AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN: 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. PENAFSIRAN ILMIAH AYAT AL-QURAoAN TENTANG GUNUNG SEBAGAI PASAK: PERSPEKTIF GEOLOGI PADA Q. AN-NABAAo AYAT 7 Azizah UIN Antasari Banjarmasin xazzah8@gmail. Dara Puspita Loka UIN Antasari Banjarmasin lokadara81@gmail. Eka Nor Febriani UIN Antasari Banjarmasin ekanor62@gmail. Ahmad Mujahid UIN Antasari Banjarmasin ahmadmujahid@uin-antasari. Abstrak Penelitian ini mengkaji makna ayat Al-QurAoan tentang gunung sebagai pasak . awAsiya/awtA. dalam Q. An-NabaAo ayat 7 melalui pendekatan tafsir ilmiah dan perspektif geologi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjembatani pemahaman antara teks-teks keagamaan dengan temuan ilmiah modern, khususnya dalam ilmu kebumian. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik dan tafsir ilmiah, serta analisis data geologi terkini mengenai struktur dan fungsi gunung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran klasik memahami gunung sebagai penyeimbang bumi secara simbolik maupun fungsional. Sementara itu, kajian geologi modern menjelaskan bahwa gunung terbentuk melalui proses tektonik dan berperan dalam menstabilkan kerak bumi serta meredam gaya horizontal lempeng Dengan demikian, istilah AupasakAy yang digunakan dalam Al-QurAoan menunjukkan kesesuaian makna secara konseptual dengan fungsi geologis gunung dalam menopang kestabilan litosfer. Temuan ini menunjukkan adanya harmoni antara teks wahyu dan ilmu pengetahuan, serta membuka ruang dialog antara sains dan tafsir Al-QurAoan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pendekatan ilmiah terhadap ayat-ayat kauniyyah dapat memperkaya pemahaman keislaman secara rasional dan kontekstual. Kata Kunci: Tafsir Ilmiah. Gunung. Pasak. Geologi. S An-Naba ayat 7 Abstract This study examines the meaning of the QurAoanic verse about mountains as pegs . awAsiya/awtA. in Surah An-NabaAo verse 7 through a scientific exegesis approach and a geological perspective. The main objective is to bridge the understanding between religious texts and modern scientific discoveries, particularly in the field of earth sciences. This research employs a qualitative method with thematic and scientific tafsir approaches, alongside an analysis of current geological data regarding the structure and function of mountains. The findings reveal that classical interpretations view mountains as symbolic and functional stabilizers of the Meanwhile, modern geology explains that mountains are formed through tectonic processes and play a role in stabilizing the earth's crust and mitigating horizontal tectonic forces. Thus, the term "peg" used in the QurAoan aligns conceptually with the geological function of mountains in supporting lithospheric stability. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 This indicates a harmony between divine revelation and scientific knowledge, encouraging a dialogical relationship between science and QurAoanic exegesis. The study also asserts that a scientific approach to ayat kauniyyah can enrich Islamic understanding in a rational and contextual manner. Keywords: Scientific Exegesis. Mountains. Pegs. Geology. An-Naba verse 7 A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Dalam kajian geologi, gunung-gunung memainkan peran penting dalam menjaga kerak bumi stabil. Proses pembentukan gunung, yang melibatkan pergerakan lempeng tektonik, dapat dianggap sebagai mekanisme alam yang menghubungkan fenomena geologi dengan interpretasi ayat ini. Gunung-gunung berfungsi sebagai pasak, atau penstabil kerak bumi, menahan dan mengatur gerakan lapisan bumi yang lebih dalam. Sejalan dengan gagasan geologi modern yang mengatakan bahwa gunung di kerak bumi membantu mengurangi getaran dan gerakan yang dapat mengancam stabilitas bumi. Selain itu, perspektif geologi pada ayat ini mengandung makna yang lebih luas tentang peran gunung dalam menjaga keseimbangan ekologis dan struktural bumi. Dalam kajian tektonika, gunung terbentuk sebagai hasil dari tumbukan atau pertemuan lempeng tektonik, yang menyebabkan pergerakan dan pemadatan material kerak bumi. Struktur ini dapat dianggap sebagai simbol pasak yang kokoh, yang berfungsi sebagai penyeimbang yang mengurangi dampak buruk yang terjadi pada