Jurnal Kebidanan 11 . 105 - 223 Jurnal Kebidanan http : //w. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESIAPSIAGAAN REMAJA PADA KEJADIAN BENCANA DI SMP N 1 SELO KABUPATEN BOYOLALI Triani Yuliastanti . Novita Nurhidayati . Prodi S1 Kebidanan STIKes Estu Utomo, . Prodi D i Kebidanan STIKes Estu Utomo E-mail : trianieub@gmail. com, novita1259@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Bencana merupakan sebuah peristiwa fisik, fenomena atau aktivitas manusia yang memiliki potensi merusak yang menyebabkan kehilangan nyawa atau cedera, kerusakan harta benda, struktur. Tinggal di negara rawan bencana membuat masyarakat harus selalu siaga dalam menghadapi bencana. SMP Negeri 1 Selo adalah salah satu SMP yang terkena dampak erupsi Merapi tahun 2010. SMP ini berada di Kecamatan Selo, jarak sekolah ini sekitar 10km dari puncak Merapi. Saat erupsi Merapi tahun 2010 sekitar 600 siswa dan guru mengungsi karena adanya gempa, hujan abu vulkanik dan lahar panas yang turun dari puncak. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kesiapsiagaan remaja pada kejadian bencana di SMP N 1 Selo Kabupaten Boyolali. Metode Penelitian : Desain penelitian ini merupakan penelitian survei yang sifatnya deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi dan IX yang berjumlah 311 murid di SMP Negeri 1 Selo. Sampel menggunakan rumus sampel dengan jumlah 76 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Proportionate Stratified Random Sampel. Instrumen penelitian adalah Pengolahan data menggunakan analisa data chi Square. Hasil Penelitian : Responden dalam penelitian ini sebagian besar berumur 15 tahun yaitu 33 responden . ,7%), mayoritas memiliki jenis kelamin perempuan dan sebagian besar responden kelas IX. Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana mayoritas responden siap dalam menghadapi bencana yaitu 57 responden . ,0%). Ada hubunganantara umur dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan p value =0,000 (=0,. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan p value =0,015 (=0,. Ada hubung anantara kelas dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan p value =0,001 (=0,. Kesimpulan: Ada hubungan umur, jenis kelamin dan kelas dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Kata kunci : Umur. Jenis kelamin. Kelas. Kesiapsiagaan menghadapi bencana FACTORS RELATING TO PREPAREDNESS TEENAGERS IN A DISASTER IN JUNIOR HIGH SCHOOL 1 SELO BOYOLALI DISTRICT ABSTRACT Background: A disaster is a physical event, phenomenon or human activity that has the potential to damage it causing loss of life or injury, damage to property, structures. Living in a disasterprone country means that people must always be prepared in the face of disasters. SMP Negeri 1 Selo is one of the junior high schools affected by the Merapi eruption in 2010. This junior high school is located in Selo District, the distance of this school is about 10 km from the peak of Merapi. During the eruption of Merapi in 2010, around 600 students and teachers were displaced due to the earthquake, rain of volcanic ash and hot lava that fell from the summit. Research Objectives: To determine the factors related to the preparedness of adolescents in the event of a disaster in SMP N 1 Selo. Boyolali Regency. Methods: This research design is a survey research which is descriptive analytic with cross-sectional approach. The population in this study were students of class Vi and IX, amounting to 311 students at SMP Negeri 1 Selo. The sample used a sample formula with a total of 76 respondents. The sampling technique in this study was the Proportionate Stratified Random Sample. The research instrument was a questionnaire. Data processing using chi Square data analysis. Results: Most of the respondents in this study were 15 years old, namely 33 respondents . 