Menanamkan Sikap Militan Kepada Siswa-siswi Kelas 11 SMA Negeri 1 Nanga Pinoh dengan Bercermin pada Militansi Iman Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus Hendrianus Wendi STAKat Negeri Pontianak wendiomi@gmail. Abstrak Ada kegelisahan dari Gereja Katolik lokal di Keuskupan Sintang terhadap lemahnya iman kaum muda. Hal ini mau mengambarkan bahwa militansi iman sangat penting bagi umat Katolik dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Namun di era modern, semakin banyak kaum muda kehilangan semangat dalam beriman. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang semangat militansi beriman kaum muda dengan sampel siswa-siswi Katolik di sekolah negeri. Bentuk atau metode penelitian menggunakan metode kualitatif penelitian deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Temuan hasil penelitian yaitu bahwa militansi beragama mengacu pada sikap atau tindakan yang menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agama dan keyakinan Ini dapat mencakup kedewasaan iman yang aktif dalam mempraktikkan keyakinan, mempertahankan keyakinan tersebut, serta menentang atau melawan pandangan dan praktik yang dianggap bertentangan dengan keyakinan tersebut. Perjalanan iman Paulus yang militan dapat dilihat dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus. Dalam surat ini. Paulus membahas berbagai masalah dan tantangan dalam gereja Korintus sambil menekankan pentingnya untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Yesus. Temuan ini juga dikorelasi dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat militansi iman siswa Katolik di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh rendah dalam hal pengetahuan dan pemahaman tentang tokoh-tokoh penting dalam Alkitab, khususnya Rasul Paulus. Namun, penelitian ini juga menekankan pentingnya latar belakang keluarga, pengetahuan ajaran Katolik, dan ketaatan pada ajaran moral dalam membentuk militansi iman para siswa. Hasil penelitian itu menghasilkan rekomendasi bahwa penting bagi semua orang Katolik untuk meningkatkan militansi iman dengan mendalami tokoh-tokoh di Alkitab khususnya Rasul Paulus, siswa aktif beribadah, bersikap menghargai sesama dan melibatkan keluarga dan lingkungan dalam membentuk militansi mereka agar dapat menjalankan kehidupan sebagai orang Katolik yang baik dan benar. Kata Kunci: Iman. Kuam Muda. Militansi. Paulus. Abstract There is a concern from the local Catholic Church in the Diocese of Sintang about the weak faith of young people. This wants to illustrate that the militancy of faith is very important for Catholics in carrying out their daily lives. However, in the modern era, more and more young people are losing the spirit of faith. Therefore, a research was conducted on the spirit of militancy of faith of young people with a sample of Catholic students in public schools. Descriptive research is a problem formulation that guides research to explore or portray the social situation to be studied thoroughly, broadly and in depth. The findings of the research results are that religious militancy refers to an attitude or action that shows a strong commitment to a particular religion and belief. This can include a maturity of faith that is active in practicing beliefs, defending those beliefs, as well as opposing or fighting against views and practices that are deemed contrary to those beliefs. Paul's militant faith journey can be seen in his first letter to the Corinthians. In this letter. Paul discusses various problems and challenges within the Corinthian church while emphasizing the importance of sticking to the teachings of Jesus. This finding is also correlated from the research results which show that the level of faith militancy of Catholic students at SMA Negeri 1 Nanga Pinoh is low in terms of knowledge and understanding of important figures in the Bible, especially the Apostle Paul. However, the study also emphasized the importance of family background, knowledge of Catholic teachings, and adherence to moral teachings in shaping the students' faith militancy. The results of the study resulted in recommendations that it is important for all Catholics to increase their faith militancy by exploring the figures in the Bible, especially the Apostle Paul, active students in worship, respect for others and involve family and environment in shaping their militancy in order to live life as good and true Catholics. Key Word: faith. Militancy. Paul, young people. PENDAHULUAN Belakang ini muncul kegelisahan dari Gereja Katolik lokal di Keuskupan Sintang terhadap lemahnya iman kaum muda. hal ini mau mengambarkan bahwa militansi iman sangat penting bagi umat Katolik dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Namun di era modern, semakin banyak kaum muda kehilangan semangat dalam beriman. Beberapa faktor yang mempengaruhinya ialah faktor lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu, makin banyak kaum muda tidak tertarik mendalami ajaran agama, sehingga muncul kecenderungan materialistis. Kecenderungan materialistis maksudnya ialah mereka hanya menilai sesuatu dari materi yang dapat dilihat dan dipegang dengan nilai yang terukur. Masalah lain yang hadapi kaum muda ialah kurangnya keteladanan dari orang-orang di sekitar. Kasus yang sering terjadi di lapangan ialah kaum mudah Katolik kerap kali pindah agama karena faktor nikah dengan pasangan yang berbeda Agama dan beda Gereja. Semakin menurunnya militansi kaum muda ini patut menjadi perhatian dari berbagai kalangan dalam Gereja Katolik. Hal ini harus menjadi perhatian terutama bagi orang tua. Katekis. Uskup, para