JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 p-ISSN 2088-0421. e-ISSN 2654-461X DOI: 10. 35968/m-pu Jurnal Ilmiah M Progress. Vol. No. 2 Juni 2025 https://journal. id/index. php/ilmiahm-progress/index SINERGI MODA TRANSPORTASI PUBLIK DI JAKARTA: DAMPAK KEBIJAKAN TARIF INTEGRASI JAKLINGKO PADA MRT JAKARTA Muhamad Fajri Nurachman1*. Yohana Magdalena Lydia2 Universitas Indonesia Salemba. Jakarta Pusat. Indonesia. mfajrinurachman@gmail. *Korespondensi Penulis Abstrak Kebijakan tarif integrasi JakLingko terhadap jumlah penumpang MRT Jakarta diperkenalkan pada Agustus 2022 memungkinkan perpindahan seamless antar moda transportasi dengan tarif maksimal Rp10. 000 per perjalanan, bertujuan meningkatkan efisiensi dan keterjangkauan transportasi publik. Penelitian ini menganalisis dampak kebijakan tarif integrasi JakLingko terhadap jumlah penumpang MRT Jakarta dengan pendekatan data panel pada 13 stasiun selama periode 2021Ae2023. Dengan menggunakan model Fixed Effects (FE), hasil regresi menunjukkan bahwa kebijakan tarif berpengaruh terhadap jumlah penumpang MRT, mengindikasikan bahwa penyesuaian tarif mampu mendorong peningkatan penggunaan layanan. Robustness checks yang dilakukan dalam berbagai spesifikasi model mengonfirmasi konsistensi temuan ini. Namun, efektivitas penuh dari kebijakan ini dalam konteks integrasi antarmoda belum dapat dipastikan. Meskipun terdapat indikasi peningkatan jumlah penumpang seiring dengan faktor kontrol seperti musim/cuaca, kebijakan pembatasan mobilitas (PPKM), serta konektivitas dan karakteristik strategis stasiun, dampak spesifik dari integrasi tarif terhadap pola perjalanan masih memerlukan kajian lebih lanjut. Selain itu, peningkatan jumlah penumpang MRT juga didukung oleh kenaikan Customer Satisfaction Index (CSI), yang menunjukkan tren positif dalam pengalaman pengguna MRT Jakarta. Hal ini menandakan bahwa selain kebijakan tarif, perbaikan layanan dan pengalaman perjalanan juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah penumpang. Temuan ini menggarisbawahi bahwa kebijakan tarif yang didukung oleh peningkatan kualitas layanan memiliki peran penting dalam meningkatkan penetrasi MRT Jakarta dalam ekosistem transportasi perkotaan. Kata Kunci: MRT Jakarta. Tarif Integrasi. Ridership. Konektivitas. CSI Abstract The JakLingko integration fare policy on the number of Jakarta MRT passengers introduced in August 2022 allows seamless transfer between modes of transportation with a maximum fare of IDR 10,000 per trip, aiming to increase the efficiency and affordability of public transportation. This study analyzes the impact of the JakLingko integration tariff policy on the number of Jakarta MRT passengers with a panel data approach at 13 stations during the 2021-2023 period. Using the Fixed Effects (FE) model, regression results indicate that the fare policy has an impact on MRT Ridership, suggesting that fare adjustments can encourage increased service utilization. Robustness checks across various model specifications confirm the consistency of these findings. However, the full effectiveness of this policy in the context of intermodal integration remains uncertain. While there are indications of increased Ridership alongside control factors such as season/weather conditions, mobility restrictions (PPKM), and station connectivity and strategic characteristics, the specific impact of fare integration on travel patterns requires further study. Additionally, the increase in MRT Ridership is also supported by the rising Customer Satisfaction Index (CSI), which shows a positive trend in MRT Jakarta users' travel experiences. This suggests that, beyond fare policies, service improvements and travel experiences also contribute to Ridership growth. These findings highlight that fare policies, when supported by service quality improvements, play a crucial role in enhancing MRT Jakarta's penetration within the urban transportation ecosystem