7%), the majority were female and most of the respondents were class IX. Preparedness in facing disasters, the majority of respondents were ready to face disasters, namely 57 respondents . 0%). There is a relationship between age and disaster preparedness with p value = 0. 000 ( = 0. There is a relationship between gender and disaster preparedness with p value = 0. 015 ( = 0. There is a relationship between classes and preparedness in facing disasters with p value = 0. 001 ( = 0. Conclusion: There is a relationship between age, sex and class with disaster preparedness. Key words: Age, gender, class, disaster preparedness Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 PENDAHULUAN Sendai Framework for Disaster Banyak Risk Reduction 2015-2030 menjelaskan bencana merupakan sebuah peristiwa fisik, fenomena atau aktivitas manusia yang memiliki potensi merusak yang Untuk mengembalikan keceriaan dan menyebabkan kehilangan nyawa atau menghilangkan trauma akibat bencana cedera, kerusakan harta benda, struktur. tersebut, maka disekitar pengungsian di Bencana bisa meliputi kondisi laten buka sekolah darurat, aktivitas di yang mewakili ancaman dimasa datang dan bisa berasal dari sumber berbeda: permainan saja agar anak-anak tidak alami . eologi, hidrometerologi, dan berasa bosan dan sedih akibat bencana biolog. atau disebabkan oleh manusia tersebut (Kumaki, 2. Gempa di . egradasi Anak-anak Nepal tahun 2015 dengan kekuatan gempa 7,3 SR menewaskan 7200 orang dalam waktu yang tidak diduga-duga dan mengakibakan banyak bangunan dan dapat terjadi dimana saja dan dapat yang rusak, sekurang-kurangnya 2juta terjadi pada siapa saja. Berbagai macam orang kehilangan tempat tinggal. Dari ancaman bencana, baik alam. Bencana alam, maupun sosial dapat dijumpai diantaranya ada beberapa bangunan Indonesia. Upaya penanggulangan bencana dimaksudkan fasilitas sekolah seperti ruang kelas, meminimalisir dampaknya, sehingga alat-alat sekolah dan fasilitas-fasilias sekolah yang rusak. (Malla et. atau permukiman bertambah aman dan nyaman dari kejadian bencana. Indonesia merupakan negara Peristiwa tsunami di Jepang tahun 2011 telah menewaskan 15. bencana tinggi, berbagai bencana alam orang, 5. 363 orang terluka dan 8. mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah bangunan rusak akibat peristiwa yang longsor, kekeringan, dan kebakaran terjadi tersebut, termasuk bangunan terletak di daerah khatulistiwa dan bencana tersebut. berada pada koordinat 950BT-1410BT Fasilitas yang hancur akibat Sebanyak Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Secara Indonesia dan 60LU-110LS dengan morfologi Bencana dapat mengakibatkan beragam dari daratan sampai masyarakat menjadi korban, terutama pegunungan tinggi. Letak Indonesia bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lansia dan penyandang cacat. Dalam Indonesia Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 23 Tahun 2002 memandatkan penghujan dan kemarau dengan jelas. Selain perlindungan secara khusus bagi anak- itu letak Indonesia diantara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia, kompeten dan peduli untuk menjamin geologi, yang disebabkan karena posisi pemenuhan kebutuhan pendidikan dan Indonesia terletak pada pertemuan 3 perlindungan khusus tersebut. Dalam . lempeng tektonik dunia yaitu: Lempeng Hindia-Australia di sebelah penanggulangan bencana di Indonesia, selatan. Lempeng Eurasia di sebelah sekolah sebagai ruang publik memiliki barat dan Lempeng Pasifik di sebelah Batas-batas lempeng tersebut ketahanan masyarakat. Sekolah sebagai merupakan rangkaian gunung api dunia, sarana pendidikan memiliki tanggung Pacific Samudera pihak-pihak lembaga-lembaga kegiatan belajar mengajar. Sekolah Indonesia secara sadar dan terencana melakukan bertemu dengan rangkaian Mediteran upaya mewujudkan suasana belajar dan yang membentuk gunung-gunung api