Imam. Suster. Bruder dan umat. Upaya-upaya evaluasi dan peningkatan iman perlu dilakukan agar kaum muda kembali memperkuat iman mereka dan menjadi ujung tombak pengembangan Gereja masa depan. Memperkuat militansi iman kaum muda merupakan kunci utama dalam menjalankan kehidupan sebagai orang Katolik yang baik dan benar. Dengan memiliki militansi iman yang kuat, seseorang akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan dalam kehidupan dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi Gereja, orang lain dan diri sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seluruh umat Katolik untuk militan dalam beriman dengan berbagai media seperti: kumpul acara OMK, menghadapi semangat doa lingkungan dan pribadi, menggunakan media sosial untuk pewartaan. Dengan melakukan hal tersebut kaum muda bisa menjadi orang yang militan dalam kehidupan mereka dan terus memperkuatnya untuk menjadi Katolik yang lebih baik. Untuk meningkatkan iman kaum muda agar semakin militan perlunya keteladanan dari tokoh-tokoh Salah satu keteladanan iman dari orang kudus yang militan yaitu Rasul Paulus. Rasul Paulus adalah seorang misionaris ulung dan militan dalam menjalankan misi penyebaran agama Kristen. Berbicara tentang militansi iman Rasul Paulus tidak bisa dipisahkan pengalamannya di Damsyik. Damsyik Paulus mengalami perubahan yang drastis dari seorang pemburu pengikut Kristus dan akhir menjadi Rasul dan pewarta Yesus Kristus. Sebagai Rasul Kristus, salah satu pernyataan yang militan ialah Aubagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntunganAy (Fil 1:. Dari situ kita bisa melihat Rasul Paulus adalah model atau guru yang tangguh dan berani menyampaikan kebenaran akan Kristus. Kehidupan dan karya Rasul Paulus tercatat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Tulisan-tulisan berupa surat pastoral Rasul Paulus tersebar di berbagai kota. Surat pastoral Rasul Paulus terdapat informasi tentang kepercayaan dan ajaran Kristen saat itu, nasehat-nasehat dan wawasan tentang kehidupan dan pemikiran Rasul Paulus berhadapan permasalahan kontekstual jemaat. Paulus mendirikan jemaat di berbagai tempat yaitu di wilayah Efesus. Filipi, dan Korintus. Semangat militansi iman yang akan digali yaitu dari surat Paulus yang pertama kenapa jemaat di Korintus. Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus dipilih karena ada kesamaan permasalahan jemaat saat itu dan sekarang. Permasalahan jemaat di Korintus ini yaitu terkait dengan iman dan moral. Permasalahan jemaat di Korintus ini tidak lepas dari latar belakang kota pelabuhan dan perdagangan yang membuat masalah jemaat menjadi kompleks. Korintus adalah masuk dalam wilayah jajahan Romawi sejak 145 SM. Kota tersebut pernah dihancurkan oleh Lucius Mummius. Lalu di dirikan kembali oleh Yulius Caesar Romawi pada tahun 44 SM. Kota Korintus menjadi Provinsi Akaia (Yunan. Korintus menjadi kota kosmopolitan yang menarik banyak pendatang. Kultur kota Korintus sangat kental dengan kultur Yunani yang ditandai dengan masih banyak penyembahan dewa-dewa Yunani. Sedangkan kultus yang kuat saat itu adalah imperial. Masalah pastoral Rasul Paulus di Kota Korintus adalah perpecahan dalam jemaat, percabulan, penyembahan berhala, karunia-karunia roh, perjamuan Tuhan dan kebangkitan. Masalah-masalah ini juga akan di kontekstualkan dengan situasi permasalahan kaum muda saat ini yang mempengaruhi sikap militansi Membahas tentang militansi iman, tentu yang harus dipahami apa itu iman Katolik? Banyak sekali orang Katolik yang sudah dibaptis, tetapi masih kesulitan memahami imannya. Masih banyak orang Katolik dengan pemahaman yang sangat terbatas. Banyak umat Katolik yang sering ditanya tentang pokok-pokok imannya, dengan segala cara mereka menghindari pertanyaan itu karena mereka tidak Dari situ harus ada katekese serius dari pihak Gereja dan sifatnya mendesak. Dengan keprihatinan kedangkalan iman umat ini, munculnya surat Porta Fidei. Paus Benediktus keXVI . Oktober 2012 - 24 November 2. yang menyebutkan bahwa orang Kristiani sangat getol terlibat dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat, namun lupa mendalami iman sendiri. Sibuk dengan hal-hal nyata terjadi di masyarakat tentulah baik, namun tidak ada waktu untuk mengenal dan memahami imannya dengan baik, sehingga gagap saat ditanya oleh orang yang beragama lain. Oleh karena itu Paus Benediktus XVI dan sinode para Uskup pada Oktober 2012 digemakan re-evangelisasi. Tema sinode tersebut ialah: Evangelisasi Baru Untuk Mentransmisikan Iman Kristiani. Melihat konteks tersebut, penulisan tesis dengan tema Militansi Iman dirasakan sangat relevan dengan situasi saat ini. Secara ringkas iman dalam Gereja Katolik adalah dasar untuk menjalani hidup yang sesuai dengan ajaran Gereja dan memperoleh keselamatan. Hal-hal yang penting dalam iman Katolik ialah: pertama, kepercayaan kepada Allah. Allah adalah sumber segala ciptaan dan kebaikan. Oleh karena itu Allah disebut sebagai yang Maha Kuasa. Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kedua, percaya kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah juru selamat dan anak Allah yang telah sengsara, wafat dan bangkit kembali pada peristiwa Paskah. Peristiwa paskah itu adalah puncak iman dalam Gereja Katolik. Beriman kepada Yesus Kristus artinya percaya bahwa melalui Dia, maka umat-Nya akan memperoleh keselamatan. Ketiga. Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri. Dalam penyebutan selalu terkait dengan TriTunggal (Bapa. Putra dan Roh Kudu. yang menjadi penolong dan pembimbing umat-Nya yang sedang berziarah di dunia. Roh Kudus Pula yang menjadi yang memberi kekuatan, inspirasi bagi umat Allah untuk menjalani hidup yang sesuai kehendak-Nya dalam kenyataan sehari-hari. Keempat. Sakramensakramen. Kelima, ajaran-ajaran dan dogma Gereja. Sumber iman yang utama dan pertama dalam Gereja Katolik ada tiga yaitu Kitab Suci. Magiterium dan tradisi suci. Berdasarkan penjabaran di atas bahwa ada fenomena iman orang Katolik di Gereja Lokal Keuskupan Sintang mulai melemah. Adapun faktornya yaitu karena kurangnya keteladanan, lingkungan, pacaran atau nikah dengan orang yang berbeda keyakinan dan pengetahuan iman yang kurang. Oleh karena itu dibuatlah tesis ini dengan judul Menanamkan Sikap Militan Kepada Siswa-siswi Kelas 11 SMA Negeri 1 Nanga Pinoh dengan Bercermin pada Militansi Iman Rasul Paulus dalam Surat yang Pertama kepada jamaat di Korintus. METODE Peneliti melakukan penelitian di Kabupaten Melawi, khususnya di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Peneliti memilih lokasi tersebut karena dianggap strategis sebab SMA tersebut adalah sekolah induk. SMA Negeri 1 Nanga Pinoh adalah sekolah induk di wilayah tersebut, maka data yang peneliti kumpulkan dari lokasi ini dapat mewakili sebagian besar populasi atau subpopulasi yang peneliti survei. Alasan lain ialah Negeri 1 Nanga Pinoh memiliki sumber daya yang relevan untuk penelitian peneliti, seperti akses ke fasilitas, informasi, data, atau responden yang relevan dengan topik penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu sumber data primer dan sumber data Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari anak SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Sumber data sekunder meliputi fotografi atau dokumen pribadi. Selain itu, penulis juga menggunakan dokumentasi sebagai pengumpulan data-data yang diperoleh dari dokumen-dokumen dan pustaka sebagai bahan analisis dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga langkah, yaitu observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Observasi: Langkah awal teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Observasi atau pengamatan adalah perhatian yang terfokus terhadap kejadian, gejala, atau sesuatu yang terjadi dalam konteks penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang otentik tentang fenomena yang diamati. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan observasi ke SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Kegiatan observasi yang peneliti lakukan ialah bertemu dengan kepada sekolah dengan menanyakan hal-hal terkait penelitian. Setelah bertemu dengan kepada sekolah peneliti juga bertemu dengan guru-guru agama Katolik untuk menanyakan perihal situasi siswa Katolik di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Kuesioner: Menggunakan kuesioner sebagai teknik pengumpulan data dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mengumpulkan data dalam penelitian kuantitatif. Kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari responden dengan memberikan serangkaian pertanyaan tertulis. Hal ini dapat memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data dari sejumlah besar responden secara efisien. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat yang dinamakan google form. Peneliti menggunakan google form karena lebih sederhana. Setelah kuesioner dibuat, peneliti hanya perlu membuat link dan menyebarkan link tersebut kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Para siswa hanya perlu menggunakan handpone untuk membuka link kuesioner. Setelah membuka link tersebut mereka akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah peneliti siapkan. Melalui penelitian yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner, tujuan utamanya adalah mengukur pemahaman mengenai iman, peribadatan, serta gaya hidup sebagai seorang Katolik. Selain itu, kuesioner juga digunakan untuk menilai sikap siswa terhadap permasalahan moral yang mungkin berkonflik dengan nilai-nilai agama. Di samping itu, terdapat pula kuesioner yang bertujuan mengukur tingkat pengenalan siswa Katolik kelas XI terhadap tokoh Rasul Paulus, misi Paulus di Korintus yang diuraikan dalam surat pertama, serta prinsip-prinsip yang diadvokasi / dibela oleh Paulus. Teknik analisis data dalam penelitian ini melibatkan beberapa langkah yang harus dilakukan. Langkah pertama adalah mentranskripsikan data yang telah dikumpulkan, seperti transkripsi kuesioner. Transkripsi ini akan memudahkan peneliti dalam memahami dan menganalisis data yang telah dikumpulkan. Transkripsi yang peneliti lakukan ialah mengubah angka dari hasil kuesioner dalam rupa gambar menjadi tulisan. Setelah data telah ditranskripsikan, langkah selanjutnya adalah mengorganisasikan data tersebut. Data dapat diorganisir berdasarkan tema, kategori yang muncul dari data tersebut. Tujuan dari pengorganisasian data adalah untuk mempermudah analisis lebih lanjut. Dalam kuesioner yang peneliti buat ada tiga tema besar yaitu tentang iman . engetahuan iman, peribadatan, perwujudan ima. , pertanyaan tentang tokoh Paulus, dan nilai-nilai moral yang Paulus perjuangkan di Korintus. Dengan mengorganisasi tema-tema tersebut mempermudah peneliti melakukan pemahaman data dan mendiskripsikan data tersebut. Setelah data diorganisir, peneliti akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang diteliti. Pemahaman ini melibatkan pencarian keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur kausal, dan proporsi-proporsi dalam data. Terkait pemahaman data, yang peneliti lakukan ialah menjelaskan hasil kuesioner dengan teori-teori yang terkait. Tujuannya agar melengkapi pengetahuan pembaca berdasarkan hasil survei yang diperoleh. Langkah terakhir