Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 Optimasi Formula Blending Produk Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO-LS) untuk Pemenuhan Bahan Bakar Kapal Berstandar International Maritim Organization (IMO) 2020 Fitra Dhuha*. Reza Fauzan. Teuku Rihayat Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Lhokseumawe. Jl. Banda Aceh-Medan Km. Buketrata. Punteut. Blang Mangat. Kota Lhokseumawe. Aceh 24301. Indonesia *E-mail: fitrad25@gmail. Abstract Article history: Received: 31-03-2026 Accepted: 22-04-2026 Published: 30-04-2026 Keywords: blending optimization. IMO 2020 compliance. marine fuel oil low sulfur (MFO-LS). refinery optimization. sulfur reduction. This study aims to optimize the blending formulation of Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFOLS) to comply with the International Maritime Organization (IMO) 2020 regulation, which limits sulfur content to a maximum of 0. 50% m/m. The methodology involves optimization using the Generalized Refining Transportation Marketing Planning System (GRTMPS) software, followed by laboratory validation of four blending formulations. The evaluated parameters include kinematic viscosity, pour point, flash point, density, sulfur content, and other impurities based on ASTM and ISO 8217 standards. The results indicate that not all formulations met the required specifications. Blending 1 exhibited a high pour point issue, while Blending 2 failed to meet the minimum viscosity requirement. The optimal formulation was achieved in Blending 3, which utilized 40% short residue combined with distillate components such as kerosene. LVGO, and HVGO. This formulation successfully met all critical parameters, with a viscosity of 87 mmA/s, pour point of 24AC, flash point of 66AC, and sulfur content of 0. 2% m/m. The findings also demonstrate that HVGO can be effectively utilized as a blending component within a 5Ae10% volume range without compromising product quality. Furthermore, the reformulation improves operational efficiency and economic value by maximizing the utilization of low-value residue streams. Therefore, the proposed blending strategy provides a practical and effective solution to meet global environmental regulations while enhancing the competitiveness of marine fuel products. Pendahuluan Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki peran strategis dalam perdagangan global yang sangat bergantung pada transportasi Sektor maritim menjadi tulang punggung distribusi energi dan logistik nasional, sehingga kebutuhan akan bahan bakar kapal yang efisien dan ramah lingkungan semakin meningkat. , . Dalam konteks ini, industri pengolahan minyak dan gas, memegang peranan penting dalam memastikan ketersediaan bahan bakar yang memenuhi standar internasional. Sejak International Maritime Organization (IMO) 2020, batas kandungan sulfur dalam bahan bakar kapal diturunkan secara signifikan dari 3,50% m/m menjadi maksimal 0,50% m/m. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi emisi sulfur oksida (SO. yang berkontribusi terhadap pencemaran udara dan dampak kesehatan global. Implementasi regulasi ini mendorong kilang minyak di seluruh dunia untuk melakukan penyesuaian proses produksi, termasuk optimalisasi blending bahan bakar rendah sulfur . ow sulfur fuel oil/LSFO). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses blending merupakan pendekatan yang fleksibel dan ekonomis dalam menghasilkan bahan bakar dengan spesifikasi tertentu tanpa investasi besar pada unit desulfurisasi baru . Studi menunjukkan bahwa blending residu dan distilat dengan proporsi yang tepat dapat viskositas, densitas, dan kandungan sulfur. , . Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa matematis dan simulasi dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga stabilitas produk. Di sisi lain, tantangan utama dalam blending bahan bakar adalah kompatibilitas antar komponen, stabilitas campuran, serta pengendalian sifat fisikokimia seperti viskositas dan pour point. , . Penelitian oleh Wang et al. menegaskan bahwa ketidakcocokan komponen dapat menyebabkan terjadinya sedimentasi dan asphaltene precipitation yang berdampak pada kualitas bahan bakar. Oleh karena itu. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 mempertimbangkan interaksi kimia dan sifat termodinamika masing-masing fraksi. Kilang pengolahan minyak memiliki konfigurasi unit yang memungkinkan produksi Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO-LS) melalui proses blending berbagai komponen seperti residue, distillate, dan intermediate product. Namun, adanya tambahan bahan baku baru berupa Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO) dari RU V Balikpapan menimbulkan tantangan operasional baru, terutama terkait keterbatasan pengolahan di unit Hydrocracking dan potensi gangguan operasional seperti fouling dan peningkatan tekanan operasi. Beberapa menunjukkan bahwa pemanfaatan intermediate stream seperti HVGO dalam blending dapat menjadi alternatif strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi produk, selama dilakukan optimasi komposisi yang tepat. , . Namun demikian, studi spesifik terkait pemanfaatan HVGO dalam formulasi MFO-LS di kilang domestik Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan kajian literatur yang ada, dapat diidentifikasi beberapa kesenjangan penelitian . esearch ga. , yaitu sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada optimasi blending secara umum, namun belum banyak yang mengkaji secara spesifik integrasi intermediate stream seperti HVGO dalam formulasi MFO-LS, studi terkait implementasi regulasi IMO 2020 lebih banyak dilakukan pada konteks global, sehingga masih terbatas kajian berbasis studi kasus kilang di Indonesia, belum terdapat penelitian yang secara komprehensif mengaitkan aspek teknis blending . tabilitas, kompatibilitas, viskosita. dengan aspek operasional dan ekonomis dalam satu kerangka analisis terpadu dan minimnya pendekatan berbasis kondisi aktual kilang . eal plant conditio. dalam merancang formulasi blending yang optimal. Penelitian ini memiliki beberapa unsur kebaruan . , yaitu mengintegrasikan pemanfaatan heavy vacuum gas oil (HVGO) sebagai komponen blending dalam formulasi marine fuel oil low sulfur (MFO-LS) menggunakan pendekatan berbasis kondisi aktual operasional kilang Pengolahan minyak bumi . eal industrial case stud. , mengkaji secara simultan aspek teknis . ualitas produ. , operasional . inerja uni. , dan ekonomis . fisiensi biaya produks. menghasilkan model formulasi blending yang aplikatif dan dapat direplikasi pada kilang dengan konfigurasi Penelitian ini bertujuan untuk merancang formulasi blending MFO-LS yang memenuhi spesifikasi IMO 2020, mengidentifikasi dan mengatasi kendala teknis dalam proses blending bahan bakar, mengevaluasi dampak reformulasi terhadap efisiensi operasional dan biaya produksi, mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku intermediate seperti HVGO dalam produksi bahan bakar kapal. Metode Penelitian ini dilaksanakan di unit pengolahan yang mendukung produksi bahan bakar marine. Kegiatan eksperimen dan pengujian dilakukan di fasilitas laboratorium kilang untuk memastikan kesesuaian metode dengan standar industri migas. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas berbagai komponen blending yang tersedia di lingkungan kilang, meliputi duri crude oil (DCO), short residue . esidu dari unit HVU), light gas oil (LGO), unconverted oil (UCO), kerosene . , light vacuum gas oil (LVGO), serta heavy vacuum gas oil (HVGO). Selain itu, digunakan pula komponen tambahan seperti PTCF. Pemilihan bahan didasarkan pada ketersediaan aktual di kilang serta potensi kontribusinya terhadap sifat fisikokimia produk akhir marine fuel oil low sulfur (MFO-LS). Peralatan yang digunakan meliputi perangkat lunak optimasi generalized refining transportation marketing planning system (GRTMPS) untuk menentukan komposisi blending secara matematis berbasis linear programming, serta peralatan laboratorium standar untuk pengujian kualitas bahan bakar. Parameter yang diuji mencakup