GAMBARAN PENGGUNAAN RADIOFARMAKA DI INSTALASI KEDOKTERAN NUKLIR RSUD ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA Eddy Suharmanto1. Eka Siswanto Syamsul1. Supomo1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda Email : eka8382@gmail. ABSTRACT Radiopharmaceuticals used in health services in hospitals, especially for diagnostics and therapy, are closely related to the limited number of nuclear medicine facilities and the availability of radiopharmaceuticals in Indonesia. The purpose of this study was to provide an overview of the use of radiopharmaceuticals in diagnostic and therapeutic patients at the Nuclear Medicine Installation at Abdoel Wahab Sjahranie Hospital Samarinda during the 2018Ae2020 period, including proportions based on the number of patients, patient origin, gender, patient age, type of disease, type of examination, radionuclide and the pharmaceutical kit used. The study was conducted by descriptive observation, the sample was taken by total sampling using retrospective data on the medical records of patients who had undergone diagnostic and therapy in nuclear medicine installations. The results showed the highest number of diagnostic patients in 2019 was . 70%), the highest number of therapy patients occurred in 2020 many as . 11%), the number of female patients was more than male who underwent diagnostics and therapy each year, the city of Samarinda became the origin of the most patients who received diagnostics and therapy, adults . -58 years ol. who do the most diagnostics and therapy, clinical diagnosis of thyroid cancer is the type of disease that is most widely used for diagnostics and therapy, the type of examination of the whole body bone (Bone Sca. is the most widely performed compared to other examination each year, the use of technetium 99m radionuclide was the most widely used in 2019 as much . 62%), the use of iodine radionuclide 131 the most widely used in 2020 as much . 08%),the use of MDP pharmaceutical kits (Methylene Diphosphonat. was most widely usedfor diagnostics in nuclear medicine installations. Keywords : Radiopharmaceutical. Nuclear Medicine. RSUD Abdoel Wahab Sjahranie PENDAHULUAN Pelayanan kedokteran nuklir menurut KEPMENKES tentang Standar Pelayanan Kedokteran Nuklir Di Sarana Pelayanan Kesehatan tahun 2009 penunjang dan/atau terapi di bidang kesehatan yang memanfaatkan sumber radiasi terbuka dari disintegrasi inti radionuklida yang meliputi pelayanan in-vivo in-vitro melaluipemantauan proses fisiologi, internal. Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdiri pada tahun 2017 sekaligus merupakan Kedokteran Nuklir yang pertama di pulau Kalimantan Indonesia. Pelayanan kedokteran nuklir meliputi pelayanan diagnostik dan terapi, terhitung sejak Januari 2018 Instalasi Kedokteran Nuklir mulai dioperasikan. \Radiofarmaka Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Keselamatan Radiasi Dalam Kedokteran Nuklirialah bertanda radioaktif dan memenuhi digunakan dalam diagnostik, terapi, dan penelitian medik klinik. Radiofarmaka yang di padukan dengan teknik nuklir berperan dalam mengungkap berbagai kasus kelainan dan dalam memahami berbagai permasalahan fisiologi dan patofisiologi di bidang tiroidologi, nefro-urologi, pulmonologi, onkologi, kardiologi dan neuropsikiatri. Hambatan pelayanan kedokteran nuklir di Indonesia antara lain kualitas danketerjangkauan layanan, keberadaan layanan kedokteran nuklir terkonsentrasi di pulau Jawa, bahkan sebagian besar ada di Jakarta sehinggajumlah orang yang memiliki akses ke layanan ini sangat terbatas. Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda, tidak hanya bermanfaat bagi warga Kalimantan Timur, pasien berasal dari daerah lainnya seperti Banjarmasin. Makassar. Kendari dan Papua. Bahkan ada beberapa pasien justru datang dari Surabaya, mengingat masa antrean pasien di Pulau Jawa sangat lama. Masa tunggu hingga satu tahun, sementara di Samarinda masa tunggu pasien untuk layanan ini bisa lebih singkat sekitar satu bulan. Berdasarkan uraian di atas dan belum adanya penelitian sebelumnya yang dilakukan di rumah sakit Indonesia radiofarmaka di Instalasi Kedokteran Nuklir. Maka, penelitian ini bertujuan penggunaan radiofarmaka di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2018Ae2020. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Metode yang digunakan dalam retrospektif yaitu mempelajari kembali data rekam medik pasien yang ada di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda 2018Ae2020. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda pada bulan Januari-Mei Sebelum peneliti mengajukan uji etik penelitian yang telah diuji dan lolos etik dari Komite Etik Penelitian RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda dengan nomor 275/KEPK-AWS/II/2021. Pengumpulan Data Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang melakukan konsultasi, pemeriksaan diagnostik dan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien yang telah melakukan pemeriksaan diagnostik dan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Sampel diambil secara total sampling pada rekam medik yang termasuk dalam kriteria inklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien yang telah melakukan diagnostik dan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda pada periode 2018-2020. Kriteria eksklusipada penelitian ini yaitu pasien dengan hasil rekam medik yang tidak lengkap dan pasien yang batal melakukan diagnostik dan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Pengolahan Data Pengolahan Microsoft Exel 2016 untuk menyajikan data dalam bentuk tabel beserta narasi HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian penelitian non eksperimental dengan penggunaanradiofarmaka di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2018-2020 berdasarkan jumlah pasien, asal pasien, jenis kelamin, usia pasien, jenis penyakit, jenis pemeriksaan, radionuklida dan kit farmaka yang Distribusi Total Pasien Diagnostik dan Terapi Tabel 1. Distribusi total pasien diagnostik di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode tahun 2018-2020 Tahun Total Jumlah Pasien Berdasarkan tabel 1 menunjukkan jumlah total pasien yang melakukan diagnostik paling banyak pada tahun 2019 dengan persentase 42,70% dan Persentase (%) 19,00 42,70 38,30 100,00 paling rendah pada tahun 2018 dengan persentase 19,00%. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pasien pada tahun 2020 ialah adanya pandemi Covid-19 disejumlah wilayah Indonesia yang menyebabkan jumlah pasien diagnostik Jumlah peningkatan pasien diagnostik yang sangat signifikan dipengaruhi dari berbagai macam pelayanan diagnostik yang dapat dilakukan di Instalasi Kedokteran Nuklir mulai dari bidang penyakit tiroid, penyakit ginjal, sistem pencernaan, saluran pernafasan, kanker dan jantung Tabel 2. Distribusi total pasien terapi di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode tahun 2018-2020 Tahun Total Jumlah Pasien Berdasarkan tabel 2, menunjukkan distribusi jumlah total pasien terapi paling banyak ditahun 2020 dengan persentase 49,11% dan paling rendah di tahun 2018 dengan persentase 12,48%. Jenis tindakan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir untuk saat ini ditujukan bagi penderita hipertiroid dan kanker tiroid. Penggunaan radiofarmaka di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda cukup menunjukkan bahwa Persentase (%) 12,48 38,42 49,11 100,00 salah satu aspek keunggulan yang dimiliki cukup mumpuni di bidang ilmu kesehatan terkini dan terdepan. Sebagai rumah sakit rujukan terutama untuk wilayah tengah dan timur Indonesia, maka RSUD Abdoel Wahab Sjahranie menerima rujukan dari 4 provinsi yaitu Kalimantan Utara. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. Distribusi Pasien Diagnostik dan Terapi Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 3. Distribusi pasien diagnostik di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis kelamin periode tahun Tahun Jumlah Persentase (%) Pasien Laki- Perem Laki- Peremp 35,14 64,86 097 30,57 69,43 30,06 69,94 Berdasarkan tabel 3, menunjukkan distribusi pasien berjenis kelamin perempuan lebih banyak melakukan diagnostik dibandingkan pasien berjenis kelamin laki-laki, dengan perbandingan rata-rata persentase jumlah jenis kelamin perempuan sebanyak 68,08% dan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 31,92%. Tabel 4. Distribusi pasien terapi di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis kelamin periode tahun 2018-2020 Tahun Jumlah Pasien Persentase (%) Lakilaki Lakilaki 28,57 15,46 22,18 Berdasarkan tabel 4, menunjukkan distribusi pasien berjenis kelamin perempuan lebih banyak melakukan terapi dibandingkan pasien berjenis kelamin laki-laki, dengan perbandingan rata-rata persentase jumlah jenis kelamin perempuan sebanyak 77,93% dan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 22,07%. Distribusi pasien yang di dominasi oleh perempuan dilihat dari jumlah totalpasien diagnostik maupun terapi adalah dengan gangguantiroid yang paling banyak. Salah satu faktor pencetus penyakit gangguan tiroid, jenis kelamin perempuan lebih berisiko terjadi gangguan tiroid dibandingkan . laki-laki . Berdasarkan tabel 5 dan 6, menunjukkan distribusi pasien yang melakukan diagnostik dan terapi berdasarkan asal pasien lebih banyak pasien yang berasal dari Samarinda. Kutai Kartanegara dan Balikpapan, hal ini disebabkan karena daerah tersebut merupakan daerah dengan populasi jumlah penduduk Peremp Peremp 71,43 84,54 77,82 terbesar yangberada di Kalimantan Timur Berdasarkan tabel 7 dan 8, usia pasien terbanyak yang melakukan diagnostik dan terapi berada di rentang usia dewasa . -55 tahu. , salah satu sebabnya karena usia dewasa termasuk dalam kategori usia produktif, pada usia tersebut merupakan usia dengan berbagai kesibukan karena pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sehingga lebih cenderung untuk terpapar faktorfaktor yang dapat meningkatkan resiko kebiasaanmerokok, konsumsi alkohol, kurang jam tidur dan pola hidup tidak sehat lainnya akibat berbagai aktivitas di usia produktif tersebut. Berdasarkan tabel 11 pemeriksaan yang paling banyak sidik tulang atau yang lebih populer disebut Bone Scan untuk mengetahui metastasis kanker ke tulang. Berdasarkan tabel 12 penggunaan technesium-99m dengan distribusi total pasien diagnostik. Berdasarkan tabel 12 penggunaan iodium 131 berbanding lurus dengan distribusi total pasien terapi. Berdasarkan tabel 14 penggunaan kit farmakapaling banyak penggunaan kit MDP (Methylene Diphosphonat. metastasis atau sebaran kanker ke tulang pada pasien. Distribusi Pasien Diagnostik dan Terapi Berdasarkan Asal Pasien Tabel 5. Distribusi pasien diagnostik di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan asal pasien periode tahun 2018-2020 Asal Pasien Samarinda Balikpapan Bontang Kutai Kartanegara Kutai Barat Kutai Timur Berau Mahakam Ulu Paser Penajam Paser Utara Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Utara Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Gorontalo Jumlah Pasien Jawa Barat Maluku Sumatera Utara Jawa Tengah Papua Total Tabel 6. Distribusi pasien terapi di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan asal pasien