dalam analisis data adalah penarikan kesimpulan. Peneliti akan mengevaluasi temuan-temuan yang telah ditemukan dari analisis data dan membuat kesimpulan yang relevan. Penarikan kesimpulan ini harus dilakukan dengan jelas dan mempertahankan kejujuran serta kecurigaan dalam interpretasi data. Dalam penelitian ini peneliti melakukan upaya-upaya mencari data hasil survei yang merupakan titik akhir dalam proses penelitian, dan langkah-langkah di atas harus diikuti dengan cermat untuk memastikan bahwa kesimpulan yang diambil didukung oleh data dan merupakan refleksi yang akurat dari temuan dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan akan tergambar secara komprehensif mengenai pengetahuan, sikap, dan pemahaman siswa terhadap ajaran agama Katolik. Implikasinya, hasil penelitian ini memiliki potensi yang signifikan untuk menjadi pedoman bagi pihak-pihak terkait dalam pengembangan program pendidikan agama Katolik yang lebih baik, lebih efektif, serta lebih kokoh dalam mempertahankan keyakinan. Gambaran Umum Responden Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Penelitian dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Juli 2023. Jumlah responden yang diteliti adalah 15 orang siswasiswi Katolik. Jumlah siswa-siswi Agama Katolik di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh kelas XI yaitu 61 orang. Artinya ada 24,59% siswa kelas XI yang terlibat aktif sebagai Sedangkan jumlah keseluruhan siswa-siswi Gambar 1 Survei dalam Menanamkan Militansi Iman Siswa Kelas XI Katolik dari kelas X-XII yaitu 176 orang. Kelas X Kelas XI Kelas XII Total Materi yang diteliti ialah mengukur militansi iman siswa-siswi Agama Katolik kelas XI. Adapun konten yang ditanyakan sesuai dengan tema tesis ini yaitu Menanamkan Sikap Militansi kepada Siswasiswi Kelas 11 SMA Negeri 1 Nanga Pinoh dengan Bercermin pada Militansi Iman Rasul Paulus dalam Suratnya yang Pertama di Korintus. Berdasarkan judul itu dibagi menjadi beberapa item pertanyaan yaitu latar belakang siswa. pengetahuan iman, peribadatan dan cara hidup sebagai orang berimana. Selain itu ditanyakan juga tentang pengenalan siswa terhadap tokoh yang terkenal militan beriman pada Yesus Kristus yaitu Rasul Paulus. Pertanyaan ini mau melihat seberapa akrab siswa mendengar nama Paulus, semangat dan nilai-nilai yang ia perjuangkan khususnya di dalam suratnya yang pertama kepada jamaat di Korintus. Pada bagian selanjutnya ialah menanyakan secara spesifik kepada siswa tentang realitas hidup dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip Paulus terhadap tingkah laku menyimpang yang dilakukan oleh jamat Korintus. Nilai-nilai yang ditentang oleh Paulus yaitu percabulan, penyembahan berhala, penyimpangan dalam perjamuan Tuhan dan melanggaran terhadap hak-hak perempuan. Nilainilai tersebut ditanyakan karena dirasa kontekstual dengan kondisi saat ini. Jika nilai-nilai tersebut dilanggar dalam kehidupan siswa saat ini tentu berimbas semangat militan sebagai seorang Katolik. Latar Belakang Responden Responden yang hadir partisipasi berdasarkan jenis kelamin ialah 60% perempuan dan 40% lakilaki. Mereka ini berasal dari berbagai tempat. Mayoritas berasal dari daerah. Ada 40% berasal dari desa. 3% berasal dari kecamatan. sedangakan mereka yang berasal dari Kabupaten Pinoh sendiri ada 26. Sebenarnya tidak ada korelasi asal siswa dengan militansi iman siswa. Namun pemetaan berdasarkan daerah ini bisa membantu mengetahui proses pendidikan siswa yang menjadi salah satu faktor untuk mengukur militansi iman para siswa. Gambar 2 Survei Daerah Asal Siswa Kelas XI Gambar 3 Survei Status Perkawinan orang tua Responden yang hadir diketahui berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Berdasarkan latar belakang status penikahan keluarga menyisakan bukti yang unik yaitu jumlah responden yang berasal dari keluarga dari pernikahan beda agama berjumlah 20%. Sedangkan latar belakang responden yang berasal dari pernikahan keluarga yang menikah beda Gereja yaitu 6. Responden yang latar belakang keluarga menikah secara Katolik yaitu 73. Ada hal yang menarik yaitu responden beriman sebagai seorang Katolik dari latar belakang agama orang tua yang berbeda kayakinan berjumlah 27. Dalam Gereja Katolik keluarga dikenal dengan Gereja Kecil (Exlecia Domistic. Militansi iman anak dapat berkembang dengan baik jika keluarga memainkan peran penting dalam pendidikan iman anak sejak usia dini. Keluarga harus menjadi sekolah pertama bagi anak-anak untuk menanamkan kebajikan Kristiani dan memperkenalkan misteri keselamatan dalam Yesus Kristus bagi iman mereka. Orang tua bertanggung jawab untuk mendidik anakanak mereka dan mewariskan iman mereka kepada anak-anak mereka. Dalam Gereja Katolik, keluarga dianggap sebagai Gereja kecil yang harus dibina dengan serius agar tercapai kehidupan keluarga yang Oleh karena itu, peran keluarga dalam Gereja Katolik sangat penting dalam membangun kehidupan keluarga yang kristiani dan harmonis serta membantu anak-anak untuk hidup dalam iman Katolik (Londa, 2. Berdasarkan fakta di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang hidup dari latar belakang orang tua yang menikah beda agama mempunyai militansi iman yang baik. Alasanya ia harus berhadapan dualisme dari keyakinan orang tua, namun ia memilih menjadi Katolik. Selain itu tantangan terhadap iman bagi siswa dari orang tua yang berbeda agama lebih dinamis. Lalu bagaimana dengan mereka yang berasal dari orang tua yang sama-sama Katolik apakah lebih militan? Tidak dapat disimpulkan bahwa siswa yang orang tua sama-sama Katolik pasti militan dalam iman mereka. Namun, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk militansi iman anak, terlepas dari latar belakang agama orang tua. Keluarga dianggap sebagai Gereja kecil yang harus dibina dengan serius agar tercapai kehidupan keluarga yang harmonis. Para siswa saat ini bedomisili terbagi di lima tempat. Siswa yang tinggal bersama dengan orang tua saat ini berjumlah 80%. Semantara 20% ada yang tinggal di asrama, bersama keluarga dekat, bersama orang lain dan di kos. Tempat tinggal saat ini para siswa juga mempunyai dampak terhadap iman mereka. Siswa yang tinggal bersama dengan orang tua dan siswa yang tinggal di kos tentu berbeda dalam hal tantangan untuk mempetahankan imannya. Siswa yang tinggal besama keluarga mestinya lebih terjaga pemeliharaan imannya dibandingkan mereka yang tingga di kos yang harus berhadapan dengan berbagai Begitu juga siswa yang berada bersama keluarga dekat, di asrama dan tinggal dengan orang lain mampunyai tantang tersendiri dalam mengembangkan imannya. Gambar 4 Domisili Siswa Temuan Penelitian Pada bagian ini akan dibahas hasil temuan dari survei yang telah dilakukan. Item-item yang dibahas dalam survei sebagai berikut: pengetahuan iman, peribadatan, perwujudan iman, pengatauan siswa terhadap Rasul Paulus, dan ajaran moral Rasul Paulus di 1 Korintus. Hasil survei tersebut akan dikaitkan dengan situasi masa kini. Pengetahuan Iman Pengetahuan iman dan ajaran moral dalam Gereja Katolik memberikan pandangan tentang pentingnya pemahaman ajaran dasar agama bagi umat Katolik. Teori ini menyebutkan bahwa pemahaman terhadap doktrin, dogma, katekese, dan liturgi penting untuk memperdalam iman, memperkuat hubungan dengan Tuhan, membantu dalam pengambilan keputusan, meningkatkan partisipasi dalam ibadah, dan memandu dalam pelayanan kepada sesama. Hasil survei yang dilakukan terhadap siswa kelas XI menunjukkan bahwa sebagian besar siswa . 3%) memiliki pemahaman yang cukup baik tentang ajaranajaran Gereja Katolik. Mereka dianggap memahami ajaran agama dan keyakinan yang diyakini oleh Gereja dengan memadai. Selain itu, sebagian besar siswa . 3%) juga menganggap penting untuk menjalankan ajaran moral dalam Gereja Katolik. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki pengetahuan dan sikap yang positif terkait dengan ajaran-ajaran dan nilai-nilai moral dalam Gereja Katolik. Namun, untuk mengaitkan hasil survei ini dengan situasi siswa masa kini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, konteks Sosial dan Pengaruh Lingkungan: Di era informasi seperti sekarang, siswa memiliki akses lebih mudah ke berbagai sumber informasi termasuk ajaran agama. Namun, juga mungkin ada pengaruh lingkungan atau budaya yang dapat mempengaruhi pandangan dan sikap siswa terhadap Kedua, tantangan dunia modern: Tantangan dan tuntutan dalam kehidupan modern dapat mempengaruhi bagaimana siswa menjalankan nilai-nilai agama dalam praktik sehari-hari. Beberapa nilai agama mungkin bertentangan dengan norma-norma sosial kontemporer, sehingga siswa perlu mengatasi konflik tersebut. ketiga, pengalaman pribadi: Pengalaman pribadi juga dapat memainkan peran penting dalam cara siswa merespons dan mengamalkan ajaran agama. Pengalaman hidup mereka, interaksi dengan sesama, dan situasi yang mereka hadapi akan berkontribusi pada cara mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama. Keempat, peran pendidikan agama: Efektivitas sistem pendidikan agama juga dapat mempengaruhi pemahaman dan praktik agama siswa. Pendekatan yang interaktif, relevan, dan inklusif dalam pendidikan agama dapat membantu siswa mengembangkan pengertian yang lebih mendalam tentang nilai-nilai agama. Lima, teknologi dan akses informasi: Siswa masa kini memiliki akses lebih mudah ke berbagai sumber informasi tentang agama melalui internet dan teknologi lainnya. Hal ini bisa berdampak positif dalam memperdalam pengetahuan agama mereka, tetapi juga perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik terhadap ajaran-ajaran yang lebih mendalam. Kesimpulannya, hasil survei menunjukkan mayoritas siswa memiliki pengetahuan dan sikap positif terkait dengan ajaran agama dan nilai-nilai moral dalam Gereja Katolik. Namun, situasi siswa masa kini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, teknologi, dan lingkungan yang perlu diperhatikan dalam upaya memahami dan menginterpretasi hasil survei ini secara lebih komprehensif Peribadatan Inti pembahasan ini ialah tentang keaktifan peribadatan dalam Gereja Katolik, termasuk aktivitas seperti liturgi (Mis. , doa, sakramen, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan rohani. Hasil survei mengenai intensitas keterlibatan siswa dalam peribadatan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menghadiri Misa setiap minggu, namun sebagian lainnya jarang hadir. Selain itu, ada survei tentang intensitas membaca Kitab Suci dan keterlibatan dalam doa, yang juga menggambarkan kebiasaan rohani Situasi siswa masa kini mungkin mengalami perubahan dalam keterlibatan dalam peribadatan dan kegiatan rohani. Berikut adalah tanggapan terhadap hasil survei dengan mengaitkannya dengan situasi siswa saat ini: Intensitas Kehadiran Misa dan Peribadatan Gereja: Survei menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menghadiri Misa setiap minggu. Namun, dalam situasi saat ini, di mana banyak siswa dihadapkan pada jadwal yang padat dan beragam aktivitas, mungkin ada beberapa kendala yang mempengaruhi keterlibatan mereka dalam peribadatan rutin. Faktor seperti tuntutan akademik, aktivitas ekstrakurikuler, dan perubahan gaya hidup bisa memengaruhi seberapa sering siswa dapat menghadiri Misa. Oleh karena itu. Gereja dan