Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan Vol. No. April 2025: hlm 21-29 ISSN 0216-4485 (Versi Ceta. ISSN-L 2716-019X (Versi Elektroni. PEMAHAMAN PERILAKU BELAJAR REMAJA TIONGHOA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN Ninawati. Jelien Afendi. Mada Angela. Zeufania Theresia. Reynaldo Jeronimo Siswoto Program Studi Psikologi. Universitas Tarumanagara Corresponding email: ninawati@fpsi. ABSTRACT This research aims to understand the learning behavior of Indonesian Chinese teenagers attending both public and private schools, using the Learning Behaviors Scale (LBS) as a measurement tool. Education is considered a fundamental necessity for humans, with significant impacts on a country's progress. Based on PISA data, the quality of education in Indonesia remains low, leading this research to focus on internal factors impacting learning outcomes, specifically the learning attitudes of Chinese teenagers. The normality test results indicate that the data used in this research has a normal distribution, strengthening the validity of the analysis conducted. Out of the 29 items in the LBS grouped into four dimensionsAiAttitude Towards Learning (AL). Competence Motivation (CM). Strategy/Flexibility (SF), and Attention/Persistence (AP)Aionly 18 items passed the reliability test. The use of LBS as a measurement tool to assess the learning attitudes of Indonesian Chinese teenagers will aid educators in crafting more comprehensive and efficient teaching strategies. Furthermore, this research compares its findings with previous research and identifies differences in factor groups that can provide new insights into the learning behavior of ethnic minority teenagers in Indonesia. Through its contributions to both theoretical and practical realms of educational psychology, this research is poised to significantly impact the development of teaching strategies attuned to the diverse ethnic backgrounds of Indonesian students. Keywords: Learning behavior. Chinese ethnic teenagers. Learning Behaviors Scale, education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku belajar remaja etnis Tionghoa yang bersekolah di Indonesia, baik di sekolah negeri maupun swasta, dengan menggunakan alat ukur Learning Behaviors Scale (LBS). Pendidikan dianggap sebagai kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia, karena memiliki dampak yang signifikan terhadap kemajuan suatu negara. Berdasarkan data PISA, kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah, sehingga penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar, seperti sikap belajar yang dimiliki oleh remaja Tionghoa. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki distribusi yang normal, memperkuat validitas analisis yang dilakukan. Dari 29 butir pertanyaan dalam LBS yang dikelompokkan dalam empat dimensi, yaitu Attitude Towards Learning (AL). Competence Motivation (CM). Strategy/Flexibility (SF), dan Attention/Persistence (AP), hanya 18 butir yang lolos uji reliabilitas. Penggunaan LBS sebagai alat ukur untuk mengukur sikap belajar remaja etnis Tionghoa di Indonesia akan memfasilitasi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih komprehensif dan efektif. Selain itu, penelitian ini juga membandingkan hasilnya dengan penelitian-penelitian sebelumnya dan menemukan adanya perbedaan dalam kelompok faktor yang dapat memberikan wawasan baru terhadap perilaku belajar remaja etnis minoritas di Indonesia. Melalui kontribusinya dalam pemahaman teoretis dan praktis dalam bidang psikologi pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang signifikan dalam pengembangan strategi pembelajaran yang mampu merespons dengan baik terhadap kebutuhan siswa-siswa dengan latar belakang etnis yang beragam di Indonesia. Kata Kunci: Perilaku