permukaan bumi. Dalam situasi seperti ini. Al-Qur'an tidak hanya memberikan gambaran spiritual tetapi juga memberikan kebenaran ilmiah yang dapat diterima untuk pemahaman geologi modern. Sangat penting untuk mempelajari lebih dalam tentang hubungan antara ilmu alam dan ayat-ayat Al-Qur'an karena ada korelasi antara penafsiran ilmiah ayat ini dan temuan geologi. Dengan cara ini, kajian geologi tidak hanya membantu kita memahami fungsi gunung dengan lebih baik, tetapi juga membantu kita memahami kepercayaan agama tentang dunia. Oleh karena itu, ayat 7 dari Q. An-Naba' dapat dianggap sebagai bukti keselarasan antara wahyu Ilahi dan pengetahuan ilmiah yang berkembang di zaman modern, terutama dalam hal ilmu geologi. Para ilmuan dan ahli agama terdorong untuk mempertimbangkan hubungan antara iman dan sains melalui penafsiran ilmiah ayat Al-Qur'an ini. Sangat penting untuk diingat dalam penelitian ini bahwa, meskipun Al-Qur'an diturunkan dalam konteks sejarah tertentu, relevansinya dengan kemajuan ilmu pengetahuan masih dapat dipahami secara kontekstual. Oleh karena itu, menarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang penafsiran geologi terhadap ayat ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Kajian interdisipliner antara tafsir Al-Qur'an dan geologi menjadi relevan dalam menjembatani pemahaman antara ilmu agama dan ilmu alam. Penelitian semacam ini dapat memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang tidak hanya memberikan panduan spiritual, tetapi juga memuat inspirasi ilmiah yang melampaui zamannya. Dengan menggali makna "gunung sebagai pasak bumi" dari perspektif Al-Qur'an, disertai dengan pemahaman geologi modern, dapat dihasilkan wawasan yang lebih holistik mengenai keterkaitan antara wahyu dan fenomena alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep gunung sebagai pasak bumi berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan, serta mengaitkannya dengan temuan geologi Dalam kajian ini, pandangan ulama tafsir klasik seperti Ibnu Katsir dan mufassir kontemporer seperti Quraish Shihab akan dibahas untuk memahami makna dan fungsi gunung menurut perspektif mereka. Selanjutnya, pengetahuan geologi tentang gunung sebagai elemen stabilitas bumi akan diintegrasikan untuk menemukan titik temu antara tafsir dan ilmu pengetahuan Dengan pendekatan ini, artikel ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam memperkaya studi interdisipliner antara tafsir Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan, serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara wahyu ilahi dan fenomena alam. Kajian ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus mengeksplorasi ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai pijakan dalam mengembangkan ilmu METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tematik . dalam studi tafsir AlQur'an yang digabungkan dengan perspektif geologi untuk mengkaji konsep gunung sebagai pasak Data primer berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an, sedangkan data sekunder meliputi tafsir klasik dan kontemporer seperti tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Al-Misbah, serta literatur geologi modern. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan dokumentasi, dengan analisis data yang mencakup identifikasi ayat terkait, analisis tafsir, integrasi dengan ilmu geologi dan penarikan Metode muqAran . digunakan untuk membandingkan pandangan mufassir, sementara validitas data dijamin melalui triangulasi berbagai sumber. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman holistik tentang konsep gunung dalam Al-Qur'an dan ilmu geologi, serta berkontribusi pada pengembangan studi interdisipliner. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Dan Objek Geologi Geologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni AugeAy yang artinya bumi dan logos yang artinya adalah alasan. Dengan kata lain, geologi adalah ilmu yang mempelajari terbentuknya bumi. Istilah geologi dipergunakan pertama kali oleh Ricardh de Bury pada tahun 1473. Ricardh menggunakan kata geologi ini untuk ilmu kebumian. Meskipun begitu, bapak geologi modern yang terkenal hingga sekarang adalah James Hutton. Hal tersebut dikarenakan buku Theory of the Earth yang dikeluarkannya pada tahun 1979. Geologi merupakan cabang ilmu kebumian yang secara komprehensif mempelajari berbagai aspek terkait struktur, komposisi, serta dinamika yang terjadi di dalam maupun pada permukaan planet Bumi. Kajian dalam geologi mencakup identifikasi sifat-sifat fisik dan kimiawi dari material penyusun Bumi, termasuk proses-proses geodinamik yang berlangsung seiring waktu Ruang lingkup ilmu ini sangat luas, mulai dari skala mikroskopis . kala mikro/keci. seperti partikel atomik, dan pada tingkat mikroskopis, geologi mempelajari mineral dan struktur internal batuan untuk memahami sifat fisik dan kimianya, hingga skala makroskopis . erskala lua. seperti bentang alam berupa samudra, benua, pulau, dan pegunungan. Pada skala yang lebih besar, geologi meneliti formasi pegunungan, cekungan, dan struktur geologi lainnya untuk mengungkap sejarah geologis dan proses yang membentuknya. Dengan demikian, geologi tidak hanya berfokus pada kajian statis mengenai batuan dan mineral, tetapi juga pada pemahaman menyeluruh terhadap sistem bumi sebagai suatu kesatuan yang dinamis. Selain itu, geologi juga mencakup studi tentang proses-proses yang mempengaruhi perubahan bumi, baik yang terjadi di permukaan maupun di bawah permukaan. Ini termasuk pergerakan lempeng tektonik, aktivitas vulkanik, erosi, dan sedimentasi. Dengan memahami proses-proses ini, ahli geologi dapat memprediksi fenomena alam, menemukan sumber daya mineral dan energi, serta memberikan informasi penting untuk perencanaan pembangunan dan mitigasi bencana alam. Mengingat bahwa bumi tersusun atas material batuan, pemahaman terhadap komposisi, proses pembentukan, serta sejarah geologis batuan menjadi aspek fundamental dalam merekonstruksi riwayat evolusi planet ini. Dengan demikian, batuan diposisikan sebagai objek kajian utama dalam disiplin ilmu geologi. Vyronique Dehant dkk. AuStructure. Materials and Processes in the EarthAos Core and Mantle,Ay Surveys in Geophysics 43, no. Februari 2. , https://doi. org/10. 1007/s10712-021-09684-y. Joel C. Gill. AuGeology and the Sustainable Development Goals,Ay Episodes Journal of International Geoscience 40, no. Maret 2. , https://doi. org/10. 18814/epiiugs/2017/v40i1/017010. Bayong Tjasyono. ILMU KEBUMIAN DAN ANTARIKSA (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Bumi ini terdiri dari beberapa lapisan, nama lapisan yang ada di bumi yaitu: Atmosfer, yaitu lapisan udara yang menyelubungi bumi Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan bumi Biosfer, yaitu lapisan tempat makhluk hidup Lithosfer, yaitu lapisan batuan penyusun bumi Ruang lingkup kajian geologi mencakup lithosfer, yakni lapisan batuan yang menyusun bumi mulai dari permukaan hingga inti terdalamnya. Selain fokus pada bumi, geologi juga memiliki keterkaitan dengan studi benda-benda langit, sehingga membuka peluang untuk memahami karakteristik geologi luar angkasa. Tidak menutup kemungkinan, di masa depan, pemahaman mengenai kondisi geologi bulan maupun benda langit lainnya dapat diperoleh melalui pendekatanpendekatan ilmiah yang terus berkembang. Objek kajian geologi dapat lebih di spesifikasi sebagai berikut: Materi penyusun dan struktur Proses-proses yang terjadi baik itu masa lampau, sedang dan akan terjadi Mahluk hidup yang pernah hidup pada waktu lampau geologi. Ruang lingkup ilmu geologi meliputi susunan bumi secara umum, yang terdiri dari lapisanlapisan penyusun bumi yaitu inti bumi . , mantel . , kerak bumi . Definisi dan Proses Pembentukan Gunung Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gunung diartikan sebagai bukit yang berukuran sangat besar dan tinggi, dengan ketinggian umumnya melebihi 600 meter. 5 Dalam bahasa Arab, istilah yang digunakan untuk menyebut gunung adalah jabal. Berdasarkan penjelasan LisAn al-AoArab, jabal merujuk pada struktur bumi yang menjulang tinggi dan berfungsi sebagai pasak yang menstabilkan bumi. Jika ukurannya lebih kecil, maka disebut sebagai bukit . 