean SD Min-Max 0,71 0,65 0,63 0,69 4,224,95 2,603,28 4,505,15 3,524,24 Sumber: Data Primer, 2025 dan musik religi . elompok intervens. , 17 Pada tabel 1 diketahui rata-rata skala responden untuk kelompok terapi analgesik nyeri pasca bedah TURP pada kelompok . elompok kontro. intervensi sebelum perlakuan berada pada Intervensi yang diberikan sebelum pemberian analgesik pertama post TURP 4,59 (SD=0,. , setelah pemberian terapi skala nyeri berada pada responden diukur skala nyerinya, kemudian 2,94 bersamaan pemberian analgesik responden (SD=0,. Sedangkan kelompok kontrol menunjukkan rata-rata mendengarkan musik religi selama 30 menit, skala nyeri sebelum pemberian terapi selanjutnya diberi kesempatan rileks 15 berada pada skala nyeri 4,82 (SD=0,. , menit, kemudian diukur skala nyerinya. setelah perlakuan skala nyeri berada pada jenis analgesik golongan NSAIDs dan tidak 3,88 (SD=0,. ada komplikasi perdarahan serta retensi urin. JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 Perbedaan Penurunan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi pada Kelompok Intervensi pemberian terapi adalah 4,82 dengan standar deviasi 0,636. Sedangkan rata-rata nyeri sesudah pemberian menunjukkan lebih Tabel 2 Rata-rata Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi pada Kelompok Intervensi . Variabel Mean Sebelum 4,59 0,712 Sesudah 2,94 0,659 p-value rendah yaitu 3,88 dengan standar deviasi 0,697, terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penurunan skala nyeri antara sebelum dengan sesudah pemberian terapi 0,001 dengan nila p = 0,014. Selisih Penurunan Skala nyeri Setelah Pemberian Terapi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sumber: Data Primer, 2025 Hasil tabel 2 memperlihatkan ratarata skala nyeri pada kelompok intervensi Tabel 4 Selisih Penurunan Skala nyeri Setelah Pemberian Terapi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol . sebelum pemberian terapi adalah 4,59 dengan standar deviasi 0,712. Sedangkan rata-rata nyeri sesudah pemberian terapi Variabel Mean dengan standar deviasi 0,659. hasil uji Kelompok intervensi 0,493 0,000 statistik disimpulkan terdapat perbedaan Kelompok kontrol 0,94 0,556 menunjukkan lebih rendah yaitu 2,94 yang signifikan terhadap penurunan skala Sumber: Data Primer, 2025 nyeri antara sebelum perlakuan dengan Berdasarkan tabel 4 didapatkan sesudah perlakuan pada kelompok intervensi dengan nila p = 0,000 . kelompok intervensi adalah 1,65 dengan SDi Perbedaan Penurunan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi pada Kelompok Kontrol 0,493. Sedangkan pada kelompok kontrol Tabel 3 Rata-rata Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi pada Kelompok Kontrol . statistik dapat disimpulkan bahwa ada Variabel Mean Sebelum 4,82 0,636 Sesudah 3,88 0,697 p-value 0,014 selisih penurunan skala nyeri lebih rendah yakni 0,94 dengan SD 0,556. Dari hasil uji perbedaan yang signifikan pada selisih penurunan skala nyeri setelah pemberian terapi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nila p = 0,000 . Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan Tabel 3 memperlihatkan rata-rata perubahan yang bermakna pada penurunan skala nyeri pada kelompok kontrol sebelum skala nyeri pada kelompok intervensi antara JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 sebelum dan sesudah pemberian terapi. intervensi mengalami penurunan skala nyeri Rata-rata skala nyeri sebelum pembeian pasca bedah TURP lebih tajam bila terapi 4,59 menjadi 2,94 setelah dilakukan dibandingkan dengan kelompok pemberian terapi. Demikian juga pada Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan Burlukkara salih terhadap 286 pasien yang penurunan skala nyeri dari rata-rata 4,82 menjalani Retrograde Intrarenal Surgery menjadi 3,88 setelah diberi terapi. (RIRS) yaitu suatu prosedur urologi setara Penurunan skala nyeri pada