belajar, remaja etnis Tionghoa. Learning Behaviors Scale, pendidikan. Ninawati. Jelien Afendi. Mada Angela. Zeufania Theresia, & Reynaldo Jeronimo Siswoto PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dalam usaha pengembangan diri dan merealisasikan diri dalam kehidupan, baik di lingkungan masyarakat maupun negara (Umpang & Thoharudin, 2. Kualitas pendidikan suatu negara menjadi salah satu penentu kemajuannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kualitas Negara dengan kualitas pendidikan yang rendah dapat mengalami ketertinggalan. Pendidikan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah salah satu usaha yang disengaja dan terencana untuk menciptakan suasana pembelajaran dan kegiatan pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya (Simatupang & Yuhertiana, 2. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membentuk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Idealnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas manusia melalui pembentukan karakter. Mengingat urgensi pendidikan karakter yang semakin mendesak di tengah perubahan zaman (Faiz et al. , 2. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessmen. tentang sistem pendidikan menengah di dunia pada tahun 2018. Indonesia berada pada urutan ke-74 dari 79 negara. Pada tahun 2022. Kemendikbud menyatakan bahwa peringkat Indonesia naik 5-6 posisi, namun rata-rata skor Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin, yang lebih rendah dibandingkan negara lainnya (Kemendikbud, 2. Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan peringkat, kualitas pendidikan di Indonesia masih memerlukan banyak perbaikan. World Health Organization (WHO), mendefinisikan remaja atau adolescence sebagai sebuah fase yang berada di antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dengan rentang usia 10 sampai 19 Masa remaja adalah masa transisi perkembangan yang melibatkan perubahan emosi, fisik, kognitif, dan sosial. Biasanya, transisi perkembangan ini terjadi pada usia 13 hingga 19 atau 20 tahun, yang dikenal dengan istilah pubertas. Namun, pada abad ke-21, banyak ditemukan perubahan pubertas pada usia sebelum 10 tahun (Papalia, 2. Perubahan ini dapat mempengaruhi hubungan antara orang tua dan remaja. Pada perubahan kognitif, remaja mengembangkan penalaran logis serta pemikiran yang lebih idealis dan egosentris. Menurut Hill . dan Silverberg & Steinberg . , beberapa penelitian menunjukkan bahwa konflik dan tekanan dalam hubungan orang tua dengan remaja paling banyak terjadi di masa pubertas (Abdullah, 2. Dalam fase ini, banyak remaja merasakan tekanan yang besar (Syachfitri et al. , 2. Hal ini disebabkan oleh adanya masa pubertas yang merubah pola pikir mereka, sehingga menyebabkan resiko pemberontakan terhadap orang tua. Tuntutan akademik dari sekolah juga menambah tekanan pada remaja, yang pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar mereka. Salah satu faktor yang berdampak pada hasil belajar adalah gaya asuh orang tua (Syachfitri et al. , 2. Orang tua yang memberikan efek negatif pada anak dapat menimbulkan stres akademik, yang berkaitan dengan ujian, hasil ujian, tugas, serta ekspektasi dari orang tua atau guru (Luo et al. , 2. Pembentukan perilaku remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan dan teman sebaya. Pengaruh lingkungan dan teman sebaya dapat membentuk identitas remaja, sehingga perilaku yang menyimpang bisa saja dilakukan oleh individu remaja Pemahaman Perilaku Belajar Remaja Tionghoa dalam Konteks Pendidikan (Silitonga, 2. Di era yang serba digital, remaja mudah terpengaruh oleh dunia luar yang negatif, terutama melalui internet dan smartphone. Namun, era digital juga membawa dampak positif, seperti akses bebas ke internet yang dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan melalui kegiatan produktif dan pengembangan diri (Meilinda, 2. Namun, tidak semua individu di masa remaja mendapatkan pengalaman yang sama. Remaja dengan etnis minoritas sering menghadapi kesulitan transisi dari masa kanak-kanak ke remaja, terutama ketika memasuki sekolah negeri atau heterogen, yang biasanya berisikan berbagai etnis, sehingga mereka yang berada di sekolah tersebut akan semakin merasakan status etnis minoritas mereka (Abdullah. Oleh sebab itu, remaja dengan etnis minoritas biasanya memiliki dua kelompok pertemanan: di sekolah dengan etnis heterogen dan di komunitas dengan etnis yang sama. Indonesia tercatat memiliki 17. 504 pulau besar dan kecil, dengan 4. 444 di antaranya tersebar di seluruh khatulistiwa dan sekitar 6. 000 tidak berpenghuni. Selain memiliki alam yang beraneka ragam. Indonesia memiliki populasi yang luas dan sekitar 300 kelompok etnis (Antara & Yogantari, dalam Hidayat et. al, 2. Keanekaragaman dapat diartikan sebagai kerukunan atau perbedaan jenis atau beragam. Menurut Sensus Penduduk Indonesia . , mayoritas penduduk Indonesia adalah etnis Jawa dengan proporsi sebesar 40. 22%, sedangkan etnis Tionghoa menempati posisi ke-18 dengan jumlah populasi sekitar 2. 510 jiwa (Christian, 2. Indonesia, keturunan Tionghoa termasuk dalam kelompok minoritas karena populasinya yang relatif kecil dan kurangnya kekuasaan politik. Menurut Kinloch (Sen, 2. , kelompok minoritas biasanya dianggap tidak memiliki pengaruh dalam pemerintahan dan dipersepsikan sebagai tidak konvensional karena memiliki karakteristik tertentu (Yapleony, 2. Remaja etnis tionghoa memiliki perilaku belajar yang lebih kompetitif dibandingkan dengan etnis lain dengan artian memiliki rasa ingin tahu dan minat yang tinggi pada pengetahuan sehingga menjadikannya sebuah tantangan yang harus diselesaikan. Perilaku belajar adalah kebiasaan yang terbentuk selama proses belajar. Kebiasaan ini dilakukan secara berulang-ulang oleh individu sehingga menjadi otomatis atau berlangsung secara spontan. Perilaku belajar merupakan suatu Dalam sudut pandang psikologi, belajar adalah suatu proses perubahan, perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, belajar juga menunjukkan tindakan individu yang berupaya membuat penyesuaian baru dalam perilaku kolektif mereka yang timbul dari keterlibatan mereka dengan lingkungan (Harlina & Firantinur, 2. Faktor internal dan eksternal dapat mempengaruhi hasil belajar (Nuryatin. Penelitian ini berfokus pada sikap dan perilaku belajar yang termasuk dalam faktor internal. Sikap belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seorang siswa. Dengan mengetahui sikap belajar siswa, guru dapat melakukan pendekatan yang lebih efektif untuk membantu siswa dengan hasil belajar atau skor intelegensi yang rendah. Menurut McDermott perilaku belajar terdapat beberapa dimensi yang dapat memengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan proses pembelajaran. McDermott . , membagi perilaku belajar menjadi empat dimensi yang berbeda. Pertama, competence motivation (CM), yakni keinginan atau ketidakinginan seseorang dalam mengambil tugas yang diberikan. Kedua, attitude towards learning yaitu kesediaan dalam mengikuti pembelajaran. Ketiga, attention/persistence yaitu merujuk pada perhatian dari seseorang terhadap tugas untuk terhindar dari gangguan. Keempat, strategy/flexibility yaitu cara pendekatan seseorang terhadap tugas yang diberikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perilaku belajar remaja etnis Tionghoa berusia 1317 tahun yang sedang bersekolah di sekolah negeri dan swasta di seluruh Indonesia pada Ninawati. Jelien Afendi. Mada Angela. Zeufania Theresia, & Reynaldo Jeronimo Siswoto pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana gambaran