Open Community Service Journal 4 . : 182-189 2025 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Program JELAS: Pemberdayaan Masyarakat dalam Konversi Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan, di Kecamatan Jogorogo. Ngawi Elya Mufidah 1*. Dewi Maulidia2. Nabilla Alya Rimadhini1. Deni Putra Hendrawan3. Fadhilah Ulima Khansa4. NiAomatul Izza1. Inggit Kresna Maharsih1. Maharani Pertiwi5. Mukhamad Fathoni6 Program Studi Teknik Bioproses. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Program Studi Agroekoteknologi. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Program Studi Teknik Kimia. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Sekolah Pascasarjana. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia *Correspondence E-mail: elyamufidah1985@ub. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Disubmit 19 Juli 2025 Diperbaiki 9 September 2025 Diterima 28 Oktober 2025 Diterbitkan 2 November 2025 Latar Belakang: Tingginya limbah minyak goreng bekas . di Kecamatan Jogorogo memicu pencemaran dan risiko kesehatan. Tujuan: Pengabdian dilakukan dengan tujuan mendiseminasikan pengolahan minyak jelantah agar memiliki nilai ekonomi, menghasilkan pionir pengumpulan serta konversi jelantah menjadi sabun ramah lingkungan, serta meningkatkan literasi lingkungan. Metode: Pengabdian ini menerapkan pendekatan Participatory Action Research dengan desain praAepasca. Survei pengetahuan-sikap melibatkan 49 responden pada prapelatihan dan 43 responden pada pascapelatihan Hasil: Analisis deskriptif menunjukkan peningkatan pemahaman bahaya pembuangan jelantah dari 46,9 % menjadi 98 % serta lonjakan pengetahuan/niat mengolah jelantah menjadi sabun dari 2 % menjadi 88 %. Persepsi nilai ekonomi juga meningkat. 84 % peserta meyakini sabun jelantah layak jual. Pada sesi demonstrasi, 4 L jelantah berhasil dikonversi menjadi A 12 kg sabun padat dan 18 botol sabun cair . mL). Hasil tersebut menegaskan efektivitas Program JELAS dalam meningkatkan literasi lingkungan dan membuka peluang kewirausahaan berbasis ekonomi sirkular di pedesaan. Integrasi teknologi tepat guna dan dukungan kelembagaan perempuan (PKK) serta desa menjadikan model ini replikatif bagi desa lain dengan karakteristik serupa. Kata Kunci: Ekonomi Sirkular. Minyak Jelantah. Pemberdayaan Masyarakat. Sabun Ramah Lingkungan. UMKM. Untuk mengutip artikel ini: Mufidah. Maulidia. Rimadhini. , . Hendrawan. , . Khansa. Izza. Maharsih. Pertiwi. & Fathoni. Program JELAS: Pemberdayaan Masyarakat dalam Konversi Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan, di Kecamatan Jogorogo. Ngawi. Open Community Service Journal, 4. , 1821Ae189. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2025 by author/s Pendahuluan Kecamatan Jogorogo di Kabupaten Ngawi. Jawa Timur, terhampar di lereng selatan Gunung Lawu dan terdiri atas 12 desa dengan penduduk sekitar 52. 545 jiwa (Kecamatan Jogorogo. Kabupaten Ngaw. Sedikitnya terdapat 25 UMKM kuliner rumahan, mulai produsen sambal pecel, jajanan goreng, hingga pemasok kudapan beku, menjadikan aktivitas menggoreng sebagai denyut ekonomi harian Dengan konsumsi minyak goreng nasional rata-rata 1 L kapita AE bulan, potensi limbah minyak goreng bekas . mencapai A 47 kL per bulan atau 565 drum 200 L. Sebagian besar jelantah masih dibuang ke selokan, meningkatkan Chemical Oxygen Demand (COD) air limbah, menyumbat drainase desa, dan memicu ledakan populasi mikroba patogen (Mufidah & Dewi, 2. Praktik penggunaan ulang minyak lebih dari tiga kali tanpa standar keamanan pangan kian memperbesar risiko senyawa karsinogenik dalam makanan (Venkata & Subramanyam, 2. Di sisi hilir, setiap UMKM penggorengan menimbun 10Ae25 L jelantah per minggu, tetapi belum memiliki peralatan filtrasi atau izin saponifikasi. Dengan demikian, pengelolaan jelantah di Jogorogo bukan semata