kedua TURP dengan anastesi spinal, menunjukkan kelompok tersebut terjadi karena keduanya sama-sama mendapatkan terapi analgesik. menurunkan skor rasa nyeri (VAS) pada jam Analgesia pasca-TURP pertama post operasi golongan nonsteroid anti inflammatori Obat secara signifikan 0,02 kelompok kontrol tanpa musik. drugs (NSAID), seperti metamizol atau Penelitian penurunan signifikan terhadap kecemasan menghambat enzim siklooksigenase (COX- dan denyut jantung pascaoperasi dengan . , sehingga menekan sintesis prostaglandin . < 0,001 serta p = 0,. (Byrlukkara et al. penyebab rasa sakit di lokasi trauma operasi Penelitian lainnya juga melaporkan (Cheung et al. , 2. Studi sistematik dan hasil penelitian terhadap 82 pasien lanjut usia yang menjalani TURP dengan anestesi NSAID, spinal sambil mendengarkan musik selama diclofenac dan ketorolac, dalam multimodal analgesia pascaoperasi TURP. Disimpulkan menurunkan nilai BIS (Bispectal Inde. juga bahwa NSAID aman dan efektif, tanpa yang menunjukkan efek sedasi ringan serta menurunkan tekanan darah sistolik, tekanan direkomendasikan sebagai alternatif primer dibandingkan kelompok kontrol tanpa music untuk mengurangi kebutuhan opioid pasien dengan nilai p<0,05 (Wu et al. , 2. Selisih penurunan skala nyeri pada Analisis lebih lanjut menunjukkan rata-rata Wroclawski et al. , 2. NSAID juga (Robles et al. , 2. kelompok intervensi adalah 1,65 sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata penurunan intervensi adalah 2,94 yang berarti lebih skala nyerinya adalah 0,94 dengan p value = rendah dari kelompok control yaitu 3,88. 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok penurunan skala nyeri pada kelompok JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 intervensi lebih signifikan bila dibandingkan meningkatkan spiritual well-being dengan dengan kelompok kontrol. Sehingga dapat rata-rata peningkatan 0,43 . % CI: 0,25Ae disimpulkan bahwa pemberian kombinasi 0,61. terapi analgesik dan musik religi lebih Hal ini menunjukkan bahwa musik signifikan dari pemberian terapi analgesik saja dalam menurunkan rasa nyeri pasca bedah pada pasien TURP. Musik berperan sebagai intervensi p < 0,. memperkuat makna hidup serta kesadaran kognitif non-farmakologis yang efektif dalam meredakan nyeri. Terapi musik dapat menyuguhkan keindahan estetika, tetapi frekuensi pernapasan, dan meningkatkan pemulihan spiritual, dan intervensi perilaku kedalaman napas, yang secara fisiologis positif yang mendalam (Huda et al. , 2. Lirik dan tempo dalam musik neurologis, musik merangsang gate control religius memiliki kekuatan spiritual dan system di sumsum tulang belakang dengan menciptakan input sensorik yang kompetitif menampilkan lirik yang memuat nilai terhadap sinyal nyeri, hal ini mendukung keagamaan dan ajaran spiritual bukan teori gate control dan memperlambat sekadar seni atau hiburan, sehingga dapat transmisi nyeri ke otak. Selain itu, musik yang disukai dapat merangsang pelepasan memperdalam iman pendengarnya. Selain itu, tempo musik religi yang lambat dan Musik pengurangan nyeri dan peningkatan suasana neurofisiologi, khususnya sistem limbik dan saraf kranial, untuk merangsang sekresi endorfin. GABA, dan hormon relaksasi peradangan (Lei et al. , 2. Proses ini mempengaruhi sistem Terapi musik religi memiliki efek saraf simpatik dan mengaktifkan mekanisme holistik yang mendalam, mampu menyentuh kesadaran spiritual serta meningkatkan transmisi sinyal nyeri ke otak, serta kesejahteraan jiwa. Sebuah Kajian meta- menciptakan kerangka berpikir positif yang analisis terhadap pasien kanker stadium menambah kenyamanan pasien (Muhsinah, lanjut menunjukkan bahwa intervensi music 2. termasuk musik religious secara signifikan JURNAL EDUNursing. Vol. No. April 2025 http://journal. ISSN : 2549-8207 e-ISSN : 2579-6127 Musik religi dapat merangsang Musik DAFTAR PUSTAKA