di proses pembelajaran agar peserta didik Sumatera. Jawa dan Nusa Tenggara. secara aktif mengembangkan potensi Sehingga wilayah Indonesia berpotensi Dalam hal ini sekolah tetap mengalami gempa dan gunung meletus, terpercaya sebagai wahana efektif untuk gunung api membangun budaya bangsa, termasuk Fire. Rangkaian Ring Pasifik Maka, yang sampai saat ini masih aktif dan akhir-akhir ini meletus Gunung bencana warga negara, yakni secara Sinabung (Sumatera Utar. Gunung khusus kepada anak/murid, pendidik. Merapi (Jawa Tenga. Gunung Bromo (Jawa Timu. , dan Gunung Kelud (Jawa pemangku kepentingan lainnya, dan Timu. (BNPB, 2. secara umum kepada masyarakat luas. Indonesia Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Tinggal dan melatih keterampilan yang tepat bencana membuat masyarakat harus untuk menyelamatkan diri saat terjadi Salah SMP Negeri 1 Selo adalah salah satu SMP yang terkena dampak bangsa dalam menghadapi bencana erupsi Merapi tahun 2010. SMP ini adalah dengan cara membentuk sekolah berada di Kecamatan Selo Kabupaten siaga bencana. Dalam Peraturan Kepala Boyolali, jarak sekolah ini sekitar 10 Badan Penanggulangan km dari puncak Merapi. Saat erupsi Bencana (BNPB) No. 04 Tahun 2012. Merapi tahun 2010 sekitar 600 siswa dan guru mengungsi karena adanya sebagai Sekolah atau Madrasah Aman, hujan abu vulkanik dan lahar panas yang turun dari puncak. Merapi Nasional . pengetahuan dan sikap, . kebijakan sekolah/madrasah, . kesiapsiagaan dan . sistem peringatan dini dan . mobilisasi sumber daya. Parameter pedoman bagi masyarakat luas dalam Dampak yang ditimbulkan membentuk dan menerapkan sekolah siaga bencana di seluruh Indonesia. menciptakan keresahan yang cukup BNPB Hal ini dapat dilihat pada anak- Merapi Merapi, mendampingi pelaksanaan penerapan mengalami luka psikis yang dalam Sekolah atau Madrasah Aman dari karena sulit menerima kenyataan bahwa Untuk rencana tindak teman, saudara, guru maupun tetangga lanjut, fasilitator yang sudah dilatih yang mereka kenal sudah meninggal karena terkena letusan Merapi. Bencana BPBD daerah masing-masing untuk merapi membuat anak-anak menjadi mempersiapkan pelatihan - pelatihan kurang semangat untuk belajar. Tahun di sekolah-sekolah. 2017, sekitar 40 siswa dan beberapa Program ini diadakan oleh BNPB guna guru SMP N 1 Selo mengikuti pelatihan Sekolah Siaga Bencana (SSB) dan risiko bencana Palang Merah Remaja (PMR) yang bencana, pengurangan Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 diselenggarakan oleh PMI di Lapangan METODE Selo Boyolali. Desain Kerangka Kerja Sekolah digunakan dalam penelitian ini adalah Siaga Bencana . menyebutkan, sekolah siaga bencana adalah sekolah sifatnya deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi Kemampuan tersebut adalah siswa kelas Vi yang berjumlah diukur dengan dimilikinya perencanaan 145 murid, dan IX yang berjumlah 166 murid di SMP Negeri 1 Selo. Jumlah . ebelum, saat dan sesudah bencan. , ketersediaan logistik, keamanan dan kenyamanan di lingkungan pendidikan, infrastruktur, menggunakan rumus Slovin. Jumlah menjadi 76 siswa Teknik didukung oleh adanya pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan, prosedur teknik Proportionate Stratified Random tetap . tandard operationalprocedur. Sampel kelas IX. menggunakan kuesioner, faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah Kemampuan yaitu 35 kelas Vi dan 41 Instrument penelitian regular dengan kerja bersama berbagai pihak terkait yang dilembagakan dalam Kesiapan menghadapi bencana siswa kebijakan lembaga pendidikan tersebut Pengetahuan untuk mentransformasikan pengetahuan Rencana Tanggap dan praktik penanggulangan bencana Peringatan Dini dan pengurangan risiko bencana kepada Sumberdaya. Dikategorikan siap bila nilai 50-100 dan tidak siap jika <50. Analisis data dilakukan dengan Chi Berdasarkan Sikap. Darurat. Sistim