JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 777-783 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA BERMUATAN ISLAM TERPADU UNTUK MENGUATKAN KARAKTER LEADERSHIP PADA SISWA KELAS VII SMPIT INSAN MULIA SURAKARTA Laila Rachmawati1. Sutoyo2. Anita Trisiana3 1,2 Universitas Slamet Riyadi. Indonesia Email: lailarachma07@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Pancasila Education Integrated Islamic Leadership Character ABSTRAK This study aims to: . Identification the implementation of integrated Islamic Pancasila Education learning in strengthening the leadership character of class VII students at SMPIT Insan Mulia Surakarta, . Describe the obstacles in implementing integrated Islamic Pancasila Education learning in strengthening the leadership character of class VII students at SMPIT Insan Mulia Surakarta. Research informants include the principal, class VII Pancasila Education teachers, and class VII Data were collected through interviews, observations, and documentation, with validity tests using triangulation of sources, techniques, and time. Data analysis was carried out interactively through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that . Integrated Islamic Pancasila Education learning in class VII was implemented using interactive methods such as Team Games Tournament (TGT) and group debates as well as integrating Islamic values through linking material with verses of the Qur'an, so that it was able to gradually grow students' leadership character through instilling the values of responsibility, trustworthiness, and exemplary behavior. The obstacle lies in the differences in student character, especially students with introverted personalities who tend to be passive and less courageous in expressing their opinions, so that strengthening of leadership character has not developed evenly even though learning has been carried out well. ABSTRAK Penelitian ini memiliki tujuan untuk: . Mengidentifikasi implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila yang mengintegrasikan nilai keislaman dalam memperkuat karakter kepemimpinan para siswa kelas VII di SMPIT Insan Mulia Surakarta, . Mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang berbasis Islam untuk memperkuat karakter kepemimpinan siswa kelas VII di SMPIT Insan Mulia Surakarta. Sumber data dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru Pendidikan Pancasila untuk kelas VII, dan siswa kelas VII. Informasi didapatkan melalui wawancara, observasi, dan pengumpulan dokumen, sementara keabsahan data diuji dengan metode triangulasi berdasarkan sumber, teknik, dan waktu. Proses analisis data dilakukan secara interaktif dengan tahap pengumpulan, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . Implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu di kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta terlaksana secara terencana melalui metode pembelajaran aktif dan kolaboratif, khususnya Team Games Tournament (TGT), yang efektif dalam menumbuhkan karakter leadership siswa melalui praktik kerja sama, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan. Kendala utama dalam penguatan karakter leadership berasal dari perbedaan karakter kepribadian siswa, khususnya siswa introvert yang cenderung pasif, sehingga diperlukan pendekatan pedagogis yang lebih inklusif dan adaptif agar perkembangan leadership dapat terbentuk secara lebih merata. Kata kunci: Pendidikan Pancasila. Islam terpadu. Karakter leadership Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu Untuk Menguatkan Karakter Leadership Pada Siswa Kelas VII SMP IT Insan Mulia Surakarta PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun kualitas Hal ini tidak hanya mengenai kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang memiliki karakter moral dan spiritual yang kuat. Sistem pendidikan nasional sebenarnya memiliki tujuan yang lebih luas. Selain menekankan prestasi akademik, sistem ini juga berusaha membangun karakter siswa dengan mencakup nilai-nilai Pancasila dan juga ajaran agama. Dalam hal ini. Pendidikan Pancasila sangat penting sebagai sarana internalisasi nilai, pengembangan sikap, dan pembentukan karakter kewarganegaraan. Proses belajar Pendidikan Pancasila tidak hanya menekankan pemahaman mengenai Pancasila. UndangUndang Dasar 1945, dan wawasan kebangsaan, tetapi juga berusaha untuk menumbuhkan kesadaran