Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3. Nomor 5. December 2025. E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Manajemen Sekolah dalam Menangani Kasus Siswa Bermasalah di SMA Negeri 3 Lengayang School Management in Handling Cases of Problematic Students at Lengayang 3 State Senior High School Dedi Effendi1. Neviyarni2. Yarmis Syukur3 123Proram Studi Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Padang ABSTRACT This study aims to explain how Lengayang 3 State Senior High School manages the management of problem students through a series of activities designed for initial identification, comprehensive assessment, intervention, and ongoing follow-up monitoring. The study used descriptive qualitative methods, using in-depth interviews, school environment observations, and document reviews as the primary data Keywords Management. Problems. Guidance and The results indicate that students face various problems such as Counseling Service rule violations, decreased interest in learning, social conflict, and Kata Kunci: Manajemen. Permasalah, emotional stress influenced by family situations, friendships, and Layanan Bimbingan Konseling academic burdens. Guidance and counseling teachers handle cases through collaboration with subject teachers and homeroom teachers, followed by in-depth assessments and interventions based on a humanistic approach. Supporting factors include educator collaboration, principal support, and parental involvement. However, the limited number of guidance and counseling teachers, inadequate facilities, and This is an open access article under the CC BY-SA the negative stigma surrounding counseling are major obstacles. These Copyright A 2025 by Author. Published by Yayasan findings emphasize the importance of strengthening guidance and Daarul Huda counseling services and improving the professionalism of guidance and counseling teachers. ABSTRAK Studi ini bertujuan menjelaskan bagaimana SMA Negeri 3 Lengayang menjalankan manajemen penanganan siswa bermasalah melalui rangkaian kegiatan identifikasi awal, asesmen komprehensif, pemberian intervensi, serta pemantauan lanjutan yang dirancang secara Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif, menggunakan wawancara mendalam, observasi lingkungan sekolah, dan telaah dokumen sebagai sumber data utama. Hasil menunjukkan bahwa siswa menghadapi beragam persoalan seperti pelanggaran aturan, menurunnya minat belajar, konflik sosial, serta tekanan emosional yang dipengaruhi situasi keluarga, pertemanan, dan beban akademik. Guru BK menangani kasus melalui kerja sama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas, dilanjutkan asesmen mendalam serta intervensi berbasis pendekatan humanistik. Faktor pendukung mencakup kolaborasi pendidik, dukungan kepala sekolah, serta peran orang tua. Namun, terbatasnya jumlah guru BK, minimnya fasilitas, dan stigma negatif terhadap konseling menjadi hambatan utama. Temuan tersebut menekankan pentingnya penguatan layanan BK dan peningkatan profesionalisme guru BK. ARTICLE INFO Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 PENDAHULUAN Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki mandat utama untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun emosional. Agar tujuan tersebut tercapai, sekolah dituntut untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman, tertib, serta mampu mengakomodasi keberagaman karakter dan kebutuhan perkembangan Namun, masa remaja dikenal sebagai periode transisi yang penuh gejolak, di mana siswa rentan mengalami perubahan perilaku, tekanan sosial, serta ketidakstabilan emosi (Santrock. Kondisi ini sering kali memunculkan berbagai bentuk masalah di sekolah seperti *Corresponding Author Email: dedieffendi778@gmail. Neviyarnis_s@fip. id, yarmissyukur@fip. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, pelanggaran disiplin, rendahnya motivasi belajar, kesulitan konsentrasi, hingga munculnya konflik interpersonal. Realitas tersebut juga terlihat di SMA Negeri 3 Lengayang, sebuah sekolah menengah atas di Kecamatan Lengayang. Kabupaten Pesisir Selatan. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada Juni 2025, ditemukan berbagai bentuk perilaku bermasalah di kalangan siswa. Beberapa siswa tampak sering datang terlambat, kurang mematuhi peraturan mengenai seragam, serta menunjukkan gejala menurunnya minat belajar. Pada saat proses pengamatan kelas, terlihat beberapa siswa tidak fokus mengikuti penjelasan guru dan cenderung pasif dalam diskusi. Selain itu, terdapat kelompok kecil siswa yang lebih sering menghabiskan waktu di kantin saat jam pelajaran berlangsung. Temuan observasi tersebut diperkuat melalui wawancara informal dengan salah seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK). Guru tersebut menyampaikan bahwa sebagian siswa menghadapi hambatan dalam mengatur waktu belajar karena situasi keluarga yang kurang kondusif, seperti orang tua yang sibuk bekerja atau kurang memberikan pengawasan. Ia juga menambahkan bahwa Aubeberapa siswa tampaknya lebih dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan sebaya yang kurang mendukung, sehingga mereka lebih mudah mengabaikan kewajiban sekolah dan sering terlibat pelanggaran kecil. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa perilaku siswa yang bermasalah tidak hanya bersumber dari faktor internal, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial, lingkungan tempat tinggal, dan dinamika keluarga. Fenomena tersebut menegaskan pentingnya manajemen sekolah dalam mengelola dan menangani berbagai permasalahan siswa. Menurut Hoy dan Miskel . , manajemen pendidikan yang efektif mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta evaluasi terhadap seluruh aktivitas pembinaan siswa. Pengelolaan ini harus dilakukan secara sistematis agar sekolah mampu merespons permasalahan siswa secara tepat dan berkesinambungan. Sementara itu. Bush . menekankan bahwa pengambilan keputusan dalam konteks sekolah akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pendekatan kolaboratif, di mana kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru BK, wali kelas, dan orang tua saling berbagi peran serta informasi untuk mendukung perkembangan siswa. Dalam penanganan siswa bermasalah, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi krusial. Guru BK berperan sebagai konselor, wali kelas bertindak sebagai pembina kedisiplinan harian, sementara kepala sekolah mengarahkan kebijakan pembinaan dan menegakkan tata tertib. Selain itu, dukungan keluarga sebagai lingkungan utama siswa juga sangat menentukan keberhasilan proses pembinaan. Pendekatan multidisipliner seperti ini sejalan dengan pandangan Epstein . dalam teori School-Family-Community Partnership yang menekankan bahwa pembinaan siswa hanya akan optimal apabila terjadi sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar. Melihat kompleksitas permasalahan yang terjadi di SMA Negeri 3 Lengayang, maka diperlukan sistem manajemen penanganan kasus siswa yang tidak hanya menekankan penegakan disiplin, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan kultural siswa. Pendekatan yang humanis dan berorientasi pada pembinaan jangka panjang diyakini dapat membantu siswa memperbaiki perilaku dan mengembangkan potensi dirinya secara lebih Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana manajemen sekolah di SMA Negeri 3 Lengayang menangani kasus siswa bermasalah melalui strategi yang terstruktur, kolaboratif, dan berpusat pada kebutuhan perkembangan remaja. Kajian ini disusun berdasarkan fenomena lapangan, praktik pengelolaan sekolah, serta temuan teori terkait manajemen pendidikan, bimbingan konseling, dan perkembangan remaja modern. Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Diharapkan pembahasan ini dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam memperkuat sistem pembinaan siswa sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif, responsif, dan berorientasi pada tumbuh kembang peserta didik. METODE PENELITIAN Kajian ini memakai metode penelitian kualitatif dengan format deskriptif, sebab penelitian berfokus memahami realitas sosial dan proses pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata lokal secara mendalam. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap pandangan, interpretasi, serta pengalaman masyarakat secara lebih menyeluruh dan kontekstual (Bungin, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga prosedur utama, yaitu wawancara terstruktursemi mendalam, pengamatan lapangan, dan penelusuran dokumen. Wawancara digunakan untuk memperoleh sudut pandang beragam dari tokoh adat, perangkat nagari, kelompok sadar wisata, serta warga yang terlibat dalam aktivitas ekonomi wisata. Pengamatan langsung dilakukan untuk memahami situasi nyata di lapangan, mencakup perilaku masyarakat, kondisi sarana wisata, dan bentuk keterlibatan warga. Sementara itu, penelusuran dokumen membantu memperkuat temuan melalui bukti tertulis seperti arsip pemerintah nagari, foto kegiatan, dan dokumen perencanaan pariwisata. Pengolahan data mengikuti pola analisis interaktif Miles. Huberman, dan Saldana, yang berlangsung melalui proses menyaring informasi penting . , menyusun data dalam bentuk narasi dan tabel . , hingga menghasilkan makna dan kesimpulan akhir. Keandalan temuan dijaga melalui triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai teknik serta dari beragam sumber (Sugiyono, 2. HASIL PENELITIAN Ragam Permasalahan Siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika permasalahan siswa di SMA Negeri 3 Lengayang sangat beragam dan saling berkaitan satu sama lain. Temuan ini diperoleh melalui triangulasi data, yaitu wawancara mendalam dengan guru BK, observasi pada beberapa kegiatan sekolah, serta penelusuran dokumen bimbingan. Ketiga informasi ini menunjukkan bahwa masa remaja membawa perubahan perilaku, emosional, dan sosial yang berdampak langsung pada disiplin, motivasi, serta hubungan interpersonal antar siswa. Pelanggaran Disiplin dan Tata Tertib Sekolah Pelanggaran tata tertib menjadi kasus dominan yang ditemukan selama penelitian. Guru BK mengungkapkan bahwa bentuk pelanggaran yang paling sering terjadi meliputi keterlambatan tiba di sekolah, ketidakpatuhan terhadap aturan seragam, dan penggunaan ponsel saat proses belajar berlangsung. Dalam wawancara, guru BK AuSetiap pagi pasti ada siswa yang datang setelah bel. Bahkan di kelas pun masih ada yang membuka HP, meskipun sudah sering diperingatkan. Ay Peneliti juga mengamati langsung situasi tersebut. Selama dua hari kunjungan, beberapa siswa terlihat berjalan santai memasuki lingkungan sekolah meskipun jam pelajaran sudah dimulai. Di beberapa kelas, beberapa siswa tampak menengok layar ponsel di bawah meja saat guru sedang mengajar. Fakta ini menunjukkan bahwa regulasi sekolah belum sepenuhnya diinternalisasi oleh siswa, terutama mereka yang rumahnya jauh atau memiliki kebiasaan kurang disiplin. Rendahnya Motivasi Belajar dan Keterlibatan Akademik Dedi Effendi, et. , al/ Manajemen Sekolah dalam Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Masalah kedua yang cukup signifikan ialah penurunan motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari perilaku siswa yang pasif, tidak menyelesaikan tugas, serta kurang menunjukkan minat dalam diskusi kelas. Guru BK menegaskan bahwa: AuMotivasi mereka tidak stabil. Ada yang merasa tidak mendapat dukungan di rumah, ada juga yang lebih sibuk dengan pergaulan dibanding belajar. Ay Dari hasil observasi, peneliti melihat sebagian siswa tampak kurang berfokus ketika guru menjelaskan materi. Beberapa terlihat menggambar, bermain alat tulis, atau memandang kosong ke luar jendela. Ketika diwawancarai secara informal, beberapa siswa mengatakan bahwa mereka merasa bosan, kesulitan memahami materi, atau sedang menghadapi tekanan keluarga seperti permasalahan ekonomi, konflik orang tua, atau tanggung jawab pekerjaan rumah yang cukup besar. Konflik Sosial serta Permasalahan Emosional Permasalahan selanjutnya yang kerap