Mobilisasi Square. fenomena di SMP Negeri 1 Selo, maka tertarik melakukan penelitian tentang Faktor Yang Berhubungan HASIL DAN PEMBAHASAN Umur, jenis kelamin, kelas dan Dengan Kesiapsiagaan Remaja Pada Kejadian Bencana Di SMP N 1 bencanasiswa SMP Negeri 1 Selo dapat Selo Kabupaten Boyolali. dilihat dalam tabel berikut : Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Umur, jenis kelamin, kelas dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencanasiswa SMP Negeri 1 Selo Tahun 2019 . Variabel Kategori Frekuensi Persentase (%) Umur 13 tahun 14 tahun 15 tahun Laki-laki Perempuan Vi Tidak Siap Siap Jenis kelamin Kelas Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Tabel 1 menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan dari 76 responden sebagian besar bahwa mayoritas responden memiliki berumur 15 tahun yaitu 33 responden ,7%), ,5%). Penelitan . ,8%) berumur 13 tahun yaitu 12 responden responden kelas IX yaitu41 responden . ,8%). Umur seseorang berpengaruh . ,9%), dan sisanya 35 responden terhadap tingkat kematangan dalam . ,1%) kelas Vi. Responden yang duduk di kelas IX seharusnya memiliki semakin tua umur semakin matang dan pengetahuan yang lebih baik dan umur Hasil yang lebih tua dibandingkan responden penelitian menunjukkan siswa yang pada kelasVi dan seharusnya lebih memiliki umur dalam kategori remaja siap dalam menghadapi bencana. dimana masa seseorang yang memiliki Kesiapsiagaan mengetahui jati dirinya. Sesuai dengan penelitiansebagian besar siap dalam WHO . bahwa Remaja adalah responden . ,0%). Responden tersebut angsur mencapai kematangan seksual, memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dan masa peralihan yang secara berangsur perubahan mengerti tentang rencana jiwa kanak-kanak menjadi dewasa, perubahan keadaan ekonomi dari ketergantugan menjadi relatif mandiri. Kesiapan siswa dalam menghadapi Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 bencana kebencanaan untuk diterapkan dalam Emalia . dipengaruhi oleh factor kehidupan bermasyarakat. Pengetahuan adalah faktor yang sangat penting perasaan siswa, tindakan siswa dan untuk kesiapsiagaan suatu komunitas tanggungjawab siswa. Dalam penelitian Bencana yang sering terjadi ketidaksiapan siswa dalam menghadapi bencana pada karakteristik umur dan akan pentingnya pengetahuan kelas adalah parameter rencana tanggap tentang bencana yang harus dimiliki darurat dan mobilisasi sumberdaya. oleh setiap individu terutama yang Hasil penelitian menunjukkan di daerah yang rawan bencana. bahwa 19 responden . ,0%) tidak siap pengetahuan bencana yang dimiliki menghadapi bencana. Ketidaksiapan menghadapi bencana pada siswa sangat kepedulian untuk siap siaga dalam kurangnya pengetahuan siswa. United UNESCO/ISDR. Nation Regional Emami siswa dapat belajar dan memahami . teori-teori tentang kebencanaan dan Muhammadiyah Trisigan Murtigading Sanden Center Development . Bantul (LIPI- Hal kesiapsiaggan siswa dalam kategori baik yaitu 56,1%. Hubungan antara umur, jenis kelamin, kelas dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana SMP Negeri 1 Selo dapat dilihat dari hasil analisis sebagai berikut : Tabel 2. Hasil Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesiapsiagaan Remaja Pada Kejadian Bencana Di SMP N 1 Selo Kabupaten Boyolali Tahun 2019 . Variabel Kategori Umur 13 tahun 14 tahun 15 tahun Laki-laki Perempuan Vi Jenis kelamin Kelas Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana Tidak siap Siap Total P-value 0,000 0,015 0,001 Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Hubungan Kesiapsiagaan Umur Kesiapansiagaan Dalam Menghadapi Menghadapi Bencana tersebut dapat Bencana. Hasil analisis lebih lanjut diperoleh dari pengalaman sebelumnya didapatkan bahwa responden dengan saat terjadi bencana, penyuluhan di sekolah atau dari orang tua dan tidak siap dalam Hal diatas