JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA KELAS IV SDN SANGGRAHAN 2 KECAMATAN PRAMBON TAHUN PELAJARAN 2018/ 2019 Eni Nurwiyati SDN Sanggrahan 2. Nganjuk e-mail: Eninurwiyati69@gmail. Abstrak IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang seharusnya banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat memahami alam secara langsung. Namun demikian sering kali kesempatan itu tidak dimiliki oleh siswa SDN Sanggrahan 2 Kecamatan Prambon, hasil belajar IPA pada kelas 4 khususnya masih belum dapat mencapai target ketuntasan yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SDN Sanggrahan 2 Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk dengan menerapkan strategi pembelajaran inkuiri (SPI). Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. Subjek penelitian adalah siswa kelas 4 SDN Sanggrahan 2 Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Jumlah siswa dalam kelas ini ada 16 anak. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, pengamatan, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif menggunakan penghitungan skor rata-rata. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar IPA dengan target 75 % dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar telah mencapai KKM dan nilai rata-rata kelas Ou 70. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, pada siklus I sebanyak 1057 naik sebesar 200 menjadi 1257 pada siklus II, skor maksimal pada siklus I sebesar 80 naik sebanyak 13 menjadi 93 pada siklus II, nilai terendah siklus I yaitu 57 naik 6 angka menjadi 63 pada siklus II, rata-rata kelas secara klasikal pada siklus I 66 naik 13 menjadi 79, secara umum pada siklus I ada 5 anak yang tuntas atau sebesar 31. 3% pada siklus II sebanyak 14 anak atau sebesar 87. Kata Kunci : Hasil Belajar IPA. Pembelajaran Inkuiri Pendahuluan Seiring perkembangan teknologi, dunia pendidikan telah mengalami berbagai macam perubahan. Mulai dari kurikulum, strategi pembelajaran, media pembelajaran, hingga munculnya pandangan terhadap peran siswa yang tidak lagi dianggap sebagai botol kosong tanpa potensi apa pun. Pandangan seperti itu kini sudah tidak berlaku lagi. Pendidikan saat ini telah berpandangan bahwa siswa adalah subjek pendidikan yang di dalamnya terdapat potensi-potensi alami yang siap dikembangkan. Oleh sebab itu pendidikan yang memandang siswa hanya sebagai obyek pendidikan saat ini sudah saatnya untuk dihilangkan. Pembelajaran JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 saat ini harus berpusat pada siswa bukan pada guru. Guru ditekankan lebih berperan sebagai pendamping siswa, atau dengan kata lain guru adalah fasilitator bagi siswa. Untuk mencapai kondisi belajar seperti itu Menteri Pendidikan Nasional melalui Permendiknas No 41 Tahun 2007 memberlakukan aturan berkaitan dengan Standar Proses pendidikan bahwa untuk mencapai kompetensi dasar suatu mata pelajaran maka proses pembelajaran harus dilakukan secara interakitif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi, peserta didik untuk ikut berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Proses yang dilalui dalam pembelajaran meliputi eksplorasi, elaborasi, konfirmasi. Berdasarkan lampiran Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk SD/MI dijelaskan bahwa IPA adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsepkonsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga suatu proses penemuan. Jelas bahwa pembelajaran yang dilakukan sebaiknya menggunakan strategistrategi yang mengajak siswa untuk secara aktif menemukan fakta, konsep, prinsip dengan melalui suatu proses sehingga siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang mendalam. Selain itu penggunaan media yang nyata, menarik dan dapat diobservasi secara langsung oleh siswa juga harus dilakukan. Pembelajaran dapat dilaksanakan tidak hanya di dalam kelas tanpa menghadirkan media yang menarik