moral, rasa tanggung jawab, serta kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Sebagai hasilnya. Pendidikan Pancasila berfungsi sebagai pengajaran nilai dan karakter yang mengajak siswa untuk mengalami dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan seharihari. (Trisiana, 2. Proses globalisasi yang cepat, ditandai oleh kemajuan teknologi informasi dan perubahan sosial, menuntut kaum muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan dalam berkomunikasi, serta sifat kepemimpinan. Sifat kepemimpinan ini merupakan elemen penting yang harus dibentuk sejak masa sekolah, sebab berhubungan dengan kemampuan dalam membuat keputusan, rasa tanggung jawab, serta keberanian untuk mengemukakan pandangan dan memimpin diri sendiri maupun tim. Namun, berbagai hasil penelitian menunjukkan masih ada siswa yang cenderung pasif saat berdiskusi, kurang berinisiatif, dan belum maksimal dalam melaksanakan tugas kelompok. Keadaan ini menandakan bahwa perlu ada pembelajaran yang secara khusus bertujuan untuk memperkuat karakter kepemimpinan. Pembelajaran Pendidikan Pancasila yang bersifat partisipatif dan reflektif dianggap efektif dalam menumbuhkan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kemandirian siswa (Trisiana, 2020. Sitinjak. Gultom, & Saragih. Pendidikan Pancasila memiliki kemampuan yang luar biasa dalam membentuk karakter kepemimpinan karena meliputi nilai-nilai demokrasi, musyawarah, toleransi, dan tanggung jawab. Untuk mengoptimalkan potensi ini, sangat penting untuk mengajar proses belajar dengan cara yang cocok dan berhubungan dengan kehidupan para siswa. Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah pendidikan Islam yang menyeluruh, yaitu pendekatan belajar yang menggabungkan kurikulum umum dengan nilai-nilai ajaran Islam. Metode ini tidak hanya menekankan hasil akademis, tetapi juga memberikan prioritas pada pengembangan akhlak dan penguatan aspek spiritual bagi siswa. Menggabungkan nilai-nilai karakter dengan sistem kepercayaan dan nilai yang ada di lingkungan siswa diyakini bisa meningkatkan keberhasilan belajar dan memperkuat pemahaman nilai (Trisiana, 2021. Amirullah. Handiar, & Azzahra, 2. SMPIT Insan Mulia Surakarta adalah salah satu sekolah yang menerapkan konsep pendidikan Islam terpadu dengan tujuan membentuk generasi Islami yang pintar, berakhlak baik, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Diharapkan penerapan nilai-nilai Islam dalam belajar Pendidikan Pancasila di sekolah ini dapat proses pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan kewarganegaraan, tetapi juga Menanamkan nilai kepemimpinan yang berdasarkan ajaran Islam, seperti kepercayaan, kejujuran, tanggung jawab, diskusi, dan contoh yang baik. Penyesuaian Pendidikan Pancasila dengan nilai-nilai yang dimiliki siswa sesuai dengan pendapat Anita Trisiana, yang menyatakan bahwa proses belajar Pendidikan Pancasila harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan nilai yang ada di sekitar siswa agar pembentukan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu Untuk Menguatkan Karakter Leadership Pada Siswa Kelas VII SMP IT Insan Mulia Surakarta karakter dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan (Trisiana, 2020. Jurnal Aktivisme, 2. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada 29 September 2025, ditemukan bahwa rendahnya inisiatif siswa dalam pembelajaran sering disebabkan oleh kurangnya pembiasaan dalam mengemukakan pendapat dan mengambil peran aktif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru menerapkan pembelajaran kelompok kecil dengan pembagian peran serta penunjukan ketua kelompok sebagai upaya melatih keberanian, tanggung jawab, dan leadership siswa. Selain itu, integrasi nilai-nilai Islam seperti amanah, musyawarah, dan keteladanan yang bersumber dari Al-QurAoan, khususnya QS. Asy-Syura: 38, dijadikan sebagai landasan dalam pembentukan karakter leadership. Cara ini sesuai dengan pandangan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Islam yang menekankan pada pentingnya kepemimpinan yang adil dan bermoral. (Jurnal Aktivisme, 2. Berdasarkan penjelasan yang ada, penelitian tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang terintegrasi dengan Islam untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan siswa kelas VII di SMPIT Insan Mulia Surakarta sangat penting untuk dilakukan. Diharapkan penelitian ini dapat menjelaskan