densitas, viskositas kinematik, kandungan sulfur, pour point, flash point, total acid number (TAN), carbon residue, ash content, sediment content, serta kandungan logam seperti vanadium dan aluminium-silikon. Pengujian menggunakan metode standar internasional ASTM, seperti ASTM D1298 untuk densitas. ASTM D445 untuk viskositas. ASTM D4294 untuk sulfur, serta ASTM D93 untuk flash point, guna menjamin validitas dan reprodusibilitas Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 Rancangan Penelitian Rancangan percobaan dalam penelitian ini dengan variasi komposisi blending sebagai variabel bebas, sedangkan variabel terikat berupa spesifikasi kualitas produk MFO-LS yang Variasi berdasarkan hasil optimasi menggunakan GRTMPS dan dikembangkan dalam beberapa skenario blending dengan proporsi berbeda untuk setiap komponen. Sementara itu, variabel kontrol dijaga konstan untuk meminimalkan bias, meliputi suhu pencampuran sebesar A60AC, waktu pengadukan selama 30 menit, dan kecepatan pengadukan sekitar 300 rpm. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian diawali dengan karakterisasi bahan baku . ase component fisikokimia masing-masing komponen secara individual sebagai data input dalam proses Selanjutnya, dilakukan simulasi optimasi menggunakan perangkat lunak GRTMPS untuk memperoleh komposisi blending yang memenuhi batasan spesifikasi IMO 2020, khususnya kadar sulfur maksimum 0,50% m/m serta parameter kualitas lainnya. Hasil optimasi kemudian diuji melalui proses blending skala laboratorium dengan metode pencampuran termal menggunakan hot plate dan magnetic stirrer hingga diperoleh campuran homogen. Tahap blending laboratorium dilakukan melalui penimbangan komponen sesuai rasio hasil optimasi, diikuti dengan pemanasan hingga suhu operasi untuk menurunkan viskositas, kemudian dilakukan pengadukan hingga tercapai homogenitas campuran. Sampel hasil blending selanjutnya didinginkan pada suhu ruang dan disimpan dalam wadah tertutup untuk dilakukan pengujian kualitas. Pengujian kualitas produk dilakukan secara komprehensif sesuai standar ASTM untuk memastikan kesesuaian dengan spesifikasi marine fuel oil low sulfur (MFO-LS). Selain itu, prosedur sampling dilakukan berdasarkan standar operasional pengambilan sampel mempertimbangkan level cairan . pper, middle, lower samplin. guna memperoleh sampel Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil uji setiap variasi blending terhadap batas spesifikasi yang ditetapkan oleh IMO 2020, serta mengevaluasi performa masing- masing formulasi dari aspek teknis dan potensi implementasi operasional di kilang. Hasil dan Pembahasan Hasil Analisa dan Optimasi Formulasi Blending Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimasi formulasi blending marine fuel oil low sulfur (MFO-LS) dilakukan melalui empat variasi komposisi yang diuji menggunakan kombinasi simulasi perangkat lunak GRTMPS dan verifikasi uji laboratorium. Evaluasi difokuskan pada parameter kritis seperti viskositas kinematik, pour point, flash point, dan kandungan sulfur International Maritime Organization (IMO) 2020 dan spesifikasi ISO Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa tidak seluruh formulasi memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, sehingga diperlukan analisis bertahap untuk menentukan formula Hasil analisa ditunjukkan dalam Tabel Pada tahap awal, formulasi blending 1 menunjukkan bahwa viskositas kinematik sebesar 61,121 mmA/s masih berada dalam rentang spesifikasi, namun nilai pour point mencapai 30AC yang berada tepat pada batas Kondisi ini mengindikasikan potensi risiko operasional, terutama terkait kemampuan alir bahan bakar pada suhu rendah. Tingginya pour point dipengaruhi oleh dominasi komponen waxy seperti Duri Crude Oil dan unconverted oil (UCO), yang diketahui memiliki kandungan Dengan mempertimbangkan risiko tersebut, formulasi ini dinilai kurang stabil untuk aplikasi operasional meskipun secara spesifikasi masih memenuhi batas minimum. Selanjutnya, blending 2 menunjukkan kegagalan signifikan pada parameter viskositas, yaitu hanya sebesar 19,05 mmA/s, jauh di bawah batas minimum standar . mmA/. Hal ini disebabkan oleh dominasi komponen ringan seperti PTCF dan LGO yang menurunkan kekentalan campuran secara drastis. Meskipun pour point dan flash point berada dalam kondisi aman, ketidaksesuaian viskositas menjadikan formulasi ini tidak layak untuk digunakan sebagai bahan bakar marine karena tidak memenuhi karakteristik pembakaran yang dibutuhkan. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 Tabel 1. Hasil analisa uji laboratorium Properties Unit Spec Blending 1 Blending 2 Blending 3 Blending 4 Kin. Visco at 50AC* 30 - 180 Pour Point* AC Max. Flash Point PMCC* AC Min. Density at 15AC kg/m3 Max. CCR %wt Max. Ash Content %wt Max. Sulfur Content* %wt Max. Sediment Total %wt Max. mg KOH/g Max. Water Content %vol Max. Al Si Content mg/kg Max. Vanadium mg/kg Max. Calsium mg/kg Max. Zinc mg/kg Max. Total Acid Number Note: *Critical parameter ** Tidak dilakukan analisa Menyeluruh Perbaikan signifikan diperoleh pada formulasi blending 3, yang menunjukkan performa terbaik di antara seluruh variasi. Komposisi yang memanfaatkan short residue hingga 40% serta penambahan komponen distilat seperti kerosene. LVGO, dan HVGO menghasilkan viskositas sebesar 87 mmA/s yang berada pada rentang ideal. Selain itu, nilai pour point berhasil diturunkan menjadi 24AC, menunjukkan peningkatan sifat alir bahan bakar akibat efek pencampuran komponen yang lebih ringan. Kandungan sulfur sebesar 0,2% m/m menunjukkan keberhasilan dalam memenuhi regulasi IMO 2020, sementara parameter lain seperti sediment, logam (Al S. , dan carbon residue juga berada dalam batas Meskipun terjadi penurunan flash point akibat penambahan kerosene, nilainya tetap berada di atas batas minimum 60AC sehingga masih aman untuk aplikasi operasional. Dengan demikian, formulasi ini tidak hanya memenuhi seluruh spesifikasi teknis, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomis melalui pemanfaatan residu dalam jumlah besar. Formulasi alternatif ditunjukkan oleh blending 4, yang memiliki karakteristik serupa dengan blending 3 namun dengan proporsi HVGO yang lebih tinggi dan short residue yang lebih rendah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa viskositas sebesar 62 mmA/s masih memenuhi spesifikasi, sementara nilai sedimen lebih rendah dibandingkan blending 3, yang mengindikasikan kualitas kebersihan bahan bakar yang lebih baik. Namun demikian, dari perspektif ekonomi, peningkatan penggunaan HVGO yang bernilai lebih tinggi dapat menurunkan margin keuntungan, sehingga formulasi ini lebih sesuai sebagai alternatif ketika ketersediaan short residue terbatas. Secara keseluruhan, hasil optimasi menunjukkan bahwa blending 3 merupakan menyeimbangkan parameter teknis dan aspek ekonomis secara simultan. Selain itu, hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa heavy vacuum gas oil (HVGO) dapat digunakan sebagai komponen blending dalam kisaran 5Ae10% volume tanpa mengganggu kualitas produk 2 Pembahasan 1 Strategi Reformulasi Blending MFO-LS Berbasis IMO 2020 Strategi utama dalam reformulasi blending MFO-LS berfokus pada pemenuhan batas maksimum kandungan sulfur sebesar 0,50% m/m sebagaimana ditetapkan oleh IMO 2020. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi antara pemilihan bahan baku rendah sulfur dan metode blending berbasis Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 neraca massa serta pendekatan linear Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran komponen residu dengan distilat ringan seperti kerosene dan gas oil efektif dalam menurunkan kadar sulfur sekaligus mengontrol viskositas dan sifat alir bahan bakar. Selain itu, penggunaan HVGO sebagai komponen tambahan terbukti dapat meningkatkan fleksibilitas formulasi tanpa mengorbankan spesifikasi produk. Namun parameter lain seperti viskositas, pour point, dan flash point tetap menjadi perhatian utama. Hal ini menunjukkan bahwa optimasi blending tidak hanya berfokus pada satu parameter, tetapi harus mempertimbangkan interaksi kompleks antar sifat fisikokimia bahan bakar. 