isu lingkungan, melainkan urgensi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi lokal. Menanggapi situasi tersebut. Program JELAS (Jelantah Lahir jadi Sabu. diusulkan sebagai model pengabdian berbasis ekonomi sirkular. Program ini bertujuan: . mendiseminasikan pengolahan minyak jelantah untuk lebih berguna. memberdayakan minimal satu rumah tangga dan satu UMKM sebagai pionir pengumpulan serta konversi jelantah menjadi sabun ramah lingkungan. meningkatkan literasi lingkungan sehingga Ou 70 % warga mampu memilah, menyimpan, dan mengelola minyak jelantah menjadi produk bermanfaat yaitu sabun. Kedepannya program ini terus berlanjut sehingga mengorganisir pendirian Bank Jelantah, pelatihan filtrasiAesaponifikasi terencana, penjaminan mutu, dan pendampingan legalitas-pemasaran. Selain menanggulangi limbah, inisiatif ini selaras dengan SDG 12 (Responsible Consumption and Productio. dan capaian Indikator Kinerja Utama 3-5 Universitas Brawijaya melalui keterlibatan dosen serta mahasiswa lintas disiplin MBKM, sehingga diharapkan dapat direplikasi ke desa-desa sejenis dan menjadi katalis ekonomi hijau regional. Metode Pelaksanaan Metode pengabdian yang diusung Program JELAS memakai desain praAepasca. Kerangka ini dipilih agar proses belajar-berbuat-merefleksikan berlangsung siklikal: awareness, skill, and practice. Pendekatan ini membuka ruang partisipasi aktif kepala desa, kader PKK, dan pelaku UMKM sejak perumusan masalah sampai pengambilan keputusan, sekaligus menyediakan bukti kuantitatif perubahan pengetahuan melalui instrumen pre-test dan post-test . responden pra-pelatihan. 43 responden pascapelatiha. 1 Rancangan dan Tahapan Pelaksanaan Pengabdian masyarakat pada Program JELAS memiliki lima tahapan yang dilakukan secara berurutan. Sosialisasi (Minggu . Kick-off meeting di Desa Jogorogo dan Brubuh sebagai yang mewakili sampel warga Kecamatan Jogorogo. Ngawi, dilengkapi penyampaian edukasi video animasi AuBahaya JelantahAy, dan simulasi penyaringan minyak jelantah dengan Grease Trap Stainless Oil Filter Pelatihan/TOT (Minggu . Dua hari training of trainers untuk kader PKK-UMKM mencakup . Teknik penyaringan jelantah dapat dilihat pada Gambar 1, 2a dan 2b dengan Grease Trap Stainless Oil Filter tiga lapis . ilter clothAearang aktifAeserbuk kulit telu. (Azizanie et al. , 2023. Warsy et al. , 2. , yang kemudian dipraktekkan pada Gambar 4, . Pembuatan sabun coldprocess skala 2 L, serta . pengemasan dan eco-labelling. Setiap peserta menerima CP-kit mini . mber PP, stick-blender, termometer. APD) dan pelatihan secara langsung. Kegiatan ini dapat terlihat pada Gambar 5. Gambar 1. Komponen alat Grease Trap Stainless Oil Filter Gambar 2. Alat Grease Trap Stainless Oil Filter dilihat dari samping dengan adanya tutup dan corong, . Alat Grease Trap Stainless Oil Filter dilihat dari atas dengan tanpa tutup dan adanya arang aktif, cangkang telur yang sudah dihaluskan, dan kain kasa. Penerapan Teknologi (Minggu . Peserta mempraktikkan filtrasi dan saponifikasi di rumah/dapur UMKM. tim universitas menguji mutu sabun . H 9Ae. dengan pH meter. Pendampingan & Evaluasi (Minggu . Mahasiswa MBKM melakukan kunjungan harian kepada UMKM dan rumah tangga PKK mengenai stok kapasitas jelantah. Keberlanjutan. Pekan terakhir diakhiri pembentukan kelompok mandiri AuSahabat JELASAy, 2 Teknik Pengumpulan Data Untuk menilai efektivitas setiap tahap, program menggunakan kombinasi instrumen berupa kuisioner, observasi terstruktur, catatan produksi dan log Bank Jelantah serta uji laboratorium sederhana. Kuesioner pre-test (Sebelum pelatihan, di minggu pertam. dan post-test . inggu ke-4 pasca pelatiha. pengetahuan-sikap (Likert 1-. yang diisi langsung di lokasi pelatihan. Observasi terstruktur . hecklist Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. , kepatuhan prosedur filtrasi dan saponifikas. Catatan produksi dan log Bank Jelantah . olume minyak, jumlah sabun, waktu curin. Uji laboratorium sederhanaAipengukuran pH sabun . ertas indikato. Responden utama adalah rumah tangga dan UMKM kuliner peserta, sedangkan data teknis diambil dari sampel jelantah dan sabun. 