Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2021 Vol. Pengenalan Transitivitas dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Gita Rachma Safitri1*. Sintowati Rini Utami2 Universitas Negeri Jakarta Alamat Surel gitarachmasafitri@gmail. *Penulis Korespondensi Kata Kunci Abstrak Pembelajaran berbasis teks berhubungan dengan ciri, struktur, dan Untuk memudahkan proses pengajaran, dalam linguistik sistemik fungsional terdapat suatu proses yang menggambarkan ciri, struktur, dan kebahasaan suatu teks, yang disebut dengan transitivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transitivitas yang mencakup proses, partisipan, dan sirkumstansi dalam teks berita. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh meliputi 3 proses yang dominan yaitu: proses verbal 39 proses, proses material 19 proses, dan proses mental 12 proses. Proses verbal yang mendominasi tersebut meliputi partisipan pewarta dan diwartakan. Sirkumstansi yang mendominasi pada penelitian ini ialah sirkumstansi yang menunjukkan keterangan tempat. Hasil penelitian ini dapat diimplikasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, untuk menelaah struktur dan kebahasaan teks berita, serta untuk menyajikan data dan informasi dalam bentuk berita dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, atau aspek lisan. Pendahuluan Linguistik Sistemik Fungsional memandang bahwa klausa sebagai sumber makna memiliki tiga dimensi makna sekaligus, yaitu makna tekstual, makna interpersonal, dan makna ideasional. Untuk mengetahui makna yang ada pada sebuah teks dapat dilihat dari proses dan kerangka yang membentuk klausa tersebut. Proses dan kerangka tersebut terdapat pada makna ideasional. Makna ideasional adalah makna yang terkait dengan apa yang terjadi (Marlia, 2. Makna ideasional setiap teks yang dihasilkan dari penulis yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Makna ideasional terbagi lagi menjadi makna eksperensial dan makna logikal. Makna ideasional yang terkait dengan makna ekspresensial diasosiakan dengan berbagai jenis proses dalam kerangka sistem kebahasaan yang disebut transitivitas (Halliday, 1. Hasil analisis transitivitas akan diperoleh jenis proses, partisipan yang dominan, dan sirkumstansi . eterangan tempat, cara, maupun wakt. , yang menyertai proses tersebut (Sukarno, 2. Proses ini lah yang akan memperlihatkan bagaimana fungsi bahasa tersebut di dalam sebuah klausa. Dalam proses ini terdiri dari 3 bagian, yaitu . proses itu sendiri, . partisipan, . Partisipan dan sirkumstansi akan hadir bergantung pada jenis proses yang ada, sehingga dari proses ini dapat kita lihat makna yang ingin diinformasikan oleh penulis melalui teks tersebut. Proses ini direalisasikan oleh kelompok verba yang terdiri dari enam jenis, yaitu: proses material, proses mental, proses relasional, proses verbal, proses perilaku, dan proses eksistensial (Tri Wiratno, 2. Dari proses tersebut akan ditemukan partisipan yang berbeda dan sirkumstansi yang berhubungan oleh klausa tersebut. Keenam proses ini akan ditandai oleh verba yang hadir pada klausa di teks tersebut, sehingga setiap klausa dengan struktur atau tata bahasa yang berbeda akan memiliki makna yang berbeda dan akan terlihat pada analisis jenis proses, partisipan, dan sirkumstansi yang ada pada klausa tersebut. Kehadiran verba dapat ditemukan dengan mudah di teks bahasa Indonesia, karena verba merupakan salah satu kelas kata yang termasuk ke dalam ciri kebahasaan pada teks bahasa Indonesia Kurikulum 2013 (Masnur Muslich, 2. , salah satunya pada teks berita yang menggambarkan proses, perbuatan, ataupun keadaan yang sedang terjadi dan dituangkan dalam bentuk tulisan