JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 06 NOMOR 02 DESEMBER 2023 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN SEDENTARY LIFESTYLE DAN POLA TIDUR DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA USIA 14-18 TAHUN THE RELATIONSHIP BETWEEN SEDENTARY LIFESTYLE AND SLEEP PATTERNS WITH THE INCIDENCE OF OBESITY IN ADOLESCENTS AGED 14-18 YEARS Fiqih Zakiyah Ilyas . Arneliwati . Aminatul Fitri Fakultas Keperawatan. Universitas Riau. Riau. Indonesia Abstrak Article history Received date: 1 November 2023 Revised date: 21 Desember 2023 Accepted date: 30 Desember 2023 *Corresponding author: Fiqih Zakiyah Ilyas. Fakultas Keperawatan. Universitas Riau. Riau. Indonesia, fiqihz17@gmail. Masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa disebut dengan masa remaja. Sedentary lifestyle adalah mencakup aktivitas apa pun yang dilakukan di luar tempat tidur, dengan posisi paling umum atau dominan adalah duduk dan berbaring, serta jumlah kalori yang terbakar minimal. Semakin lama seseorang melakukan sedentary semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengalami beberapa masalah kesehatan, termasuk Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sedentary lifestyle dan pola tidur dengan kejadian obesitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif menggunakan desain cross-sectional di Pekanbaru. Sampel penelitian sebanyak 277 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengukuran sedendary lifestyle menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian yang didapatkan karakteristik responden sebagian besar responden usia 16 tahun . ,4%) dan berjenis kelamin perempuan . ,5%). Sebanyak 66,4% remaja berada pada kategori sedentary lifestyle sedang. Ada hubungan hubungan antara sedentary lifestyle dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14- 18 tahun . = 0,. Sedangkan pola tidur tidak berhubungan dengan kejadian obesitas . =1,. Sekolah dan orang tua dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi dan fasilitas untuk mendukung gaya hidup aktif di kalangan remaja. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja, termasuk pola makan, faktor genetik, dan lingkungan sosial. Kata Kunci: Obesitas, sedentary lifestyle, pola tidur Abstract The transition period between childhood and adulthood is called adolescence. A sedentary lifestyle includes any activity conducted outside of bed, with the most common or dominant positions being sitting and lying down, and minimal calories being burned. The longer an individual engages in sedentary behavior, the greater the likelihood of experiencing several health problems, including obesity. This study aims to determine the relationship between a sedentary lifestyle and sleep patterns with the incidence of obesity. It employs a descriptive method using a cross-sectional design in Pekanbaru. The study sample consisted of 277 respondents, selected using stratified random Sedentary lifestyle measurement was conducted using the Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Bivariate analysis was carried out using the chi-square test. The results showed that most respondents were 16 years old . 4%) and female . 5%). About 66. 