perilaku belajar remaja etnis Tionghoa pada tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMA) dengan menggunakan instrumen Learning Behaviors Scale? METODE PENELITIAN Penelitian ini memiliki karakteristik khusus yang mencakup remaja etnis Tionghoa yang bersekolah di sekolah negeri dan swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat karakteristik partisipan yang lebih rinci: . partisipan berada pada rentang usia 13 hingga 17 . partisipan merupakan siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan menengah di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu suatu cara yang mengikuti prinsip-prinsip ilmiah seperti ukuran, rasionalitas, dan sistematis. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu sebuah metode sampling non-probabilitas dimana sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini bertujuan untuk memastikan bahwa sampel yang dipilih memiliki karakteristik spesifik yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, dengan memberikan informed consent pada wali murid untuk siswa berusia kurang dari 17 tahun. Dalam konteks penelitian ini, kriteria pemilihan sampel meliputi usia dan latar belakang tertentu yang dianggap relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian secara komprehensif. Dengan menggunakan teknik ini, peneliti berharap dapat memberikan gambaran yang lebih akurat dan mendalam tentang pengalaman dan persepsi remaja tersebut dalam konteks pendidikan di Indonesia. Pada tahap pelaksanaan, peneliti menyebarkan kuesioner yang berisi serangkaian pertanyaan yang dibuat secara sistematis melalui link Google Form kepada partisipan. Pengisian kuesioner dilakukan dalam jangka waktu 5-10 menit. Penyebaran kuesioner dilakukan menggunakan media sosial untuk menjangkau partisipan secara efektif dan luas. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis untuk menguji validitas dan reliabilitas alat ukur. Proses analisis ini penting untuk memastikan bahwa alat ukur dapat menghasilkan data yang konsisten dan akurat, serta untuk memvalidasi hasil penelitian. Penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung dan melalui platform media sosial untuk menjangkau lebih banyak partisipan. Peneliti menggunakan program software Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 25. 0 for Windows. Proses pengolahan data menggunakan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test serta dilanjutkan dengan uji analisis faktor menggunakan KMO and Bartlett's Test. Uji analisis faktor konfirmatori yang bertujuan untuk memvalidasi struktur faktor yang telah diusulkan dalam penelitian sebelumnya, serta mengevaluasi kesesuaian data observasi dengan model faktor yang telah disusun sebelumnya dan mengukur tingkat kecocokannya dengan data empiris yang ada. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Learning Behavior Scale, dirancang oleh McDermott et al. , yaitu skala penilaian standar yang terdiri dari 29 butir pertanyaan atau pernyataan yang dinilai oleh partisipan untuk mengukur perilaku belajar. Butir-butir ini diuraikan secara positif dan negatif, yaitu terdiri dari 29 butir pertanyaan meliputi 8 pertanyaan positif dan 21 pertanyaan negatif. Hal ini untuk mengurangi bias dan dinilai dengan menggunakan skala Likert 3 poin (Sering berlaku. Kadang-kadang berlaku. Tidak berlak. yang menunjukkan adanya perilaku tersebut selama 2 bulan terakhir. Uji reliabilitas masing-masing dimensi pada alat ukur Pemahaman Perilaku Belajar Remaja Tionghoa dalam Konteks Pendidikan LBS menunjukkan besaran nilai, yaitu Competence Motivation (CM) ( = 0. Attention/Persistence (AP) ( = 0. Attitude Toward Learning (AL) ( = 0. Strategy/Flexibility (SF) ( = 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini melakukan uji asumsi yaitu uji normalitas yang dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25. Berdasarkan hasil uji normalitas didapatkan sig 0. 