komunitas rohani perlu mencari cara untuk tetap relevan dan menarik bagi siswa, serta mempertimbangkan jadwal mereka. Intensitas Membaca Kitab Suci: Survei menunjukkan bahwa sebagian besar siswa jarang membaca Kitab Suci. Dalam era digital dan informasi saat ini, akses terhadap Kitab Suci lebih mudah dari Namun, tantangan mungkin muncul dari gangguan digital dan waktu layar yang berlebihan, yang dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk membaca Kitab Suci. Siswa juga mungkin lebih cenderung terlibat dalam konten digital lainnya daripada membaca teks agama. Oleh karena itu, penting bagi komunitas rohani untuk mempromosikan nilai dan manfaat membaca Kitab Suci serta membantu siswa mengintegrasikan praktik ini ke dalam rutinitas harian mereka. Keterlibatan dalam Doa: Survei menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berdoa beberapa kali Di tengah tekanan dan stres yang dialami oleh banyak siswa saat ini, doa dapat menjadi cara penting untuk mengatasi tantangan dan menjaga kesejahteraan mental. Namun, mungkin juga ada kendala dalam merasakan kebutuhan untuk berdoa dalam kehidupan yang sibuk dan bergerak cepat. Oleh karena itu, edukasi tentang pentingnya doa dalam menghadapi tekanan modern dan memberikan panduan praktis tentang cara berdoa bisa sangat berarti. Keterlibatan dalam Devosi: Survei menunjukkan pentingnya devosi dalam praktik rohani siswa. Namun, dalam realitas siswa masa kini, penekanan pada devosi mungkin mengalami perubahan. Pendidikan dan pemahaman yang baik tentang devosi, serta cara mengintegrasikannya dengan kehidupan sehari-hari, akan membantu siswa mengalami nilai dan makna dalam praktik rohani ini. Dalam rangka menghadapi tantangan dan realitas siswa masa sekarang. Gereja dan komunitas rohani perlu mengambil pendekatan yang inklusif dan adaptif. Berkomunikasi dengan siswa, memahami dinamika modern, dan menawarkan cara-cara yang relevan dan bermakna untuk terlibat dalam peribadatan, doa, dan pembacaan Kitab Suci adalah langkah-langkah penting untuk memperkuat iman siswa dalam dunia yang terus berubah. Perwujudan iman Teks di atas membahas tentang pentingnya perwujudan iman, keterlibatan umat dan para siswa Katolik dalam kegiatan Gereja, aksi sosial, serta pentingnya mewujudkan iman dalam tindakan nyata. Survei yang dilakukan di kalangan siswa SMA Negeri Nanga Pinoh menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kurang terlibat dalam kegiatan sosial yang dilakukan oleh Gereja. Mayoritas siswa tampaknya tidak aktif dalam kegiatan amal, dengan persentase yang jarang berpartisipasi atau bahkan tidak pernah berpartisipasi sama sekali dalam kegiatan tersebut. Kurangnya Keterlibatan dalam Kegiatan Sosial Gereja: Situasi siswa masa kini mungkin mencerminkan tantangan dalam memotivasi partisipasi dalam kegiatan sosial Gereja. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi ini, seperti peningkatan tekanan akademik, aktivitas ekstrakurikuler yang padat, serta perubahan minat dan prioritas di antara generasi muda. Kondisi pasca pandemi kemungkinan juga bisa mempengaruhi keterlibatan, dengan adanya pembatasan sosial dan perubahan dalam dinamika kehidupan sehari-hari. Keterlibatan dalam Kegiatan Amal dan Aksi Sosial: Siswa masa sekarang lebih mudah terhubung dengan informasi dan realitas sosial melalui media sosial dan berita daring. Namun, meskipun eksposur / perhatian mereka terhadap isu-isu sosial bisa lebih luas, keterlibatan dalam kegiatan amal dan aksi sosial tampak masih menjadi tantangan. Mungkin ada beberapa kekhawatiran atau hambatan yang menghalangi siswa untuk terlibat aktif dalam upaya kemanusiaan. Dukungan dan Lingkungan: Dalam menghubungkan hasil survei dengan situasi siswa saat ini, penting untuk mempertimbangkan dukungan yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka, termasuk keluarga, teman sebaya, dan lingkungan Gereja. Jika ada dorongan yang kuat dan dukungan positif dari lingkungan untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan amal, siswa mungkin akan lebih cenderung aktif terlibat. Pentingnya Pendidikan dan Kesadaran: Siswa juga mungkin memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang arti penting dan dampak positif dari keterlibatan dalam kegiatan sosial dan amal. Pendidikan yang mengilhami dan membangun kesadaran akan tanggung jawab sosial dan spiritual dapat membantu memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif. Mengingat situasi yang terus berubah dan tantangan yang ada. Gereja dan komunitas rohani dapat merancang inisiatif yang lebih menarik dan relevan bagi siswa. Ini bisa melibatkan program kreatif, penggunaan media sosial, dan kolaborasi dengan organisasi amal yang lebih kontekstual dengan masalah sosial yang dihadapi oleh siswa masa sekarang. Dengan cara ini, upaya untuk mendorong perwujudan iman melalui keterlibatan sosial dapat lebih berhasil dalam menginspirasi dan melibatkan generasi muda. Pengetahuan Siswa Terhadap Rasul Paulus Survei memberikan gambaran tentang pengetahuan siswa tentang tokoh Rasul Paulus, pemahaman tentang misi Paulus di Korintus, keaktifan siswa dalam membaca surat-surat Paulus, pendalaman terhadap misi Paulus, serta pandangan mereka terhadap nilai-nilai moral yang diajarkan oleh Paulus. Mayoritas siswa merasa akrab dengan tokoh Rasul Paulus dan memiliki pemahaman tentang Namun, pengetahuan tentang misi Paulus di Korintus terbatas. Mayoritas siswa jarang membaca surat-surat Paulus, dan hanya sebagian kecil yang memiliki tingkat keaktifan lebih tinggi. Pentingnya pemahaman dan pemahaman terhadap ajaran Paulus diakui oleh mayoritas siswa, terutama dalam konteks