Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 Tropical Animal Science. Mei 2025, 7. :116-125 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT DAN HIJAUAN YANG BERBEDA TERHADAP RESPONS FISIOLOGI (SUHU REKTAL. DENYUT JANTUNG DAN FREKUENSI PERNAPASAN) SAPI ACEH THE EFFECT OF DIFFERENT CONCENTRATE AND FORAGE FEEDING ON THE PHYSIOLOGICAL RESPONSES (RECTAL TEMPERATURE. HEART RATE. AND RESPIRATORY RATE) OF ACEH CATTLE Mustafa Kamal1*. Muhammad Amran2. Suryani3. Aldi1 Program Studi Peternakan. Universitas Islam Kebangsaan Indonesia. Bireuen. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia 3Program Studi Peternakan. Universitas Al-Muslim. Bireuen. Indonesia *E-mail korespondensi: mustafakamal198@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian imbangan pakan antara konsentrat dengan hijauan terhadap respons fisiologis Sapi Aceh. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2023 hingga 17 Januari 2024 di Juli Makmu. Desa Juli Mee Teungoh. Kecamatan Juli. Kabupaten Bireuen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberian konsentrat dan hijauan yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,. terhadap respons fisiologi . uhu rektal, denyut jantung dan frekuensi pernapasa. Sapi Aceh. Rataan suhu rektal tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 38,630C dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 38,530C. Rataan denyut jantung tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 72,96 kali/menit dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A. B, dan C yaitu 72,09 kali/menit. Rataan frekuensi pernafasan tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 32,84 kali/menit dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 32,60 kali/menit, sedangkan rataan suhu lingkungan tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 27,670C dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 27,00 0C. Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa pemberian konsentrat dan hijauan yang berbeda tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap respons fisologi Sapi Aceh. Kata Kunci: Sapi Aceh, hijauan, konsentrat, respon fisiologi. ABSTRACT This study aims to determine the effect of different feed ratios between concentrate and forage on the physiological responses of Aceh cattle. The study was conducted from December 20, 2023, to January 17, 2024, in Juli Makmu. Juli Mee Teungoh. Kecamatan Juli. Kabupaten Bireuen. The design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The results of the study indicate that the effect of different concentrate and forage feeding did not significantly differ (P>0. on the Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 physiological responses . ectal temperature, heart rate, and respiratory rat. of Aceh cattle. The highest average rectal temperature was observed in treatment D, at 38. 63AC, and the lowest average was found in treatment A, at 38. 53AC. The highest average heart rate was observed in treatment D, at 72. 96 beats/min. the lowest average was found in treatments A. B, and C, at 72. 09 beats/min. The highest average respiratory rate was observed in treatment D, at 32. 84 breaths/min. the lowest average was found in treatment A, at 60 breaths/min. Meanwhile, the highest average environmental temperature was observed in treatment D, at 27. 67AC, and the lowest average was found in treatment A, at 27. 00AC. The conclusion of the research conducted is that the provision of different concentrates and forages does not significantly affect Aceh cattle's physiological response. Keywords: Aceh Cattle, forage, concentrate, physiological response. PENDAHULUAN Secara alamiah pakan utama ternak sapi baik potong maupun perah adalah hijauan, dapat berasal dari rumput alam atau lapang, rumput unggul, leguminosa dan limbah pertanian serta tanaman hijauan Iainnya. Dalam pemberiannya harus diperhatikan daya palatabilitas ternak dan tidak mengandung racun atau toxic sehingga tidak dapat membahayakan perkembangan ternak yang Permasalahan yang ada hijauan di daerah tropis seperti di wilayah