000 > 0. Artinya data berdistribusi dengan normal, sehingga analisis data penelitian dapat dilanjutkan dengan uji analisis Tabel 1. Kelayakan uji faktor KMO and Bartlett's Test Sumber tabel: olah data SPSS Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Sig. Tabel 2. Rotated Factor Matrix Sumber tabel: olah data SPSS Factor Butir AP1 AL1 AL2 CM1 AP2 AP3 AP4 AP5 CM3 AL5 AL6 CM4 SF7 SF8 CM5 CM6 AL7 AL8 Berdasarkan tabel 1 di atas, nilai KMO sebesar 0. 827 (> 0. menunjukkan sampel memadai untuk analisis faktor, dan hasil Uji Bartlett's Test of Sphericity dengan Approx. Chi-Square 318, df 153, dan signifikan 0. 000, menunjukkan ada korelasi yang cukup di antara butir-butir. Ninawati. Jelien Afendi. Mada Angela. Zeufania Theresia, & Reynaldo Jeronimo Siswoto Rotated factor matrix menunjukkan beban faktor dari masing-masing butir setelah rotasi varimax dengan normalisasi kaiser, dengan Faktor 1 memiliki beban tertinggi pada butir AL6 (-0. dan AL8 . Faktor 2 pada butir SF7 (-0. dan SF8 (-0. Faktor 3 pada butir CM6 . dan Faktor 4 pada butir AP5 . Pembahasan Dari hasil pengujian yang dilakukan oleh peneliti, hanya tersisa 18 dari 29 butir pertanyaan. Butir yang dieliminasi merupakan butir yang telah diuji kelayakannya atau reliabilitasnya seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Butir-butir yang dieliminasi merupakan butir yang memiliki nilai validitas butir < 0. 3 sehingga tidak dapat digunakan. Dengan demikian 11 butir harus dieliminasi sehingga menyisakan 18 butir lainnya yakni butir 4, 7, 8, 9, 12, 13, 19, 20, 22, 26, dan 19. Peneliti membuktikan bahwa dari hasil uji analisis faktor, 2 butir tidak dapat digolongkan ke dalam keempat faktor karena memiliki nilai koefisien yang lebih rendah dari 0. 3 sehingga tidak dapat digolongkan yakni butir AP2 dan AP3 (Butir 6 dan . Faktor 1, berisikan 2 butir yang berasal dimensi CM, yaitu butir CM4 (Butir . dan CM5 (Butir . , kemudian 5 butir yang berasal dari dimensi AL, yaitu butir AL 1 (Butir . AL2 (Butir . AL6 (Butir . AL7 (Butir . dan AL8 (Butir . Terdapat 2 butir yang berasal dari dimensi AP, yakni butir AP1 : (Butir . dan AP4 (Butir . Pada faktor 1, butir AL8 memiliki nilai koefisien tertinggi dengan nilai 0. Tidak ada butir yang berasal dari Strategi/Fleksibilitas (SF). Dengan demikian, terdapat 8 butir pertanyaan pada faktor 1. Pada Faktor 2, hanya berisikan 2 butir yang berasal dari dimensi CM yakni butir CM3 (Butir . dan CM6 (Butir . Pada faktor 2, butir CM6, memiliki nilai koefisien tertinggi dengan nilai 0. Faktor 3, berisikan 1 butir CM yaitu butir CM1 (Butir . Terdapat 1 butir AL yaitu butir AL5 (Butir . dan 2 butir SF yaitu butir SF7 (Butir . dan SF8 (Butir . Butir CM1 merupakan butir dengan koefisien tertinggi pada faktor 3 dengan nilai 0. Dengan demikian faktor 3 memiliki 4 butir. Yang terakhir, faktor 4 hanya berisikan 1 butir yang digolongkan pada faktor ini yakni butir AP5 (Butir . Pada faktor ini, butir AP5 memiliki nilai koefisien tertinggi yaitu 0. Perbandingan dengan penelitian Canivez. Willenborg dan Kearney pada tahun 2006, menunjukkan adanya perbedaan dalam pengelompokan faktor. Pada penelitian mereka. Faktor 1 diisi oleh butir CM. AL, dan AP dan disebut sebagai Competence Motivation (CM). Faktor 2 terdiri dari butir AP. Faktor 3 dari butir AL, dan Faktor 4 dari butir SF. Sebanyak 4 butir yang tidak memenuhi syarat dalam penelitiannya (Canivez, et. al, 2. Sedangkan pada penelitian yang dibuat oleh Chao et. al pada tahun 2018 yang berjudul AuThe Learning Behaviors Scale: National standardization in Trinidad and TobagoAy menunjukkan dua faktor yang dari hasil yang didapatkannya. Dalam penelitian mereka, dua faktor tersebut merupakan