muncul terkait hubungan sosial antar siswa. Konflik yang terjadi biasanya dipicu oleh kesalahpahaman kecil, komentar di media sosial, candaan berlebihan, atau perselisihan kelompok pertemanan. Guru BK menuturkan: AuAda siswa yang datang dengan muka murung. Setelah dibicarakan, rupanya ada masalah di rumah yang membuat ia sulit mengontrol emosinya. Ay Saat observasi, peneliti melihat beberapa siswa memilih menyendiri di sudut kelas, tampak emosional, atau menghindari kelompok tertentu. Hal ini menunjukkan adanya tekanan emosional yang dibawa siswa dari lingkungan rumah atau media sosial yang akhirnya memengaruhi hubungan mereka di sekolah. Jika tidak ditangani dengan baik, situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik interpersonal yang mengganggu iklim Mekanisme Manajemen Penanganan Kasus oleh Guru BK Penelitian mengungkap bahwa guru BK di SMA Negeri 3 Lengayang menerapkan pendekatan manajemen kasus yang sistematis dan berorientasi pada kesejahteraan siswa. Pendekatan ini mencakup empat tahapan utama, yaitu identifikasi, asesmen, intervensi, dan Setiap tahap dilakukan secara terencana agar penanganan kasus bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Identifikasi Awal dan Dokumentasi Kasus Tahap pertama berupa identifikasi masalah melalui laporan yang masuk dari guru mata pelajaran, wali kelas, maupun siswa lain. Guru BK melakukan pencatatan secara rutin dalam buku bimbingan serta lembar monitoring siswa. Informasi ini digunakan untuk memetakan pola pelanggaran, seperti frekuensi keterlambatan dan jenis pelanggaran yang sering dilakukan siswa tertentu. Selama penelitian, peneliti menyaksikan guru BK memeriksa catatan harian dan mengecek laporan dari guru lain. Hal ini menunjukkan bahwa proses identifikasi berlangsung aktif setiap hari. Asesmen Mendalam untuk Menemukan Akar Permasalahan Guru BK tidak langsung mengambil tindakan, melainkan melakukan asesmen untuk memahami kondisi emosional dan lingkungan siswa. Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali informasi mengenai faktor keluarga, tekanan sosial, situasi psikologis, dan kebiasaan siswa. Guru BK menyampaikan: AuKita harus tahu apa yang menjadi beban siswa. Kadang yang terlihat nakal justru sedang menghadapi masalah berat di rumah. Ay Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Contohnya, siswa yang sering datang terlambat ternyata harus mengantar adiknya ke sekolah, atau beberapa siswa yang mudah marah rupanya sedang menghadapi konflik orang tua di rumah. Intervensi Berbasis Pendekatan Humanis dan Kolaboratif Intervensi dilakukan dengan pendekatan yang menekankan empati, dialog terbuka, dan pembinaan. Bentuk intervensi meliputi: konseling individual bagi siswa yang membutuhkan perhatian personal, . konseling kelompok bagi siswa dengan permasalahan serupa . mediasi antarsiswa dalam konflik sosial, . koordinasi bersama wali kelas dan guru mapel, . pemanggilan orang tua untuk kasus berulang atau berat. Berdasarkan observasi, proses konseling berlangsung dalam suasana nonformal yang membuat siswa merasa dihargai dan didengarkan. Monitoring dan Tindak Lanjut Berkelanjutan Tahap tindak lanjut dilakukan dengan memantau kehadiran siswa, memeriksa perkembangan perilakunya, serta mengadakan pertemuan lanjutan jika ditemukan gejala masalah kembali muncul. Pemantauan ini menjadi kunci agar perubahan perilaku siswa tetap konsisten. Guru BK secara rutin meminta laporan dari guru mata pelajaran, terutama mengenai siswa yang pernah mendapat bimbingan sebelumnya. Faktor-Faktor yang Mendukung Penanganan Kasus Penelitian juga menemukan sejumlah aspek yang mendukung keberhasilan manajemen kasus di sekolah, antara lain: Kolaborasi yang solid antar guru, sehingga pelaporan masalah berlangsung cepat. Dukungan kepala sekolah, terutama dalam memberikan ruang bagi guru BK untuk menjalankan layanan tanpa hambatan. Hubungan interpersonal yang baik antara guru BK dan siswa, sehingga siswa merasa aman dan terbuka dalam sesi konseling. Keterlibatan aktif