yang dapat dianalisis klausa dari setiap kalimat yang untuk melihat proses, partisipan, dan sirkumstansi yang dinyatakan oleh verba yang hadir dalam klausa tersebut. Maka dari itu pemahaman mengenai transitivitas yang mencakup proses, partisipan, dan sirkumstansi ini penting untuk dipahami, terutama bagi pengajar dan pelajar karena selain dapat menambah pengetahuan, teori ini juga menjadi dasar dalam memahami isi sebuah teks, seperti struktur dan kebahasaannya. Itu lah mengapa pembelajaran ini penting diberikan di sekolah. Pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai pengembangan materi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar (KD) yang Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 2 berhubungan dengan isi dari suatu teks yang dapat dijelaskan, seperti dalam KD 3. 1 yang meminta siswa untuk menelaah struktur dan kebahasaan teks berita yang didengar dan dibaca, dan KD 4. yang meminta siswa untuk menyajikan data dan informasi dalam bentuk berita secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, atau aspek lisan . afal, intonasi, mimik, dan kinesi. Dengan kata lain, guru dapat menerapkan dan mengaplikasikan pemahaman tentang proses, partisipan, dan sirkumstansi pada isi teks berita kepada siswa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa baik lisan maupun tulisan dengan baik dan benar, memudahkan siswa dalam memahami maksud dan fungsi dari sebuah kalimat serta Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik analisis isi, kemudian menganalisisnya menggunakan teori transitivitas. Penelitian ini difokuskan pada proses, partisipan, dan sirkumstansinya. Pada proses meliputi: . proses verbal, . proses material, . proses mental, . proses relasional, . proses perilaku, dan . proses eksistensial. Setelah itu terdapat partisipan yang mengikuti setiap proses tersebut,yang meliputi . partisipan pewarta dan diwartakan, . partisipan aktor dan saran, . partisipan pengindera dan fenomenon, . partisipan penyandang dan sandangan, . partiispan pemerilaku dan fenomenon, dan . partisipan eksisten. Setelah itu terdapat pula sirkumstansi yang meliputi: . sirkumstansi yang menunjukkan keterangan tempat, . sirkumstansi yang menunjukkan keterangan waktu, dan . sirkumstansi yang menunjukkan keterangan cara. Objek yang digunakanan pada penelitian ini ialah verba yang ada dalam teks berita yang dimuat di Republika. id pada minggu pertama bulan April dengan judul Pengamat Teroris Temukan Kejanggalan dari Insiden di Mabes. Pengamat Ungkap Milenial Sasaran Utama Perekrutan Teroris. Putus Gerakan Teroris. Panglima TNI: Poskotis akan Dibangun. Perempuan Jadi Target Perekrutan Kelompok Teroris?. Terduga Teroris di Tunisia Dibunuh. Sang Istri Ledakkan Diri. Pengamat Teroris Temukan Kejanggalan dari Insiden di Mabes. Kumpulan berita tersebut berjumlah 5 teks berita, dengan kalimat yang berjumlah 79 buah, dan klausa inti yang berjumlah 79 buah. Untuk memudahkan penelitian ini, peneliti dibantu dengan adanya tabel analisis data, yang berisi data dari teks berita, dan data tersebut disusun berdasarkan kriteria analisis yang sudah ditentukan. Berdasarkan data pada tabel analisis data dilakukan analisis dengan prosedur sebagai berikut: Pertama, membaca data berupa teks berita. Kedua, mengumpulkan teks berita pada kolom teks di tabel analisis data. Ketiga, mengeluarkan kalimat yang ada pada teks berita. Keempat, menetapkan klausa inti yang ada pada kalimat. Kelima, mengeluarkan setiap verba dari klausa. Keenam, memperhatikan verba dan mencocokannya dengan jenis proses yang sesuai dengan verba yang Ketujuh menentukan partisipan sesuai dengan jenis proses yang mengikutinya. Kedelapan, menentukan sirkumstansi yang berkaitan dengan proses pada klausa inti. Kesembilan menyimpan data untuk dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan kriteria analisis. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Miles & Huberman . , dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, dilakukan pengumpulan data, yaitu sama seperti langkah-langkah dalam teknik pengumpulan data, yaitu membaca data berupa teks berita dan menentukan verba yang ditentukan dari sebuah klausa inti pada kalimat dalam teks berita tersebut. Kemudian dilakukan reduksi data, yaitu data yang sudah dikumpulkan kemudian disederhanakan. Data yang dipilih berupa verba pada setiap klausa inti. Selanjutnya dilakukan penyajian data, yaitu langkah yang dilakukan berdasarkan tiap verba pada klausa inti yang dijadikan sumber data. Data yang sudah ada dikumpulkan dan direduksi kemudian dianalisis dengan ketentuan yang sesuai dengan teori yang digunakan yaitu transitivitas yang mencakup proses, partisipan, dan sirkumstansi. Hasil yang telah dianalisis akan dimasukkan ke dalam tabel analisis. Dan terakhir menarik kesimpulan, yaitu langkah yang dilakukan untuk menarik kesimpulan berdasarkan interpretasi data penelitian, yaitu berdasarkan data yang paling banyak kehadirannya hingga data yang paling sedikit Data yang telah dianalisis kemudian dihitung frekuensi kehadirannya berdasarkan kategori proses, partisipan, dan sirkumstansinya. Setelah itu data dirangkum dan diinterpretasi. 3 | G. Safitri & S. Utami Hasil dan Pembahasan Data dalam penelitian ini berupa verba ada pada teks berita yang diterbit pada minggu pertama bulan April 2021 pada berita harian dalam jaringan Republika. Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasan tiap tabelnya. Berikut merupakan rekapitulasi data yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 1. Keseluruhan Jumlah Klausa. Proses. Partisipan, dan Sirkumstansi Juml Teks Jumla Kalim Juml Klaus a Inti Jumlah Juml Proses Jenis Verbal Material Mental Kognisi Mental Keinginan Mental Persepsi Mental Afeksi Relasional Atributif Relasional Identifikati Relasional Milik Relasional Sirkumsta Perilaku Mental Perilaku Verbal Eksistensia Juml Partisipan Jenis Juml Sirkumstansi Jenis Juml Pewarta Diwartakan Aktor Sasaran Pengindera Keteran Tempat Fenomenon Keteran Waktu Penyandang Sandangan Token Nilai Keteran Cara Penyandang/token/pe Sandangan/nilai/milik Penyandang/token Sandangan/sirkumstan sial/nilai Pemerilaku Fenomenon/sasaran Eksisten Transitivitas yang mencakup proses, partisipan, dan sirkumstansi yang hadir pada data penelitian, dapat dilihat penjabarannya sebagai berikut: Proses Verbal Data 1 Kalimat : Pengamat Teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst. Harits Abu Ulya, mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan terkait orang tak dikenal (OTK) sebagai teroris dalam peristiwa penembakan di depan Mabes Polri. Jakarta Selatan. Klausa: Pengamat Teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst. Harits Abu Ulya, mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan terkait orang tak dikenal (OTK) sebagai teroris. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 4 Tabel 2. Data Proses Verbal PengamatAUlya Partisipan: pewarta Proses: verbal terlaluAteroris Partisipan: diwartakan Analisis: Kehadiran verba mengatakan termasuk ke dalam proses verbal, karena menunjukkan pemberitahuan atau pewartaan, yang dikatakan oleh pewarta, yaitu Pengamat Teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst. Harits Abu Ulya, yang mengatakan suatu hal yang ditandai dengan partisipan diwartakan, yang ditunjukkan pada bagian: terlalu dini untuk menyimpulkan terkait orang tak dikenal (OTK) sebagai teroris. Dalam klausa ini tidak ditemukan sirkumstansi. Proses Material Data 2 Kalimat: Ia sempat menodongkan senjata api kepada aparat yang sedang bertugas di sekitar gerbang Mabes PolriAy. Klausa: Ia sempat menodongkan senjata api kepada apparat Tabel 3. Data Proses Material Partisipan: actor sempat menodongkan senjata api Proses: material kepada aparat Partisipan: sasaran Analisis: Kehadiran verba menodongkan termasuk ke dalam proses material, karena menunjukkan perbuatan yang ditunjukkan oleh aktivitas fisik, yang dilakukan oleh aktor, yaitu Ia, yang melakukan perbuatan tersebut kepada orang lain yang disebut sasaran, yaitu aparat. Dalam klausa ini tidak ditemukan sirkumstansi. Proses Mental Dalam data analisis ini akan dijabarkan 4 kategori dari proses mental, yang terdiri dari proses mental kognisi, proses mental keinginan, proses mental persepsi, dan proses mental afeksi, yang keempatnya memiliki fungsi yang berbeda. 1 Proses Mental Kognisi Data 3 Kalimat: Menurut Siti, pelanggaran-pelanggaran ini sering digunakan oleh kelompok-kelompok teroris untuk membentuk wacana viktimisasi, membenarkan tindakan mereka dan merekrut anggota baru, termasuk perempuan. Klausa: Menurut Siti, pelanggaran-pelanggaran ini sering digunakan oleh kelompok-kelompok teroris Tabel 4. Data Proses mental kognisi Menurut Proses: mental kognisi Siti Partisipan: pengindera Pelanggaran-pelanggaranA teroris Partisipan: fenomenon Analisis: Kehadiran verba menurut termasuk ke dalam proses mental kognisi, karena menunjukkan proses yang menerangkan proses kognisi berupa penafsiran, yang dilakukan oleh pengindera, yaitu Siti, lalu sesuatu yang dirasakan oleh pengindera atau Siti ini akan menerangkan suatu hal yang dirasakan atau ditunjukkan dari proses tersebut yang disebut fenomenon, yang ditunjukkan pada bagian: Pelanggaran-pelanggaranA teroris. 5 | G. Safitri & S. Utami 2 Proses Mental Keinginan Data 4 Kalimat: Alto berharap aparat pemerintah lebih melibatkan berbagai potensi masyarakat untuk mencegah Klausa: Alto berharap aparat pemerintah, lebih melibatkan berbagai potensi masyarakat Tabel 5. Data Proses mental keinginan Alto Partisipan: pengindera Proses: mental keinginan AparatA. Partisipan: fenomenon Analisis: Kehadiran verba berharap termasuk ke dalam proses mental keinginan, karena menunjukkan proses yang menerangkan keinginan berupa harapan, yang dilakukan oleh pengindera, yaitu Aldo, lalu sesuatu yang dirasakan oleh pengindera atau Aldo ini akan menerangkan suatu hal yang dirasakan atau ditunjukkan dari proses tersebut yang disebut fenomenon, yang ditunjukkan pada bagian: AparatA. 3 Proses Mental Persepsi Data 5 Kalimat: Sebab, banyak orang yang marah atau labil lalu bisa dikondisikan seperti OTK yang lakukan. Klausa: banyak orang yang marah atau labil lalu bisa dikondisikan seperti OTK yang lakukan. Tabel 6. Data proses mental afeksi banyak orang yang marah atau labil Partisipan: pengindera Proses: mental afeksi lalu bisa dikondisikan seperti OTK yang lakukan Partisipan: fenomenon Analisis: Kehadiran verba marah termasuk ke dalam proses mental afeksi, karena menunjukkan proses yang menerangkan afeksi berupa suatu perasaan atau emosi marah, yang dirasakan oleh pengindera, yaitu banyak orang, lalu sesuatu yang dirasakan oleh pengindera atau banyak orang ini akan menerangkan suatu hal yang ditunjukkan dari proses tersebut yang disebut fenomenon, yang ditunjukkan pada bagian: OTK. 4 Proses Mental Persepsi Data 6 Kalimat: Dia juga mendengar suara keributan dari pintu belakang Gedung Bareskrim Polri. Klausa Dia juga mendengar suara keributan dari pintu belakang Gedung Bareskrim Polri. Tabel 