dimensi Competence Motivation (CM) dan Strategy/Flexibility (SF). Sebanyak 14 butir digolongkan ke dalam faktor Competence Motivation dan 10 butir sisanya tergolong dalam faktor Strategy/Flexibility. Pada penelitian ini, butir yang dieliminasi adalah sebanyak 5 butir sehingga menyisakan 24 dari 29 butir (Chao, et al. , 2. Faktor 1 dalam penelitian ini dapat dikatakan sebagai dimensi Attitude Towards Learning (AL) karena mayoritas butir berasal dari dimensi AL. Faktor 2 adalah Competence Motivation (CM) karena diisi oleh butir dari dimensi CM. Faktor 3 dapat disebut sebagai Strategy/Flexibility (SF) karena butirnya mayoritas dari dimensi SF. Faktor 4 adalah Attention/Persistence (AP) karena Pemahaman Perilaku Belajar Remaja Tionghoa dalam Konteks Pendidikan membahas sikap dalam kelas. Mayoritas butir pada Faktor 1 membahas sikap negatif pada pembelajaran. Faktor 2 tentang motivasi rendah, dan Faktor 3 tentang cara melakukan kegiatan atau tugas. Tabel 3. Perbandingan Hasil Penelitian dengan 2 Jurnal Penelitian LBS Sumber tabel: olah data SPSS. Canivez et al. , 2006 dan Chao et al. Faktor (Dimens. Hasil Olah Data Faktor 1 Competence Motivation (CM) Terdapat Butir Berasal dari faktor CM sehingga dinamakan Competence Motivation Faktor 2 Attention/Persisten ce (AP) Terdapat Butir Berasal sehingga dinamakan Attention/Persistence Terdapat Sebanyak berasal dari dimensi Attitude Towards Learning Terdapat Mayoritas merupakan butir SF sehingga Strategy/Flexibility Butir 4, 7, 8, 9, 12, 13, 19, 20, 22, 26, dan 19 Butir 6 dan 10 tidak dapat digolongkan. Faktor 3 Attitude Towards Learning (AL) Faktor 4 Strategy/Flexibility (SF) Butir Pertanyaan yang dieliminasi atau tidak dapat Replication of the Learning Behaviors Scale Factor Structure with an Independent Sample Canivez, et al. Terdapat 10 Butir Mayoritas diisikan oleh butir yang berasal dari dimensi CM. Sehingga disebut Terdapat 5 Butir Diisikan oleh butir AP, dimensi tersebut. Terdapat 6 Butir Diisikan oleh butir AL, dimensi tersebut. The Learning Behaviors Scale: National standardization in Trinidad and Tobago Chao, et al. , 2018 Terdapat 14 butir Terdapat 10 butir Tidak faktor ketiga Terdapat 4 butir Tidak faktor keempat Diisikan oleh butir SF sehingga disebut Butir 10, 12, 19 dan 22 dieliminasi. 5 butir tidak dapat Ninawati. Jelien Afendi. Mada Angela. Zeufania Theresia, & Reynaldo Jeronimo Siswoto KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian kali ini memiliki fokus utama pada pemahaman serta pengembangan strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan menyoroti perilaku belajar remaja etnis Tionghoa. Penelitian ini mengeksplorasi perilaku belajar remaja dari etnis Tionghoa. Tujuannya adalah untuk memahami perilaku belajar remaja etnis Tionghoa yang bersekolah di sekolah negeri dan swasta di Indonesia, menggunakan Learning Behaviors Scale (LBS) sebagai alat ukur. Selain itu, penelitian ini bertujuan meningkatkan pemahaman teoritis mengenai perilaku belajar remaja etnis Tionghoa, mengembangkan teori psikologi pendidikan yang lebih inklusif, dan memberikan manfaat praktis dalam pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dan sesuai. Metode penelitian melibatkan 211 partisipan remaja etnis Tionghoa, berusia antara 13-17 tahun, menggunakan teknik purposive sampling untuk memastikan relevansi sampel dengan tujuan Penelitian ini memberikan gambaran menyeluruh tentang fokus dan hasil penelitian, serta implikasinya bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa dari latar belakang etnis yang berbeda. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada seluruh partisipan yang telah bersedia berpartisipasi dalam meluangkan waktu, tenaga, dan memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dalam penelitian ini. REFERENSI