4% of adolescents were in the moderate sedentary lifestyle category. There was a significant relationship between a sedentary lifestyle and the incidence of obesity in adolescents aged 14-18 years . = 0. However, sleep patterns were not related to the incidence of obesity . =1. Schools and parents can play an active role in providing education and facilities to support an active lifestyle among adolescents. Furthermore, further research is needed to Fiqih Zakiyah Ilyas. Arneliwati. Aminatul Fitri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 68-73 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. examine other factors that may influence the incidence of obesity in adolescents, including dietary patterns, genetic factors, and the social Keywords: Obesity, sedentary lifestyle, sleep pattern PENDAHULUAN Masa remaja terjadi antara masa kanak-kanak dan kedewasaan. Pubertas adalah salah satu tahap di mana seseorang mulai mengalami banyak perubahan fisik dan mental yang menakjubkan. Bagi anak perempuan, masa pubertas biasanya dimulai pada usia 10 hingga 14 tahun, sedangkan pada anak laki-laki sering kali mulai mengalami pubertas antara usia 12 dan 15 tahun. Untuk mempersiapkan tubuh matang jasmani dan rohani, dilakukan beberapa modifikasi (Muslimah. Rustaman, & Saefudin, 2. Dampak hormonal bertanggung jawab atas sejumlah perubahan yang terjadi selama masa pubertas. Remaja mengalami berbagai perubahan selama masa pubertas karena hormon. Perubahan fisik meliputi pertumbuhan tubuh yang pesat, pertambahan atau penurunan berat badan, perubahan komposisi tubuh, munculnya ciri-ciri seksual primer dan sekunder, serta perubahan psikologis yang semuanya merupakan peristiwa pubertas yang signifikan. Masa kritis dalam kehidupan seseorang karena berbagai perubahan yang terjadi di sana, seperti perubahan psikologis, sosial, dan fisiologis yang dapat berkontribusi pada berkembangnya obesitas atau kelebihan berat badan (Muslimah et al. , 2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan obesitas ialah penumpukan lemak berlebihan diakibatkan oleh ketidakseimbangan terus-menerus antara pengeluaran energi dan asupan kalori. Obesitas berkembang ketika asupan kalori melebihi pengeluaran energi. Salah satu makronutrien yang digunakan tubuh sebagai sumber energi utama adalah karbohidrat. Asupan protein dan karbohidrat yang tinggi berkontribusi terhadap kemungkinan terjadinya obesitas pada masa kanak-kanak dan remaja (Kemenkes RI, 2. Masalah gizi remaja harus ditangani secara khusus dan cepat karena dapat mempengaruhi status gizi saat ini dan masa depan serta pertumbuhan dan perkembangan remaja. Di antara masalah gizi yang mempengaruhi remaja adalah obesitas, gizi lebih, dan gizi kurang (Muchtar. Sabrin. Effendy. Lestari, & Bahar, 2. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 340 juta anak-anak dan remaja berusia antara 5 dan 19 tahun diidentifikasi mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2016. Sebanyak 19% dari kasus tersebut adalah anak laki-laki, sedangkan anak perempuan mencapai 18%. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2. , angka obesitas di Indonesia yang lebih tinggi dari 16% . ,2% vs 4,8%), menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kondisi gizi yang baik. Prevalensi status gizi (IMT/U) pada remaja usia 13-15 tahun adalah 17,44% overweight . ,08% gemuk dan 8,36% obesita. menurut Kabupaten/Kota Provinsi Riau. Di Kota Pekanbaru, prevalensi status gizi (IMT/U) pada usia 13 sampai 15 tahun sebesar 15,76% . emuk 8,96% obesitas 6,80%), menurut temuan Riset Kesehatan Dasar (Kemenkes RI, 2. Meningkatnya jumlah kasus obesitas tidak lepas dari faktor penyebab yang mempengaruhi terjadinya Faktor risiko dan penyebab obesitas termasuk aktivitas fisik, telah menjadi subjek beberapa penelitian. Umumnya tingkat aktivitas fisik pada remaja saat ini semakin menurun seiring berjalannya waktu. Waktu yang dihabiskan untuk bermain telah berubah dari kebanyakan di luar rumah menjadi di dalam rumah. Misalnya. Banyak anak lebih suka menggunakan komputer, menonton televisi, atau bermain video game di ponsel cerdas mereka daripada melakukan aktivitas fisik seperti bersepeda, berjalan kaki, atau berolahraga (Putra, 2. Aktivitas fisik ringan menyebabkan pengeluaran