IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. PERBANDINGAN BIAYA PELAYANAN RAWAT JALAN POLIKLINIK JANTUNG DENGAN REALISASI KLAIM BPJS COMPARISON OF CARDIAC POLYCLINIC OUTPATIENT SERVICE COSTS WITH BPJS CLAIM REALIZATION Intan Kumalasari*1. Yuniar Lestari2. Adila Kasni Astiena3 1,2,3 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Andalas Jl. Perintis Kemerdekaan No. Jati. Kec. Padang Timur. Kota Padang Email: intankumalasari028@gmail ABSTRAK Latar Belakang : RSI Ibnu Sina Simpang Empat merupakan salah satu rumah sakit swasta tipe C. Pada instalasi rawat jalan RSI Ibnu Sina Simpang Empat, jumlah kunjungan pasien penyakit jantung selama tahun 2019 adalah 14% dari semua kunjungan di Poliklinik, dimana 97% merupakan pasien BPJS. Penyakit jantung mengeluarkan biaya terbanyak dalam pengobatanya yakni sebesar Rp 229 pada triwulan pertama awal tahun 2019 dan masih terdapat selisih minus sebesar -Rp 429 setelah klaim dibayarkan. Kondisi ini dapat menyebabkan kerugian yang dapat berdampak pada pendapatan rumah sakit. Metoda : Jenis penelitian ini merupakan penelitian campuran yang berbentuk Sekuensial eksplanatori. Sampel digunakan secara perfosif pada tiga diagnosis utama pada Poliklinik Jantung selama tahun 2019-2020. Hasil : Selisih biaya negatif yang sangat besar terjadi pada diagnosis Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (I. I25. di tahun 2019 yakni -125%, diikuti diagnosis Atherosclerotic heart disease (I25. sebesar -17% dan Congestive Heart Failure (I50. sebesar -19%. Dengan adanya kebijakan manajemen menyebabkan terjadi keuntungan di tahun 2020 pada diagnosis tersebut secara berturutturut sebesar 26%, 23%, dan 34 % dimana proses pelayanan yang mengeluarkan biaya terbesar berasal dari pembiayaan obat. Kesimpulan : Kebijakan pelayanan pengajuan klaim BPJS di RSI Ibnu Sina Simpang Empat dapat menekan kerugian yang terjadi di Poliklinik Jantung tahun 2019 menjadi keuntungan di tahun 2020. Kata kunci : selisih biaya. klaim BPJS. Poliklinik Jantung ABSTRACT Background: Ibnu Sina Simpang Empat Hospital is a type C hospital. At the outpatient installation at Ibnu Sina Simpang Empat Hospital, the number of visits for heart disease patients during 2019 was 14% of all visits to the Polyclinic, where 97% were BPJS patients. Heart disease costs the most in its treatment, namely Rp. 667,983,229 in the first quarter of early 2019 and there is still a minus difference of -Rp. 340,246,429 after the claim is paid. This condition can cause losses that can impact the hospital's income. Methods: This type of research is a mixed research in the form of an explanatory sequential design. Samples were perfosively used for three main diagnoses at the Cardiac Polyclinic during 2019-2020. Results: A very large negative cost difference occurred in the diagnosis of Congestive Heart Failure accompanied by Atherosclerotic heart disease (I. I25. in 2019 which was -125%, followed by the diagnosis of Atherosclerotic heart disease (I25. of -17% and Congestive Heart Failure (I50. of -19%. The existence of a management policy has resulted in a profit in 2020 for this diagnosis in a row of 26%, 23% and 34% where the service process that incurs the largest costs comes from drug financing. Conclusion: The BPJS claim submission service policy at the Ibnu Sina Simpang Empat Hospital can reduce the losses that occurred at the Cardiac Polyclinic in 2019 to become profits in 2020. Keywords : cost difference. BPJS claims. Cardiac Polyclinic JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. PENDAHULUAN Penyakit katastropik merupakan penyakit yang mengeluarkan biaya besar . igh cos. , berjumlah banyak . igh volum. dan beresiko tinggi . igh ris. Pada penelitian yang dilakukan di 10 rumah sakit milik Kementrian Kesehatan didapatkan penyakit katastropik yang terdiri dari penyakit jantung 37,11%, penyakit kanker 23,54% dan penyakit stroke 39,35% (Budiarto,2. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia menyerap sekitar 30% dari seluruh biaya pengobatan oleh rumah sakit. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia menerapkan system Casemix INACBGs (Indonesia Case Based Group. di Rumah Sakit. Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada cirri klinis yang mirip/sama dan mirip/sama, menggunakan grouper, cara pembayaran tagihan sesuai dengan system kodifikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan ICD10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM (Permenkes No 27, 2. BPJS Kesehatan merupakan asuransi sosial yang tidak mencari keuntungan sehingga berfungsi sosial kepada seluruh Warga Negara Indonesia dan merupakan bagian dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) (Mariyam, 2. Saat ini sebanyak 80-90% pasien di rumah sakit swasta merupakan pasien JKN (Nurwahyuni, 2. Tarif INA-CBGs ini seringkali tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit, sehingga ada perbedaan tariff rumah sakit dengan tarif INA-CBGs. Terdapat perbedaan perhitungan harga rumah sakit dimana tarif rumah sakit lebih besar dari pada tarif INACBGs pada pengobatan pasien penyakit jantung, namun selisih tarif tidak boleh dibebankan pada pasien (Kemenkes RI, 2. Apabila hal ini terjadi terus menerus dapat menyebabkan kerugian pada pihak rumah sakit. Kondisi ini memberikan dorongan untuk melakukan penelitian terkait perbedaan tariff riil pelayanan kesehatan . umah saki. dengan tarif paket Indonesia Case Based Groups (INACBG. Pada penelitian yang dilakukan di JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 RSU RA. Kartini Jepara pada pasien rawat inap, menunjukan bahwa ada beda rata-rata antara tariff riil dengan tarif paket INA-CBGs (Mulyanto, 2. Dalam hal ini telah perbandingan antara tarif rumah sakit dengan tarif INA-CBGs pada berbagai kasus seperti fraktur (Munawaroh, 2. , diabetes (Fitri, 2. , stroke hemoragi (Hudayani, 2. , ginjal kronis (Azalea, 2. Belum ada penelitian mengenai perbedaan selisih biaya pengobatan rawat jalan pasien penyakit Penelitian lain yang sudah ada tentang selisih biaya penyakit jantung koroner pada pasien rawat inap dilaksanakan pada RS UZA. Banda Aceh (Lilissuriani, 2. Pada kenyataannya sebagian besar rumah sakit masih mengalami selisih negative antara biaya yang dikeluarkan berdasarkan