moralitas. Tanggapan terhadap Hasil Survei dan Kaitan dengan Situasi Siswa Masa Kini: Hasil survei ini mencerminkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pemahaman dasar tentang Rasul Paulus dan ajarannya, tetapi pemahaman mereka tentang misi Paulus di Korintus masih terbatas. Tingkat keaktifan dalam membaca surat-surat Paulus juga rendah. Situasi ini dapat dikaitkan dengan tren umum di banyak masyarakat saat ini, di mana minat terhadap aspek-aspek agama dan keagamaan seringkali menurun, terutama di kalangan generasi muda. Namun, penting untuk memahami bahwa pengetahuan tentang tokoh-tokoh agama dan nilai-nilai spiritual memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan moral dan spiritual individu. Dalam situasi saat ini, di mana banyak pengaruh negatif dan godaan moral tersedia melalui media sosial dan budaya populer, pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran-ajaran agama dapat membantu siswa dalam menghadapi tantangan etis dan moral. Mendidik siswa tentang tokoh-tokoh agama penting, seperti Rasul Paulus, dan nilai-nilai yang mereka anjurkan, dapat membantu membangun landasan moral yang kuat. Ini bisa membantu siswa dalam membuat keputusan yang etis, memahami pentingnya kasih, kesetiaan, kerendahan hati, keadilan, dan kebenaran dalam interaksi mereka dengan sesama manusia. Pemahaman tentang ajaran-ajaran ini juga dapat membantu siswa mengembangkan karakter yang baik dan memahami peran mereka dalam masyarakat yang semakin kompleks. Selain itu, pendekatan kontekstualisasi yang diajarkan oleh Paulus dalam misi Korintus dapat relevan dengan situasi siswa saat ini. Mereka juga berhadapan dengan berbagai tantangan budaya dan nilai yang perlu dihadapi dengan kesadaran dan keberanian. Memahami bagaimana Paulus menghadapi situasi sulit dan tetap setia pada nilai-nilai agama dapat memberikan inspirasi dan panduan bagi para siswa dalam menghadapi situasi sehari-hari mereka. Oleh karena itu, pendidikan agama yang mendalam dan berfokus pada nilai-nilai spiritual dapat membantu siswa masa kini mengatasi tantangan moral dan etis yang mereka hadapi dalam dunia yang semakin kompleks dan serba cepat ini. Ajaran Moral Paulus Pada bagian ini akan dibahas tentang hasil temua dari survei yang terlah dilakukan. Adapun halhal yang disurvei adalah tentang pengetahuan iman, peribadatan, perwujudan iman, pengenalan siswa terhadap Rasul Paulus dan ajaran moral yang Rasul Paulus perjuangkan di 1 Korintus. Hal tersebut akan dibahas kembali secara rinci dan dikaitkan dengan teori sebelumnya serta dikonteksualkan dengan situasi masa kini. Berdasarkan hasil survei yang telah disajikan, ada beberapa tema yang berkaitan dengan ajaran agama, moralitas, dan perlindungan perempuan dalam konteks kelas XI. berikut ringkas dan tinjau kembali hasil survei yang telah diuraikan: Menghindari Perbuatan Cabul: Data survei menunjukkan bahwa 100% siswa menghindari perbuatan cabul, dengan penekanan pada pentingnya menjaga kesucian dan menghindari perbuatan cabul berdasarkan ajaran agama Katolik. Paulus mengajarkan pentingnya menjauhi perbuatan cabul dalam konteks kehidupan Kristiani. Menghindari Menyembah Berhala: Terdapat sejumlah siswa yang masih belum sepenuhnya menghindari perbuatan menyembah berhala, menunjukkan perlu adanya pengajaran dan pemahaman lebih lanjut tentang ajaran agama dan pentingnya menjaga kesucian dalam iman. Mengikuti Perjamuan Tuhan: Sebagian besar siswa masih mengikuti perjamuan Tuhan secara rutin, namun ada sebagian siswa yang tidak sering mengikuti. Penting untuk meningkatkan pemahaman tentang makna perjamuan dan menghormati momen tersebut. Menggunakan Handphone Saat Misa: Mayoritas siswa tidak sering menggunakan handphone saat misa di Gereja. Namun, sebagian siswa masih terlibat dalam penggunaan handphone yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Sikap Menghargai Perempuan: Mayoritas siswa menunjukkan sikap yang positif terhadap perempuan, tidak terlibat dalam tindakan berbahaya atau merugikan. Ini mengindikasikan bahwa siswa umumnya memahami pentingnya menghargai perempuan. Menghindari Sikap Melecehkan Perempuan: Mayoritas siswa tidak terlibat dalam tindakan berbahaya terhadap perempuan. Namun, masih ada sebagian siswa yang terlibat dalam tindakan berbahaya atau merugikan, menunjukkan perlunya pendekatan yang komprehensif untuk mencegah tindakan kekerasan atau pelecehan. Hasil survei tersebut mencerminkan pentingnya ajaran agama dan nilai-nilai moral dalam membentuk sikap dan perilaku siswa. Namun, ada beberapa isu yang muncul dari hasil survei yang perlu diperhatikan dalam konteks siswa masa kini: Penggunaan Teknologi dan Kehadiran dalam Ibadah: Meskipun mayoritas siswa jarang menggunakan handphone saat ibadah, masih ada sebagian yang terlibat. Ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh generasi digital dalam mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam kegiatan ibadah. Penting untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya menghormati tempat ibadah dan menghindari penggunaan teknologi yang mengganggu dalam momen ibadah. Perilaku Terhadap Perempuan: Meskipun mayoritas siswa menunjukkan sikap positif terhadap perempuan, masih ada sebagian yang terlibat dalam perilaku berbahaya atau merugikan. Hal ini mencerminkan pentingnya pendidikan dan kesadaran yang lebih dalam tentang pentingnya menghormati dan melindungi hak perempuan serta mencegah kekerasan dan pelecehan. Konteks Kontemporer: Situasi siswa masa kini mungkin menghadapi tantangan dan tekanan yang berbeda dari generasi sebelumnya, terutama terkait dengan penggunaan teknologi dan lingkungan sosial yang berubah. Oleh karena itu, pendekatan dalam mengajarkan ajaran agama dan nilai-nilai moral perlu diadaptasi agar tetap relevan dengan tantangan dan realitas yang dihadapi oleh siswa saat . Pentingnya Pendidikan Seksualitas: Masalah perzinahan, hubungan pacaran yang sehat, dan perlindungan terhadap perempuan adalah topik yang perlu diberikan perhatian lebih dalam pendidikan seksualitas. Pendidikan seksual yang komprehensif dapat membantu siswa memahami pentingnya menghormati hak dan batas-batas dalam hubungan interpersonal. Dalam menghadapi situasi siswa masa kini, pendidik dan orang tua perlu memahami dinamika yang berbeda dalam kehidupan remaja saat ini. Pendekatan yang holistik, berbasis nilai, dan adaptif akan membantu membentuk siswa yang memiliki sikap, perilaku, dan pemahaman yang positif terhadap nilainilai moral dan agama, serta menghormati hak-hak sesama manusia, terutama perempuan. Persoalan jemaat saat ini tidak jauh berbeda dengan masalah yang ada pada masa Rasul Paulus di 1 Korintus. Ada pun masalah yang akan di angkat yaitu: Percabulan . :16-20. 6:12-20. 7,1 . penyembahan berhala . :1-. , dan perjamuan Tuhan . :17-. Perempuan . :25-. Paulus membahas isu mengenai tindakan percabulan yang dilakukan oleh beberapa jemaat Korintus. Teori pendukung 1 Korintus menjadi penting sebagai tolak ukur menilai sikap-sikap moral para siswa. Model Penanaman Militansi Iman siswa Berdasarkan pembahasan tentang militansi iman siswa-siswi Katolik kelas XI di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh, terdapat beberapa model penanaman militansi iman yang dapat diterapkan secara operasional, yaitu: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang ajaran agama Katolik, khususnya tentang tokoh-tokoh penting dalam Alkitab, seperti Rasul Paulus. Hal ini dapat dilakukan melalui pengajaran yang lebih intensif dan terstruktur, serta penggunaan media pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami atau selalu membuka pelajaran dengan membaca surat Rasul Paulus agar siswa semakin . Mendorong siswa untuk lebih aktif dalam peribadatan, seperti misa dan doa bersama. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan motivasi dan dukungan yang cukup seperti meminta tanda tangan dan mencatat poin-poin penting dari bacaan dan renungan Pastor saat hari minggu. Membentuk sikap dan cara hidup seorang Katolik yang baik dan benar, seperti menghargai sesama, menghindari perbuatan yang tidak baik, dan berbuat kebajikan. Hal ini dapat dilakukan melalui pembinaan moral dan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan agama Katolik. Contoh kecil ialah siswa diajak mengghapal 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja, dengan pengetahuan tersebut harapannya akan menjadi tolak ukur bagi siswa dalam bertindak di tengah umat atau . Melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar siswa dalam pembentukan militansi iman. Keluarga dianggap sebagai Gereja kecil yang harus dibina dengan serius agar tercapai kehidupan keluarga yang Oleh karena itu, peran orang tua dan lingkungan sekitar siswa sangat penting dalam membentuk militansi iman siswa. Keluarga bisa nenanamkan tradisi kristiani seperti membiasakan berdoa bersama, mengajak ziarah, dll. Harapannya kebiasaan kecil itu akan menjadi pondasi bagi siswa-siswi menjadi orang yang militan dalam beriman. Dalam penerapannya, model-model penanaman militansi iman ini dapat diintegrasikan dalam program pendidikan agama Katolik yang lebih holistik dan terstruktur. Selain itu, perlu adanya dukungan dan kerjasama dari semua pihak terkait, seperti Pastor, suster, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar siswa, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan militansi iman siswa-siswi Katolik. KESIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian tentang tingkat militansi di kalangan siswa Katolik di SMP Negeri 1 Nanga Pinoh, temuan utama adalah sebagai berikut: Pengetahuan dan pemahaman yang rendah tentang tokoh-tokoh penting dalam Alkitab, khususnya Rasul Paulus: Penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang terbatas tentang misi dan nilai-nilai Paulus. Kurangnya semangat dan keakraban dengan Rasul Paulus menunjukkan rendahnya militansi iman. Pentingnya latar belakang keluarga: Studi ini menemukan bahwa siswa dari keluarga dengan latar belakang agama yang berbeda menunjukkan militansi itikad baik. Namun, tidak dapat disimpulkan bahwa siswa dari keluarga yang seiman Katolik lebih militan. Keluarga sangat berperan dalam membentuk militansi iman anak, tanpa memandang latar belakang agama orang tua. Pengetahuan dan pemahaman ajaran Katolik: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa . ,3%) memiliki pemahaman yang cukup tentang ajaran Gereja. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang ajaran agama dan Pentingnya ajaran moral: Studi ini juga menyoroti pentingnya pengetahuan siswa tentang ajaran moral di Gereja Katolik. Sebagian besar siswa . ,3%) menganggap penting untuk mematuhi ajaran moral. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki sikap positif terhadap dan menghargai nilai-nilai moral yang diajarkan di Gereja Katolik. Secara ringkas, temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat militansi iman siswa Katolik di SMP Negeri 1 Nanga Pinoh rendah dalam hal pengetahuan dan pemahaman tentang tokohtokoh penting dalam Alkitab, khususnya Rasul Paulus. Namun, penelitian ini juga menekankan pentingnya latar belakang keluarga, pengetahuan ajaran Katolik, dan ketaatan pada ajaran moral dalam membentuk militansi iman para siswa. DAFTAR PUSTAKA