proses pembelajaran, tantangan yang dihadapi, dan sejauh mana integrasi nilai-nilai Islam berpengaruh dalam membentuk karakter kepemimpinan siswa. Selain memberikan kontribusi nyata bagi sekolah, hasil dari penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengembangan Pendidikan Pancasila sebagai pendidikan karakter yang bisa beradaptasi dengan tantangan zaman serta berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan ajaran Islam. METODE PENELITIAN Penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan metode kualitatif dengan desain yang bersifat deskriptif. Pilihan metode ini didasari oleh tujuan penelitian yang ingin memahami secara detail bagaimana cara penerapan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dalam pembentukan dan penguatan karakter kepemimpinan siswa kelas VII di SMPIT Insan Mulia Surakarta. Metode kualitatif memberi kesempatan kepada peneliti untuk mengeksplorasi makna, proses, dan dinamika sosial secara menyeluruh melalui keterlibatan langsung dalam lingkungan penelitian. Fokus dari penelitian ini melibatkan guru Pendidikan Pancasila, siswa kelas VII, dan elemen sekolah yang terlibat dalam proses pembelajaran. Sedangkan objek penelitian ditujukan pada bagaimana cara pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang mengintegrasikan nilainilai Islam serta membentuk karakter kepemimpinan siswa. Pemilihan subjek dan objek dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan hubungan, relevansi, dan partisipasi langsung subjek terhadap fokus penelitian, agar data yang dikumpulkan sejalan dengan tujuan penelitian (Moleong, 2. Informasi diperoleh melalui berbagai cara, termasuk pengamatan, wawancara detail, dan pengumpulan dokumen. Teknik observasi dimanfaatkan untuk melihat langsung aktivitas belajar di kelas, wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi lebih rinci dari para informan, sedangkan dokumentasi berperan sebagai data pendukung yang mencakup silabus, modul ajar. RPP, dan arsip kegiatan pembelajaran. Penggabungan teknik ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas data dan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang fenomena, sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif. Analisis data dilaksanakan dengan interaktif dan secara bertahap mulai dari proses pengumpulan data hingga penelitian selesai. Langkah-langkah analisis mencakup pengurangan data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan pemeriksaan kembali. Dengan melalui tahapan tersebut, peneliti mencoba mengenali pola, hubungan, dan makna yang terdapat dalam data secara terstruktur, sehingga mampu Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu Untuk Menguatkan Karakter Leadership Pada Siswa Kelas VII SMP IT Insan Mulia Surakarta menghasilkan temuan yang dalam dan terorganisir (Qualitative Data Analysis: A Methods Sourceboo. Keabsahan informasi pada penelitian yang dilakukakn, dikonfirmasi melalui penerapan metode triangulasi, termasuk triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Proses triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan temuan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan keselarasan dan keandalan informasi. Tahapan ini sangat krusial dalam penelitian kualitatif untuk memastikan bahwa hasil riset mencerminkan keadaan sebenarnya di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu dalam Menguatkan Karakter Leadership Siswa Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu di kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta menunjukkan bahwa implementasi ini dilaksanakan secara terencana, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter leadership siswa. Implementasi tersebut tercermin melalui perencanaan pembelajaran, strategi dan metode yang digunakan, serta integrasi nilai-nilai keislaman dalam setiap proses pembelajaran. integrasi nilai ini selaras dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan pendidikan berbasis nilai keislaman, seperti Living Values Education, efektif dalam membentuk karakter siswa secara holistik di sekolah Islam (Hidayatulloh. Saumantri, & Ramdani, 2. Dengan demikian, pembahasan hasil penelitian Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Pancasila pada 20 Januari 2026, perencanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila dirancang dengan menggunakan metode pembelajaran aktif seperti Team Games Tournament (TGT) sebagai bentuk asesmen formatif dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini sejalan dengan keyakinan bahwa pendidikan kewarganegaraan memegang peranan penting dalam membentuk karakter siswa melalui penguatan nilai-nilai moral dan sosial yang relevan (Trisiana, 2. , dan temuan ini berkaitan dengan. Niki dan Marzuki . Hasil wawancara pada 20 Januari 2026 dengan guru Pendidikan Pancasila dan siswa kelas VII menunjukkan bahwa metode TGT merupakan strategi yang paling efektif dalam menumbuhkan karakter leadership. Ketua kelompok berperan aktif dalam membimbing anggota kelompok agar mencapai tujuan bersama, sehingga menumbuhkan jiwa leadership sekaligus kompetisi yang sehat. Metode pembelajaran yang digunakan bersifat aktif dan kolaboratif, seperti Team Games Tournament (TGT), debat kelompok, dan simulasi peran. Melalui metode tersebut, siswa dilatih untuk mengelola kelompok, mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap tugas, serta membangun kerja sama yang efektif dengan teman sebaya. Pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas ini memperkuat implementasi pendidikan karakter karena nilai leadership dikembangkan melalui praktik nyata dalam situasi belajar yang demokratis dan partisipatif (Trisiana. Sugiaryo, & Rispantyo, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu pada siswa kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta tidak hanya berfokus pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga diarahkan secara sistematis untuk menguatkan karakter leadership siswa. Penguatan tersebut dilakukan melalui perencanaan pembelajaran yang matang, penggunaan metode interaktif dan partisipatif, integrasi nilai keislaman, serta pembiasaan peran leadership dalam aktivitas belajar. Implementasi ini sejalan dengan tujuan Pendidikan Pancasila dan pendidikan Islam yang menekankan pembentukan generasi yang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu Untuk Menguatkan Karakter Leadership Pada Siswa Kelas VII SMP IT Insan Mulia Surakarta berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu memimpin dalam kehidupan sosial. Inovasi desain pembelajaran berbasis nilai yang diterapkan mampu mendukung pembentukan karakter leadership siswa secara berkelanjutan (Trisiana & Unjiati, 2. Selain itu, pendekatan Pendidikan Kewarganegaraan dalam perspektif Islam turut memperkuat konsep leadership yang berkeadilan dan berakhlak, sehingga relevan dengan kebutuhan pembinaan karakter generasi muda di lingkungan sekolah Islam (Jurnal Aktivisme, 2. Kendala Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu dalam Menguatkan Karakter Leadership Siswa Berdasarkan hasil penelitian pada 20 Januari 2026. Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu di SMPIT Insan Mulia Surakarta secara umum telah menunjukkan capaian yang positif dalam menciptakan dan menumbuhkan karakter leadership siswa kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta. Integrasi nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam tidak hanya terimplementasi secara konsisten dalam perencanaan dan proses pembelajaran, tetapi juga diarahkan secara sadar untuk menanamkan nilai leadership seperti tanggung jawab, keberanian, musyawarah, disiplin, dan keteladanan. Namun demikian, keberhasilan implementasi pembelajaran tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh pemerataan perkembangan karakter leadership pada seluruh siswa, sehingga menunjukkan bahwa penciptaan karakter leadership melalui pembelajaran tidak selalu berkembang secara seragam pada setiap individu peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa karakter introvert menjadi tantangan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu yang menempatkan partisipasi aktif sebagai salah satu sarana utama pembentukan karakter leadership. Informasi ini didapatkan melalui hasil wawancara dengan guru Pendidikan Pancasila pada 20 Januari 2026. Kendala utama yang ditemukan dalam proses penciptaan karakter leadership bersumber dari faktor internal siswa, khususnya perbedaan karakter kepribadian. Masih terdapat siswa yang bersikap pasif, kurang berani menyampaikan pendapat, dan cenderung diam dalam kegiatan diskusi. Kondisi ini, setelah dikonfirmasi melalui konsultasi dengan wali kelas, dipengaruhi oleh karakter siswa yang cenderung introvert. Temuan ini menunjukkan bahwa karakter introvert menjadi