tarif rumah sakit dibandingkan dengan tarif INA CBGs (Mardiah, 2. RSI Ibnu Sina Simpang Empat merupakan salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Pada instalasi rawat jalan RSI Ibnu Sina Simpang Empat, jumlah kunjungan pasien penyakit jantung selama tahun 2019 adalah 14 % dari semua kunjungan di Poliklinik, dimana 97% merupakan pasien BPJS. Berdasarkan studi pendahuluan dapat diketahui bahwa sebagian besar pasien BPJS berobat pada poliklinik penyakit dalam, poliklinik jantung, dan poliklinik neuro, dimana yang biaya pengantian klaim pada poliklinik ini lebih kecil dari pada biaya riil yang dikeluarkan. Pada poliklinik jantung ditemukan beberapa diagnose antara lain Congestife Heart Failure (CHF). Atherosclerosis Heart Disease (ASHD). Angina Pectoris, dan Hipertensi Heart Disease (HHD). Penyakit jantung merupakan penyakit katastropik, dimana pengobatan penyakit ini memerlukan biaya pengobatan penyakit ini memerlukan biaya yang relative besar, sementara pembayaran klaim pada pengobatan rawat jalan penyakit jantung menggunakan tarif INA-CBGs yang sama besar dengan penyakit Penyakit jantung mengeluarkan biaya terbanyak dalam pengobatanya yakni sebesar 229 pada triwulan pertama awal tahun 2019 dan masih terdapat selisih I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A minus sebesar -Rp 340. 429 setelah klaim Kondisi ini dapat menyebabkan kerugian yang dapat berdampak pada pendapatan rumah sakit terutama pada rumah sakit swasta dimana sumber pendanaanya tidak berasal dari pemerintah. Penelitian mengetahui bagaimana perbandingan total biaya yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Simpang Empat dibandingkan dengan penggantian klaim yang dibayarkan oleh BPJS pada Poliklinik Jantung dan menganalisis biaya pada poliklinik jantung yang dikeluarkan oleh rumah sakit kemudian Melakukan evaluasi terkait pengantian klaim yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan dan kebijakan yang diambil terhadap hal tersebut. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di RSI Ibnu Sina Simpang Empat Pasaman Barat. Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang berkunjung ke Poliklinik Jantung sebanyak 15. 882 orang Pasien. Sampel yang digunakan adalah jumlah pasien yang memiliki tiga diagnosis terbanyak, namun tidak semua sampel tersebut memenuhi persyaratan untuk diteliti, sehingga dari 7. orang pasien hanya 516 orang pasien yang memenuhi kriteria. Penelitian ini merupakan penelitian campuran (Mix Metho. secara Sekuensial eksplanatori . xplanatory sequential desig. yaitu penelitian yang menggabungkan penelitian . uantitatif dan kualitati. Metode penelitian ini kuantitatif dan kualitatif secara berurutan dengan tahap pertama penelitian kuantitatif sebagai prioritas. Ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Kemudian dilakukan penelitian dengan metode kualitatif untuk membantu menjelaskan hasil temuan pada penelitian kuantitatif pada satu penelitian yang bertujuan untuk menperdalam permasalahan (Hardisman, 2. HASIL Dari hasil penelitian didapatkan data kunjungan pasien selama tahun 2019-2020 dapat terlihat bahwa jumlah pasien ke Poliklinik jantung terjadi peningkatan setiap bulannya. Pasien yang berkunjung ke Poliklinik Jantung cukup besar yakni sebesar 12,81% pada tahun 2019 dan meningkat pada tahun 2020 menjadi 14,67%. Seperti kita semua ketahui pada awal tahun 2020 pandemi Covid-19 memasuki Indonesia yang diumumkan secara resmi pada bulan maret 2020. Kondisi ini secara tidak langsung mempengaruhi jumlah kunjungan ke Poliklinik Jantung yang menurun di bulan April 2020 dibandingkan dengan bulan Walaupun demikian kondisi pandemik ini tidak terlalu mempengaruhi jumlah pasien secara kumulatif yang berkunjung ke poliklinik jantung. Sehingga dari hasil penelitian ini diketahui bahwa selama tahun 2019 terdapat 8300 pasien, seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Data Kunjungan Pasien ke Poliklinik Jantung No. Bulan Poliklinik Jantung Poliklinik Jantung Januari Februari Maret April Mei Juni JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Berdasarkan kode INACBGs terdapat 13 kode INACBGs pada Poliklinik jantung. Sedangkan berdasarkan ICD 10, terdapat 285 diagnosis yang ada di poliklinik jantung. Pada tahun 2019 diagnosis terbanyak Z09. I50. I25. 1 yang apabila diterjemahkan dari ICD 10 adalah rujuk balik pasien berulang dengan Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease sebanyak 2554 kasus . ,77%). Diagnosis terbanyak berikutnya adalah Z09. I25. 1 yang dapat diartikan sebagai rujuk balik pasien berulang dengan diagnosis Atherosclerotic heart disease sebanyak 1105 kasus . ,31%). Diagnosis Z09. I50. merupakan rujuk balik pasien berulang dengan diangnosis Congestive Heart Failure sebanyak 656 kasus . ,90%). Dalam kode INACBGs ketiga penyakit ini masih tergolong dalam satu golongan yang sama dengan kode Q-5-44-0 yaitu deskripsi Penyakit Kronis Kecil LainLain. Pada tahun 2020 terdapat 7582 kunjungan dan terjadi perubahan tren pada 3 diagnosis terbesar terbebut, dimana diagnosis rujuk balik Atherosclerotic heart disease (Z09. I25. meningkat hingga 3x lipat sebesar 3065 . ,44%) dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu diagnosis rujuk balik pasien berulang komplikasi Congestive Heart Failure Atherosclerotic (Z09. I50. I25. merupakan diagnosis terbanyak pada tahun . penurunan menjadi seperlimanya menjadi 445 kunjungan . ,87%). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari hasil dokumentasi rekapan data penangihan casemix BPJS. Hasil perhitungan dengan menggunakan komputer menunjukan bahwa terdapat selisih negatif biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh poliklinik jantung. Hasil perhitungan pada tahun 2019 tersebut diperoleh selisih sebesar Rp 1. 049 dan pada tahun 2020 masih terdapat selisih sebesar -Rp 1. yang dapat dilihat pada table dibawah ini: Tabel 2. Perbandingan Biaya Pada Poliklinik Jantung No. Bulan Biaya RS Selisih Biaya Biaya RS Selisih Biaya Januari -Rp -Rp Februari -Rp -Rp Maret -Rp -Rp April -Rp -Rp Mei -Rp -Rp Juni -Rp -Rp Juli -Rp -Rp Agustus -Rp -Rp September -Rp -Rp JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A Oktober -Rp -Rp November -Rp -Rp Desember -Rp -Rp Jumlah -Rp -Rp Biaya tetap tidak akan dipengaruhi oleh jumlah pasien yang berobat ke Poliklinik Jantung, dengan kata lain ada atau tidak ada kunjungan pasien biaya tersebut tetap akan ada. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan tiap kunjungan pasien, dimana biaya ini akan berbeda apabila jumlah pasien yang berkunjung juga berbeda. Pembiayaan obat pasien BPJS terdiri dari obat paket INACBgs dan paket obat Paket obat INCBGS merupakan paket obat yang diberikan menyertai kunjungan pasien ke Poliklinik, dimana paket ini paling banyak dapat diberikan untuk tujuh . hari Namun pada perekapan data oleh bagian casemix pembiayaan obat kronis ini masih digabungkan dengan paket INACBGs yang menyebabkan selisih biaya yang sangat besar yakni -Rp1. 486 pada tahun 2019 dan Rp967. 298 di tahun 2020. Pada dasarnya paket obat untuk pasien kronis diberikan untuk satu bulan. Sementara itu, seperti yang telah diuraikan sebelumnya paket INACBGs hanya menanggung pemberian obat untuk 7 hari, sisa obat bulannya . iasanya 23 har. diinputkan terpisah dengan aplikasi prolanis. Pada aplikasi prolanis ini pembiayaan diinputkan berdasarkan obat kronis yang diresepkan sesuai dengan aturan formularium nasional. Akan tetapi tidak semua obat yang diresepkan oleh DPJP untuk diberikan dalam sisa 23 hari tersebut ada dalam aplikasi tersebut. Sehingga sisa obat kronis . eruntukan untuk 23 har. terpaksa dimasukan dalam pembiayaan obat INACBGs. Oleh sebab itu, sampel yang diambil adalah sampel yang memenuhi kriteria untuk melakukan perhitungan analisis biaya, yaitu pasien yang hanya menerima paket INACBGs dan memiliki rincian biaya utilitas pelayanan. Sampel yang digunakan tersebut diambil secara perposif dalam kata lain sampel yang digunakan adalah semua kunjungan pasien yang memiliki rincincian biaya utilitas Rincian biaya dari poliklinik jantung pada tahun 2019 dan 2020 dapat dilihat pada table dibawah ini: Tabel 3. Rincian Biaya Pada Poliklinik Jantung Diagnosis Pasien D1 2019 D2 2019 D3 2019 Jumlah D1 2020 D2 2020 D3 2020 Jumlah Prosedur Non_Bedah Konsultasi Keperawatan Rp 45. Rp 143. Obat Obat Kronis Penunjang Rp 18. Rp 153. Rp 198. Rp 41. Rp230. Rp 630. Laboratorium Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pembiayaan obat . merupakan utilitas terbanyak dari utilitas lainnya. Namun seharusnya pengeluaran obat tersebut jauh lebih banyak daripada data rekapan rumah sakit. Hal ini terjadi karena tidak semua kasus kunjungan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Radiologi ditulis pengeluaranya terperinci berdasarkan Sehingga analisa biaya yang telah digunakan selama tahun 2019 dan 2020 dari jumlah pasien diatas tidak semuanya dapat Analisa biaya hanya bisa dilakukan pada data pasien yang lengkap rincian IN I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A Pengeluaran biaya terbesar berasal dari pembiayaan penunjang berupa pembiayaan obat sebesar Rp 352. 262 pada tahun 2019 dan Rp 860. Biaya obat ini terdiri atas obat paket INACBGs sebesar Rp. tahun 2019 dan 230. 909 tahun 2020 serta biaya obat kronis sebesar Rp. tahun 2019 dan Rp. 011 tahun 2020. Proses pelayanan pada kunjungan di poliklinik jantung dimulai dari administrasi pasien, konsultasi pasien. Tindakan . rosedur non beda. Tindakan keprawatan, pemakaian alat . , radiologi, laboratorium dan obat maksimal untuk tujuh hari. Distribusi utilisasi dari pasien yang datanya memenuhi kriteria adalah sebagai berikut : Tabel 4. Data Distribusi Utilisasi Biaya Berdasarkan Proses Pelayanan No. Proses Pelayanan Tahun 2019 Tahun 2020 Administrasi Prosedur_Non_Bedah Konsultasi Keperawatan Penunjang Radiologi Laboratorium Obat Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa setiap kunjungan ke Poliklinik jantung akan mengikuti proses administrasi dan konsultasi, dalam proses pengobatan di poliklinik jantung juga selalu menggunakan obat dalam Berikut ini akan dijabarkan Selisih biaya pada tiga diagnosis utama yang mendapatkan pelayanan pada Poliklinik Jantung pada tahun 2019 dan 2020. Pada diagnosis rujuk balik pasien berulang dengan Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (D. di tahun 2019 terdapat 128 kunjungan pasien yang terdiri dari 70 pasien laki-laki dan 58 pasien perempuan dan terdistribusi dari umur 34 hingga 87 tahun. Diagnosis ini sebagian besar dialami pada rentang usia 51-70 tahun. Walaupun demikian diagnosis ini sudah dapat terdeteksi pada usia 30an. Pada diagnosis kedua yaitu rujuk balik Atherosclerotic heart disease (D. di tahun 2019 terdapat 81 kunjungan pasien yang terdiri dari 35 pasien laki-laki dan 46 pasien JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 perempuan dan terdistribusi dari umur 38 hingga 76 tahun. Diagnosis penyakit ini banyak terjadi pada rentang usia 41 s/d 50 mulai terjadi peningkatan kasus. Penyakit dengan diagnosis ini banyak dialami pada rentang usia 51-70 tahun. Walaupun demikian diagnosis ini sudah dapat terdeteksi pada usia Diagnosis ketiga merupakan rujuk balik pasien berulang dengan diagnosis Congestive Heart Failure (D. di tahun 2019 terdapat 70 kunjungan pasien yang terdiri dari 16 pasien laki-laki dan 54 pasien perempuan dan terdistribusi dari umur 22 hingga 86 tahun. Diagnosis ini Sebagian besar dialami oleh perempuan bahkan jumlah pasien perempuan sebanyak A dari seluruh pengunjung, dan juga diagnosis ini banyak terjadi pada rentang usia 61-70 tahun. Walaupun demikian diagnosis ini sudah dapat terdeteksi pada usia 20an dan hampir terdistribusi merata pada rentang usia I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Selanjutnya diagnosis rujuk balik pasien berulang dengan Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (D. di tahun 2020 terdapat 68 kunjungan pasien yang terdiri dari 35 pasien laki-laki dan 46 pasien perempuan dan terdistribusi dari umur 35 hingga 81 tahun. Dari gambar 10 dapat terlihat bahwa diagnosis ini lebih dari separuh dialami oleh perempuan, yakni sebesar 62%, sedangkan pasien laki-laki hanya 38%. Diagnosis ini banyak terjadi pada rentang usia 61-70 tahun. Walaupun demikian diagnosis ini sudah terdapat pada usia 30an dan terus mengalami peningkatan untuk rentang usia selanjutnya hingga usia 70 tahun. Pada usia 71 keatas jumlah pasien berkurang drastis. Pada tahun 2020 terjadi pandemic Covid-19 yang menyebabkan pasien dengan penyakit jantung memiliki resiko kematian yang tinggi sehingga ada kemungkinan bahwa pasien sudah tidak ada pada rentang usia 70 keatas. Selanjutnya diagnosis rujuk balik pasien berulang dengan diagnosis Atherosclerotic heart disease (D. di tahun 2020 terdapat 107 kunjungan pasien yang terdiri dari 63 pasien laki-laki dan 44 pasien perempuan dan terdistribusi dari umur 20 hingga 84 tahun. Diagnosis ini lebih dari separuh dialami oleh perempuan, yakni sebesar 59%, sedangkan pasien laki-laki 41%, dapat terlihat bahwa setegah pasien dengan diagnosis tersebut mempunyai rentang usia 51-60 tahun. Salah satu pasien yang terdiagnosa penyakit ini bahkan berusia 20 tahun. Pada umumnya diagnosis ini terdeteksi pada usia 30an dan terus mengalami peningkatan untuk rentang usia selanjutnya. Pada tahun 2020 terjadi lonjakan kunjugan dibandingkan tahun sebelumnya hingga 3x lipat. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kunjungan pasien yang biasanya ke Faskes tingkat 3, namun dalam kondisi covid-19 dialihkan ke Faskes tingkat 2. Kemudian diagnosis rujuk balik pasien berulang dengan diangnosis Congestive Heart Failure (D. di tahun 2020 terdapat 62 kunjungan pasien yang terdiri dari 26 pasien laki-laki dan 36 pasien perempuan dan terdistribusi dari umur 17 hingga 84 tahun. Diagnosis ini lebih dari separuh dialami oleh perempuan, yakni sebesar 58%, sedangkan pasien laki-laki 42%. Diagnosis ini dapat terlihat bahwa rentang usia 51-60 tahun Salah satu pasien yang terdiagnosa penyakit ini bahkan berusia 17 tahun dan sudah rutin menjalani pengobatan di Poliklinik jantung perbulannya. Pada umumnya diagnosis ini terdeteksi pada usia 30an dan terus mengalami peningkatan untuk rentang usia Tabel 5. Keuntungan dan Kerugian Biaya Dari Selisih Biaya No. Kode Diagnosis D1 2019 D2 2019 D3 2019 D1 2020 D2 2020 D3 2020 Rerata Biaya RS JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Rerata Selisih Biaya dengan Klaim -Rp -Rp -Rp -Rp Rerata % Kerugian -125% -17% -19% IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Dari table diatas dapat terlihat kerugian rumah sakit pada diagnosis Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease tahun 2019 (D. mencapai 125%. Dalam kata lain apabila dirata-ratakan selisih biaya dari setiap kunjungan merupakan 2 kali biaya paket INACBGs. Sehingga rumah sakit mengalami kerugian besar pada pengantian klaim didiagnosis ini di tahun 2019. Namun berbeda dengan tahun 2020, rumah sakit mengalami keuntungan sebesar 26%. Hal ini kemungkinan terjadi karena penurunan kunjungan yang drastis dari diagnosis ini. sehingga persentase kerugian yang dialami rumah sakit tidak ada. Sebagian besar biaya rumah sakit pada diagnosis ini di tahun 2020 ini sudah lebih kecil daripada paket INACBGs-nya. Namun ada beberapa pasien yang biaya rumah sakitnya jauh lebih besar dari paket INACBGs yang sangat besar pada diagnosis dan salah satunya bahkan sampai 3x lipat dari rerata, dimana pada kasus kunjungan tersebut biaya terbesar berasal dari biaya obat. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelusuran penyebab pembengkakan biaya obat pada kunjungan pasien tersebut. Dari table diatas dapat terlihat kerugian rumah sakit pada diagnosis Atherosclerotic heart disease (D. tahun 2019 sebesar 17%. Pada diagnosis ini rumah sakit tetap mengalami kerugian dan jumlah dalam persentase tidak terlalu besar, sehingga bisa saja dilakukan subsidi silang klaim dengan klaim kasus Pada Tahun 2020 kerugian rumah sakit pada diagnosis Atherosclerotic heart disease (D. sebesar AeRp 3. Namun apabila ditambahkan secara kumulatif dan scientific malah terlihat persentase kerugian menjadi keuntungan sebesar 23%. Kondisi ini ini mengalami kenaikan keuntungan dibandingkan Hal ini kemungkinan terjadi karena kenaikan kunjungan yang drastic dari diagnosis ini. Pada tahun 2020 ini biaya rumah sakit pada (D. ini Sebagian besar sudah lebih kecil daripada paket INACBGs-nya. Namun masih ada beberapa pasien yang biaya rumah sakitnya jauh lebih besar dari paket INACBGs yang sangat besar pada diagnosis bahkan mencapai sampai 3x lipat dari rerata, dimana pada kasus kunjungan tersebut biaya JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 terbesar berasal dari biaya obat. Oleh sebab itu pembengkakan biaya obat pada kunjungan pasien tersebut yang biaya rumah sakit lebih dari 2x lipat paket INACBGs. Dari table diatas juga dapat terlihat kerugian rumah sakit pada diagnosis Congestive Heart Failure (D. di tahun 2019 sebesar 19%. Pada diagnosis ini rumah sakit tetap mengalami kerugian dan jumlah dalam persentase tidak terlalu besar, sehingga bisa saja dilakukan subsidi silang klaim dengan klaim kasus lainnya. Namun hal ini tidak berlaku lagi untuk tahun 2020 dimana rumah sakit malah mendapat keuntungan sebesar 34%. Persentase keuntungan bisa menjadi subsidi silang bagi diagnosis sebelumnya yang mengalami kerugian. Walaupun masih ada terdapat kerugian, kerugian tersebut hanya terjadi pada beberapa kunjungan dan jumlahnya pun tidak sebesar paket INACCBGs. PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian kuantitatif yang telah dilakukan perlu dicari penyebabnya dengan melakukan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap staf petugas verifikasi data. Costing, dan Coder. Pada RSI Ibnu Sina Simpang Empat, petugas Unit Casemix yang melayani BPJS dilakukan oleh petugas yang diberi nama Coder. Petugas Coder adalah petugas yang telah menempuh Pendidikan D3 rekam medis dan berjumlah 2 . orang saat wawancara dilakukan. Petugas ini bertugas untuk menginputkan data yang sesusai dengan berkas dokumen yang dikumpulkan dari bagian admisi poliklinik. Berkas yang telah diinputkan oleh Coder ini akan diverifikasi oleh Verifikator haruslah memiliki kualifikasi medis dan sudah mendapatkan gelar minimal dokter . Semua berkas dokumen yang akan diajukan klaimnya, terlebih dahulu akan dicek dan diverifisikasi oleh verifikator berdasarkan pengelompokan diagnosis yang sebelumnya telah dibuat oleh Coder. Di RSI Ibnu Sina Simpang Empat, staf akuntasi-keuangan dan penangih . dilakukan oleh orang yang sama dan dikenal IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. dengan istilah Costing. Petugas Costing merupakan petugas keuangan bagian akuntansi yang ditempatkan pada Unit