6 Dalam perspektif sains Islam, gunung dipahami sebagai massa besar yang terbentuk dari batuan padat dan menempati sebagian besar permukaan bumi. Gunung dapat dikatakan sebagai kumpulan batuan besar yang berada di atas lapisan batuan lainnya. Secara umum, gunung dibagi menjadi dua jenis yakni gunung berapi dan gunung tidak 8 Gunung berapi terbentuk dari material vulkanik dan disebut aktif jika masih menunjukkan aktivitas geologi. Berdasarkan proses terbentuknya, gunung berapi dibagi menjadi monogenesis Dehant dkk. AuStructure. Materials and Processes in the EarthAos Core and Mantle. Ay AuArti kata gunung - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,Ay diakses 24 Maret 2025, https://kbbi. id/gunung. AuTemukan terjemahan bahasa arab dari kata Bukit hanya di Arabnesia. com,Ay Arabnesia. com Kamus Online Arab - Indonesia, diakses 12 April 2025, https://arabnesia. com/t/bukit. Fuad Taufiq Imron. AuIlmu Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits,Ay t. Eko Titis Prasongko. Gunung Berapi di Indonesia (Alprin, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 . erbentuk dari satu kali erupsi, seperti kubah lava, kerucut sinder, dan maa. serta poligenesis . erbentuk dari erupsi berulang, seperti gunung api komposit, kaldera, gunung perisai, dan kompleks gunung ap. Banyak di antaranya muncul di zona subduksi dengan morfologi beragam. Sementara itu, gunung tidak berapi adalah gunung yang sudah tidak aktif dan kecil kemungkinan untuk meletus, biasanya menjadi bagian dari rangkaian pegunungan luas atau berdiri terpisah. Gambar 1. Gunung Gambar 2. Gunung Berapi Dalam kajian geologi, istilah orogenesis berasal dari bahasa Yunani oro . dan genesis . merujuk pada proses pembentukan pegunungan yang dipengaruhi oleh aktivitas tektonik. Orogenesis merupakan hasil dari gaya-gaya endogen yang intens, sehingga menyebabkan deformasi pada lapisan batuan di kerak bumi. Proses ini umumnya memicu terjadinya pelipatan . , patahan . , serta pengangkatan . massa batuan secara Mahmud Rifaannudin dan Faiz Alauddin. AuBergerak Dan Diamnya Gunung Dalam Al-QurAoan Menurut Fakhr Al-Din Al-Razi,Ay Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 2, no. Agustus 2. , https://doi. org/10. 57163/almuhafidz. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Oleh karena itu, wilayah pegunungan sering kali memperlihatkan struktur geologi yang kompleks, mencerminkan riwayat deformasi yang panjang dan kuat. Secara morfologis, gunung didefinisikan sebagai bagian permukaan bumi yang memiliki ketinggian mencolok, ditandai dengan lereng yang curam serta puncak yang lebih sempit dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Elevasi gunung dapat mencapai lebih dari satu mil dari kaki hingga ke puncaknya. Pembentukan gunung dapat disebabkan oleh penumpukan material batuan dalam jumlah besar maupun akibat gaya tektonik yang mendorong pengangkatan kerak bumi secara vertikal dalam skala besar. Fenomena ini mencerminkan dinamika geologi yang berlangsung dalam kurun waktu geologis yang panjang, sekaligus menjadi indikator penting dalam memahami sejarah pembentukan permukaan bumi. Istilah gunung memiliki padanan kata beragam di berbagai bahasa, seperti mountain (Inggri. , montagne (Peranci. , berg (Jerma. , gora (Polandi. , parba (Urd. , dan al-Jabal (Ara. , menunjukkan bahwa fenomena gunung dikenal luas lintas budaya. Dalam geologi, gunung diklasifikasikan menjadi empat tipe utama berdasarkan struktur dan usia batuan: gunung berapi, gunung lipatan, gunung berblok-blok, dan gunung erosi atau pengangkatan. Klasifikasi ini Penciptaan Gunung Dalam Al-QurAoan, penyebutan tentang gunung menggunakan dua istilah utama dalam bahasa Arab. Pertama, kata dalam bentuk jamak A( aaEAjibA. yang tercatat muncul sebanyak 33 kali, serta kata dalam bentuk tunggal A( a aEAjaba. yang disebutkan sebanyak enam kali. Kedua, terdapat istilah AaOA a A( a aOArawAs. yang diulang sebanyak 10 kali dalam berbagai ayat. Menurut analisis Rosihan dan Fadlulah, penggunaan kata A aaEAbersifat umum untuk merujuk pada gunung secara keseluruhan, sedangkan istilah AaOA a A a aOAlebih khusus digunakan untuk menggambarkan gunung sebagai pasak bumi. Hal ini diperkuat dengan makna asal kata AaOA a A a aOAyang mengandung arti sesuatu yang mampu menstabilkan benda yang bergerak atau berguncang, dalam konteks ini yaitu bumi. Rani Rahmawati. AuHadis Tentang Pengaruh Penciptaan Gunung Terhadap Keseimbangan Bumi Perspektif SainsAy (Skripsi. Riau. Universitas Islam Negeri Suyan Syarif Kasim Riau, 2. Rendy Pradana dkk. AuGunung Dalam Tafsir Ilmi (Analisis Melalui Pendekatan Geograf. ,Ay Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-QurAoan Dan Tafsir 9, no. Desember 2. , https://doi. org/10. 