Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 Gambaran Adaptabilitas Karier Remaja Sisca. William Gunawan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta email: sisca. kirdrauhl@gmail. gunawan@ukrida. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran adaptabilitas karier pada remaja. Subjek pada penelitian ini melibatkan 332 orang remaja yang ada pada jenjang pendidikan SMA (Sekolah Menengah Ata. wilayah DKI Jakarta, yaitu pada kelas X. XI, dan XII. Subjek merupakan remaja yang berusia 15-18 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala adaptabilitas karier. Skala adaptabilitas karier diadaptasi dari alat ukur Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) oleh Savickas . yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gunawan . Hasil penelitian menunjukkan adaptabilitas karier pada remaja dalam penelitian ini berada pada kategori tinggi dengan rata-rata empirik sebesar 87. Hasil analisa tambahan memperlihatkan adanya perbedaan signifikan dalam adaptabilitas karier remaja yang disebabkan oleh wilayah, kelas, usia, dan jenis kelamin. Kata kunci: adaptabilitas karier, remaja, karier Abstract This research aimed to explain career adaptability among high school students in Jakarta using cluster random sampling data collection methods. 323 senior high school student from grade 10, 11 and grade 12 were selected as partiscipants. This was a quantitative research. Subjects were adolescents in aged 15-18 years. Data collected using Career-Abilitas Scale (Savickas, 2. adapted by Gunawan . The result showed that high school in Jakarta have high score in career adaptabilities . ean= 87 23 of . More research result showed that there were significant differences in high school students career adaptabilities in term of age, sex, school grade and school Keywords: career adaptabilities, adolescent, career Pendahuluan Karier merupakan hal yang penting bagi manusia dalam kehidupannya. Menurut Ekaningrum . menyatakan bahwa karier digunakan untuk menjelaskan peran seseorang dalam status pekerjaan. Proses perkembangan karier seseorang dimulai sejak dini yaitu dari usia kanak-kanak sampai tua yang memiliki tahapan perkembangan karier. Remaja Indonesia yang berada di bangku SMA dihadapkan pada pilihan untuk memilih jurusan IPA atau IPS. Setelah para remaja tersebut lulus dari bangku SMA, bagi mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi dihadapkan untuk memilih jurusan Sedangkan bagi para remaja yang memutuskan untuk bekerja dihadapkan untuk memilih bidang pekerjaannya. Remaja pada usia 16 sampai 24 tahun mulai mengetahui bahwa mereka dapat menentukan masa depan mereka dan mereka perlu untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan karier mereka. Namun, seringkali remaja mengalami kesulitan dalam melakukan pengambilan keputusan karier yang benar. Peneliti melakukan penelitian awal dengan pembagian angket Daftar Cek Masalah (DCM) pada tanggal 25 Januari Penelitian awal yang dilakukan peneliti bertujuan untuk mengetahui berapa besar persentase remaja yang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan karier. Berdasarkan hasil penelitian awal terhadap 251 siswa pada SMA A yang terdiri dari kelas 10 dan 11, ditemukan bahwa dimensi yang paling menonjol adalah masalah dalam merancang masa depan dan cita-cita. Dengan menggunakan Daftar Cek Masalah (DCM), diketahui bahwa terdapat 31,6% siswa di sekolah A yang termasuk dalam masalah merancang masa depan dan cita-cita dimana persentase ini termasuk tinggi dibandingkan dengan masalah yang lainnya. Persentase tersebut dapat dikategorikan tinggi karena pada Daftar Cek Masalah (DCM) terdapat 11 kategori, salah satunya adalah merancang masa Gambaran Adaptabilitas Karier Remaja. Sisca depan dan cita-cita. Kategori lain hanya mendapatkan rata-rata memiliki sekitar 20% pada setiap kategorinya. Selain melakukan pembagian DCM sebagai data awal, peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa kelas 10 dan 11 masing-masing 1 subjek. Subjek A mengatakan. Aysaya suka dalam bidang fotografi tapi sekolah tidak ada mata pelajaran seperti itu. Jadi nanti saat pemilihan kuliah atau kerja, saya bingung dalam pemilihan jurusan nanti, karena saya sebelumnya tidak mendapatkan dasar-dasar dalam fotografi di bangku sekolahAy. Berdasarkan wawancara singkat tersebut membuktikan bahwa remaja mengalami masalah dalam pemilihan karier. Remaja A merasa bahwa jika tidak ada dasar yang dipelajari di sekolah maka ia akan mengalami kesulitan dalam memilih karier yang Remaja A sudah peduli, memiliki