7. Data proses mental persepsi Dia Partisipan: Proses: mental suara keributan Partisipan: dariAPolri. Sirkumstansi: keterangan tempat Analisis: Kehadiran verba mendengar termasuk ke dalam proses mental persepsi, karena menunjukkan proses yang menerangkan persepsi berupa suatu yang bisa dirasakan oleh pancaindera, yaitu Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 6 telinga, yang disebut juga pengindera, yang dirasakan oleh: Dia, lalu sesuatu yang dirasakan oleh Pengindera atau Dia ini akan menerangkan suatu hal yang ditunjukkan dari proses tersebut yang disebut fenomenon, yang ditunjukkan pada bagian: suara keributan. Pengindera tersebut merasakan hal itu pada suatu tempat yang disebut sirkumstansi, yang menunjukkan keterangan tempat, yang ditunjukkan pada bagian: dari pintu belakang Gedung Bareskrim Polri. Proses Relasional Data 7 Kalimat: Yang juga perlu diwaspadai adalah proses yang disebut "enabling environment" yaitu menormalisasi hal yang tidak normal dirasa normal. Klausa: Yang juga perlu diwaspadai adalah proses yang disebut "enabling environment" Tabel 8. Data proses relasional Yang juga perlu diwaspadai Partisipan: penyandang Proses: relasional atributif proses yang disebut "enabling Partisipan: sandangan Analisis: Kehadiran verba adalah termasuk ke dalam proses relasional atributif, karena menunjukkan perluasan makna dan partisipannya menunjukkan keadaan yang posisinya tidak dapat ditukar antara kedua partisipan, yaitu partisipan penyandang sebagai partisipan yang akan dijelaskan dan partisipan sandangan sebagai partisipan yang menjelaskan atau menerangkan, namun kedua partisipan ini posisinya tidak dapat ditukar karena tidak seimbang antara kedua partisipan. Proses Perilaku Dalam data analisis ini akan dijabarkan dua kategori dari proses perilaku, yaitu proses perilaku mental dan proses perilaku verbal. 1 Proses Perilaku Mental Data 8 Kalimat: Aksi teror yang terjadi beberapa waktu lalu mengagetkan banyak orang, karena melibatkan perempuan sebagai pelakunya. Klausa: Aksi teror yang terjadi beberapa waktu lalu mengagetkan banyak orang. Tabel 9. Data proses perilaku mental Aksi terror Partisipan: pemerilaku Proses: perilaku mental banyak orang Partisipan: sasaran Analisis: Kehadiran verba mengagetkan termasuk ke dalam proses perilaku mental, karena menunjukkan perpaduan antara ungkapan perasaan dan tindakan, yang dilakukan oleh partisipan pemerilaku (Aksi tero. kepada partisipan sasaran . anyak oran. 2 Proses Perilaku Verbal Data 9 Kalimat: AuKita akan bikin Poskotis. Posko Komando Taktis gabungan TNI dan Polri. Hampir setiap provinsi ada, empat sampai enam (Poskoti. ," tegas Panglima usai meninjau pelaksanaan ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral. Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Jumat 7 | G. Safitri & S. Utami Klausa: "Kita akan bikin Poskotis. Posko Komando Taktis gabungan TNI dan Polri. Hampir setiap provinsi ada, empat sampai enam (Poskoti. ," tegas Panglima Tabel 10. Data proses perilaku verbal "KitaA (Poskoti. ," Partisipan: sasaran Proses: perilaku verbal Panglima Partisipan: pemerilaku Analisis: Kehadiran verba tegas termasuk ke dalam proses perilaku verbal, karena menunjukkan perpaduan antara tindakan dan ucapan, tindakanan tersebut berupa perbuatan yang tidak ragu-ragu dengan ucapan yang dikatakannya, yang dilakukan oleh pemerilaku (Panglim. , dan ucapannya yang ditandai pada bagian: "Kita akan bikin Poskotis. Posko Komando Taktis gabungan TNI dan Polri. Hampir setiap provinsi ada, empat sampai enam (Poskoti. ," Proses Eksistensial Data 10 Kalimat: Faktor pendorong terletak pada titik jenuh dimana kemudian seseorang mendapati