Keywords: MRT Jakarta. Integrated Fare. Ridership. Connectivity. CSI 244 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 PENDAHULUAN terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari Mobilitas yang efisien menjadi salah keberlanjutan dan daya saing kota-kota besar di dunia. Jakarta, sebagai salah satu kota megapolitan, menghadapi tantangan besar publik yang mampu memenuhi kebutuhan mobilitas penduduknya. Berdasarkan data tahun 2023, tercatat lebih dari 75 juta Jabodetabek, perjalanan berlangsung di dalam kota Jakarta. Tingginya menunjukkan adanya ketimpangan antara pertumbuhan infrastruktur transportasi dan kemudian berdampak pada kemacetan lalu lintas, peningkatan emisi karbon, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat kota. Untuk menjawab tantangan tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta JakLingko pada Agustus 2022. Kebijakan ini memungkinkan perpindahan antar moda transportasi publikAiseperti MRT Jakarta. LRT Jakarta, dan TransJakartaAisecara lebih mudah dan terjangkau, dengan tarif maksimal Rp10. 000 per perjalanan. Melalui kebijakan terdorong untuk menggunakan transportasi kemudahan akses, serta kenyamanan dalam Meski implementasi kebijakan ini tentu tidak perbedaan tingkat konektivitas di setiap perubahan pola perjalanan pascapandemi COVID-19. Dalam konteks ini, penelitian berupaya menjawab dua pertanyaan utama: Pertama, apakah kebijakan tarif integrasi JakLingko berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penumpang MRT Jakarta? Kedua, sejauh mana peran konektivitas antar modaAi terutama di stasiun-stasiun dengan akses tinggi seperti Dukuh Atas dan Bundaran HIAidalam mendorong peningkatan jumlah penumpang, konektivitasnya masih terbatas? Penelitian ini menggunakan pendekatan berbasis data untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas terkait efektivitas kebijakan serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Studi ini diharapkan dapat memberikan transportasi publik yang lebih responsif Dengan menggunakan data panel dari 13 stasiun MRT Jakarta selama periode 2021Ae2023, penelitian ini mencoba menghadirkan bukti empiris yang pengembangan sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan inklusif. Selain relevan dalam konteks lokal, studi ini juga dapat menjadi acuan awal bagi kota-kota lain di Indonesia transportasi serupa. Pengalaman dari kota-kota besar seperti 245 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Seoul. Singapura, dan London menunjukkan bahwa kebijakan tarif integrasi dapat menjadi langkah efektif dalam membangun sistem menunjukkan bahwa dampak kenaikan tarif transportasi yang terjangkau, efisien, dan terhadap penurunan jumlah penumpang lebih besar dibandingkan dampak penurunan tarif Diharapkan. Studi penelitian ini dapat memberikan masukan yang konstruktif bagi penguatan kebijakan (Sirikijpanichkul & Winyoopadit, 2. serupa di Jakarta dan kota-kota lain, sebagai Sebagai contoh, penerapan sistem bagian dari upaya bersama menuju mobilitas Oyster Card di London meningkatkan jumlah perkotaan yang lebih berkelanjutan. pengguna transportasi publik sebesar 5Ae10% dalam beberapa tahun pertama (Transport for KERANGKA TEORI London, 2. Studi di Singapura oleh Mi Kebijakan tarif integrasi bertujuan menyederhanakan proses perpindahan antar hambatan biaya bagi pengguna. Dalam Litman pengalaman perjalanan yang lebih efisien dan meningkatkan daya tarik transportasi publik mengukur sejauh mana jumlah pengguna berubah sebagai respons terhadap perubahan tarif. Elastisitas ini dihitung dengan membandingkan perubahan jumlah Penurunan tarif biasanya meningkatkan jumlah pengguna karena biaya menjadi lebih mana penerapan EZ-Link sebagai sistem tarif terintegrasi antar moda berhasil meningkatkan perjalanan harian dengan transportasi publik sebesar 15% dalam lima tahun pertama. Penelitian di Seoul oleh Hwang et al. menyoroti pentingnya tarif integrasi dalam mendorong efisiensi perjalanan dan peningkatan jumlah penumpang kereta bawah Elastisitas harga dalam transportasi Diao . menunjukkan hasil serupa, di Sebaliknya, permintaan lebih drastis karena pengguna lebih sensitif terhadap biaya yang lebih tanah dan bus. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik tetapi juga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Di Italia. Abrate. Piacenza, dan Vannoni . menemukan bahwa tarif integrasi memiliki dampak signifikan dalam menarik pengguna dari menengah ke bawah, dengan peningkatan Ridership yang disebabkan oleh penurunan biaya perjalanan. Pengaruh Kebijakan terhadap Ridership Tarif Integrasi Konektivitas antar moda adalah elemen Efek elastisitas ini juga dapat meningkat seiring waktu, karena pengguna 246 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 kebijakan tarif integrasi. Menurut Cervero frekuensi keberangkatan, dan ketepatan waktu dan Kockelman . , konektivitas yang baik tidak hanya meningkatkan efisiensi kepercayaan pengguna. Currie dan Delbosc . menambahkan bahwa kemudahan aksesibilitas transportasi publik. Penelitian di pembayaran, kenyamanan fasilitas, dan rasa Hong Kong menunjukkan bahwa stasiun aman selama perjalanan adalah determinan dengan akses langsung ke moda lain, seperti penting dalam menarik lebih banyak pengguna bus dan kereta api, mencatat peningkatan ke moda transportasi publik. jumlah pengguna yang signifikan (Lam & Dalam Jakarta. Tam, 2. Hal ini sejalan dengan temuan COVID-19 juga memengaruhi pola perjalanan Walker . , yang menegaskan bahwa Kebijakan pembatasan sosial infrastruktur integrasi fisik, seperti halte bus seperti PPKM telah menurunkan jumlah yang terhubung langsung dengan stasiun penumpang MRT Jakarta selama beberapa tahun terakhir. Namun, dengan pelonggaran mendorong loyalitas pengguna. pembatasan, kebijakan tarif integrasi memiliki Studi di Jakarta juga mendukung potensi besar untuk mendorong masyarakat pentingnya konektivitas. Misalnya, stasiun- kembali menggunakan transportasi publik. stasiun seperti Dukuh Atas dan Bundaran HI. Selain yang memiliki akses tinggi ke moda lain Customer Satisfaction Index (CSI) juga menunjukkan bahwa beberapa aspek layanan berkontribusi terhadap peningkatan jumlah TransJakarta. MRT dibandingkan stasiun dengan konektivitas Hal penumpang MRT Jakarta. Penelitian keberhasilan kebijakan tarif integrasi tidak Pertama, fokus penelitian hanya pada hanya bergantung pada faktor finansial tetapi pengaruh kebijakan tarif integrasi JakLingko terhadap MRT Jakarta, tanpa menganalisis infrastruktur pendukung. dampaknya pada TransJakarta atau LRT Determinan Lain yang Mempengaruhi Ridership Jakarta. Kedua, data sekunder yang digunakan Ridership transportasi publik tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan tarif integrasi dan konektivitas antar moda, tetapi juga oleh faktor lain, seperti kondisi ekonomi, waktu perjalanan. Litman menyoroti pentingnya keterjangkauan tarif, tidak mencakup informasi detail tentang karakteristik individu pengguna, sehingga wawasan perilaku pengguna terbatas. Ketiga, faktor eksternal seperti kebijakan perusahaan meskipun berpotensi mempengaruhi jumlah Keempat, konektivitas hanya berdasarkan aksesibilitas 247 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 fisik, tanpa mempertimbangkan kualitas variabel kontrol untuk meningkatkan ketepatan layanan atau waktu tunggu. Terakhir, hasil estimasi, antara lain: dummy kebijakan PPKM penelitian dipengaruhi oleh periode pandemi COVID-19, mobilitas selama pandemi. PPKM, sehingga temuan perlu dipahami bulanan sebagai proksi kondisi cuaca. dalam konteks ini. penumpang TransJakarta sebagai indikator integrasi antarmoda. serta karakteristik lokasi METODE PENELITIAN ermukiman, bisnis, perkantora. Pendekatan. Lokasi, dan Variabel yang Digunakan Penelitian pendekatan kuantitatif dengan metode regresi kebijakan tarif integrasi JakLingko terhadap jumlah penumpang MRT Jakarta. Pemilihan data panel dilakukan