Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Optimalisasi Pembelajaran Akidah Akhlak melalui Metode Diskusi Kelompok untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa di MTs Raudhatul Ulum Mad Khofi1. Lukmanul Hakim2 1 MTs Raudhatul Ulum 2 MTs Tahfizh Al-Azhar Sadah Correspondence: hizam5773@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Akidah Akhlak. Group Discussion. MTs Raudhatul Ulum. Student Engagement. Moral Education. Islamic Education. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance the understanding of Akidah Akhlak among students at MTs Raudhatul Ulum through the application of group discussion methods. The study was conducted with a focus on improving students' moral and religious comprehension, which is a central part of their curriculum. The research utilizes a systematic approach, involving the identification of learning barriers, the implementation of a collaborative learning strategy, and the evaluation of its effectiveness. Data were collected through observations, tests, and student feedback. The results indicate a significant improvement in student engagement and comprehension of Akidah Akhlak concepts. The group discussion method encouraged active participation, fostered critical thinking, and promoted peer learning. This study highlights the importance of innovative teaching methods in enhancing religious and moral education in Islamic junior high schools. The findings provide valuable insights for educators seeking to improve the quality of Akidah Akhlak teaching in similar contexts. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan karakter dan moral di lembaga pendidikan Islam, khususnya di MTs Raudhatul Ulum, menghadapi berbagai tantangan di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang pesat. Saat ini, selain aspek kognitif, siswa juga diharapkan dapat menginternalisasi nilai-nilai akidah dan akhlak yang kokoh. Namun, meskipun mata pelajaran Akidah Akhlak merupakan bagian penting dalam kurikulum madrasah, pembelajaran yang dilakukan masih sering terfokus pada aspek teori tanpa penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang menunjukkan perilaku yang kurang mencerminkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial mereka, baik di sekolah maupun di luar sekolah (Sari, 2. Pembelajaran Akidah Akhlak yang berlangsung di banyak madrasah masih bersifat konvensional, yakni lebih banyak dilakukan melalui ceramah dari guru kepada siswa. Pendekatan ini menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurang mampu mengaitkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata mereka. Sebuah studi yang dilakukan di beberapa madrasah di Indonesia menemukan bahwa pembelajaran yang bersifat aktif dan kolaboratif, seperti diskusi kelompok, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai akhlak dan mengajak mereka untuk berperilaku lebih baik dalam kehidupan sehari-hari (Sumanto et al. Di MTs Raudhatul Ulum, salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya penerapan metode pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk berinteraksi langsung dengan nilai-nilai yang Pembelajaran yang belum sepenuhnya kontekstual dan aktif mengakibatkan siswa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 merasa kesulitan dalam mengaplikasikan akidah dan akhlak dalam kehidupan nyata mereka. Penelitian di beberapa madrasah menunjukkan bahwa pengajaran yang hanya berfokus pada teori tanpa penguatan melalui pengalaman praktis tidak cukup efektif dalam membentuk karakter siswa (Muslich, 2. Fenomena ini menunjukkan perlunya perubahan dalam pendekatan pembelajaran yang Pembelajaran yang efektif dalam pendidikan Islam harus mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, dengan harapan mereka tidak hanya memahami konsep akidah dan akhlak tetapi juga dapat menerapkannya dalam tindakan nyata. Pembelajaran yang berbasis pada penguatan karakter yang holistik, yang memadukan pengetahuan dengan praktik, sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks (Team Prokonpi, 2. Lebih jauh lagi, pembentukan karakter melalui pembelajaran Akidah Akhlak tidak hanya membutuhkan teori yang baik tetapi juga keteladanan dari lingkungan sekitar, terutama dari Beberapa penelitian menyebutkan bahwa peran guru sebagai contoh teladan sangat penting dalam proses internalisasi akhlak. Guru yang menjadi teladan dalam perilaku seharihari akan lebih mudah mempengaruhi siswa untuk meniru dan mengimplementasikan akhlak yang baik dalam kehidupan mereka (Faturohman & Suryadi, 2. Selain itu, lingkungan sosial dan budaya siswa juga mempengaruhi pemahaman dan penerapan nilai akidah-akhlak. Penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang signifikan dalam membentuk perilaku siswa. Faktor-faktor ini harus menjadi pertimbangan dalam merancang metode pembelajaran yang relevan dan kontekstual bagi siswa (Sari, 2. Meskipun kurikulum pendidikan Islam telah mengakomodasi pembelajaran Akidah Akhlak, tantangan dalam implementasi di lapangan tetap ada. Salah satu kendala utama adalah minimnya perhatian terhadap metode yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses Penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran Akidah Akhlak dapat membantu siswa lebih aktif dalam memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari (Sari, 2. Kondisi di MTs Raudhatul Ulum yang berlokasi di daerah dengan karakteristik sosial dan budaya tertentu menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan sensitif terhadap lingkungan Pembelajaran Akidah Akhlak harus mampu memperhitungkan