Casemix. Petugas ini sudah menamatkan Pendidikan D3 akuntasi. Petugas costing ini bertugas mulai dari merekap data dan kemudian menginputkan data biaya yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Kedalam dalam sebuah aplikasi E-Klaim yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan RI. Rekapan data penangihan klaim BPJS dikerjakan oleh tim casemix yang terdiri dari petugas perekapan rawat jalan dan petugas rekapan rawat inap. Rekapan ini dijadwalkan dilakukan pada awal bulan setiap bulannya dalam bentuk microsoft exel. Pada rekapan tersebut terdapat total biaya yang dikeluarkan oleh pasien peraktivitas tindakan yang dilakukan dan juga rincian aktivitasnya seperti prosedur medis bedah, prosedur medis non bedah, konsultasi dokter, rujuk tenaga ahli lain, tindakan keperawatan, biaya akomodasi kamar . , penunjang lain, obat . atu mingg. , dan obat kronis . atu bula. Pada pengobatan penyakit jantung di poliklinik tidak semua aktivitas tersebut dilaksanakan. Kegiatan yang tidak dilaksanakan antara lain prosedur medis bedah dan non bedah, rujuk tenaga ahli lain, pelayanan darah, rehabilitasi, rawat inap, pemakaian alkes dan BMHP, penyewaan alat, dan obat kemoterapi. Proses penyimpanan data di RSI Ibnu Sina Simpang Empat sudah menggunakan SIMRS. SIMRS ini sudah terhubung antara alur kegiatan yang dilakukan oleh pasien beserta biaya yang dibebankan pasien yang berujung pada pencetakan bill Pengobatan Pasien. Pada bill pasien ini sudah tercantum nama pasien, no RM, biaya aktivitas pasien secara rinci, biaya rincian obat dan laboratorium, dan total biaya. Namun dalam rangka update SIMRS dengan nomor antrian pasien, data bill pasien tersebut tidak tersimpan dalam satu kelompok data, dalam kata lain semua data terletak dalam database yang sama, sehingga untuk memunculkan kembali rincian tersebut harus dipangil satu-persatu berdasarkan nomor Pasien Poliklinik Jantung dalam tahun 2019 ada 8300 pasien dan 7582 di tahun JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Proses dalam melakukan pemanggilan data rincian tersebut harus menggunakan komputer yang terhubung dengan jaringan rumah sakit dan ID karyawan yang berwenang. Klaim BPJS akan dibayarkan dakam waktu 14 hari setelah klaim diajukan. Namun tidak semua klaim ini akan dibayarkan sesuai rencana dan tepat waktu seperti kata salah satu Aua. pengajuan klaim selama 2 minggu dan diverifikasi dulu oleh verifikator BPJS untuk pembayaran klaim dilakukan selama 2 minggu setelah hasil verifikasi dikirimkan dan yang dibayarkan hanya yang sesuai. Yang tidak sesuai akan menjadi pending,ay. Pernyataan informan ini diperkuat oleh informan lainnya AuAA. Pembayaran klaim aturanya 14 hari jika tidak ada masalah, namun seringnya agak telat. Klaim yang sesusai akan dibayarkan semua,ay. Dari informasi ini dapat diketahui bahwa tidak semua berkas akan dibayarkan klaimnya segera, hal ini membuat rumah sakit harus memiliki dana ataupun rencana cadangan untuk mengatasi masalah tersebut. Untungnya hal ini tidak berlangsung lama karena Aua. Berkas tersebut masih dapat dinaikan kembali yang kadarluarsanya 6 bulana. Ay Hal ini juga diperkuat oleh informan lainya Aua. jika pending harus diselesaikan dalam batas waktu 6 bulanAA. Ay. Berkas tersebut akan direkap setiap awal bualn dan diajukan sebelum tanggal 10 setiap Dengan kata lain berkas-berkas tersebut harus dilengkapi dan dapat diajukan Kembali pada bulan berikutnya dan kondisi ini hanya dapat berlangsung hingga 6 bulan. Setelah 6 bulan, klaim tidak dapat diajukan lagi seperti pernyataan informan AuAAdan jika tetap tidak terpenuhi atau layak akan hangus, namun tidak banyakAA. Ay, yang didukung juga oleh informan lainnya Aua. kalau tidak ketemu akan menjadi hangusay. Kondisi demikian mebutuhkan solusi dari IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. rumah sakit, karena waktu yang Panjang mulai dari penelitian ini dilakukan yakni survey awal penelitian hingga pengambilan data sudah ada beberapa kebijakan yang diambil oleh rumah sakit diantaranya Aua. Untuk mengatasi ketidaklayakan berkas sudah ada alur dan SOP tentang proses pelayananay imbuh salah satu informan. Dari hasil tersebut juga dapat diperoleh gambaran proses alur pengajuan klaim BPJS. Kelengkapan berkas yang diperlukan dalam pengajuan klaim ke BPJS antara lain berupa SEP, surat rujukan/surat kontrol. SBPK, dan kuitansi Dengan adanya alur dan SOP proses pelayanan diharapkan berkas yang akan diproses oleh bagian casemix sudah lengkap sehingga bisa segera diajukandan klaimnya dibayarkan sesuai waktu yang direncanakan. Walaupun sudah ada alur dan SOP tersebut tetap masih ada kekurangan seperti AuAA. adanya tulisan petugas yang tidak dapat terbaca, berkas pasien yang tertukar. Tindakan yang jelas harusnyay begitu komentar salah seorang informan. Untuk mengharapkan kerjasama tim yang solid antar unit tidak hanya dalam satu unit saja. Kasus terbanyak pada Poliklinik Jantung sesuai kode INACBGs adalah Q-5-44-0 yang artinya penyakit kronis dan lain-lain. Dari kode INACBGs tersebut dapat ketahui jenis penyakit yang diderita oleh pasien yang berkunjung ke poliklinik jantung. Digit pertama merupakan CMG (Casemix Main Group. yang merupakan klasifikasi pertama dalam pengkodingan INACBGs yang dilabelkan dengan huruf alphabet A-Z. Pemberian kode digit pertama ini berhubungan dengan sistem organ tubuh sesuai dengan ICD 10 pada setiap sistem organ. Pada kasus yang ditemui dilabelkan dengan huruf AuQAy sehingga dinyatakan termasuk grup Ambulatory Groups-Episodic. Penyakit ini merupakan penyakit kambuhan yang terjadi secara berulang sehingga pengobatan untuk pasien dalam grup ini diharuskan untuk control rutin secara berkala. Digit kedua menunjukkan tipe kasus yang JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 dihadapi yang dimana sub-grup ini terdiri dari 10 bagian dan dinyatkan dengan angka 0-9. Pada kasus ini Sub-grup Au5Ay merupakan grup rawat jalan bukan prosedur, yang dapat diartikan juga kasus yang dialami pada rawat jalan dan tidak disertai dengan Tindakan prosedur medis. Digit ketiga merupakan spesifik CBGs yang dilambangkan dengan numerik mulai 01-99. Digit keempat merupakan severity level yang menunjukan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun komplikasi dalam masa perawatan. Untuk kasus yang ditemui dinyatakan dengan angka Au0Ay yang bearti kasus yang terjadi pada rawat jalan (Kemenkes. Satu kunjungan dapat dinamakan dengan satu episode, yaitu rangkaian pertemuan konsultasi antara pasien dan dokter serta pemeriksaan penunjang lainnya sesuai indikasi medis, dan pemberian obat pada hari yang episode dinyatakan dalam satu koding. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Poliklinik Jantung Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Simpang Empat menggunakan data tahun 2019 didapatkan hasil 3 diagnosis terbanyak berdasarkan ICD 10 adalah Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (I. I25. yang diikuti dengan Atherosclerotic heart disease (I25. dan selanjutnyaa Congestive Heart Failure (I50. Urutan diagnosis pada data diagnosis terbanyak di tahun 2020 mengalami sedikit pergeseran dimana diagnosis Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (I. I25. menjadi urutan kedua terbanyaknya adalah Atherosclerotic heart disease (I25. Perubahan ini terjadi pada masa pandemi covid-19 dimana sebagian besar pasien yang biasanya kontrol bulanan ke Faskes rujukan tingkat 3 dikembalikan ke Faskes rujukan tingkat 2. RSI Ibnu Sina Simpang Empat merupakan faskes rujukan tingkat 2. Selain itu pada masa ini ada kekawatiran masyarakat untuk pergi ke rumah sakit, sehingga banyak dari pasien yang memilih program rujuk balik dan mengambil obat bulannya pada Faskes tingkat pertama di daerahnya masing-masing. AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Dianosis serupa juga ditemui pada rumah sakit lainnya seperti halnya pada RSUD AlIhsan di Provinsi Jawa Barat. RSUD Dr. Soekardjo Tasikmalaya. RSUD Panembahan Senopati Bantul. Tidak hanya Rumah Sakit di luar pulau Sumatera yang memiliki diagnosis ini sebagai diagnosis terbanyak, di pulau sumatera sendiri khususnya pada provinsi Sumatera Barat sendiri selain dari RSI Ibnu Sina Simpang Empat diagnosis ini juga termasuk dari 10 diagnosis terbanyak yang ditemui oleh RSUD M. Natsir solok. Namun sedikit berbeda dengan diagnosis terbanyak pada RSUD Provinsi DKI Jakarta RSUD Provinsi NTB dimana diagnosis Congestive Heart Failure (I50. tidak masuk dalam urutan diagnosis terbanyak. Perbedaan ini juga terjadi pada RSUP Dr. Djamil dimana Congestive Heart Failure (I50. tidak masuk dalam urutan diagnosis terbanyak, melainkan Atherosclerotic heart disease (I25. yang menempati urutan kedua dan diikuti dengan diagnosis Hypertensive heart disease without . heart failure (I11. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan tingkat rujukan dari rumah sakit tersebut. Dimana sudah diketahui RSI Ibnu Sina Simpang Empat merupakan rumah sakit rujukan tingkat kedua, begitu juga dengan RSUD Dr. Natsir. RSUP Dr. Djamil adalah rumah sakit rujukan tingkat ketiga dan menerima pasien rujukan Pembahasan mengeksplorasi pentingnya hasil pekerjaan. RSI Ibnu Sina Simpang Empat merupakan bagian dari YARSI SUMBAR yang berpusat di Kota Padang dan sudah memiliki berbagai fasilitas Kesehatan berupa rumah sakit yang tersebar di Provinsi Sumatera Barat, salah satunya di Kabupaten Pasaman Barat. Dokter spesialis yang bertugas pada RSI Ibnu Sina sudah merupakan dokter tetap. Karena RSI Ibnu Sina yang dikelola oleh satu Yayasan yaitu YARSI SUMBAR, maka untuk Dokter spesialis khusus, contohnya seperti dokter spesialis jantung dan pembuluh darah merupakan dokter tetap YARSI sumbar yang bertugas di RSI Ibnu Sina Kota Padang, namun dokter tersbut juga dapat praktik pada RSI Ibnu Sina lainnya termasuk salah satunya di RSI JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Ibnu Sina Simpang Empat. Dari data penelitian selisih biaya pelayanan Poliklinik Jantung yang dilakukan di RSI Ibnu Sina Simpang Empat pada tahun 2019 dan 2020 terjadi selisih biaya antara klaim INACBGs BPJS dan biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit. Selisih biaya negatif yang sangat besar terjadi pada tahun 2019. Pada diagnosis Congestive Heart Failure dengan Atherosclerotic (I. I25. di tahun 2019 persentase kerugian sangat besar hingga mencapai 125%. Dua diagnosis lainnya yakni Atherosclerotic heart disease (I25. dan Congestive Heart Failure (I50. memberikan kerugian sebesar 17% dan 19% secara berturut-turut. Kerugian yang besar di tahun 2019 ini tentunya akan mempengaruhi pendapatan rumah sakit. Oleh karena itu perlu dilakukan penelusuran penyebab kerugian tersebut. Salah satu hal yang mungkin harus dikurangi pemakaianya adalah pembiayaan yang tidak diperlukan namun dipergunakan dalam proses pelayanan baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kerugian ini tentu saja berpengaruh dalam pendapat rumah sakit yang mengharuskan manajemen rumah sakit segera melakukan evaluasi terkait kejadian ini dan membentuk beberapa kebijakan yang diperlukan seperti menebitkan SOP mengenai prosedur pelayanan rawat jalan dan alur pengajuan klaim BPJS. Tahun 2020 terlihat hasil kebijakan manajemen ini yang mengubah kerugian akibat klaim keuntungan yaitu pada diagnosis Congestive Heart Failure Atherosclerotic heart disease (I. I25. Atherosclerotic heart disease (I25. , dan Congestive Heart Failure (I50. secara berturut-turut sebesar 26%, 23%, dan 34 Melihat perbandingan kerugian di tahun 2019 dan keuntungan di tahun 2020, dapat terlihat Kesigapan manajemen dalam mengatasi masalah yang terjadi di Poliklinik Jantung. Pada penelitian lain diperoleh hasil yang berbeda dimana biaya pelayanan rawat jalan sakit sebagian besar sudah lebih rendah dari tarif INACBGs. Namun apabila dihitung biaya pemeriksaan dan lain-lain, unit cost tersebut masih tampak lebih besar dari tarif INACBGs. AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Penelitian tersebut dilakukan oleh Lestari Handayani terhadap tarif rawat jalan dan rawat inap pada 84 rumah sakit yang tersebar di 80 Kabupaten/Kota di Indonesia (Handayani. BPJS merupakan Program Jaminan Kesehatan yang dikelola oleh pemerintah. Pada saat ini bisa dikatakan hampir semua Rumah Sakit sudah berkerjasama dengan program Namun pada pelaksanaanya terdapat selisih biaya signifikan secara statistik antara biaya riil dan tarif INACBGAos pengobatan penyakit jantung coroner rawat inap . -value 0,. dan rata-rata biaya riil tersebut yang (Lilissuriani, 2. Pada