DARMA CENDEKIA e-ISSN 2963-167X Vol. No. Juni 2025, hlm. http://w. com/index. php/darmacendekia/index DOI: https://doi. org/10. 60012/dc. BRAIN-BASED PARENTING BAGI ORANG TUA PESERTA DIDIK BKB PAUD FLAMBOYAN KELURAHAN GEDONG SEBAGAI ANTISIPASI GENERASI INDONESIA CEMAS Zahra Shafa Aulia1. Cyntia Alvionita2. Erna Megawati3*. Priarti Megawanti4. Maman Paturahman5 Universitas Indraprasta PGRI 45megawatie@gmail. com1*, priartimegawanti@gmail. com2, maman. patur90@gmail. zshafaulia17@gmail. com4, cyntiaalvio778@gmail. Kata Kunci: Generasi Alpha. Pola Asuh. Generasi Cemas. Brain-Based Parenting. Abstrak: BKB PAUD Flamboyan Kelurahan Gedong beralamat di Jl. Hj. Taiman Barat. RT. 05/02. Gedong. Kecamatan Pasar Rebo. Jakarta Timur. Sekolah berdiri di bawah naungan kelurahan dan termasuk dalam program PKK. Mitra memiliki dua orang guru yang berasal dari anggota PKK dan jumlah peserta didik 16. Rentang usia orang tua peserta didik adalah 30-38 tahun dengan tingkat pendidikan orang tua peserta didik mayoritas lulusan sekolah lanjutan tingkat. Rerata jumlah anak orang tua peserta didik adalah 3 orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan mitra. Tim menemukan masih minimnya pengetahuan orang tua siswa mengenai alternatif pola asuh yang sejalan dengan perkembangan otak. Mengingat pentingnya peran pola asuh dalam pembentukan karakter anak sebagai generasi muda penerus bangsa. Tim melaksanakan kegiatan edukasi bagi mitra guna meningkatkan pemahaman mengenai brain-based parenting sebagai antisipasi generasi cemas. Metode yang akan digunakan dalam kegiatan ini berupa ceramah dan diskusi secara luring. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman mitra mengenai brain-based parenting yang ditunjukkan dengan pemahaman implementasi metode RPM3 berupa Responding. Preventing. Mentoring. Monitoring, dan Modelling. Keyword: Alpha Generation. Parenting. Anxious Generation. Brain-Based Parenting. Abstract: BKB PAUD Flamboyan Gedong Village is located at Jl. Hj. West Taiman. RT. 05/02. Gedong. Pasar Rebo District. East Jakarta. This school is under the auspices of the sub-district and is included in the PKK program. Mitra has two teachers who are PKK members and the number of students is 16. The age range of the students' parents is 30-38 years with the education level of the parents of the majority of students being secondary school The average number of children and parents of students is 3 people. Based on the results of interviews with partners, the team found that parents still have minimal knowledge regarding alternative parenting styles that are in line with brain development. Considering the important role of parenting in shaping children's character as the nation's next young generation, team carries out educational activities for Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas partners to increase understanding of brain-based parenting in anticipation of an anxious generation. The methods used in this activity were offline lectures and discussions. The result of the activity shows an increase in partners' understanding of brainbased parenting as demonstrated by understanding the implementation of the RPM3 method in the form of Responding. Preventing. Mentoring. Monitoring and Modeling. Diserahkan: 13-03-2025 Direvisi: 30-05-2025 Diterima: 30-06-2025 PENDAHULUAN Generasi alpha sebagai generasi yang diharapkan menjadi generasi penerus bangsa tengah menjadi sorotan. Hal ini dikarenakan munculnya tagar AoGenerasi CemasAo sebagai pelintiran dari AoGenerasi EmasAo. Generasi yang diharapkan menjadi generasi emas berubah menjadi generasi yang dianggap mencemaskan. Bonus demografi yang seharusnya bisa menjadi kelebihan nampaknya kini membawa kekhawatiran tersendiri jika generasi emas tersebut tidak dibimbing untuk memaksimalkan potensinya. Setiap minggunya lebih dari 2. 