Indonesia mempunyai kualitas yang kurang baik sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak tersebut, perlu ditambah dengan pemberian pakan konsentrat (Ervina, 2. Penggemukan hanya dengan mengandalkan bahan pakan berupa hijauan kurang memberikan hasil yang optimum dan membutuhkan waktu cukup lama. Salah satu cara mempercepat proses penggemukan memerlukan kombinasi pakan antara hijauan dan konsentrat (Muda, 2. Pemenuhan kebutuhan protein dan energi yang seimbang pada sapi yang digemukkan tidak bisa dipenuhi hanya dari pakan hijauan saja tetapi peranan pakan konsentrat sangatlah penting. Hal ini disebabkan pakan konsentrat merupakan pakan sumber protein dan energi, sedangkan hijauan merupakan sumber pakan Oleh karena itu dalam menyusun ransum untuk penggemukan sapi sebaiknya terdiri dari pakan hijauan dan pakan konsentrat, tujuannya adalah untuk saling melengkapi (Syah, 2. Rumput odot merupakan salah satu tanaman hijauan makanan ternak (HMT) yang disukai ruminansia. Rumput odot (Pennisetum purpureum CV. Mot. mempunyai karakteristik yang berbeda dengan rumput sejenisnya, yaitu mempunyai karakteristik daunnya lembut, ruas batang yang pendek, dan relatif empuk. Rataan ketinggian rumput ini memiliki yaitu sekitar 1Ae1,5 m. Nama asli rumput odot atau rumput Mott atau dikenal juga dengan rumput gajah kerdil atau gajah kate. Secara agronomis rumput ini terbilang cukup unggul. Sapi Aceh yang terbentuk dari hasil persilangan antara sapi lokal (Bos sondaicu. dengan sapi turunan zebu dari India (Bos indicu. , merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong lokal di Indonesia. Laju pertumbuhan Sapi Aceh tidak sebesar sapi silangan, namun sapi potong aceh mampu menunjukkan produktivitas dan efisiensi ekonomi maksimal pada kondisi Sapi potong lokal seperti Sapi Aceh unggul dalam efisiensi penggunaan pakan, daya adaptasi terhadap lingkungan Indonesia . anas, lembab, pakan mutu rendah, ektoparasit dan endoparasi. , dan bobot potongnya lebih sesuai untuk kebutuhan pasar lokal sehingga lebih tepat dan ekonomis dikembangkan pada pola dan kondisi peternakan rakyat (Syah, 2. Suhu rektal Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 adalah suatu kawasan dimana produksi panas tidak tergantung pada suhu efektif, tetapi semata Ae mata pada mutu makanan ataupun ukuran tubuh hewan itu sendiri. Luasan dari kawasan suhu rektal bergantung pada umur, spesies, bangsa, kualitas nutrisi pakan, ketebalan kulit, lemak dan bulu serta tingkah laku (Farooq et al. , 2. Frekuensi pernafasan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga temperature tubuhnya dalam kondisi normal akibat stres adalah dengan meningkatkan pembuangan panas meningkatkan frekuensi denyut nadi (Farooq et al. , 2. Denyut jantung merupakan mekanisme dari tubuh sapi untuk mengurangi atau melepaskan panas yang diterima dari luar tubuh ternak. Perbedaan denyut jantung adalah akibat aktivitas fisik dan cekaman panas, di mana semakin tinggi suhu Menurut Kubkomawa et al. denyut jantung sapi pada kondisi normal di daerah tropis berkisar 40 A 70 kali per menit. secara normal denyut jantung ternak sapi berkisar antara 60 A 70 kali per menit. Septyana et al. , . menyatakan semakin bertambahnya umur sapi maka fisiologis dalam mekanisme termoregulasi. Proses mempertahankan suhu tubuh tersebut dikenal dengan termoregulasi atau mempengaruhi frekuensi pernapasan dan denyut jantung. Proses ini terjadi bila sapi mulai merasa tidak nyaman. Panas yang diproduksi bergantung pada aktivitas ternak, kodisi lingkungan dan intake pakan dinyatakan dalam Total Digestible Nutrient (TDN) pakan yang menunjukkan total bahan pakan yang dapat dicerna oleh ternak (Isnaeni. Namun demikian, penelitian tentang sumber panas dari dalam tubuh ternak yang disebabkan pakan ternak belum banyak dilakukan sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. MATERI DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2023 hingga 17 Januari 2024 di Juli Makmu. Desa Juli Mee Teungoh. Kecamatan Juli. Kabupaten Bireuen. Bahan baku yang digunakan dalam observasi penelitian ini adalah ternak Sapi Aceh sebanyak 12 ekor umur 2 sampai 2,5 tahun dan bahan pakan konsentrat . erdiri dari bungkil kelapa, bungkil kacang, dedak padi, kedelai, bungkil kelapa sawit, kalsium karbonat, natrium chlorida, molasses. DCP (Dicalcium Phospha. , vitamin dan minera. serta hijauan rumput Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan pakan, berhadapan, ember dan perlengkapan lainnya seperti chopper untuk mempermudah dalam pencacahan rumput. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Adapun perlakuan tersebut adalah A: Pemberian 0% Konsentrat dan 100% Hijauan Rumput Odot. B: Pemberian 25% Konsentrat dan 75% Hijauan Rumput Odot. C: Pemberian 50% Konsentrat dan 50% Hijauan Rumput Odot. D: Pemberian 75% Konsentrat dan 25% Hijauan Rumput Odot (Budiari, 2. Data hasil percobaan yang diperoleh diolah menurut analisis keragaman Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Steel and Torrie . perbedaan pengaruh perlakuan diuji menurut DuncanAos Multiple Range Test (DMRT). Bahan pakan perlakuan merupakan konsentrat dan hijauan pakan yang didapatkan dilapangan berupa rumput odot. Hijauan yang telah didapatkan dicacah menggunakan chopper untuk memperkecil partikel hijauan terlebih dahulu. Pemberian pakan dilakukan sesuai dengan imbangan pada perlakuan. Pemberian pakan dilakukan penimbangan 10% dari bobot badan dalam keadaan pakan segar . Kandang dibuat dalam bentuk Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 kandang individu yang dikelompokkan berdasarkan berat badan. Sapi terlebih dahulu ditimbang dan di tempatkan sesuai dengan perlakuan dan ulangan. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit dengan cara penyiraman setiap pagi hari. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi dewasa adalah 1,5 m2. Pakan perlakuan berupa hijauan diberikan setelah pemberian konsentrat. Jarak antara pemberian konsetrat dengan hijauan adalah 2 jam. Pemberian pakan perlakuan berupa hijauan diberikan pada pagi hari pukul 00 dan sorenya pada pukul 16. 00 WIB. Ternak sebelumnya diberi obat anti cacing terlebih dahulu untuk membuat kondisi ternak sehat sebelum masa adaptasi perlakuan. Pemberian air minum diberikan secara ad libitum, air diganti setiap harinya dan tempatnya dicuci. Periode ini terdiri dari . periode adaptasi selama 3 hari dan . periode perlakuan selama 28 hari. Nutrisi pakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Nutrisi Pakan Ternak Setiap Perlakuan (%) BAHAN PAKAN Kandungan Nutrisi TDN Proporsi (%) Kandungan Terhitung (%) TDN Rumput Odota Konsentratb 16,59 86,00 12,72 12,00 Total 2,28 7,00 32,35 18,00 63,98 68,00 80,00 20,00 100,00 10,18 2,40 12,58 1,82 1,40 3,22 25,88 3,60 29,48 64,78 13,60 78,38 Rumput Odota Konsentratb 16,59 86,00 12,72 12,00 Total 2,28 7,00 32,35 18,00 63,98 68,00 60,00 40,00 100,00 7,63 4,80 12,43 1,37 2,80 4,17 19,41 7,20 26,61 65,59 27,20 92,79 Rumput Odota Konsentratb 16,59 86,00 12,72 12,00 Total 2,28 7,00 32,35 18,00 63,98 68,00 40,00 60,00 100,00 5,09 7,20 12,29 0,91 4,20 5,11 12,94 10,80 23,74 66,39 40,80 107,19 Rumput Odota Konsentratb 16,59 86,00 12,72 12,00 Total 2,28 7,00 32,35 18,00 63,98 68,00 20,00 800,00 100,00 2,54 9,60 12,14 0,46 5,60 6,06 6,47 14,40 20,87 67,72 54,40 121,60 Sumber: aWati et al. bKonsentrat Peternakan Juli Makmue Parameter yang diamati adalah suhu rektal, denyut jantung, dan frekuensi Suhu menggunakan thermometer yang dimasukan ke dalam rektum dengan kedalaman 5 cm dalam satuan derajat celsius dan diulang 3 kali dan selanjutnya dihitung nilan rataan (Mesa. Denyut jantung sapi diperoleh dengan menggunakan stetoskop dan yang di periksa yaitu pangkal kaki kiri depan ternak sapi dengan perhitungan 1 menit menggunakan stopwatch dan diulang 3 kali dalam setiap (Mesa. Frekuensi pernapasan diperoleh dengan menghitung gerakan naik turunnya permukaan rusuk perut serta mendekatkan telapak tangan pada hidung ternak dihitung selama 1 menit dengan stopwatch dan diulangi 3 kali/menit dan setiap pengambilan dan selanjutnya dihitung nilai rataan (Mesa, 2. Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 HASIL DAN PEMBAHASAN Rataan hasil analisis keragaman yang diamati dalam pemberian konsentrat dan hijauan yang berbeda disajikan pada Tabel 2 Berdasarkan hasil sidik ragam bahwa pemberian hijauan dan konsentrat yang berbeda menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,. terhadap respons fisiologi . uhu rektal, denyut jantung dan frekuensi pernapasa. Sapi Aceh. Tabel 2. Hasil Penelitian Pemberian Hijauan dan Konsentrat yang berbeda terhadap respons fisiologi Sapi Aceh Variabel Pengamatan Frekuensi Suhu Rektal ( C) Pernafasan . ali/meni. 38,53 0,40 72,09 1,24 32,60 0,57 38,60 0,20 72,09 1,24 32,80 0,37 38,57 0,32 72,09 1,24 32,80 0,35 38,63 0,25 72,96 1,39 32,84 0,30 Keterangan: Perlakaun A (Pemberian 0% Konsentrat dan 100% Hijauan Rumput Odo. B (Pemberian 25% Konsentrat dan 75% Hijauan Rumput Odo. C (Pemberian 50% Konsentrat dan 50% Hijauan Rumput Odo. D (Pemberian 75% Konsentrat dan 25% Hijauan Rumput Odo. dan Ns = Non significant . etiap perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,. ) Perlakuanns Pengukuran suhu rektal bertujuan untuk mengetahui suhu tubuh yang direfleksikan oleh panas yang diproduksi dan panas yang dilepaskan (Aditia et al. , 2. Suhu rektal diperoleh menggunakan thermometer yang kedalaman 5 cm dalam satuan derajat celsius. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian persentase konsentrat dan hijauan yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap suhu rektal ternak Sapi Aceh. Hal ini diduga karena ternak tidak mengalami cekaman panas dan berada pada kondisi mikroklimat yang sesuai sehingga ternak sapi merasa nyaman. Suherman et al. menyatakan bahwa ternak sapi dapat hidup dengan nyaman dan berproduksi secara optimum bila faktor - faktor internal dan eksternal berada dalam batasan - batasan normal yang sesuai dengan kebutuhan Faktor - faktor yang mempengaruhi nilai suhu rektal antara lain yaitu bangsa ternak, aktivitas ternak, kondisi kesehatan Denyut Jantung . ali/meni. ternak, dan kondisi mikroklimat (Saputra et al. Adanya perbedaan yang tidak nyata juga disebabkan karena ternak sapi termasuk ternak mempertahankan suhu tubuhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamaratu et al. bahwa hewan tingkat tinggi mempunyai kemampuan mempertahankan suhu tubuhnya melalui mekanisme termoregulasi . engaturan suh. yang pusatnya terletak pada bagian anterior dari hypothalamus ke otak. Suhu tubuh mempunyai hubungan yang linear dengan suhu rektum. Suhu rektum yang tinggi menunjukan bahwa ternak berada didalam cekaman panas yang besar (Suherman et al. Rataan suhu rektal pada ternak Sapi Aceh selama penelitian berkisar antara 38,53 Ae 38,63EE. Kondisi suhu rektal ini berada pada kisaran normal sesuai dengan pernyataan Bohlen dan Rollin . yang menyatakan bahwa kisaran suhu rektal normal yaitu 100 Ae Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 102,50F atau sama dengan 37,78 Ae 39,170C. Secara fisiologis, hewan berdarah panas homeotherm seperti pada ternak sapi dapat mempertahankan suhu tubuhnya dari perubahan lingkungan agar tetap konstan antara 37 - 390C (Astuti et al. , 2. Adapun suhu lingkungan di Peternakan Juli Makmur berkisar antara 27,00 Ae 27,67 0C. Kondisi suhu rendah memungkinkan ternak berproduksi lebih baik dibandingkan dengan kondisi suhu Ternak yang berada dalam kondisi nyaman maka mudah bagi ternak tersebut dalam mencerna pakan yang dikonsumsi karena pakan yang dicerna tidak terbuang menjadi energi untuk bertahan hidup (Heraini et al. , 2. Selain itu. Kandungan serat kasar yang tinggi akan menghasilkan panas metabolisme yang tinggi dan berdampak pada peningkatan suhu rektal dan kisaran suhu rektal ternak mamalia yaitu 36- 39oC (Saputra et al. , 2. Bohlen dan Rollin . menerangkan bahwa semakin tinggi level pakan yang diberikan, maka energi yang dikonsumsi semakin tinggi, sehingga terjadi peningkatan panas yang diproduksi dari dalam tubuh, akibat dari tingginya proses Panas yang dihasilkan oleh metabolisme dan panas lingkungan serta akan dilepaskan secara konduksi, radiasi dan evaporasi melalui kulit dan saluran Konduksi, radiasi dan evaporasi dilakukan