untuk menggabungkan dimensi cross-section . stasiun MRT pada lintas Lebak BulusAeBundaran HI) dan timeseries . eriode Januari Desember dinamika perubahan jumlah penumpang, baik Variabel dependen dalam penelitian ini adalah jumlah penumpang MRT Jakarta (Ridershi. , yang diukur secara bulanan untuk setiap stasiun. Variabel independen tarif integrasi JakLingko, yang direpresentasikan dalam bentuk variabel dummy . untuk periode setelah kebijakan, dan 0 untuk sebelumny. Untuk faktor-faktor Customer Satisfaction Index (CSI) 2023 digunakan sebagai indikator kualitas layanan MRT yang mencakup aspek pre-journey, onboard, dan post-journey. Untuk menangkap variasi pengaruh kebijakan tarif integrasi, digunakan variabel interaksi seperti Jaklingcon . nteraksi Connectivity Jaklingconcar . nteraksi Karakteristik, kebijakan, konektivitas, karakteristik lokas. Model Analisis Model yang digunakan adalah Fixed Effects Model (FEM), mengontrol efek tetap yang tidak teramati, diberlakukan pada Agustus 2022. utama adalah dalam bentuk variabel dummy. Selain itu. Ridership, seperti perbedaan geografis dan karakteristik fisik tiap stasiun, serta faktor-faktor lain yang bersifat konstan sepanjang waktu namun Model digunakan adalah sebagai berikut: JmlPenumpangMRTit = 1 Dummyjaklingkot 2 3 DummyPPKMt 4 PnpTransjakartait 5 DummyCuacati 6 dummykarakteristikstasiunti 7 jaklingconti 8 connectivitykarakterstasiun 9 jaklingconcar A . 0 penelitian ini juga memasukkan sejumlah variabel kontrol dan variabel interaksi. Model ini memasukkan beberapa Model penelitian ini dirancang untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi 248 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 jumlah penumpang MRT Jakarta pada tingkat stasiun dan waktu tertentu (Yi. konektivitas tinggi, mencerminkan perbedaan Untuk menguji ketahanan . khususnya pada Rata-rata dari hasil estimasi, dilakukan analisis dengan TransJakarta sebesar 40. 703,89 per bulan turut menghilangkan beberapa variabel kontrol menegaskan peran moda ini dalam mendukung secara bertahap pada persamaan . , . , dan integrasi antarmoda. Variabel penumpang . Ketahanan hasil ini terhadap penghapusan JakLingko digunakan untuk analisis deskriptif, tidak pengaruh kebijakan tarif integrasi bukanlah dimasukkan dalam model regresi karena hasil dari korelasi semu dengan variabel lain. Data dan Karakteristik Sampel Penelitian non-JakLingko Temuan sekunder sebagai sumber utama untuk konektivitas moda di Jakarta. Jika dilihat dari menganalisis dampak kebijakan tarif integrasi data Customer Satisfaction Index (CSI) MRT JakLingko terhadap peningkatan jumlah Jakarta pada Tahun 2022-2023. Customer penumpang MRT Jakarta. Data sekunder Satisfaction Index (CSI) MRT Jakarta tahun dipilih karena sifatnya yang objektif, mudah 2023 secara umum berada di atas ambang KPI diakses dari sumber resmi, dan mendukung yang sudah ditetapkan Pemerintah DKI Jakarta pendekatan kuantitatif berbasis data panel. dan MRT Jakarta yaitu nilai sebesar 85. Tabel 1. Deskriptif Statistik Variabel Variable Obs gMRT Statistik Mean Std. Dev. Min Max penumpang MRT pasca kebijakan tarif integrasi JakLingko, dengan rata-rata bulanan 162,82, terdiri dari 72. 689,24 penumpang terintegrasi dan 56. 473,58 nonterintegrasi. Hal kontribusi kebijakan terhadap peningkatan Aspek On-Board dibanding tahun 2022, menandakan perbaikan Namun. Pre-Journey mengalami penurunan dan mendekati batas KPI, mengindikasikan masih adanya tantangan pada akses awal menuju layanan MRT. Sementara itu. Post-Journey relatif stabil. Temuan ini merefleksikan capaian yang cukup baik secara keseluruhan dan sudah hampir sesuai dengan ekspektasi penumpang dengan ruang perbaikan khususnya pada fase prejourney. Ridership, meskipun segmen pengguna nonintegrasi tetap signifikan. Variasi antar 249 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 terhadap jumlah penumpang MRT Jakarta, sekaligus mengendalikan efek tetap dari karakteristik