59 juta generasi alpha lahir secara global dengan estimasi populasi generasi 38. 55 juta . Generasi ini memiliki ketergantungan terhadap teknologi yang menyebabkan mereka kurang bersosialiasi, kurang daya kreativitas, dan cenderung bersikap individualis (Salehudin, 2. Peran pendidikan anak perlu menjadi fokus sebagai antisipasi generasi cemas. Salah satu pendidikan yang berfokus pada generasi alpha adalah pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Din. Pendidikan anak usia dini berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional Bab I. Pasal I. Butir 14 didefinisikan sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani yang bertujuan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan pentingnya perannya pendidikan anak usia dini sebagai pondasi pembangunan anak dalam tahap selanjutnya. Bentuk layanan yang diberikan oleh PAUD berupa rangsangan terhadap aspek fisik dan non-fisik (Isjoni, 2. Namun, peran PAUD itu sendiri tidak akan maksimal tanpa sinergi dari peran orang tua sebagai pendidik utama (Fadlillah dalam Novrinda, 2. Orang tua secara terus menerus menjalankan perannya mulai dari mendorong, membimbing, memotivasi, serta memfasilitasi dalam pencapaian pendidikan anak yang Dalam prosesnya, interaksi orang tua dan anak harus berjalan secara timbal balik dimana keduanya saling memberi pengaruh dan mengubah satu sama lain (Brooks dalam Sari, 2. Dengan demikian, kemampuan, kompetensi, maupun pengetahuan orang tua akan sangat memengaruhi pola bimbingan atau pola asuh yang akan diterapkan kepada Pola asuh orang tua adalah gambaran nyata yang diterapkan orang tua dalam merawat, menjaga, dan mendidik anak (Gunarsa dalam Aslan, 2. Pola asuh juga merupakan cara orang tua dalam mendidik, menanamkan nilai-nilai yang diyakini baik serta benar, dan mendampingi proses pertumbuhan anak. Pola asuh merupakan cara orang tua untuk melindungi dan membimbing anak menuju kehidupan barunya, memberikan cinta, perhatian, dan nilai-nilai keyakinan sebagai panduan untuk berbaur dalam kehidupan masyarakatnya sebagai sebuah tujuan akhir (Rozana. Wahid, & Muali. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas Dalam menerapkan pola asuh, orang tua juga perlu memerhatikan pendekatan yang akan digunakan. Pendekatan yang terlalu otoriter akan menyebabkan anak kehilangan kemandirian serta beberapa masalah kepribadian lainnya, seperti kemampuan akademik yang rendah, bertindak sesuka hati ketika tidak dalam pengawasan, takut mengambil keputusan, sudah diatur, penakut dan kurang percaya diri, lebih suka di luar rumah, bahkan dapat mendorong anak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya (Ilham, 2. Sebaliknya, pola asuh permisif akan mendorong anak untuk tidak mengenal batasan atau bertindak sesuka hati sehingga berpengaruh pada perilaku sosial anak (Makagingge. Karmila, & Chandra, 2. Dengan demikian, sebagai orang tua penting untuk mengetahui dampak dari setiap pendekatan yang digunakan dalam pola asuh yang diterapkan. Brain based parenting atau pola asuh ramah otak atau neuroparenting adalah pengasuhan anak berbasis kinerja otak dimana emosi orang tua akan memengaruhi perkembangan dan prestasi anak di masa depan (Zuhdi dalam Haryanto and Rizqi, 2. Pola asuh ramah otak ini akan membuat anak merasa diterima oleh lingkungannya. Orang tua perlu mengenali kinerja otak sebelum menentukan pola asuh yang akan diterapkan. Melalui pemberian stimulasi sesuai potensi anak, anak diberi kebebasan menyalurkan