tantangan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu yang menempatkan partisipasi aktif sebagai salah satu sarana utama pembentukan karakter Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran yang menempatkan partisipasi aktif sebagai sarana utama pembentukan karakter leadership (Trisiana, 2019. Ramadhoan et al. , 2. Berdasarkan sudut pandang pada hasil wawancara dengan siswa kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta menyatakan tidak ada kendala menunjukkan bahwa secara umum pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu telah berjalan efektif dan didukung oleh budaya sekolah yang religius. Namun secara kritis, perbedaan pandangan ini mengindikasikan bahwa penciptaan karakter leadership sering kali dinilai dari keberlangsungan pembelajaran dan suasana kelas yang kondusif, bukan dari perkembangan leadership setiap siswa secara mendalam dan Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Anita Trisiana . yang menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter dan kewarganegaraan menuntut pemahaman mendalam terhadap karakteristik siswa agar nilainilai Pancasila dapat terinternalisasi secara Di sisi lain, persepsi sebagian informan yang tidak menemukan kendala menunjukkan bahwa pembelajaran telah berlangsung dalam iklim yang kondusif dan didukung oleh budaya sekolah yang religius. Namun demikian, perbedaan persepsi tersebut mengindikasikan bahwa penilaian keberhasilan pembelajaran sering kali lebih menitikberatkan pada kelancaran proses pembelajaran, belum sepenuhnya mengarah pada pengukuran perkembangan karakter leadership siswa secara individual dan berkelanjutan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Implementasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Bermuatan Islam Terpadu Untuk Menguatkan Karakter Leadership Pada Siswa Kelas VII SMP IT Insan Mulia Surakarta (ResearchGate, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Pancasila pada 20 Januari 2026, diperoleh informasi mengenai Upaya guru melalui pendekatan kolaboratif dengan wali kelas merupakan langkah awal yang relevan dalam merespons kendala tersebut, meskipun masih bersifat responsif dan belum terstruktur secara sistematis. Oleh karena itu, diperlukan strategi pedagogis yang lebih inklusif dan adaptif, seperti diferensiasi peran leadership dalam aktivitas pembelajaran serta perluasan makna leadership yang tidak semata-mata dimaknai sebagai keberanian berbicara, tetapi juga mencakup keteladanan sikap, tanggung jawab, dan konsistensi perilaku. Pendekatan tersebut selaras dengan model desain Pendidikan Kewarganegaraan yang adaptif dan berbasis nilai sebagaimana dikemukakan oleh Trisiana. Sugiaryo, dan Rispantyo . serta Trisiana dan Unjiati . , yang menekankan pentingnya inovasi desain pembelajaran untuk menjamin pemerataan dan keberlanjutan pendidikan karakter di sekolah. Hasil Penelitian keseluruhan menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila bermuatan Islam terpadu pada siswa kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta telah berperan penting dalam menciptakan karakter leadership siswa, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata. Meskipun masih terdapat kendala oleh karena itu, diperlukan penguatan pendekatan pedagogis yang lebih inklusif, adaptif, dan berbasis karakter siswa agar penciptaan karakter leadership tidak hanya tercapai secara normatif, tetapi juga bermakna dan berkelanjutan bagi seluruh peserta didik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi pendidikan Pancasila yang mengandung nilai keislaman di kelas VII SMPIT Insan Mulia Surakarta telah dilaksanakan dengan rencana yang matang dan sesuai konteks serta mempengaruhi dengan cara yang baik untuk meningkatkan sifat kepemimpinan siswa melalui cara belajar yang aktif, bekerja sama, dan mengutamakan nilai. Perpaduan nilai Pancasila dan ajaran Islam mendorong siswa untuk membentuk sikap kepemimpinan yang berlandaskan pada tanggung jawab, kerjasama, dan sifat yang baik melalui pengalaman pembelajaran yang berarti. Namun, masih terdapat kendala yaitu penguatan karakter kepemimpinan belum merata di antara semua siswa disebabkan oleh perbedaan dalam karakteristik dan kesiapan psikologis masing-masing siswa. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif agar internalisasi nilai kepemimpinan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh potensi siswa secara optimal. REFERENSI