perjumpaan dengan interprestasi ajaran intoleran dan radikal. Klausa: Faktor pendorong terletak pada titik jenuh Tabel 11. Data proses eksistensial Faktor pendorong Partisipan: eksisten Proses: Eksistensial pada titik jenuh Sirkumstansi: keterangan tempat Analisis: Kehadiran verba terletak termasuk ke dalam proses eksistensial, karena menunjukkan keberadaan sesuatu, yang ditandai dengan kehadiran eksisten, yaitu: Faktor pendorong, dan keberadaan itu ditunjukkan letaknya oleh sirkumstansi, yaitu ditunjukkan pada bagian: pada titik jenuh. Sirkumstansi Dalam hasil analisis ini akan dijabarkan kategori sirkumstasi, yang teridir dari 3 kategori yang masingmasing menunjukkan fungsi yang berbeda, yaitu yang menunjukkan keterangan tempat, keterangan waktu, dan keterangan cara. 1 Sirkumstansi yang menunjukkan keterangan tempat Data 11 Kalimat: Salah seorang petugas parkir di samping Gedung Bareskrim Polri mengaku mendengar suara Klausa: Salah seorang petugas parkir di samping Gedung Bareskrim Polri mengaku mendengar suara Tabel 12. Data sirkumstansi keterangan trempat seorang petugas parkir Partisipan: aktor di samping Gedung Bareskrim Polri Sirkumstansi: keterangan tempat Proses: Material Partisipan: sasaran Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 8 Analisis: Sirkumstansi ditunjukkan pada bagian di samping Gedung Bareskrim Polri yang menunjukkan keterangan tempat pada saat proses tersebut berlangsung, sehingga dapat terbayangkan lokasi kejadian tempat berlangsungnya proses tersebut. 2 Sirkumstansi yang menunjukkan keterangan waktu Data 12 Kalimat: Enam tahun lalu seorang militan ISIS menembak mati 39 orang asing di sebuah pantai di Sousse, memicu eksodus wisatawan dan sangat merusak ekonomi Tunisia. Klausa: Enam tahun lalu seorang militan ISIS menembak mati 39 orang asing di sebuah pantai di Sousse Tabel 13. Data sirkumstansi keterangan waktu Enam tahun lalu Sirkumstansi: keterangan waktu seorang militan ISIS Partisipan: aktor menembak mati Proses: Material 39 orang asing Partisipan: Sasaran Analisis: Sirkumstansi ditunjukkan pada bagian Enam tahun lalu yang menunjukkan keterangan waktu pada saat proses tersebut berlangsung, sehingga dapat terbayangkan waktu terjadinya proses tersebut. 3 Sirkumstansi yang menunjukkan keterangan cara Data 13 Kalimat: Tidak menunggu lama terduga ia langsung dilumpuhkan dengan timah panas oleh petugas. Klausa: Tidak menunggu lama terduga langsung dilumpuhkan dengan timah panas oleh petugas. Tabel 14. Data sirkumstansi keterangan cara Partisipan: actor Proses: materia dengan timah panas Sirkumstansi: keterangan cara oleh petugas Partisipan: sasaran Analisis: Sirkumstansi ditunjukkan pada bagian: dengan timah panas yang menunjukkan keterangan cara pada saat proses tersebut berlangsung, sehingga dapat terbayangkan bagaimana dilakukannya proses tersebut. Simpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diperoleh dari teks berita harian dalam jaringan yang terbit di minggu pertama bulan April mengenai Teroris, dapat diketahui berbagai makna dari setiap verba yang hadir, yang dijelaskan melalui transitivitas yang meliputi proses, partisipan, dan sirkumstansi, hal ini sejalan dengan pendapat Tri Wiratno tahun 2018, bahwa transitivitas merupakan bentuk struktur gramatika pada klausa, yang terdiri dari proses, partisipan, dan sirkumstansi. Dari keseluruhan data yang diperoleh didapatkan proses verbal sebanyak 39 . %) buah proses, proses material sebanyak 19 . ,35%) buah proses, proses mental sebanyak 12 . ,39%) buah proses, proses relasional 4 . ,12%) buah proses, dan proses eksistensial sebanyak 2 . ,57%) buah proses. Lalu terdapat partisipan yang mengikuti proses