orang tua, terutama dalam memberikan dukungan pada anak ketika dipanggil sekolah. Selama observasi, peneliti melihat beberapa orang tua datang langsung ke sekolah untuk berdiskusi tentang anak mereka, menunjukkan adanya hubungan positif antara sekolah dan keluarga. Faktor Penghambat dalam Penanganan Kasus Meskipun terdapat dukungan yang kuat, sejumlah kendala tetap ditemui di lapangan. Rasio guru BK yang tidak sebanding dengan jumlah siswa, sehingga beberapa kasus membutuhkan waktu lebih lama untuk ditangani. Fasilitas ruang BK yang terbatas, sehingga konseling kadang tidak berlangsung secara Kompleksitas masalah yang semakin meningkat, terutama terkait media sosial, kecemasan belajar, serta tekanan dari keluarga. Minimnya partisipasi sebagian orang tua, terutama mereka yang sibuk bekerja atau kurang memahami pentingnya pendampingan pendidikan. Kondisi ini menuntut sekolah untuk terus meningkatkan kapasitas layanan BK agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa yang semakin kompleks. Dampak Penanganan Kasus terhadap Perubahan Perilaku Siswa Dedi Effendi, et. , al/ Manajemen Sekolah dalam Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Dari hasil pengamatan dan wawancara lanjutan, terlihat bahwa sebagian besar siswa menunjukkan perubahan positif setelah mengikuti proses konseling dan pembinaan. Perubahan tersebut meliputi: meningkatnya disiplin dan kepatuhan terhadap aturan sekolah, membaiknya hubungan antar siswa karena adanya mediasi, meningkatnya motivasi belajar karena dukungan emosional dan akademik dari guru BK, tumbuhnya rasa tanggung jawab dan kesadaran diri siswa terhadap perilaku mereka. Seorang siswa mengatakan: AuDulu saya sering terlambat, tapi setelah bicara dengan guru BK, saya mulai menyadari kesalahan saya. Sekarang saya berusaha datang lebih awal. Ay Kisah sederhana ini menggambarkan bahwa penanganan yang humanis tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga membantu siswa membangun kesadaran diri dan sikap positif terhadap sekolah. PEMBAHASAN Pola Manajemen Penanganan Siswa Bermasalah yang Terorganisasi dan Terkoordinasi Temuan penelitian mengindikasikan bahwa SMA Negeri 3 Lengayang telah mengembangkan pola kerja penanganan siswa bermasalah yang berlangsung secara berlapis, terstruktur, dan bertumpu pada kolaborasi antarpendidik. Dalam konteks operasional harian, guru mata pelajaran dan wali kelas menjadi aktor awal yang melakukan identifikasi gejala deviasi perilaku, baik berupa penurunan motivasi belajar, perubahan sikap, maupun munculnya gejala emosional yang tidak biasa. Informasi awal tersebut kemudian diteruskan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang memiliki kompetensi khusus untuk melakukan asesmen psikopedagogis secara lebih mendalam. Alur koordinasi ini memperlihatkan adanya mekanisme respon cepat . arly detection syste. yang menempatkan setiap pendidik sebagai bagian dari sistem pendukung kesejahteraan psikososial siswa. Guru BK tidak hanya berfungsi menunggu laporan, tetapi juga menjalankan peran monitoring preventif terhadap siswa yang memiliki riwayat masalah sebelumnya. Pemantauan berkelanjutan tersebut merupakan indikator bahwa sekolah telah mengadopsi prinsip-prinsip layanan BK komprehensif yang menekankan pendekatan pencegahan, pengembangan, dan penanganan (Gysbers & Henderson, 2. Koordinasi antarpendidik yang berjalan konsisten menunjukkan bahwa sekolah telah menginternalisasi konsep manajemen kolaboratif, di mana setiap bagian tidak bekerja secara terisolasi tetapi saling melengkapi. Model kerja tersebut sejalan dengan konsep school-based support system, yaitu sistem dukungan internal sekolah yang memastikan masalah siswa dapat ditangani sejak tahap paling awal sebelum berkembang menjadi permasalahan kompleks. Jenis Permasalahan Siswa dan Faktor yang Memengaruhinya Analisis lapangan menunjukkan bahwa variasi permasalahan siswa di SMA Negeri 3 Lengayang muncul dalam spektrum yang luas dan saling berkelindan. Bentuk masalah yang sering ditemui mencakup pelanggaran kedisiplinan misalnya ketidakhadiran, kurang fokus di kelas, atau menurunnya partisipasi belajar hingga persoalan psikologis seperti kecemasan, kelelahan mental, dan konflik interpersonal. Permasalahan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh kondisi keluarga, dinamika pergaulan, tekanan akademik, serta faktor perkembangan internal individu. Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Beberapa siswa menyampaikan bahwa kondisi rumah yang tidak harmonis, seperti konflik antaranggota keluarga atau tekanan ekonomi, turut memperberat beban emosional mereka sehingga berdampak pada performa belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian Santrock . yang menyatakan bahwa remaja merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap tekanan lingkungan, dan ketidakstabilan emosional dapat menurunkan kemampuan konsentrasi serta menghambat proses pengambilan keputusan. Selain faktor keluarga, tuntutan akademik yang tinggi terutama pada jenjang SMA dapat menimbulkan kecemasan performatif . erformance anxiet. Yusuf . menegaskan bahwa tekanan akademik yang tidak disertai kemampuan mengelola stres akan memicu perilaku maladaptif, seperti menarik diri, menunda tugas, atau melanggar aturan Faktor pergaulan juga memainkan peran signifikan, terutama ketika siswa berada dalam lingkungan sosial yang tidak mendukung perkembangan positif. Dengan demikian, permasalahan siswa bersifat multidimensional, melibatkan aspek psikologis, sosial, dan akademik secara bersamaan. Hal ini memperkuat urgensi bagi sekolah untuk menyediakan sistem pendampingan yang bukan hanya remedial, tetapi juga bersifat preventif dan promotif. Strategi Intervensi dan Pendekatan Konseling yang Diterapkan Sekolah Dalam merespons keragaman permasalahan yang dialami siswa, guru BK SMA Negeri 3 Lengayang menerapkan berbagai bentuk intervensi yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat kompleksitas masalah. Konseling individual menjadi strategi utama ketika siswa membutuhkan ruang personal untuk mengekspresikan pengalaman emosional. Dalam sesi ini, guru BK menggunakan pendekatan berempati, menerima tanpa menghakimi, dan menciptakan suasana psikologis yang aman agar siswa merasa bebas berbagi. Untuk kasus yang melibatkan dinamika kelompok, guru BK memanfaatkan konseling kelompok kecil guna menumbuhkan kesadaran diri, interaksi positif, dan saling dukung Sementara itu, pada kasus yang memiliki akar permasalahan di lingkungan keluarga, pihak sekolah mengundang orang tua untuk berdialog dan menemukan solusi Mekanisme kolaboratif ini mencerminkan konsep tri pusat pendidikan yang menekankan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai fondasi perkembangan siswa. Selain pendekatan humanistik, guru BK juga menerapkan teknik kognitif-perilaku yang dirancang untuk membantu siswa mengenali pola pikir negatif yang memicu perilaku tidak adaptif. Dengan reframing dan penerapan strategi pengendalian diri, siswa diarahkan untuk mengembangkan pola respon yang lebih positif dan terkontrol. Pendekatan ini sesuai dengan rekomendasi Corey . dan Mitchell . bahwa konselor sekolah perlu memadukan pendekatan humanistik dan kognitif-perilaku agar proses konseling lebih Hambatan dalam Pelaksanaan Penanganan Kasus Penelitian mengungkapkan bahwa meskipun layanan konseling di sekolah telah berjalan cukup baik, terdapat sejumlah hambatan struktural maupun kultural yang mengurangi efektivitas layanan. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan jumlah guru BK sehingga beban kerja menjadi tidak seimbang dengan jumlah siswa yang ditangani. Kondisi ini berpotensi mengurangi kualitas asesmen dan pendampingan karena waktu yang tersedia relatif terbatas. Hambatan berikutnya adalah persepsi negatif siswa terhadap ruang BK, yang sering dipandang sebagai tempat "pemanggilan siswa bermasalah". Stigma ini menghambat program konseling preventif karena siswa enggan datang secara sukarela. Perspektif keliru Dedi Effendi, et. , al/ Manajemen Sekolah dalam Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, tersebut menunjukkan perlunya literasi konseling di kalangan siswa untuk memahami bahwa layanan BK merupakan ruang dukungan, bukan ruang hukuman. Selain itu, proses administrasi layanan yang masih berbasis manual memperlambat dokumentasi dan pelacakan perkembangan kasus. Sistem dokumentasi yang tidak digital membuat guru BK membutuhkan waktu lebih lama untuk mengakses catatan siswa, yang dapat menghambat proses pengambilan keputusan. Kondisi ini sejalan dengan temuan Winkel . bahwa keberhasilan layanan BK sangat dipengaruhi oleh sistem administrasi yang tertata dan efisien. Implikasi bagi Penguatan Manajemen Sekolah Temuan penelitian ini memiliki implikasi strategis bagi penguatan manajemen Pertama, digitalisasi administrasi layanan BK perlu menjadi prioritas agar dokumentasi kasus lebih cepat, akurat, dan mudah diakses. Sistem berbasis teknologi memungkinkan guru BK memantau perkembangan siswa secara berkelanjutan dan merancang intervensi yang lebih terarah. Kedua, sekolah perlu memperkuat kapasitas seluruh guru dalam memahami peran mereka sebagai pendidik yang juga bertanggung jawab terhadap pembinaan karakter dan pencegahan perilaku bermasalah. Dengan demikian, beban penanganan tidak hanya terpusat pada guru BK. Penguatan kapasitas pendidik juga dapat dilakukan melalui in-service training, pelatihan manajemen kelas, dan pengembangan kompetensi sosial-emosional. Ketiga, guru BK perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan mengenai teknik konseling kontemporer, asesmen psikososial, dan pemanfaatan teknologi dalam layanan. Peningkatan kompetensi ini penting agar layanan konseling tetap relevan dengan dinamika kebutuhan siswa yang semakin kompleks di era modern. Apabila rekomendasi tersebut dapat diimplementasikan, sekolah dapat membentuk lingkungan belajar yang stabil, aman, dan mendukung perkembangan akademik, sosial, maupun emosional siswa. Hal ini mencerminkan gagasan Hoy & Miskel . bahwa manajemen sekolah yang efektif harus mencakup penguatan sistem, peningkatan kapasitas pendidik, serta penciptaan budaya sekolah yang berorientasi pada kesejahteraan peserta SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sekolah dalam menangani siswa yang menghadapi berbagai permasalahan di SMA Negeri 3 Lengayang telah dilaksanakan melalui alur kerja yang terencana dan saling terhubung. Deteksi awal terhadap perilaku siswa dilakukan melalui kerja sama guru mata pelajaran dan wali kelas, yang kemudian ditindaklanjuti oleh guru BK dengan melakukan asesmen komprehensif untuk menelaah faktor psikologis, sosial, maupun akademik yang turut membentuk perilaku siswa. Intervensi yang diberikan dirancang dengan pendekatan humanistik dan bersifat kolaboratif, mencakup layanan konseling individual, konseling kelompok, proses mediasi, serta koordinasi intensif dengan pihak keluarga dan unsur sekolah lainnya. Proses ini diperkuat dengan monitoring berkelanjutan guna memastikan perubahan perilaku siswa terjadi secara bertahap dan terjaga konsistensinya. Penelitian ini juga menegaskan bahwa keberhasilan penanganan kasus sangat dipengaruhi oleh kekompakan kerja antarguru, kepemimpinan kepala sekolah yang mendukung, serta keterlibatan aktif orang tua dalam proses pembinaan. Walaupun demikian, sejumlah tantangan masih ditemukan, seperti keterbatasan jumlah guru BK dibandingkan jumlah siswa, kurang optimalnya fasilitas ruang layanan, serta pandangan negatif sebagian siswa terhadap ruang BK. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya memperkuat tata kelola layanan BK melalui Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, digitalisasi administrasi, pengembangan kompetensi profesional guru BK secara berkelanjutan, serta peningkatan pemahaman warga sekolah mengenai fungsi konseling. Dengan perbaikan sistem yang lebih terarah, sekolah berpotensi mewujudkan suasana belajar yang lebih aman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik. REFERENSI