pengendalian dimana dia sudah mampu memilih karier yang diminatinya, serta memiliki keingintahuan tentang fotografi. Namun, remaja A tidak yakin tentang keputusan kariernya saat pemilihan penjurusan di bangku Menurut Sharf . , remaja dengan usia 15-18 tahun merupakan masa penting dimana komitmen pilihan karier dibuatnya. Pada usia tersebut remaja telah menyadari pentingnya sekolah untuk perkembangan karier mereka. Remaja mengetahui bahwa mereka dapat menentukan karier mereka untuk masa depannya yang berkaitan dengan keputusan karier. Pemilihan karier akan semakin susah ditetapkan jika remaja tidak dapat menetapkan apa yang mereka inginkan. Pada usia 15 dan 16 tahun seharusnya remaja sudah mampu menentukan tujuan mereka dan mampu mengambil keputusan karier, sehingga pada remaja sudah mampu memikirkan apa yang ingin mereka laksanakan diusianya. Pada usia 17 dan 18 tahun seharusnya mereka sudah siap untuk mengambil keputusan karier yang sudah ditetapkan tanpa keraguan. Kesiapan seseorang dalam memilih kariernya dikenal dengan konsep adaptabilitas Cossette & Allison . alam Gunawan, 2. adaptabilitas karier dicetuskan tahun 1979 oleh Super dimana diartikan kesiapan seseorang dalam menghadapi perubahan situasi dan kerja. Savickas . alam Gunawan, 2. menyatakan bahwa adaptabilitas karier menggantikan konsep kematangan karier sebagai konstruk utama dalam perkembangan karier pada berbagai kelompok usia sepanjang rentang kehidupan seseorang. Savickas . menyatakan adaptabilitas karier merupakan kesiapan seseorang dalam mengatasi tugas-tugas yang telah diprediksi dan mampu berpartisipasi dalam peran pekerjaannya. Menurut Savickas . alam Lent & Brown, 2. dalam adaptabilitas karier mencakup beberapa dimensi yang penting, yaitu kepedulian . , pengendalian . , keingintahuan . , dan keyakinan . Adaptabilitas karier merupakan konsep baru yang diperkenalkan oleh Savickas, untuk menggantikan konsep kematangan karier oleh Super. Konsep adaptabilitas karier sangat jelas dengan terdapat empat dimensi yang mengindentifikasi adanya pengalaman negatif dari orang-orang muda dalam pemilihan karier mereka (Van Vianen et al. dalam Gunawan 2. Savickas berpendapat, di dalam dunia yang penuh perubahan yang terjadi di dalam dunia kerja dan lingkungan, maka konsep adaptabilitas karier bermanfaat untuk diteliti lebih lanjut pada remaja (Savickas, 2. , terutama pada remaja Indonesia. Kemampuan dalam beradaptasi dengan perubahan yang diukur dengan adaptabilitas karier sangat mambantu dalam mencapai kesuksesan. Penelitian tentang adaptabilitas karier di Indonesia masih sangat sedikit padahal konsep ini sangat jelas dijelaskan oleh Savickas. Sangat disayangkan jika konsep ini dijelaskan dengan jelas namun tidak dipergunakan di Jakarta, hanya di belahan dunia lain. Jenis kelamin merupakan faktor internal dalam kesiapan seseorang dalam mengatasi tugas-tugasnya terutama pada usia Jenis kelamin dibagi menjadi dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Dalam memilih jurusan ataupun kurikulum dapat dikatakan bahwa seseorang tidak siap dalam mengatasi tugas-tugas yang diprediksi dan mereka tidak mampu berpartisipasi dalam pekerjaannya. Menurut MacNair dan Brown . alam Seligman, 1. , kematangan karier remaja perempuan lebih tinggi daripada kematangan karier remaja laki-laki seusianya. Hal tersebut dikarenakan cara menjalin hubungan dengan orang lain remaja perempuan cenderung berinteraksi langsung, sehingga akan jauh lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan informasi tentang karier. Pada remaja laki-laki cenderung berfokus pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih mandiri. Penelitian ini mencoba menjelaskan gambaran adaptabilitas karier pada remaja. Penelitian ini akan melihat gambaran kesiapan remaja dalam mengatasi tugas-tugas yang telah diprediksi serta mampu berpartisipasi langsung dengan lingkungan sekolah atau Peneliti merumuskan masalah yaitu, bagaimana gambaran adaptabilitas karier pada remaja? Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui gambaran adaptabilitas karier pada remaja. Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan gambaran mengenai adaptabilitas karier di Jakarta, sehingga berguna dalam pengembangan teori dan konsep Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 bidang psikologi pendidikan dan konseling Manfaat praktis dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan dan informasi baru bagi mahasiswa psikologi dalam bidang pendidikan dan berbagai pihak, seperti sekolah, masyarakat, orang tua dalam pengambilan karier pada remaja. Karier Handoko . menyatakan bahwa karier merupakan semua pekerjaan atau jabatan yang ada dalam kehidupan pekerjaan Menurut Dariyo . , karier merupakan suatu proses pemilihan pekerjaan bagi individu yang mempunyai beberapa tahap perkembangan. Dalam penelitian ini secara singkat, pengertian karier merupakan suatu peran yang ada pada tahap perkembangan terkait dengan kesiapan dirinya terhadap dunia kerja baik pada perkembangan dewasa maupun remaja. Dalam penelitian ini secara singkat, pengertian karier merupakan suatu peran yang ada pada tahap perkembangan terkait dengan kesiapan dirinya terhadap dunia kerja baik pada perkembangan dewasa maupun Adaptabilitas Karier Cossette & Allison . alam Gunawan, 2. adaptabilitas karier dicetuskan tahun 1979 oleh Super dimana diartikan kesiapan seseorang dalam menghadapi perubahan situasi dan kerja. Savickas . alam Gunawan, 2. menyatakan bahwa adaptabilitas karier menggantikan konsep kematangan karier sebagai konstruk utama dalam perkembangan karier pada berbagai kolompok usia sepanjang rentang kehidupan seseorang. Secara singkat maka adaptabilitas karier merupakan kesiapan seseorang, terutama pada setiap perkembangan manusia dari anak-anak, remaja, sampai dewasa dalam mengatasi tugas-tugas yang telah diprediksi dan mampu berpartisipasi langsung dalam lingkungan dan peran pekerjaannya, serta terdapat tanggung jawab dalam tugas sekolah atau kuliah dari remaja dalam mempersiapkan karier bagi masa depannya. Secara singkat maka adaptabilitas karier merupakan kesiapan seseorang, terutama pada setiap perkembangan manusia dari anak-anak, remaja, sampai dewasa dalam mengatasi tugas-tugas yang telah diprediksi dan mampu berpartisipasi langsung dalam lingkungan dan peran pekerjaannya, serta terdapat tanggung jawab dalam tugas sekolah atau kuliah dari remaja dalam mempersiapkan karier bagi masa depannya. Faktor yang memperngaruhi Adaptabilitas Karier Menurut penelitian Creed. Patton, dan Watson . dan Yousefi. Abedi. Baghban. Eatemadi dan Abedi . , ada beberapa faktor yang mempengaruhi adaptabilitas karier pada seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal: . Faktor internal terdapat jenis kelamin, usia, kepribadian, efikasi diri pengambilan keputusan karier, dan status ekonomi sosial. Pertama, adalah jenis kelamin yang menyatakan bahwa perempuan membentuk identitasnya dengan cara menjalin hubungan dengan orang lain, sedangkan laki-laki menetapkan kemandirian pada dirinya. Kedua, adalah usia. Pola pikir dapat dilihat dari usianya, karena usia berkaitan dengan tahap perkembangan yang dialami oleh Pada remaja berada pada tahap eksplorasi, yaitu di mana remaja sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan (Sharf, 2. Ketiga, adalah kepribadian. Menurut Yowell. Andrews, & Buzzeta . menyatakan bahwa faktor kepribadian mempunyai korelasi dengan adaptabilitas karier. Keempat, adalah efikasi diri, seseorang yang mempunyai efikasi diri yang tinggi, mempunyai keterkaitan dengan perilaku pengambilan keputusan karier. Kelima, adalah status sosial ekonomi. Patton & Lokan . menyatakan bahwa latar belakang ekonomi mempunyai pengaruh yang cukup penting dalam karier seseorang. Faktor eksternal terdapat pola pengasuhan orang tua, kedekatan anak dengan keluarga, pengalaman kerja sebelumnya, pengalaman bersekolah atau kuliah dalam isntitusi tertentu. Pertama, adalah Menurut Bergen . , keluarga mempunyai pengaruh dalam perkembangan karier seseorang secara langsung. Kedua, adalah pengalaman kerja bahwa seseorang yang mempunyai pengalaman sebelumnya yang berhubungan dengan minat kariernya cenderung memiliki pengendalian diri, sehingga ia akan merasa pengambilan keputusan kariernya merupakan sebagai proses perkembangan karier yang bisa dikendalikan. Ketiga, adalah institusi pendidikan yang dipilih seseorang mempunyai peranan yang penting dalam adaptabilitas karier. Dimensi Adaptabilitas Karier Menurut Savickas . alam Lent & Brown, 2. terdapat empat dimensi dari adaptabilitas karier, kepedulian . , pengendalian . , keingintahuan . dan keyakinan . Dimensi ini mewakili sumber dan strategi adaptabilitas umum yang digunakan untuk membangun karier mereka. Pada tingkat menengah, contoh menjabarkan serangkaian fungsional dari var- Gambaran Adaptabilitas Karier Remaja. Sisca iabel homogen yang berbeda untuk masingmasing dimesi. Setiap serangkaian perantara variabel mencakup sikap tertentu yang disebut dengan konstruksi karier ABC . ttitudes, beliefs, competicie. yang membentuk perilaku beradaptasi yang digunakan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan, menegosasikan