3 Analisis Data Data numerik dianalisis deskriptif . ersentase, rata-rata, standar devias. dan uji beda berpasangan . ji-t/ McNema. untuk melihat peningkatan skor pengetahuan dan perubahan perilaku sebelum-sesudah 4 Monitoring dan Evaluasi Skema evaluasi diatur pada rapat mingguan tim UBAedesa untuk meninjau indikator: jumlah sesi sosialisasi, keterlibatan peserta, literasi Ou 70 % . kor kui. , volume jelantah dan sabun, evaluasi masa curing sabun dalam 3 minggu, serta komitmen tertulis tidak membuang jelantah sembarang. Capaian final direkap dalam laporan akhir dan dipresentasikan pada forum desa sebagai umpan balik dan dasar replikasi ke tahun 2026-2028. Hasil dan Pembahasan 1 Karakteristik Responden Survei pra-pelatihan melibatkan 49 warga (Jogorogo = 19 orang. Brubuh = 30 oran. dengan ratarata usia 40 tahun . Ae 65 tahu. Mayoritas memiliki mata pencaharian kuliner rumahan, ibu rumah tangga, serta. Survei pascapelatihan diikuti 43 responden, sedikit terjadi penurunan karena ada beberapa peserta pelatihan tidak bisa mengikuti kegiatan hingga selesai. Komposisi usia dan jenis usaha tidak berubah secara bermakna, sehingga kedua set data dapat dibandingkan langsung. 2 Perubahan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Lingkungan Gambar 3 memperlihatkan perubahan kesadaran responden terhadap bahaya pembuangan jelantah: dari 46,9 % pada pra-tes menjadi 98 % pada pos-tes. Peningkatan 51 poin persentase ini dikonfirmasi uji McNemar . < 0,. , menandakan bahwa siklus sosialisasi-praktek sudah cukup kuat menutup celah Autidak tahuAy pada hampir seluruh responden. Gambar 3. Kesadaran responden terhadap bahaya pembuangan jelantah pra-pasca pelatihan Gambar 3 menunjukkan pengetahuan bahwa jelantah dapat diubah menjadi sabun menunjukkan efektifitasnya, dari 2 % menjadi 88 %. Temuan ini menegaskan strategi hands-on . old-process skala dapu. jauh lebih efektif dibanding penyampaian teoritis (Kolb et al. , 2. Pada Gambar 4, masyakarat diberi pelatihan memanfaatkan alih teknologi sederhana pada proses penyaringan minyak jelantah. Perlakuan ini diperlukan untuk menghasilkan kualitas minyak jelantah lebih baik dalam pengolahannya menjadi sabun (Ayu et al. , 2023. Riyanta, 2016. Syaiful & Sawit. Gambar 4. Kegiatan Mendemonstrasikan Alat Grease Trap Stainless Oil Filter Gambar 5. Kegiatan Produksi Sabun Jelantah Kecamatan Jogorogo 2025 Gambar 6. Produksi Sabun Jelantah Hasil Pelatihan Tim Universitas Brawijaya dan Masyarakat di Kecamatan Jogorogo. Ngawi 3 Kinerja Teknologi Konversi Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan sabun cuci piring meliputi minyak jelantah. KOH, mica powder. NaCl, biosurfaktan, dan aquades. Bahan untuk membuat sabun cuci kain lap . meliputi, minyak jelantah. NaOH, mica powder, biosurfaktan, dan aquades. Uji coba skala pilot di balai desa berhasil mengonversi 4 L jelantah menjadi A12 kg sabun padat dan 18 botol sabun cair. Analisis mutu berdasarkan SNI 06-3532-2016 untuk sabun padat menunjukkan pH 9Ae11 serta penurunan kadar asam lemak bebas (FFA) sekitar A40% setelah filtrasi tiga lapis . uslin, arang sekam, serbuk kulit telu. (Badan Standarisasi Nasional, 2. Data FFA dilaporkan sebagai persentase penurunan relatif. absolut sebelumAesesudah akan dilengkapi pada pengujian lanjutan. Penurunan FFA ini mendukung efisiensi saponifikasi dan mengurangi aroma tengik. Satu paket CP-KIT20 berkapasitas 18 L campuran diproyeksikan menyerap A600 L jelantah per tahun di tiga rumah tangga/UMKM. 4 Monitoring. Keterbatasan & Langkah Perbaikan Pemantauan mingguan mencatat