kreatifitas, imajinasi, bakat, potensi, dan minatnya. Otak berfungsi untuk belajar dan menyimpan pengalaman pembelajaran yang pernah terjadi. Optimalisasi fungsi otak dalam pengasuhan akan memaksimalkan fungsi otak anak sehingga anak dapat menjawab tantangan hidupnya di masa mendatang melalui kemampuan berpikir tingkat Otak berfungsi sebagai pusat kecerdasan dengan fungsi untuk berpikir, mengontrol emosi, serta mengoordinasikan aktivitas tubuh. Pemahaman terhadap kerja otak akan membantu kita dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Otak mulai berkembang secara bertahap dari tabung panjang hingga menjadi kelompok sel bulat sejak 2 minggu terjadi pembuahan. Setelah 9 bulan, bayi lahir dengan otak yang sempurna dan 100 milyar sistem syaraf . Jumlah neurons ini hampir keseluruhan jumlah yang akan dimiliki individu sepanjang hidupnya. Namun, jalinan antarneurons masih harus dikuatkan agar sel-sel tersebut tidak mati (Papalia. Old, & Feldman, dalam Damayanti. Rasmani and Syamsuddin, 2. Seiring perkembangan anak, hubungan antarsel syaraf dan proses mielinasi akan terus berlangsung dimana 1 sel syaraf otak dapat berhubungan dengan 10, 100, atau bahkan 20. 000 sel syaraf lainnya (Mutiah dalam Manik et al. , 2. Dengan demikian, pola asuh yang memperkuat jaringan antarsel syaraf menjadi hal penting untuk diperhatikan. Pola asuh yang tidak sejalan dengan kerja otak berpotensi untuk memutuskan hubungan antarsel. Hal ini pada akhirnya akan menjadikan koneksi otak akan semakin sempit. Penerapan brain-based parenting bagi anak usia dini dapat dilakukan dengan tiga strategi, yaitu: . menciptakan lingkungan pengasuhan yang memfasilitasi kemampuan berpikir mulai dari proses pemerolehan pengetahuan hingga evaluasi. membentuk lingkungan pengasuhan yang menyenangkan. menciptakan pola pengasuhan yang menstimulasi anak melalui berbagai aktivitas dengan pelibatan seluruh anggota tubuh (Nikmah, 2. Aktivitas yang diciptakan melalui brain-based parenting melibatkan instruksi yang disesuaikan juga dengan cara kerja otak. Penggunaan kata-kata kasar atau konotasi negatif akan mendorong anak mereplika tuturan orang tua. Hal inilah yang Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas menjadi salah satu penyebab munculnya generasi cemas dengan berbagai tuturannya yang mengkhawatirkan. Pentingnya pemilihan pola asuh menjadi peran penting penjaminan kualitas generasi penerus bangsa. Munculnya tagar Generasi Cemas sebagai sarkasme dari Generasi Emas menjadi alarm bahwa kita tidak sedang baik-baik saja. Permasalahan pengetahuan pola asuh juga menjadi kendala bagi orang tua siswa BKB PAUD Flamboyan. BKB PAUD Flamboyan beralamat di Jl. Hj. Taiman Barat Rt. 05/02. Gedong. Kecamatan Pasar Rebo. Jakarta Timur. DKI Jakarta. Saat ini. BKB PAUD Flamboyan memiliki 2 orang guru dengan 16 siswa. Rerata usia orang tua siswa berada pada rentang 30-38 tahun dengan tingkat pendidikan SLTA. Minimnya pengetahuan orang tua BKB PAUD Flamboyan mengenai pola asuh ramah otak yang dapat memaksimalkan potensi anak, edukasi mengenai brain-based parenting sebagai antisipasi generasi Indonesia cemas menjadi hal penting untuk Untuk itu, solusi yang ditawarkan berupa edukasi melalui diskusi dan Melalui kegiatan ini diharapkan mitra memeroleh pengetahuan yang komprehensif mengenai peran pendidikan tinggi, terutama perguruan tinggi. Tim meyakini bahwa solusi permasalahan mitra berupa edukasi merupakan solusi Hal ini sejalan dengan penelitian Ismi . yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara pemahaman dengan kesadaran mengikuti kegiatan Posyandu. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya. Jika seseorang memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai satu persoalan, tindakan yang dihasilkan akan mengikuti pemahaman tersebut. Target yang akan dicapai dari kegiatan pengabdian masyarakat yang berkaitan edukasi pentingnya peran perguruan tinggi dalam pembentukan generasi emas adalah adanya peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh brain-based parenting. Perubahan tersebut akan diukur menggunakan angket terbuka sesudah kegiatan. Berdasarkan uraian di atas, tim pelaksana tertarik untuk melakukan Iptek bagi Masyarakat pada orang tua BKB PAUD Flamboyan berupa Edukasi Brain-based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB PAUD Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas. METODE Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua BKB PAUD Flamboyan mengenai pola asuh yang ramah otak melalui Brain-based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB PAUD Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas. Metode pendekatan dan penerapan IPTEK yang digunakan tim berupa penyadaran/ peningkatan pemahaman terhadap suatu masalah melalui ceramah dan diskusi secara Berikut ini adalah alur metode pelaksanaan kegiatan: Observasi Perumusa n Masalah Pelaksanaan Program Evaluasi Diagram 1 Tahapan Kegiatan Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas Partisipasi mitra dalam kegiatan ini berupa penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan. Mitra juga secara aktif mengundang dan memberikan penjelasan awal mengenai pentingnya pelaksanaan kegiatan ini kepada seluruh orang tua siswa. Mitra secara aktif menyebar angket untuk menganalisis pemahaman orang tua mengenai pola asuh brain-based parenting. HASIL Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 5 Desember 2024, pukul 08. 00, berlokasi di BKB PAUD Flamboyan. Realisasi kegiatan ini diikuti oleh 8 orang tua siswa dan 3 orang pengurus BKB PAUD Flamboyan. Gedong. Gambar 1 Dokumentasi Kegiatan PEMBAHASAN Pemaparan Teoritis Pola Asuh Brain-Based Brain based parenting atau pola asuh ramah otak atau neuroparenting adalah pengasuhan anak berbasis kinerja otak dimana emosi orang tua akan memengaruhi perkembangan dan prestasi anak di masa depan (Zuhdi dalam Haryanto and Rizqi, 2. Pola asuh ramah otak ini akan membuat anak merasa diterima oleh lingkungannya. Orang tua perlu mengenali kinerja otak sebelum menentukan pola asuh yang akan diterapkan. Melalui pemberian stimulasi sesuai potensi anak, anak diberi kebebasan menyalurkan kreatifitas, imajinasi, bakat, potensi, dan minatnya. Penerapan brain-based parenting bagi anak usia dini dapat dilakukan dengan tiga strategi, yaitu: . menciptakan lingkungan pengasuhan yang memfasilitasi kemampuan berpikir mulai dari proses pemerolehan pengetahuan hingga evaluasi. membentuk lingkungan pengasuhan yang menyenangkan. menciptakan pola pengasuhan yang menstimulasi anak melalui berbagai aktivitas dengan pelibatan seluruh anggota tubuh (Nikmah, 2. Aktivitas yang diciptakan melalui brain-based parenting melibatkan instruksi yang disesuaikan juga dengan cara kerja otak. Metode pengasuhan yang dapat diterapkan bersama dengan brain-based parenting adalah pengasuhan dengan 5 konsep, yaitu responding, preventing, monitoring, mentoring, dan modelling atau yang dikenal dengan RPM3 (Rahmayanti, 2. Konsep responding adalah bagaimana orang tua merespon secara tepat apa yang ditanyakan oleh Pertanyaan anak apapun bentuknya tidak boleh diabaikan karena melalui bertanya sang anak sedang mencoba mengenali dunia. Respon orang tua yang kurang atau berlebihan akan menjadikan gambaran anak mengenai dunia menjadi bias. Konsep berikutnya adalah preventing berupa pengawasan dan pencegahan anak agar