sesuai dengan Dalam Dengan siap,siswa yang menghadapi bencana yaitu sebanyak (LIPI-UNESCO/ISDR) . ,2%), dengan umur 14 tahun sebagian besar kesiapsiagaan bencana yaitu individu ,6%) komunitas sekolah. Ketiga stakeholders danresponden dengan umur 15 tahun ini memegang peran yang sangat sebagian besar juga siap mengalami bencana yaitu 31 responden . ,8%). Hasil analisis selanjutnya dengan uji chi Hasil square diperoleh p-value 0,000. Oleh menunjukkan bahwa masih terdapat karena p-value = 0,000 < . , 2 siswa dengan umur 15 tahun tidak Correlation Coefficient Hasil didapatkan nilai 0,520. hal ini dikarena bukan hanya umur kesiapan menghadapi bencana terdapat siswa, sikap siswa, perasaan siswa, tindakan siswa dan tanggungjawab menghadapi bencana dimana siswa siswa (Emalia, 2. Penelitian ini dilakukan pada remaja yang masih Siswa yang siap menghadapi bencana sudah memiliki pengetahuan dan sikap tanggung jawab yang kurang. Remaja yang baik dan mengerti tentang rencana adalah individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur- peringatan dini dan memiliki mobilisasi angsur mencapai kematangan seksual, sumberdaya yang baik dimana umur mengalami perubahan jiwa dari jiwa yang semakin tua, pengalaman yang kanak-kanak dimiliki semakin bertambah. faktor lain seperti faktor pengetahuan Siswa di SMP Negeri 1 Selo Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 ekonomi dari ketergantugan menjadi selain itu perempuan biasanya lebih relatif mandiri (WHO, 2. penakut sehingga tidak siap dalam Hubungan Dengan Jenis Kesiapsiagaan Dalam menghadapi bencana. Hubungan Kelas Menghadapi Bencana. Hasil analisis Kesiapsiagaan Bencana. Hasil analisis lebih lanjut respondenlaki-laki sebagian besar siap didapatkan bahwa respondenyang kelas dalam menghadapi bencana yaitu 27 responden . ,5%), responden dengan responden . ,7%), responden dengan besar siap dalam menghadapi bencana kelas Vi sebagian besar siap dalam yaitu 30 responden . ,5%). Hasil analisis selanjutnya dengan uji chi squarediperoleh p-value 0,015. Oleh selanjutnya dengan uji chi square karena p-value = 0,015< . , diperoleh p-value 0,001. Oleh karena p- . ,3%). Hasil value = 0,001< . , disimpulkan bahwa ada hubungan antara kelas Hasil Correlation Coefficient didapatkan nilai 0,269. Hasil Correlation Coefficient didapatkan nilai Siswa di SMP Negeri 1 Selo Menghadapi Dalam Dengan 0,356. Penelitian menghadapi bencana baik responden bahwa siswa kelas IX lebih banyak laki-laki atau perempuan. Hal ini dapat dibandingkan siswa kelas Vi, hal ini dikarenakan siswa kelas IX memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan Meskipun adik kelasnya. Hasil penelitian ini ini sesuai dengan penelitian sebelumnya banyak dari siswa laki-laki hal ini yang dilakukan oleh Firmansyah . dikarenakan perempuan lebih lemah dengan hasil penelitian ada hubungan dibandingkan dengan anak laki-laki. Sehingga membutuhkan bantuan dibanding laki- bencanabanjir dan longsor pada remaja laki terutama saat menghadapi bencana, usia 15-18 tahun di SMA Al-Hasan Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Kesiapsiagaan Jember. (P value = 0,000, = 0,. Hasil penelitian juga menunjukkan dalam menghadapi bencana yaitu 57 bahwa masih terdapat 4 siswa kelas IX responden . ,0%). Ada hubungan tidak siap dalam menghadapi bencana, hal ini dikarena bukan hanya umur dalam menghadapi bencana dengan p =0,000 (=0,. Ada kesiapan menghadapi bencana terdapat hubunganantara jenis kelamin dengan faktor lain seperti faktor pengetahuan siswa, sikap siswa, perasaan siswa, tindakan siswa dan tanggungjawab (=0,. Ada hubunganantara kelas siswa (Emalia, 2. Penelitian ini dilakukan pada remaja yang masih menghadapi bencana dengan p value remaja sehingga kadang memiliki rasa =0,001 (=0,. =0,015 tanggung jawab yang kurang. Remaja adalah seseorang yang sudah tidak DAFTAR PUSTAKA