unik setiap stasiun, seperti lokasi PRE JOURNEY ON BOARD POST JOURNEY squared sebesar 0,738, model ini menunjukkan KPI MRT Jakarta geografis dan kapasitas. Dengan nilai R- Gambar 1. Customer Satisfaction Index bahwa 73,8% variasi dalam jumlah penumpang Skor Pre-Journey yang cenderung MRT dapat dijelaskan oleh variabel-variabel menurun menunjukkan adanya kendala pada independen yang dimasukkan ke dalam model, tahap awal perjalanan termasuk aksesibilitas memberikan dasar yang kuat untuk memahami moda feeder atau integrasi antar moda. Hal ini dinamika penggunaan MRT di Jakarta. Tabel 2. Hasil Regresi Data Panel sejalan dengan analisis bahwa tarif integrasi peningkatan jumlah penumpang, terutama di stasiun dengan konektivitas tinggi. Artinya, keberhasilan kebijakan tarif integrasi tidak hanya tergantung pada insentif harga, tetapi juga pada pengalaman pengguna sebelum naik MRT. Dummykebijakan . =After Policy. 0=Before Polic. merupakan kombinasi antara data crosection berdasarkan unit analisis yaitu stasiun dan data time-series berdasarkan variabel waktu yaitu bulan. Dataset ini memiliki karakteristik strongly balanced, artinya setiap MusimCuaca yang sama . tanpa adanya data yang unit atau per bulan, sehingga data diatur secara konsisten dari waktu ke waktu. Penelitian pendekatan data panel dengan struktur pangMRT pangMRT ngMRT 69,716** 134,033. 77*** ,919. -59,149 53,175** OMITTE 168,074*** -64,611 5,957 160,512** 89,035*** 114,035*** 35,603** -6,946*** OMITTE Interaction Variables: stasiun memiliki jumlah pengamatan waktu Interval waktu antarperiode adalah 1 pangMRT Control Variable: HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Dependent Variable: Independent Variables: Constant 95,477** Observations Number of R-squared Notes: Robust standard errors are included. Significance levels: 99% (***), 95% (**), 90% (*) . pengaruh kebijakan tarif integrasi JakLingko 250 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Hasil analisis regresi yang berfokus pada kebijakan tarif baru (Dummy kebijakan tari. menunjukkan dampak yang signifikan dan positif terhadap jumlah penumpang MRT, antara kedua moda transportasi publik yang dengan koefisien 69. 716 pada model . dan diperkuat oleh kebijakan tarif integrasi. 033,077 pada model . , keduanya MRT, 1,055 Variabel dummy karakteristik stasiun p<0,01. dan connectivity karakter stasiun juga Omitted karena adanya multikolinearitas atau karena bahwa kebijakan tarif tidak hanya berhasil karakteristik stasiun tersebut tidak berpengaruh menarik lebih banyak penumpang, tetapi juga langsung terhadap keputusan pengguna untuk menggunakan MRT. Peningkatan TransJakarta bahwa dampak semakin kuat seiring dengan penerapan kebijakan tersebut. ummy menegaskan bahwa kebijakan tarif integrasi Di sisi lain, variabel konektivitas antar Secara dalam meningkatkan jumlah penumpang MRT menunjukkan pengaruh signifikan terhadap Jakarta, meskipun tantangan eksternal seperti jumlah penumpang MRT, meskipun secara pandemi dan cuaca buruk tetap memberikan konseptual konektivitas dianggap sebagai dampak negatif yang signifikan. Sementara konektivitas antar moda belum menunjukkan transportasi terintegrasi. Temuan ini dapat pengaruh yang signifikan dalam konteks ini, disebabkan oleh variasi kualitas konektivitas hasil penelitian memberikan wawasan penting antar stasiun atau preferensi pengguna yang bagi pengembangan kebijakan transportasi lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti publik yang lebih efektif. Dengan fokus pada biaya perjalanan atau kebijakan tarif. JakLingko merupakan faktor paling signifikan Kebijakan PPKM selama pandemi masyarakat akan tarif integrasi, serta strategi COVID-19 secara signifikan menurunkan jumlah penumpang MRT sebesar 32. 