perpindahan kerja dan menyelesaikan masalah pekerjaan. Sikap merupakan variabel efektif atau perasaan bahwa perilaku tugas, sedangkan kepercayaan adalah variabel kecenderungan perilaku untuk mengarahkan. Sikap dan kepercayaan membuat seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Jika komptensi termasuk kemampuan memahami dan memecahkan masalah, yang menunjukan sumber daya kognitif yang dimiliki untuk memutuskan pemilihan karier. Tabel 1. Dimensi Adaptabilitas Karier Dimensi Sikap-Sikap dan Adaptabilitas Nilai-Nilai Kompetensi Perilaku Coping Masalah Karier Kepedulian PenuhMembuat Kesadaran Ketidakpedulian perencanaan Rencana Keterlibatan karier Penuh persiapan Pengendalian MenentukanMengambil AsertifKebingungan Keputusan Disiplinkarier Penuh Motivasi Keingintahuan Penuh rasa Eksplorasi Berani Mencoba Sikap tidak ingin tahuMengambil resiko Mempertanyakan terhadap karier Keyakinan Manjur, efektif Pemecahan Persistensi Masalah Penuh daya juang Hambatan karier Produktif Pertama adalah dimensi mengenai kepedulian karier . areer concer. , merupakan dimensi pertama dan penting dari adaptabilitas karier. Kepedulian karier berkaitan dengan kepercayaan setiap individu dalam mencapai cita-citanya. Seseorang yang memiliki kepedulian karier akan mempunyai pandangan lebih jelas dan mempunyai keyakinan akan masa depannya dalam mewujudkan perencanaan karier. Jika seseorang yang tidak memiliki kepedulian karier akan cenderung menghindari tanggung jawab untuk mewujudkan cita-citanya bahkan tidak mengambil keputusan dalam kariernya. Kedua adalah dimensi mengenai pengendalian karier . areer concer. , dimaksudkan bahwa seseorang percaya bahwa mereka bertanggung jawab untuk membangun karier mereka sendiri. Jika seorang remaja yakin akan pengendalian karier yang dimilikinya, remaja akan lebih yakin dalam membuat pilihan-pilihan kariernya. Kurangnya pengendalian karier dalam remaja menyebabkan remaja menjadi bingung dalam penetapan karier yang menyebabkan penundaan dalam menyelesaikan setiap tugas. Ketiga adalah dimensi keingintahuan karier . areer curiousit. , yang akan menimbulkan remaja mencari banyak informasi tentang karier yang diminati. Seseorang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi mengenai karier, mereka akan memiliki sikap yang antusias dalam pemilihan kariernya. Seseorang yang memiliki rasa keiingintahuan akan kariernya rendah, maka ia akan menjadi tidak realistis dalam menghadapi kehidupan Keempat adalah dimensi keyakinan karier . areer confidenc. , di mana setiap orang membutuhkan keyakinan dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan karier. Keyakinan remaja merupakan kemampuan pemecahan masalah karier pada remaja sekaligus sebagai petunjuk kemampuan memenuhi kebutuhan karier mereka. Keyakinan karier muncul dari pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari seperti di rumah atau di sekolah. Berdasarkan penjelasan di atas, dalam penelitian ini akan menggunakan alat ukur yang di dalamnya terdapat empat dimensi tersebut. Penelitian ini akan dilihat secara keseluruhan dan akan dikaitkan dengan dimensi yang terkait dengan teori yang mendukung. Usia remaja Remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanan dan masa dewasa yang dimulai dari usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia dua puluhan tahun (Papalia dan Olds, 2. Remaja merupakan periode dari pubertas hingga masa dewasa muda dan merupakan tahap yang paling krusial karena di akhir periode ini masuk pada tahap krisis identitas vs kebingungan identitas (Feist & Feist, 2. Secara singkat remaja merupakan masa perali114 Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 han dari kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai dari usia 13 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun dimana para remaja mampu mengembangkan kepribadiannya dan memikirkan masa depan mereka. Secara singkat remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai dari usia 13 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun dimana para remaja mampu mengembangkan kepribadiannya dan memikirkan masa depan mereka. Pada penelitian ini, pembagian remaja dibagi menjadi 2, yaitu usia 15 sampai 16 tahun dan usia 17 sampai 18 tahun. Pada penelitian ini Sharft . menyatakan pada usia 15 dan 16 tahun seharusnya sudah mampu menentukan tujuan mereka dan mampu mengambil keputusan karier. Pada usia 17 dan 18 tahun seharusnya mereka sudah siap untuk mengambil keputusan karier yang sudah ditetapkan tanpa keraguan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti melihat bagaimana gambaran adaptabilitas karier pada remaja. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk melihat gambaran adaptabilitas karier pada remaja. Lebih dalam lagi, peneliti juga ingin melihat adaptabilitas karier yang dilihat dari data demografis. antara lain wilayah Jakarta, usia, kelas, dan jenis kelamin. Teori perkembangan Super mendefinisikan remaja terdapat pada fase eksplorasi karier sebagai suatu tahapan utama, yaitu terjadi pada usia 16 sampai 24 tahun. Pada usia tersebut menjadi sangat kompleks dalam pemenuhan karier di usianya untuk mencapai pemahaman diri dan lingkungan pekerjaan dan mencapai tujuan karier yang diinginkan remaja di kedepannya. Proses yang dilakukan adalah pengumpulan informasi dan pemahaman dalam mencari karier tersebut. Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomena yang berkembang di masyarakat (Martono, 2. Sampel dari penelitian ini adalah remaja madya . aki-laki dan perempua. , dengan rentang usia berkisar 15-18 tahun (Badingah, 1. yang duduk di bangku SMA wilayan Jakarta. Jumlah subjek pada penelitian ini sebanyak 332 subjek. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik cluster random sampling, di mana populasi dibagi ke dalam satuan-satuan sampling yang besar. Satuan sampling besar dimaksudkan pada satu sekolah pada satu wilayah Jakarta. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui alat ukur Carrer AdaptAbilities Scale (CAAS) yang dirancang oleh Savickas dan Porfeli tahun 2012. Alat ukut ini memiliki empat dimesi, yaitu pengendalian, kepedulian, keingintahuan, dan keyakinan. Alat ukur ini terdiri dari 24 aitem yang masingmasing dimensi terdiri dari 6 aitem. Masingmasing aitem diresponi dengan memilih skala 1 . sampai 5 . uat sekal. Pendekatan reliabilitas yang digunakan peneliti adalah pendekatan konsistensi internal . nternal consistenc. karena peneliti ingin mengetahui sejauh mana performasi peserta tes pada berbagai bagian tes. Validitas pada penelitian ini menggunakan validitas konstrak . alidity construc. karena peneliti ingin mengukur sejauh mana alat tes adaptabilitas karier dapat mengungkapkan suatu konstrak teoritik yang hendak di ukur. Pada uji validitas dan reliabilitas menggunakan dengan koefisien Alfa Croncbach. Teknik analisa yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran dengan menggunakan statistik deskriptif dan simpangan baku . tandar devias. Peneliti menggunakan teknik statistik melalui program SPSS. Analisa statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan jumlah data, nilai minimum, nilai maksimum (Gunawan, 2. Simpangan baku . tandar devias. untuk mencari nilai rata-rata untuk masing-masing hasil pengukuran. Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek bahwa data penelitian berasal dari populasi yang persebarannya normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan sekolah Kalam Kudus 3 dengan sebanyak 58 subjek. Peneliti menggunakan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan alat statistik SPSS Subjek pada penelitian uji normalitas adalah siswa SMA kelas X. XI, dan XII. Uji normalitas didapatkan hasil signifikan dengan angka signifikasi 0. 644 dan dengan demikian maka alat ukur CAAS dikatakan sudah berdistribusi normal. Tahap dalam penelitian ini adalah terdapat tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan peneliti mempersiapkan alat ukur sebanyak subjek yang dibutuhkan. Alat ukur yang digunakan adalah adaptabilitas karier yang berkaitan dengan kesiapan seseorang dalam menghadapi tugas-tugasnya. Alat ukur adaptabilitas karier terdapat 24 Setelah melakukan tahap persiapan, peneliti merencanakan waktu untuk memberikan alat ukur di beberapa sekolah di Jakarta dibantu dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Alat ukur sudah dipersiapkan oleh peneliti. Tahapan akhir yang peneliti lakukan adalah menarik kesimpulan, saran, dan hasil Pembahasan Hasil rata-rata skala adaptabilitas karier mendapatkan hasil sebesar 87. 