2 Tantangan Teknis dalam Proses Blending Salah satu tantangan utama dalam proses blending adalah masalah kompatibilitas antar Ketidaksesuaian sifat kimia dapat asphaltene yang berpotensi membentuk sludge, sehingga dapat mengganggu sistem bahan bakar. Selain itu, stabilitas bahan bakar selama penyimpanan juga menjadi isu penting, terutama untuk memastikan bahwa campuran tetap homogen dalam jangka waktu tertentu. Keterbatasan infrastruktur juga menjadi faktor yang mempengaruhi keberhasilan blending, seperti akurasi alat ukur dan sistem pencampuran di kilang. Oleh karena itu, diperlukan kontrol proses yang ketat serta validasi laboratorium untuk memastikan konsistensi kualitas produk. 3 Dampak Reformulasi terhadap Efisiensi Operasional Reformulasi MFO-LS memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional, baik dari sisi pembakaran, sistem pelumasan, maupun konsumsi energi. Dari aspek pembakaran, viskositas yang lebih rendah meningkatkan kualitas atomisasi bahan bakar sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan mengurangi pembentukan deposit karbon. Hal ini berdampak pada peningkatan efisiensi termal mesin serta penurunan biaya perawatan. Dari kandungan sulfur mengurangi pembentukan asam sulfat, sehingga kebutuhan penggunaan pelumas dengan nilai alkalinitas tinggi menjadi lebih rendah. Hal ini dapat meningkatkan memperpanjang umur komponen mesin. Selain itu, viskositas yang lebih rendah juga berdampak pada penurunan kebutuhan energi untuk pemanasan bahan bakar sebelum injeksi, sehingga memberikan penghematan energi yang signifikan. Namun demikian, terdapat risiko operasional seperti potensi kebocoran pada sistem bahan bakar akibat sifat fluida yang lebih ringan serta peningkatan beban pada sistem pemurnian . jika terjadi ketidakstabilan campuran. Sintesis Hasil Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi blending MFO-LS tidak hanya bergantung pada pemenuhan keseimbangan antara aspek kualitas, stabilitas, dan ekonomi. Formulasi blending 3 terbukti sebagai solusi optimal yang mampu memenuhi seluruh parameter IMO 2020 sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan residu di Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi industri pengolahan migas dalam menghadapi tantangan regulasi global dan meningkatkan daya saing produk bahan bakar Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian optimasi formulasi blending Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO-LS) dapat disimpulkan bahwa komposisi pemenuhan spesifikasi bahan bakar sesuai standar International Maritime Organization (IMO) 2020. Dari empat variasi formulasi yang diuji, blending 3 merupakan formula optimum yang mampu memenuhi seluruh parameter kritis, meliputi viskositas kinematik sebesar 87 mmA/s, pour point 24AC, flash point 66AC, serta kandungan sulfur sebesar 0,2% m/m yang berada di bawah batas maksimum 0,50% m/m. Permasalahan pada formulasi awal, yaitu tingginya pour point pada blending 1 dan rendahnya viskositas pada blending 2, menunjukkan pentingnya keseimbangan antara komponen residu dan distilat dalam proses Penambahan komponen seperti kerosene. LVGO, dan HVGO terbukti efektif dalam memperbaiki sifat alir dan kestabilan bahan bakar. Selain itu, pemanfaatan HVGO Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 127-132 dalam kisaran 5Ae10% volume dapat digunakan sebagai alternatif strategis tanpa menurunkan kualitas produk. Dari aspek operasional dan ekonomis, formulasi optimum mampu meningkatkan pemanfaatan short residue hingga 40%, sehingga memberikan nilai tambah terhadap produk bernilai rendah menjadi bahan bakar yang memenuhi standar internasional. Reformulasi ini juga berdampak positif terhadap efisiensi pembakaran, pengurangan emisi, serta potensi penghematan energi pada sistem pemanasan bahan bakar. Dengan demikian, penelitian ini pengembangan strategi blending yang optimal, adaptif terhadap regulasi global, dan aplikatif pada kondisi aktual kilang. Daftar Pustaka