47435/almubarak. Zainul Muttaqien Moh. AuEksistensi Gunung Dan Laut Padaayat-Ayat Geologi Menurut Penafsiran Quraish Shihab ( Kajian Tafsir Tematik Tafsir Almisba. Ay . Lampung. UIN RADEN INTAN LAMPUNG, 2. , https://repository. id/25139/. Fuad Taufiq Imran. AuKonsep gunung dalam kitab al-Jawahir fi-Tafsir Al-QurAoan al-Karim . erspektif sains moder. Ay (Skripsi. Semarang. UIN Walisongo, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Menurut temuan geologi modern, gunung-gunung terbentuk akibat pergerakan serta tumbukan antar lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi. Saat dua lempeng bertabrakan, lempeng yang lebih kuat akan menyusup ke bawah lempeng yang lebih lemah, sedangkan lempeng di atas mengalami pelipatan sehingga membentuk dataran tinggi dan pegunungan. Sementara itu, bagian lempeng yang terdorong ke bawah menciptakan struktur yang menjulur jauh ke dalam bumi. Dengan demikian, gunung tidak hanya memiliki massa yang menjulang di atas permukaan, tetapi juga struktur bawah tanah yang besar dan dalam. Isyarat tentang pembentukan gunung tersirat dalam Al-QurAoan melalui ungkapan seperti Aubumi dihamparkan,Ay Augunung-gunung dipancangkan,Ay dan Augunung-gunung sebagai pasak. Ay Secara geologi, pegunungan terbentuk melalui erosi di dataran tinggi dan pengendapan material di dataran rendah, menyerupai proses AupenghamparanAy bumi. Penemuan fosil laut berusia 345Ae395 juta tahun di pegunungan membuktikan bahwa banyak gunung dulunya dasar laut, mendukung tafsir Aubumi dihamparkanAy sebagai fase awal pembentukan pegunungan dari batuan sedimen yang kemudian terangkat akibat aktivitas tektonik. Frasa Augunung dipancangkanAy dan Augunung sebagai pasakAy mengisyaratkan struktur gunung yang menghujam ke dalam bumi, selaras dengan konsep litosfer yang mengapung di atas astenosfer. Penafsiran Gunung Sebagai Pasak Q. S An-Naba:7 (Tafsir Ibnu Katsir dan al-Misba. Gunung Sebagai Pasak dalam Tafsir Ibnu Katsir Pengarang tafsir ibnu katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa Audan gununggunung diciptakan sebagai pasakAy yakni gunung-gunung diciptakan Allah SWT sebagai pasak yang Dia tancapkan juga Dia tetapkan sehingga gunung-gunung tersebut menjadi diam dan tidak mengguncang para penghuni yang ada di bumi. Gunung-gunung diciptakan oleh Allah sebagai pasak atau penyangga yang tertanam kuat di kerak bumi. Gunung-gunung ini berperan dalam menjaga kestabilan bumi sehingga tidak mudah mengalami guncangan atau ketidakstabilan yang bisa mengganggu kehidupan di atasnya. Ilmu alam juga menjelaskan bahwa konsep ini sering dikaitkan dengan peran gunung dalam tektonik lempeng, di mana akar gunung yang menembus ke dalam mantel bumi membantu menyeimbangkan tekanan kerak bumi. Hal ini dapat mengurangi efek guncangan besar akibat pergerakan lempeng tektonik. Ayat ini menggambarkan bagaimana gunung memiliki fungsi sebagai penjaga kestabilan yang alami bagi bumi, bisa diartikan dalam pandangan keimanan ataupun ilmiah . Rahmawati. AuHadis Tentang Pengaruh Penciptaan Gunung Terhadap Keseimbangan Bumi Perspektif Sains. Ay Ismail ibnu Katsir. AuTerjemah Tafsir Ibnu Katsir,Ay Terjemah Kitab Kuning . , diakses 7 Juni 2025, https://w. org/2018/11/terjemah-tafsir-ibnu-katsir. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Gunung sebagai pasak dalam Tafsir al-Misbah Al-QurAoan menyatakan salah satu dari fungsi gunung ialah sebagai pasak bumi. Sebagimana yang disebukan dalam al-QurAoan surah an-Naba ayat 7: AE aO aa UA AacO A a aAeEaA Artinya: Audan gunung-gunung sebagai pasakAy Q. S an-Naba:78/ 7. Surah An-Naba termasuk dalam kelompok surat-surat Makkiyah yang diturunkan sebelum peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surat ini dikenal dengan beberapa nama, seperti an-NabaAo, an-NabaAo al-AoAzhim. AoAmma YatasaAoalun, dan surat AoAmma. Berdasarkan pendapat sejumlah ulama, surah ini menempati urutan ke-80 dalam kronologi pewahyuan Al-QurAoan, yang diturunkan setelah surah al-MaAoarij dan sebelum surah an-Naziat. Mengenai jumlah ayatnya, mayoritas ulama dari Madinah. Syam dan Bashrah bersepakat bahwa surah an-NabaAo terdiri atas 40 ayat. Dalam tafsirnya Quraish shihab menuliskan bahwa )A (OAautydan jamaknya dari kata )A (OAwatad yang