bagi siswa, namun pembelajaran dapat pula dilaksanakan di luar kelas dengan memanfaatnya lingkungan sebagai media dan sumber Meskipun telah ada aturan yang secara pasti menjelaskan tentang hakikat pembelajaran IPA itu, namun fakta di sekolah masih banyak yang belum sesuai dengan aturan tersebut. Pembelajaran IPA masih hanya berupa penanaman konsep atau prinsip tanpa melalui proses penemuan, penyelidikan yang melibatkan siswa, penggunaan media pun terbatas hanya media-media konvesional yang tidak ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab secara langsung permasalahan yang mereka alami. Padahal sesungguhnya apabila guru mampu memaksimalkan potensi lingkungan yang ada untuk pembelajaran, siswa akan merasa senang dan semangat dalam belajar. Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil evaluasi pada ulangan harian bersama (UHB) khususnya tentang pembelajaran IPA pada siswa kelas 4 di SDN Sanggrahan 2, peneliti menemukan fakta bahwa pembelajaran IPA di SDN Sanggrahan 2 hasil belajar siswa mengalami penurunan, secara umum proses pembelajaran telah berjalan dengan baik. Guru juga menghadirkan media pembelajaran, alat peraga, dan sarana penunjang pembelajaran yang lain. Namun hasilnya masih belum maksimal, hal ini ada beberapa penyebabnya antara lain kurangnya minat belajar siswa, banyak siswa yang kurang fokus dalam belajar, masih banyak siswa yang bercanda dengan temannya dan sering melihat aktifitas di luar kelas jadi hal tersebut menyebabkan menurunnya hasil belajar siswa. Adanya berbagai permasalahan di atas memberi dampak yang cukup besar terhadap hasil belajar siswa. Dari data yang didapatkan bahwa hasil belajar IPA siswa SDN Sanggrahan 2 Kecamatan Prambon masih termasuk rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Memang. IPA tidak menjadi mata pelajaran dengan hasil ulangan paling jelek. Namun, jika diurutkan dari 8 mata pelajaran yang diujikan. IPA ada pada urutan ketiga dari bawah. IPA hanya lebih baik dari Matematika, dan sedikit lebih baik dari Bahasa Jawa. Adanya fakta ini mendorong guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran agar hasil belajar IPA siswa kelas 4 SDN Sanggrahan 2 mengalami peningkatan. Upaya perbaikan pembelajaran ini akan dilakukan dengan AuMenerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri dengan alasan strategi ini mengedepankan adanya proses penemuan yang dapat memberi pengalaman belajar lebih mendalam bagi siswaAy. Metode Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas atau PTK yang dilaksanakan secara berulang dalam beberapa siklus di mana dalam setiap siklus tahap-tahap perlakuan. , pengamatan, dan refleksi. Penjelasan alur di atas adalah: JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 Perencanaan, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian berupa soal-soal tes dengan materi bagian tumbuhan dan fungsinya serta perangkat pembelajaran, yaitu Silabus dan RPP yang dibuat dalam setiap pertemuan. Sedangkan soal tes disediakan untuk setiap akhir siklus. Dalam tahap perencanaan ini juga dilakukan koordinasi dengan Koordinasi menyampaikan dan menjelaskan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh peneliti. Termasuk dalam hal ini adalah penjelasan tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukan harus dengan menerapkan SPI. Apabila guru yang akan melakukan pembelajaran belum memahami apa itu SPI maka peneliti akan memberikan penjelasan atau semacam brifing kepada guru terutama berkaitan dengan sintaks atau langkah-langkah yang menjadi ciri dari SPI. Dalam koordinasi ini juga dibahas bagaimana peranan guru dalam pembelajaran, dan bagaimana aktivitas siswa dalam Selain itu guru juga akan mendapat penjelasan mengenai observasi yang akan dilakukan oleh peneliti. Dengan harapan pembelajaran yang dilakukan tidak dalam kondisi terkonspirasi tetapi dalam kondisi yang sebenarnya, termasuk di dalamnya adalah performance guru dan tentu saja aktivitas siswa. Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta SPI. Guru mengimplementasikan rancangan-rancangan yang sudah disusun dan dikoordinasikan di awal. Dalam langkah-langkah pembelajaran rangkaian aktivitas yang dilakukan sesuai dengan sintaks pembelajaran dengan SPI. Pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada siswa. Guru mengawali pembelajaran seperti hari-hari biasa, tetapi ketika menyampaikan apersepsi guru menggunakan teknik bertanya dengan maksud memancing siswa agar dapat mengemukakan permasalahan yang akan dipecahkan dalam Setelah itu guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Dilanjutkan dengan perumusan JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 hipotesis oleh siswa yang difasilitasi guru. Kemudian siswa mulai melakukan kegiatan pengambilan data yang dilakukan di luar kelas. Setelah data terkumpul siswa kembali ke kelas untuk mendiskusikan data yang telah diperoleh dengan teman satu kelompoknya. Setelah diperoleh hasil pengolahan data tersebut, siswa secara bergiliran mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Dalam setiap presentasi, siswa lain yang tidak memberikan komentar, pertanyaan, bahkan sanggahan terhadap presentasi yang disampaikan kelompok lain. Setelah seluruh kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya siswa dibimbing untuk menyimpulkan hasil kegiatannya pada hari itu. Ketika guru dan siswa melakukan aktivitas pembelajaran peneliti mengamati aktivitas guru dan siswa sesuai dengan lembar observasi yang telah disusun. Dalam langkah ini peneliti akan mencatat temuan-temuan baik yang mendukung pembelajaran maupun yang harus direvisi sebagai bahan refleksi dan untuk diperbaiki di siklus Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. Dalam kegiatan ini guru dan peneliti melakukan dialog atau lebih tepatnya diskusi berkaitan dengan pelaksanan pembelajaran yang telah dilakukan. Dari rancangan yang telah disusun, bagian mana yang sudah sesuai dan mana yang belum sesuai dengan implementasinya dalam Guru dalam kegiatan ini melakukan evaluasi diri terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan. Temuan-temuan yang tidak memuaskan dapat direkomendasikan sebagai bahan revisi di perencanaan siklus berikutnya. Sedang tindakan-tindakan yang sudah tepat dapat dilanjutkan di siklus berikutnya. Peneliti dalam kegiatan refleksi dapat memberi masukan kepada guru mengenai aktivitas yang sudah tepat dilakukan maupun aktivitas yang harus diperbaiki dalam pembelajaran. JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 Hasli Dan Pembahasan Hasil penelitian telah banyak menggunakan variasi media pembelajaran, namun pembelajaran IPA di SDN Sanggrahan 2 ini dirasa masih kurang maksimal oleh peneliti. Variasi strategi pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa agar dapat menemukan konsep-konsep pembelajaran IPA secara mandiri harus banyak diterapkan di sekolah ini. Peneliti juga mendapati bahwa hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPA di kelas 4 SDN Sanggrahan 2 masih cukup jauh dari target yang diharapkan. Sebagai salah satu pengajar di SDN Sanggrahan 2 peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tindakan guna meningkatkan hasil belajar yang belum sesuai harapan tersebut. Pada tahap perancanaan, dalam satu siklus peneliti mengalokasikan 3 kali pertemuan, pertemuan ketiga diisi dengan kegitan khusus untuk memberikan tes kepada siswa berkenaan dengan pengambilan data hasil belajar siswa, berikut hasil evaluasi belajar siswa siklus 1dan 2. Tabel Hasil Belajar Siklus 1 dan 2 Hasil Belajar IPA Keterangan Siklus 1 Siklus 2 Jumlah Skor Skor Tertinggi Skor Terendah Rata-rata skor kelas Memenuhi KKM Tidak Memenuhi KKM Dari tabel rekapitulasi nilai hasil belajar siswa siklus 1 dan 2 mengalami kenaikan yang baik dari siklus 1 ke siklus 2, jumlah skor pada siklus I sebanyak 1057 naik sebesar 200 menjadi 1257 pada siklus II, skor maksimal pada siklus I sebesar 80 naik sebanyak 13 menjadi 93 pada siklus II, nilai terendah siklus I yaitu 57 naik 6 angka menjadi 63 pada siklus II, rata-rata kelas secara klasikal pada siklus I 66 naik 13 menjadi 79, secara umum pada siklus I ada 5 anak yang tuntas atau sebesar 31. 