tidak Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas berbuat negatif. Orang tua perlu untuk menggunakan kata yang tepat dalam menjalankan fungsi pengawasan atau melakukan pencegahan. Pencegahan dengan kata negatif cenderung mendorong anak untuk mencoba hal yang dilarang. Konsep monitoring merupakan konsep pengawasan orang tua dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pada tahap ini, orang tua diharapkan tidak terlalu banyak menginterupsi saat anak berinteraksi di lingkungan. Fase mentoring merupakan tahapan dimana orang tua secara aktif mendampingi dan mengarahkan anak pada tindakan yang positif. Konsep terakhir dari metode pengasuhan adalah modelling. Modelling merupakan cara orang tua memberikan tauladan yang baik bagi anak. Tauladan yang diberikan orang bukan hanya tindakan tapi juga mulai dari tutur kata saat berinteraksi sebagai representasi berpikir. Kelima konsep pengasuhan ini perlu disesuaikan dengan kerja otak anak agar nilai-nilai baik yang ditanamkan dapat diterima secara optimal oleh anak. Generasi Emas Tahun 2045, ketika Indonesia genap 100. Indonesia diprediksi akan mendapatkan bobus demografi yang jika tidak dikelola dengan tepat akan membawa kesulitan di masa 70% masyarakat Indonesia akan terdiri dari kelompok masyarakat dari golongan usia produktif 15-64 tahun. Pengelolaan yang tepat diharapkan menjadikan momen ini untuk memajukan Indonesia dari berbagai aspek melalui persiapan generasi Indonesia sebagai generasi emas. Generasi Emas adalah generasi yang diharapkan dapat menjawab tantangan pembelajaran abad 21(Julia. IsrokAoatun, & Safari, 2. Ungkapan ini menyatakan harapan agar generasi penerus merupakan generasi yang memiliki kecerdasan holistik, intelektual, emosional, dan keseimbangan spiritual. Dengan demikian, generasi emas tidak hanya mengandalkan rasionalitas dalam menjawab tantangan tetapi juga mencari kebermaknaan dari setiap kejadian dengan mengorelasikan seluruh nilai-nilai yang diyakininya. Dalam mempersiapkan generasi emas ini bukanlah tugas yang mudah. Tripusat pendidikan yang meliputi lingkungan rumah, masyarakat, dan sekolah hendaknya bersinergi dalam mempersiapkan generasi penerus yang memiliki keterampilan abad 21 sebagai respon terhadap perkembangan dan perubahan teknologi, terutama teknologi Keterampilan tersebut meliputi keseimbangan antara hard dan soft skill. ATCS (Assesment and Teaching for 21st century skil. menggolongkan 4 hal pokok berkaitan dengan kecakapan abad 21, yaitu cara berpikir, cara bekerja, alat kerja, serta kecakapan Cara berpikir meliputi kreativitas, berpikir kritis, berfokus pada pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan belajar. Sedangkan cara bekerja yang digunakan adalah komunikasi dan kolaborasi. Alat yang digunakan untuk bekerja adalah ICT (Information Communication Technolog. dan literasi informasi. Cakupan kecakapan hidup adalah kewarganegaraan, tanggung jawab pribadi dan sosial, serta kehidupan dan karir (Widaningsih, 2. Visi Indonesia 2045 adalah menjadi negara maju dengan PDB terbesar kelima di dunia yang membutuhkan sokongan SDM dengan pengetahuan dan kemampuan bersaing di tingkat internasional. Paradigma pembelajaran modern bukan hanya menekankan pada teori semata melainkan aktifitas praktik yang memungkinkan pembelajar dapat merasakan tantangan dan manfaat pembelajaran secara langsung. Para pembelajar juga diberi keleluasaan dalam mengolah serta mengidentifikasi muatan pembelajaran dengan lebih bermakna. Muatan pembelajaran abad 21 memuat 4 kompetensi dasar, yaitu Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas critical thinking. Keterampilan ini diajarkan melalui pembelajaran guna menjawab