23 dan simpangan sebesar 11. Angka ini menunjuk- Gambaran Adaptabilitas Karier Remaja. Sisca kan bahwa adaptabilitas karier remaja berada dalam kategori tinggi. Sebagian besar partisipan sudah mampu menilai bahwa diri mereka memiliki adaptabilitas karier yang baik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa remaja dalam penelitian ini memiliki adaptabilitas karier yang dikategorikan tinggi. Remaja pada penelitian ini memiliki keyakinan yang kuat dalam menentukan karier, mencari informasi mengenai karier yang diminati, mempunyai kepedulian dalam membangun karier kedepannya, serta bertanggung jawab dalam karier mereka. Peneliti menentukan tinggi rendahnya alat ukur adaptabilitas karier dengan menggunakan empat kategori, yaitu sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi. Berdasarkan skor rata-rata mean empiris dibuat kategorisasi adaptabilitas karier dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Kategori yang didapatkan dengan menggunakan rumus: Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pada setiap data demografis . ilayah, kelas, usia, dan jenis kelami. memiliki perbedaan secara signifikan. Pada penelitian ini diketahui bahwa data demografis wilayah DKI Jakarta (Jakarta Barat. Jakarta Timur. Jakarta Utara. Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusa. memiliki perbedaan secara signifikan, yaitu data demografis yang diteliti oleh peneliti memiliki pengaruh yang besar terhadap adaptabilitas karier. Selain itu pada data domgrafis kelas (X. XI, dan XI) juga memiliki perbedaan yang signifikan. Data demografis usia . ,16, 17, dan . memiliki perbedaan secara signifikan pula. Data demografis jenis kelamin . aki-laki dan perempua. juga memiliki perbedaan secara signifikan. Peneliti menentukan tinggi rendahnya dimensi pada alat ukur adaptabilitas karier dengan menggunakan empat kategori, yaitu sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat Penggambaran pada setiap dimensi adaptabilitas karier bertujuan untuk mengetahu dimensi mana yang lebih tinggi dan dimensi mana yang lebih rendah. Pada alat ukur adaptabilitas karier terdapat empat dimensi yaitu pengendalian, keingintahuan, kepedulian, dan keyakinan. Pada setiap dimensi memiliki masing-masing 6 pernyataan dan memiliki kategorisasi yang sama. Berdasarkan skor rata-rata mean empiris dibuat kategorisasi dimensi pada alat ukur adaptabilitas karier dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Kategorisasi Dimensi Adaptabilitas Karier Tabel 2. Gambaran kategorisasi setiap dimensi adaptabilitas DimensiRata skorKategorisasi Kepedulian22. 28Tinggi Pengendalian21. 83Tinggi Keingintahuan21. 19Tinggi Keyakinan21. 86Tinggi Berdasarkan tabel 4. terlihat bahwa setiap dimensi dari alat ukur adaptabilitas karier dikategorikan tinggi. Dimensi kepedulian mempunyai rerata skor sebesar 22. 28 dimana menjadi nilai yang paling terlihat lebih tinggi dari dimensi lainnya. Data tersebut menunjukan bahwa para remaja sudah mampu membuat rencana yang matang dalam kariernya. Dimensi keyakinan mempunyai rerata skor 86 dan menunjukan bahwa para remaja merasa tidak ragu dalam memilih kariernya. Dimensi pengendalian memiliki rerata skor sebesar 21. 83 dan menunjukan para remaja mampu dalam mengatur diri mereka pada pemilihan karier yang tepat. Dimensi keingintahuan memiliki rerata sebesar 21. dan menunjukan para remaja mencari informasi untuk memperkaya pengetahuan tentang karier yang diminati. Pada setiap dimensi adaptabilitas karier dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Pada setiap dimensi dikategorikan Dimensi kepedulian mempunyai rerata skor sebesar 22. Pada penelitian ini diketahui bahwa dimensi kepedulian merupakan aspek yang paling tinggi dari semua Dimensi kepedulian melihat bahwa seseorang mempunyai perencanaan karier dalam hidupnya. Hal ini menunjukan bahwa para remaja sudah mampu membuat rencana yang matang dalam kariernya. Jika dalam dimensi kepedulian memiliki kategori yang tinggi maka seseorang akan memiliki kesadaran, terlibat akan hal yang berkaitan dengan karier yang diminatinya, dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan karier. Dimensi keyakinan mempunyai rerata skor sebesar 21. 86, menunjukan bahwa para remaja merasa tidak ragu dalam memilih kariernya. Jika remaja sudah yakin akan pemilihan kariernya maka remaja akan memecahkan masalah karier melalui diri sendiri Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 bukan melalui orang lain untuk membantunya. Remaja akan memperjuangkan kariernya hingga mendapatkan karier yang diinginkannya. Setelah itu, dimensi pengendalian memiliki rerata skor sebesar 21. 83 di mana menunjukan para remaja mampu dalam mengatur diri mereka pada pemilihan karier yang tepat. Remaja mampu dalam mengambil keputusan dalam pemilihan kariernya tanpa dipengaruhi oleh berbagai pihak. Dimensi keingintahuan memiliki rerata sebesar 21. 