volume jelantah, kemandirian peserta memproduksi sabun dari minyak jelantah, dan mutu sabun. Tantangan utama adalah . ukuran sampel relatif kecil sehingga generalisasi terbatas, . keterbatasan agregator logistik, dan . proses perizinan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) yang belum dilakukan. Untuk menangani hal tersebut, tim menyiapkan survei lanjutan enam bulan pasca-program dan mengembangkan aplikasi Si-JELAS untuk pencatatan real-time volume jelantah dan sabun, serta pelaporan emisi COCC-eq yang dihindari. Tabel 1. Ringkasan Temuan Kuesioner Pasca-pelatihan Aspek yang Dianalisis Kemudahan memahami materi Manfaat sosialisasi Pemahaman bahaya pembuangan minyak jelantah Ketertarikan mencoba membuat sabun di rumah Potensi sabun untuk dijual Hasil Utama . abungan 43 responde. 27 responden . %) menyatakan AuMudah dipahamiAy dan 15 responden . %) AuSangat mudahAy. Hanya 1 orang . %) merasa AuKurang mudahAy. 33 responden . %) menilai AuSangat bermanfaatAy. sisanya 10 responden . %) AuBermanfaatAy. Tidak ada yang menganggapnya tidak bermanfaat. 42 responden . %) menjawab AuYaAy. %) AuTidakAy. 17 responden . %) AuSangat tertarikAy, 25 responden . %) AuTertarikAy, hanya 1 responden . %) AuKurang tertarikAy. 36 responden . %) percaya sabun Aupunya nilai jualAy, 6 responden . %) hanya untuk pemakaian sendiri, 1 responden . %) AuTidak tahuAy. Profil usia Rata-rata 40 tahun (SD OO 9,. rentang 17 Ae 65 Asal desa 24 responden Brubuh, 19 responden Jogorogo. Implikasi Materi sosialisasi sudah sangat hanya sedikit perbaikan minor diperlukan. Program memenuhi kebutuhan nilai tambah sudah dirasakan hampir seluruh Tujuan penyadartahuan lingkungan tercapai hampir Potensi adopsi praktik nyata di rumah sangat tinggi. Mayoritas sudah melihat peluang ekonomi. ditindaklanjuti dengan pelatihan bisnis & pemasaran. Peserta didominasi usia produktif, memudahkan implementasi kegiatan ekonomi. Distribusi relatif seimbang sehingga kesimpulan gabungan cukup representatif untuk kedua Hasil kuisioner pascapelatihan pada Tabel 1 (N = . menegaskan bahwa materi pengabdian sudah tersampaikan secara efektif dan relevan bagi warga. Sebanyak 63 % responden mengaku AumudahAy memahami penjelasan, bahkan 35 % merasa Ausangat mudahAy, sehingga hanya satu orang . %) yang masih merasakan kesulitan. Proporsi ini menunjukkan struktur penyampaian, kombinasi video, demonstrasi, dan lembar praktik, telah sesuai tingkat literasi lokal. penyempurnaan cukup berupa penambahan contoh visual atau pengulangan singkat pada bagian kimia dasar sabun. Rasa manfaat program pun tercermin jelas: 77 % menilai sosialisasi Ausangat bermanfaatAy dan 23 % AubermanfaatAy. seorang pun menilai sebaliknya. Penilaian ini memperlihatkan bahwa topik penanganan jelantah memang menjawab kebutuhan nyata warga, baik dari sisi kesehatan lingkungan maupun peluang Secara substansi, tujuan kesadaran terhadap menjaga lingkungan telah tercapai hampir sempurna: 98 % peserta kini paham bahaya pembuangan jelantah sembarangan. Pengetahuan ini berbanding lurus dengan kesiapan bertindak, tergambar dari 40 % responden yang Ausangat tertarikAy dan 58 % yang AutertarikAy mencoba membuat sabun di rumah. Persentase minat . otal 98 %) membuka peluang difusi inovasi berbasis rumah tangga, asalkan dibarengi pendampingan teknis lanjutan dan akses bahan baku (NaOH, cetakan, labe. Hasil juga menunjukkan bahwa 84 % responden yakin sabun jelantah memiliki nilai jual. hanya 14 % membayangkannya untuk pemakaian sendiri dan 2 % belum tahu. Optimisme pasar inilah yang menjustifikasi paket pelatihan bisnis, izin PKRT, dan branding agar produk dapat menembus kios desa maupun platform daring. Dari sisi demografi, rata-rata usia peserta 40 A 9,2 tahun . entang 17Ae. menandakan mayoritas berada di usia produktif dengan energi, jaringan sosial, dan jelantah