artinya Aopaku yang besarAo. Mari coba arahkan pandangan kita ke alam sekitar kita bisa membayangkan atau melihat bahwa langit-langit yang ada diatas kita itu sebagai tenda atau kemah-kemah. Sedagkan masyarakat arab di masa yang telah lalu lebih dahulu mengenal kemah, karena mereka memerlukannya saat melakukan perjalanan. Seperti yang kita tau bahwa kemah memerlukan tali-tali dan paku untuk menahan agar kemah tersebut tidak terbang terbawa Dalam ayat ini gunung digambarkan sebagai pemato/paku untuk menjaga bumi agar ia tidak oleng. Dalam Tafsir Al-Muntakhab, yang disusun oleh sejumlah ilmuwan kontemporer dari Mesir dan dikutip pula oleh Quraish Shihab, disebutkan bahwa lapisan padat kerak Bumi memiliki ketebalan yang dapat mencapai sekitar 60 kilometer. Lapisan ini memiliki dinamika geologis yang kompleks, di mana sebagian struktur dapat menjulang membentuk pegunungan atau turun membentuk dasar samudra dan lautan. Proses ini menciptakan sistem keseimbangan akibat distribusi tekanan yang dihasilkan oleh keberadaan gunung-gunung tersebut. Keseimbangan ini akan tetap stabil selama elemen-elemen struktural seperti pegunungan tidak mengalami kerusakan atau hilang. Menariknya, tafsir ini juga mengilustrasikan bahwa Lukmanul Hakim. AuMunasabah Ayat Dalam Surat An-NabaAo (Analisis Metodologi Penafsiran Abdullah Darraz Dalam Kitab An-Nabau Al-Azhim Nazharatun Jadidatun Fi Al-Qura. ,Ay An-NidaAo 41, no. Februari 2. , https://doi. org/10. 24014/an-nida. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 keberadaan gunung berfungsi layaknya pasak yang menstabilkan struktur kerak Bumi yang bersifat lebih lunak atau basah, analog dengan fungsi pasak dalam meneguhkan kemah. Tentang Rawasiya Sebagai Pasak Menurut Peneliti Konsep rawAsiya yang disebut dalam Q. An-NabaAo ayat 7 menarik perhatian para peneliti dalam upaya mengintegrasikan teks Al-QurAoan dengan pengetahuan geologi modern. Dalam ayat tersebut, gunung diibaratkan sebagai awtAd atau pasak. Secara etimologis, istilah ini merujuk pada benda yang menancap dan berfungsi sebagai penyangga. Para mufassir klasik memaknai istilah tersebut sebagai simbol dari kekokohan dan keseimbangan bumi. Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, interpretasi ini berkembang menjadi pemahaman yang lebih rasional dan ilmiah. Pendekatan tafsir ilmiah digunakan dalam penelitian ini untuk menjembatani makna tekstual ayat Al-QurAoan dengan fakta-fakta empiris dalam ilmu kebumian. Peneliti melihat bahwa fungsi pasak yang disebut dalam Al-QurAoan sejalan dengan fungsi geologis gunung dalam menjaga stabilitas kerak bumi. Gunung terbentuk melalui aktivitas tektonik yang melibatkan pergerakan lempeng bumi, di mana proses orogenesa . embentukan pegununga. menghasilkan struktur batuan yang kuat dan dalam ke bawah permukaan bumi, layaknya pasak yang menancap ke dalam Dari perspektif geologi, gunung tidak hanya merupakan tonjolan di permukaan bumi, tetapi juga bagian dari sistem yang kompleks dalam menjaga keseimbangan litosfer. Pegunungan berfungsi untuk mendistribusikan tekanan internal bumi dan menstabilkan pergeseran horizontal antar lempeng tektonik. Oleh karena itu, penyebutan gunung sebagai pasak dalam Al-QurAoan dapat dipahami secara ilmiah sebagai bentuk analogi terhadap peran pentingnya dalam sistem geodinamik Peneliti berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan ketersambungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan, di mana Al-QurAoan memberikan petunjuk tentang realitas semesta yang baru terungkap melalui kajian ilmiah modern. Ini juga menjadi bukti bahwa ayat kauniyyah dalam AlQurAoan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, melainkan dapat menginspirasi pengembangan sains yang bernilai spiritual dan epistemologis. Integrasi antara tafsir dan geologi memperkaya pendekatan dalam memahami makna ayat-ayat semesta secara multidisipliner. Dengan demikian, konsep rawAsiya sebagai pasak bumi dapat dipahami sebagai bentuk kiasan yang sarat makna ilmiah. Pemikiran peneliti menunjukkan bahwa pendekatan tafsir ilmiah memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pemahaman Al-QurAoan secara Quraish Shihab. TAFSIR AL-M1SHBAH: Pesan. Kesan dan Keserasian al-QurAoan. Volume 15 (Jakarta: Lentera Hati, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 