penelitian ini terdapat selisih total biaya obat yang termasuk besar, namun karena kondisi dan keterbatasan sistem tidak bisa dilihat komponen obat manakah yang pengeluaranya paling besar. Hal ini juga ada dijelaskan pada penelitian lain bahwa terdapat selisih biaya dengan variable cost terbesar merupakan obat (Mardiyah, 2. Perbedaan tarif juga terjadi pada pelayanan rawat jalan di RSUD Pasar Rebo Jakarta, dimana terdapat selisih tarif negatif pada Instalasi rawat jalan termasuk pada poliklinik jantung. Pada penelitian yang dilakukan oleh Leny Ramadhan di rumah sakit tersebut diagnosis di Poliklinik Jantung yang memberikan selisih negateif tersebut adalah Hypertensive heart disease with . heart failure dengan sampel 100 orang pasien mendapatkan selisih negatif sebesar 66,444% . Diagnosis Atheroscleerotic Heart Disease dengan sampel 100 orang pasien, biaya pengobatan sebanyak 73 pasien dari sampel tersebut biaya rumah sakitnya lebih besar dari klaim INACBGs. Komponen tagihan rumah sakit terbesar berasal dari obat . ,37%), penunjang . ,53%), dan Tindakan . ,75%) (Ramadhan, 2. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Sumiati di RSU dr. Koesnadi Bondowoso, aktifitas penunjang menunjukan unit cost yang lebih rendah dari tarif rumah sakit yang diberikan. Kondisi demikian mengakibatkan tidak ada pengaruh dalam memberikan selisih negatif biaya klaim BPJS (Sumiati, 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Dari sampel data distribusi utilitas dapat terlihat bahwa persentase pembiayaan Sebagian besar berasal dari pembiaayaan obat. Sampel data yang digunakan hanya terbatas pada data yang memiliki rincian utilitas karena Sebagian besar data tersebut tidak tercatat rincian Oleh karena itu tidak tercatat dalam pengeluaran biaya obat sehingga disinyalir bahwa kerugian akibat biaya obat ini lebih besar dari yang ditemukan. Pedoman Praktek Klinis (PPK) setiap diagnosis utama pada rumah sakit sudah ada dokumenya sesuai dengan persyaratan dari komisi akreditasi rumah sakit. Bagi rumah sakit yang akan mendapatkan akreditasi ini tentunya akan menyiapkan dokumen tersebut, tidak terkecuali RSI Ibnu Sina Simpang Empat. Dokumen PPK ini berisikan clinical pathway dari diagnosis utama di rumah sakit. Namun dalam realisasinya pelaksanaan pelayanan di Poliklinik termasuk Poliklinik Jantung tidak mengikuti dokumen PPK ini. Sehingga dokumen ini hanya menjadi persyaratan bahwa dokumen tersebut ada sesuai untuk kepentingan Dalam pelaksanaanya dokter pengalaman dan keilmuannya namun tidak mengikuti aturan dalam dokumen PPK ini. Kondisi tersebut menjadikan pelayanan tidak mengikuti standar penatalaksanaan diagnosis yang menyebabkan ketidaktepatan dalam penatalaksanaan pengobatan dari dokter yang berakibat terjadinya pemakaian obat diluar standar PPK dan Formularium Rumah Sakit. Formularium Rumah Sakit merupakan salah satu dokumen penting dalam akreditasi rumah sakit. Formularium rumah sakit ini disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi (KFT) yang minimal terdiri dari dokter spesialis dasar (Penyakit dalam. Bedah. Anak. Obstetri dan Ginekolog. , serta apoteker. KFT ini diketuai oleh salah satu dokter spesialis Salah satu tugas KFT adalah menyetujui pemakaian dan pengadaan obat di rumah sakit yang disusun dalam Formularium Rumah Sakit. Walaupun demikian masih ada dokter yang memberikan resep tidak sesuai dengan Formularium Rumah Sakit. AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Pengunan obat yang tidak sesuai dengan Formularium Rumah sakit yang mengacu pada Formularium Nasional mengakibatkan tidak terkontrolnya pemakaian obat terutama pada Poliklinik Jantung. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya bahwa obat-obatan yang diresepkan dalam penatalaksanaan penyakit jantung pada umumnya memilki harga yang mahal . igh cos. Hal ini dapat terlihat pada beberapa kasus pada satu diagnosis yang sama di poliklinik jantung terdapat variasi harga obat yang beragam dengan perbedaan yang Variasi ini dapat terjadi karena ketidakpatuhan DPJP dalam memberikan obat sesuai formularium, terutama pada pasien kronis yang obatnya diberikan untuk satu Padahal untuk obat kronis . diinputkan terpisah dengan aplikasi khusus Obat yang tidak ada di formularium atau tidak memenuhi persyararatan diberikan sesuai dengan formularium tidak bisa dimasukan kedalam aplikasi tersebut, sehingga penagihanya terpaksa harus dibebankan bersama dengan paket INACBGs. Hal ini tentunya akan membuat besarnya selisih klaim dengan biaya yang dikeluarkan rumah sakit juga memilki variasi biaya yang besar pula. Pada umumnya DPJP menggunakan obat yang tidak sesuai formularium tersebut dikarenakan penatalaksanaan dalam PPK belum update. Selain itu juga disebabkan karena keterbatasan stok obat yang ada dirumah sakit. Keterbatasan stok obat dapat terjadi karena kekosongan obat e-katalog pada distributor sehingga mau tidak mau rumah sakit menyediakan obat sejenis dengan biaya reguler yang relatif mahal. Selain itu, kekosongan stok dapat juga terjadi karena rumah sakit tidak dapat melakukan pemesanan ke distributor yang berakibat terkuncinya sistem pemesanan karena tagihan yang sudah pembayaran klaim oleh BPJS. Kondisi ini menyebabkan DPJP tersebut harus mengambil inisiatif untuk mengantinya dengan obat lain. Pengantian dengan obat lain ini dapat menyebabkan tidak terkontrolnya penggunaan obat yang berakibat pada pembengkakkan biaya obat pada pasien. Clinical pathway merupakan pedoman JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 yang digunakan dalam melakukan Tindakan klinis berdasarkan bukti pada fasilitas pelayanan Kesehatan. Clinical pathway ini dibuat berdasarkan pedoman klinik umum yang dapat diaplikasikan di fasilitas Kesehatan. Penyakit jantung merupakan penyakit yang memiliki kriteria high cost dan high risk, oleh sebab itu perlu diadakan clinical pathway untuk penyakit ini. Proses pembuatan clinical pathway membutuhkan kerjasama yang baik antar unit di rumah sakit yang terdiri dari dokter, perawat, dan farmasi. Clinical pathway ini dibuat berdasarkan kondisi lapangan. PPK dan SOP yang ada pada rumah sakit tersebut dan didukung juga dengan bukti dari literatur (KARS, 2. BPJS menggunakan sistem INACBGs dimana untuk tarif rawat jalan memiliki bayaran klaim