tersebut, partisipan yang paling mendominasi adalah partisipan yang mengikuti proses verbal sebanyak 77 . %) buah partisipan, meliputi partisipan pewarta sebanyak 39 . ,82%) buah, dan partisipan diwartakan sebanyak 38 . Kemudian disusul oleh partisipan yang mengikuti proses material sebanyak 36 . ,84%) buah, yang meliputi partisipan aktor sebanyak 17 . ,25%) buah, dan partisipan sasaran sebanyak 19 . ,59%) buah. yang ketiga terdapat partisipan yang mengikuti proses mental sebanyak 22 . ,59%) buah, yang 9 | G. Safitri & S. Utami meliputi partisipan pengindera sebanyak 11 . ,29%) buah, dan partisipan fenomenon sebanyak 11 . ,29%) buah. Selanjutnya terdapat partisipan yang mengikuti proses relasional sebanyak 8 . ,28%) buah, yang meliputi partisipan penyandang sebanyak 4 . ,64%) buah, dan partisipan sandangan 4 . ,64%) buah. Setelah itu terdapat partisipan yang mengikuti proses perilaku sebanyak 4 . ,64%) buah, yang meliputi partisipan pemerilaku sebanyak 2 . ,32%) buah dan partisipan fenomenon dan sasaran sebanyak 2 . ,32%) buah. Dan yang terakhir terdapat partisipan yang mengikuti proses eksistensial sebanyak 2 . ,32%) buah, yaitu partisipan eksisten. Pada teks berita yang disajikan juga dianalisis mengenai sirkumstansi yang berkaitan dengan klausa yang ada. Sirkumstansi yang paling mendominasi adalah sirkumstansi yang menerangkan keterangan tempat, yaitu sebanyak 11 . %) buah, selanjutnya sirkumstansi yang menerangkan keterangan waktu, yaitu sebanyak 6 . ,28%) buah, dan yang terakhir ialah sirkumstansi yang menerangkan cara, yaitu sebanyak 5 . ,72%) buah. Dari penelitian tersebut, dapat dikembangkan melalui pembelajaran pemahaman mengenai transitivitas yang mencakup proses, partisipan, dan sirkumstansi untuk menganalisis isi dari suatu teks, yang meminta siswa untuk menelaah struktur dan kebahasaan teks berita yang didengar dan dibaca, dan yang meminta siswa untuk menyajikan data dan informasi dalam bentuk berita secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, atau aspek lisan . afal, intonasi, mimik, dan kinesi. di kelas Vi SMP. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan pembelajaran dalam linguistiK, sehingga dapat menambah ilmu dalam pembelajaran, karena di dalamnya terdapat teori yang salah satunya adalah teori dari aliran linguistik sistemik fungsional yang dapat dijadikan teori pelengkap ketika mempelajari linguistik. Hasil penelitian ini juga dapat diimplikasikan dalam pembelajaran analisis wacana, karena teori yang terkait dalam penelitian ini yaitu teori linguistik sistemik fungsional dapat digunakan sebagai salah satu teori untuk mengungkapkan makna . ungsi ideasiona. yang meliputi transitivitas untuk mengungkapkan proses, partisipan, dan sirkumstansi pada sebuah teks. Daftar Rujukan Halliday. An Introduction to functional grammar . st ed. London: Edward Arnold. Ibrahim. Deiksis dengan sistem paradigmatik dan sintagmatik dalam bahasa Aceh (Disertasi. Universitas Sumatera Utara. Medan. Retrieved https://repositori. id/handle/123456789/23089 Marlia. Makna ideasional pada teks kasus Soeharto oleh pihak pro dan kontra: Kajian melalui sistem transitivitas. Kajian Linguistik dan Sastra, 20 . , 131-140. doi: 10. 23917/kls. Muslich. Masnur. KTSP pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Sukarno. Realisasi metafungsi, konteks situasi dan struktur generik teks khotbah Jumat pada empat masjid di Kota Jember. Jember: UPT Percetakan dan Penerbitan Universitas Jember. Wiratno. Pengantar ringkas linguistik sistemik fungsional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Zainurrahman. Menulis: Dari teori hingga praktik (Penawar racun plagiarism. Bandung: Alfabeta.