rumah tangga cukup untuk menggerakkan praktik ekonomi sirkular. Distribusi asal desa juga seimbang (Brubuh 24 orang. Jogorogo 19 oran. , sehingga kesimpulan dapat mewakili kedua komunitas sasaran dan memberi dasar kokoh bagi replikasi program di tingkat kecamatan. Gambar 8. Pengetahuan Responden Terhadap Konversi Jelantah Menjadi Sabun Pada Gambar 8, menunjukkan perbandingan tingkat pengetahuan warga terkait minyak jelantah dapat diubah menjadi sabun sebelum dan sesudah program. Hasil Pre-test menunjukkan hanya 2 % A 2,0 responden mengetahui fakta tersebut. artinya hampir semua peserta sama sekali belum mengenal konsep konversi jelantah. Hasil Post-test melonjak drastis menjadi 88 % A 4,9, memperlihatkan bahwa setelah demonstrasi cold-process saponification dan praktik langsung, hampir sembilan dari sepuluh peserta sudah memahami bahkan siap mempraktikkan teknologi sederhana ini. Rentang error bar (A SD) yang sempit di kedua batang menandakan variabilitas jawaban antarpeserta relatif rendah, sehingga peningkatan 86 poin persentase tersebut benar-benar bersumber dari intervensi, bukan dari perbedaan karakter responden. Hasil ini menegaskan efektivitas pendekatan Participatory Action Research yang menggabungkan penjelasan, visual, dan praktik langsung untuk menutup knowledge gap mengenai pemanfaatan jelantah. Tentunya hal ini mengonfirmasi bahwa kerangka pengabdian sekaligus praktik langsung bukan hanya menaikkan literasi, tetapi juga membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan yang berkelanjutan. Kesimpulan Program JELAS berhasil membuktikan bahwa konversi minyak jelantah menjadi sabun merupakan strategi pengelolaan limbah yang efektif, mudah diterapkan, dan berwawasan lingkungan. Melalui pendekatan Participatory Action Research berdesain praAepasca, literasi peserta tentang bahaya jelantah melonjak dari 46,9 % menjadi 98 %, sedangkan pengetahuan dan niat mengolahnya menjadi sabun meningkat signifikan dari 2 % menjadi 88 %. Uji coba teknologi cold-process skala komunitas mampu mengubah 4 L jelantah menjadi A 12 kg sabun padat serta 18 botol sabun cair berkualitas . H 9-. Temuan ini tidak hanya menurunkan potensi pencemaran air dan sumbatan drainase, tetapi juga membuka jalur kewirausahaan: 84 % responden yakin produk sabun ramah lingkungan memiliki nilai jual, dan 98 % menyatakan tertarik memproduksi di rumah. Dukungan kelembagaan desa, terutama kader PKK, kedepan mendorong keberlanjutan lewat pembentukan Bank Jelantah mini, logbook monitoring, dan rencana pendampingan legalitas PKRT kedepannya. Meski ukuran sampel masih terbatas dan konektivitas rantai pasok jelantah belum sepenuhnya mapan, model JELAS telah membuktikan replikabilitas awal dan kontribusi nyata terhadap SDG 12 (Responsible Consumption and Productio. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk . memperluas cakupan desa dan volume jelantah dikelola, . mengkaji kelayakan finansial termasuk skema koperasi, serta . mengintegrasikan aplikasi Si-JELAS guna pelaporan emisi COCC-eq yang JELAS layak diangkat sebagai best practice pengabdian masyarakat berbasis limbah, sekaligus katalis ekonomi hijau di Kabupaten Ngawi dan wilayah serupa. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DRPM. Universitas Brawijaya, atas dukungan pendanaan melalui Skema Hibah Pengabdian Masyarakat Strategis Tahun 2025 (No: 00848. 3/UN10. A0501/B/PT. 2/2. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih pula terhadap dukungan pihak Desa Brubuh. Desa Jogorogo. BUMDES Cafe Kayangan Jogorogo. Kecamatan Jogorogo. Kabupaten Ngawi serta Tim MMD (Mahasiswa Membangun Des. 48 dan 49 Universitas Brawijaya Tahun 2025. Dukungan ini berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan pelaksanaan pengabdian sehingga bisa memberikan manfaat dan berdampak positif bagi semua pihak. Daftar Pustaka