periode tahun 2018-2020 Asal Pasien Samarinda Balikpapan Bontang Kutai Kartanegara Kutai Barat Kutai Timur Berau Mahakam Ulu Paser Penajam Paser Utara Kalimantan Selatan Kalimantan Utara Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Maluku Jawa Timur Riau Total Jumlah Pasien Distribusi Pasien Diagnostik dan Terapi Berdasarkan Usia Pasien Tabel 7. Distribusi 17 besar pasien diagnostik di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan usia pasien periode tahun Jumlah Pasien Usia Pasien (Tahu. 40 Thn 42 Thn 43 Thn 44 Thn 45 Thn 46 Thn 47 Thn 48 Thn 49 Thn 50 Thn 51 Thn 52 Thn 53 Thn 54 Thn 55 Thn 56 Thn 58 Thn Tabel 8. Distribusi 23 besar pasien terapi di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan usia pasien periode tahun 2018-2020 Jumlah Pasien Usia Pasien (Tahu. 26 Thn 28 Thn 29 Thn 30 Thn 31 Thn 34 Thn 35 Thn 36 Thn 37 Thn 39 Thn 40 Thn 41 Thn 42 Thn 44 Thn 48 Thn 49 Thn 51 Thn 52 Thn 53 Thn 54 Thn 56 Thn 57 Thn 58 Thn Distribusi Pasien Diagnostik dan Terapi Berdasarkan Diagnosa Klinis Tabel 9. Distribusi 15 besar pasien diagnostik di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan diagnosa klinis periode tahun 2018-2020 Diagnosa Klinis Jumlah Pasien Kanker Tiroid Kanker Serviks Kanker Payudara Kanker Nasofaring (KNF) Kanker Recti Kanker Parotis Kanker Laring Kanker Prostate Squamous Cell Carcinoma (Sc. Kanker Endometrium Grave Disease Batu Ginjal Hipertiroid Kanker Sinonasal Fibrosarcoma Tabel 10. Distribusi pasien terapi di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan diagnosa klinis periode tahun 2018-2020 Jumlah Pasien Diagnosa Klinis Hipertiroid Kanker Tiroid Total Berdasarkan tabel 9 dan 10, distribusi diagnosa penyakit pasien diagnostik dan terapi yang paling banyak ialah kanker tiroid, kanker serviks, kanker payudara, kanker nasofaring dan kanker recti. Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Pemeriksaan Tabel 11. Distribusi pasien di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis pemeriksaan periode tahun 2018-2020 Jumlah Pasien Jenis Pemeriksaan Sidik Kelenjar Gondok (Thyroid Sidik Kelenjar Gondok Uptake Bone Scan (Sidik Tulan. Renografi Sidik Perfusi Miokard (Res. Sidik Perfusi Miokard (Stres. Sidik Seluruh Tubuh-MIBI Scintimamografi Multi Gated Acquisition (Mug. Dakriosistografi (DSG) Sidik Seluruh Tubuh I-131 Total Distribusi Penggunaan Technesium-99m dan Iodium 131 Tabel 12. Distribusi penggunaan technesium-99m di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode tahun 2018-2020 Total Aktivitas Persentase Tc 99m . (%) 20,97 44,62 34,41 Total 100,00 Tahun Tabel 13. Distribusi penggunaan iodium 131 di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode tahun 2018-2020 Total Aktivitas Persentase I-131 . (%) 13,56 32,36 54,08 Total 100,00 Tahun Distribusi Penggunaan KIT Farmaka Tabel 14. Distribusi penggunaan KIT farmaka di instalasi kedokteran nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode tahun 2018-2020 Kit Farmaka Jumlah KIT (Via. DTPA MIBI MDP PYRON Total SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan jumlah terbanyak pasien yang telah melakukan diagnostik dan terapi di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD Abdoel Wahab Sjahranie periode 20182020 berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan, berdasarkan asal pasien adalah dari Samarinda, berdasarkan usia pasien adalah26-58 tahun, berdasarkan diagnosa klinis pasien terapi maupun diagnostik adalah kanker berdasarkan jenis pemeriksaan adalah sidik tulang (Bone Sca. , penggunaan digunakan pada tahun 2019, penggunaan iodium 131 paling banyak digunakan pada tahun 2020, dan penggunaan kit farmaka yang paling banyak digunakan adalah kit farmaka MDP (Methylene Diphosphonat. DAFTAR PUSTAKA