yang sama yakni Rp. jadi apapun diagnosis untuk rawat jalan pembayaran klaim tetap sama. Bagi beberapa diagnosis penyakit hal ini tidak bermasalah, bahkan menguntungkan, karena kelebihan klaim tersebut akan menguntungkan rumah Namun hal ini tidak berlaku sama pada diagnosis penyakit jantung karena pembayaran klaimnya malah lebih kecil dari biaya yang telah dikeluarkan. Dalam mengatasi masalah ini rumah sakit mengikuti anjuran BPJS untuk melakukan subsidi silang terhadap kasus Dalam pengajuan klaim BPJS di RSI Ibnu Sina Simpang Empat melalui beberapa proses. Proses tersebut dimulai dengan pengumpulan berkas yang terdiri berkas yang dibawa pasien dari rumah berupa surat rujukan atau surat control ulang. Surat Elegilitas Peserta (SEP) yang diterbitkan oleh BPJS. Surat Bukti Pelayanan Kesehatan (SBPK) yang berisikan diagnosa, resume pengobatan, dan tindakan yang dilakukan pada pasien, serta bukti pembayaran . pengobatan pasien sesuai tarif rumah sakit. Berkas ini dikumpulkan oleh petugas admisi dan diserahkan pada bagian casemix untuk dilakukan verifikasi oleh verifikator. Berkas yang lolos verifikasi dilakukan coding sesuai ICD 10 oleh coder. Proses pengajuan klaim ini sudah disesuaikan dengan petunjuk teknis IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Verifikasi Klaim BPJS. Dalam prosedur pembayaran klaim tersebut masih ditemui beberapa masalah berupa keterlambatan pembayaran klaim. Menurut wawancara yang dilakukan di RSI Ibnu Sina Simpang Empat kendala yang ditemui karena kondisi ini sedikit banyaknya kan memberikan dampak terhadap rumah sakit. Dampak ini bisa terjadi pada aliran kas keuangan menjadi tidak stabil yang dapat mempengaruhi pembayaran tagihan rumah sakit, terutama dalam pembelian obat dan alkes yang diperlukan dalam keberlangsungan pelayanan rumah sakit. Obat-obatan dan alkes ini diperoleh dari distributor obat dan alkses secara kredit dengan masa jatuh tempo yang berbeda tiap distributor. Hal ini menjadi beban rumah sakit karena penunggakan pembayaran tagihan ini menyebabkan rumah sakit tidak dapat melakukan pembelian obat dan alkes pada distributor yang menyebabkan stok obat dan alkes di rumah sakit menjadi tipis atau bahkan kosong. Dalam mengatasi kekurangan atau kekokosongan obat rumah sakit sudah membuat regulasi dalam mengatasi masalah ini dengan dibuatkan SOP mengenai kekosongan obat dan alkes. Penelitian yang dialakukan oleh Devi Anyapita menyatakan bahwa keterlambatan pembayaran klaim mempengaruhi arus kas keuangan rumah sakit, yang menyebabkan rumah sakit memprioritaskan pembayaran tagihan yang bersifat krusial terlebih dahulu mempengaruhi kualitas Pada RSI Jakarta Sukapura, mutu dipengaruhinya anatara lain berupa dimensi efektifitas layanan yang belum bisa terlaksana secara optimal, dimensi keamanan dan kenyaman yang belum optimal yang terjadi karena peralatan medis yang belum memadai dan ketidakcukupan obat yang diterima oleh pasien (Anyaprita, 2. Dalam pembayaran klaim ini dapat diakibatkan oleh Faktor keterlambatan ini dapat dipengaruhi oleh manusia dalam hal ini adalah ketidaktelitian dalam mengecek kelengkapan berkas pasien. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 berkas pasien yang tertukar, tulisan diagnosis pada SBPK yang kurang jelas, dan berkas tindakan yang tertinggal di Poliklinik lainnya. Ketinggalan berkas ini terjadi karena alat ECG dipakai Bersama dengan Poliklinik lain. Pada RSI Ibnu Sina Simpang Empat Manusia menjadi faktor utama dalam keterlambatan pembayaran klaim ini. Sedangkan faktor lainnya seperti faktor fasilitas dan metode tidak mempengaruhi keterlambatan dalam pengajuan klaim dan pembayarannya. Hal ini disebabkan karena pada RSI Ibnu Sina Simpang Empat sudah memiliki SIMRS dan server yang memadai untuk menampung sistem BPJS, dan juga sudah memiliki aplikasi e-klaim dari Kemenkes. Selain itu di RSI Ibnu Sina Simpang Empat juga sudah memiliki SOP tentang alur pengajuan Klaim BPJS. Hal ini selaras juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Antonius Artanto di RSUD Kanujoso Djatiwibowo ketidaklengkapan berkas yang akan diajukan menjadi penyebab utama keterlambatan pembayaran klaim sehingga berkas tersebut menjadi pending (Artanto, 2. Hal serupa juga dibahas dalam penelitian yang dilakukan oleh Lenty Wahyu Noviantri di RS Panti Nugroho dimana factor manusia memiliki peran penting penyebab keterbatan pengajuan Pada rumah sakit ini keterlambatan juga dipengaruhi oleh factor lainya seperti factor fasilitas dimana server BPJS yang sering mati dan metode yakni belum terdapatnya SOP pengajuan klaim BPJS (Noviantri, 2. Penundaan pembayaran klaim juga dialami oleh RS Nurhidayah Yogyakarta sehingga pembayaran klaim terlambat dan tidak bisa pada waktu yang telah ditentukan. Penelitian yang dilakukan oleh Hendra Rohman pada rumah sakit tersebut diketahui penyebab kejadian tersebut adalah ketidaktepatan dalam pemberian koding, ketidaklengkapan berkas, dan diagnosa yang tidak sesusai dengan kriteria (Rohman, 2. AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. KESIMPULAN DAN SARAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai bahwa diagnosis terbanyak pada Poliklinik jantung RSI Ibnu Sina Simpang Empat berdasarkan ICD 10 adalah Congestive Heart Failure Atherosclerotic heart disease. Atherosclerotic heart disease, dan Congestive Heart Failure. Dimana selisih biaya negatif yang sangat besar terjadi pada diagnosis Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (I. I25. di tahun 2019 yakni -125%, diikuti diagnosis Atherosclerotic heart disease (I25. sebesar -17% dan Congestive Heart Failure (I50. sebesar -19%. Namun menyebabkan terjadi keuntungan di tahun 2020 pada diagnosis Congestive Heart Failure dengan disertai Atherosclerotic heart disease (I. I25. Atherosclerotic heart disease (I25. , dan Congestive Heart Failure (I50. secara berturut-turut sebesar 26%, 23%, dan 34 Proses pelayanan yang memberikan biaya terbesar berasal dari pembiayaan obat Kebijakan pelayanan pengajuan klaim BPJS di RSI Ibnu Sina Simpang Empat dapat menekan kerugian yang terjadi di Poliklinik Jantung tahun 2019 menjadi keuntungan di tahun 2020. Walaupun demikian masih sering terjadi keterlambatan pembayaran klaim dan berkas pending yang disebabkan oleh faktor manusia. DAFTAR PUSTAKA