19 di mana angka tersebut menunjukan para remaja mencari informasi untuk memperkaya pengetahuan tentang karier yang diminati. Remaja memiliki sifat dalam berani mencoba hal-hal yang baru dalam menentukan karier serta berani mengambil resiko dalam pemilihan karier. Berdasarkan hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa adaptabilitas karier pada remaja dinyatakan tinggi karena remaja memiliki kepedulian mengenai karier mereka, mencari informasi mengenai karier yang diminati, tidak ragu dalam pemilihan karier, dan memiliki tanggung jawab dalam menentukan Kemudian dimensi kepedulian merupakan aspek yang paling tinggi dari semua aspek dimensi pada adaptabilitas karier. Jika dilihat dari dimensi kepedulian, yaitu remaja memilih sebuah jurusan karier dan remaja memilih sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Selain menyatakan bahwa adaptabilitas karier remaja pada penelitian ini dikategorikan tinggi, peneliti juga menyediakan hasil gambaran adaptabilitsas karier yang dilihat dari perbedaan jenis kelamin. Jumlah partisipan yang komposisinya lebih banyak perempuan . 8%) daripada laki-laki . 2%) perlu dipertimbangkan lebih lanjut yang mempengaruhi hasil penelitian. Jenis kelamin perempuan mendapatkan nilai rerata sebesar 85. sedangkan pada jenis kelamin laki-laki mendapatkan nilai rerata 89. Jika dilihat dari nilai rerata nilai adaptabilitas karier, sebesar 23 maka jenis kelamin perempuan maupun laki-laki memiliki adaptabilitas karier yang Nilai rerata jenis kelamin perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan secara signifikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin mempengaruhi nilai adaptabilitas karier secara signifikan. Pada penelitian ini diketahui bahwa usia 15 dan 16 tahun,saat siswa berada di kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA) mereka memiliki adaptabilitas karier yang dikategorikan tinggi. Angka rerata adaptabilitas karier pada remaja usia 15 dan 16 tahun 54 sedangkan pada kelas satu SMA mendapatkan nilai rerata 88. Pada usia 17 tahun didapatkan nilai rerata sebesar 10, saat remaja berada di kelas dua SMA didapatkan angka adaptabilitas karier sebesar 29 dan berada pada kategori tinggi. Selanjutnya masuk pada usia 18 tahun dimana be117 rada di kelas tiga SMA memiliki adaptabilitas karier dikategorikan tinggi. Angka rerata pada usia 18 tahun adalah 88. 23 sedangkan pada kelas tigas SMA mendapatkan nilai rerata Dari hasil perhitungan tersebut dapat diasumsikan bahwa pada usia 15 dan 16 tahun . erada di kelas satu SMA) memiliki adaptabilitas karier yang tinggi dimana para remaja diminta untuk memilih jurusan IPA atau IPS. Para remaja diminta dari pihak sekolah, orang tua, dan diri sendiri untuk memantapkan jurusan apa yang mereka minati. Setelah itu pada usia 17 tahun masuk kelas dua SMA adaptabilitas karier memang menunjukan bahwa masih masuk dalam kategori tinggi namun mengalami penurunan dari kelas satu. Pada tahap ini remaja hanya menjalankan apa yang sudah mereka pilih pada waktu penjurusan. Hal ini menyebabkan angka adaptabilitas karier mengalami penurunan pada rentan usia tersebut. Pada usia 18 tahun yang mana pada umumnya masuk kelas tiga SMA adaptabilitas karier masih dikategorikan Pada tahapan ini adaptabiltas karier remaja meningkat kembali memungkinkan karena remaja mulai khawatir akan pemilihan kariernya atau pemilihan jurusan perkuliahan. Remaja diminta untuk memilih jurusan perkuliahan seperti apa yang mereka minati. Dari proses tersebut maka didapatkan bahwa adaptabilitas karier pada remaja mengalami penaikan dan penurunan pada usia tertentu. Hasil lainnya yang dapat peneliti sajikan adalah mengenai gambaran adaptabilitas karier ditinjau dari wilayah Jakarta. Angka adaptabilitas karier di wilayah Jakarta Timur memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan adaptabilitas karier pada remaja wilayah lainnya. Angka yang didapatkan wilayah Jakarta Timur sebesar 93. 38 lebih tinggi dari rerata keseluruhan sebesar 87. Wilayah Jakarta Pusat memiliki nilai rerata di bawah rerata adaptabilitas karier sebesar 82. Hal tersebut dapat diduga karena perbedaan tingkat status ekonomi sosial dari berbagai belahan Jakarta. Jakarta Timur banyak para remaja yang sekolah dengan status ekonomi yang menengah ke bawah sehingga mereka akan lebih giat dalam menjadi ilmu atau karier selanjutnya. Sedangkan di Jakarta Pusat banyak para remaja yang sekolah dengan status ekonomi sosial yang tinggi. Para remaja tidak takut dalam menghadapi karier karena mereka sudah memiliki status ekonomi yang baik. Vondracek. Terner, & Schulenberg . alam Pinasti, 2. menyatakan status sosial ekonomi merupakan salah satu fakor paling relevan terkait dengan kematangan karier individu. Seligman . menyatakan masyarakat di kota-kota kecil dan pedesaan cenderung