3% pada siklus II sebanyak 14 anak atau sebesar 87. atau dapat dilihat pada bagan berikut : JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 Bagan Hasil Belajar Siswa Siklus 1 dan 2 Siklus 1 Siklus 2 Peningkatan hasil belajar tersebut tidak lepas dari ada rangkaian pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan seluruh peserta didik dalam setiap aktivitas belajar yang dilakukan. Dengan banyak melakukan pengamatan, percobaan, dan diskusi secara lebih mandiri dengan sedikit bimbingan guru, siswa mendapatkan pengalaman hidup yang lebih mendalam. Berbagai rangkaian pembelajaran seperti ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mulyani Sumantri dan Johan Permana mengenai tujuan dari pelaksanaan strategi pembelajaran inkuiri dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Pengamatan dilakukan pada siklus 1 dan 2 pertemuan 1 dan 2 sebanyak 4 kali pertemuan dengan 6 indikator dengan hasil seperti pada tabel berikut : Indikator Orientasi Merumuskan Masalah Tabel Rekapitulasi Hasil Pengamatan Jumlah Presentase Kategori Siklus 1 Siklus 2 Siklus 1 Siklus 2 Tidak Kurang Mampu Tidak Kurang 25 56 18. Mampu ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK Tidak Kurang Mampu Tidak Mengumpulkan Kurang Data Mampu Tidak Menguji Kurang Mampu Tidak Menyimpulkan Kurang Mampu Merumuskan Hipotesis Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil dari pengamatan siswa terus mengalami kenaikan dari tiap pertemuan lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut Bagan Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus 1 dan 2 JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA pada siswa kelas 4 SDN Sanggrahan 2 dapat ditingkatkan dengan menerapkan strategi pembelajaran inkuiri melalui langkah-langkah sebagai berikut : Orientasi, langkah ini dilakukan dengan memberikan apersepsi yang menarik dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dan penciptaan suasana belajar yang kompetitif dengan membentuk siswa dalam kelompok kecil. Merumuskan masalah, langkah ini dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru berupa pertanyaan pancingan yang dihubungkan dengan pembelajaran yang telah lalu. Mengajukan hipotesis, langkah ini dilakukan oleh siswa sesuai dengan pengetahuan awal yang dimiliki dengan bimbingan guru melalui pertanyaan-pertanyaan pancingan yang disampaikan. Mengumpulkan data, kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan mengamati struktur bagian tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar siswa. Menguji hipotesis, uji hipotesis ini dilakukan melalui kegiatan presentasi oleh seluruh kelompok secara merata dan di dalamnya terdapat penilaian terhadap aktivitas siswa selama presentasi sebagai dasar pemberian reward bagi siswa. Menarik kesimpulan, penarikan kesimpulan dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru berdasarkan presentasi atas hasil pengamatan yang telah Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, jumlah skor pada siklus I sebanyak 1057 naik sebesar 200 menjadi 1257 pada siklus II, skor maksimal pada siklus I sebesar 80 naik sebanyak 13 menjadi 93 pada siklus II, nilai terendah siklus I yaitu 57 naik 6 angka menjadi 63 pada siklus II, rata-rata kelas secara klasikal pada siklus I 66 naik 13 menjadi 79, secara umum pada siklus I ada 5 anak yang tuntas atau sebesar 31. 3% pada siklus II sebanyak 14 anak atau sebesar 87. JURNAL DHARMA PENDIDIKAN STKIP PGRI NGANJUK ISSN: 1907 Ae 2813 Volume 15. Nomor 2. Oktober 2020 Halaman: 19 - 28 Daftar Pustaka