128 per kebijakan transportasi publik di Jakarta dapat bulan per stasiun . <0,. , mencerminkan lebih berkelanjutan dan inklusif di masa depan. penurunan mobilitas masyarakat. Selain itu. Robustness Check cuaca buruk juga berpengaruh negatif, dengan Hasil penurunan rata-rata penumpang sebesar 6. menunjukkan bahwa kebijakan tarif integrasi per bulan per stasiun . <0,. JakLingko berkorelasi positif dan signifikan Sebaliknya, dengan peningkatan jumlah penumpang MRT . Jakarta. Koefisien variabel dummy kebijakan hubungan positif signifikan dengan MRT, menunjukkan nilai yang tinggi dan signifikan dengan koefisien 1,055 . <0,. Setiap TransJakarta 251 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 mengindikasikan adanya asosiasi kuat antara Tabel 3. Two-sample t test with equal Ridership. Kebijakan ini diduga memberikan keterjangkauan layanan MRT, khususnya gMRT Mea Mea bagi pengguna yang melakukan perjalanan struktur tarif dan mengurangi hambatan biaya. Sebagai langkah validasi, dilakukan MRT Err t value p value robustness check dengan mengestimasi model tanpa sejumlah variabel kontrol, seperti Kebijakan tarif integrasi JakLingko konektivitas moda, kebijakan PPKM, jumlah terbukti secara signifikan meningkatkan jumlah penumpang TransJakarta, dan kondisi cuaca. Hasil estimasi alternatif tetap menunjukkan dibuktikan oleh hasil t-test yang menunjukkan bahwa variabel dummyjaklingko signifikan nilai t tinggi dan p-value sangat kecil, 033,08. mengindikasikan bahwa perbedaan rata-rata p<0,. , yang menunjukkan bahwa hubungan sebelum dan sesudah kebijakan tidak terjadi antara kebijakan tarif integrasi dan jumlah secara kebetulan. Selisih rata-rata sebesar penumpang relatif stabil meskipun dilakukan pengurangan variabel kontrol. Temuan ini kebijakan ini dalam mendorong Ridership mengurangi kemungkinan adanya Omitted MRT. Robustness check juga memperkuat Variable Bias . oefisien (OVB). MRT Jakarta, bahwa kebijakan eksternal lain, seperti pertumbuhan populasi penggunaan transportasi publik di Jakarta dan atau distribusi kegiatan ekonomi, turut dapat menjadi model untuk pengembangan Selain itu, hasil uji t-test terhadap sistem transportasi publik yang inklusif, rata-rata jumlah penumpang sebelum dan terjangkau, dan berkelanjutan di kota-kota lain. Efek Sebelum dan Sesudah Kebijakan Tarif Integrasi mendukung temuan awal dari model data Sebelum JakLingko. MRT moderat, dipengaruhi oleh aksesibilitas stasiun dan kurangnya integrasi moda. Stasiun seperti 4 dan 5 menunjukkan tren datar akibat lokasi yang kurang strategis, sementara stasiun 6 dan 252 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 9 mencatat peningkatan stabil karena peran sebagai pusat transportasi. Gambar 2. Grafik Tren Jumlah Penumpang MRT per Stasiun Setelah kebijakan diberlakukan pada Gambar 3. Perbandingan Rata-Rata Penumpang Sebelum dan Sesudah Kebijakan Berdasarkan Stasiun bulan ke-20, terjadi lonjakan signifikan di Penelitian sebagian besar stasiun, terutama di stasiun dengan konektivitas strategis seperti 6, 9, dan kebijakan tarif integrasi JakLingko berhasil Namun, beberapa stasiun seperti 4 dan 5 Jakarta MRT Rata-rata peningkatan penumpang per bulan mencapai infrastruktur dan promosi. Faktor eksternal 69,716 per stasiun setelah kebijakan diterapkan . < 0,. Lonjakan ini paling terlihat di memengaruhi pola penggunaan MRT di stasiun-stasiun dengan konektivitas strategis, beberapa stasiun, meskipun tren keseluruhan seperti Dukuh Atas. Lebak Bulus. Blok M. Istora, dan Bundaran HI, yang berfungsi PPKM Kebijakan meningkatkan daya tarik MRT sebagai moda Sebaliknya, transportasi publik, tetapi variasi antarstasiun rendah, seperti Blok A dan Haji Nawi, mengalami peningkatan yang lebih moderat, strategis untuk optimalisasi layanan dan konektivitas di lokasi-lokasi tersebut. stasiun-stasiun Meski pertumbuhan rendah. signifikan secara statistik dalam model regresi . ata konektivitas bekerja sinergis dengan kebijakan tarif integrasi untuk meningkatkan penggunaan MRT. Pengaruh sinergi ini juga terlihat dari hubungan komplementer antara MRT dan 253 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 TransJakarta. Hasil regresi menunjukkan bahwa setiap tambahan satu penumpang Dengan mengintegrasikan konektivitas TransJakarta berasosiasi dengan peningkatan dan tarif yang terjangkau, kebijakan JakLingko rata-rata sebesar 0. 