energi yang rendah, menyebabkan ketidakseimbangan yang lebih besar antara asupan energi dan pengeluaran energi. Akibat rendahnya produksi energi tubuh, sisa energi disimpan sebagai lemak kemudian menjadi kegemukan . hingga menjadi lebih gemuk . Rendahnya tingkat aktivitas fisik remaja menyebabkan perubahan gaya hidup yang berdampak pada peningkatan aktivitas sedentary, seperti remaja masa kini yang tingkatan jumlah waktu yang dihabiskan untuk bersantai, membaca, dan menonton TV (Putra, 2. Penelitian yang dilakukan Pengpid & Peltzer . di Indonesia mengungkapkan bahwa perilaku sedentary dilakukan oleh 27,3% remaja. Riskesdas membagi gaya hidup sedentary menjadi 3 kategori: < 3 jam per hari, 35,9 jam per hari dan Ou 6 jam per hari. Kategori rentan terhadap gangguan kesehatan meliputi kategori tidur < 6 jam setiap hari. Menurut studi kesehatan dasar, 25% masyarakat Indonesia menghabiskan Ou 6 jam sehari dan 29,1% anak berusia 10 hingga 14 tahun (Pengpid & Peltzer, 2. Semakin lebih mungkin mengalami berbagai masalah kesehatan termasuk obesitas, jika semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk tidak melakukan aktivitas. Sedentary lifestyle adalah perilaku kompleks dan umum yang bergantung pada bagaimana perilaku ini terbentuk di sepanjang hari, sehingga berdampak pada kesehatan fisik dan mental remaja. Telah diketahui bahwa remaja di sebagian besar negara terlalu banyak melakukan gaya hidup sedentary ini. Karena perilaku sedentary pada remaja telah dikaitkan dengan kesehatan fisik yang buruk dalam sejumlah penelitian, maka penting untuk mengetahui akar penyebab perilaku ini (Monteiro et al. , 2. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia . , gaya hidup sedentary berkontribusi terhadap hampir 2 juta kematian setiap tahunnya. Selain itu, antara usia 11 dan 17 tahun, remaja yang kurang aktif secara fisik terdiri empat dari lima remaja. Antara 60 hingga 85 persen orang dimanapun di dunia, baik di negara maju maupun berkembang menjalani gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Temuan menunjukkan bahwa 81% remaja dan 23% orang dewasa tidak memenuhi rekomendasi kesehatan global WHO untuk latihan fisik, yang berdampak pada Fiqih Zakiyah Ilyas. Arneliwati. Aminatul Fitri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 68-73 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. gaya hidup sehat. Gaya hidup yang paling banyak terjadi saat ini adalah gaya hidup sedentary (WHO, 2. Indonesia, kecenderungan gaya hidup tidak aktif tumbuh menjadi 33,5% pada tahun 2018 dari 26,1% pada tahun 2013 (Kemenkes RI, 2. Hal ini meningkat sejak masa pandemik COVID-19 dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amrynia & Prameswari . di kota Semarang mayoritas responden yaitu remaja sekolah kelas XI dan XII melakukan gaya hidup sedentary yang tinggi (Ou 6 jam/har. dan ringan (< 6 jam/har. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Faradilla. Maulina, & Zubir . di kota Lhokseumawe. Aceh bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa siswa yang melakukan aktivitas sedentary setelah pandemi untuk kategori tinggi yaitu mencapai 57 orang dan untuk yang kategori rendah berjumlah 6 orang. Penelitian pendahuluan pada Februari 2023 di SMA Negeri 8 Pekanbaru terhadap 13 siswa dan siswi kelas 10 melalui google form dan wawancara tidak terstruktur. Sebanyak 13 siswa . %) mengaku melakukan sedentary lifestyle dari pulang sekolah hingga sebelum tidur dan juga di hari libur dan memiliki kebiasaan pola tidur yang buruk. Peneliti mendapatkan informasi dari guru bahwa waktu sekolah di SMAN 8 Pekanbaru itu full day dimana para remaja disana menggunakan waktunya untuk duduk dan belajar di sekolah membuat mereka kurang melakukan aktivitas