untuk mempertahankan suhu tubuh berada dalam kisaran normal, sehingga ternak memerlukan keseimbangan antara produksi panas dengan keseimbangan panas yang dilepaskan tubuhnya (Astuti et al. , 2. Denyut jantung sapi diperoleh dengan menggunakan stetoskop dan yang di periksa yaitu pangkal kaki kiri depan ternak sapi dengan perhitungan 1 menit menggunakan Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian persentase konsentrat dan hijauan yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap frekuensi denyut jantung ternak atau dengan kata lain pemberian konsentrat dan hijauan dengan jumlah yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap denyut jantung ternak Sapi Aceh. Hal ini disebabkan karena denyut jantung merupakan kebutuhan pokok, oleh karena itu ternak selalu mempertahankan denyut jantung agar tetap normal melalui aktivitas fisiologis, metabolis dan termoregulas (Hamaratu et al. , 2. Tidak adanya perbedaan yang nyata juga disebabkan karena ternak sapi tidak mengalami cekaman panas dan berada pada kondisi mikroklimat yang sesuai sehingga ternak sapi merasa nyaman. Faktor yang menyebabkan cekaman panas antara lain produksi panas akibat pakan, suhu dan kelembapan kandang yang melebihi batas thermoneutral zone, dan karakteristik ternak (Sulistyowati et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian suhu berada di atas Comfort zone ternak sapi dengan rata-rata suhu selama penelitian berkisar antara 27 - 27,67AC, suhu lingkungan berkaitan dengan persentase denyut jantung dikarenakan semakin tinggi suhu lingkungan akan mengalami cekaman panas sehingga terjadi peningkatan denyut jantung ternak. Menurut Das et al. menyatakan bahwa suhu zona nyaman sapi di daerah tropis tidak boleh melebihi 27AC. Jika melebihi suhu tersebut, sapi akan tidak Sesuai dengan pernyataan Kargar et al. menyatakan bahwa indeks suhu dan kelembapan yang efektif atau nyaman merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi kesejahteraan ternak. Rataan frekuensi denyut jantung ternak berkisar antara 72,09 Ae 72,96 kali/menit. Variasi dalam frekuensi denyut jantung ini dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya bobot badan dan umur ternak, aktivitas, pencernaan, lama tidur, dan kondisi patologi ternak (Saputra et al. , 2. Selain itu, mikroklimat, produktivitas ternak dan tingkat konsumsi pakan juga memberikan pengaruh terhadap frekuensi denyut jantung (Mariana et , 2. Frekuensi denyut jantung tertinggi terdapat pada perlakuan D yaitu 72,96 kali/menit. Hal ini memiliki nilai yang Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 pernapasan yang mana apabila denyut jantung meningkat maka pernapasan juga akan meningkat (Santoso et al. , 2. Menurut Anton et al. bahwasanya frekuensi denyut jantung yang meningkat juga akan meningkatkan suhu tubuh sapi karena jantung mendistribusi panas ke permukaan kulit agar stabilitas tubuh tetap terjaga. Selanjutnya diduga karena faktor persentase pemberian konsentrat dan hijauan yang tidak optimal sehingga meningkatnya frekuensi denyut Pakan yang berkualitas rendah atau dengan kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan terganggunya kondisi fisiologis ternak dan berdampak pada peningkatan denyut jantung yang disebabkan oleh tingginya panas metabolisme sehingga jantung akan berusaha lebih cepat untuk memompa darah yang membawa panas dari dalam tubuh untuk dibuang kepermukaan tubuh (Bohlen dan Rollin, 2. Diperkuat oleh pendapat Astuti et al. bahwa peningkatan denyut jantung berasal dari panas metabolisme yang dihasilkan oleh proses pencernaan serta panas suhu lingkungan. Panas yang dihasilkan dari proses metabolisme dalam tubuh akan dibawa oleh sirkulasi darah ke permukaan tubuh untuk dibuang ke luar tubuh. Pengangkutan panas dari dalam tubuh ke permukaan tubuh diatur oleh denyut jantung dan berpengaruh pada pembuluh darah, denyut jantung yang tinggi akan mempercepat aliran darah keseluruh permukaan tubuh, sehingga semakin cepat pembuangan panas tubuh maka keseimbangan tubuh dapat terjaga. Selain itu, jantung yang ada dipengaruhi oleh beban panas yang diterima tubuh, akibat temperatur lingkungan yang tinggi (Anton et al. , 2. Namun demikian hasil penelitian ini masih berada dalam kisaran denyut jantung normal. Menurut Hamaratu et . bahwa denyut jantung yang normal pada sapi berkisar antara 55 - 80 kali per menit. Pernafasan merupakan salah satu mekanisme respons fisiologis sapi yang menunjukkan kenyamanan seekor ternak (Santoso et al. Frekuensi pernafasan diperoleh dengan permukaan rusuk perut serta mendekatkan telapak tangan pada hidung ternak dihitung selama 1 menit dengan stopwatch. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa Perlakuan A . onsentrat 0% hijauan 100%). Perlakuan B (Konsentrat 25% Hijauan 75%). Perlakuan C (Konsentrat 50% Hijauan 50%), dan Perlakuan D (Konsentrat 75% Hijauan 25%), tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,. terhadap frekuensi pernafasan Hal ini disebabkan karena tingginya aktivitas pencernaan pakan yang akan meningkatkan panas tubuh sehingga kualitas pakan dan jumlah konsumsi yang relatif sama memberikan pengaruh yang sama pula terhadap panas tubuh yang dihasilkan (Hamaratu et al. , 2. Namun penelitian ini masih berada pada frekuensi pernafasan sapi yang normal yaitu berkisar antara 15 - 35 kali/menit (Astuti et al. , 2. Frekuensi pernafasan tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 32,84 kali/menit seiring dengan tingginya suhu lingkungan yaitu berkisar antara 27,00 Ae 27,67 0C . ada saat Suhu dan kelembapan udara tinggi akan mengakibatkan kenaikan frekuensi pernapasan untuk menyesuaikan dengan lingkungan (Santoso et al. , 2. Selain itu, diduga karena pada perlakuan tersebut terdapat serat kasar yang tinggi didalam pakan, oleh karena itu konsumsi serat kasar tinggi dapat menghasilkan panas metabolis yang tinggi. Ditambahkan oleh pendapat Bohlen dan Rollin, . menyatakan bahwa kualitas pakan terutama serat kasar yang tinggi dapat mempengaruhi kondisi fisiologis ternak termasuk frekuensi pernafasan, dimana meningkatkan frekuensi pernafasan sebagai akibat aktivitas metabolisme pakan. Tingginya frekuensi pernafasan pada perlakuan D juga disebabkan oleh proses metabolisme berlangsung lebih cepat sehingga menghasilkan panas metabolisme yang lebih Kamal, dkk / Tropical Animal Science 7. :116-125 Semakin cepat proses metabolisme maka kebutuhan energi akan semakin banyak sehingga kebutuhan oksigen di dalam tubuh juga meningkat dan dapat meningkatkan frekuensi pernafasan (Astuti et al. , 2. Saat laju metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen dan pembentukan karbondioksida juga akan meningkat (Isnaini, 2. Pada perlakuan A sifat hijauan yang bulky menyebabkan proses pencernaan di rumen membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga akan menekan diagfragma dan mengakibatkan paru-paru tertekan serta pernafasan menjadi dangkal. Menurut Ganong . bahwa pernafasan yang lebih dangkal akan menurunkan volume udara yang masuk . dan udara yang keluar . pada saluran pernafasan. Menurut Astuti et al. bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi pernafasan antara lain ukuran tubuh, umur ternak, gerak otot, suhu lingkungan, kebuntingan, dan penuhnya Frekuensi pernafasan berpengaruh kepada lingkungan, apabila suhu lingkungan naik maka frekuensi respirasi akan meningkat frekuensi pernapasan yang dihasilkan adalah berkisar 21 Ae 41 kali per menit. KESIMPULAN Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberian konsentrat dan hijauan yang berbeda menunjukkan tidak berpengaruh terhadap respons fisiologi . uhu rektal, denyut jantung dan frekuensi pernapasa. Sapi Aceh. Rataan suhu rektal tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 38,630C dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 38,530C. Rataan denyut jantung tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 72,96 kali/menit dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A. B, dan C yaitu 72,09 kali/menit. Rataan frekuensi pernafasan tertinggi terlihat pada perlakuan D yaitu 32,84 kali/menit dan rataan terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 32,60 kali/menit. DAFTAR PUSTAKA