806 penumpang MRT . < tidak hanya meningkatkan jumlah penumpang 0,. , mencerminkan pentingnya integrasi MRT tetapi juga memperkuat sinergi antar antar moda dalam meningkatkan daya tarik moda, menciptakan sistem transportasi yang transportasi publik. Temuan ini sejalan lebih efisien dan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan dasar strategis untuk memperluas MRT TransJakarta di halte-halte terdekat hingga pertumbuhan yang lebih besar. 36,5%. Keberhasilan kebijakan tarif integrasi mikrotrans yang dikelola TransJakarta, yang wilayah pinggiran kota. Bus feeder berfungsi sebagai penghubung antara area pemukiman dan stasiun utama, sementara mikrotrans menjangkau jalan-jalan kecil yang sulit diakses moda besar, memperluas jangkauan layanan transportasi publik. Sistem integrasi tarif mempermudah perjalanan pengguna aksesibilitas yang lebih luas, mengurangi stasiun-stasiun pertumbuhan moderat, seperti Blok A dan Haji Nawi, melalui penguatan infrastruktur dan layanan antar moda. Selain itu, faktor eksternal seperti PPKM dan cuaca buruk turut meskipun dampaknya tidak Penelitian ini mengungkapkan bahwa kebijakan tarif integrasi JakLingko secara jumlah penumpang MRT Jakarta, dengan ratarata peningkatan sebesar 69,716 penumpang per bulan per stasiun. Sinergi antar moda juga terbukti saling memperkuat, di mana setiap TransJakarta berkorelasi dengan peningkatan rata-rata 0. penumpang MRT. Temuan ini menegaskan efektivitas tarif integrasi dalam meningkatkan efisiensi biaya dan mendorong perpindahan antar moda yang lebih seamless. ketergantungan pada kendaraan pribadi. Namun. KESIMPULAN MRT, keberhasilan keseluruhan kebijakan tarif Variabel stasiun, meskipun tidak signifikan secara statistik, menunjukkan peran penting dalam mendukung Ridership MRT di stasiun-stasiun dengan akses antarmoda tinggi, seperti Dukuh Atas dan Bundaran HI. Sebaliknya, stasiun 254 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 seperti bus feeder. Namun, mencakup analisis dampak kebijakan tarif integrasi pada moda transportasi lain, seperti TransJakarta dan LRT Jakarta, serta perilaku antarmoda belum dapat dipastikan. Meskipun individu pengguna untuk memahami preferensi perjalanan secara lebih mendalam. Kajian penumpang seiring dengan faktor kontrol faktor eksternal seperti kondisi ekonomi dan seperti musim/cuaca, kebijakan pembatasan mobilitas (PPKM), serta konektivitas stasiun, dampak spesifik dari integrasi tarif terhadap pemerintah perlu meningkatkan konektivitas pola perjalanan masih memerlukan kajian antar moda, terutama di stasiun dengan akses lebih lanjut. rendah, serta mengoptimalkan sosialisasi dan Selain MRT Pengembangan infrastruktur pendukung seperti jalur pejalan MRT Jakarta. kaki dan fasilitas ramah pengguna juga Meskipun terdapat sedikit penurunan pada diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas. tahap Pre-Journey, kepuasan pada tahap On- Monitoring dan evaluasi berkala terhadap Board dan Post-Journey meningkat. Hal ini menandakan bahwa selain kebijakan tarif, perbaikan layanan dan pengalaman perjalanan Kebijakan tarif integrasi JakLingko juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah penumpang. mobilitas perkotaan di Jakarta dan menjadi Secara promosi kebijakan tarif integrasi untuk menarik kenaikan Customer Satisfaction Index (CSI). Penelitian rumusan masalah, dengan membuktikan bahwa tarif integrasi adalah insentif efektif untuk meningkatkan aksesibilitas transportasi publik, sementara optimalisasi konektivitas antar moda tetap menjadi elemen kunci dalam keberhasilan kebijakan ini. Temuan ini pengembangan transportasi publik yang lebih REKOMENDASI Penelitian model bagi pengembangan transportasi publik yang berkelanjutan di masa depan. DAFTAR PUSTAKA