kontekstual dan rasional. Ini menandai pentingnya membuka ruang dialog antara sains dan agama demi membangun kesadaran ekologis dan spiritual yang selaras dalam kehidupan manusia. Gambar 3. Gunung Sebagai Pasak Relevansi Q. S An-NabaAo ayat 7 dengan Geologi Al-Qur'an bukan hanya kitab yang memberi petunjuk moral dan spiritual, tetapi juga memiliki isyarat ilmiah yang mendorong orang untuk mempertimbangkan tanda-tanda kebesaran Tuhan di dunia ini. Ayat 7 dari Q. An-Naba, yang berbunyi, "Dan gunung-gunung sebagai pasak . ", adalah salah satu ayat yang menyentuh aspek ilmiah. Ayat ini menarik untuk dikaji lebih dalam karena mengandung ungkapan metaforis yang menghubungkan gunung dengan pasak, yang secara fungsional memberikan kesan penancapan dan stabilitas di bumi. Ini mengundang pertimbangan geologi modern. Dari sisi geologi, pengetahuan kontemporer mengungkap bahwa gunung tidak hanya tampak menjulang di atas permukaan tanah, tetapi memiliki struktur yang dalam dan menjangkau jauh ke bawah permukaan bumi. Studi geofisika menunjukkan bahwa sebagian besar massa gunung justru tersembunyi di bawah tanah, menyerupai bentuk pasak besar yang menstabilkan kerak bumi. Hal ini dapat dilihat pada pegunungan besar seperti Himalaya yang terbentuk dari tumbukan lempeng tektonik dan memiliki akar geologis yang dalam. Lebih jauh, teori isostasi dalam ilmu geologi menguatkan pemahaman ini. Isostasi menggambarkan keseimbangan gravitasi antara kerak bumi dan mantel yang memungkinkan gunung-mountanous masses untuk mengapung secara seimbang di atas lapisan batuan yang lebih kental di bawahnya. Dalam model ini, keberadaan bagian dalam dari gunung yang tidak terlihat Prakoso. AuTheoretical Science In Munasabah Discurse: Discovering Mountain Facts In The Quran,Ay 2019, https://w. org/paper/THEORETICAL-SCIENCE-IN-MUNASABAHDISCURSE:-MOUNTAIN-Prakoso/e49e26a10aa8c0570b1e3c579c06a36d8b4e2dd2. Freeman and Company. AuUnderstanding Earth Third Edition CD Rom 2001,Ay 29 Juni 2000, http://archive. org/details/understanding-earth-third-edition-2001. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 mata telanjang sangat penting dalam menstabilkan permukaan bumi. Maka, penggambaran gunung sebagai pasak dalam ayat tersebut bukan sekadar metafora, melainkan isyarat terhadap struktur dan fungsi internal gunung yang telah ditemukan melalui pendekatan ilmiah modern. Gunung memainkan peran penting dalam menjaga lempeng tektonik stabil. Pegunungan adalah zona tekanan yang mendistribusikan gaya geologis yang besar sehingga tidak mengakibatkan gangguan permukaan bumi yang signifikan. Misalnya, wilayah pegunungan aktif di Asia Selatan secara signifikan mempengaruhi dinamika seismik regional, tetapi juga merupakan sistem alami yang meredam tekanan tektonik. Keterkaitan antara Q. An-Naba:7 dan ilmu geologi modern membuka peluang integrasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini dikenal sebagai tafsir ilmiah . l-tafsr al-Aoil. , yaitu metode penafsiran ayat-ayat kauniyah dengan merujuk pada penemuan ilmiah. Namun, pendekatan ini tidak bebas dari kritik. Sejumlah ulama seperti Muhammad al-ShaAorAw mengingatkan bahwa sains bersifat temporer dan berubah-ubah, sedangkan Al-QurAoan bersifat Oleh karena itu, setiap korelasi antara ayat dan sains harus dibangun atas dasar kehati-hatian Relevansi ayat ini juga menyentuh aspek teologis yang mendalam. Gunung sebagai pasak tidak hanya menyimbolkan struktur bumi, tetapi juga merupakan tanda kekuasaan Allah yang menciptakan alam semesta dengan presisi dan keseimbangan. Ini sesuai dengan prinsip al-mzAn . yang terdapat dalam Q. Ar-Rahman ayat 7: AuDan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan neraca . Ay. Maka, keberadaan gunung menjadi bagian dari sistem ekologi dan geologi yang dirancang dengan teliti. Jika kita melihat secara lebih luas, penggunaan metafora AupasakAy dalam Al-QurAoan menunjukkan bahwa wahyu menggunakan bahasa yang relevan dengan pemahaman manusia pada berbagai tingkat. Bagi masyarakat Arab awal, pasak adalah simbol kekuatan dan keteguhan. Namun bagi manusia modern, pasak mengarah pada konsep ilmiah tentang struktur bumi. Ini membuktikan bahwa Al-QurAoan bersifat multi-layered dan selalu relevan lintas zaman dan peradaban. KESIMPULAN Pertama, temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep "gunung sebagai pasak" yang ditemukan dalam Q. An-NabaAo ayat 7 memiliki dasar teologis dan linguistik yang kukuh dalam tradisi tafsir klasik, serta relevan secara ilmiah dalam studi geologi kontemporer. Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir melihat kata "awtAd" dalam ayat tersebut, yang secara literal berarti pasak Fowler. The Solid Earth : An Introduction to Global Geophysics (Cambridge. UK . New York : Cambridge University Press, 2. , http://archive. org/details/solidearthintrod0000fowl_q3v4. Luca Dal Zilio dkk. AuSeismic behaviour of mountain belts controlled by plate convergence rate,Ay Earth and Planetary Science Letters 482 . Januari 2. , https://doi. org/10. 1016/j. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 atau patok, sebagai tanda penstabilan bumi yang menunjukkan kekuatan Allah untuk mengembalikan keseimbangan. Kedua, teori ilmiah modern membuktikan peran gunung sebagai penyeimbang bumi dari perspektif geologi. Pegunungan terbentuk dari proses tektonik yang kompleks seperti subduksi, pelipatan, dan pengangkatan, yang menghasilkan struktur geologis yang menancap ke kerak bumi. Struktur ini tidak hanya menjulang ke atas, tetapi juga memiliki akar yang dalam ke bawah, yang mirip dengan fungsi pasak dalam menstabilkan tekanan kerak bumi. Ketiga, kita mulai memahami bahwa gunung tidak hanya memiliki peran simbolik dalam debat religius, tetapi juga berfungsi sebagai pengatur keseimbangan geodinamika ketika data geologi dan tafsir ilmiah digabungkan. Gunung memainkan peran penting dalam menjaga kestabilan topografi permukaan bumi dan keseimbangan isostatik. Mereka juga berfungsi sebagai penghalang gaya horizontal yang ditimbulkan oleh pergerakan lempeng. Keempat, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an sebagai teks suci tidak bertentangan dengan hasil penelitian ilmiah. Sebaliknya. Al-Qur'an mengandung petunjuk yang relevan dengan fakta ilmiah yang baru ditemukan di era kontemporer. Seperti yang ditunjukkan oleh konsep rawAsiya dan autAd dalam Al-Qur'an untuk menggambarkan fungsi gunung. Al-Qur'an memiliki kemampuan untuk memberikan kerangka konseptual yang kuat untuk eksplorasi ilmiah yang mendalam. Kelima, metode tafsir ilmiah terhadap ayat-ayat kauniyah, seperti Q. An-Naba: 7, menunjukkan bahwa ia memperluas ruang epistemologis dalam penelitian Islam. Metode ini memperkuat posisi Al-Qur'an sebagai sumber ilmu yang berfokus pada aspek rasional dan empiris. Dalam situasi seperti ini, tafsir ilmiah berfungsi sebagai penghubung penting antara ilmu alam dan ilmu keislaman. Keenam, penting untuk diingat bahwa tujuan dari hubungan antara wahyu dan sains bukanlah untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai buku sains. Sebaliknya, itu bertujuan untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber moral dan inspirasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Ada kemungkinan bahwa penafsiran ilmiah seperti yang dilakukan dalam penelitian ini akan mendorong peningkatan kesadaran tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia terhadap bumi, yang merupakan ciptaan Tuhan yang teratur dan harmonis. Ketujuh, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan pendekatan interdisipliner dalam studi tafsir sangat penting. Dengan menggabungkan ilmu geologi dan teknik tafsir tematik, para peneliti dapat menemukan lapisan makna baru yang mencakup aspek spiritual serta aspek kosmologis dan ontologis dari ayat-ayat Al-Qur'an. Dalam menghadapi tantangan zaman, hal ini penting untuk membangun diskusi produktif antara agama dan ilmu. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Azizah. Dara Puspita Loka. Eka Nor Febriani. Ahmad Mujahid: Penafsiran Ilmiah Ayat Al-QurAoan Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q. An-NabaAo Ayat 7 Sebagai kontribusi ilmiah, penelitian ini memberikan kesempatan untuk menyelidiki ayatayat kauniyah lainnya dalam Al-Qur'an menggunakan pendekatan sains alam. Pengembangan tafsir berbasis sains yang metodologis dan valid secara akademik berpotensi memperkaya khazanah tafsir kontemporer dan membangun kesadaran bahwa wahyu dan ilmu adalah dua mata air pengetahuan yang dapat bekerja sama untuk kebaikan manusia dan pelestarian alam. DAFTAR PUSTAKA