tantangan hidup abad 21. Generasi emas merupakan generasi yang memiliki kepribadian ideal dengan ciriciri, sebagai berikut (Hermawan, 2. : Sikap Positif, pola pikir esensial, komitmen normatif, dan kompetensi abilitas. Sikap positif merupakan representasi dari pemikiran positif yang melahirkan Sikap positif terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tingkat pemahaman, perbuatan, dan kebiasaan. Pola asuh yang tepat akan mampu membangunkan sikap positf anak sehingga sikap positif akan menjadi karakter anak. Pola pikir esensial yaitu cara berpikir secara sistematik dan komprehensif. Dengan demikian, generasi emas yang pola pikir esensial tidak hanya bertindak secara reaktif dan spontan tetapi sebuah tindakan yang dipikirkan secara sistematik dan menyeluruh. Generasi emas memiliki komitmen normatif yang bukan berdasarkan keterpaksaan melainkan sebuah komitmen yang lahir dari kesadaran akan jati dirinya. Kompetensi abilitas merupakan kemampuan ini meliputi kemampuan dalam pemikiran, penerapan, serta memahami esensi dari setiap tindakan yang dilakukannya. Berdasarkan pengertian dan ciri generasi emas yang disebutkan di atas, pembentukan generasi emas menjadi tanggung jawab kita semua. Pendidikan menjadi saluran persiapan generasi mendatang untuk menjadi generasi emas. Pendidikan yang menyesuaikan kerja otak akan mampu mengoptimalkan kompetensi yang dimiliki tiap Karena pendidikan utama dimulai dari keluarga, orang tua perlu untuk memperlengkapi dirinya dengan pola asuh yang ramah otak. Abai terhadap pola asuh dapat berdampak pada mental dan fisik anak. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada karakter yang terbentuk pada anak. Tim melakukan pengukuran pengetahuan mitra terhadap pola asuh dan pola asuh yang sudah diterapkan sesudah kegiatan untuk melihat dampak dari kegiatan yang Tim melakukan angket terbuka secara luring terhadap 8 responden yang merupakan orang tua siswa BKB PAUD Flamboyan untuk mengukur pemahaman mitra mengenai parenting. Dari 8 orang tua murid, 6 orang yang mengisi lengkap. Hal ini disebabkan 2 orang peserta merupakan nenek dari peserta didik sehingga memiliki kesulitan dalam menulis. Tim menggunakan angket terbuka terstandardisasi yang dimodifikasi berisi 10 Jawaban responden kemudian dianalisis untuk dideskripsikan. Berikut uraian pengisian angket oleh responden: Apa yang Ibu ketahui mengenai pola asuh? Hasil angket menunjukkan 3 responden menjawab bahwa inti dari pengasuhan adalah mendidik, 2 orang berpendapat pola asuh berkaitan dengan kasih sayang, dan 1 orang tidak menjawab. Hal ini menunjukkan jika 50% orang tua siswa memiliki pemahaman bahwa persoalan pola asuh berkaitan dengan proses mendidik. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkap oleh Gunarsa . alam Aslan, 2. bahwa pola asuh orang tua adalah gambaran nyata yang diterapkan orang tua dalam merawat, menjaga, dan mendidik anak. Adapun orang tua yang beranggapan bahwa pola asuh berkaitan dengan kasih sayang, hal ini tidak sepenuhnya keliru karena inti dari mengasuh adalah memberikan kasih sayang. Hal ini Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas sejalan dengan pendapat Rozana. Wahid, & Muali . bahwa pola asuh merupakan cara orang tua untuk melindungi dan membimbing anak menuju kehidupan barunya, memberikan cinta, perhatian, dan nilai-nilai keyakinan sebagai panduan untuk berbaur dalam kehidupan masyarakatnya sebagai sebuah tujuan akhir. Dengan demikian menjadi jelas bahwa kasih sayang diberikan hendaknya didasari oleh nilai-nilai keyakinan sebagai Apa yang Ibu ketahui mengenai pola asuh dengan pendekatan berbasis otak? Secara umum, 88% responden menyatakan bahwa pola asuh berbasis otak artinya membimbing anak sesuai dengan kapasitas mereka baik secara umur maupun kemampuan mereka. Responden juga menyatakan jika pola asuh ini memberikan stimulasi anak secara berulang dan perlahan. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum responden memahami inti dari pola asuh berbasis otak. Pendapat ini sejalan dengan yang diungkap oleh Nikmah . bahwa pola asuh berbasis otak dilakukan dengan: . menciptakan lingkungan pengasuhan yang memfasilitasi kemampuan berpikir mulai dari proses pemerolehan pengetahuan hingga evaluasi. membentuk lingkungan pengasuhan yang menyenangkan. menciptakan pola pengasuhan yang menstimulasi anak melalui berbagai aktivitas dengan pelibatan seluruh anggota tubuh. Apa yang Ibu lakukan jika anak mendapat nilai kurang pada salah satu mata Hasil angket menunjukkan bahwa 50% orang tua siswa mengambil sikap dengan membimbing anak kembali di rumah untuk mengulang kembali pelajaran. Namun, hal yang menarik justru terdapat 50% orang tua siswa yang justru menanyakan terlebih dahulu kendala anak sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan. Mereka berkomitmen untuk memberikan perhatian kepada anak agar ke depannya lebih baik. Hal ini sejalan dengan konsep mentoring dimana orang tua secara aktif mendampingi dan mengarahkan anak pada tindakan yang positif (Rahmayanti, 2. Apa yang Ibu lakukan apabila anak ingin bermain di luar saat jam belajar? Hasil angket menunjukkan 60 % responden memilih memberi pengertian anak agar tetap belajar, 17% responden membolehkan dengan mengganti jam belajar di waktu lain, dan 33% melarang. Sikap yang ditunjukkan mayoritas orang tua ini menggambarkan bahwa orang tua memahami pola asuh yang ramah otak dengan tidak menggunakan kata negatif dalam melarang. Tindakan pencegahan oleh orang tua perlu dilakukan dengan menggunakan kata yang tepat. Kata negatif cenderung akan memicu anak mencoba hal yang dilarang (Rahmayanti, 2. Apa yang Ibu lakukan ketika anak berlaku tidak sopan? Angket menunjukkan 50% responden memilih untuk menegur dan memberitahu anak untuk tidak melakukan hal yang tidak sopan tersebut. 50% responden lainnya memilih untuk memberikan contoh berperilaku sopan. Pola asuh ramah otak menerapkan pola modelling dimana orang tua harus menjadi role model bagi anakanaknya (Rahmayanti, 2. Hal ini berarti jika orang tua ingin anaknya berlaku baik Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas maka orang tua harus mencontohkan terlebih dahulu. Anak akan lebih cepat meniru tindakan dibandingkan dengan nasihat kata-kata. Apa yang Ibu lakukan saat anak melupakan pelajaran yang sudah diberikan? Hasil angket menunjukkan bahwa seluruh responden sepakat untuk memberikan dampingan mulai dari stimulasi, membacakan hingga menjelaskan ulang. Hal ini menunjukkan sikap orang tua dalam menerapkan strategi pola asuh ramah otak berupa mentoring dimana orang tua secara aktif mendampingi dan mengarahkan anak pada tindakan yang positif (Rahmayanti, 2. Apa yang Ibu lakukan saat melihat anak sedang kesulitan dalam mengerjakan tugas Data menunjukkan bahwa 67% responden memilih untuk mendampingi dalam belajar serta menemaninya saat belajar. Bantuan yang diberikan juga diatur sedemikian rupa agar anak tetap mandiri. 17% responden memilih untuk memberitahunya dan sisanya memutuskan untuk mengikutsertakan anak ke lembaga les. Mayoritas jawaban responden menunjukkan bahwa orang tua memilih fungsi pendampingan yang sesuai dengan fungsi otak berupa mentoring dimana orang tua secara aktif mendampingi dan mengarahkan anak pada tindakan yang positif (Rahmayanti, 2. Apa yang Ibu lakukan ketika anak memeroleh prestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah? Hasil angket menunjukkan 50% responden memilih untuk mengapresiasi dengan mengucapkan selamat dan memberikan pelukan. 