mendapatkan informasi pekerjaan yang terbatas, ini membuktikan bahwa betapa sempitnya pilihan karier di lingkungan tersebut. Dillard & Perrin . alam Pinasti. Gambaran Adaptabilitas Karier Remaja. Sisca 2. menyatakan secara umum masyarakat dari latar belakang status sosial ekonomo yang tinggi mempunyai cita-cita yang tinggi Namun, pada penelitian Pinasti . menyatakan skor mean individu yang ada pada status ekonomi sosial yang rendah memiliki kematangan karier yang rendah juga. Selain status ekonomi yang diperkirakan oleh peneliti, perbedaan adaptabilitas karier jug dapat dikarenakan perbedaan akreditasi sekolah dari partisipan yang peneliti gunakan. Di wilayah Jakarta Timur peneliti mengambil sekolah PSKD 2 yang mana diketahui bahwa sekolah tersebut merupakan peringkat 6 di wilayah Jakarta Timur (Badan Akreditasi Propinsi Sekolah/Madrasah, 2. Dapat diduga bahwa sekolah PSKD 2 sudah memiliki persiapan untuk anak didiknya dalam memilih karier mereka. Pada wilayah Jakarta Pusat memiliki angka rerata adaptabilitas karier 94 di bawah angka rerata adaptabilitas karier. Peneliti mengambil partisian dari sekolah Bunda Mulia. Sekolah Bunda Mulia di wilayah Jakarta Pusat merupakan sekolah peringkat ke 21 (Badan Akreditasi Propinsi Sekolah/Madrasah, 2. Dari hasil yang didapat dimungkinkan terdapat perbedaan karena akreditasi sekolah yang diambil peneliti. Maka pada pengambilan sample sekolah perlu dipertimbangkan lebih lanjut mengenai akreditasi ataupun lingkungan sekolah dalam mempengaruhi hasil. Penelitian ini menjelaskan bahwa pada setiap data demografis yang didapatkan oleh peneliti memiliki perbedaan yang Penelitian berdasarkan perbedaan wilayah, yaitu Jakarta Barat. Jakarta Pusat. Jakarta Selatan. Jakarta Timur, dan Jakarta Utara memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan tiap wilayah mempengaruhi perbedaan nilai adaptabilitas karier remaja. Kemudian didapatkan juga perbedaan yang signifikan pada data demografis usia, dimana usia 15, 16, 17, dan 18 memiliki perbedaan yang signifikan pula dan dapat diantikan bahwa perbedaan usia memiliki perbedaan adaptabilitas karier juga. Selain itu perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita mempengaruhi nilai para remaja dalam memilih karier mereka. Pada penelitian Gunawan . menyatakan tidak ada perbedaan secara signifikan adaptabilitas karier ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Namun, penelitian ini dan Gunawan . memiliki subjek yang berbeda yaitu, penelitian ini menggunakan subjek remaja SMA sedangkan pada penelitan sebelumnya menggunakan subjek Maka penelitian selanjutnya dapat diteliti mengenai para remaja siswa SMA atau para remaja tingkat mahasiswa. Penelitian ini mengambil subjek remaja siswa SMA dikarenakan remaja sedang mengalami tahap eksplorasi, dimana tahap remaja mencari-cari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan bakat yang dimiliki (Santrok, 2. Selanjutnya pada perbedaan kelas juga didapatkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara kelas X. XI, dan XII dimana dinyatakan bahwa memiliki perbedaan adaptabilitas karier remaja yang ditinjau dari rentang kelas. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yang berarti adaptabilitas karier pada remaja cenderung tinggi. Adaptabilitas karier pada remaja dalam penelitian ini dikatakan tinggi karena remaja memiliki kepedulian mengenai karier mereka, mencari informasi mengenai karier yang diminati, tidak ragu dalam pemilihan karier, dan memiliki tanggung jawab dalam menentukan karier. Dimensi kepedulian merupakan aspek yang paling tinggi dari semua aspek dimensi pada adaptabilitas karier. Jika dilihat dari dimensi kepedulian, yaitu remaja memilih sebuah jurusan karier dan remaja memilih sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pada setiap data demografis . erdasarkan wilayah Jakarta, berdasarkan kelas, berdasarkan usia, dan berdasarkan jenis kelami. memiliki perbedan secara signifikan. Hasil dilihat dengan menggunakan perbedaan mean serta uji ANOVA satu jalur. Pada penelitian ini sudah menggambarkan adaptabilitas karier pada remaja, namun penilis menyarankan untuk lebih memperhatikan data secara proposional dari setiap data demografis agar dapat dilihat lebih lanjut perbedaannya. Selain itu dalam pengambilan sample dapat berasal dari banyak sekolah yang berbeda dan banyak sekolah dari wilayah yang berbeda agar dapat mencakup populasi yang lebih luas Dalam pengambilan sample perlu mempertimbangkan dari yayasan sekolah yang berbeda, misalkan SMK. SMA, dan swasta atau negeri. Daftar Pustaka