fisik sehingga meningkatkan resiko terjadinya obesitas. Selain sedentary lifestyle yang dilakukan pada remaja, meskipun remaja adalah generasi yang paling produktif, mereka juga menghabiskan sebagian besar waktu malam hari, yang seharusnya disediakan untuk tidur, karena buruknya keterampilan manajemen waktu mereka. Berat badan seseorang dipengaruhi oleh tidur melalui alasan biologis dan perilaku. Berdasarkan perilaku yang mempengaruhi berat badan, seperti peningkatan konsumsi makanan dan penurunan aktivitas fisik, durasi tidur pendek mempunyai peranan terhadap obesitas. Energi diganti saat tidur, dan organ dipulihkan agar berfungsi dengan baik. Seseorang yang kurang tidur bisa cepat kelelahan, stres, dan mudah terserang penyakit. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan terjadinya obesitas (Ramadani, 2. Sejalan dengan penelitian Agita, dkk . di kota Semarang hubungan antara pola tidur dan obesitas. Berdasarkan hasil kuesioner PSQI dalam penelitian ini, remaja yang mengalami obesitas biasanya mengalami gangguan tidur yang dapat berdampak negatif pada kehidupan sehari-harinya dan menganggap kualitas tidurnya kurang memuaskan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Ramadani . di kota Jambi yang memiliki responden 88 orang dari usia 10-18 tahun, dimana sebanyak 48 orang remaja obesitas juga mengalami pola tidur yang tidak baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana hubungan sedentary lifestyle dan pola tidur dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14-18 tahun. METODE Penelitian ini menerapkan metode cross-sectional yang dilakukan pada Juni 2023 penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 8 Pekanbaru. Sampel penelitian sebanyak 277 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Sampel penelitian adalah siswa kelas X dan XI SMAN 8 Pekanbaru yang bersedia menjadi responden dan hadir selama pelaksanaan penelitian. Siswa yang memenuhi kriteria inklusi diberikan kuesioner untuk diisi sebagai bagian dari penelitian ini. Pengumpulan data demografi menggunakan kuesioner digunakan untuk mengumpulkan informasi usia, kelas dan jenis kelamin serta menggunakan antropometri untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT) dan melakukan interpretasi IMT berdasarkan tabel IMT menyesuaikan usia dan jenis kelaminnya. Peneliti menggunakan timbangan yang digunakan untuk menilai berat badan (BB), dan mikrotois digunakan untuk mengukur tinggi badan (TB). Penelitian ini menggunakan kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) yang telah dimodifikasi oleh (Karaca & Demirci, 2. Selama mengukur waktu pemakaian perangkat, pendidikan, perjalanan, dan hobi, kuesioner ini menggunakan skala ordinal. Selain 5 hari aktif dan 2 hari libur sekolah, kuesioner ASAQ juga menelusuri total perilaku sedentary responden sepanjang minggu sebelumnya. Ada 11 item dalam survei tentang perilaku menetap ini. Hasil penelitian validitas yang menggunakan 150 siswa dan Intraclass Correlation Coefisien (ICC) dengan 11 item pertanyaan pada ASAQ. Dengan nilai r alpha sebesar 0,791 maka uji reliabilitas instrumen ini menunjukkan reliabilitasnya (Karaca & Demirci, 2. Penelitian ini juga menggunakan Kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dibuat oleh Buysse pada tahun 1988 dengan tujuan menawarkan indeks standar yang mudah digunakan pasien dan dokter untuk menilai kualitas tidur mereka. Kelompok demografi yang berbeda di negara yang berbeda telah dievaluasi kualitas tidurnya menggunakan kuesioner PSQI. Meskipun kuesioner PSQI yang digunakan adalah versi bahasa Inggris, versi dalam bahasa Spanyol. Portugis. Jepang. Korea. Italia, dan bahasa lainnya juga telah dikembangkan. Tujuan dari kuesioner standar ini adalah untuk menilai kualitas tidur Analisis data menggunakan uji chi-square dengan = 0,05. Penelitian ini dilaksanakan setelah memperoleh keterangan laik etik nomor 126/UN19. 