33% responden memilih mengekspresikannya dengan jalan memberikan hadiah tetapi 17% responden memilih tidak mengekspresikan dalam bentuk ucapan atau hadiah. Mayoritas jawaban menunjukkan bahwa orang tua menerapkan opla asuh dengan memberikan respon yang sesuai dengan kondisi anak sehingga anak tidak merasa diabaikan (Rahmayanti, 2. Apresiasi terhadap keberhasilan anak merupakan respon positif yang akan membantu terciptanya kenyamanan anak dalam belajar. Apa yang Ibu lakukan saat anak melakukan kesalahan? Seluruh responden sepakat untuk menegur putra/putrinya ketika melakukan Adapun bentuk teguran yang dipilih oleh orang tua meliputi menegur dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti anak. Hal ini sejalan dengan strategi modelling yang merupakan cara orang tua memberikan tauladan yang baik bagi anak. Tauladan yang diberikan orang bukan hanya tindakan tapi juga mulai dari tutur kata saat berinteraksi sebagai representasi berpikir (Rahmayanti, 2. Apa yang Ibu lakukan saat melihat anak mengerjakan pekerjaan rumah sambil menonton TV? Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 Juni 2025 hlm. Zahra Shafa Aulia. Cyntia Alvionita. Erna Megawati. Priarti Megawanti. Maman Paturahman Brain-Based Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik BKB Paud Flamboyan Kelurahan Gedong sebagai Antisipasi Generasi Indonesia Cemas Hasil angket menunjukkan bahwa 50% responden memilih untuk memberikan teguran berupa pengertian bahwa belajar sambil menonton TV dapat mengakibatkan hasil belajar tidak maksimal. 50% orang tua lainnya memilih bersikap untuk mematikan TV dan meminta anak untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum menonton TV. Dua pendapat ini menunjukkan pola asuh yang berbeda. Namun, memberi pengertian pada anak akan lebih efektif karena anak cenderung mendengarkan pencegahan oleh orang tua yang dilakukan dengan menggunakan kata yang tepat. Kata negatif cenderung akan memicu anak mencoba hal yang dilarang (Rahmayanti, 2. Berdasarkan analisis dan interpretasi jawaban responden dengan menggunakan strategi brain-based parenting melalui RPM3 (Rahmayanti, 2. menunjukkan bahwa mayoritas responden menerapkan pola respon, preventing, modelling, mentoring, dan monitoring yang sejalan dengan kerja otak. Hasil ini sejalan dengan hasil Forum Informan Discussion dengan orang tua setelah kegiatan. Hasil diskusi menunjukkan bahwa orang tua antusias untuk menerapkan pola asuh ramah otak karena memahami dampak negatif ketika salah dalam mengasuh. Generasi emas yang dicita-citakan dapat berubah menjadi generasi cemas jika pola asuh tidak memaksimalkan potensi anak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan program ini berhasil. SIMPULAN Kegiatan edukasi tim kepada orang tua siswa BKB PAUD Flamboyan terbukti telah memberikan peningkatan pemahaman mitra tentang pentingnya pemahaman dan penerapan pola asuh ramah otak (Brain-based parentin. Kondisi awal mitra yang kurang memahami pentingnya pola asuh yang ramah otak mengalami perubahan setelah Tim memberikan edukasi mengenai pengertian pola asuh brain-based, metode yang diterapkan, dan dampak bila pola asuh tidak ramah otak. Orang tua juga merasa antusias untuk mulai menerapkan pola asuh pola asuh ramah otak karena memahami dampak negatif ketika salah dalam mengasuh. Hal ini ditunjukkan melalui pengukuran minat dengan menggunakan angket dan diskusi bersama mitra. UCAPAN TERIMA KASIH Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Universitas Indraprasta PGRI melalui LPPM. REFERENSI