faktor-faktor eksternal seperti pengaruh media sosial dan interaksi sosial di luar sekolah yang seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di madrasah. Oleh karena itu, guru perlu menyelaraskan pembelajaran dengan realitas yang ada, agar siswa dapat mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari (Noviani et al. , 2. Namun, perubahan metode pembelajaran tidak akan optimal tanpa adanya penguatan evaluasi yang tepat. Evaluasi terhadap pembelajaran Akidah Akhlak harus mencakup bukan hanya aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik siswa. Penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya evaluasi yang holistik, guru dapat memetakan kemajuan karakter siswa dan menentukan langkah-langkah pembelajaran selanjutnya yang lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman nilai akhlak (Team Prokonpi, 2. Penerapan metode pembelajaran yang tepat di MTs Raudhatul Ulum sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat menyerap dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada teori, tetapi juga pada praktik, dapat membantu siswa untuk lebih memahami dan meyakini pentingnya akidah dan akhlak dalam kehidupan mereka. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melalui diskusi kelompok yang memungkinkan siswa untuk saling berbagi pengalaman dan perspektif mereka mengenai akhlak dalam kehidupan sosial mereka (Sumanto et al. , 2. Dalam hal ini, peran guru tidak bisa dianggap remeh. Guru harus mampu menjadi fasilitator yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing siswa dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan. Keteladanan guru menjadi contoh nyata bagi siswa untuk meniru dalam keseharian mereka. Seiring dengan itu, pembelajaran Akidah Akhlak harus dapat menumbuhkan sikap yang lebih proaktif dan kritis dari siswa terhadap isu-isu moral yang mereka hadapi (Faturohman & Suryadi, 2. Selain itu, penting untuk menyadari bahwa pembelajaran Akidah Akhlak harus lebih dari sekedar memenuhi tuntutan kurikulum, tetapi juga harus mampu membentuk karakter siswa yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang universal. Penelitian menunjukkan bahwa pengajaran yang dilakukan dengan pendekatan yang aktif dan menyeluruh dapat menciptakan siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara emosional dan sosial (Muslich, 2. Seiring dengan kebutuhan akan metode pembelajaran yang lebih aktif, keberhasilan dalam menginternalisasi nilai Akidah Akhlak juga sangat bergantung pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif berdiskusi, berbagi pendapat, dan belajar dari satu sama lain terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai moral yang diajarkan (Sari, 2. Pentingnya menguatkan pembelajaran Akidah Akhlak melalui metode yang relevan dan kontekstual adalah langkah yang harus diambil untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Sebuah penelitian yang dilakukan di beberapa madrasah di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan yang melibatkan siswa secara langsung dalam penerapan nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari memiliki dampak yang lebih besar dalam pembentukan karakter (Sari, 2. Dengan latar belakang tersebut, penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan di MTs Raudhatul Ulum bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan pembelajaran Akidah Akhlak melalui penerapan metode yang lebih aktif dan kontekstual. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai akhlak siswa agar dapat lebih menginternalisasi ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Faturohman & Suryadi, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan PTK dipilih karena tujuannya adalah untuk memperbaiki praktik pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Raudhatul Ulum melalui perbaikan berkelanjutan yang melibatkan peran aktif guru dan siswa. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena yang terjadi di lapangan, yaitu penerapan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai akhlak oleh PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing memiliki tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Kemmis & McTaggart, 2. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Vi di MTs Raudhatul Ulum yang berjumlah 30 orang. Siswa dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu mereka yang masih mengalami kesulitan dalam memahami dan mengaplikasikan materi Akidah Akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini juga melibatkan seorang guru Akidah Akhlak sebagai subjek yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Teknik pengambilan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Wawancara dilakukan dengan siswa dan guru untuk memperoleh perspektif lebih dalam mengenai efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan (Sugiyono. Untuk memperoleh data yang akurat, penelitian ini menggunakan triangulasi data, yaitu pengumpulan data dari berbagai sumber dan teknik yang berbeda. Triangulasi dilakukan dengan cara menggabungkan hasil observasi langsung terhadap siswa selama pelaksanaan pembelajaran, wawancara dengan siswa dan guru, serta analisis dokumen berupa nilai-nilai Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 yang diperoleh siswa pada tiap siklus. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari analisis ini akan memberikan gambaran mengenai keberhasilan atau kekurangan dari metode yang diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak (Creswell, 2. Prosedur penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, guru merancang materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang akan diterapkan, yaitu diskusi kelompok, yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam memahami materi Akidah Akhlak. Selama tahap tindakan, metode ini diterapkan dalam kelas, dan observasi dilakukan untuk melihat bagaimana siswa berinteraksi dan merespons metode yang diterapkan. Hasil observasi dan refleksi dari setiap siklus digunakan sebagai dasar untuk perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya. Setiap siklus diakhiri dengan evaluasi yang mendalam terhadap perubahan yang terjadi pada pemahaman dan pengamalan akhlak siswa (Kemmis & McTaggart, 2. Sebagai bagian dari analisis data, peneliti juga melakukan refleksi terhadap hasil yang diperoleh pada setiap siklus. Pada akhir penelitian, peneliti akan menyusun laporan yang berisi analisis mendalam mengenai penerapan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran Akidah Akhlak serta pengaruhnya terhadap peningkatan pemahaman dan penerapan akhlak siswa di MTs Raudhatul Ulum. Peneliti juga memberikan rekomendasi bagi perbaikan pembelajaran Akidah Akhlak di masa mendatang berdasarkan temuan yang ada. Proses ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pendidikan karakter di madrasah (Suharsimi, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa metode diskusi kelompok yang diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Raudhatul Ulum telah memberikan dampak positif terhadap pemahaman siswa tentang nilai-nilai akhlak. Siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam menghubungkan materi akidah dengan kehidupan sehari-hari mulai menunjukkan peningkatan dalam kemampuan untuk menerapkan akhlak baik, seperti jujur, disiplin, dan empati. Hasil observasi menunjukkan bahwa metode diskusi kelompok memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi pemikiran dan memperkuat pemahaman mereka melalui dialog dan interaksi sosial (Sari, 2. Selain itu, pembelajaran menggunakan metode ini memfasilitasi siswa untuk lebih aktif terlibat dalam proses belajar. Sebelum penerapan metode diskusi, sebagian besar siswa hanya menjadi pendengar pasif dalam pembelajaran. Namun, setelah penerapan diskusi kelompok, siswa lebih antusias dalam memberikan pendapat dan berbagi pengalaman. Peningkatan partisipasi ini terlihat jelas pada siklus kedua, di mana hampir semua siswa aktif dalam setiap sesi diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada kolaborasi dapat mendorong keterlibatan siswa secara lebih mendalam dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai akhlak (Faturohman & Suryadi, 2. Salah satu temuan penting lainnya adalah meningkatnya keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama dan komunikasi, yang sangat terlihat selama proses diskusi. Sebelumnya, siswa cenderung bekerja secara individu dan kurang mampu berdiskusi atau berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah bersama. Namun, dengan menggunakan diskusi kelompok, siswa belajar untuk menghargai pendapat teman mereka dan bekerja bersama dalam mencari solusi terhadap masalah moral yang dibahas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis diskusi dapat memperkuat keterampilan sosial siswa (Sumanto et al. , 2. Peningkatan pemahaman siswa terhadap materi Akidah Akhlak juga terjadi secara signifikan. Sebelum menggunakan metode ini, siswa cenderung hanya menghafal materi tanpa benar1824 Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 benar memahami maknanya. Namun, setelah diterapkan metode diskusi kelompok, mereka mulai mengaitkan nilai akidah dengan kehidupan sehari-hari. Dalam diskusi, siswa memanfaatkan pengalaman pribadi untuk memperkaya pemahaman mereka, sehingga nilainilai akhlak lebih mudah diinternalisasi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada konteks nyata dapat memperdalam pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan (Noviani et al. , 2. Namun, meskipun metode diskusi kelompok memberikan banyak manfaat, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satu tantangan terbesar adalah adanya siswa yang lebih dominan dalam diskusi, sehingga siswa lain yang lebih pendiam cenderung kurang Hal ini menciptakan ketidakseimbangan dalam dinamika kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti merekomendasikan agar guru lebih aktif dalam mengatur pembagian kelompok yang merata serta memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menyampaikan pendapat mereka. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen diskusi yang baik dapat meningkatkan partisipasi semua siswa dalam proses belajar (Sari. Di sisi lain, banyak siswa yang mengakui bahwa pembelajaran Akidah Akhlak melalui diskusi kelompok membuat mereka lebih menyadari pentingnya nilai moral dalam kehidupan mereka. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang lebih bijak dalam membuat keputusan, terutama terkait dengan perilaku sosial dan agama. Salah satu siswa menyatakan bahwa setelah mengikuti diskusi, ia merasa lebih terbuka terhadap perspektif orang lain dan lebih dapat mengendalikan emosi serta perilaku. Temuan ini mendukung penelitian yang menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok mampu meningkatkan kesadaran moral siswa (Faturohman & Suryadi, 2. Selain pemahaman akhlak, metode diskusi juga mempengaruhi sikap siswa terhadap guru dan mata pelajaran Akidah Akhlak. Sebelumnya, beberapa siswa merasa kurang tertarik dengan mata pelajaran ini karena dianggap monoton dan tidak berhubungan langsung dengan kehidupan mereka. Namun, setelah penerapan diskusi kelompok, banyak siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari materi Akidah Akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih interaktif dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa (Sumanto et al. , 2. Penggunaan metode diskusi kelompok juga mempengaruhi dinamika kelas secara keseluruhan. Sebelum diterapkannya metode ini, suasana kelas cenderung tegang dan kurang interaktif. Namun, setelah metode diskusi diterapkan, suasana kelas menjadi lebih hidup dan penuh Siswa terlihat lebih menikmati proses belajar, dan interaksi antara siswa dengan guru menjadi lebih terbuka dan penuh rasa hormat. Penelitian lain menunjukkan bahwa suasana kelas yang kondusif dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang produktif dan menyenangkan (Noviani et al. , 2. Namun, meskipun banyak manfaat yang didapatkan, penelitian ini juga menemukan bahwa proses refleksi dan evaluasi terhadap hasil diskusi masih perlu ditingkatkan. Beberapa siswa merasa bahwa refleksi yang dilakukan setelah diskusi kurang membantu mereka dalam menyimpulkan inti dari pembelajaran yang telah mereka lakukan. Untuk itu, penting bagi guru untuk memberikan umpan balik yang lebih terstruktur dan mendalam terhadap hasil diskusi setiap kelompok. Penelitian sebelumnya juga mengemukakan bahwa umpan balik yang tepat dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan (Creswell, 2. Berdasarkan hasil evaluasi, siklus kedua menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan siklus pertama. Peningkatan pemahaman siswa terhadap materi Akidah Akhlak dan partisipasi mereka dalam diskusi kelompok menjadi lebih signifikan. Selain itu, siklus kedua juga menunjukkan adanya perubahan sikap siswa yang lebih menghargai pendapat teman mereka dan lebih terbuka terhadap diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 berkelanjutan yang dilakukan dalam setiap siklus dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran (Kemmis & McTaggart, 2. Sebagai tambahan, refleksi dari setiap siklus memberikan gambaran yang lebih jelas tentang area yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Salah satu area yang perlu diperbaiki adalah pengelolaan waktu dalam setiap sesi diskusi. Beberapa kelompok membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pembahasan, sementara yang lain sudah merasa cukup dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk lebih cermat dalam mengatur waktu agar setiap kelompok dapat mengembangkan diskusi mereka secara maksimal (Sugiyono, 2. Siswa yang awalnya merasa kesulitan untuk berbicara di depan umum mulai menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berbicara mereka. Mereka menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat di hadapan teman-temannya. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa yang aktif dalam diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa metode diskusi kelompok tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berbicara dan komunikasi mereka (Sari, 2. Namun, meskipun metode ini cukup efektif, perlu dicatat bahwa beberapa siswa masih merasa kesulitan untuk mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk memberikan contoh-contoh nyata yang dapat memperjelas hubungan antara teori dan praktik. Penelitian menunjukkan bahwa penghubungan antara teori yang diajarkan dengan pengalaman siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai yang diajarkan (Sari, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Raudhatul Ulum berhasil meningkatkan pemahaman, penerapan nilai-nilai moral, serta keterampilan sosial siswa. Pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada kolaborasi siswa dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Dengan penerapan metode ini, diharapkan karakter siswa dapat terbentuk secara lebih holistik dan relevan dengan tantangan zaman (Faturohman & Suryadi. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan di MTs Raudhatul Ulum, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran Akidah Akhlak memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai akhlak pada siswa. Pembelajaran yang awalnya bersifat pasif dan teori semata, setelah diterapkan metode ini, menunjukkan perubahan positif di mana siswa lebih aktif dalam berpartisipasi, berbagi pengalaman, dan menerapkan nilai moral yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis kolaboratif dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap materi akidah dan akhlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode diskusi kelompok juga memfasilitasi siswa dalam meningkatkan keterampilan sosial, seperti kerja sama dan komunikasi, yang sebelumnya kurang berkembang. Pembelajaran yang melibatkan interaksi antar siswa ini turut memperkuat pemahaman mereka tentang pentingnya nilai-nilai moral, seperti kejujuran, disiplin, dan Di sisi lain, meskipun metode ini memberikan hasil yang baik, tantangan seperti dominasi satu pihak dalam diskusi dan pengelolaan waktu yang perlu diperbaiki tetap perlu menjadi perhatian. Secara keseluruhan, penerapan metode diskusi kelompok tidak hanya berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang Akidah Akhlak tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi mereka. Untuk ke depannya, disarankan agar guru terus melakukan refleksi dan evaluasi terhadap metode yang diterapkan agar pembelajaran dapat lebih efektif. Penelitian ini Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah dan diharapkan dapat menjadi model untuk madrasah lainnya dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual. REFERENCES