8/KEPK/2023 dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Riau. HASIL Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berusia 16 tahun . ,4%) dan berjenis kelamin perempuan adalah . ,5%). Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di SMA Negeri 8 Pekanbaru melakukan aktivitas Sedentary lifestyle yang sedang . ,4%). Sebanyak 88,0% remaja mengalami pola tidur yang buruk. Hasil pengukuran antropometri menunjukan remaja sebagian besar berada pada kategori IMT normal 54,5%). Fiqih Zakiyah Ilyas. Arneliwati. Aminatul Fitri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 68-73 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tabel 1. Karakteristik responden Karakteristik Usia . Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Tabel 2. Distribusi sedentary lifestyle, pola tidur dan kejadian obesitas No. Variabel Sedentary lifestyle Rendah Sedang Tinggi Pola tidur Baik Buruk Kejadian obesitas Kurus Normal Obesitas Total Tabel 3. Hubungan sedentary lifestyle dan pola tidur dengan kejadian obesitas pada remaja Variabel Sedentary lifestyle Rendah Sedang Tinggi Pola tidur Baik Buruk Kejadian obesitas Nilai p 0,033 1,000 Tabel 3 menunjukkan dda hubungan hubungan antara sedentary lifestyle dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14- 18 tahun . = 0,. Sedangkan pola tidur tidak berhubungan dengan kejadian obesitas . =1,. PEMBAHASAN Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan antara gaya hidup sedentary dengan prevalensi obesitas pada remaja usia 14 hingga 18 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Apriyani. Deniati, & Gea . di Bekasi menunjukkan bahwa perilaku sedentary dan risiko obesitas pada mahasiswa stikes medistira Indonesia mempunyai hubungan yang erat . -value = 0,. Penelitian ini sejalan dengan Victory et al. , . di kota Salatiga, menyatakan bahwa terdapat hubungan antara sedentary lifestyle dengan kejadian obesitas. Temuan ini berbeda dengan penelitian Lestari & Nurhayati . di Surabaya yang tidak menemukan hubungan antara perilaku sedentary dengan prevalensi obesitas pada siswa kelas XI SMA Negeri 11 Surabaya. Hasil penelitian yang didapatkan para siswanya hanya melakukan aktivitas sedentary antara 2-3 jam sehari. Hasil uji statistik chi square menunjukkan adanya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan tidur dengan angka obesitas pada remaja usia 14 hingga 18 tahun. Wulandari. Lestari, & Fachlevy . melakukan penelitian yang menunjukkan tidak ada hubungan antara kelebihan berat badan dan obesitas saat menstruasi di SMA Negeri 4 Kendari. Menurut penelitian yang dilakukan di kota Sleman oleh Alfiah. Widiastuti, & Sudyasih . , tidak ada hubungan antara kebiasaan tidur remaja dengan obesitas di MAN 1 Sleman. Menurut penelitian ini, remaja yang bertubuh gemuk biasanya memiliki kebiasaan tidur yang tidak teratur. Fiqih Zakiyah Ilyas. Arneliwati. Aminatul Fitri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 68-73 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Mayoritas Remaja yang mengalami obesitas punya kebiasaan tidur yang buruk karena berbagai sebab, antara lain tidur <7 jam dalam sehari, sering terbangun saat malam hari, kecenderungan begadang, dan sulit tidur. Temuan ini berbeda dengan penelitian di Lampung oleh Kristiana. Hermawan. Febriani, & Farich . yang menemukan adanya hubungan antara kebiasaan tidur dengan kejadian obesitas pada pelajar. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh perbedaan usia. Hasil penelitian menunjukkan responden obesitas mengalami kurang Berdasarkan temuan penelitian tersebut, mayoritas responden yang melaporkan kualitas tidur buruk adalah remaja dengan kategori BMI normal, sedangkan yang memiliki kualitas tidur baik terutama adalah remaja dengan kategori IMT normal. Kategori obesitas pada remaja yang mengalami pola tidur baik dan pola tidur buruk. Berdasarkan temuan penelitian, tidak ada korelasi antara prevalensi obesitas dan kebiasaan tidur buruk. Remaja yang mengalami obesitas biasanya mengalami masalah tidur, yang merupakan penyebab utama kurang tidur. Gangguan tersebut menyebabkan mereka sering terbangun saat larut malam dan sulit untuk kembali Kurangnya waktu tidur pada remaja yang tidak mengalami obesitas disebabkan oleh kecenderungannya begadang untuk melakukan berbagai tugas (Wulandari et al. , 2. Temuan penelitian menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan tidur dan kejadian obesitas. Hal itu disebabkan karena responden obesitas yang mengalami pola tidur yang buruk tidak menunjukkan adanya gangguan yang signifikan, responden tersebut dominan tidak mengalami sulit bernafas saat tidur, tidak batuk atau mengorok saat tidur, tidak mengalami nyeri saat tidur dan gangguan lainnya. Responden yang mengalami kurangnya durasi tidur dan mengalami kesulitan tidur dapat di kategorikan juga dengan pola tidur yang buruk. Karena hormon memainkan peran utama dalam tidur, lamanya tidur terutama saat kurang tidur, meningkatkan risiko obesitas. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Hal ini dimaksudkan agar penelitian memberikan gambaran baru terhadap ilmu keperawatan, khususnya dalam bidang keperawatan komunitas dan kesehatan mental, dan dapat diperhitungkan dalam pendidikan keperawatan guna mengurangi kejadian obesitas remaja dan mendorong terjadinya obesitas, aktivitas fisik sehingga lebih sedikit orang yang menjalani gaya hidup menetap . edentary lifestyl. dapat menjadi data fundamental atau referensi untuk memperdalam pemahaman dan menawarkan sumber pengetahuan baru. Selanjutnya dapat digunakan juga sebagai informasi dan bahan perencanaan bagaimana mengatasi sedentary lifestyle, pola tidur yang buruk dan kejadian obesitas pada remaja. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi peneliti selanjutnya memperdalam kejadian obesitas dan diantisipasi untuk mempelajari lebih jauh elemen-elemen yang dapat berkontribusi terhadap kejadian obesitas pada remaja yang masih cukup tinggi di Indonesia. Peneliti menyadari bahwa masih ada perbedaan pendapat dan kekurangan diantaranya, hanya dilihat dari kesediaan untuk mengisi kuesioner, jika tidak ada pengawasan dari guru, siswanya banyak yang keluar sehingga susah untuk menyebarkan kuesioner dan beberapa siswa yang mengalami kesulitan untuk mengingat aktivitas sedentary yang dilakukannya dalam 7 hari terakhir. KESIMPULAN Penelitian menemukan terdapat hubungan antara gaya hidup sedentary dengan prevalensi obesitas pada remaja usia 14 hingga 18 tahun. Sedangkan kebiasaan tidur dengan prevalensi tidak berhubungan dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14 sampai 18 tahun. Hal itu disebabkan karena responden obesitas yang mengalami pola tidur yang buruk tidak menunjukkan adanya gangguan yang signifikan, responden tersebut dominan tidak mengalami sulit bernafas saat tidur, tidak batuk atau mengorok saat tidur, tidak mengalami nyeri saat tidur dan gangguan lainnya. Oleh karena itu, karena pengaruh hormon dalam tubuh, lama tidur, terutama saat kurang tidur, memiliki risiko obesitas yang cukup besar. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti merasa bersyukur kepada pihak sekolah SMAN 8 Pekanbaru mengizinkan para peneliti untuk melakukan penelitian ini dan mendukung izin penelitiannya sehingga dapat diselesaikan dengan sukses. REFERENSI